Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2015

Berjalan di Atas Kaca

Berjalan di Atas KacaOleh: N Marewo

“Ceritakan padaku tentang keajaiban?” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan wsebatang rokok dari dalam bungkusnya. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita:

Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-hentinya memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang laying-layang dilepas. Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja.

Malam itu hari keempat. Kubuka mata yang berat. “Maha Suci Allah. . . ,” kataku dalam hati.mungkin mimpi. Tapi sepertinya bukan. Kulihat di mana-mana bintang beredar bagai kelap-kelip lampu yang kulihat di kolong jembatan itu. Di mana-mana air. Lautan luas. Kupandang samudera, seakan-akan apa yang terjadi benar-benar peristiwa sungguhan,

Bagas, Arlan, dan Parno terkulai tak berdaya. Kepala dan leher kami lemas seperti belut pingsan. Belum ada tanda-tanda akan terlihat perahu, atau kapal yang membantu. Hidup telah ditakdirkan. Maut kita bawa ke mana-mana. Bila ditakdirkan mati maka kuterima. Di mana hendak berlari? Bagaimana menghindari ajal? Ke mana minta perlindungan dalam samudera seluas itu jika tak berserah diri kepada-Nya? Dimana pula kita tak berserah diri? Kami akhirnya berempat. Sore yang murung perahu yang kami tumpangi tak tertolong. Badan perahu tenggelam seperti bekas kaleng minuman terinjak sepatu.

Suasana sangat histeris. Lautan tak berjarak dari langit. Para penumpang berhamburan menyelamatkan diri bagai abu tertiup dari asbak. Empat jeriken dan seutas tali sepertinya sedang menanti saat seluruh isi kapal tercebur ke laut. Kami melompat menuju jeriken-jeriken lalu mengikat tangan masing-masing pada tiap jeriken yang mendekati kami. Kami mengikrarkan janji – akan tetap bersama dalam keadaan bagaimana pun. Hidup atau mati tetap bersama. Kami tak hendak berpisah. Meski mati ingin jasad kami dalam keadaan terapung.

Teringat pesan ayah agar mengisap jempol bila mendapat musibah di lautan. Kulakukan dari hari ke hari. Kuisap jempol untuk menahan diri dari haus dan lapar. Anehnya, meski sangat lapar aku sedikit terbantu. Meski sangat haus agaknya bisa bertahan. Kita memang tak boleh takabur. Hidup tak cuma di lidah dan di perut. Kusuapi jiwa dengan apa yang dapat membantu bertahan. Namun sampai kapan terseret arus? Adakah diriku akan mati dengan cara itu? Apakah hidupku berakhir pada jeriken? Aku rela menerima segalanya bils ditakdirkan. Siapa sanggup menolak?

Parno membangunkanku dan kawan-kawan yang lain.

“Lihat!” katanya. Matanya berbinar. “Lampu-lampu,” tangannya menunjuk gelombang yang membukit.

“Lampu-lampu?” tanyaku.

“Kita sudah sampai,” katanya, tersenyum senang. “Sampai ke mana?” Bagas menanyakan.

“Sudah buta kau?” ia membentak, “Apakah kalian tidak melihat pulau sebasar itu?” “Tdak, Kawan,” jawabku. “Mana mata kalian? Sialan! Kita sudah dekat, sudah sampai. Itu pulau. Pohon-pohon. Kapal-kapal. Gunung. Tunggu apa lagi. Ayo kita berenang.”

“Berenang?” tanya Arlan, heran. “Berenang ke pulau itu, monyet.” Bukan pulau, Parno. Kita di tengah samudera. Lihat gelombang yang menggunung itu,” bantah Arlan.

“Sudah gila kalian. Kalian bilang gelombang itu pulau,” ia terheran-heran. “Biar aku sendiri yang pergi.”

“Ke mana?” tanyaku.

“Kenapa tanya?” ia terburu-buru hendak melepas tali dari jeriken.

“Tak ada pulau!” kata Bagas mengingatkan.

“Diam, bangsat! Nanti kau kubunuh!” katanya mengancam.

Kami terdiam, tak lagi berkata-kata. Hanya mata kami saling memandang – melihat saja apa yang ia lakukan. “Jangan ada yang menahanku,” katanya seraya mengeluarkan belati. “Siapa-siapa yang menahanku akan kubunuh.” Lalu ia memotong tali yang menyatukan tangannya dengan jeriken. Dikasihkannya aku belati sebelum ia berenang. Tampak seonggak tubuh terhadang ombak melawan arus. Kilauan cahaya dari deburan air hilang bersamaan dengan lumatnya teriakan histeris.



