Rabu, 27 Februari 2013

Background Wallpapers (Part 2)


Wa Elf Butterfly

Glod Background Butterfly Wallpaper

Red Butterfly 4661

Fish Animal Desktop Wallpaper

27765

28101

12Q0V35Z6020-110C>

418726

702048

Asian Beauty Birds Wallpapers

Selasa, 26 Februari 2013

Beristri Genderuwo Alas Purwo

Oleh: Bayu Indrayanto

Sigit bertemu dengan Radni, genderuwo yang tinggal di Alas Purwo. Mereka kemudian saling jatuh cinta. Namun persoalan kemudian timbul karena mereka berasal dari dunia berbeda

* * * * * * * * * * * *



Sebagai pegawai yang bertugas di bidang kehutanan, Adi harus siap ditugaskan di mana saja serta berpindah-pindah tempat. Kali ini ia harus menerima ditempatkan di ujung timur Pulau Jawa. Banyuwangi, kota yang sarat dengan nuansa mistik serta terkenal dengan magic-nya, yakni santet. Ya, di kota inipun Adi juga harus ditempatkan di Alas Purwo, sebuah kawasan hutan yang ada di Banyuwangi dan berbatasan dengan Samudera Indonesia di pantai selatannya.

Alas Purwo yang merupakan taman nasional terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo di sebelah selatan dan tenggara Banyuwangi. Artii kata Alas Purwo atau hutan Purwo diyakini memiliki arti hutan yang pertama atau hutan yang dianggap tertua di Pulau Jawa . Hal ini ditandai dengan banyaknya situs-situs yang ianggap keramat oleh masyarakat seperti Gua Pedepokan ataupun Gua Istana

Di Alas Purwo juga masih banyak satwa langka seperti banteng, lutung, burung merak, ayam hutan, rusa, macan tutul. Tak kalah menariknya Alas Purwo juga mempunyai banyak pantai indah seperti Teluk Grajagan dan Plengkung yang mempunyai satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang dan penyu belimbing.

Kini hampir setahun Adi menempati posisi pekerjaannya yang baru. Berbagai pengalaman didapatinya di Alas Purwo ini terlebih menyangkut hal-hal yang bersifat gaib. Namun selama satu tahun bertugas di Alas Purwo ini, ia merasa hutang dengan luas 43.420 hektare ini belum dijelajahi secara sempurna. Masih banyak tempat-tempat yang tersembnyi dan tidak tersentuh oleh tangan manusia karena kawwingitannnya dan juga kebuasan alamnya.

Seperti pengalaman ia harus mengantar serombongan pengunjung yang datang dari Surabaya. Rombongan yang berjumlah lima orang nenyatakan akan melakukan ritual di sebuah gua yang ada di Alas Purwo. Keangkeran Alas Purwo ternyata juga merupakan daya tarik bagi para pelaku spiritual untuk menjalankan lelaku di tempat tersebut. Karena itu tidak aneh kalau sering ditemukan banyak orang yang melakukan semadi di segenap pelaosok Alas Purwo.

Pak Puguh yang merupakan pimpinan rombongan menyatakan kalau kedatangan mereka ke Alas Purwo untuk melakukan ruwetan atas Sigit. Adi lantas menatap ke arah pria paroh baya yang bernama Sigit itu. Pria itu tampak duduk diam, pandangan matanya kosong entah menerawang kemana. Ia juga tidak menggubris apa yang terjadi di sekitarnya. Semula Adi mengira yang bersangkutan merupakan orang yang terganggu ingatannya. Namun setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh Aris, salah seorang kerabat Sigit yang ikut mengantarkan, Adi tercekat.

Sepuluh tahun yang lalu Sigit datang ke Alas Purwo untuk menjalankan ritual setelah perusahaan tempatya bekerja gulung tikar, ia juga harus mengalami PHK dari perusahaan tersebut. Karena merasa putus asa juga merasa malu kepada anggota keluarga yang lain Sigit memutuskan untuk pergi ke Alas Purwo dan menjalankan ritual di tempat tersebut.

Salah satu tempat yang digunakan oleh Sigit untuk menjalankan ritual adalah Gua Istana. Di tempat tersebut ia bersemadi dan hidup sebagai pertapa hampir satu tahun. Sampai akhirnya ia menyelesaikan tapanya dan pulang kemabli ke Surabaya. Walaupun berjualan di emperan toko, jualannya tersebut laris manis dan selalu dipenuhi oleh para pembeli.

Namun anehnya, anggota keluarga Sigit kerap menemui Sigit tertawa dan berbicara sendiri jika tengah berada di dalam kamarnya. Anggota keluarganya juga sering mendengar suara perempuan tertawa. Anggota keluarga yang lain semula mengira Sigit sedang berduaan bersama seorang gadis atau wanita. Namun dugaan itu tidak terbukti karena mereka tidak pernaha melihat ada gadis dalam kamar Sigit.

Kejadian ini bahkan berlangsung bertahun-tahun. Tiap kali ditanya, yang bersangkutan hanya tersenyum kecil seakan penuh arti. Jadinya keluarga Sigit bertanya-tanya. Namun karena tidak dianggap mengganggu anggota keluarga Sigit yang lain, maka tingkah lakunya dibiarkan saja. Terlebih Sigit sendiri dengan usahanya yang lumayan tersebut kerap membantu kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya tersebut.
Namun akhir-akhir ini yang terjadi adalah tingkah laku Sigit yang semakin aneh. Hampir setiap malam mereka mendengar pertengkaran di dalam kamar Sigit. Juga suara barang yang dibanting karena pertengkaran yang ramai. Mendengar suara ribut-ribut tersebut, saudara Sigit segera memasuk kamar. Namun lagi-lagi mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar tersebut kecuali Sigit. Hanya saja kondisi Sigit, tampak pucat dan panik. Ia juga berkali-kali berteriak untuk jangan ditinggalkan.

"Siapa yang meninggalkan kamu Git?" tanya Aris waktu melihat kondisi adiknya tersebut.

Sigit tidak menjawab, hanya kembali berteriak, "Rad, jangan tinggalkan aku....! Jangan Rad!"

Mendengar perkataan Sigit itu, Aris kembali bertanya, "Siapa Rad itu, Git?"

Sigit yang semula tak acuh dengan apa yang terjadi menoleh sekilas ke arah kakaknya sambil menjawab, "Radni, istriku...!"

"Radni? Radni siapa, Git?" tanya Aris yang semakin merasa heran dengan ucapan Sigit. Ia kemudian duduk disebelah Sigit berusaha menenangkan adiknya tersebut. Sementara matanya memberi isyarat anggota keluarga yang lain untuk tidak masuk ke dalam kamar dulu dan membiarkan mereka berduaan.

Setelah mereka tinggal berdua di dalam kamar, Aris mencoba mencari tahu apa yang dialami adiknya. "Aku merasa bingung, Radni itu siapa? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku?"

Sigit menoleh ke arah Aris dan menjawab, "Radni itu istriku. Kami berkenalan di Alas Purwo."

"Alas Purwo Banyuwangi?" Aris menyakinkan pendengarannya.

"Betul, Mas. Bertahun-tahun yang lalu aku aku kenal dengan Radni. Ia tinggal di sebuah perkampungan yang ada di Alas Purwo. Karena orang tuanya tidak merestui hubungan kami, makanya ia kawin lari dan hidup sebagai istriku. Ia yang selama ini membantuku berjualan di pasar," cerita Sigit.

"Kalau dia memang istrimu, kenapa kamu tidak tidak pernah mengenalkan sama kami?" Kami juga tidak pernah melihatnya?" Kening Aris berkerut merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut.

