Kamis, 22 November 2012

Dua Wanita Meninggalkan Aku

Dua Wanita Meninggalkan Aku

Rani tidak salah. Yang salah adalah aku karena telah menduakannya. Aku tahu sejatinya cintaku telah tertambat dengan Ria, wanita yang aku kenal selama empat tahun, tapi aku malah membagi cintaku dengan wanita lain. Akhirnya aku harus kehilangan dua wanita yang kusayangi itu. Kini hanya penyesalan yang tiada habisnya. Sekilas Kisah Jodoh tadi dituturkan Saudara Anton yang tiga bulan lalu harus kehilangan dua wanita yang dicintainya, hal itu dikarenakan Anton ketahuan berselingkuh.



Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Dipercaya memegang sebuah jabatan, aku pun punya penghasilan cukup untuk jika kelak sudah berumah tangga.

Sebenarnya aku sudah mendapatkan wanita itu, tapi aku tak pandai bersyukur dan mengkhianati cinta tulus itu. Aku juga sudah menyakiti perasaan Reni dan begitu mencintaiku.

Aku tahu kebodohan yang terbesar adalah mudah sekali untuk jatuh cinta. Selama ini aku seringkali iseng menggoda wanita, tapi tidak pernah mau serius karena aku sudah punya Ria. Ria pun sudah kuikat dengan pertunangan. Aku termasuk tipe lelaki playboy. Sebenarnya sifat itu merugikan diri sendiri karena setiap kali dekat dengan wanita aku selalu saja melimpahi mereka dengan materi. Karena itulah banyak wanita yang suka padaku. Hingga akhirnya aku tak bisa main-main lagi.

Aku berkenalan dengan wanita asal Kota Kembang, Bandung. Namanya Reni. Dari awal perkenalan saja aku sudah langsung jatuh hati padanya. Selain cantik, Reni juga tipe wanita penyayang. Itulah yang membuat aku jadi tergila-gila padanya dan lupa kalau aku sudah memiliki Ria, yang sudah menjadi kekasihku hampir empat tahun.

Kekuatan cintaku mulai goyah aku ingin memiliki Reni. Berbagai tipu muslihat aku lakukan untuk menutupinya dari Ria. Aku sungguh-sungguh mencintai Reni, tapi aku juga tidak bisa melepaskan Ria, akhirnya kujalanin cinta segitiga. Baik Reni dan Ria tidak tahu kalau sudah diduakan.

Awalnya tak ada kesulitan sama sekali, tapi lama kelamaan mulai kesulitan untuk berbohong kepada mereka berdua. Dan tak terasa hubungan terlarang bersama Reni hampir memasuki satu tahun, dan itu juga yang mengakhiri kisah cinta di antara kami berdua.

Hubunganku dengan Reni diketahui Ria. Ria melabrak Reni di tempat kerjanya. Aku merasa iba dengan Reni, karena dipermalukan Ria di depan teman-temannya. Aku pun khilaf lalu menampar Ria, agar tidak berteriak-teriak lagi memaki Reni.

Usai kejadian itu aku berusaha mendekati Ria dan memberikan pengertian, tetapi Ria merasa terhina terutama keluarga besarnya. Ria memutuskan pentungan kami. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi mereka juga melaporkan aku ke pihak berwajib karena tindakan kasar yang telah aku lakukan.

Sedangkan Reni saat itu juga tak mau lagi menerima telpon ataupun bertemu. Hanya ingin minta maaf saja, Reni tak mau. Reni juga minta aku untuk menjauhi dirinya, kalau tidak dia akan melaporkan aku ke pihak berwajib. Dua orang wanita yang kuharapkan bisa menjadi pendamping tak bisa ku miliki satu pun juga. Kini yang ada hanya penyesalan terdalam dari lubuk hati. Jika waktu masih bisa diulang aku ingin kembali memperbaiki hubunganku dengan Ria dan ingin menjadi pria yang setia. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 1 November 2009

Rabu, 21 November 2012

Cinta Merdeka

Cinta Merdeka
Cerpen: Maspril Aries

Kata-kata perintah yang berwibawa dari Kapten Pandji tadi siang masih bergaung di telinga. Gemanya bermain-main dalam gendang telingaku bersama hembusan angin malam yang dingin. Di depanku Sersan Musa melangkah sambil membungkukan badan mendekati dinding tinggi yang catnya sudah luntur dan berlumut

* * * * * * * * * * * * * * *



Perintah Kapten Pandji tadi siang bermain di batok kepalaku. "Sersan Tanto, kamu bersama Sersan Musa mendapat tugas menghantam markas Benteng Tangsi itu dari arah belakang!"