Malam bergeser. Hari berlalu. Kapal atau perahu yang diharapkan untuk memberi bantuan seakan cuma khayalan. Memang, pernah kusaksikan ada orang-orang menjaring ikan di malam buta. Kurasa mereka penghuni laut dan tak menggubris kami. Untuk bertahan aku masih mengisap jempol tangan dan kaki – mencoba tegar dalam kepasrahan. Subuh sebelumnya aku bermimpi mengunyah pisang bakar dan meneguk secangkir kopi. Mimpi-mimpi aneh.

Laut sarat keanehan. Kadang-kadang terlihat kota penuh lampu. Sering hidung kami mencium aroma ayam dan bebek panggang. Terkadang terdengar orang-orang mengobrol, dengusan ternak, suara kokok ayam, dan kicauan burung.

Bagas semakin payah. Aku juga. Arlan sama. Tapi Bagas gelisah sekali. “Aku mau sendirian,” katanya suatu pagi. “Kenapa berubah pikiran? Kita sudah berikrar hidup atau mati tetap bersama,” Arlan menanggapi.

“Ah!” Suaranya mendesis.

“Kau sendiri lihat bagaimana nasib Parno,” kataku memperigatkan.

“Memang. Tapi kalian punya rencana buruk terhadapku,” sahutnya dan membuang muka.

“Rencana apa?” Arlan bertanya.

“Kalian kira aku tidak tahu itikad busuk kalian. Jangan berpura-pura,” lanjutnya.

“Berpura-pura apa?” tanyaku.

“Kalian pikir aku tidak tahu? Diam-diam kalian bersekongkol mau memakanku, kan?”

“Wah Bagas. . . ,” kata Arlan. “Ingat, Kawan. . . .

“Ingat apa?”

“Ingat Tuhan!”

Bagas tak menggubris. Aku menggeleng. “Jangan lupa,” kataku, “hidup dan mati ditentukan oleh-Nya. Kita tak akan pernah bisa berlari. Dalam kapal emas yang penuh intan dan berlian pun tidak. Kalau ditakdirkan mati, ya mati.”

“Lepaskan!” teriaknya, “Kalian penjahat. Kok tega-teganya mau memakan daging teman sendiri.”

“Bagaimana mungkin kami berpikir memakanmu?!” kata Arlan.

“Percayalah,” kataku, berusaha meyakinkan, “Kita sudah berjanji sehidup semati.”

“Lepaskan aku,” tangannya mendorong tubuhku, “Aku tidak percaya pada kalian.”

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Lepaskan. Biarkan aku sendirian. Aku akan berenang.”

“Kau lihat sendiri gelombang itu. Ke mana hendak menghindar? Ini samudera, sobat. Tak bisa dilawan dengan nafsu. Alam tak tertaklukan.

“Lepaskan aku. . . kalian membawa sial.”

“Kau sadar nggak apa yanh kau ucapkan?” tanya Arlan.

“Sadar apa? lepaskan aku.”

“Pikirkanlah. . .”

“Tolong. . . . bantu aku,” pintanya menghiba.

“Tolong. Tolong aku. . .”

“Sulit kami lakukan,” kataku menanggapi.

“Terus terang, aku sangat tersiksa bersama kalian. Tolong. . . lepaskan aku.”

“Kalau itu maumu,” hatiku sedih tercabik-cabik. Aku tak tega memotong tali yang menyatukan jeriken dan tangannya. Tapi ia terus menghiba. Ajaib. Setelah dilepas tubuh Bagas terangkat ke udara. Seperti manusia terbang dalam film-film horror; naik beberapa meter di atas permukaan air. Mata kami takjub beberapa saat. Kakinya tidak menyentuh air seperti seorang yang dapat terbang. Tak lama berselang tubuhnya berputar makin cepat seperti gasing. Beberapa saat kemudian tubuh yang berputar merendah lalu naik beberapa meter sebelum akhirnya tercebur ke dalam air. Semacam jangkar yang dibuang, atau beton yang terlempar ke laut – tak kelihatan lagi. Hening. . . .