"Radni itu takut ketahuan keluarganya dan dipaksa pulang. Makanya aku tidak mau mengenalkan pada kalian," jawab Sigit lagi.

Aris merasa pusing dengan jawaban-jawaban aneh dari Sigit itu. Dia lalu meninggalkan Sigit dan memutuskan untuk berunding dengan anggota keluarga yang lain. Namun semenjak kejadian itu tingkah laku Sigit semakin aneh dan menjadi-jadi. Kini dia bahkan mirip orang gila karena tingkah lakunya tersebut. Sampai akhirnya diputuskan untuk memanggil Pak Puguh, seorang tua yang dikenal mampu menyembuhkan orang yang kesurupan.

Dari hasil pengamatan Pak Puguh ternyata memang benar Sigit selama ini menjalani hubungan dengan makhluk halus dari golongan genderuwo. Genderuwo perempuan itu juga jatuh cinta kepada Sigit dan mengikuti kemanapun ia pergi. Namun hal ini tak disadari oleh Sigit. Bagi Sigit, Radni adalah gadis desa dari sebuah desa di pingggir Alas Purwo yang kawin lari dengan Sigit karena hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua Radni. Kini rupanya Radni berniat pulang ke Alas Purwo namun Sigit tak bersedia dan akhirnya yang terjadi seperti ini.

Mendengar penuturan tentang Sigit tersebut, Adi tidak merasa heran kalau hal itu terjadi pada Sigit. Baginya Alas Purwo menyimpan seribu kegaiban dan keanehan yang tidak akan pernah habis untuk ditelaah. Kini rombongan itu dengan membawa Sigit bergerak menuju ke Gua Istana yang ada di Alas Purwo.

Sesampai di sana Pak Puguh dengan salah seorang muridnya memandikan Sigit dengan air kembang yang telah disiapkan. Sigit yang seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi tidak menggubris apa yang dilakukan orang-orang padanya. Semenrata Adi sendiri turut membantu ritual yang dilakukan Pak Puguh.

Setelah sekian lama bersemadi tampak Pak Puguh membuka matanya. Ia memandang Aris serta kerabat Sigit. "Rupanya sulit untuk melepaskan cinta Sigit dari ikatan cintannya Radni," tuturnya.

"Sebetulnya apa yang terjadi, Pak Puguh?" tanya Aris dengan berdebar-debar melihat hasil semadi Pak Puguh.

"Bagi orang awam, Alas Purwo ini cuma merupakan hutan yang lebat dan penuh dengan binatng buas. Namun tidak dalam pandangan batin, Alas Purwo merupakan keraton makhluk halus yang bermacam-macam. Berjenis-jenis makhluk halus menghuni tempat ini. Ada kuntilanak, banaspati, jin, ilu-ilu, bahkan genderuwo. Bukankah demikian, Mas Adi?" toleh Pak Puguh pada Adi.

"Benar apa yang dikatakan oleh Pak Puguh. Saya selaku penjaga hutan disini sering menjumpai keanehan yang tak masuk akal. Makanya tak jarang orang bilang kalau Alas Purwo ini gudang makhluk halus," jawab Adi membenarkan ucapan Pak Puguh.

Pak Puguh lalu meneruskan ceritanya. Menurut dia, karena putus-asanya waktu bersemadi dulu, secara tak sadar Sigit telah masuk ke dalam alam makhluk halus. Di sanalah ia berkenalan dengn Radni. Genderuwo perempuan ini rupanya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Sigit. Namun karena Sigit tidak mau tinggal di Alam Radni, akhirnya mereka kembali ke kota asal Sigit. Dan Radni tetap mendampingi Sigit. Dan yang tak tetap disadari Sigit, Radni adalah seorang genderuwo. Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun Radni merasa tidak betah dan ingin kembali ke alamnya sendiri. Dan hal ini rupanya tidak bisa diterima oleh Sigit.

"Lalu seterusnya bagaimana Pak Puguh?" tanya Aris.

Pak Puguh tersenyum. "Hal ini saya kembalikan lagi pada sanak keluarga Sigit."

"Maksud Pak Puguh?" Aris merasa bingung.

"Cinta Sigit sudah terlanjur mendalam dan sulit dilepaskan. Bisa saja saya menghilangkan perasaannya terhadap Radni, namun yang terjadi akal pikiran Sigit tidak akan mampu berfungsi dengan normal. Selanjutnya dia akan ndleming terus," jelas Pak Puguh.

Mendengar penjelasan ironis tersebut Adi mencoba menengah. "Apakah tidak ada pilihan lain Pak?"

"Ada. Tapi ini juga berat dan dianggap tak masuk akal," jawab Pak Puguh sambil menatap ke arah Sigit yang kini tertawa sendiri. "Rad, aku menyusulmu di kampung," gumam Sigit seorang diri.

Semua orang prihatin dengan apa yang terjadi pada Sigit. Namun akhirnya kebekuan ini terputus dengan ucapan Pak Puguh. "Kita biarkan Sigit hidup bersama Radni di alam Radni."

"Apa? Maksud Pak Puguh bagaimana?" kejar Aris tanpa bisa menutupi rasa keingintahuannya yang besar.

"Ia akan kajiman dan berubah menjadi makhluk halus seperti halnya dengan Radni," jelas Pak Puguh.

"Tidak...! Aku tidak rela adikku jadi genderuwo," tegas Aris. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tapi Aris sendiri juga tidak tega melihat apa yang terjadi pada Sigit kali ini. Akhirnya setelah berpikir panjang, Aris memutuskan untuk membiarkan apa yang menjadi keinginan Sigit terwujud, kalau memang mereka berdua saling mencintai.

Pak Puguh pun lantas melanjutkan ritualnya. Ia menatap mata Sigit dengan tajam dan membuatnya tertidur seakan tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian tubuh yang terlelap itu dibungkusnya dengan kain mori hitam yang telah disiapkan. Sejenak nyala menyan memenuhi segenap ruangan yang ada di gua tersebut. Tak berapa lama bau menyan itu bercampur dengan bau singkong bakar yang memenuhi ruangan.

"Genderuwo perempuan itu sudah datang," tunjuk Pak Puguh paada sudut ruangan yang kini penuh dengan asap yang entah darimana asalnya. Gumpalan asap putih itu menumpuk dan akhirnya berwujud seseorang tubuh. Aris melihat sosok perempuan yang cantik dengan memakai baju hitam-hitam tampak berjalan ke arah tubuh Sigit yang terbungkus mori.

Sementara Adi yang sudah terbiasa melihat wujud makhluk halus yang ada di Alas Purwo bisa mengetahui wujud asli dari Radni. Tampak sosok perempuan bertubuh tinggi besar penuh bulu dengan hanya memakai cawat dan payudara yang tidak tertutup berjalan ke arah tubuh Sigit.

Sosok genderuwo yang bernama Radni itu semakin mendekat ke arah Sigit terbaring, Pak Puguh tampak mengucapkan sesuatu seperti pesan kepada Radni. Dan ia tampak mengangguk-angguk mengiyakan pesan tersebut. Radni kemudian masuk menembus ke dalam mori tempat Sigit berbaring. Setelah beberapa saat, Pak Puguh membuka mori tersebut. Ajaib! Tubuh Sigit sudah tidak tampak. Demikian pula Radni.

"Mereka sudah kajiman dan masuk ke dalam alam makhluk halus," papar Pak Puguh.

