Senin, 04 Februari 2013

Sayap-Sayap Patah

Sayap-Sayap Patah
Oleh : Ir. Bambang Sukmadji

Apa mau dikata sebelum semua ini terjadi, memang hari hari yang dilewati terasa indah dan berlalu begitu saja. Bagi Cassy jarum waktu menebas atmosfer yang dihirupnya, terlewatkan begitu saja. Namun ternyata Tuhan Yang Kuasa menghendaki lain, hari hari yang melingkungi kini bagaikan rantai berduri yang melilit leher dan sekujur tubuhnya. Setiap sorot mata teman sekelasnya, bagi dia serasa menyudutkanya. Entah apa dan dosa dia ataukah ini hanya perasaan dia saja yang sudah tidak memiliki hari indah penuh enjoy. Mengapa pula tumpahan cobaan hidup bagi remaja flamboyant ini, harus dia hadapi saat dia duduk di kelas XII, yang beberap pecan lagi dia harus menempuh UN.

Sempat Cassy hampir satu bulan tidak masuk sekolah semenjak mama dan papinya berpisah dihempas prahara yang membuat getir hatinya. Maka saat itu hanya dinding kamarnya saja yang mampu dia jadikan tumpahan curhat, meski selama itu dinding dinding kamarnya hanya diam membisu. Seloroh seloroh dalam canda ria bersama dengan teman sekelasnya, yang cuakepnya hampir sama dengan Boneka Barbie saat itu dia tepiskan, atau dia lebih memilih untuk menuangkan air matanya di atas bantal gulingnya.

Sesekali Cassy lebih memilih duduk termenung di ayunan di bawah pohon jambu di belakang rumah. Tempat itulah yang kerap menjadi tumpahan manja dia pada papinya, saat dia masih kecil. Setiap Hari Minggu dia selalu bermanja dalam canda sayang bersama papi dan adik-adiknya. Termasuk suatu hari, saat hari menjelang senja di awal bulan ini. Saat saat itu kembali datang, meski dalam kemasan lamunan. Hingga Cassy terlihat sering tertawa sendiri, lantas tak berapa lama air matanya meggantikan tawa riangnya. Betapa papanya meninggalkan dia begitu saja, begitu juga maminya yang masih kelihatan cantik dan muda, yang lebih senang bergumul kepalsuan hidup dengan pria lainya.

Hati Cassy terus menjadi bulan bulanan ombak Laut Selatan, terombang ambing antara kenyataan yang merenggutnya dan sebuah protes entah kepada siapa, mengapa kenyataan ini meski terjadi. Mengapa sesuatu yang terindah di dunia ini, harus hiolang begitu saja? Meski pada sore itu telinganya mendengar deru mobil yang dia kenal telah memasuki halaman rumahnya yang senyap. Diapun segera beranjak dari kursinya untuk segera menjumpai sokib satu kelasnya.“ Oh..sokibku semua, met jumpa lagi…. dari mana saja kamu!.. yuk silakan duduk?” Senyum halus Cassy tersungging dengan renyah wajah yag disodokan pada Kimberly, Albert dan Siska, yang begitu saja pada sedang merebahkan punggungnyadi kursi bambu yang tertata di beranda depan rumah Cassy yang luas. Sementara mendung mengintip di belahan langit sebelah barat. Pertanda sebentar lagi hujan akan menyambangi mereka.

“Cassy! kamu tambah nekad ya! eh kamu sudah dua hari ini tidak ikut try-out. Tadi pagi Pak Chandra nanyain kamu. Ayo dong be happy masa so sad terus. Kalau kota kita berselimut mendung tebal, janganlah hati kamu juga ikut mendung, piss friend!” pinta Kimberly yang sudah lama kental dengan Cassy seperti saudara sekandung.

