Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juli 2015

Kuntilanak Pohon Jamblang di Belakang Rumahku

Kuntilanak Pohon Jamblang di Belakang Rumahku Jantungku bergetar hebat tatkala aku melihat bayang-bayang melintas di dapurku. Bayangan perempuan menggendong bayi, memakai jarik, kain batik Solo dan kain gendongan lusuh, melintas dari kamar mandi menuju pintu dapur.



“Siapa kamu?” pekikku, beberapa saat setelah kaget dengan nyali menciut. Bayangan itu hanya diam saja, menghambur keluar pintu.

“Hei, kemana kami, siapa kamu sebenarnya?” tanyaku, setengah takut.

Malam itu hanya aku sendirian di rumah. Sebuah rumah baru yang kami tempati setelah suamiku pensiun. Rumah lama kami jual, lalu kami pindah ke luar kota. Membeli rumah model Paseo de Garcia.

Karena tidak mau menganggur setelah bebas tugas, suamiku bisnis batubara di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Dua anak kami, semua bekerja di luar negeri. Karena tidak mau menggunakan pembantu, maka sejak pindah runah, aku selalu sendiri di rumah apabila suamiku mengurus bisnisnya.

Malam itu, adalah malam Jumat Kliwon, tanggal 5 Juli 2013. Usai sembahyang Maghrib, aku membaca Al-Qur’an, surat Yasin, sebagaimana dulu, rutin aku lakukan saat kami tinggal di Jakarta Timur. Membaca surat Yasin dan ratusan surat Al-Fatihah yang aku kirimkan untuk almarhum ibuku, ayahku, adikku dan famili-famili yang telah mendahuluiku.

Setelah membaca surat-surat itu, aku lanjutkan sembahyang Isya’. Habis sembahyang Isya’ aku kelaparan dan mau membuat mie instan di dapur. Sebelum aku menyiapkan kompor dan mie instan, aku melihat bayangan itu. Bayangan mengejutkan dari seorang ibu tua yang sedang menggendong bayi. Langkahku langsung terhenti dan aku tersentak kaget.

“Siapa kamu?” hardikku. Namun, bayangan itu hanya diam dan langsung berlalu. Menghilang ke pintu dapur dan raib ke pohon jamblang di belakang rumah.

Jantungku terus berdegub kencang karena takut. Gunjangan jantungku membuat aku menelepon suamiku. Kuceritakan apa yang aku lihat dan suamiku tertawa terpingkal-pingkal, bukan prihatin kepadaku yang ketakutan.

“Mana ada hantu di rumah kita Ma? Apalagi hantu perempuan tua menggendong bayi, nggak ada itu? Mama tersugesti cerita majalah yang Mama baca barangkali, sehingga Mama ketakutan lalu terhalusinasi seakan ada hantu di sekitar Mama. Sudah tenang aja, tidur saja yang nyenyak, besok Papa pulang,” kata suamiku di seberang sana.

“Papa ini bagaimana sih? Istrinya ketakutan, meminta pertolongan, malah ditertawakan? Pakai perasaan dong Pa?” bentakku, memarahi suamiku.

Malam itu aku tidak dapat tidur. Semua lampu aku nyalakan, padahal kami sepakat untuk berhemat energi listrik sejak suamiku pensiun. Mataku aku pejamkan tapi pikiranku terbayang-bayang kepada sosok ibu-ibu yang menggendong bayi itu. Jujur saja, aku ketakutan sekali malam itu.

Untuk minta bantuan orang agar dapat menemaniku, aku tidak bisa. Sebab aku penduduk baru di Kampung Enclek, dan belum kenal siapapun. Lurahnya aku kenal baik, saat membeli rumah itu. Tapi, masak aku minta temani Pak Lurah?

Tidak, aku harus berani. Malam ini aku harus lewati dan aku mesti berani menghadapi apapun. Jangankan hantu, pikirku, menghadapi rampok pun, aku harus berani.

Jam di dinding menunjukkan pukul 23.45 WIB. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari arah dapurku. Mirip suara geledek dan petir di pohon jamblang. Dengan sisa keberanian yang ada, aku mengambil senter dan menghambur ke dapur. Saat kusenteri, jantungku berdetak makin tak menentu di mana di sana aku melihat ibu-ibu tadi sedang memberi minum bayinya. Dia memberikan dot plastik berisi susu darah, merah, kepada bayinya. Darah siapa itu yang diberikan ke bayinya? Batinku, bertanya-tanya.

“Maaf Bu, ibu siapa dan ada apa di rumah saya ini?” tanyaku.

Si ibu tak menjawab sepatah katapun. Dia acuh tak acuh kepadaku dan terus memberikan susu darah kepada bay dalam gendongannya. Dia tidak melihat dan tidak mendengarkan aku. Namun senter terus aku arahkan ke mukanya yang pucat pasi, putih seperti kertas tulis.

“Maaf, ibu ini siapa dan mengapa di sini?” sorongku pula, tanpa menghiraukan bahwa dia tidak akan menjawabku.

Dengan diberani-beranikan, aku agak mendekat. Melaju beberapa langkah ke depan. Begitu agak dekat, ibu itu lalu duduk bersimpuh di kakiku masih memegang erat bayinya. Darah yang ada di dalam botol susu lalu tumpah dan aku melihat darah kental berceceran di dapurku.

“Aku adalah Rustini, bayiku ini bayi perempuan yang membutuhkan belas kasihan. Aku dan bayiku tinggal di pohon jamblang di belakang rumah ini. Tolong jangan dipotong pohon itu, biarkan rumah kami itu berdiri hingga alam akan mematikannya. Aku sudah meninggal 34 tahun lalu dan bayiku berumur setahun, butuh susu darah, minuman darah dan darah yang diminum darah ayam cemani, ayam serba hitam dan tolong disiapkan. Jika ibu membantu kami, kami akan membantu ibu. Saya menjaga harta karun di bawah pohon jamblang itu, dan harta itu hanya untuk ibu bila ibu secara rutin memberikan kami darah ayam cemani,” pntanya, setengah segukan. Dan nyaris menangis.

Aku berdiri tertegun melihat dia merangkak mencium kakiku. Aku lalu mengusap rambutnya yang lusuh, tetapi tidak dapat terjamah. Tanganku seperti memegang angin. Namun, aku berjanji kepadanya, akan menyediakan darah ayam cemani setiap malam Jumat Kliwon, seperti yang dipintanya. Aku tahu tempat di mana aku membeli ayam serba hitam itu. Darahnya diambil dan dagingnya boleh aku makan. Digoreng, dipanggang atau digulai, tidak masalah. Dia hanya membutuhkan darah ayam hitam itu dan aku memakan dagingnya.

Tengah malam itu arwah Rustini bersepakat denganku. Aku menyediakan darah ayam cemani sedangkan dia membuka harta gaib yang ada di pohon jamblang usia ratusan itu. Harta gaib yang ada di situ, disebut Rustini berbentuk emas batangan. Jumlahnya sangat banyak walau dia tidak memberitahukan jumlah nominalnya.

“Baik, kapan aku bisa mendapatkan harta gaib itu,” tanyaku.

“Tidak bisa sekaligus, boleh diberikan secara bertahap. Malam ini juga, aku akan memberikan kepadamu sebagian kecil dari benda gaib itu. Tapi tolong besok malam siapkan darah ayam cemani. Dan malam Jumat Kliwon bulan depan, siapkan yang banyak. Tujuh darah ayam cemani. Besok cukup satu, sebagai ikatan perjanjian keramat kita malam ini, jadi,” katanya.

Pukul 01.35 WIB, Rustini mengajak aku ke pohon jamblang. Ada rasa takut tapi aku membunuh rasa takut itu. Kutahan rasa ngeri itu. Dengan langkah gontai Rustini dan bayinya ke luar dari pintu dapur. Dia mampu menembus pintu yang terkunci rapat. Sedangkan aku tidak, aku harus terlebih dahulu membuka pintu itu dengan anak kunci di tanganku. Setelah terbuka, aku melihat pohon jamblang dan Rustini ada di bawahnya.

“Ke marilah Bu,” ajaknya.

Aku mendekat ke pohon jamblang dan Rustini menghilang ke dalam tanah, ppas di akar terbesar dari pohon jamblang itu. Beberapa saat kemudian, Rustini muncul lagi dengan bayinya dan menggenggam tiga batang benda berwarna kuning. Benda itu ternyata emas murni 24 karat dan diberikannya padaku.

“Tolong, hal ini jangan diberitahu kepada siapapun, termasuk kepada suami ibu sendiri. Ingat, jangan diberitahu orang lain, hanya ibu seorang yang tahu. Jika suami ibu diberitahu, akan sangat berbahaya bagi ibu. Saya akan marah dan ibu akan binasa di rumah ini,” ancamnya.

Tiga batang emas itu aku ambil dan kubawa ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Rustini dan anaknya masuk lagi ke tanah dan raib dari pandanganku. Setelah masuk rumah, aku kunci lagi pintu dapur dan aku bawa emas itu ke kamar tidurku.

Besok paginya, hari Jumat pagi aku ke toko emas langgananku. Aku tersentak kaget karena emas itu murni 24 karat. Sore hari aku baru sampai di rumah. Aku diantar taksi berkeliling kota untuk urusan emas batanganku itu. Sesampainya di rumah, aku segera masuk mandi air panas. Sementara ayam cemani yang ada di dalam keranjang bambu, aku keluarkan untuk aku sembelih dan darahnya akan aku berikan untuk Rustini di pohon jamblang.

Setelah mandi aku sembahyang Ashar dan berdzikir panjang. Usai dzikir dan shalat, aku kembali ke pohon jamblang untuk mengucapkan terima kasih kepada Rustini dan meletakkan darah ayam cemani yang baru aku sembelih di dalam botol air mineral besar. Setelah itu aku memanggil Rustini dan dia diam saja, aku berdiri meninggalkan darah di pohn jamblang itu. Beberapa saat kemudian, aku melihat kembali ke botol air mineral, Duh Gusti, aku tersentak lagi. Darah itu langsung habis, botol menjadi kosong.

Pikirku, Rustini sudah meminumnya dan meminumkan darah itu untuk anaknya. Malam harinya, pukul 20.30 WIB suamiku datang. Aku dan suami tentu saja berpelukan erat dan kami makan malam bersama. Makan ayam cemani panggang kering yang aku campurkan dengan asam pedas. Suamiku sangat lahap menikmati daging ayam cemani yang gurih itu, sementara aku hanya sedikit. Aku tidak begitu menikmati karena ingat darahnya yang telah diminum oleh Rustini, kuntilanak, atau arwah penasaran yang menjadi kuntilanak penghuni pohon jamblang di belakang rumah kami.

“Daging ayam ini kok tumben, enak sekali ya Ma? Ayam apaan sih ini Ma?” tanyanya, sambil lahap menggigit daging ayam berberat satu kilo gram itu.

Aku menghindar untuk menyebut bahwa itu daging ayam cemani. Sebab ayam cemani sudah diketahui banyak orang bahwa itu ayam mistik. Ayam alam gaib yang digunakan untuk ritual memanggil jin, kuntilanak, genderuwo yang hidup di sekitar manusia. Bila kukatakan sesungguhnya, pasti suamiku curiga. Dia akan mencecar aku dengan banyak pertanyaan. Akibatnya, berabe, dia akan tahu bahwa aku sedang berhubungan dengan dunia mistik.

“Ayam kampung biasa Pa. ayam kampung yang Mama beli di pasar tadi pagi,” kataku, membodohinya. Berbohong untuk kebaikan kami. Aku sangat menjaga perjanjian gaib dengan kuntilanak, arwah Rustini di pohon jamblang. Jika suamiku tahu, akan sangat berbahaya bagiku. Bukan saja tidak diberikan emas kekuasaan gaib miliknya, tapi bisa juga mati dicekiknya. Untuk itu, aku harus merahasiakan hal itu dengan sangat tertutup dan ketat.

Hampir sebulan Rustini tidak menampakkan diri. Aku sudah berani keluar malam hari untuk mendatanginya ke pohon jamblang. Tapi, sejauh ini, Rustinitidak muncul dan aku tidak menemukannya. jangankan wujud yang nampak, suaranya pun, tidak bisa aku dengarkan.

Malam Jumat tanggal 9 Agustus 2013, tepat malam hari raya kedua, 2 Syawal 1434 Hijriah, tengah malam, aku mendengar suara gemuruh di belakang dapurku. Suara angin kencang yang mengayun pohon hingga berbunyi bergemeretak. Gesekan antara dahan ke dahan pohon mangga sebelah pohon jamblang.

Darah tujuh ayam cemani, dalam jerigen besar telah aku siapkan di dalam gudang. Suamiku tidak melihat itu dan dia tidak curiga. Pukul 24.00 WIB aku memberikan darah ayam hitam itu ke pohon jamblang. Beberapa saat kemudian, Rustini dan bayinya keluar dari tanah dan memberikan enam batang emas kepadaku. Buru-buru aku menyimpan emas itu di kamarku. Untung suamiku ngorok dan tertidur lelap. Dia tidak tahu sama sekali tentang emas itu dilemariku. Setelah mengisap darah dalam jerigen besar, kuntilanak Rustini menghilang ke dalam tanah lagi. Tiga hari setelah lebaran, suamiku berangkat ke Tenggarong lagi. Aku mengantarnya di depan rumah.