Aris cuma terdiam lesu menyaksikan apa yang telah terjadi. Sementara Adi kembali merenung, sekali lagi ia menyaksikan kegaiban Alas Purwo yang tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun. (*)

Sumber: Misteri, Edisi 550, Januari 2013

Sabtu, 16 Februari 2013

Wali Band



Title: Aku Bukan Bang Toyib
Size : 3.2 MB


Title: Cinta Yang Hilang
Size : 5.6 MB


Title: Dik
size : 1.3 MB


Title: Kekasih Halal
Size : 5.6 MB


Title: Doaku Untukmu Sayang
Size : 3.6 MB


Title: Harga Diri Ibu
Size : 3.9 MB


Title: Harga Diriku
Size : 4.9 MB


Title: M.A.T.S
Size : 4.0 MB


Title: Orang Bilang
Size : 4.3 MB


Title: Ya Allah
Size : 5.3 MB


Title: Yank
Size : 5.3 MB


Title: Cari Jodoh
Size : 5.8 MB


Title: Tuhan
Size : 3.7 MB


Title: Salam Rindu
Size : 4.4 MB


Title: Jangan_Tuduh_Aku
Size : 4.0 MB


Senin, 04 Februari 2013

Sayap-Sayap Patah

Sayap-Sayap Patah
Oleh : Ir. Bambang Sukmadji

Apa mau dikata sebelum semua ini terjadi, memang hari hari yang dilewati terasa indah dan berlalu begitu saja. Bagi Cassy jarum waktu menebas atmosfer yang dihirupnya, terlewatkan begitu saja. Namun ternyata Tuhan Yang Kuasa menghendaki lain, hari hari yang melingkungi kini bagaikan rantai berduri yang melilit leher dan sekujur tubuhnya. Setiap sorot mata teman sekelasnya, bagi dia serasa menyudutkanya. Entah apa dan dosa dia ataukah ini hanya perasaan dia saja yang sudah tidak memiliki hari indah penuh enjoy. Mengapa pula tumpahan cobaan hidup bagi remaja flamboyant ini, harus dia hadapi saat dia duduk di kelas XII, yang beberap pecan lagi dia harus menempuh UN.

Sempat Cassy hampir satu bulan tidak masuk sekolah semenjak mama dan papinya berpisah dihempas prahara yang membuat getir hatinya. Maka saat itu hanya dinding kamarnya saja yang mampu dia jadikan tumpahan curhat, meski selama itu dinding dinding kamarnya hanya diam membisu. Seloroh seloroh dalam canda ria bersama dengan teman sekelasnya, yang cuakepnya hampir sama dengan Boneka Barbie saat itu dia tepiskan, atau dia lebih memilih untuk menuangkan air matanya di atas bantal gulingnya.

Sesekali Cassy lebih memilih duduk termenung di ayunan di bawah pohon jambu di belakang rumah. Tempat itulah yang kerap menjadi tumpahan manja dia pada papinya, saat dia masih kecil. Setiap Hari Minggu dia selalu bermanja dalam canda sayang bersama papi dan adik-adiknya. Termasuk suatu hari, saat hari menjelang senja di awal bulan ini. Saat saat itu kembali datang, meski dalam kemasan lamunan. Hingga Cassy terlihat sering tertawa sendiri, lantas tak berapa lama air matanya meggantikan tawa riangnya. Betapa papanya meninggalkan dia begitu saja, begitu juga maminya yang masih kelihatan cantik dan muda, yang lebih senang bergumul kepalsuan hidup dengan pria lainya.

Hati Cassy terus menjadi bulan bulanan ombak Laut Selatan, terombang ambing antara kenyataan yang merenggutnya dan sebuah protes entah kepada siapa, mengapa kenyataan ini meski terjadi. Mengapa sesuatu yang terindah di dunia ini, harus hiolang begitu saja? Meski pada sore itu telinganya mendengar deru mobil yang dia kenal telah memasuki halaman rumahnya yang senyap. Diapun segera beranjak dari kursinya untuk segera menjumpai sokib satu kelasnya.“ Oh..sokibku semua, met jumpa lagi…. dari mana saja kamu!.. yuk silakan duduk?” Senyum halus Cassy tersungging dengan renyah wajah yag disodokan pada Kimberly, Albert dan Siska, yang begitu saja pada sedang merebahkan punggungnyadi kursi bambu yang tertata di beranda depan rumah Cassy yang luas. Sementara mendung mengintip di belahan langit sebelah barat. Pertanda sebentar lagi hujan akan menyambangi mereka.

“Cassy! kamu tambah nekad ya! eh kamu sudah dua hari ini tidak ikut try-out. Tadi pagi Pak Chandra nanyain kamu. Ayo dong be happy masa so sad terus. Kalau kota kita berselimut mendung tebal, janganlah hati kamu juga ikut mendung, piss friend!” pinta Kimberly yang sudah lama kental dengan Cassy seperti saudara sekandung.

“Teman teman dari klas lain malah mengira kamu pindah kota. Mereka berusaha calling kamu, tetapi hp kamu tidak aktif. Ayo dong, Cinderella! besok gabung lagi dengan kita, aku mau deh njemput kamu, asal kamu mau berangkat, gimana?” pinta Albert yang ikut merasa kegetian hati Cassy, Cinderella yang sekarang berwajah seperti kotanya, tertutup gulungan tebal awan hitam.“Terimakasih, sokibku semua. Sungguh aku sama sekali tidak ingin datang ke sekolah, jangankan untuk ikut try-out. Seluruh hatiku tertutup awan gelap, sama sekali aku tak selera berbuat apapun.

Aku tidak sanggup ikut try out, biar aku langsung ikut UN saja, sampaikan Pak Chandra, ya!” “Cassy! bukan itu masalahnya! Tapi kita sekarang kehilangan kamu! Kamu sanggup memberi inspirasi pada kita semua, bila kita sedang menghadapi masalah. Lagian kamu memang selalu ceria sepanjang hari, ini yang membuat kita kehilangan, friend!” seru Siska di tengah wajah Cassy yang mulai memerah jambu, setelah beberapa saat lalu wajah yang cantik dan melangkonis itu pucat pasi. Selintas hadir di sisi hati Cassy betapa bahagianya saat di tengah mereka. Baik sokib cewek ataupun yang cowok selalu memanggilnya “Cinderella Putri Negeri Kaca.”

Memang wajah Cassy cantik jelita, seperti mamanya yang keturunan Belanda dan Ambon. Sedangkan papanya meski kelahiran asli Jawa, namun wajahnya ganteng seperti actor sinetron.Selain itu Cassy dikenal semua sokibnya sebagai cewek yang luwes, familiar dan mau dekat dengan sokib dari kalangan mana saja. Perihal kehalusan dan budi pekertinya semua sokib dan guru-gurunya tidak memungkiri kelebihanya itu. Meski dia sanggup tampil elegan di tempat manapun, tapi dia memilih untuk tampil bersahaja. Namun saat saat ini dia berubah karakter begitu saja, sepertinya iblis bersayap telah merenggut seluruh hatinya, tinggalah sisi gelap hatinya yang terus membawanya bersikap acuh pada siapapun, malas dan tidak memiliki tanggung jawab pribadinya terhadap masa depanya, yang seindah rajutan benang sutra.

Hujan deras kini menerpa kota itu, mereka bertigapun segera pamit setelah mendapatkan janji dari Cassy untuk gabung lagi dengan mereka semua esok hari. Cassy menjadi acuh tanpa alasan pada Stevan yang telah lama berusaha mendekati dirinya, meski sebelum itu Stevanpun hanya dianggap sahabat biasanya. Namun bagi Stevan sikap Cassy yang lembut dan penuh peduli, dianggapnya telah membuka kedua tanganya pada hasrat Stevan. Pada suatu pagi Stevanpun datang ke rumah Cassy dengan bekal mampu menjadi dewa penolong terhadap keterpurukan hati Cassy. “Akupun sama sepertimu Cassy! menjadi korban perpisahan mama dan papaku. Tapi aku biasa saja, karena semua manusiapun akan mendapat giliran dari Yang Kuasa mendapatkan cobaan.“ Stevan berharap sekali mampu menyembuhkan sisi hati Cassy yang sedang sakit. “Itulah bedanya aku dan kamu, Stev!!!”