"Siap Komandan," jawab kami bersamaan.

"Merdeka!" teriak semua anggota pasukan.

Dinding Benteng Tangsi itu sekarang ada di depanku. Dinding itu tingginya dua meter dengan kawat berduri di atasnya.

Operasi penyerbuan dimulai. Musa naik ke atas pundakku Dengan tang yang sudah disiapkan. Musa memotong kawat berduri pelindung Benteng Tangsi. Dengan tali yang kami bawa, aku merayap dinding, naik menyusul Musa yang sudah lebih dulu berada dibalik dinding, di dalam Benteng Tangsi. Sekarang kami sudah berada di dalam Benteng Tangsi.

Malam semakin tinggi, sunyi dan mencekam. Dari pos penjagaan depan terdengar serdadu Belanda yang bernyanyi dengan irama tak menentu. Di tempat lain, suara janngkrik malam ikut meningkahi. Kami terus mendekat markas dengan mengendap-endap.

Kulihat jam tangan di remang cahaya bulan, tinggal dua menit lagi. "Siap," bisikku kepada Musa dengan mengacungkan dua jari tangan kanan.

"Merdeka!" bisik Musa dengan tangan kanan terkepal ke atas.

"Merdeka!" balasku.

Taarrr.... taarrrrt.... taarrrrr..... suara senapan para Pejuang Republik mulai menyalak memecahkan kehingan malam dan menghentikan nyanyian tak merdu para tentara Belanda. Kemudian suara tembakan mulai saling bersahutan dari beberapa sudut.

Duaaaaaarrrr......

Duaaaaarrrrr..... dua ledakan granat tangan aku dan Musa lemparkan meledak bersamaan menghantam salah satu bangunan yang ada di Benteng Tangsi. Ledakan itu memunculkan percikan apik dan disusul suara tembakan senjata api yang ditujukan ke arah tempat kami bersembunyi. Kami berlindung dan membalas tembakan itu.

Sudah hampir satu jam pertempuran terjadi. Pasukan Belanda yang berada di Benteng Tangsi hampir dapat dikalahkan. Mereka berusaha bertahan, tembakan balasan dari bangun yang ada di dalam benteng hanya terdengar sesekali saja. Sudah dua jam, namum markas Benteng Tangsi belum bisa dikuasai.

Dari arah utara terdengar suara mesin kendaraan berat mendekati Benteng Tangsi. Sebuah panser mendahului iring-iringan kendaraan pasukan Belanda datang.

Daaarrrr...... daaaarrrrrr...... dua ledakan terdengar dari arah depan Benteng Tangsi.

Kemudian terdengar teriakkan Kapten Pandji, "Mundur!!"

"Mundur!!" diikuti teriakan yang lain.

Aku dan Musa beringsut mundur dari empat kami bersembunyi sambil terus menembakan senjata ke arah markas. Musa membopongku melewati dinding Benteng Tangsi tempat kami masuk tadi. Musa menyusul dengan tali yang kujulurkan ke bawah. Kami melompat ke bawah.

Kami berlari terus menembus kegelapan malam. Musa berlari di depanku. Suara ledakan mortir terus diarahkan kepada Pejuang yang masuk ke kebun-kebun penduduk. Dari belakang kami suara senapan mesin terus terdengar. Dengan jatuh bangun kami berusaha menjauhi Benteng Tangsi.

"Aduh!" pekikku asetelah berada jauh dari markas tentara Belanda itu. Aku terjatuh, pahakku terasa perih, , kuraba paha kiriku, ada aliran hangat mengalir di situ. Aku tertembak. Aku berusaha bangkit tapi rasa perih dipahaku semakin menusuk. Aku tersungkur kembali. Aku terus berusaha bangkit dan terus merayap di gelap malam menyeruak rimbunnya semak belukar.

Aku harus menjauhi markas penjajah jahanam itu. Aku tidak ingin tertangkap. Aku paksakan berdiri dan melangkah dengan tertatih-tatih. Di kejauhan suara tembakan semakin berkurang. Bajuku sudah basah oleh keringat. Aku menoleh ke belakang, markas Benteng Tangsi itu sudah hilang tertelan gelap malam. "Aduh," aku meringis menahan rasa perih. Mataku nanar, di sekitarku terlihat semakin gelap dan hitam.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Ketika kubuka mataku, aku sudah berada dalam sebuah ruangan. Badanku terbaring di atas dipan bambu beralaskan tikar. Sinar matahari masuk menerobos dari celah dinding bambu ruangan itu. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan sepi. Di mana aku sekarang? Aku berusaha bangkit. "Aduh," desisku menyeringai kesakitan. Aku terbaring lagi. Kupejamkan mataku menahan rasa sakit yang belum juga hilang.