“Di serambi ini,” lelaki itu menepuk bahu bocah yang duduk di sampingnya, “Kita berada dalam lautan itu, Nak, dalam keadaan tangan terikat. Batang leher lunglai, bersandar pada jeriken. Tiap saat menunggu panggilan. Hidup seperti dedaunan yang bertuliskan nama-nama. Bukan soal kapan daun gugur sebab mati bisa kapan saja. Bagaimana mengisi hidup dan memahami wajah yang terpantul di kaca. Tiap saat bisa saja manusia berubah haluan seperti halnya Arlan yang berpikiran mengunyah dagingku. Bila pernah bertanya siapa yang menyimpan rasa pada buah-buahan. Bila memikirkan siapa memasukkan aroma pada benda-benda. . . .”

“Mau kopi, Paman?” tanya bocah itu.

Pamannya tak menggubris.

“Bukan samudera. Juga bukan daratan dan udara,” ujarnya. “Semua itu hanya ruang. Tetap saja kita akan menjadi mayat seperti tiga temanku. Kita tidak pernah tahu bagaimana meninggal, bukan menata kematian. Kita dalam perjalan memilih lorong untuk terus melangkah di atas cermin tak berkesudahan memantulkan segala yang dirajut dengan tangan, kaki, hati, dan pikiran.”

“Ibu sudah membuatkan kopi. . . .”

Ia mengenang aroma sate dan wangi kopi yang pernah dirasainya dalam mimpi. (*)

Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa

Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa Oleh: Ilham Q Moehiddin



Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota vyang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang menghisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya.

Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya. Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka: Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” kecam para Apua (tetua adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapat darinya, justru diberinya aku amarah. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panic ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.


Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya. Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang kumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka mencoba-coba mengubah kalimat keramat yang dipahatnya di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena mereka menistakan para pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Satu-satunya moral yng diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ketepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah di tenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.


Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apa pun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan pada setiap orang yang datang ke sini, padaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa pendahulu memilih kekal di dasarnya. –Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga humbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—“

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya. “Cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas – siapa pun yang dilarang dengan kalimat bernama seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.



Mendongaklah – saat kau menda-pati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kedpatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan ditugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku.

Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa. Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku um\ntuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.” Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Terima saja keadaan kami. Kau tahu – kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingijn jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau padaku lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang dibelakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—“ Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dxasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu – jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan – banyak sekali.” Suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.” Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)



Selasa, 28 April 2015

Sang Idola

Musim kemarau belum juga berakhir. Terik matahari terasa begitu menyengat, seakan menembus kulit. Pak Imam baru saja keluar, menuju tempat parkir. Sebelum mengeluarkan kunci kontak, dia mengambil saputangan dari saku celana, menyeka keringat di wajah dan dibalik kerah bajunya.

Anak-anak kelas dua dan tiga yang berada di kantin sekolah, melihat pemandangan itu sebagai sesuatu yang tidak biasa. Mereka bertanya-tanya tentang kepergian Pak Imam yang tampak begitu tergesa-gesa. Pada jam istirahat begini, jarang sekali ada guru yang keluar. Adakalanya beberapa orang sering datang ke kantin secara berombongan duduk mengelilingi sebuah meja. Mereka makan atau minum sembari ngobrol.

Drs Imam Hanafi adalah guru agama di sekolah menengah atas itu. Banyak siswa yang mengagumi sosok Pak Imam yang ramah dan murah senyum. Begitulah penilaian mereka. Namun ada juga beranggapan, harusnya Pak Imam tidak menjadi guru, pantasnya jadi pemain sintron atau menjadi penyanyi seperti Maher Zain.

Pernah juga salah seorang guru wanita berkata bahwa Pak Imam adalah figur seorang pria yang “elok rupa bagus tabiat”, betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan suami seperti dia.

Tetapi keadaan ini telah menyulitkan posisi Pak Imam, membuatnya serba salah karena menjadi batu sandungan untuk mendapatkan simpati dan predikat guru idola. Hari ini sikap guru agama itu lain dari hari biasanya. Tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, juga tidak tersenyum. Tiga hari berturut-turut Pak Imam tidak menampakkan wajahnya.

Pada keesokan harinya juga merupakan hari keempat Pak Imam tidak muncul di sekolah itu, tiga orang siswa kelas dua dan tiga, bergerombol, berbisik-bisik. Mereka baru saja mendapat bocoran bahwa Pak Imam kena skorsing.

Konon hal itu disebabkan Pak Imam dinilai telah bertindak tidak tegas dan tidak memberikan sanksi setimpal kepada kepada seorang siswa yang kedapatan menyimpan sebuah pisau kecil ditasnya. Padahal sesungguhnya Pak Imam sudah memberikan teguran keras agar perbuatan itu tidak terulang lagi. Menurutnya peringatan yang ia berikan sudah cukup untuk kasus yang baru pertama kali terjadi.