Namun sayang, di luar dugaan, pada malam Jumat, 13 September 2013, pohon jamblang berhantu itu dihantam petir dan mati. Pohon langsung terbakar dan tumbang ke tanah. Aku memanggil nama Rustini tapi Rustini dan bayinya tidak muncul lagi hingga kini. Maka itu, sejak tanggal 13 September 2013 hingga Februari 2015 ini, tidak ditemukan lagi. Ke mana dan ada di mana Rustini, hanya Allah Azza Wajalla yang tahu. Dan rezeki gaibku hanya berhenti di situ. Aku ambil hikmah positifnya, bahwa manusia tidak boleh serakah dan tamak. Alhamdulillah, aku telah mendapatkan harta gaib yang cukup untukku bisnis. (*)

Senin, 17 November 2014

Arwah Gentayangan Gadis Tabrak Lari

Arwah Gentayangan Gadis Tabrak LariOleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Suasana terasa makin mencekam. Angin malam berdesir, menyebarkan hawa dingin. Sisa tetesan air hujan membasahi daun pepohonandi sepanjang jalan setapak itu. Di balik kekelaman malam, terdengar suara burung malam menggema di kejauhan.

______________________________



Dari jalan setapak itu, samar terlihat seseorang berjalan. Sesekali langkahnya berhenti sejenak, kemudian melangkah lagi dengan tertatih-tatih. Ia mencoba menembus gelapnya malam. Tangan kirinya seperti membawa bungkusan tas plastik hitam. Sedang tangan kanannya memegang sebuah senter kecil yang sudah tak seberapa terang. Sosok it uterus berjalan, tanpa menghiraukan dinginnya udara malam.

Lolongan anjing liar sesekali terdengar memilukan. Menambah seramnya suasana malam. Ustadz Solmed, sedang dalam perjalanan pulang seusai memberikan ceramah pengajian di suatu tempat yang berbatasan dengan daerah pelosok desa terpencil sangat jauh dari perkotaan.

Dan Ustadz Solmed pun sudah lama memberikan ceramah pada jemaah di sebuah desa terpencil itu, dan ini rutinitas yang harus dilakukan setiap bulan apabila sudah mendapat giliran untuk mengisi pengajian di desa tersebut.

Karena setiap musim hujan, jalan yang dilalui becek dan licin, terpaksa sepeda motornya harus dititipkan pada seorang teman di perbatasan kota itu. Ustadz Solmed melanjutkan perjalanan ke desa tempat pengajian dengan naik ojek. Karena jalan setapak menuju desa tak dapat dilewati kendaraan, terpaksa hanya sampai di ujung jalan setapak tersebut. Dari situ, Ustadz Solmed lalu melanjutkan perjalan dengan jalan kaki sekitar dua kilometer sebelum sampai di desa yang akan dituju. Pulangnya pun demikian. Seperti yang ia lakukan malam itu.

Tanpa terasa perjalanannya sudah hampir tiba di tempat tujuan. Dari kejauhan sudah tampak kerlip lampu rumah temannya. Ustadz Solmed mempercepat langkahnya agar segera keluar dari jalan setapak yang becek tersebut.

Sampai di tikungan jalan beraspal, Ustadz Solmed berhenti sejenak. Menghela napas sambil membersihkan sandal karetnya yang dipenuhi lumpur akibat tanah becek. Tak jauh dari tikungan terdapat sebuah pemakaman umum.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Ustadz Solmed melihat bayangan seorang wanita berjalan ke arahnya. Sejenak ia merasa kaget dengan kemunculan wanita itu.

Hatinya bertanya-tanya; “Dari manadatangnya wanita tersebut? Lalu mengapa malam-malam begini berada di daerah itu?” Perasaan Ustadz Solmed bukan tanpa sebab. Ia merasa heran, melihat seorang wanita berkeliaran seorang diri di jalanan yang gelap dan sepi. Apalagi setelah turun hujan. Sementara daerah tersebut jauh dari perkampungan penduduk.

Pemandangan tak wajar tersebut membuat Ustadz Solmed semakin bertanya-tanya dalam hati: “Jangan-jangan. . . . jangan-jangan. . . . . . . . . . .?” dugaannya mulai pada hal-hal berbau mistik.

Ah. . . . . paling-paling ia perempuan nakal desa seberang yang pulang malam agar tidak diketahui tetangganya,” gumam Ustadz Solmed sedikit menghibur hatinya.


Namun Ustad Solmed tidak bisa menghilangkan ketakutannya tatkala kemunculan wanita itu disertai datangnya bau wangi yang menusuk penciumannya. Hidungnya kembang kempis, mencari sumber datangnya bau wangi itu. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. Detak jantungnya semakin kencang.

Dengan sembunyi di balik sebuah pohon besar di tepi jalan, Ustadz Solmed mengamati gerak-gerik wanita itu. Tak disangka-sangka ternyata wanit itu justru berjalan ke arahnya. Bau wangi semakin menusuk hidungnya. Sekilas Ustadz Solmed menangkap wajah wanita itu, yang ternyata masih sangat muda.

Dari wajahnya yang bersih, mengesankan wanita tersebut tergolong orang yang cukup perhatian dalam merawat tubuh. Rambutnya terurai sampai ke punggung. Warna pakaian tak begitu jelas, tertutup gelapnya malam.

Yang jelas, pakaian yang dikenakannya agak ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya sangat menonjol dan membuat terangsang setiap lelaki yang memandangnya. Hal ini membuat ustadz Solmed semakin penasaran untuk mengenalinya, meski rasa takutnya semakin menjadi-jadi.

Kurang beberapa meter saja jarak antara ustadz Solmed dengan wanita itu. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahnya dan tersenyum. Rasa takut ustadz Solmed mendadak hilang dan spontan ia keluar dari bailk pohon. Dengan langkah perlahan, ustadz Solmed mendekati wanita itu hingga posisinya hampir berhadap-hadapan. Akhirnya, terjadi sebah percakapan dan perkenalan.

Tiba-tiba saja ustadz Solmed kehilangan prasangka dan tanda tanya yang muncu saat wanita itu berada di hadapannya. Ustadz Solmed juga lupa bahwa dirinya berada di sebuah persimpangan jalan dekat kuburan yang jauh dari pemukiman penduduk. Yang dia ingat hanyalah ia sedang berkenalan dengan wanita cantik nan lembut.

Dari perkenalan dan percakapan yang terjadi, tampaknya ustadz Solmed setuju untuk mengantar wanita itu sampai ke rumahnya. Sesaat kemudian, keduanya sudah sampai di rumah wanita itu.

Ustadz Solmed merasa sangat heran kerana masih berjalan beberapa puluh meter saja sudah sampai di eumah si wanita. Ia mengira rumahnya berada di seberang desa. Oleh wanita tersebut ustadz Solmed langsung dipersilakan duduk. Rumah itu tampak begitu megah dengan taman bunga yang indah dan teratur.

Belum selesai ustadz Solmed mengamati rumah wanita itu, tiba-tiba keadaan jadi gelap gulita. Anehnya si wanita seperti cuek saja tak memperdulikannya. Yang tampak sedikit terang hanyalah kamar wanita tersebut. Itupun seperti cahaya dari lampu minyak. Si wanita masih terus menanyakan hal-hal tentang pribadi ustadz Solmed.

Begitu juga yang dilakukan ustadz Solmed. Hingga akhirnya, ustadz Solmed menanyakan pada wanita itu, mengapa tinggal di rumah itu sendirian? Apalagi jauh dari tetangga. Namun wanita tersebut hanya diam. Sesaat kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar. Tidak berapa lama ia muncul kembali bersamaan dengan tersebarnya aroma wangi minyak serimpi dan kembang kuburan yang bercampur bau amis darah.

Ustadz Solmed terperanjat, wanita itu tiba-tiba sudah berdiri membelakanginya. Dalam kesadaran yang tak penuh, ustadz Solmed merasa ketakutannya kembali muncul, seperti saat-saat pertama kemunculan wanita itu. Setelah itu, dengn sisa-sisa keberanian, ustadz Solmed menanyakan kepada wanita itu, apa yang terjadi?

Seraya membalikkan badan hingga posisinya berhadap-hadapan dengan ustadz Solmed, wanita tersebut berkata; “Bapak jangan kecewa bertanya seperti itu!” jawaban itu ia sampaikan dengan suara memelas.

Kembali ustadz Solmed kembali terperanjat, bahkan hampir saja pingsan. Wanita cantik kenalan barunya, berubah menjadi wanita yang sangat menyeramkan. Kepalanya pecah dengan isi kepala dan darah segar keluar membasahi seluruh tubuhnya.

”Sepuluh hari yang lalu aku terlidas sebuah truk hingga keadaanku jadi begini. Sakit Bapak! Tak seorang pun yang menolongku saat itu,” ujarnya. Selesai berkata demikian, gadis itu merintih kesakitan dan diakhiri sebuah teriakkan yang memilukan. Lalu dengan tiba-tiba, gadis itu menghilang. Ustadz Solmed merasakan suasana menjadi lebih gelap, pekat dan hening sekali.

Ustadz Solmed mendapati dirinya bukan lagi berada di rumah gadis itu, melainkan di sebuah kuburan yang nampak masih baru. Ustadz Solmed baru sadar kalau dirinya baru saja mengalami kejadian yang mengerikan. Untung saja ia termasuk orang yang shaleh, karena memang ia seorang guru ngaji.

Meski sempat ketakutan, ia masih bisa menguasai diri hingga tidak sampai pingsan atau lari terbirit-birit. Yang dilakukannya, justru ia lalu berdoa di kuburan tersebut dengan harapan penghuninya diberikan ketenangan.

Ustadz Solmed lalu melanjutkan perjalanan ke rumah temannya, dimana sepeda motornya dititipkan. Sesampai di tempat tujuan, ustadz Solmed masih nampak pucat, menceritakan kejadian mengerikan yang baru dialaminya. Dari temannya itulah diperoleh keterangan, bahwa yang dimakamkan di kuburan itu adalah seorang gadis desa korban tabrak lari yang mengakibatkan kematian si gadis.

Tragisnya, gadis tersebut ditemukan warga setempat pada keesokan harinya oleh seorang warga yang berangkat ke pasar. Mungkin saja gadis yang ditemui ustadz Solmed malam itu adalah arwah gadis yang mati mengenaskan tempo hari. Dan mungkin karena kematiannya yang tak wajar, arwahnya menjadi gentayangan (*)

Sumber: Misteri Edisi 591 Tahun 2014

Dendam Kesumat Istana Kerajaan Ratu Nyi Wulan Ungu

Dendam Kesumat Istana Kerajaan Ratu Nyi Wulan Ungu

Oleh: Restoe Prawironegoro



Barman, tak pernah berhenti berpikir tentang Indirwati yang begitu tega dan kejam terhadap dirinya, menghina dan mengoyak-ngoyak harga dirinya. Kata-kata yang diucapkan Indirwati terus saja mengiang ditelinga Barman.

___________________________



“Kamu tidak berguna, dan kamu tidak akan pernah bisa membahagiakan aku, karena kamu orang miskin, kamu tidak lebih seperti sampah, Barman!”

Kata-kata itu lambat laun menumbuhkan rasa dendam yang semakin mengkristal sehingga kebencian kepada Indirwati tidak dapat dihapus begitu saja. Sebulan kemudian Barman sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan itu sehingga ia berteriak sekencang-kencangnya di pinggir sungai untuk menumpahkan rasa benci terhadap Indirwati. Barman duduk di tepi sungai dan terus bertanya-tanya dalam hatinya dengan tatapan mata yang hampa, menatap aliran sungai.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Indirwati?” Barman terus bertanya-tanya. Bagaimana pun hubungan dengan wanita itu hampir dua tahun dan selalu baik-baik saja. Demikian pula dengan Wiryokusumo dan Roro Ayu yang telah merestui hubungan cinta mereka. Tapi mengapa tiba-tiba Indirwati berubah menjadi gadis berhati kejam.

Tanpa disadari Barman duduk di tepi sungai sampai matahari hampir tenggelam. Saat hari hampir gelap, tiba-tiba Barman melihat sosok bayangan hitam muncul dari arah dalam sungai, kemudian bergerak mendekati Barman. Semakin dekat bayangan itu, tubuhnya hitam legam, matanya yang besar bersinar, giginya runcing-runcing. Barman hanya terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika makhluk itu dengan cepat menymbar tangannya.