“Bedanya di mana?”

“Kamu mungkin terbiasa dengan sikap tidak saling mencintai sesama keluarga,“ jawab Cassy dengan suara yang pelan dan datar.

“Mana bisa dalam satu keluarga tidak saling menghargai satu sama lain?“ jawab Stevan.

“Bisa saja, Stevan! dan banyak contohnya. Mama dan papa mereka sibuk dengan bisnis dan ambisinya masing-masing. Sementara putra-putranya menjadi liar tak pernah tersentuh kasih sayang. Mungkin kamupun terbiasa bersikap acuh dengan mama dan papamu.”

“Kamu seperti psikolog Cassy! kalau mama papamu masih serasi dan bahagia, mengapa mereka berpisah?”

“Itulah manusia, Stev! dan akupun menjadi shok karena perpisahan mereka. Semua yang aku hadapi tiap hari hanya limpahan kasih sayang mereka berdua dan sebaliknya. Maaf Stevan, aku harap kita hanya sebatas sahabat saja tanpa lebih dari itu. Apa yang kamu pinta sebelum itu, akupun tidak mengerti. Kan sudah sewajarnya sesama karib saling menyayangi.“

“Cassy! OK! aku rela menjadi korban pelampiasan hati kamu, tapi jujur saja Cassy, aku tidak mampu jauh dari kamu,“ rintih Stevan seperti hari-hari sebelumnya selalu 4 bersikap seperti itu.

“Aku harap engkau bisa menjadi sahabatku, maka berilah aku kebebasan untuk menentukan apa yang ada di hatiku. Sungguh Stevan!, semua teman pria yang berada diseputarku, aku anggap sebagai teman biasa. Piss, Stevan!!!!“ Stevan tak mampu lagi memberi jawaban pada semua yang dikatakan Cassy, dia hanya pamit dan pergi.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Pak Chandra hanya mengusung sebuah senyuman yang menyuratkan bahwa dia tahu persis apa yang sedang menyelimuti hati dan perasaan Cassy. Maka dia sebagai kepala sekolah tanpa banyak bersikap menyalahkan Cassy. Pak Chandra hanya meminta Cassy untuk kembali terlibat aktif di try out terakhir minggu ini.

“Cassy apa kabar! Cinderella kita hadir lagi!” teriak Bram.

“Rencana hari ini kami semua akan ke rumahmu untuk meminta kamu comeback.“ Sahut Puguh ketua kelas mereka.

“Oh My God, bidadarimu kembali tampak di depan kita semua.“ Siska segera menyeruak ke tengah kerumunan mereka dan segera menyodorkan jabat tangan pada sahabat setianya. Sementara Stevan dengan langkah perlahan mendekati Cassy sambil juga menyodorkan tangan kananya untuk sebuah jabat tangan, dengan sebuah bisikan “Cass, habis try out aku antar kamu ke Bu Wulan” pinta Stevan. “Tidak usah Stev! Biar aku saja yang menghadap sendirian."

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



“Nah, kamu lihat tadi teman temanmu kehilangan kamu semua, kan Cass?”

“Iya bu!”

“Mereka semua tetap ceria dan aktif sekolah!”

“Mereka tidak punya masalah keluarga, bu!”

“Siapa bilang, Cass! Bu Wulan sebagai wali kelas, biasa mendapat pengaduan dari mereka. Mereka semua juga punya masalah sepertimu!”

“Tapi masalahnya lain dengan Cassy, bu!”

“Ya, betul, Cassy! Tetapi ada beberapa yang yang jauh lebih berat dari kamu.“

“Mereka semua tidak pernah cerita sama Cassy.“

“Kamu tahu Kimberly? dia diasuh oleh bukan ortunya sendiri. Sementara hingga kini dia pengin sekali bertemu dengan ortu kandungnya. Juga Nur Hayati yang mamanya dikabarkan meninggal di Arab, sedangkan bapaknya di rumah stress. Akhirnya Bu Wulan ikut membantu biaya sekolah, karena dia sebentar lagi ikut UN. Cassy! cerialah seperti sebelumnya!” pinta Bu Wulan.

“Iya bu! Cassy akan berusaha!”

“Cassy bahagia dan kesedihan dari setiap manusia, itu hanya tergantung dari sisi hati sebelah mana. Bu Wulan sudah lama mengamati kamu dan Bu Wulan kagum dengan pribadimu. Bu Wulan yakin kamu akan mampu mengurai derita hatimu! Untuk melupakan derita itu, cobalah kamu teruskan bisnis mamamu, kamu saya yakin mampu bisnis di bidang boutiq, menggantikan mamamu.”

“Cassy mengerti Bu!” Udara di siang hari itu kembali cerah, sang mentari tak lagi bermuka cemberut, demikian juga hati Cassy yang mulai benderang. Sementara itu sayap Sang Putri Negeri Kaca kembali berkepak lagi. (*)

Sabtu, 02 Februari 2013

Dalam Sebuah Perjalanan

Cerpen: Sheila Cavalera

"Jika kamu menghadapi sebuah masalah, pejamkan matamu dan sebut nama ayah dan ibu kamu di dalam hati dan saat kamu membuka mata pasti masalah itu akan lebih mudah dihadapi."

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Pandangan mata Heryda menerawang, masih terngiang jelas ditelinganya, bagaimana Hakim memukulkan palu sebagai akhir sebuah keputusan, mama dan papa resmi bercerai! Heryda sama sekali tidak menyangka akan menghadapi masalah sepelik ini, ia seakan harus melangkah tanpa tahu arah, ikut mama atau papa. Ia sayang mama tapi juga tidak akan pernah tega meninggalkan papa. Ia terbiasa hidup bersama dengan kedua orang tua yang begitu disayanginya itu.

Ah.... semua ini karena rasa ego kedua orang tuanya yang sama-sama tinggi, papa yang kariernya di bawah mama, mama yang tak pernah mau dikalahkan oleh papa, mata Heryda terasa memanas, pamandangan indah sepanjang perjalanan jadi terlewatkan. Lamunan itu buyar seketika saat suara seorang bocah remaja mengalir dari bibirnya sebuah alunan nada yang indah "Camelia" yang dinyanyikan bocah itu hingga para penumpang jurusan Kudus - Semarang terpesona, begitupun dengan Heryda. Dua lagu mengalir begitu saja via bibir mungil itu.

Setelah selesai bocah remaja itu mengulurkan topi yang dipakainya kepada penumpang, suara gemerincing uang receh terdengar, Heryda mengulurkan selembar lima ribuan dan memasukkannya ke dalam topi lusuh yang terulur, bocah itu berhenti di samping Heryda, tidak beranjang ke barisan belakang.

"Kenapa?" tanya Heryda lembut. Bocah itu terlihat bingung.

"Mbak gak salah nih ngasih....."

"Kamu nggak mau, kalau begitu mbak ambil lagi deh," potong Heryda, bocah tanggung itu tersenyum malu.

"Mau sih mbak cuma....."
"Kamu kan artis bis kota, lagu kamu bagus, suara kamu bagus dan niat kamu untuk cari uangkan?" ulas Heryda masih dengan senyum ramahnya.