Namun tidak demikian yang dikehendaki Bapak Kepala Sekolah, Drs Muntahar. Nah, dari sinilah awal mula selisih paham itu. Sebenarnya, semenjak Drs Muntahar bertugas selama setahun terakhit di sekolah tersebut, memang sudah beberapa kali beda pendapat dengan Pak Imam.

Kali ini Pak Muntahar benar-benar merasa tersinggung, dengan cara-cara Pak Imam yang dinilai seakan-akan tidak mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkkan. Menurut Pak Muntahar, tindakan semacam itu secara tidak langsung telah melecehkan kewenangannya sebagai kepala sekolah. Dan itu tentu saja tidak boleh dibiarkan.

“Saya atasan di sini, semua guru, murid atau siapa pun yang berada di sekolah ini harus mematuhi setiap kebijakan yang telah saya tetapkan.”

Sebaliknya Pak Imam berpendapat, meski dirinya bukan kepala sekolah, tetapi dia senior. Atau paling tidak, dialah salah seorang guru yang terlama bertugas di sekolah itu. Bahwa dalam rentang waktu tidak kurang dari delapan tahun dia mengajar, sepertinya belum pernah ada masalah serius yang terjadi di sekolah tersebut.

Namun sesungguhnya, ada beberapa kebiasaan d sekolah itu yang kurang disetujui Pak Imam, tetapi oleh guru-guru yang lain, bahkan kepala sekolah pun beranggapan sebagai hal yang biasa. Salah satunya adalah aksi saling coret baju seragam saat kelulusan. Dalam pandangan Pak Imam aksi coret-coret baju itu tidak ada manfaatnya, justru mubazir.

Menurutnya baju-baju itu masih bisa dimanfaatkan, diberikan kepada mereka yang membutuhkan umpamanya. Yang lainnya adalah tradisi yang dilakukan oleh para siswa senior saat masa orientasi siswa (MOS). Pak Imam berkeinginan agar panitia MOS tidak bergaya seperti tuan besar, atau bertingkah laku layaknya jagoan yang adakalanya overacting.

Tingkah laku semacam itu tanpa kita sadari telah memberi contoh kurang baik. Menanamkan perilaku tidak mendidik kepada generasi mendatang. Tanpa disengaja seolah-olah menolerir sikap arogan yang dengan sendirinya cenderung menyukai kekerasan.


Kini tiga bulan telah berlalu dan kemarau panjang pun telah terlewatkan. Dalam masa peralihan cuaca itu, banyak hal telah berubah. Di lingkungan sekolah, juga pada diri Imam Hanafi. Guru agama yang kini menghilang. Curah hujan yang mengguyur bumi, mengalirkan sampah dan kotoran ke dalam got dan sungai.

Seiring dengan itu, tergerus pula jejak-jejak kaki Imam Hanafi, yang pernah beberapa tahun mengabdi di sekolah itu. Sekian tahun pula dia mencoba menerapkan nilai-nilai kebaikan kepada semua orang, terutama kepada anak didiknya.

Dengan segenap kemampuan dia berupaya agar setiap pribadi bersedia menjalani kehidupan ini dengan ikhlas. Berusaha penuh keyakinan untuk selalu melangkah di jalan yang lurus, jalan keselamatan duniawi dan ukhrawi. Dan selalu berharap semoga di bumi persada ini selalu ada orang-orang yang dengan sukarela meneladani perilaku para Rasul pilihan.

Waktu berjalan begitu cepat, hari-hari pun berlalu tanpa terasa. Para guru dn murid-murid tampaknya sedikit demi sedikit mencoba menghapus bayangan pribadi Imam Hanafi dari kenangan mereka. Meski sesungguhnya, banyak peristiwa meresahkan telah terjadi akhir-akhiir ini. Pernah dua orang wali murid mendatangi sekolah itu dengan segenap kemarahan. Kedua wali murid itu memprotes keras tindakan salah seorang guru yang telah menghukum dua orang siswa sampai memar.

Dan hari ini, tiba-tiba saja guru agama itu muncul. Kunjungannya yang hanya beberapa saat itu, tak ubahnya bagaikan malaikat yangturun dari langit. Dia tampil di halaman sekolah dengan setelan kemeja batik berlengan panjang. Keluar dari mobil Xenia berwarna silver, langsung menebar senyum seperti biasa.