Barman terus dibawa lari oleh makhluk itu ke dalam sungai. Tetapi anehnya, badan Barman tidak basah dan tidak seperti berada di dalam air. Beberapa saat kemudian, makhluk yang membawa Barman memasuki sebuah goa yang berisi ribuan tengkorak-tengkorak berserakan dimana-mana. Bahkan Barman sempat menginjak beberapa tengkorak-tengkorak itu. Setelah perjalanan sekian lamaakhirnya Barman sampai di istana kerajaan yang megah. Di depan gerbang istana itu Barman melihat banyak penjaga istana lengkap dengan senjatanya. Saat makhluk itu membawa Barman mendekati pintu gerbang istana, seluruh pasukan memberi hormat dan menundukkan kepalanya.

Makhluk itu terus berjalan menuju pintu gerbang dan tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Barman dibawa masukke dalam istana. Di halaman istana Barman disambut oleh dayang-dayang kerajaan, lalu dibawa menghadap ratu. Bagai terhipnotis Barman tidak dapat berkedip dan terus menatap ratu. Ia demikian terkagum-kagum dengan kecantikan ratu, apalagi ketika tersenyum ramah.

“Selamat datang di istanaku, Barman!” ratu menyambut kedatangan Barman. Barman agak terkejut dan bertanya-tanya dalam hatinya, darimana ratu tahu namaku dan siapa sebenarnya ratu ini.

“Kau tidak perlu banyak bertanya, Barman, nikmati saja apa yang ada di sini,” jelas ratu kemudian. “Aku akan membuatmu senang dan membuat semua keinginanmu tercapai.”

Bagai kerbau dicocok hidung, Barman menuruti apa yang diperintahkan ratu. Barman kemudian terus mengamati seluruh ruangan istana yang dindingnya terbuat dari emas serta butiran-butiran berlian. Demikian pula dengan mahkota ratu yang berbentuk kepala buaya, ama-sama dihiasi emas dan berlian. Saat Barman sedang terlena dengan apa yang dilihatnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara tepukan tangan ratu yang mengisyaratkan agar dayang-dayang meninggalkan ruangan itu hingga di dalam ruangan itu hanya ada ratu dan Barman.

“Barman, aku akan memberikan harta yang berlimpah dank au akan kujadikan orang yang tampan, asal kau mau memenuhi syarat dariku,” jelas ratu membuat Barman semakin tidak mengerti dengan apa yang sedangterjadi. Barman memang tidak menyadaribahwa sebenarnya ia berada di sebuah kerajaan siluman.

“Syarat apa yang diinginkan ratu?”

“Kau harus menyerahkan Indirwati kepadaku!” lagi-lagi Barman dibuat terkejut saat ratu menyebut mantan kekasihnya itu. Namun sesaat kemudian kembali rasa sakit itu terasa mencubit-cubit hatinya.

“Aku setuju dengan syarat itu ratu, tetapi aku ingin mengetahui mengapa ratu menginginkan Indirwati dan apa hubungannya Indirwati dengan ratu?” akhirnya Barman mencoba menyelidiki apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mendengar pertanyaan dari Barman, ratu hanya tersenyum lalu terdengar berkata lagi. “Baiklah kalau kau ingin tahu,” jelas ratu kemudian.

“23 tahun yang lalu, anakku, Pangeran Praba terpikat oleh kecantikan Roro Ayu ibunya Indirwati, anakku jatuh cinta kepadanya. Pada saat pergantian tahun, tapat jam 12.00 malam, anakku datang menemui Roro Ayu lalu mereka bercinta dan melakukan hubungan intim dan ketika Roro Ayu hamil satu bulan, dia menikah dengan Wiryokusumo. Pada saat mereka berhubungan itulah Pangeran Praba telah memasukkan mustika kembar berwarna ungu ke dalam perut Roro Ayu sampai lahirnya Indirwati, mustika kembar itu bersemayam di kening Indirwati. Tetapi saat Indirwati berusia 40 hari, Wiryokusumo mengetahui semua itu, lalu mengambil dan menghancurkan mustika kembar itu dengan kesaktian ilmu Tangkal Mustika yang dimilikinya. Tanpa mustika kembar itu aku tidak dapat mengambil Indirwati dari tangan Wiryokusumo. Hanya orang yang disakiti oleh Indirwati yang dapat membawanya kepangkuanku. Dan orang itu adalah kau, Barman,” jelas ratu panjang lebar. Barman hanya termangu mendengar penjelasan ratu. Kini ia telah mengetahui apa hubungan antara ratu dengan Indirwati.

“Apabila kau dapat menyerahkan Indirwati, maka sesuai janjiku, kau akan kuberikan harta yang berlimpah dank au akan kujadikan pria tampan. Tetapi apabila kau mengingkari syarat yang aku ajukan maka kau akan kusatukan dengan dengan ribuan tengkorak-tengkorak di goa Ungu di perbatasan istana.”

“Baiklah ratu, aku akan menjalankan perintah ratu, tetapi aku ingin tahu satu hal lagi, siapa ratu sebenarnya?”

“Aku penguasa kerajaan ini, gelarku Nyi Wulan Ungu, dan aku adalah dari bangsa siluman, kerajaan ini adalah kerajaan siluman buaya dan akulah ratu siluman buaya!”

Jantung Barman seakan mau copot, saat mengetahui keberadaannya di kerajaan siluman buaya. Tetapi ketika Barman kembali mengingat penghinaan Indirwati atas dirinya, ketakutan itu seolah punah tanpa bekas.

“Terimalah mustika kembar ini, dan tempelkan di kening Indirwati tepat jam 12.00 malam saat pergantian tahun. Setelah itu kau bebas dari perjanjian denganku.”

Barman menerima mustika kembar itu. Mustka kembar tersebut adalah kembaran dari mustika yang telah dihancurkan Wiryokusumo. Lalu Barman diberkan mantra tarik sukma agar dapat dengan mudah memanggil sukma Indirwati.

“Baik ratu, semua perintah ratu akan aku lakukan,” jelas Barman. Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja tubuh Barman seperti melayang dan kini Barman telah berada di pinggir sungai seperti saat Barman ditarik oleh makhluk hitam itu.

Dua bulan telah berlalu, kini tiba saatnya Barman untuk membalsa dendamnya dengan Indirwati. Tepat pada malam pergantian tahun, dimana Barman harus menjalankan perintah ratu siluman buaya dan ia telah siap untuk membaca mantra tarik sukma.

Sementara itu di rumah Indirwati, ia mendengar suara yang terus memangilnya namanya dan seperti dibimbing oleh suatu kekuatan yang tidak nampak, Indirwati terus melangkah mengikuti suara yang memanggilnya. Wiryokusumo merasa curiga dengan tingkah laku Indirwati, dia mengikuti langkah Indirwati dari belakang, ketika Barman hendak menempelkan mustika kembar itu di kening Indirwati, tiba-tiba terdengar uara Wiryoksumo membentak Barman.

“Hentikan Barman!” teriak Wiryokusumo. Seketika itu Barman terkejut saat melihat Wiryokusumo di tempat itu.

“Tidak, aku haru melakukan ini, dan aku mohon kau jangan ikut campur Pak Wiryo!”

“Barman dengarkan aku, kau tidak boleh melakukan itu, karena itu sama saja kau membunuh Indirwati orang yang kau cintai!”

“Persetan dengan ucapanmu itu, Pak Wiryo, dia telah menghina dan menghancurkan hatiku. Dia telah menyakiti aku, sudah sepantasnya dia menerima pembalasanku.”

“Aku mengerti perasaanmu, Barman,” Wiryokusumo melemahkan suaranya dengan harapan Barman mengurungkan niatnya, tetapi Barman nampak semakin geram.

“Pak Wiryo, aku tidak ada urusan denganmu dan dengar aku sudah tahu semuanya, Indirwati bukanlah anakmu, tapi dia anak Pangeran Prab, putra ratu siluman buaya,” jelas Barman.

“Kita bicarakan baik-baik Barman, agar tidak saling mencelakakan,” Wiryokusumo kembali membujuk Barman karena Wiryokusumo tidak mencelakakan Barman. Sebenarnya bagi Wiryokusumo tidaklah terlalu sulit untuk merebut mustika kembar yang berada di tangan Barman.

Wiryokusumo kembali berkata, “Semua yang kau katakana adalah benar, memang Indirwati anak Pangeran Praba, karena itu aku melindungi Indirwati dar bahaya yang akan mengancamnya, karena kau pun sudah tahu, Pangeran Praba adalah bangsa siluman buaya.”

“Aku tidak peduli, dia akan kuserahkan pada ratu siluman buaya,” tegas Barman. Namun Wiryokusumo tidak putus asa, dia terus membujuk Barman.

“Barman, apabila kau membatalkan niatmu, aku yakin Indirwati akan menjadi milikmu, dia akan menjadi istrimu,” Barman mulai ragu dengan niatnya, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Wiryokusumo.

“Apa kata-katamu bisa dipercaya Pak Wiryo, dan bagaimana perjanjianku dengan ratu siluman buaya itu, aku akan dibunuhnya jika ak melanggar perjanjian dengannya.”

“Percayalah padaku, dan aku akan menyelesaikan semuanya,” Wiryokusumo berjanji pada Barman.

Perlahan Barman menjulurkan tangannya kepada Wiryokusumo dengan menyerahkan mustka kembar itu, bersamaan dengan Wiryokusumo menerima itu, tiba-tiba sebuah sinar ungu berkelebat menghantam tubuh barman, sehinga barman mengeluarkan darah dari mulutnya.

Beruntung mustika kembar itu telah berada dalam genggaman Wiryokusumo, sinar ungu itu kini menyerang Wiryokusumo, tetapi Wiryokusumo dapat menahannya dan membalas dengan pukulan tenaga puser bumi dan sinar ungu itu langsung menghilang. Wiryokusumo merapatkan kedua tangannya, sesaat kemudian Wiryokusumo telah berada di alam siluman dan bertarung dengan ratu siluman buaya. Mereka mengadu kekuatan dan kesaktian hingga pada akhirnya Wiryokusumo dapat mengalahkan ratu siluman buaya.

Ratu siluman buaya itu menghilang setelah mengancam Wiryokusumo dengan kata-kata. “Aku akan membalasmu Wiryo.”

Wiryokusumo kembali ke alam nyata dan menghancurkan mustika kembar ungu itu dengan ilmu tangkal mustika. Sementara itu Barman merasakan sakit yang luar biasa. Wiryokusumo membantu Barman untuk memulihkan kondisi tubuhnya dengan menyalurkan energi tenaga dalam ke tubuh Barman. Setahun kemudian, semua yang dikatakan Wiryokusumo pada Barman mbenar-benar menjad kenyataan. Kini Indirwati telah menjadi istri Barman dan mereka hidup rukun dan bahagia selamanya (*)

Sumber: Misteri Edisi 587 Tahun 2014

Sabtu, 20 September 2014

Tersengat Santuang Palalai

Oleh: Rihan Hafizmi

Sikap Naila tiba-tiba berubah saat mendekati hari pernikahan. Aku pun dibuat ketakutan akan kehilangan dia. Terlebih kemudian diketahui, Naila terkena santuang palali! Sulit untuk menyembuhkan korban ilmu hitam tersebut.

______________________________



Sekali lagi mataku menatap wajah cantik di depanku ini. Mata yang coklat dengan bulunya yang lentik. Hidungnya mancung, dan satu hal yang khas darinya, ginsulnya yang semakin menambah kecantikannya di mataku.

“Bagaimana, Naila, apa kamu sudah siap dengan pernikahan kita?” tanyaku seraya mengelus lembut pipi mulusnya. Sesaat ia hanya diam. Matanya memandang kosong pada Gunung Merapi yang tengah batuk-batuk beberapa hari belakangan ini.

“Naila?” tanyaku menaikkan volume suara.

“Eh, iya, Bal? maaf aku melamun.”

“Kamu kenapa? Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku.”

“Aku cuma gugup sama pernikahan kita nanti,” jawab Naila pelan.

Rasanya ada yang janggal dengan reaksi Naila. Aku sudah lama mengenalnyadan tak pernah sebelumnya ia bertingkah seperti ini.

Angin sepoi-sepoi menrbangkan anak rambutnya. Wajahnya tak lagi menampakkan kebahagiaan menyambut pernikahan kami. Tiba-tiba ia bangkit dari duduk, lalu bergegas memakai sandal.

“Maaf, Bal, aku lupa ada janji ama ibu mau menemaninya periksa mata ke dokter,” ujarnya. Tanpa menunggu jawabanku, kakinya sudah melangkah cepat meninggalkan pondok singgah yang ada di dekat rumahnya, tempat biasa kami menghabiskan waktu ketika pulang bekerja.

Punggungnya terlihat semakin jauh, lalu menghilang di tikungan jalan. Bahkan aku menyesal karena tak sanggup mencegahnya untuk kuantar pulang. Ah, Naila, apa sebenarnya yang kamu pikirkan? Batinku bertanya-tanya.

* * * * * * * * * * * * * * *



“Kamu ada masalah, Bal? kenapa wajahmu kayak begitu?” tanya Amak ketika aku memasuki rumah. Kulihat beliau sibuk mengupas bawang, bumbu untuk makan malam kami.