"Terima kasih mbak," ucap bocah itu saat akan beranjak, entah kekuatan apa yang menarik Heryda untuk menahan kepergian bocah itu. "Eh.... kamu, sini dekat mbak." Heryda mengeser duduknya. Anak itu menatap Heryda ragu.

"Sini duduk..... kamu temani mbak."

"Tapi mbak, saya nggak bisa, saya harus cari uang......."

"Berapa kamu dapatkan uang sehari, mbak akan ganti. Kamu temani mbak deh," bujuk Heryda memohon.

"Tapi mbak......"

Heryda membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar Rp 50.000. "Ini cukupkan untuk ongkos kamu pulang nanti."

Bocah itu memandang Heryda tak percaya, dengan malu-malu bocah itu menerima uang yang diulurkan Heryda. Kapan lagi dapat uang banyak tanpa mengeluarkan tenaga dan suara, pikir bocah itu, kesempatan toh ngaak mesti datang dua kali, bocah itu tersipu malu duduk di samping Heryda.

"Heh kamu..... terminal Depok nih, turun!" bentak kondektur bis melotot ke arah bocah pengamen yang kini duduk di samping Heryda itu. Heryda mengulurkan uang lima ribu pada kondektur yang masih melotot.

"Dia ikut saya pak, saya akan bayar," ucap Heryda, setelah menerima uang itu, kondektur Bus Ramayana itu bergegas pergi.

"Nama kamu siapa?" tanya Heryda lembut.

"Tommy mbak, tapi teman-teman pengamen saya sering panggil Tomblok G. Ade."

"kok....."

"Katanya sih suara saya miriip Ebiet G Ade, makanya saya selalu menyanyikan lagunya Ebiet G Ade, saya punya kasetnya lho mbak, koleksi ibu saya dulu," dengan polos bocah itu bercerita. Heryda tersenyum tipis, ia memang tidak menyangkal, suara bocah itu memang bagus.

"Mbak sendiri punya namakan?"

"Heryda." jawab Heryda singkat.

"Nama mbak bagus ya," puji Tommy tulus.

"Rumah kamu mana?"

"Saya asli Kudus saja mbak, Dersalam," jawabnya, Heryda mengangguk kecil.

"Mbk sendiri?"

"Mbak asli Magelang."

"Lalu di Kudus ketempat saudara mbak ya?" Heryda menggeleng.

"Mbak nggak punya saudara di di Kudus."

"Lalu...."

"Mbak sering berpergian dari satu kota ke kota lain, cari inspirasi," jelas Heryda singkat.

"Ohh... saya tahu, mbak pasti seorang penulis ya?" tebak Tommy, tabakan jitu....

"Kok kamu tahu...."

"Habis mbak tadi bilang cari inspirasikan, biasanya seorang penulis mbak," ulas Tommy.

heryda tertawa kecil. Ah... andai bocah itu tahu aku bukan hanya mencari inspirasi yang paling tepat adalah ingin melarikan diri dari masalah yang seakan membelitnya, masalah yang begitu menjadi beban dihatinya....

"Kamu nggak sekolah?"

"Saya keluar saat kelas 1 SMP mbak, nggak ada biaya, kasihan ibu saya, untuk cari makan saja susah apalagi untuk biaya sekolah saya, padahal saya anak tunggal," nada suara Tommy terdengar merendah, kasihan sekali batin Heryda.

"Ayah kamu....?"

"Tidak tahu mbak, dua taun yang lalu ayah pergi, katanya mau cari kerja di Jakarta tapi sampai sekarang nggak pernah kembali," anak itu jujur bercerita tantang kehidupannya.

"Kok saya terus yang bercerita mbak, gantian mbak dong...."

"Nggak ada yang istimewa dalam kehidupan mbak, untuk apa diceritakan," ucap Heryda dengan hati perih. Tommy menatap Heryda seakan mencari kebenaran di matanya.

"Mbak pasti deh bohong, itu mata mbak kelihatan sedih." Heryda mengalihkan pandangannya keluar kaca bus, Tommy jadi merasa kikuk, ia takut jangan-jangan ia menyakiti hati gadis yang telah berbaik hati kepadanya.

"Maaf mbak...."

"Nggak apa-apa, mbak memang sedang punya masalah kok," jujur Heryda.

"Saya pernah lihat di film mabk, ada kata-kata yang bagus sekali, saya selalu mengingatnya, begini nih.... Jika kamu sedang menghadapi sebuah masalah, pejamkan matamu dan sebut nama ayah dan ibu kamu di dalam hati dan saat kamu membuka mata pasti masalah itu akan lebih mudah dihadapi." ujar Tommy tanpa bermaksud untuk menggurui.

Heryda tertegun dengan ucapan bocah itu, menyebut nama ayah dan ibu.... siapa yang akan disebut terlebih dahulu, mama yang tak pernah mau mengalah atau papa dengan segala genssinya.

"Mbak..." tegur Tommy kembali mengagetkan Heryda.

"Mbak masih sekolah ya?"

"Iya... mbak kuliah di Magelang, jurusan Ilmu Sosial, saat ini sedang libur semester."

"Ayah dan ibu mbak pasti bangga ya punya anak yang baik hati seperti mbak."

Bangga... mama dan papa bangga? Benarkah? Mereka hanya mementingka egonya masing-masing tanpa mau memikirkan bahwa masih ada Heryda yang membutuhkan kasih sayang, batin Heryda sedih.

"Mbak.... sudah sampai terminal Semarang," Heryda mendesah pelan. Ah.... satu jam perjalanan ini tersa singkat. Padahal Heryda masih ingin bertukar cerita dengan Tommy. Sebelum turun bocah itu mengulurkan tangannya ke arah Heryda.

"Terima kasih mbak, saya akan berdoa untuk mbak, semoga masalah yang sedang mbak hadapi akan cepat selesai," ucapnya. Bocah seumur Tommy bisa mengucapkan kata-kata sebijak itu, ya....

Anak itu matang sebelum waktunya, karena kerasnya hidup yang dijalaninya, tidak seperti dirinya, umurnya telah matang, tapi masih rapuh dalam menghadapi sebuahh masalah. Heryda memandang sosok Tommy yang berlari lincah menaiki bus jurusan Kudus. Anak itu sama sekali tidak merasa terbebani dengan kehidupannya padahal masalah anak itu lebih rumit dibandingkan dengan masalah yang kini membelit benak Heryda.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
"Tertawalah jika kamu ingin tertawa dan menangislah jika kamu ingin menangis, hidup itu tidak selamanya indah, ia butuh warna lain, terang, kelam, jingga..." Heryda memandang layar monitor komputer dihadapannya, ia tersenyum kecut. Perjalanan bersama Tommy si boocah pengamen itu seakan membuka mata hatinya, ia memang harus mampu menghadapi masalahnya dengan lapang dada bukannya berlari menghindar. Heryda telah mengambil keputusan, ia akan hadapi realita yang kini dihadapinya. Ya.. ia harus mampu......

Jumat, 01 Februari 2013

Ratapan Roh Si Pendosa Menjelang Dikuburkan

Oleh : Bahroni bin Mastar

Bagi seorang pendosa, menjelang dikuburkan rohnya akan meratap ketika mayatnya tengah dipersiapkan untukk menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua makhluk mendengar ratapan ini, kecuali jin dan manusia.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sewaktu orang-orang mulai meletakan san jasad di dekat kuburnya, maka roh itu berkata: "Demi Allah, hai golonganku dan saudara-saudaraku, aku ini mendo'akan kalian."