“Teman teman dari klas lain malah mengira kamu pindah kota. Mereka berusaha calling kamu, tetapi hp kamu tidak aktif. Ayo dong, Cinderella! besok gabung lagi dengan kita, aku mau deh njemput kamu, asal kamu mau berangkat, gimana?” pinta Albert yang ikut merasa kegetian hati Cassy, Cinderella yang sekarang berwajah seperti kotanya, tertutup gulungan tebal awan hitam.“Terimakasih, sokibku semua. Sungguh aku sama sekali tidak ingin datang ke sekolah, jangankan untuk ikut try-out. Seluruh hatiku tertutup awan gelap, sama sekali aku tak selera berbuat apapun.

Aku tidak sanggup ikut try out, biar aku langsung ikut UN saja, sampaikan Pak Chandra, ya!” “Cassy! bukan itu masalahnya! Tapi kita sekarang kehilangan kamu! Kamu sanggup memberi inspirasi pada kita semua, bila kita sedang menghadapi masalah. Lagian kamu memang selalu ceria sepanjang hari, ini yang membuat kita kehilangan, friend!” seru Siska di tengah wajah Cassy yang mulai memerah jambu, setelah beberapa saat lalu wajah yang cantik dan melangkonis itu pucat pasi. Selintas hadir di sisi hati Cassy betapa bahagianya saat di tengah mereka. Baik sokib cewek ataupun yang cowok selalu memanggilnya “Cinderella Putri Negeri Kaca.”

Memang wajah Cassy cantik jelita, seperti mamanya yang keturunan Belanda dan Ambon. Sedangkan papanya meski kelahiran asli Jawa, namun wajahnya ganteng seperti actor sinetron.Selain itu Cassy dikenal semua sokibnya sebagai cewek yang luwes, familiar dan mau dekat dengan sokib dari kalangan mana saja. Perihal kehalusan dan budi pekertinya semua sokib dan guru-gurunya tidak memungkiri kelebihanya itu. Meski dia sanggup tampil elegan di tempat manapun, tapi dia memilih untuk tampil bersahaja. Namun saat saat ini dia berubah karakter begitu saja, sepertinya iblis bersayap telah merenggut seluruh hatinya, tinggalah sisi gelap hatinya yang terus membawanya bersikap acuh pada siapapun, malas dan tidak memiliki tanggung jawab pribadinya terhadap masa depanya, yang seindah rajutan benang sutra.

Hujan deras kini menerpa kota itu, mereka bertigapun segera pamit setelah mendapatkan janji dari Cassy untuk gabung lagi dengan mereka semua esok hari. Cassy menjadi acuh tanpa alasan pada Stevan yang telah lama berusaha mendekati dirinya, meski sebelum itu Stevanpun hanya dianggap sahabat biasanya. Namun bagi Stevan sikap Cassy yang lembut dan penuh peduli, dianggapnya telah membuka kedua tanganya pada hasrat Stevan. Pada suatu pagi Stevanpun datang ke rumah Cassy dengan bekal mampu menjadi dewa penolong terhadap keterpurukan hati Cassy. “Akupun sama sepertimu Cassy! menjadi korban perpisahan mama dan papaku. Tapi aku biasa saja, karena semua manusiapun akan mendapat giliran dari Yang Kuasa mendapatkan cobaan.“ Stevan berharap sekali mampu menyembuhkan sisi hati Cassy yang sedang sakit. “Itulah bedanya aku dan kamu, Stev!!!”

“Bedanya di mana?”

“Kamu mungkin terbiasa dengan sikap tidak saling mencintai sesama keluarga,“ jawab Cassy dengan suara yang pelan dan datar.

“Mana bisa dalam satu keluarga tidak saling menghargai satu sama lain?“ jawab Stevan.

“Bisa saja, Stevan! dan banyak contohnya. Mama dan papa mereka sibuk dengan bisnis dan ambisinya masing-masing. Sementara putra-putranya menjadi liar tak pernah tersentuh kasih sayang. Mungkin kamupun terbiasa bersikap acuh dengan mama dan papamu.”

“Kamu seperti psikolog Cassy! kalau mama papamu masih serasi dan bahagia, mengapa mereka berpisah?”