“Naila, Mak. Kayaknya dia ada masalah tapi dia nggak mau cerita,” ujarku seraya mendaratkan pantat di kursi ruang tamu. Pikiranku melayang pada Naila. Tak kupedulikan lagi Doni yang tengah asyik dengan dengan handphone barunya. Padahal biasanya aku suka sekali mengganggu ketika pulang kantor seperti sekarang ini. Entahlah, saat ini aku sedang tidak ada selera untuk menggodanya.

“Paling dia cuma gugup menghadapi hari pernikahan kalian. Amak dulu juga begitu, stressnya minta ampun. Bahkan beberapa hari susah tidur karena memikirkan pernikahan,” jelas Amak bersemangat.

Namun aku enggan menanggapi. Aku hanya diam, tidak berniat lagi mengatakan semuanya pada Amak. Toh, mungkin Naila akan kembali seperti sebelumnya. Dia mungkin hanya gugup, harapku dalam hati.

* * * * * * * * * * * * * * *



Sebenarnya hal yang membuatku resah adalah ketakutan jika pernikahanku dibatalkan. Apa aku sanggup melepaskan Naila, wanita yang teramat kucintai? Membayangkannya saja aku teramat takut. Usia 27 tahun memang usia yang sudah pantas untuk seorang lelaki menikah.

Yang kubutuhkan kini adalah sosok seorang istri yang akan selalu menemaniku dan menyambutku setiap pulang kerja. Kalau diingat awal perkenalan dengan Naila, aku tersenyum sendiri. Bermimpi berkenalan dengan Naila saja tidak pernah, apalagi sampai mengajaknya menikah. Bagaimana mungkin wanita yang nyaris sempurna seperti dia tertarik kepadaku. Saat SMA, Naila memang sudah menarik perhatianku.

Dengan kecantikan dan kepintarannya, banyak teman-teman yang senang berteman dengan Naila. Ia selalu rendah hati dan berlaku baik pada siapapun. Tak heran jika ia menjadi kesayangan banyak guru. Biasanya yang kulakukan setiap jam istirahat datang hanyalah mencuri pandang ketika ia melintas di taman sekolah. Aku dan teman-teman lain biasa menghabiskan waktu di taman sementara Naila selalu melintasi taman setiap kali hendak ke kantin bersama temannya.

Ketika aku tahu ayahku dan ayah Naila ternyata teman SMP, pintu untuk mengenal Naila lebih dekat terbuka lebar. Saat lebaran, ayah mengajakku mengunjungi rumah Naila. Kami sempat berbincang dan merasa kehangatan tatapan matanya. Rupanya Naila sangat enak untuk diajak ngobrol. Dia pun sepertinya suka dengan candaan-candaan yang aku lontarkan. Sejak itulah aku menjadi dekat dengannya.

Tiba-tiba sebuah truk nyaris menabrak mobilku ketika hendak berbelok ke kanan. Pikianku tentang Naila buyar sudah. Hatiku berucap syukur karena selamat dari kecelakaan. Salahku juga karena melamun ketika menyetir.

Kuparkirkan mobil di halaman sebuah masjid untuk mencuci wajah. Sore ini, setelah pulang dari kantor, aku sengaja ingin mengunjungi Naila di rumahnya, hendak melihat persiapan pernikahan kamidi rumah calon anak daro, panggilan untuk pengantin wanita pada pesta perkawinan dalam adat Minangkabau.

Dari kejauhan, sudah terlihat tanda-tanda akan diadakannya sebuah pesta di tempat itu. Beberapa tenda sudah terpasang di halaman rumah Naila yang cukup luas. Dua orang juga tengah sibuk mengecat pagar menjadi warna hijau, sesuai dengan warna dinding rumah Naila.

Setelah menyapa beberapa orang yang sedang bekerja, aku segera memasuki rumah Naila. Di ruang tamu beberapa remaja cewek tengah sibuk melipat serbet untuk tamu saat pesta nanti. Aku tersenyum pada remaja itu lalu segera berlalu menuju ruang keluarga.

“Baru pulang dari kantor, Bal?” tiba-tiba ibu Nailaberseru padaku. Di tangannya terlihat beberapa majalah yang sedari tadi sibuk ia bolak-balik. Sepertinya majalah kuliner dengan menu-menu yang amat menarik selera.

“Iya, Bu. Mau liat persiapan baralek di sini. Naila mana, Bu?”

Raut wajah ibu Naila seketika berubah. Ia tak lagi sesemangat tadi. Majalah kulinerpun ia tutup lalu diletakkannya di atas televisi.

“Ke sini sebentar, Bal. ada yang mau ibu bicarakan,” ibu Naila mengajakku ke taman di belakang rumah.

“Ibu nggak tahu harus bagaimana lagi, Bal. Sudah seminggu ini Naila selalu mengurung diri di kamar. Padahal dua hari lagi adalah hari pernikahan kalian. Ibu sudah berusaha membujuknya agar mau bicara tapi dia selalu bilang cuma gugup karena hari pernikahan kalian. Ibu yakin tidak ada masalah di antara kalian,” ujar ibu Naila cemas.

Terlihat sekali kesedihan di wajahnya. Kecemasan akan masa depan putri semata wayangnya. Wajar saja beliau cemas karena usia Naila yang sudah 27 tahun merupakan usia wanita yang bisa dibilang tidak muda lagi. Apalagi beliau paling antusias menyiapkan segala hal untuk acara pernikahan kami. Mungkin karena beliau telah menjadi orangtua tunggal Naila ketika Naila masih berumur 10 tahun, jadi ia punya rasa tanggung jawab dua kali lipat lebih besar atas anaknya

“Aku juga bingung, Bu. Sudah satu bulan ini Naila berubah. Kami sudah pacaran dua tahun dan baru kali ini skapnya berubah. Terkadang ketika aku mengajaknya pergi, sering kali dia menolak. Aku percaya sama Naila. Dia tidak mungkin macam-macam. Hanya saja kelihatannya Naila sedang punya masalah yang teramat berat. Tapi aku sendiri tak bisa memaksanya untuk bercerita, Bu,” kataku panjang lebar pada calon mertuaku itu.

Sesaat ibu Naila menghela napas. Membuang beberapa beban berat yang terasa menghimpitnya. “Ibu benar-benar nggak paham sama dia. Biasanya Naila elalu cerita sama ibu tiap kali ada masalah.”

Yang terpikir olehku, apa Naila belum siap dengan pernikahan kami? Apa aku harus mengundur pernikahan sampai Naila siap? Bukan, maksudku jika seandainya Naila tetap seperti ini, apa pernikahan ini akan benar-benar dibatalkan? Rasanya aku benar-benar tak sanggup.

“Aku mau lihat Naila dulu, Bu,” kataku. Setelah ibu Naila mengangguk, kakiku segera melangkah menuju kamar Naila. Perlahan pintu kamar kuketuk. Pelan. Tapi tidak ada jawaban. Aku ulangi dan tetap tidak ada jawaban. Aku lalu sedikit mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Kulihat Naila sedang berdiri menghadap jendela, melihat aktivitas orang-orang di halaman yang tengah sibuk memasang tenda dan merapikan meja untuk tamu.

“Naila, aku boleh masuk?” Naila membalikkan badannya lalu menatapku dengan ekspresi datarnya.

“Kok kamu lebih kurusan? Kalau ada masalah, kamu boleh cerita sama aku. Jangan bilang kamu gugup karena ernikahan kita,” kataku sambil menatap matanya.

Naila hanya diam, sepertinya ia tak berniat menjawab pertanyaanku barusan. Kulihat wajahnya yang pucatdan badannya yang semakin kurus. Lima belas menit berlalu dan tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Akhirnya aku memutuskan meninggalkan rumah Naila setelah pamit pada ibunya. Rasanya tak ada gunanya bicara pada Naila. Toh saat ini dia sedang tidak ingin mengatakan apapun padaku, simpulku dalam hati.

* * * * * * * * * * * * * * *



Dua hari lagi kami akan menikah dan kenyataannya, pesta pernikahan kami di ujung tanduk. Aku berusaha mencari tahu permasalahan Naila pada teman-temanya. Mungkin antara percaya atau tidak, akhirnya aku tahu penyebab Naila berubah.

“Aku memang sudah yakin sebelumnya Naila terkena santuang palalai,” ujar Rini menjelaskan saat aku menemuinya di rumahnya. Aku percaya pada semua yang dikatakan Rini karena ia adalah teman dekatnya Naila. Mereka sama-sama guru di sekolah dasar.

“Santuang palalai?” ulangku dengan dahi berkerut. Aku memang kurang tahu tentang hal-hal gaib. Amak tak pernah membicarakan hal gaib padaku. Lagian aku juga tak tertarik pada hal-hal seperti itu.

“Itu semacam ilmu gaib. Bedanya dengan buluh perindu, santuang palalai bisa membuat perasaan seseorang berubah,” jelas Rini penuh semagat. Aku tahu dia tidak ingin melihat perkawinan temannya berantakan gara-gara santuang palalai.

“Bisa saja Naila yang awalnya suka sama kamu, akhirnya perasaannya berubah menjadi tidak suka sama kamu, Iqbal. Intinya, kalau korban santuang palalai ini suka sama orang lain, orang yang dia suka nggak suka ama dia, dan sebaliknya, ortang yang tidak dia sukai malah mengejar-ngejar dia,” sambung Rini berapi-api.

Akhirnya aku paham dengan maksud Rini. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Naila, termasuk laki-laki yang sudah dua tahun belakangan ini juga menyukai Naila. Ia tukang ojek di dekat sekolah tempat Naila mengajar dan ngotot sekali untuk mendapatkan hati Naila.

Banyak cara yang sudah ia lakukan untuk merebut hati Naila, tapi Naila bisa menempatkan dirinya. Ia menghargai laki-laki itu dan tetap bersikap baik padanya. Walaupun Naila tak pernah menceritakan tentang laki-laki itu, aku masih percaya sepenuhnya pada gadisku. Malam harinya, aku segera mengunjungi rumah Naila dan menceritakan semua yang kudengar dari Rini pada ibu Naila.

Perlahan semuanya mulai jelas. Setelah didesak, akhirnya Naila menceritakan semuanya pada ibunya. Ia bilang bahwa ia memang takut menghadapi pernikahan ini karena ia tak ada perasaan lagi padaku. Bagaimana mungkin ia menikah dengan laki-laki yang tidak dia cintai? Itu membuatnya terpukul dan mengurung diri di kamar.

Awalnya aku sangat kecewa mendengar semua perkataan ibu Naila, tapi ketika beliau menjelaskan bahwa sepertinya Naila memang sudah terkena santuang palalai, harapanku belum sepenuhnya pudar. Masih ada cara untuk mengobati Naila. Masih ada harapan bahwa pernikahan kami bisa dilaksanakan.

Bahkan untuk mempertahankan semuanya, aku sengaja minta izin libur dari kantor untuk menyelesaikan semua masalah ini. Sehari sebelum pernikahan kami, saat orang-orang sibuk membantu persiapan acara pernikahan aku dan Naila, aku dan Amak, dan ibu Naila membawa Naila ke rumah seorang ustadz. Sengaja kami tidak memberitahu siapapun tentang kondisi Naila. Bagaimanapun pernikahan ini harus tetap dilaksanakan.

“Untung cepat dibawa ke sini, jadi lebih banyak peluang untuk disembuhkan,” ujar sang ustadz.

Dia lantas mengobati Naila dengan pengobatan alternatif. Ustadz itu menjelaskan bahwa santuang palalai memang termasuk ilmu gaib dari daerah Minangkabau dan harus diwaspadai karena biasa terjadi pada perempuan. Kalau gasiang tangkurak membuat korban menjadi gila dan sulit disembuhkan, santuang palalai membuat korban bisa menjadi gadis seumur hidup karena tidak menemukan pasangan yang ia inginkan.

Si korban merana lantaran setiap orang yang ia sukai tak menyukainya sekalipun korban berwajah cantik. Ilmu gaib tak memandang siapapun untuk dijadikan korban. Tak jarang yang jadi korban adalah wanita yang berparas cantik karena menolak cinta si pelaku. “Intinya, waspada saja pada hal-hal gaib. Berlaku sopan pada setiap orang dan perbanyak ibadah pada Allah,” ujar ustadz itu selesai mengobati Naila.

Hari yang kutunggu akhirnya tiba jua. Aku bersanding dengan Naila di pelaminan. Ia nampak cantik dengan sunting khas Minang di kepalanya. Naila telah mulai pulih seperti sedia kala. Pengaruh santuang palalai mulai hilang dari tubuhnya. Semua ketakutanku hilang sudah.

Kini kami hidup bahagia tanpa gangguan kekuatan gaib. Meski demikian, kami terus mengingat pesan ustadz yang telah mengobati Naila, untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Hanya dengan pertolongan-Nya, kami bisa melewati semua rintangan menuju mahligai bahagia. (*)

Santuang Palalai Adalah Santet
Tanggapan Pengasuh
Oleh: Eka Supriatna



Di negeri ini, berbagai ilmu hitam memang bertebar dari Sabang sampai Marauke. Meski berbeda nama dan medianya, tapi efek yang dirasakan korban nyaris sama. Jika ilmu santet itu digunakan untuk tujuan merubah perasaan korban maka si korban akan berbalik rasa 180 derajat, dari yang awalnya suka menjadi benci. Atau sebaliknya, dari yang awalnya benci dalam waktu singkat akan berubah menjadi suka setengah mati. Itulah yang dialami Naila atas Iqbal calon suaminya.