Pada saat jasad diletakan di dalam kuburan, si roh pun berkata: "Demi Allah, hai ahli warisku,aku tidak mengumpulkan banyak harta dunia. Dan harta yang sedikit itu aku tinggalkan untuk kalian. Maka ingatlah, kalian kepadaku dengan memperbanyak berbuat kebajikan, sebagaimana yang pernah aku ajarkan dari isi Al-Qur'an. Dan janganlah kalian lupa mendo'akan aku."

Berprofesi Sebagai Awak Kapal Gaib

Oleh : Nurwindo

Janu, adikku menjadi awak dari sebuah kapal gaib. Bagaimana mungkin hal ini terjadi....?

* * * * * * * * * * * *


BEGITU banyak kisah gaib yang telah diungkap, menyadarkan kepada setiap kita kalau bangsa manusia memang tidak hidup sendirian di bumi ini. Ada bangsa lain yang juga sebenarnya mempunyai hal untuk tinggal dan melakukan aktivitasnya, berdampingan dengan manusia. Tak jarang seseorang yang mempunyai frekwensi fisik dan batin tertentu ataupun karena keadaan yang terkondisi, menyebabkan dia mampu menembus alam lain yang tak tampak itu. Bahkan mereka dapat masuk dan keluar sesuai kebutuhan. Keadaan ini tentu saja tidak semua orang dapat melakukannya.

Akhir Perjanjian Dengan Siluman Ular (Persekutuan Gaib)

Oleh : Rosikin

Di Setiap penjuru desa tercium bau busuk yang sangat menyengat. Bangkai apakah yang baunya sebusuk itu? Hingga tercium radius berkilo-kilo meter? Selidik punya selidik ternyata itu akibatt kemmatian salah seorang warga yang dipercaya telah ngupri. Yaitu orang yang memuja siluman ular.....

* * * * * * * * * * * * *



pernikahannya dengan seorang gadis desa yang mempunyai orang tua kaya, Yanu merasa hidup ini tiba-tiba indah. Segala apa yang dia inginkan hampir semuanya tercapai. Tentu saja itu karena atas fasilitas mertuanya, Haji Leman. Haji Leman pun menyerahkan beberapa beberapa tempat usahanya ke menantunya. Dan usaha yang di percayakan untuk dikelola Yanu adalah butik pakaian.

Dalam beberapa bulan sejak ia mengelola tempat usaha mertuanya memang kondisi perekonomian masih bagus. Butiknya yang masih mendompleng nama "H.. Leman" masih dikunjungi banyak pembeli.
"Ma, bagaimana kalau nama butik kita diganti. Jangan pakai nama ayahmu. Kan usahanya sudah diserahkan ke kita," usul Yanu kepada Munaroh istrinya.

"Memang kenapa, Pa? Selama ini aku pikir usaha kita usaha kita baik-baik saja," kata istrinya.

"Iya sih. Tapi aku malu kalau harus mendompleng kebesaran nama ayahmu."

Dipikir-pikir memang benar juga. Masa selamanya harus mendompleng kebesaran nama ayahnya. Ada baiknya kalau memang namanya diganti. Keduanya pun sepakat untuk mengganti nama usaha butiknya. Tentu saja dengan nama yang di sukai mereka, yaitu "BUTIK YAMU," hasil gabungan dari nama mereka.

Usahanya berjalan seperti biasanya. Cuman banyak langganan dan pembeli yang menanyakan pergantian nama butiknya. Pertanyaan-pertanyaan itu di jawab oleh Yany dengan enteng. Perubahan omset penjualan tiba-tiba menurun. Lambat tapi pasti, langganan dan pembelinya semakin berkurang.

Aneh sejak nama usaha di ganti omset tiba-tiba menurun. Begitu berartikah nama bagi setiap tempat usaha? Tidak sampai setahun setelah nama butiknya diganti usaha butik YAMU pun bangkrut total! Begitulah, nama untuk membuat tempat usaha memang harus diperhitungkan secara batiniah. Tidak boleh sembarangan. Beberapa syarat harus dipenuhi untuk membuat nama sebuah usaha. Rupanya hal itulah yang tidak diperhatikan Yanu dan istrinya sehingga usahanya mengalami bangkrut total.

Untuk meminta suplay dana laggi dari mertuannya, tentu saja Yanu malu. Sementara cicilan bahan pakaian yang belum dibayar dari grosir semmakin menumpuk. Yanu dan istrinya praktis hidup dalam kemiskinan. Karena sebagian hartanya telah habis dijual untuk membayar hutang-hutangnya. Sementara kehidupan mereka terbiasa enak. Tiap hari mereka terbiasa mengeluarkan keuangan begitu besar sehingga saat usahanya sedang bangkrut mereka sangat menderita sekali.

Tiap hari Yanu hanya berpikir bagaimana untuk mendapatkan keuangan yang cukup besar dan singkat tanpa harus bekerja keras. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitlah kata pepatah untuk menggambarkan sebuah keberuntungan. Di saat Yanu sedang berpikir untuk kaya dengan cara cepat seorang tua yang berpengalaman dalam bidang supranatural mendatanginya. Orangtua tersebut sering di panggil dengan nama Ki Bogel.

Ki Bogel menunjukkan sebuah tempat keramat yang dapat mendatangkan kekayaan dengan cara cepat. Yaitu dengan Ngupri (sejenis perjanjian dengan siluman ular). Ada perbedaan ngupri dan ngipri. Kalau ngupri perjanjiannya dengan siluman ular, tapi kalau ngipri perjanjiannya dengan siluman kera). Yang ditunjukkan oleh Ki Bogel adalah ngupri di sebuah pulau kecil. Pulau itu sering di sebut oleh pemuja setan dengan nama Pulau Karas.

Di Pulau Keras tersebut bercokol silluman ular yang dipercaya dapat membantu manusia yang bersedia bersekutu dengannya untuk mendatangkan kekayaan dengan cara yang sangat cepat. Siluman ular tersebut berjenis kelamin betina. Dan kalau ia menampakkan diri sebagai manusia, siluman tersebut terlihat sebagai seorang perempuan yang sangat cantik dengan nama "Siti Polang Sari."

Yanu tidak berpikir panjang lagi. Inilah saat yang aku tunggu, sedangkan resiko perjanjian urusan belakangan, ia membatin. Ia pun menyiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan untuk berhubungan dengan siluman ular di Pulau Keras. Di antaranya bunga setaman. Tumpengan lengkap dengan adep-adepnya. Dan beberapa persyaratan lainnya seperti yang diperintahkan oleh Ki Bogel.

Malam Selasa Kliwon dengan menyewa perahu kecil Yanu dan Ki Bogel membawa aneka sesaji membelah ombak laut Indramayu. Tujuan mereka sudah jelas. Pulau Karas! Tengah malam kemudian mereka sampai di sana. Sebuah pulau yang sangat kecil. Di sana hanya terdapat sebuah gubuk yang sangat reot. Memang di deretan wilayah tersebut ada tiga buah pulau kecil yang banyak di tumbuhi pohon nyiur. Masing-masing pulau tersebut terkenal sangat angker dan juga merupakan sebuah pilihan bagi orang yang akan bersekutu dengan iblis. Di samping pulau Karas yang dihuni silumman ular ada pulau Platu yang kata Ki Bogel juga dapat digunakan untuk ngipri memuja siluman kera besar berambut merah. Kera tersebut sering di sebut dengan nama "Camang."

Kembali kepada niat Yanu yang akan memuja siluman ular bernama Siti Polang Sari. Tengah malam itu ketika ia sudah merapikan sesaji di gubuk reot tersebut ia pun tertidur. Di dalam tidurnya ia didatangi seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan tersebut mengajkan beberapa syarat yang hanya diketahui oleh mereka. Selanjutnya mereka hanya bercinta secara binal. Sebagai lambang bersatunya perjanjian sesat!