Dari balik dinding bambu yang dianyam ke dengar suara langkah mendekat. Mataku arahkan ke pintu> Seorang perawat melangkah masuk dan mendekat ke arahku. "Jangan bergerak dulu, luka bung baru saya obati," katanya lembut.

"Terima kasih," jawabku.

"Tapi kalau boleh saya tahu, sekarang saya dimana?"

Dia tak langsung menjawab. "Sebentar," katanya terus berlalu meninggalkanku. Kemudian kembali lagi dengan membawa sebutir tablet dan berdiri di sebelah tempatku berbaring.

"Minum dulu obat ini," katanya lembut dengan nada memerintah sambil menyodorkan sebutir tablet.

Aku menerimanya. "Tolong beritahu dulu, di mana aku sekarang?"

"Minum saja dulu, nanti saya ceritakan." Dia membantuku menelan obat yang diberikannya tadi.

Kemudian dia mulai ceritanya. "Pasukan tadi pagi menemukan bung tergeletak di semak-semak di pinggir sungai. Bung sudah sejak semalaman pingsan. Luka bung cukup banyak mengeluarkan darah. Sekarang bung dirawat di rumah sakit Sektor Selatan."

"Saya ucapkan terima kasih atas perawatan......, maksud saya siapa nama nona?" kataku. "Nama saya Hartanto dan teman-teman memanggil saya Tanto."

"Nama saya Kartini," jawabnya lembut.

"Lebih baik bung Tanto istirahat saja dulu." Kartini terus melangkah keluar ruangan. Memang aku merasa lelah, rasa kantuk menggantung di mataku. Aku tertidur sampai kemudian aku dikagetkan suara langkah sepatu yang berlari dan diikuti dengan teriakan. Kartini berlari masuk, di pundaknya memanggul senjata api.

"Ada apa?" tanyaku.

"Mereka datang," jawabnya singkat.

"Mereka siapa?"

"Penjajah biadab itu."

"Pasukan yang lain mana?" tanyaku.

Kartini tidak menjawab pertanyaanku. Ia terus menguak dinding banbu yang sengaja dijadikan jendela untuk mengintai. Gerakannya cepat dan sigap, menunjukkan bahwa ia terlatih baik. "Anak-anak dan perempuan sudah diungsikan ke hutan dan yang lain menghadang di lereng bukit sebelah Barat. Sudah sejak siang tadi mereka bersiap menghadang kedatangan Belanda-Belanda itu," katanya tanpa menoleh kearahku.

"Dari mana mereka tahu kalau Belanda akan datang menyerang, dari mana mereka tahu tampat ini?" tanyaku.

"Satu atau dua hari setelah penyerangan pada setiap markas Belanda di mana pun, pasti akan datang serangan balasan untuk menghancurkan markas Pejuang Republik. Mereka pikir setelah melakukan penyerangan para pejuang pasti akan bersenang-senang. Mereka mendapat informasi tentang tempat ini dari mata-mata, bangsa kita sendiri yang tega mengkhianati bangsa dan saudara-saudaranya."

"Sebagai cara balas dendam mereka," kataku sambil berusaha bangkit. Dia tak menjawabnya, tapi mengisyaratkan ke arahku agar tetap berbaring.

"Bagi setiap pejuang, bukan memikirkan suatu balas dendam atau bukan. Bagi mereka menyambut kedatangan tentara Belanda dengan butir-butir peluru panasadalah suatu yang biasa." Mata Kartini terus memandang keluar.

Dia menyindirku, pikirku. Namun sebagai pejuang sejati, pribadi yang dimiliki pejuang bukanlah figur manusia yang mudah tersinggung atau emosional. Pejuang sejati harus siap menerima kritik, bahkan sindiran dan caci maki. Aku berusaha menentramkan gejolak di dalam dada. Suara senapan mesin dari kejauhan terdengar mulai menyalak bersahutan. Kartini berdiri tegap memandang keluar dengan laras senapannya yang siap memuntahkan butir-butir timah panas.

Semakin lama suara tembakan terdengar semakin dekat. Tiba-tiba sebutir peluru panas menembus dinding bambu tempat kami berlindung, bau asap mesiu mulai menyengat hidung. Kartini cepat menarik picu senjatanya, butir-butir peluru panas menghambur dari ujung laras senapannya. Daaarrrrr..... sebuah ledekan menggelagar dekat rumah tempat kami berlindung dan bongkahan tanah terlempar ke atas atap. Di luar pertempuran semakin seru, suara tembakan semakin gencar. Sesekali terdengar teriakan, "Merdeka!" dari para pejuang yang mulai terdesak.