Tapi jangan berpikiran buruk dulu, ibarat pisau, ilmu santuang palalai pun bisa saja digunakan untuk hal yang baik. Hanya saja dalam kasus Naila dan Iqbal, santuang palalai ini digunakan pelaku (tukang ojek) untuk merusak perasaan Naila yang sebenarnya pada Iqbal. Dari rasa suka Naila pada Iqbal menjadi perasaan yang benci.

Jika saja santuang palalai itu digunakan untuk hal lain, misalnya seseorang yang bermusuhan dan sangat mungkin untuk merugikan orang lain. Orang yang saling bermusuhan ini sebenarnya bisa saja dipengaruhi santaung palalai untuk dipersatukan.

Itulah sebabnya santuang palalai ini ibarat pisau, jika digunakan untuk kebaikan maka akan menghasilkan berkah. Begitu juga sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan maka akan menghasilkan petaka.

Kembali ke persoalan Naila dan Iqbal di atas. Sebuah pembuktian bahwa ilmu hitam seperti santuang palalai ini bisa menyengat siapapun. Termasuk Naila yang sebenarnya tidak pernah membicarakan hal-hal gaib atau mistik. Bahkan jika dilihat dengan mata telanjang, siapa yang tega melakukan hal ini pada Naila. Seoang wanita baik dengan profesi yang baik pula. Naila tidak pernah berbuat jahat pada si tukang ojek. Lalu bagaimana mungkin tukang oek itu bisa tega melakuka pada Naila.

Artinya seseorang yang tidak percaya dengan hal-hal mistik ternyata bisa mengalami kejadian mistik. Kemudian orang yang selalu berbuat baik pun bisa saja diperlakukan buruk oleh orang lain. Itulah sebabnya kita diharuskan waspada, ati-hati dan selalu berusaha mengantisipasi jika sesuatu yang buruk terjadi atas diri kita.

Termasuk ketika kita tidak mempercayai hal mistik, antisipasi untuk hal itu tetap saja harus dilakukan. Sebab tidak mempercayainya bukan berarti kejadian-kejadian mistik yang buruk itu tidak akan terjadi atas diri kita.

Memang bukan hal mudah untuk mengantisipasi hal-hal mistik seperti santet santuang palalai ini. Tapi paling tidak kita bisa memahami kejadian itu dari perlakuan yang berubah drastis pada seseorang. Jika seseorang kena pengaruh santuang palalai, sikapnya akan berubah seperti yang diperlihatkan Naila pada kisah di atas ini.

Maka jika mendapati hal itu, cepatlah melakukan penyembuhan pada orang yang tepat. Bisa pada kiayi, ustadz, atau orang-orang yang mumpuni dalam hal ini. Sebab jika penangannya terlambat, bisa jadi apa yang dialami Naila di atas akan permanen.

Artinya akan sulit disembuhkan dan selamanya Naila akan membenci Iqbal. Kemudian hal terburuk yang akan terjadi adalah, selamanya Naila akan sendirian. Tak akan bisa mendapatkan seorang lelaki sebagai tambatan hati. Jadi, efek yang paling buruk dari santuang palalai ini sama dengan efek santet gantung jodoh di Jawa.

Jika seseorang sudah kena gantung jodoh, maka ia akan sulit menemukan jodohnya. Berkali-kali pun ia menjalin hubungan cinta, pacaran, pada akhirnya tetap akan putus di tengah jalan. Putus bercinta tanpa sebab yang jelas. Yang ia rasakan hanya sakit hati dan sakit hati. (*)

Sumber: Misteri Edisi 587 Tahun 2014

Dendam Mantan Kekasih Sejenis

Dendam Mantan Kekasih Sejenis Oleh: Syamsul Lesmana

“Kau telah mengkhianati aku Sella. Apa yang kau ucapkan dulu ternyata cuma janji palsu belaka. Ingat Sella suatu saat aku akan membalas sakit hatiku ini!”

______________________________



Itulah kalimat yang diucapkan Erlin aat kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan Bandar Lampung, dua tahun setelah aku melangsungkan pernikahan dengan Dimas. Mulanya tak kuhiraukan ancaman itu, kata-kata yang dilontarkan Erlin kuanggap sebagai pelampiasan emosinya karena kecewa terhadap diriku. Bagiku Erlin cuma masa lalu. Bagian dari hidupku yang kelam.

Saat ini aku memang sedang menikmati kebahagiaan karena aku telah menikah dengan Dimas, seorang lelaki yang memiliki sikap lembut serta mengayomi diriku. Aku sendiri tidak pernah bermimpi bakal kembali hidup normal. Karena selama ini aku menjalani kehidupan dengan julukan lesbian.

Julukan itulah yang membuat aku terlempar meninggalkan keluargaku di kampung. Aku terusir karena masa remajaku yang menyimpang. Saat aku mengijak masa akil balik, aku memiliki perasaan suka yang berlebihan pada kaum sejenisku. Aku masih ingat ketika alah seorang keponakanku kuperlakukan tidak senonoh. Mereka tidak terima an mengadukan perihal perbuatanku itu pada orang tuaku. Dan ulahku itu tentu saja membuat kedua orang tuaku malu.

Akibatnya selain dimarahi, aku dihajar habis-habisan oleh ayahku. Untung saat itu ibu dan nenekku masih membelaku. Tetapi peristiwa itu tidak membuat aku jera, malah sebailknya ulahku semakin menjadi-jadi. Aku sendiri tidak tahu mengapa ini harus terjadi pada diriku. Yang jelas selalu ada dorongan birahi jika aku melihat teman sejenisku yang tomboy. Perilaku yang tak lazim itu tentu saja membuat segenap keluargaku terpukul.

Perlahan-lahan mereka mulai menjauhi diriku. Mereka merasa sangat malu karena sering menerima pengaduan perihal ulahku yang menyimpang itu dan mendengar gunjingan yang miring tentang diriku.

Oh ya, namaku Marsella. Aku biasa dipanggil Sella. Aku dilahirkan di Kota P, sebuah kota kabupaten di Provinsi Lampung. Masa kecilku kulalui dengan normal layaknya anak seusiaku. Tetapi saat usia menginjak remaja tanpa kusadari perlahan namun pasti diam-diam aku menyukai teman sejenisku.

Dan akibat dari perilaku menyimpangku itulah yang membuat aku terlempar ke Kota B. Di kampung kelahiranku aku merasa hidup tidak nyaman oleh teror dan gunjingan orang-orang di sekitarku. Terlebih caci maki dan pukulan-pukulan yang kuterima dari ayahku yang notabebe adalah seorang tokoh terkemuka di kotaku.

Agar telepas dari penderitaan itulah maka aku nekad menggat dari rumah dan tinggal di Kota B. Di sini aku tinggal bersama seorang teman yang kebetulan memiliki nasib yang sama. Karena kesamaan nasib itulah akhirnya kami hidup bersama. Karena Erlin, teman sejenisku hidupnya cukup mapan, maka dialah yang menanggung kebutuhan hidupku sehari-hari. Kehidupanku bersama Erlin layaknya seperti hidup dalam sebuah rumah tangga. Diperlakukannya aku sebagai seorang istri baginya, karena kemampuannya memenuhi kebutuhan rohani dan jasmaniku.

Namun ada satu hal yang membuatku agak kurang nyaman, dia memiliki rasa cemburu yang berlebihan. Aku dilarang berpergian seorang diri tanpa ditemani olehnya. Pernah satu kali aku asyik ngobro dengan Bu Mimin pedagang ketupat sayur yang mangkal di seberang tempat kost kami.

Keasyikan kami berdua rupanya mengundang kecemburuan Erlin. Layaknya seorang yang merasa cemburu, aku didampratnya habis-habisan. Karena merasa bersalah akhirnya terpaksa aku meminta maaf.

“Sekali ini kau kumaafkan, Sella. Tetapi lain kali harus batasi diri. Aku tak ingin kalau orang lain sampai mengetahui hubungan kita. Aku tidak mau kelau kebahagiaan kita sampai ada yang merusak!” desis Erlin.

Aku menggangguk pasti. “Ya, aku juga tak mau kebahagiaan kita hancur,” jawabku.

Mendengar jawabanku Erlim memeluk dan menciumku. Kami bercinta layaknya sepasang manusia normal.

“Sella, kau adalah kekasihku yang terbaik. Kuharap kau tetap bersamaku selamanya,” kata Erlin saat kami mandi bersama.

“Semoga saja begitu, Erlin,” jawabku. Ya, itulah harapan dan cita-cita kami berdua saat itu.

Tetapi kehendak Tuhan lain. Tanpa sengaja au bertemu dengan dengan Dimas di sebuah plaza. Saat itu aku sedang shoping bersama Erlin untuk mencari bahan kebutuhan kami sehari-hari. Usai belanja Erlin menyuruh aku menunggu di depan pintu gerbang, karena dia hendak menemui seseorang yang berkantor tak jauh dari situ.

“Aku ada keperluan sebentar dengan Pak Gunadi, kamu tunggu saja di sini. Aku nggak lama kok,” katanya seraya melangkah ke seberang.

Aku hanya menggangguk membiarkan Erlin pergi. Pak Gunadi adalah manager Erlin di klub malam miliknya.

“Sedang menunggu siapa, Mbak?” terdengar suara lembut menyapaku. Aku segera menoleh ke arah datangnya suara. Seorang pemuda berkulit kuning langsat, berkumis tipis dan berambut cepak berdiri di hadapanku. Dia tersenyum saat aku memandangnya.

“Oh…i..iya..!” jawabku tergagap. Aku sendiri tidak tahu, entah mengapa tiba-tiba muncul perasaan aneh menyusup relung hatiku saat itu. Ada getaran-getaran aneh yang aku sendiri tidak mengerti. Duh, senyum itu membuat hatku bergetar. Entah apa yang terjadi pada diriku saat itu, entahlah aku tak tahu. Karena aku belum pernah merasakan sebelumnya.

“Saya Dimas!” pemuda itu menyodorkan tangannya. Mau tak mau aku menyambut uluran tangan pemuda itu. Kami bersalaman. Ada kehangatan yang kurasakan.

“Ini kartu namaku. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Dia memberkan kartu namanya padaku lalu melangkah pergi meninggalkan dirku yang mematung. Terpana!

“Ngelamun lu ya…!” suara Erlin mengejutkan aku. Erlin segera menggandeng diriku mencari taksi. Di rumah Erlin bercerita padaku bahwa dalam waktu dekat ini dia akan berangkat ke Singapura bersama Pak Gunadi managernya.

“Aku akan mencoba mencari peruntungan di sana. Pak Gunadi akan mempertemukan aku dengan relasi-relasinya. Menawarkan diriku agar dapat mengisi acara klub malam mereka. Kalau aku berhasil dan betah di sana aku akan mengabarkan padamu dan memboyongmu ke sana. Dan kita akan hidup bahagia di sana….”

Itulah kata-kata Erlin yang terakhir. Karena sejak dia pergi bersama managernya itulah aku kehilangan kontak. Aku setiap saat menunggu kabar darinya. Aku pernah mencoba bertanya pada teman-temannya, tetapi mereka menggelengkan kepala. Bahkan saat aku mendengar berita tentang kecelakaan pesawat terbang, aku berusaha mencari tahu kalau saja Erlin ada di dalam pesawat itu. Tetapi di dalam daftar penumpang tak kutemukan nama kekasihku itu!

Saat aku merasa benar-benar kehilangan. Hidupku sempat goyah, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Untuk bertahan hidup, aku mencoba mencari pekerjaan. Beruntung ada seorang Tionghoa pemilik toko pakaian menerima aku bekerja di tokonya dengan gaji yang lumayan.

Dengan gaji itulah aku bisa bertahan. Hingga pada suatu hari, entahh darimana tiba-tiba Dimas muncul lagi. “Selama ini aku mendapat kontrak kerja di Pontianak. Sekarang kontrak kerjaku sudah habis, dan aku berniat memperpanjangnya, maka aku pulang ke Bandar Lampung,” Dimas berkata tanpa kutanya.

“Oh ya, aku berusaha mencarimu. Setiap hari aku sengaja menunggu di tempat kita bertemu tempo hari. Rupanya penantianku tak sia-sia, akhirnya kita bisa bertemu lagi….” Pertemuanku dengan Dimas berlanjut. Dimas selalu menjemput dan mengantar aku pulang. Bahkan Dimaslah yang membayar uang bulanan kostku.

Pembaca, aku sendiri tidak tahu mengapa bersama Dimas aku merasa nyaman. Karena selama ini aku selalu merasa risih bila berjalan dengan lawan jenisku. Singkat cerita, hubunganku dengan Dimas berlanjut ke jenjang perkawinan. Kami menikah di kampungku. Saat itu keluargaku merasa bahagia meihat keadaanku yang ternyata sudah berubah.