Sungguh keajaiban tiba-tiba menimp Yanu dan keluarganya. Setelah ia pulang dari Pulau Karas kehidupannya mulai berubah. Tingkat perekonomian yang tadinya bangkrut total, dengan sangat cepat bangun dari keterpurukan. Usaha butiknya pun berkembangan dengan sangat cepat. Bahkan tidak tanggung-tanggung sejak kebangkitan ekonominya dalam beberapa bulan ia membuka cabang butik pakaian di mana-mana. Tahun pertama dilaluinya dengan harapan yang besar tentang kemajuan ekonominya yang begitu pesat. Tumbal pertama jatuh sebagai akibat perjanjian dengan siluman ular. Salah seorang pembantu perempuannya tiba-tiba meninggal di dapur dengan tubuh membiru. Seperti habis terkena gigitan ular. Tahun-tahun berikutnya pun selalu meminta tumbal. Terutama bagi mereka yang banyak ikut menikmati kekayaan Yanu dan istrinya.

Sementara itu usaha Yanu semakin maju pesat. Ia menjadi tuan tanah di desanya. Beberapa tanah yang letaknya strategis (dipinggir jalan raya) dibelinya termasuk beberapa rumah. Sungguh sangat menakjubkan! Sebagi kebiasaan orang kaya lainnya yang tinggal di pedesaan. Yanu pun mmemelihara kuda yang bagus untuk kendaraan mengawasi kebunnya. Karena ia memiliki kuda, maka ia pun mempekerjakan Mang Kardi seorang pencari rumput untuk memberi makan kuda kebanggaannya.

Malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih! Begitulah pepatah yang menggambarkan orang sedang apes. Suatu sore Mang Kardi yang sedang memberi makan kuda tiba-tiba melihat ular besar berwarna hitam pekat mendekati dirinya. Mang Kardi pun kaget. Dan secara reflek ia mengibaskan aritnya ketubuh ular tersebut. Ular itupun terpotong menjadi dua. Ular itu segera di buang ke sungai di dekat kandang kuda.

Tak lama kemudian Mang Kardi mendengar bahwa majikannya meninggal dunia dengan cara yang sangat aneh. Antara tubuh dan pinggangnya terdapat garis hitam melingkar. Kematiannya pun sungguh mendadak. Persisnya berbarengan dengan ia membunuh ular hitam yang hampir menyerangnya di kandang kuda. Sungguh aneh!

Yang lebih aneh lagi berbarengan dengan kematian Yanu desa tersebut di serang bau busuk yang amat sangat. Barangkali itulahh akhir perjannjian dengan siluman ular. Mengalammi kematian dengan cara sangat tragis dan menjijikan. Setelah Yanu meninggal anak-anaknya kini hidup susah dan menderita. Harta orangtuanya yang dulu sangat di banggakan tiba-tiba hilang seperti kepulan asap. Sungguh suatu pelajaran yang baik bagi kita agar berpikir seribu kali untuk melangkah di jalan kesesatan. (*)

SUMBER : MISTERI, Edisi 342, 20 Januari 2004/04 Februari 2004

Doa Sebutir Peluru


Cerpen: Skylashtar Maryam

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Perlahan, amat perlahan.... tubuh yang kau lubangi itu menyebut nama Tuhan pada sepenggal napas yang tersisa . Meski di tempat kau berada kini, Tuhan kerap tak digubris dan ditepis. Tubuhmu bergetar, suara-suara menggelegar. Petir mulai menyambar, hujan bukan lagi berderai melainkan tumpah ruah. Abeputra pun kuyup.

Engkau mulai menggigil, ketakutan. Berusaha keluar daari tubuh yang hidupnyatelah engkau renggut bagai parasit berlari dari inang. Namun tubuhmu sendiri sudah terperangkap dalam begitu dalam, sementara suara-suara samar mulai berubah menggelegar; suara-suara yang tak ingin engkau dengar.

"Lalu siapa engkau?" sesosok makhluk tinggi besar bersayap hitam menjulang di hadapanmu, di atas tubuh inangmu yang tergeletak bisu.

Engkau menggigi. "Saya.... saya..." geragap.

"Katakan siapa engkau!" gelegar.

Kau semakin menggigil. "Bukan salah saya, sungguh bukan salah. Setan-setan itulah yang memaksa saya bersarang di sini."

"Berani-beraninya kau menjelma aku, berani-beraninya kau!" petir menyambar.

Engkau genap menangis, meringis mengais-ngais ingatan apapun yang bisa dijadikan tamba. "Tuan oh Tuan yang perkasa. Ketahuilah Tuan, saya hanya sahaya. Tangan merekalah yang telah membuat saya sedemikian hina. Tuan, oh Tuan yang begitu gagah. Tolong keluarkan saya dari sini," kau mulai memohon.

"Orang ini, yang di dalamnya kau bersarang. Siapa dia?"

Kau kembali gagap. "Saya tidak tahu, Tuan. Ini pertama kali kami bertemu."

Ya, kau tak tahu siapa lelaki malang itu. Lelaki malang yang tidak pernah sekalipu menyangka akan menghembuskan napas terakhir disebabkan oleh gempurannmu. Lelaki malang yang mati bersimbah darah tanpa tahu kesalahan apa. Lelaki yang berada di tempat dan waktu yang salah ketika berbagai macam pertikaian menjelma menjadi kolam pembantaian.

Yang engkau tahu hanyalah malam tadi kau ditempatkan di dalam revolver seseorang, dibawa mengarungi malam. Engkau memasang kuping, ingin mencuri dengar apa-apa yang terjadi diluar. Di malam yang lain, enam kawanmu tercerabut dari sarang untuk berpindah ke tubuh-tubuh, menjelma Izrail; malaikat maut yang sekarang tengah kau hadapi.

Bagimu, terlepasnya tubuh dri kungkungan putaran besi adalah sebuah perjudian tanpa satu orang pun pemenang. Kau dan kawan-kawanmu tak dapat menerka, tak dapat mengira, selongsong siapa yang kelak muntah menyongsong darah. Sialnya, malam tadi adalah giliranmu.

"Cih, bangsat betul nasib kita. Hanya jadi budak-budak manusia bejat," kau merutuk, mengutuk.

Kawanmu yang lain, yang sedari tadi terkantuk-kantuk menunggu giliran terkekeh. "Terima sajalah nasibmu, kawan. Meski aku tak yakin yang membawa rumah kita ini manusia atau bukan. Jangan-jangan ini setan. Memangnya kau mau dengar dia dari tadi menggeram? Aku sedang membayangkan seekor makhluk bertanduk, berekor, bertaring, dan berkulit merah.

"Gila kau!" kata kawanmu yang lain lagi, yang selongsongnya begitu murung seakan-akan seluruh mendung di bumi bergelayut dipunggung. "Jangan bicara tentang setan. Apa kau tak tahu tempat macam apa ini?" Di sini, di pulau ini, segala macam barang tambang dikeruk dan diperdagangkan. Ini pulau yang kaya kawan. Semua orang pasti akan bahagia. Mana ada setan di tempat seperti ini?"

"Setan atau bukan yang membawa kita, aku ingin segera keluar dari sini. Kalian sudah dengar tentang enam kawan kita itu, kan? Kabarnya mereka dipakai untuk melubangi manusia-manusia tak berdosa. Di kepala, di dada, di mana saja," engkau bergidik ngeri.