Tetapi wajah itu kini memancarkan aura yang lain. Terkesan lebih segar, dan yang pasti lebih berwibawa. Saat itu jam istirahat. Tanpa aba-aba mantan murid-muridnya langsung merubungi, menyalami, dan bersorak sebagai luapan kegembiraan. “Mobil baru ya, Pak,” sapa mereka. “Ah, ini mobil teman, bapak hanya pinjam,” sahut Pak Imam merendah.

Guru-guru pun keluar seorang demi seorang menyapa dan menyalaminya. Yang terakhir adalah kepala sekolah, meski terlihat sedikit kikuk. Imam Hanafi mengangkat kedua tangannya: “Anak-anak, tenang, saya hanya ingin berpamitan,” katanya sembari tersenyum. “Lho, mau berpamitan ke mana Pak?” tanya para siswa serempak.

“Saya mendapat pekerjaan di satu perusahaan swasta,” ucap Pak imam dengan suara datar. “Yaaa...,” teriak para siswa pertanda kekecewaan yang mendalam. Lagi-lagi Imam Hanafi tersenyum. Kemudian untuk kedua kalinya menyalami para guru yang sedari tadi hanya berdiam diri, juga kepala sekolah. Mereka berdua berpelukan. Dari wajah kedua orang itu terbersat keharuan yang tak terucapkan.

Dan para siswa pun spontan berteriak: “Hiduuup, Pak Imam.” (*)

Gang Bunglon

Gang Bunglon

Jalan selebar tiga setengah meter itu memiliki nama: Jalan Rawa. Penduduk setempat menyebutnya Gang Rawa. Jalan itu memiliki sebuah ujung berupa tembok yang tinggi yang memisahkan sebuah perumahan elite dan kampung Gang Rawa itu.

Gang Rawa memiliki lima anak gang, masing-masing memiliki: Rawa Ular, Rawa Katak, Rawa Kadal, Rawa Bajul,, dan Rawa Bunglon. Nah, seorang kawan yang saya kunjungi tinggal di anak gang paling ujung, Gang Rawa Bunglon atau Jalan Rawa Bunglon. Di sana ia menyewa sebuah kamar yang menyempil di loteng rumah induk.

“Di sini memang agak sepi dan berantakan, tapi sewanya murah, itu yang penting,” ujar kawan saya bangga, seolah-olah beroleh sewa kamar dengan harga murah akan menjadikannya seorang jutawan. Sebuah kamar di atas loteng itu berhadapan langsung dengan teras sempit yang tak beratap, yang digunakan untuk menjemur pakaian, pakaian si bapak kos, juga pakaian kawan saya, si penyewa kamar. Disana ada empat kawat jemuran yang silang menyilang seperti rambatan pohon markisa. Sarung, celana, dan baju kumal tersampir seperti gembel yang digantung. Sebuah celana dalam kering dan buruk tergeletak tak berdaya di lantai yang juga buruk.

Aku beranggapan bahwa pemandangan di sekitar kamar dan jemuran itu akan membuat seseorang cepat mati. Kamar di loteng itu cukup sempit, hanya cukup untuk meletakkan dipan kecil serta sebuah lemari dan rak buku. Di belakang pintu, pakaian menggelantung dan menjadi sarang nyamuk.

Di depan kamar, di samping pintu, sebuah tempat sampah terguling oleh tingkah kucing kelaparan, tulang ikan, tulang ayam, berceceran di antara kertas minyak lecek bekas bungkus nasi. Secinta apa pun seseorang pada kebersihan, ia akan mengalami dilemma besar kalau tinggil di kamar sempit dan rumit seperti kamar yang disewa kawan saya itu. Bagaimanapun, murah memang lebih dekat dengan murahan.

Menurut kawan saya, bapak kosnya adalah seorang duda. Ia bercerai dengan istrinya dan anaknya yang cuma semata wayang ikut istrinya. Bapak kosnya itu tidak punya pekerjaan yang jelas. Tapi, setiap pagi, ia pergi ke warung Padang atau sesekali ke warung lalapan atau lain kali ke warung gudeg yang berbaris di ujung Gang Rawa, dekat jalan raya.

Setiap pagi bapak kosnya itu membungkus nasi tiga porsi sekaligus untuk jatah makan sehari-semalam. Ia jarang keluar rumah dan tak pernah memasak karena di rumahnya yang kecil itu memang tak ada kompor.