Ya, kini aku kembali menjadi perempuan normal. Karena Dimas bekerja di Bandar Lampung. Usai pesta kami kembali dan tinggal di rumah kontrakan yang baru di Sukabumi Indah. Duh, Gusti, lagi-lagi Sang Maha Pencipta menunjukkan kebesarannya.

Tiga bulan kemudian aku hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantk. Saat itu kebahagiaan melimpahi kami, karena Dimas dipromosikan jabatannya sebagai kepala bagian pemasaran. Karena prestasinya itu kami diberi rumah cuma-cuma di kompleks yang sama.

Tetapi pembaca, tak kusangka-sangka di tengah kebahagiaan itu tiba-tiba Erlin muncul. Siang itu tahu-tahu dia sudah berdiri di depan rumahku. Saat melihat Erlin, aku benar-benar shock! Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Dadaku berdetak keras. Saat itu aku seperti sedang melihat hantu di siang bolong.

“Sella….!” Desisnya. “Kau pasti menyangka kalau aku sudah mati. Padahal selama ini aku mencarimu. Sepulang dari Singapura aku ke tempat kontrakan kita tetapi kau sudah pergi.”

“Ta…tapi Erlin…”

“Iya, aku maklum, kecelakaan yang kualami di Singapura itu membuat aku harus dirawat di rumah sakit karena selama kurang lebih tiga bulan aku tidak sadarkan diri,” ceritanya tanpa kuminta.

“Maafkan aku Erlin. Aku benar-benar tidak tahu,” ucapku lirih.

Erlin tersenyum sinis. Wajahnya tiba-tiba tegang. “Ternyata kau sudah mengkhianati aku, Sella. Kau sudah lupa pada janji kita dahulu. Diam-diam kau kau sudah punya suami dan anak. Kau ternyata perempuan normal yang sengaja menipuku. Ingat Sella, aku akan membalas sakit hatiku!” desisnya seraya melangkah meninggalkan rumahku. Sementara aku hanya terpana, mematung memandangnya hingga lenyap di tikungan.

Sejak itu Erlin tak pernah muncul lagi. Diam-diam aku merasa bersyukur. Aku tahu dia pasti merasa sakit hati padaku, tetapi semuanya sudah terjadi. Sebagai manusia aku tak mungkin mengingkari takdir. Aku yakin jalan hidup yang kualami merupakan kehendak-Nya.

Tetapi, Tuhan kembali mengujiku. Dimas, suamiku, tiba-tiba mengalami penyakit aneh. Sekujur tubuhnya muncul bintik-bintik merah, terasa sangat gatal saat digaruk. Tidak cuma itu saja, badannya begitu lemah tak bertenaga. Mulanya aku mengira suamiku semacam alergi. Kucoba membawanya ke dokter spesialis penyakit kulit, namun dokter tidak sanggup mengobatinya. Oleh dokter Purnomo, suamiku cuma diberi salep penghilang rasa gatal. Tetapi ternyata itu sama sekali tidak mempan.

Ketidakberdayaan yang diderita suamiku membuat aku panik dan merasa putus asa. Beruntung seorang teman Dimas yang saat itu menjenguk Dimas dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri suamiku itu. “Kayaknya penyakit yang dialami Pak Dimas ini bukan penyakit biasa, Mbak. Coba Mbak bawa ke orang pintar saja,” ucap teman Dimas itu.

Aku mengangguk. Tak ada cara lain bagiku selain menuruti usul teman suamiku itu.

“Ini memang bukan penyakit biasa, tetapi penyakit buatan manusia. Seseorang telah dengan sengaja mengirimkan guna-guna padamu, tetapi yang kena malah suamimu,” ucap Ki Sarman, seorang tabib yang juga memiliki kemampuan supranatural, saat itu aku membawa suamiku ke Padepokkannya di daerah Sidomulyo.

Tiba-tiba saja wajah Erlin melintas dalam benakku. “Erlin… pantas kalau dia pelakunya,” desisku geram.

Ternyata ancaman yang dilontarkan oleh mantan kekasihku itu tidak main-main. Dia telah membalas dendamnya padaku. Tetapi ternyata malah Dimas yang tak berdosa jadi korbannya.

“Tolong sembuhkan penyakit suamiku, Ki. Hanya Aki yang bisa membantu menolongnya. Tolong, Ki,” pintaku setengah menghiba.

“Tenangkan dirimu, Sella. Insya Allah aku akan mencoba menyembuhkan sakit yang diderita suamimu. Tetapi aku minta kau juga membantuku dengan berdoa kepada Allah SWT. Karena sekuat apapun usaha manusia pada akhirnya Allah SWT lah yang menentukannya,” ucap Ki Sarman.

Subhanallah…. Kata-kata Ki Sarman secara tak langsung telah menyadarkan diriku kalau selama ini aku melupakan Sang Khalik. Kuakui kalau selama ini aku tidak pernah melakukan shalat lima waktu. Selama suamiku dirawat di Padepokkan Ki Sarman, aku mulai menjalankan shalat lima waktu. Tak henti-hentinya aku beristighfar meminta ampun atas segala dosa yang kulakukan selama ini. Dan memohon dengan segala kerendahan hati agar penyakit suamiku dapat disembuhkan.

Subhanallah, akhirnya berkat bantuan Ki Sarman dan doa yang kupanjatkan setiap saat, kiranya Allah SWT mengabulkan usaha kami. Alhamdulillah kini suamiku telah sembuh total.

Kalian jangan khawatir, karena aku sudah memagari kalian sekeluarga dengan dari serangan makhluk jahat yang akan mencelakakan manusia,” pesan Ki Sarman saat kami sekeluarga sowan ke Padepokkannya pada bulan Desember 2013 lalu. Alhamdulillah, sampai saat aku menceritakan kisahku ini pada Misteri kami sekeluarga baik-baik saja. (*)

Santet Itu untuk Membalas Dendam dan Mengembalikanmu
Tanggapan Pengasuh
Oleh: Eka Supriatna


Sella, kamu adalah orang yang beruntung bisa kembali ke takdirmu sebagai wanita normal dengan sempurna. Bisa menemukan suami yang baik dan bertanggung jawab. Bisa membina rumah tangga yang menjadi sangat begitu bahagia dan sejahtera. Bahkan telah memiliki keturunan yang sempurna. Dan yang terpenting dalam kasus ini, kamu dan suamimu bisa lolos dari kejahatan mistik yang bisa mematikan.

Dalam beberapa kasus, orang yang pernah terjerat dalam cinta sejenis, entah itu laki-laki atau perempuan, rata-rata mereka akan sangat sulit untuk kembali ke kehidupan normal. Bila pun bisa kembali, akan membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pasti akan tersisa bekas-bekas yang menyakitkan hati. Misalnya, sulit melupakan masa lalu dan selulu saja ingin mengulangi percintaan dengan teman sejenisnya. Kemudian yang lebih fatal adalah, akan sulit pula dalam Anda mendapatkan keturunan, sebab saat bercinta perasaan masa lalu itu akan terus terbawa saat Anda bercinta dengan pasangan.

Kemudian melihat dampak dari penyakit kiriman mantan kekasih sejenismu itu, saya merasa apa yang telah dilakukan Erlin juga tidak terlalu membahayakan. Dia masih menyimpan rasa sayang dan yang utama kasihan yang tersisa dalam hati Erlin atau dukun yang mengirimkan guna-guna itu. Jika saja Erlin mau berbuat jauh lebih kejam dari itu, mungkin ia bisa saja mengirimkan santet yang lebih mematikan dari yang Anda rasakan saat itu. Bukan sekedar membuat suamimu mengalami penyakit gatal-gatal saja.

Analisa saya, dalam benak Erlin masih terselip rasa ingin kembali memilikimu untuk membalaskan dendamnya. Coba bayangkan jika penyakit itu menjangkiti dirimu. Kamu akan parah dan menderita dengan penyakit gatal-gatal itu dan menimbulkan luka di kulit. Luka bekas borok itu tentu saja akan nampak jelek, apalagi di kulit seorang wanita. Dengan borok-borok yang menjijikkan sangat mungkin rumah tanggamu dengan Dimas akan terganggu. Dan harapan Erlin adalah Dimas akan menceritakanmu. Saat itulah Erlin akan datang sebagai pahlawan kesiangan menolongmu. Saat itu pula Erlin bisa membalaskan sakit hatinya padamu.

Tapi sekali lagi kamu dan suamimu adalah orang yang diberkahi Allah, atas bantuan Ki Sarman dan izin Allah tentunya, suamimu bisa selamat dari penyakit itu. Jika tidak, sangat mungkin penyakit gatal itu bisa saja terus menggerogoti tubuh suamimu. Dengan perlahan hingga akhirnya parah, mungkin penyakit gatal itu bisa saja merenggut nyawa suamimu. Sekali lagi, banyak-banyaklah bersyukur pada Allah SWT. Tetaplah dalam meyakini takdirmu sebagai wanita sejati.

Kemudian saat ditimpa penyakit apapun bentuknya, yakinlah bahwa Allah SWT menciptakan penyakit dengan disertai obatnya. Demikian pula ketika kamu mendapatkan masalah, sebesar apapun masalah itu, yakinlah ada solusi dan jalan keluar yang terbaik di jalan Allah Yang Maha Kuasa. (*)

Sumber: Misteri Edisi 580 (20 April-04 Mei) Tahun 2014

Sabtu, 26 Juli 2014

Istriku Dikuasai Jin Betina

Istriku Dikuasai Jin Betina

Oleh: Bagaskara Shanta



Kisah tragis ini dialami oleh Pak Toto (50) asal Kota Cirebon, Jawa Barat. Mahligai rumah tangganya dengan sang istri tercinta yang telah dirajut selama 25 tahun hancur berantakan. Biang keroknya adalah sesosok jin betina yang bersemayam dalam tubuh wanita yang telah memberinya dua orang anak. Bagaimana cerita lengkap yang dialami Pak Toto? Berikut penuturannya untuk pembaca Misteri budiman....!

______________________________



Desember kelabu ternyata bukan hanya judul sebuah lagu. Sebab, bagiku bulan Desember tahun 2013 lalu benar-benar menjadi bulan kelabu. Bulan penuh duka yang nyaris membuat aku terhempas dan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Betapa tidak di penghujung tahun itu mahligai rumah tangga yang telah kurajut selama 25 tahun lebih bersama Eliana (sebut saja begitu), nama istriku tercinta, hancur berantakan. Badai dahsyat telah mengguncang rumah tanggaku, dan kini sudah masuk hitungan bulan kelima aku menunggu keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat.

Ya, eliana telah melayangkan surat gugatan cerai melalui atasannya di sebuah instansi pemerintahan. Dan konon proses cerai bagi mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), seperti kami ini, harus melalui birokrasi yang cukup berbelit. Jelas hal itu akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar.

Aku tidak tahu kapan akan menerima surat keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat. Tapi yang jelas bagiku adalah ketidakpahaman diri ini terhadap biang kerok yang menjadi penyebab datangnya badai yang meluluhlantakkan rumah tanggaku. Biang keladi yang diduga menjadi penyebab pecahnya mahligai rumah tanggaku bersama Eliana adalah sesosok siluman jahat yang bersemayam di dalam tubuh istriku.

Dari berdasarkan hasil penerawangan beberapa pelaku metafisika jin itu telah menguasai Eliana sekitar lima atau enam tahun lamanya! Entah benar atau tidak hasil deteksi mereka yang jelas aku memang mulai merasakan ada keganjilan pada istriku sejak lima atau enam tahun silam.

"Jujur saja, Mah, kamu ini sebenarnya ada apa?" Tanyaku pada Eliana di pekan terakhir bulan Desember 2013 silam.

Pertanyaan itu meluncur dari mulutku karena sudah tidak kuasa lagi menahan rasa kecewa terhadap Eliana yang selalu ogah-ogahan bila kuajak bersebadan. Terus terang saja, sebagai lelaki normal aku selalu berhasrat untuk bercinta dengan istri setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu.

Namun kenyataan yang kudapat bukannya "jatah malam" dari sang istri, tetapi penolakan demi penolakan dengan beragam alasan yang terkadang membuat aku kecewa dan harus menahan amarah.

"Maaf, Pah, aku kan capek. Tadi siang kerjaan di kantor banyak sekali. Aku mau tidur ya," jawab Eliana bukan sekali.

Dan ia akan segera memeluk guling lau dalam beberapa detik kemudian tertidur pulas. Sementara aku sama sekali tidak diacuhkan olehnya sedikit pun di belakang punggungnya. Padahal, hasratku untuk bercinta sudah sedemikian membara! Namun sebagai suami yang coba untuk selalu berbaik hati kepada istri, aku memilih pindah tempat tidur. Aku segera mengambil bantal dan tidur di atas karpet di ruang tengah.