"Pengecut kau!" hardik kawanmu yang paling berani. "Coba kau bayangkan kuasa apa yang ada di tanganmu. Kita memang selongsong kecil, tapi kita bisa menunggangi kematian. Kita adalah jelmaan Izrail, si malaikat pencabut nyawa itu," kawanmu menyeringai.

"Aku tak mau jadi Izrail!" Aku tak mau jadi apapun dan siapapun. Aku hanya ingin dikembalikan kepada ibu, dilebur jadi perkakas atau berakhir jadi barang bekas. Aku tak ingin berakhir di sini, di dalam revolver terkutuk ini," engkau meringis.

Sebelum kawanmu sempat menimpali, tubuhmu tetiba saja bergeletar,, kemudian engkau dipaksa lesat keluar ketika ketika sebuah telunjuk menarik pelatuk.

Dor!

Dan di sanalah engkau berakhir, di leher seorang lelaki malang yang napasnya telah sempurna hengkang.

"Dan kau sekarang berbangga diri karena telah menjelma menjadi aku?" gelegar itu lagi.

Engkau semakin kalut dan rasa takut. "Tidak, Tuan. Sungguh! Tak pernah setetes pun saya bermimpi untuk mengakhiri perjalanan saya seperti ini. Manusia malang ini pastilah korban juga, manusia tak berdosa yang tak tahu pertikaian macam apa yang sedang membara di sini, di pulau kaya raya ini."

"Tak ada manusia yang tak berdosa," ceceran hujjan terciprat ke tubuhmu ketika sosok di hadapanmu kembali bersuara.

"Ngggg.... begini maksud saya, Tuan. Manusia ini, ia hanya manusia biasa yang hidup, bekerja, bernapas, dan menjalani hari-harinya tanpa sedikitpun bersinggunngan dengan perkara setan-setan, bukan? Ia juga korban, sama seperti saya, bukan?" serangan gugup itu datang lagi. "Ah, Tuan. Anda tentu lebih tahu daripada saya mengenai ini. Bukankah menurut kabar yang saya dengar, ada enam manusia lain yang bernasib sama seperti manusia ini? Anda di sana juga, pasti Anda ada di sana."

"Sosok bersayap hitam itu terkekeh. "Tentu saja aku ada di sana. Kau pikir kawan-kawan busukmu itu bisa tanpa aku? Kalian hanya butir-butir bedebah, tak bisa berbuat apa-apa kalau aku tak turun tangan mengakhiri pekerjaan terkutuk yang kalian lakukan. Cih! Sebetulnya aku bosan, asal kau tahu."

Tuan, boleh saya minta tolong sesuatu?" hujan masih membasah, mencipta merah di tanah, bercampur darah.

"Apa itu?"

"Bisakah, Tuan. Sekali saja, berhenti bekerja dan tak menjadikan tempat ini neraka? Kasianilah saya, Tuan. Kasihanilah kawan-kawan saya kelak. Saya tak ingin nanti ada kawan-kawan saya yang berakhir dengan cara seperti ini; bersarang di tubuh yang tak berhak dan tak pantas untuk mati dengan cara semengerikan ini," engkau memohon. "Juga kasihanilah manusia-manusia di pulau ini."

Sosok di hadapanmu murung, langit malam yang kelam bertambah suram. "Ah kau ini. Andaikata saja aku bisa. Tapi siapalah aku ini."

"Tapi Anda adaala Izrailsang perkasa, malaikat pencabut nyawa," katamu, menengadah.

"hah, kau ini bodoh atau apa? Aku juga menjalankan titah."

Engkau terbengong-bengong. Bagaimana mungkin sosok yang sudah dianggap semacam dewa bagi kau dan kawan-kawanmu itu juga menjalankan titah? "Titah? Titah siapa? Jangan bilang kalau Anda juga budak setan yang karena tarikan tangannya di pelatuk itu maka saya berakhir di sini."

Suara gelak. "Kau memang benar-benar bodoh! Hahahaha... ya, aku tidak menyalahkan kalau selama ini kau memang tak tahu apa-apa karena selalu terkukung di dalam sarung-sarung. Eh, sekalinya keluar malah bernasib sial. Hahahaha...."

"Tuan, bisakah Anda berbaik hati menjawab saja pertanyaan saya? Titah siapakah itu?"

Sosok itu menengadah ke langit, menadah hamparan hujan. "Tuhan," jawabnya.

"Tuhan?" engkau mengerut. Mendengar nama yang satu itu disebut membuat tubuhmu seketika lisut. "Apakah itu nama yang tadi dirapal manusia malang ini?"

"Ya, kau benar. Keputusan apakah aku mencerabut hidup satu manusia tetap berada di tangan-Nya."

"Apakah Ia juga bisa mendengar percakapan kita?" engkau memandang berkeliling mencari-cari sosok Tuhan.

"Tentu saja Ia mendengar. Ah, kau ini memang bodoh ternyata."

"begini saja, Tuan. Riwayat saya sebentar lagi berakhir. Mungkin tubuh saya akan segera diangkat, diperiksa, dianalisa. Setelah itu mungkin saya tidak akan bisa kembali bersuara. Bisakah Anda berbaik hati menyampaikan ini kepada Tuhan?"

"Bicaralah!"

"Semenjak saya berada di sini, di dalam lehr manusia ini. Saya melihat begitu banyak hal indah. Pulau ini begitu melimpah dengan harta. Emas, uranium, dan harta-harta lain yang tidak bisa saya kenali. Manusia ini juga pergi kemari dengan berjuta harapan dan keinginan. Saya yakin ada banyak manusia lain yang memiliki harapan yang sama.

Saya tidak tahu, tidak mengerti hal seperti apa yang sedang dipertikaikan dan diperebutkan di pulau kaya raya ini, Tuan. Saya hanya memohon agar Tuhan kelak melindungi siapa saja dari amukan kawan-kawan saya demi tujuan bejat mereka. Kasihanilah mereka; manusia-manusia ini. Senantiasa lindungilah mereka. Bisakah Anda menyampaikan semua kata-kata saya barusan?"

"Tidak perlu. Ia sudah mendengar doamu. Tapi agar kau tak penasaran, iya nanti aku sampaikan."

"Doa? Makhluk macam apa pula it?"

"Haduh, aku capek bicara denganmu. Yang kau ucapkan sedari tadi itu adalah doa, tolol!"

"Apakah doa itu sesuatu yang baik?" kau mulai kebingungan.

"Sepanjang doa itu untuk kebaikan maka doa itu adalah baik."

"Apakah saya boleh berdoa agar setan-setan itu juga digiring ke neraka sekarang juga?" kau berharap-harap cemas.

"Ya ya ya... berdoalah sesukamu."

"Tuhan, menurut Izrail di hadapan saya ini, saya boleh berdoa apa saja. Tolong, jebloskan setan-setan yang berkeliaran di pulau ini ke neraka sekarang juga."

"Amin," ucap sosok bersayap hitamm itu.

"Hah, apa itu amin?"

"Kau ingin kita ngobrol di sini semalaman atau bagaimana? Aku banyak pekerjaan. Sudahlah, mari kita akhiri saja."

"Lalu bagaimana nasib saya, Tuan? Apakah Tuan sudah mencabut nyawa manusia malang ini?"

"Kau, tetaplah berdiam di situ sampai manusia lain menemukanmu. Dan ya, sudah sedari tadi aku mencabut hidup manusia malang ini. Kasihan dia kalau harus mendengar ocehanmu."

Kemudian sosok itu menghilang, ditelan malam, ditelan hujan.

Engkau terdiam, menatap malam, meneruskan rapal doa dalam gumam. (*)

-------------------------------------------------------------------
Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Oktober 2012
-------------------------------------------------------------------