Tiba-tiba, daaaarrrrr...... Kartini terlempar dari tempat berdiri dan terbujur di dekat dipanku. Ledakan mortir menghantam dinding bangunan rumah. Aku berusaha bangkit, luka dipahaku membuat aku terbaring lagi tak bisa banngkit.

"Aduh...............," ku dengar suaranya meringis kesakitan.

"Kartini!" panggilku. Namun tak ada jawaban. "Kartini" panggilku lagi dengan lebih keras. Tak ada sahutan. Aku memiringkan badan ke arah kanan. Tangannya kulihat menggapai-gapai dipan. Cepat kutangkap tangannya. Ada percikan darah dalam genggamanku.

"Mas Tan.... to, Merdeka." katanya terbata-bata.

"Kartini!" ku goncangkan tangannya tapi tak ada sahutan.

Di luar pertempuran semakin dahsyat. Ledakan bersahutan menghancurkan bangunan di Sektor Selatan. Rumah tempat kami berlindung bergetar, miring dan roboh. Atap ilalang bangunan rumah menimpa aku dan Kartini. Tangan kiriku berusaha melindungi Kartini dari kayu yang jatuh. Aku tak berdaya menahan begitu lama. Rasa perih ditubuhkku semakin menusuk dan terus menyiksa. Aku berdoa semoga pertolongan cepat datang.

Pertempuran di luar mulai mereda. Suara salakan senjata api juga mulai mereda dan hujan mortir sudah tidak ada, berganti dengan teriakan "Merdeka."

"Kartini!" teriak sebuah suara terdengar keras.

"Kartini," "Kartini," teriak yang lain.

"Cepat angkat reruntuhan ini, dia terluka!" teriakku. Sebentar saja atap bangunan yang roboh sudah mulai diangkat. Beberapa pejuang mendekat ke arah kami.

"Musa!" teriakku keras ketika ke lihat teman-temanku ada diantara pejuang yang bermarkas di Sektor Selatan.

"Tanto! Kamu berada di sini" Musa memandangku dan mendekat.

"Ya," sahutku singkat.

"Syukur, ternyata kau selamat. Kami menduga kau tertangkap malam itu." Musa menjabat tanganku.

"Kami ke sini berempat. Aku, Kopral Tigor, Kopral Irsan, dan Pak Mantri Mulyo. Kapten Pandji dan teman-teman kembali ke markas."

"Aku tertembak malam itu," ujarku. Mantri Mulyo memeriksa lukaku, dan yang lain mengangkat tubuh Kartini dari puing bangunan yang runtuh.

"Kami kira kau tertangkap Sersan Tanto," kata Tigor dan Irsan yang ikut mendekat.

"Sekarang kita harus meninggalkan tempat ini," pperintah Kapten Karma, Komandan Pasukan sektor Selatan datang mendekati kami.

"Siap Kapten, kita harus menyingkir!" jawab Sersan Musa mundukung perintah itu. Barisan Pejuang Republik mengungsi, berjalan beriringan ke arah utara. Aku ditandu Kopral Tigor dan Irsan. Setelah satu jam kami berjalan, terdengar dari kejauhan suara mortir dari arah markas Sektor Selatan yang telah kosong. Kapten Karma memerintahkan anak buahnya berhenti di lereng bukit yang berhutan lebat.

Mantri Mulyo kembali memeriksa lukaku. "Bagaimana perawat yang terluka itu," tanyaku pada Mantri Mulyo.

"Lukanya sangat parah dan banyak mengeluarkan darah," jawab Mantri Mulyo.

Aku menghela napas dalam-dalam, ada kekecewaan dalam desah napasku. "Dia yang merawatku. Cintanya pada Kemerdekaan Negeri ini begitu besar. Dia ikut membakar semangatku. Dia perempuan yang lembut tapi pemberani. Dia bukan Kartini biasa, dia Pejuang.

"Dia gugur," kata Sersan Musa yang baru datang dan berjongkok di sebelahku.

"Siapa?" tanyaku tak mengerti.

"Perempuan itu."