Kawan saya tahu bahwa bapak kosnya tak punya kompor karena untuk naik ke kamarnya di atas loteng itu, kawan saya melewati dapur rumah itu dan menaiki tangga curam yang ada di sana. Di dapur itu tak ada apa pun kecuali meja tua yang teronggok, yang di atasnya berselengkatan wadah-wadah bumbu yang berdebu serta dua buah ember untuk mencuci baju. Di sebelah meja itu ada sebuah kamar mandi yang pintunya selalu terbuka seperti mulut yang memble. Sebuah panic dan sebuah wajan tergantung di dinding dan tak pernah berubah posisi, sepanjang hari, selama kawan saya menyewa kamar di loteng rumah itu.

“Kecuali kalau bapak kosku yang ajaib itu meletakkan kompornya di ruang tamu atau di dalam kamar tidur,” celetuk kawan saya sambil terkikik.

“Jangan berkata sembarangan, nanti bapak kosmu dengar.” Saya mengingatkan. Dan ia malah menyebut bahwa bapak kosnya sedikit tuli. Hampir setiap petang kawan saya memutar musik dangdut koplo keras-keras dan bapak kosnya tak pernah menegur.

“Bapak kosku memang tak pernah naik ke loteng kecuali saat menjemur pakaian dan mengangkat jemurannya, itu pun seminggu sekali,” imbuhnya.

Dan kawan saya pun terus saja mengoceh, bahwa sebenarnya ia menelepon saya supaya datang ke kamar lotengnya bukan untuk membicarakan lelaki tuli yang tak punya kompor di rumahnya, melainkan menunjukkan sebuah cincin batu akik berwarna hijau tua.

Konon, cincin itu benda berharga peninggalan kakeknya. Dalam batu berwarna hijau itu konon ada jimat yang bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan. Dari cara kawan saya memaparkan dan tersenyum pada saya, saya tahu ke mana pembicaraan itu dibawanya.

“Nah, ceritanya aku sedang butuh duit, butuh sekali, mendesak. Makanya aku mau minta tolong sama kamu, pinjami aku duit, tak banyak, lima juta saja, cincin itu yang jadi jaminannya,” ujarnya malu-malu. Dan tebakan saya tidak meleset, setengah persen pun.

Saya tak tahu harus menjawab apa. Saldo dalam rekening saya mungkin tak sampai lima juta. Dua koran yang memuat tulisan saya sebulan terakhir ini, belum mentransfer honor yang menjadi hak saya bukan tipe orang tegaan, akhirnya saya bilang, “Wah bagaimana, ya.... kalau lima juta saya tidak ada.”

Kawan saya memicingkan matanya sebagai ungkapan tak percaya, atau mungkin untuk mngelabuhi rasa malunya. “Kamu kan penyair. Kudengar puisimu sering terbit di Koran Minggu, pasti honormu cukup lumayan. Belum lagi buku barumu yang rilis bulan lalu itu.”

Ya Tuhan, saya hanya tersenyum. Kalau kawan saya ini tahu seperti apa kondisi keuangan para penyair, khususnya penyair pinggiran macam saya, tentu ia akan patah hati.

“Aku minta maaf, aku benar-benar tidak ada kalau lima juta,” saya meyakinkannya sambil memandangi cincin batu akik berwarna hijau tua yang terus-terusan ia timang seperti butiran dirham. Sejenak terpikir oleh saya untuk bertanya kepadanya, kalau cincin itu memang bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan kenapa ia harus repot-repot cari pinjaman uang pada seorang penyair yang tak tentu arah macam saya.

Saya benar-benar hampir melontarkan pertanyaan itu ketika tiba-tiba kawan saya menyambar, “Tidak lima juta tidak apa-apalah. . . . empat juta atau tiga juta juga boleh.” Pernyataannya membuat saya kembali berpikir, bahwa saya juga butuh uang untuk makan sehari-hari, beli pulsa, bensin, dan membayar uang kontrakan. Apakah saya benar-benar rela meminjami kawan saya ini uang? Tapi, sungguh, kawan saya ini sangat pandai memasang tampang memelas hingga siapa pun yang memandangnya akan langsung menyayanginya. Kawan saya ini, saya mengenalnya hampir setahun lalu di sebuah perkumpulan Seniman Pinggir.

Wajahnya sepolos kain kafan. Ia memang tak pandai membuat puisi atau menulis cerpen, tapi ia ahli bermain teater. Ia pernah bilang pada saya bahwa ia bisa memerankan banyak peran secakap bunglon mengubah warna kulitnya.