“Itulah manusia, Stev! dan akupun menjadi shok karena perpisahan mereka. Semua yang aku hadapi tiap hari hanya limpahan kasih sayang mereka berdua dan sebaliknya. Maaf Stevan, aku harap kita hanya sebatas sahabat saja tanpa lebih dari itu. Apa yang kamu pinta sebelum itu, akupun tidak mengerti. Kan sudah sewajarnya sesama karib saling menyayangi.“

“Cassy! OK! aku rela menjadi korban pelampiasan hati kamu, tapi jujur saja Cassy, aku tidak mampu jauh dari kamu,“ rintih Stevan seperti hari-hari sebelumnya selalu 4 bersikap seperti itu.

“Aku harap engkau bisa menjadi sahabatku, maka berilah aku kebebasan untuk menentukan apa yang ada di hatiku. Sungguh Stevan!, semua teman pria yang berada diseputarku, aku anggap sebagai teman biasa. Piss, Stevan!!!!“ Stevan tak mampu lagi memberi jawaban pada semua yang dikatakan Cassy, dia hanya pamit dan pergi.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Pak Chandra hanya mengusung sebuah senyuman yang menyuratkan bahwa dia tahu persis apa yang sedang menyelimuti hati dan perasaan Cassy. Maka dia sebagai kepala sekolah tanpa banyak bersikap menyalahkan Cassy. Pak Chandra hanya meminta Cassy untuk kembali terlibat aktif di try out terakhir minggu ini.

“Cassy apa kabar! Cinderella kita hadir lagi!” teriak Bram.

“Rencana hari ini kami semua akan ke rumahmu untuk meminta kamu comeback.“ Sahut Puguh ketua kelas mereka.

“Oh My God, bidadarimu kembali tampak di depan kita semua.“ Siska segera menyeruak ke tengah kerumunan mereka dan segera menyodorkan jabat tangan pada sahabat setianya. Sementara Stevan dengan langkah perlahan mendekati Cassy sambil juga menyodorkan tangan kananya untuk sebuah jabat tangan, dengan sebuah bisikan “Cass, habis try out aku antar kamu ke Bu Wulan” pinta Stevan. “Tidak usah Stev! Biar aku saja yang menghadap sendirian."

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



“Nah, kamu lihat tadi teman temanmu kehilangan kamu semua, kan Cass?”

“Iya bu!”

“Mereka semua tetap ceria dan aktif sekolah!”

“Mereka tidak punya masalah keluarga, bu!”

“Siapa bilang, Cass! Bu Wulan sebagai wali kelas, biasa mendapat pengaduan dari mereka. Mereka semua juga punya masalah sepertimu!”

“Tapi masalahnya lain dengan Cassy, bu!”

“Ya, betul, Cassy! Tetapi ada beberapa yang yang jauh lebih berat dari kamu.“

“Mereka semua tidak pernah cerita sama Cassy.“

“Kamu tahu Kimberly? dia diasuh oleh bukan ortunya sendiri. Sementara hingga kini dia pengin sekali bertemu dengan ortu kandungnya. Juga Nur Hayati yang mamanya dikabarkan meninggal di Arab, sedangkan bapaknya di rumah stress. Akhirnya Bu Wulan ikut membantu biaya sekolah, karena dia sebentar lagi ikut UN. Cassy! cerialah seperti sebelumnya!” pinta Bu Wulan.

“Iya bu! Cassy akan berusaha!”

“Cassy bahagia dan kesedihan dari setiap manusia, itu hanya tergantung dari sisi hati sebelah mana. Bu Wulan sudah lama mengamati kamu dan Bu Wulan kagum dengan pribadimu. Bu Wulan yakin kamu akan mampu mengurai derita hatimu! Untuk melupakan derita itu, cobalah kamu teruskan bisnis mamamu, kamu saya yakin mampu bisnis di bidang boutiq, menggantikan mamamu.”

“Cassy mengerti Bu!” Udara di siang hari itu kembali cerah, sang mentari tak lagi bermuka cemberut, demikian juga hati Cassy yang mulai benderang. Sementara itu sayap Sang Putri Negeri Kaca kembali berkepak lagi. (*)