Aku terdiam. Mataku basah, air mataku menetes. Badanku terasa semakin lemah. Angin yang bertiup menggoyang pucuk pohon kayu di hutan itu, semua lalu terdiam, gesekan daun yang tertiup angin menyenandungkan llagu duka. Kata-kata perpisahan untuk Kartini hanya bisa kuucapkan dalam hati:

"Selamat Jalan Srikandi Bangsaku, cintamu pada Ibu Pertiwi begitu besar semoga ia terwarisi dan tumpah di setiap dada anak negeri ini yang baru saja merdeka dan akan terus merdeka (*)



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 11 November 2012

Janji Setia Hanya di Bibir

Janji Setia Hanya di Bibir

Janji tinggal janji.” Ungkapan itu cocok untuk kisah cinta yang dialami Weni. Tono, kekasihnya telah berbohong. Janji setia dan akan menikahi Weni, tidak pernah ditepati. Bahkan di depan mata Weni, Tono berduaan dengan wanita lain.



Sejak memutuskan berpisah dengan Tono enam bulan lalu, Weni berusaha betul-betul melupakan Tono. Weni tidak ingin terpuruk dalam kesedihan karena sudah dikhianati. Toh tidak ada gunanya juga aku, berlarut dalam duka.

Mundur kebelakang, sebenarnya aku tidak begitu mudah menerima Tono untuk mengisi relung hati ini. Aku dipertemukan dengan Tono di sebuah acara amal. Tanpa sengaja saling bertegur sapa dan akhirnya dilanjutkan dengan bertukar nomor handphone. Keakraban berlanjut dengan kopi darat. Dari hanya sekedar ingin berteman saja lama kelamaan Tono menyatakan cinta kepadaku. Aku sempat ragu untuk menerima cinta Tono, karena baru putus dari Ferry. Aku tak tahan bersama Ferry yang mempunyai sifat temperamen.

Tono tidak mundur begitu saja. Dengan sabar menunggu jawaban dariku. Tono selalu mengatakan ingin serius menjalin hubungan denganku. Bahkan untuk menunjukkan keseriusannya Tono memberi aku cincin, walaupun tidak bertunangan. Tono juga berusaha meyakinkan akan setia dan mejagaku. Perkataan Tono itu dibuktikannya dengan seringnya Tono mengantar aku pergi ke mana saja. Kasihan, apalagi Tono juga bekerja, aku minta secara halus agar Tono tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Tono bisa menerima dan berjanji untuk mencoba jujur satu sama lain karena aku ingin cinta ini berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu pernikahan.

Ternyata aku salah besar. Tono berkhianat. Janji yang selalu diucapkan dan diumbarnya tidak terbukti, malah aku harus mengalami rasa sakit karena dikhianati. Entahlah, mungkin Tuhan sangat sayang kepadaku, hingga aku ditunjukkan dengan mataku sendiri kalau pria yang sudah kupercaya dan kuharapkan bisa menjadi pendamping hidupku ternyata hanyalah pria pembohong besar yang bisa membagi cinta kepada siapa saja.

Tak perlu lagi aku mendengarkan penjelasan dari Tono, karena sudah menyaksikan langsung bagaimana Tono dan wanita itu bermesraan di depan umum. Mereka tampak seperti sepasang suami istri, apalagi wanita itu tak sungkan-sungkan untuk menggelayutkan tangannya. Kalau kuingat kejadian itu tambah benci saja aku dengan Tono. Saat ini aku berusaha membuang jauh-jauh kenangan bersama Tono, apalagi Tono sepertinya tak menyesali perbuatannya itu. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 8 November 2009

Senin, 08 Oktober 2012

Kehidupan Rumah Rakit Zaman Kesultanan



Khusus Warga Pendatang, Bermasalah Rumah Dihanyutkan, Rumah rakit, mungkin bisa dikatakan sebagai rumah tertua di kota Palembang. Diperkirakan, rumah yang mengapung di pinggiran sungai Musi ini telah ada pada zaman Sriwijaya. Saat ini, rumah rakit ini diakui sebagai penunjang pariwisata. Hanya saja, melirik ke belakang pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam, rumah rakit ternyata khusus diperuntukan bagi warga pendatang, terutama Warga Negara Asing (WNA). Apa sebab?

Bicara peradaban Palembang tak dapat dipisahkan dengan sungai Musi. Sungai ini merupakan kehidupan vital wong kito sejak berabad-abad lalu. Nah, salah satu peradaban tertua yang sudah ada sejak zaman Sriwijaya adalah rumah rakit.

Dikatakan rumah rakit, karena pondasinya terbuat dari bambu. Bahan utama membuat rakit. Bahan bambu inilah yang membuat rumah rakit bisa mengapung. Naik serta turun, tergantung pasang surut sungai.

“Bahan lain bisa dikatakan murah meriah. Menunjukan budaya lokal zaman dulu,” ungkap Kms Aripanji SPd MSi, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel kepada Sumeks Minggu, dibincangi Rabu (26/10) lalu.