Kami cepat akrab karena tampaknya kawan saya ini pandai mengakrabi siapa pun. Ia juga mengaku menggemari puisi-puisi saya. Ia kerap membaca puisi-puisi saya di Koran Minggu, katanya puisi-puisi saya hidup dan memiliki nyawa.

Selain kondisinya yang tampak menyedihkan, mengingat ia juga penggemar saya, akhirnya dengan napas naik turun, saya pun berkata, “Bagaimana kalau dua juta.”

Kawan saya pura-pura kecewa, padahal matanya sudah tersenyum lebar. Dengan nada murung yang penuh kepalsuan ia menyerahkan cincin batu akik berwarna hijau tua itu sambil berujar, “Ya sudahlah, dua juta tidak apa-apa.”

“Aku transfer saja, ya?” kata saya sedikit berat, entah kenapa. Kawan saya mengangguk lantas mendektekan nomor rekeningnya.

“Dua bulan lagi aku kembalikan, tolong jaga cincin itu baik-baik, itu satu-satunya barang berharga peninggalan kakekku.” Saya mengiyakan semua omong kosongnya dan membawa cincin itu pulang. Satu bulan kemudian, ketika saya iseng-iseng mengunjungi kamar sewanya, bapak kosnya bilang bahwa kamar itu telah disewa orang lain.

“Bocah sinting itu kabur dan berhutang uang sewa satu setengah bulan pada saya,” ujar bapak kosnya dengan geram. Saya segera sadar bahwa uang dua juta yang pernah saya transfer ke rekeningnya juga turut kabur bersamanya dan tak bakal tahu jalan pulang.

“Kurang ajar, dasar bunglon,” tiba-tiba saya memaki, makian yang saya tujukan pada bunglon yang pandai bermain teater itu. “Dia juga pinjam uang saya dua juta....,” lanjut saya. Saya bukan tipe orang yang suka memaki dan membuka aib orang lain, termasuk menceritakan hutang orang-orang kepada saya, tapi uang dua juta yang melayang begitu saja begitu saja karena kebodohan diri sendiri bisa membuat penyair mana pun kalap.

“Bocah itu juga kabur setelah mengambil cincin batu akik hijau tua milik saya,” imbuh bapak kos-nya. Saya sedikit memicing mendengar lelaki paro baya itu menyebut-nyebut cincin batu akik hijau tua.

“Biarpun tampak seperti batu akik tua biasa, tapi cincin itu cincin emas, dua puluh lima gram. Itu harta simpanan saya,” tambahnya pula. “Saya yakin bocah itu yang mengambilnya. Hari itu ia masuk ke kamar saya untuk meminjam setrikaan, dan malam harinya, ketika saya naik ke kamar loteng untuk mengambil setrikaan, kamar itu sudah kosong. Esok harinya saya baru sadar kalau cincin itu sudah lenyap dari tempatnya.”

Saya tak menimpali gerutuannya, tapi saya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Tangan saya mengepal erat-erat. Dalam salah satu saku celana saya, sebuah cincin batu akik berwarna hijau tua seperti berlompatan, ingin keluar dari tempatnya.

Minggu, 07 September 2014

Makam di Bawah Jendela

Makam di Bawah Jendela

Oleh: Ilham Q. Moehiddin



Muraj membuat Damha ketakutan dan hampir mati tersedak lidahnya sendiri. Begitulah awalnya. Entah bagaimana Muraj memilih seorang lekaki serapuh Damha, lelaki yang selalu mengira tak memiliki nyali dan merasa telah ditinggalkan siapa pun.

Apa yang diinginkan Muraj dari lelaki yang 25 tahun hidupnya disita derita itu. Kematian demi kematian mengelilinginya. Ayahnya mati sebelum sempat ia dilahirkan, lalu ibunya menusul mati tiga bulan setelah ia lahir. Ia disusui oleh seorang wanita paruh baya yang juga baru saja mati tiga tahun lalu. Dua adiknya, mati sekaligus dalam kecelakaan lalu lintas

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Muraj memberi Damha perintah untuk ia patuhi. Perintah yang bagai selubung besar membungkus tubuhnya. Damha terintimidasi oleh sebuah perintah sederhana. Ya. Perintah sederhana yang mendentam di kepala serupa palu pada lonceng.

"Katakanlah," bisik Muraj

Tetapi Damha tidak sedikit pun memahami keinginan Muraj. Lelaki itu terdiam mematung, sehingga Muraj harus menumpahkan ampas kopi ke atas meja kerjanya. Muraj mengacak-acak ampas kopi itu dengan kaki-kaki kecilnya.