Meski keinginanku untuk bercinta sudah sedemikian menggeledak, aku tetap masih bisa menahan diri untuk tidak marah kepada Eliana, mungkin benar, pikirku, Eliana kecapekan setelah seharian bekerja di kantornya. Jadi sungguh tidak berprikemanusiaan seandainya aku memaksa dia untuk melayaniku tidur. Selain beralasan capek Eliana juga kerap menolak dengan alasan ngantuk yang sangat.

Sekali dua kali aku bisa penolakan Eliana untuk bercinta denganku. Seminggu dua minggu aku mungkin masih bisa menahan hasrat bercintaku. Bahkan satu atau dua bulan bukan mustahil aku masih sanggup "berpuasa" tidak menyalurkan hasrat birahi dengan istri. Akan tetapi jika masuk hitungan hingga tahunan, suami atau laki-laki mana yang bisa bertahan?

Karena itulah pada suatu kesempatan aku sengaja mengajak Eliana berdialog dengan baik-baik. Aku ingin mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi pada istriku itu.

"Aku ingin tahu sesungguhnya ada apa denganmu, El? Terus terang saja, aku tidak habis berpikir dengan sikapmu yang banyak menolak jika kuajak tidur," ujarku membuka dialog dengan Eliana pada suatu kesempatan di pekan terakhir bulan Desembar 2013 silam itu.

"Aku tidak mengerti dan tidak bisa pula memahami mengapa kamu selalu menolak bila kuajak tidur. Kamu selalu beralasan capek, ngantuk, dan sebagainya. Kalau pun kamu mau melayaniku di atas tempat tidur, kamu bukan sekali menta berhenti di tengah jalan dengan alasan kemaluanmu terasa sakit," lanjutku seraya menatap wajah Eliana yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia eolah-olah tidak tidak sedang berbicara denganku.

"Dan yang lebih membuatku aneh lagi," sambungku kemudian.

"Bukan sekali kamu melayani aku di atas ranjang dalam keadaan tertidur pulas! Ini benar-benar tidak wajar, Mah. Aku tidak habis pikir kog bisa-bisanya kamu melayani aku dalam keadaan tertidur pulas seperti itu?"

Sungguh, tidak ada sepatah kata pun jawaban keluar dari mulut Eliana malam itu. Rona di wajah istrku tetap beku tanpa ekspresi. Ia memilih menyibukkan diri dengan menggigit-gigit ujung jari kuku tangannya. Tidak ada guratan rasa berdosa darinya yang telah melalaikan salah satu kewajiban sebagai seorang istri.

Melihat sikap Eliana yang selalu tak acuh seperti itu, tentu saja emosiku terpancing. Amarahku mulai naik ke permukaan.

"Baiklah, kalau kamu tidak juga mau menjawab pertanyaanku, tidak jadi masalah," kataku lagi.

"Tetapi, tolong kamu jangan sampai marah atau kecewa jika suatu saat aku mencari kompensasi di luar sana. Aku ini laki-laki yang masih normal, Mah. Kalau istri di rumah sudah tidak mau menjalankan kewajibannya di atas tempat tidur, bisa saja suami mencari pelampiasan di luar rumah!"

Belum lagi aku menyelesaikan kalimat, sekonyong-konyong Eliana melompat dari tempat duduk. Tiba-tiba menghambur ke arahku seraya memeluk erat-erat. Di dadaku Eliana menghamburkan air mata yang sedemikian hebat.

Papah jangan ngomong begitu! Papah tidak boleh bicara seperti itu! Papah tidak boleh selingkuh dengan wanita lain," ujar Eliana di tengah isak tangisnya yang kencang dan hampir membuat kedua anak kami terbangun dari tidur.

"Tapi aku sangat heran, Mah. Aku tidak habis pikir kenapa kamu selalu menolak jika kuajak tidur. Tolong beri aku jawaban, Mah! Aku tidak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini olehmu," kataku seraya mendorong perlahan tubuh Eliana dan membimbingnya duduk di sofa.

"Aku benar-benar capek, Pah. Aku mengantuk. Sumpah aku tidak bohong," sahut Eliana dengan tangis yang belum berhenti.

"Ya..ya.. aku paham.. aku aku paham, Mah. Tetapi bukan sekali kamu menolak, bukan? Kataku seraya mengangkat wajah Eliana. Aku ingin melihat dengan kejujuran di balik matanya yang bulat.

"Pokoknya Papah tidak boleh tidur dengan perempuan lain! Mamah tidak rela kalau sampai Papah selingkuh dengan wanita lain," tangis Eliana semakin kencang.

Dan sungguh di luar dugaaanku, tiba-tiba Eliana menyeret lenganku masuk ke dalam kamar. Di sana sekonyong-konyong dia menanggakan semua pakaian yang dikenakannya hingga telanjang bulat. Ya, kini Eliana berdiri di depan mataku tanpa sehelai benang pun!

"Kalau Papah mau "begituan", ayo sekarang! Mama akan melayani Papah sampai puas. Yang penting Papah tidak selingkuh dengan perempuan lain di luar sana!" Ujar Eliana penuh dengan sangat atraktif mengajakku hubungan suami istri.

Dan tidak perlu aku ceritakan secara lengkap, malam itu aku benar-benar bergumul dengan Eliana penuh dengan nafsu birahi. Malam itu istriku benar-benar menjamuku dengan pelayanan yang sangat prima. Pelayanan ranjang seperti itu baru aku temukan dan rasakan kembali setelah bertahun lamanya hilang entah kemana.

Namun belum genap sepekan Eliana memberiku service luar biasa di atas ranjang, aku terjebak permainan asmara dengan seorang perempuan. Ia adalah orangtua salah satu mahasiswa semester kedua di perguruan tinggi tempatku bekerja.

sebut saja nama perempuan itu Arhiena, 40-an, mantan pelatih tari tradisional Cirebon. Sungguh, aku tak ingat sejak kapan dan bagaimana bisa dekat dengan perempuan yang tinggal di kawasan elite itu. Yang bisa kuingat hanya saat kedatangan Arhiena ke kampus untuk berkonsultasi perihal mata kuliah yang aku ajarkan kepada anak laki-lakinya.

"Aku minta tolong pada bapak untuk berkenan memberi bimbingan kepada Koko," ujar Arhiena, sambil menyebut nama anaknya, ketika bertemu denganku di depan kampus seusai aku memberikan kuliah.

"Anakku sepertinya kurang begitu menguasai mata kuliah yang bapak berikan."

"Hm, boleh... boleh, Bu. Tetapi aku harus melihat jadwalnya dulu ya. Soalnya, selain di kampus ini aku juga mengajar di kampus lain," jawabku entah mengapa saat itu merasa menaruh hati kepada perempuan berkulit putih bersih itu. Rambutnya sebahu Arhiena yang dibiarkan tergerai kerap menggoda hasrat laki-lakiku.

Rupanya gayung pun bersambut! Dan iblis mulai merasuk ke dalam jiwaku saat Arhiena pada beberapa kesempatan curhat kepadaku tentang perjalanan rumah tangganya yang rapuh. Iblis pun kian kuat menggodaku manakala Arhiena menelepon atau mengirimkan pesan singkat (SMS) ke nomor telepon seluler pribadiku.

Namun sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tersebar juga bau busuknya. Demikian pula hubunganku dengan Arhiena. Meski aku berusaha untuk "rapi jali", tetapi tak urung ketahuan juga oleh Eliana! Entah bagaimana ceritanya, Eliana menginterogasiku habis-habisan sepulang aku memberi privat mata kuliah di rumah Arhiena.

"Pokonya kamu jangan bohong, Pah! Mamah tahu kalau Papah tadi berkencan dengan dengan perempuan lain. Mamah tahu apa saja yang dibicarakan dengan perempuan itu!" kata Eliana dengan nada seperti orang kesurupan.

Sabar, Mah... sabar...! Aku jelaskan dulu permasalahannya," potongku mencoba meredakan emosi Eliana yang mulai tidak terkendali.

Sabar...sabar apaan? Apa Papah mau munkir? Pokonya Papah jangan macam-macam di belakang Mamah. Karena Mamah tahu apa pun yang Papah lakukan di luar sana," hardik Eliana dengan wajah tegang karena amarah yang meledak-ledak.

"Asal Papah tahu ya kalau Mamah ini punya pendamping gaib. Pendamping gaib ini yang ngomong semua tentang Papah bersama perempuan itu!"

Sungguh, aku benar-benar terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Eliana. Istriku punya "pendamping gaib"? Sejak kapankah itu? Rasa terkejutku kian menjadi-jadi saat Eliana benar-benar kesurupan sambil blak-blakan mengaku dirinya mempunyai jin pendamping yang selalu mamantau aktifitasku di luar rumah.

Dan ketika itu pula benakku berpikir keganjilan-keganjilan yang selama ini terjadi pada diri istriku. Jangan-jangan, pikirku, selama ini Eliana kerap menolak diajak tidur olehku karena dipengaruhi oleh jin yang bersemayam di dalam dirinya. Aku berusaha mencari tahu tentang hal itu.

Beberapa teman memiliki kemampuan supranatural segera dihubungi dan dimintai tolong untuk mendeteksi Eliana. Tak lupa teman-teman dari kalangan ustadz maupun kiyai aku datangi untuk maksud yang sama. Ada sekitar empat orang teman praktisi metafisika dan tiga orang ustadz/kiyai yang ternyata memberikan prediksi hampir sama, yakni Eliana berada dalam pengaruh siluman jahat. Jin keparat itu sudah bersemayam dalam dirinya sejak lima ata enam tahun silam.

"Sudah selama itukah?" Tanyaku kepada tiga orang yang memiliki kemampuan spiritual lumayan tinggi.

"Perkiraan kami memang begitu, Mas. Repotnya siluman tersebut sudah menyatu dengan badan wadag istri Mas, sehingga agak sulit untuk mengatasinya," ujar mereka sambil menyebutkan kemungkinan buruk bisa menimpa Eliana apabila siluman jahat itu dipaksa dikeluarkan dari tubuhnya yakni istriku bisa menjadi gila atau meninggal dunia.

"Sekarang jelas sudah penyebab istri Mas selalu menolak bila diajak bersebadan. Soalnya siluman yang ada di badan istri Mas itu jenis kelaminnya perempuan dan punya suami dari bangsa dedemit juga. Jadi tidak heran kalau Mas minta dilayani tidur akan ditolak istri Mas. Sebab yang menolak itu sebenarnya bukan istri Mas melainkan si siluman tersebut," lanjut mereka membuat aku nyaris pingsan. Siluman betina itu jelas tidak mau melayaniku karena bukan suaminya sesama siluman.

Pembaca budiman, hingga sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membebaskan Eliana dari belenggu siluman betina jahanam. Salah seorang spiritualis memprediksi bahwa tidak ada makhluk halus di dalam tubuh Eliana, tetapi yang bersemayam di sana adalah "pegangan" atau "pelindung gaib" istriku yang konon tidak mudah diterawang.

"Hasil deteksi saya ttidak ada makhluk halus dalam diri istri Mas. Yang ada adalah pegangan atau pelindung gaib yang ketika saya deteksi seperti tertutup kabut," ujar spiritualis yang mau berbaik hati membantu mendeteksi istriku.

Bila benar demikian adanya, mengapa Eliana, istrku, harus meminta perlindungan dan mencari pegangan hidup kepada bangsa jin? Mengapa tidak langsung saja memohon perlindungan segalanya kepada Allah SWT, Sang Maha Pemilik Segala di muka jagat raya ini? Dan semenjak kapan pula Eliana berkenalan dengan bangsa jin seperti itu?

Entah berapa ribu pertanyaan berkecamuk dalam benakku hingga sekarang. Kini aku hanya bisa pasrah menerima cobaan hidup yang sesungguhnya teramat berat ini. Lepas dari benar atau tidaknya hasil deteksi gaib teman-teman tadi, kini dari hari ke hari aku tak pernah berhenti berdoa kepada-Nya semoga Eliana bisa segera menghindari kekhilafannya telah bersekutu dengan dengan jin. Terus terang saja, aku takut dan khawatir istrku itu meninggal dalam keadaan sesat sebelum sempat bertobat. (*)

Tanggapan Pengasuh
Oleh: Eka Supriatna

Dikendalikan Kekuatan Gaib
Dalam beberapa kasus, kekuatan gaib dalam bentuk jin, khodam atau yang lainnya memang bisa mengendalikan manusia. Biasanya manusia itu sebelumnya telah memiliki kesepakatan atau perjanjian dengan makhluk halus yang mengendalikan dirinya itu.

Dalam kasus istri Anda, ia telah meminta pertolongan gaib untuk memata-matai di mana pun Anda berada. Bersama siapa saja Anda berada dan apa yang Anda lakukan selama Anda jauh dari istri Anda. Maka tak heran bila istri Anda bisa mengetahui dengan tepat apa saja yang Anda lakukan.