Maksudnya, dengan rumah rakit ini, masyarakat yang hendak mendirikan rumah tidak perlu melakukan penimbunan seperti sekarang ini. Yang dapat menggangu ekosistem dan menimbulkan banjir karena berkurangnya daerah resapan air. Keuntungan lain, tentu saja pemiliknya bisa memindahkan rumah ke daerah lain dengan cara dihanyutkan.

Nah, rumah rakit sendiri disusun dari batangan bambu, dipasang lantai papan dengan penyangga tiang pendek. Sehingga, meski berada diatas sungai, lantai rumah tidak kemasukan air. Rumah ini pun bisa disebut “anti banjir”.

Barulah di sudut atas di pasang tiang penyangga untuk menyusun dinding rumah serta menegakan atap. Atap rumah rakit sendiri sejak zaman dulu menggunakan nipah. Saat ini banyak digunakan seng atau seng berbentuk genteng yang bahannya ringan. Agar tidak hanyut ke hilir atau hulu, ditancapkan tiang di tiap sudut rumah. Lalu tiang diikat ke sudut rumah.

Aturan Bernuansa Politik
Masalah rumah rakit diyakini Aripanji telah ada sejak zaman Sriwijaya, abad 7 hingga 14. Termasuk pada masa Kerajaan Palembang, 14 hingga 17 serta pada masa Kesultanan Darussalam abad 17 hingga 19.

Hanya saja, masalah rumah lebih dikenal pada masa Kesultanan. Ini tak lepas dari kebijakan dibuat pada masa itu. Kebijakan tersebut dikatakan Aripanji sebagai kebijakan atau aturan bernuansa politis.

Yakni, menempatkan para pendatang khususnya Warga Negara Asing (WNA) untuk tinggal di rumah rakit. Seperti warga China serta Belanda. Sedangkan penduduk pribumi saat itu tinggal didaratan. Atau pinggiran sungai dengan tiang rumah sudah menyentuh daratan.
“Berbeda dengan orang Arab. Pada masa Kesultanan mereka dimuliakan. Banyak dijadikan guru, menantu atau panglima perang. Ini juga karena ada kesamaan qaidah (agama Islam, red),” ungkap Ari.

Didiskrimanasinya para pendatang pada masa Kesultanan lanjut Ari karena adanya kecurigaan. Seperti bangsa Belanda yang sudah sejak lama terkenal hendak menjajah Indonesia.

“Kalau orang China itu dicurigai karena kedekatannya sama Belanda. Tapi itu kan karena masalah perdagangan saja, “ ujarnya cepat.

Dengan tinggalnya para pendatang serta WNA ini diatas rumah sakit, secara otomatis, Kesultanan dapat secara mudah melakukan pengontrolan. Mereka bermasalah, tali pengikat rumah rakit tinggal dipotong, rumah itu pun bakal hanyut.

Hanya saja, Belanda dapat melakukan pendekatan dengan Kesultanan hingga dapat mendirikan sebuah loji (kantor dagang,red) di sungai Aur. “Kemudian, mereka juga menepi dan tinggal di darat,” jelasnya.

Sejak Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang, keadaan berubah. Usai kemerdekaan hingga kini, jumlah rumah rakit dipastikan berkurang. Rumah rakit pun tak lagi kesannya tempat orang diasing atau terpinggirkan. Yang tak banyak berubah, rumah rakit banyak digunakan sebagai tempat berdagang. Yang dulunya banyak dilakukan orang-orang China. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 01 November 2011 11:57 | Sumeks Minggu

Melihat Palembang dari Naskah Kuno

Melihat Palembang dari Naskah KunoHANIFA (38), seorang warga asli Palembang, sulit membayangkan bagaimana kisah pewayangan yang selama ini dianggapnya hanya "milik" masyarakat Pulau Jawa. Kisah pewayangan ternyata pernah berkembang di Palembang yang menjadi ibukota Sumatera Selatan itu. Pewayangan di Palembang bukan sekedar ada, tetapi berkembang. Namun cerita pewayangan itu mengalami perubahan untuk disesuaikan dengan budaya.

Modifikasi itu misalnya, membuat tokoh-tokoh punakawan naik pangkat menjadi golongan bangsawa. Gareng misalnya, disebut sebagai Ki Agus Gareng, Ki Agus merupakan salah satu sebutan kebangsawanan pada masa Kesultanan Pelembang Darussalam. Selain pewayangan, cerita-cerita rakyat yang sebelumnya banyak berkembang di Pulau Jawa, juga dikisahkan di Palembang dengan modifikasi budaya setempat, misalnya kisah Raden Ing Kertapati atau Ande-Ande Lumut.