Tapi kesalahan yang dilakukan istri Anda adalah terlalu tunduk pada perjanjian yang dibuatnya dengan makhluk halus itu. Atau mungkin juga istri Anda tidak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi atas dirinya. Mungkin ketika ia meminta barang, pegangan atau ajimat itu ia tidak panjang lebar bertanya apa yang sebenarnya bersemayam dalam benda itu. Mungkin pula istri Anda tidak mengetahui kalau sebenarnya ia telah melakukan perjanjian gaib dengan makhluk halus.

sesungguhnya itu bisa diselesaikan dengan mengembalikan barang, ajimat atau benda apa pun yang dimiliki istri Anda ke tempat asalnya. Anda harus bertanya pada istri Anda apa yang ia miliki dan dari mana asalnya. Mungkin ia mendapatkan kekuatan gaib itudari seseorang spiritualis, dukun, atrau paranormal yang dulu pernah ditemui istri anda. Maka kepada dialah minta bantuan untuk mengembalikan kekuatan gaib yang ada dalam diri istri Anda itu. Ini adalah cara paling mudah untuk menyembuhkan istri Anda. Sebab orang yang dimintai bantuan oleh istri Anda itu pasti tahu apa yang pernah ia lakukan pada istri Anda.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan istri Anda adalah melakukan ruweta, atau pembersihan diri lahir batin. Bisa dilakukan dengan melarung benda-benda mistik, piranti mistik yang dimiliki istri Anda. Buang benda-benda mistik pegangan istri Anda ke sungai, muara, atau ke laut. Ini dilakukan agar benda-benda itu dan kekuatan gaibnya bisa kembali ke alam asalnya.

Mudah-mudahan makhluk gaib yang mersemayam dalam diri istri Anda itu pun akan ikut pergi bersama benda-benda pusaka yang dilarung itu. Kemudian bisa juga istri Anda melakukan taubatan nasuha, taubat dengan sebenar-benarnya taubat.

Mendekatkan diri pada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk hal ini, Anda bisa menghubungi kiyai, ustadz atau pondok pesantren terdekat di rumah Anda. Mungkin ada solusi yang terbaik yang bisa dilakukan di pondok pesantren untuk mengembalikan kesadaran istri Anda. (*)>

Sumber: Misteri, Edisi 585, Tahun 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Oleh: Dawam

Truk yang dikemudikan Hadiono menabrak pembatas jalan, tak jauh dari keramat Jimbe. Sekujur tubuhnya remuk hingga untuk mengambil jasadnya dari bagian depan truk perlu waktu yang lama.

____________________________________________________________



Truk kupacu dengan lumayan kencang manakala hujan turun sangat deras. Sepanjang jalan raya Tulungagung--Trenggalek penuh dengan genangan air karena gelontor hujan dari langit. Malam nanti barang yang kubawa dalam truk harus tiba di Malang, praktis aku harus berpacu dengan waktu yang demikian mepet.

Kalau bisa, sebelum jam sembilan malam nanti barang harus diterima oleh Pak Handoko," ujar Pak Rahmat, bosku, memaparkan kehendak hatinya.

"Akan kuusahakan, Pak."

"Sungguh. Kamu pacu kendaraanmu dengan cepat."

"Ya, Pak."

Jawaban demikian musti kusorongkan pada majikan berambut botak itu, kalau aku tidak ingin kena marahnya. Pengusaha yang temperamental ini memang sering tak bisa kompromi dengan orang lain, apalagi bawahan kelas teri asin mirip aku ini. Semua kemauannya harus dituruti. Apakah di tengah jalan kendaraan kuhela dengan santai, itu urusan nanti saja. Yang penting hanya jawaban ya... ya... ya.. saja yang paling disukai Pak Pak Rahmat, setiap kali dia punya keinginan.

Demi menghargai bos, walau pada dasarnya mengemudi kendaraan dalam suasana hujan dan jalan beraspal lumayan licin mengandung resiko tinggi, truk kupacu juga dengan kecepatan di atas rata-rata. Senja yang temaram, membuat pandangan mata tidak bisa maksimal mengarah pandangan depan. Pada sebuah pertigaan dekat perbatasan Trenggalek--Tulungagung, kendaraan kurem dengan mendadak.

"Busyet," aku menggerutu sambil detak jantung berdegup amat kencang.

"Kamu punya mata untuk melihat nggak?!" Sambnungku dengan mata melotot.

Di depan ban trukku berdiri mematung seorang perempuan dengan sekujur tubuh basah kuyup. Kusorongkan berbagai macam pertanyaan, tak begitu banyak keterangan kudapat tentang identitasnya. Untuk menghindari masalah lebih jauh, wanita umur kurang lebih tiga puluh tahun ini kuminta masuk pada bagian sopir berdampingan denganku.

Sesampainya di rumah orang tuaku, Desa Tanjungsari, Boyolangu, Tulungagung baru kuketahui siapa wanita yang hampir mendatangkan petaka bagiku itu. Dia bernama Ana, warga Kiping, Gondang, masih satu wilayah kabupaten denganku. Ana mengalami goncangan jiwa lantaran Misnan, suaminya, serong dengan wanita lain, sementara dia sendiri demikian cinta pada suaminya ini.

Beberapa hari lamanya Ana hidup seadanya dengan keluargaku. Makan dan minum juga teramat 'apa adanya', mengingat penopang utama keluargaku adalah diriku yang hanya seorang sopir suruhan majikan. Syukurlah, Ana juga tak menolak apa saja yang kami suguhkan padanya.

Kurang lebih satu bulan, Ana pamit mau pulang. Dia kuantar dengan sepeda motor bututku, sementara Narti, istriku, menemani juga dengan sepeda motor milik Kang Rahmat, kakak nomor duaku.

Lima bulan berikutnya, aku diundang supaya datang ke rumah keluarga Ana, karena setelah diceraikan secara resmi oleh suaminya, Ana menikah dengan Gunawan, lak-laki dari Plosokandang, Kedungwaru, yang hanya terpaut ratusan meter dari tempat tinggalku.

Beberapa bulan hidup berumah tangga dengan Gunawan, seorang anak lahir dari rahim Ana. Bayi laki-laki ini pada hari-hari berikutnya diberi nama Wasis. Seperti nama yang disandangnya, bocah berkulit sedikit legam ini memang memiliki kecerdasan lumayan, lincah, periang serta gampang diiajak bersanda-gurau, walau anak itu sendiri masih baru mengenal orang yang berada di hadapannya.

Rupanya Ana memang seakan wanita yang terlahir dengan kegagalan demi kegagalan perkawinan terbeban dipundaknya. Terbukti, mengarah pada hitungan tahun ke tiga pernikahannya dengan Gunawan, pahitnya pil perceraian untuk kesekian kalinya musti tertelan tenggorokan Ana.

Kurang jelas bagaimana ceritanya, dua tahun berikutnya Ana diambil istri oleh Hadiono, lelaki yang usianya lebih mudah darinya. Saat Ana dinikahi Hadiono inilah barangkali awal petaka yang menimpa dirinya, dalam rentetan waktu yang merangkak ke depan. Ceritanya, Ana diberi sebuah keris kecil oleh Bu Minah (bukan nama asli), mertuanya.

"Keris ini sangat sangat baik untuk berdagang, An. Mungkin sangat cocok dengan pekerjaan suamimu yang suatu ketika nanti menggantikan posisi oorang tuanya sebagai pedagang besar," ujar Bu Minah pada suatu senja diwarnai gerimis pada Ana.

Mertua wanitanya wanti-wanti pada Ana agar menyimpan baik-baik keris yang katanya bertuah tersebut. Ana tak banyak bertanya lebih jauh tentang keris keramat tadi. Keris itu lantas dia taruh pada lemari kayu, berbaur dengan tumpukan pakaian miliknya.

Ana sendiri sudah tidak begitu memikirkan tentang keris itu sendiri, hingga suatu hari dia mendapatkan kiriman ayam ingkung dari mertuanya. Sang mertua bilang bahwa ayam ini harus dinikmati bersama suaminya, sebagai rasa syukur kemajuan usaha yang dialami Pak Gondo (bukan nama asli), mertua laki-lakinya.

Ayam ingkung itu dbawa Ana ke rumah orang tuanya di Kiping. Kurang paham apa sebabnya, wanita yang melahirkan dirinya ini melarang Ana untuk tdak memakannya.

"Memang ada apa kok tidak boleh disantap, Mbok?" Tanya Ana tak mengerti tentang makna yang terkandung di balik larangan tersebut.

"Sementara tidak bisa kujelaskan, An. Ikuti perintah Simbokmu untuk tidak memakan ayam panggang tadi. Itu saja," pesan Simbok dengan wajah sungguh-sungguh.

Demi menghormati orangtua wanitanya, walau masih tetap membawa perasaan dongkol, Ana manggut-manggut saja menerima permintaan itu.

Tak lama setelah itu, Hadiono datang. Tanpa bertanya dari mana datangnya, lelaki itu langsung menyikat ayam ingkung yang tersaji di atas meja, lantaran di dekat ayam itu teronggok sebakul kecil nasi yang masih mengepulkan asap. Ana yang kala itu sedang berada di belakang rumah tak tahu sama sekali apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.

Sore harinya Hadiono pamit pada Ana untuk mengunjungi orangtuanya di Ngunut. Bagaimana kisah lengkapnya, Ana tak tahu. Datang kabar yang cukup mengejutkan dari mertuanya di Ngunut bahwa Hadiono mengalami kecelakaan tragis di perbatasan Blitar--Tulungagung. Truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, tak jauh dari tmpat keramat Jimbe. Sekujur tubuh Hadiono remuk hingga untuk mengambil jasadnya di bagian depan truk perlu waktu yang sangat lama.

Belakangan diketahui, walau lewat bisk-bisik, tentang kematian mengenaskan Hadiono itu disebabkan kena akibat buruk dari ayam ingkung yang disantapnya. Dari sebuah sumber diyakini bahwa yang hendak dijadikan wadal, tumbal untuk makhluk gaib lantaran pesugihan, adalah Ana sendiri. Dikarenakan Ana dipaksa Simboknya untuk tidak memakannya dan ganti Hadiono melahapnya, jadilah senjata makan tuan. Bukan Ana yang mati tapi Hadiono sendiri yang dimakan makhluk halus peliharaan seseorang.

Lewat seorang teman yang sedikit banyak tahu tentang dunia supranatural dipetik kabar bahwa keris kecil pemberian mertuanya tempo hari adalah keris yang di dalamnya bersemayam makhluk alam astral yang bisa membuat pemegangnya sangat mudah dikendalikan oleh makhluk gaib tadi. Ini dikandung maksud, cepat atau lambat, orang itu akhirnya akan mengalami nasib sama dengan Hadiono. Setidaknya, bila tubuh orang itu kuat maka hanya onyeng (pikirannya kacau) serta mengarah pada gila permanen. Sedangkan bia tak kuat berdampingan dengan khodam keris, orang itu akan meninggal dunia, tak beda dengan yang dialami Hadiono beberapa waktu silam.

Tentang diri Ana sendiri memang semakin hari kelihatan semakin aneh tingkah lakunya. Kadang bicara sendiri, kadang menangis histeris, sekali tempo malah mengamuk dengan kekuatan melebihi tenaga tiga orang dalam keadaan normal. Aku yang berusaha untuk meredam amukannya bersama Dani, Agus, Lukman, dan Manaf malah jadi bulan-bulanan kemarahan Ana. Kekuatan fisik kami berlima masih kalah dibanding Ana. Dia yang secara kasat mata ringkih, nyatanya memiliki tenaga yang minta ampun kuatnya.

Untuk membuang gaib yang bersarang pada tubuh Ana, beberapa orang pintar pernah kami mintai tolong, namun hingga kini tak ada hasil maksimalnya. Ana sembuh sesaat, dua tiga hari berikutnya kambuh lagi. Berbuat, bertingkah laku mirip orang tak waras.

Pernah oleh Mas Turkan, kawanku yang juru sembuh akibat pengaruh gaib. Ana dimandiikan pada sebuah sumur tua dengan ritual tertentu, pada suatu tengah malam. Mulai ujung rambut hingga pangkal kaki diguyur air, sambil dimanterai berulangkali. Di samping itu, dua kali dimandikan dimandikan pada aliran sungai di pinggir sawah sebelah rumah, dengan tubuh terasa membeku karena dinginnya air, toh seminggu kemudian Ana kumat lagi.

"Nampaknya makhluk gaib yang ngendon di tubuh Ana terlalu kuat untuk kita tundukkan. Musti kita temukan orang yang bisa menundukkan kekuatan gaibdi dalam keris tersebut," aku Mas Turkan, mengamini penuturan Mbah Ngadimin, orang sepuh yang juga ikut membantu menghalau pengaruh gaib dalam tubuh Ana.

Apa yang dialami Ana ini musti kutulis di majalah ini, dengan harapan barangkali ada pembaca yang bisa ikut membuka tabir misteri yang sungguh terasa sangat pelik ini.

Sebagai seorang tetangga sekaligus sahabat, rasanya kurang pas kalau aku hanya tinggal diam di sini saja. Walau sebenarnya berbagai macam upaya telah melelahkan kami semua, membikin tubuh kurus, pikiran terombang-ambing antara realita dan mimpi buruk tiada bertepi. (*)

Misteri Edisi 581, Tahun 2014