Cerita-cerita yang ditemukan dalam penelitian Yayasan Naskah Nusantara bekerjasama dengan Tokyo University of Foraign Studies, Agustus tahun lalu, itu menunjukan keterkaitan Palembang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Kisah-kisah itu ditulis dalam naskah yang berasal dari abad ke-19, dengan tulisan Arab Melayu.

Sejarah Kesultanan Palembang bermula dari kemelut politik yang terjadi di Kesultanan Demak sesudah kematian Tranggana, raja Demak setelah Raden Fatah, serta pemindahan pusat Kesultanan di Pajang oleh Prabu Adiwijaya. Kelompok bangsawan yang dikalahkan dalam perseteruan itu, antara lain adalah Ki Gede Ing Suro bersama para pengikutnya menyingkir dan mendirikan pusat kekuasaan baru di Palembang. Kesultanan Palembang ini didirikan pada abad ke-16.

Budayawan Sumatera Selatan, Djohan Hanafiah menegaskan, para bangsawan Jawa yang berkeraton di Palembang pada akhirnya beradaptasi dengan budaya Melayu yang sudah tumbuh di daerah ini. Palembang juga merupakan kawasan kosmopolitan, dengan percampuran budaya berbagai bangsa yang datang seiring arus perdagangan. Karakter kosmopolitan ini tentu tak lepas dari latar sejarah Palembang pada masa Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan bahari ini berpengaruh luas di nusantara mulai abad VII hingga XI Masehi pergaulan antar bangsa dan akulturasi budaya membentuk karakter daerah ini.

Bertepatan dengan 16 Juni lalu, hari jadi Ke 1320 tahun Palembang dirayakan. Hari jadi itu ditetapkan pemerintah kota, berdasarkan prasasti kedukan Bukit yang menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berangka 682 Masehi, tetapi kelahiran Palembang dihitung lebih muda. Artinya, sejarah ibukota Sumatera Selatan ini lebih panjang dari perjalanan Kota Baghdad di Iran yang didirikan pada tahun 762, lebih tua dari Kyoto Jepang yang didirikan tahun 794, apalagi yang dibandingkan dengan Jakarta yang berdiri tahun 1527. Namun, rasa memiliki sejarah panjang, tidak mudah dilihat dalam tata nilai sekarang ini.

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang jauh lebih muda dari masa Sriwijaya, meninggalkan jejak tak terputus dengan keberadaan Palembang masa kini. Namun, apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya Kesultanan ini terkesan memprihatinkan. Naskah yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam misalnya, antara lain ditemukan disimpan saja dalam rak dikamar mandi.

Karya penulis dengan bahasa dan gaya penulisan tertentu mewakili suatu masa, Substansi yang dipaparkan menyuguhkan wacana yang berkembang pada masa itu. Oleh karena itu, penemuan naskah berperan penting dalam kegiatan apresiasi kebudayaan kesejarahan. penelitian awal yang digelar Yayasan Naskah Nusantara bekerjasama dengan University of Foraign Studies di Palembang, Agustus lalu. Menemukan bukti produktivitas sastra Melayu di daerah ini pada masa Kesultanan. "Dari penelitian awal, sudah terlihat bahwa kegiatan penulisan naskah di Palembang pada masa lalu ternyata sangat aktif dan menonjol," ujar Dr. Achadiati Ikram, pakar filologi Universitas Indonesia (UI), yang bergabung dalam tim peneliti tersebut.

Selama sepekan pendataan, tim peneliti ini mencatat sekitar 230 naskah ditemukan pada 15 warga kota Palembang. Naskah-naskah tersebut berasal dari abad ke-18 dan ke-19. "Kami yakin masih banyak sekali yang tersebar dikalangan masyarakat dan belum tersentuh," ujar Dr. Titik Pudjiastuti, Staf Pengajar Program Pascasarjana UI, yang bergabung dalam timini

Kini, temuan dalam penelitian itu sedang disusun menjadi katalog yang akan dilengkapi deskripsi naskah. Diskripsi diperoleh dari pembacaan masing-masing cetakan naskah yang di potret. "Katalog ini akan diterbitkan oleh Tokyo University of Foreign Studies," jelas Titik.

Pendataan naskah-naskah kuno di Palembang secara komprehensif belum dilakukan. Katalog pertama yang disusun bukan akan diterbitkan di Indonesia. Hal ini menunjukan, betapa naskah-naskah kuno yang menggambarkan kekayaan intelektual pada masa itu belum banyak diterjemahkan, dimanfaatkan sebagai sumber penggalian sejarah. "Jika mau melihat sejarah, kita mesti pergi ke Belanda. Padahal, itu merupakan secondary sources yang sangat mungkin disusun dengan sudut pandang berbeda. Catatan pada naskah-naskah inilah primary sources yang selama ini justru kita abaikan," tutur doktor filologi ini bernada prihatin.

Kekayaan ragam muatan juga sangat mendukung pengembangan berbagai kajian lain, melalui naskah-naskah kuno di Palembang antara lain merupakan kitab keagamaan, ajaran tasawuf dengan beberapa diantaranya menunjukkan aliran yang berkembang pada masa itu, hingga hikayat dan syair. silsilah, surat-surat, hingga catatan perjalanan juga ditemukan. Titiek mencontohkan, sebuah akte pernikah yang ditemukan misalnya, dapat menampilkan "potret" salah satu perjanjian sosial yang dijalankan pada masa itu, sekaligus menjadi sumber sejarah hukum.

Penulisan naskah dapat dipandang sebagai salah satu penuangan budaya "berkelas" paling tinggi pada masa lalu. Djahan Hanafiah, Sejarawan Sumatera Selatan, menuturkan, penulisan naskah menuntut kemampuan intelektual, kemampuan ekonomi, dan waktu luang. "Pada masa itu, golongan masyarakat dengan intelektualitasi yang cukup, berkemampuan memadai, serta dapat mengalokasi waktuuntuk mengapresiasi tulisan sastra atau keagamaan, umumnya adalah para bangsawan," ujar Djohan.

Budayawan yang menulis sejumlah buku sejarah lokal ini menyakini, Sultan Palembang berperan besar dalam pengembangan budaya penulisan di Sumatera Selatan. Kegiatan penulisan mencapai puncaknya pada masa Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang diyakini Djohan sebagai pemimpin masa keemasan Kesultanan Palembang.

Mujib Ali, peneliti pada Kantor Asisten Deputi Urusan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang pernah mendalami penulisan naskah kuno di Palembang, menuturkan, Sultan Mahmud Badaruddin II memang memiliki perpustakaan yang di duga terlengkap di Palembang masa itu. Puluhan naskah yang ditemukan Mujib memang ditandai sebagai milik Sultan Mahmud Badaruddin II. Sayangnya berbagai sumber sejarah menyebutkan terjadi pembakaran tempat penyimpanan koleksi naskah pada saat Kesultanan dijatuhkan Belanda pada tahun 1824. Sebagian naskah yang tersisa sempat dibawa oleh Belanda, sebagian lain justru dibakar oleh keluarga Sultan untuk menghindari pertentangan antar bangsawan.

Akan tetapi, peninggalan naskah-naskah yang tersisa hingga saat ini, masih menggambarkan tradisi penulisan yang hidup dalam masyarakat pada masa itu. Mujib menjelaskan, sebelum cetakan batu ditemukan, reproduksi naskah dilakukan dengan menyalin ulang dalam tulisan tangan. "Ditemukan pula penyalinan naskah-naskah yang belum selesai," ujar Mujib yang meneliti naskah-naskah kuno Palembang pada kurun 1996-2001.

Penyalinan naskah yang dianggap manarik dilakukan dengan meminjam dari pemilik terdahulu, dengan kontrak waktu dan tarif tertentu. Bahkan ditemukan indikasi keahlian spesialisasi pada orang-orang tertentu dalam penulisan atau penyalinan naskah. "Ada orang-orang tertentu dengan spesialisasi penulisan silsilah, misalnya. Ada pula standar tertentu yang harus dipenuhi seorang penyalin kitab keagamaan yang berbahasa Arab," jelas Mujib.

Kegiatan "perdagangan" semacam sanggar penulis dengan spesialisasi tertentu, menunjukan kegairahan penulisan di Palembang pada masa Kesultanan. Sementara itu, koleksi naskah juga memberikan prestise tersendiri bagi pemiliknya. Akan tetapi, belum ditemukan manifestasi kegairahanpenulisan seperti itu dalam kegiatan masyarakat masa kini. "Ibaratnya, kegairahan penulisan ini tidak mengalami reinkarnasi dalam kehidupan masyarakat di daerah ini," kata mujib.

Karya yang dituangkan dalam kertas tua terkesan tidak menarik perhatian kalangan luas masyarakat kota ini. Memperdulikan kelestarian situs budaya dijantung kota Palembang pun bukan pekerjaan mudah.

Namun, tidak akan ada bangsa besar. Tanpa belajar dari sejarah.

KOMPAS, Senin, 29 September 2003