"Makhluk apa kau ini?!" desis Damha pada sosok di depannya itu.

"Aku Muraj," jawab sosok itu seraya mengirik seperti hantu kecil yang kerap bergelayut di punggung setiap orang alim dan berusaha menikamkan godaan ke hati lewat telinga mereka.

Muraj mendekut serupa setan Morrou yang senantiasa menunggui orang-orang agar tak terjaga dari tidur mereka saat Subuh. "Katakanlah!" Muraj memerintah Damha sekai lagi. Ia ingin agar Damha menurutinya.

Perintah yang membuat lelaki itu nyaris menelan lidahnya sendiri karena ketakutan. Muraj melompat ke atas meja tik, menghentak-hentakkan kakinya, membuat pita karbon di mesin itu kusut-masai. Makhluk itu tampaknya tak perduli pada ketakutan lelaki di depannya.

"Apa akan kau habiskan ubi ini?" Muraj justru menunjuk dua potong ubi rebus dalam piring porselin di meja Damha.

Belum sempat Damha menggeleng, Muraj menyambar dua potong ubi itu, lalu menghabiskannya dalam sekali telan. Makhluk itu lalu bersandar pada penyangga buku menggesekkan tubuh seperti seekor kucing yang gatal, sebelum menarik penyangga itu dan membuat buku-buku roboh.

Ia cekit lembaran-lembaran buku sehingga robek dan melemparkannya ke lantai.

"Jangan... jangan lakukan itu," Damha memelas.

"Memohonlah padaku!" desis Muraj. "Kau bahkan tak berani melakukannya, bukan?" ejeknya.

Damha menggeleng. Sendi-sendinya lunglai, belulangnya seperti karet. Wajahnya kebas.

"Aku tak akan melakukannya padamu. Kau hanya seorang makhluk, bukan Tuhannya Musa, Isa, atau Muhammad.

Muraj mengirik. Sayapnya mengepak, lalu ia terbang hingga ke dada Damha. "Jangan menguji kesabaranku! Kau tak pantas menyebut zat yang tidak kau kenali," ujarnya marah. Dahma terlanga. Jemarinya lengket dan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Ia mengatupkan mata, berharap saat membukanya kembali, apa yang kini terjadi di depannya ini hanyalah mimpi belaka.

"Petang yang celaka, wahai jahanam!" rutuk Damha ketika membuka mata dan masih menemukan Muraj di atas dadanya. Ia terperangkap bersama makhluk itu dalam situasi yang aneh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali cemas dan mengasihani dirinya sendiri. Ia berharap ada Marya di baik pintu yang segera menariknya keluar dari kamar ini. Tapi itu tak akan terjadi. Baru dua jam lalu Marya berlari pergi dari kamar ini. Ia marah karena Damha tak sengaja menyenggol dadanya

Kebetulan yang luar biasa, bukan? Muraj datang saat Marya tak bersamanya. Saat tak ada orang lain yang ia harap bisa menolongnya. Perut Damha berkecamuk, seperti gemuruh laut yang membadaikan petaka.

Hoeeek... Damha muntah. Ia keluarkan sepotong ubi yang belum a cerna baik-baik.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Mengenai Muraj, sosok aneh yang mendatanginya itu, lebih serupa burung kecil dengan bulu halus berwarna kuning. Saat Muraj bicara, dari punggungnya merentang sayap berwarna pelangi. Tetapi Muraj tak menemui Damha sebagaimana cara setan Morrou muncul dari bawah ranjang. Sosok kecil itu masuk lewat jendela yang terbuka, lalu semena-mena mengintimidasinya.

"Krrr..." Muraj mengrik pendek. "Katakanlah!" ia mengulangi lagi perintahnya.

"Apa?" Damha susah-payah melawan teror di dadanya.

"Katakanlah atas nama Tuhan!"

"Tuhan yang mana? Siapa?"

Tuhan yang menciptakan dan meniupkan cinta!"

"Aku tidak bisa nengatakan apa pun? Aku bukan penyair!"

"Tetapi kau seorang pecinta." Muraj tersenyum.

"Katakanlah!" Suara Muraj tiba-tiba meninggi lagi, membuat telinga Damha berdenging. Lelaki itu benar-benar kepayahan.

"Katakanlah Tuhan dalam cinta!" Muraj terus memerintahnya.

"Aku bukan pecinta," Damha keras kepala.

"Ulangi kata-kataku! Oh, Tuhanku yang penuh cinta," uraj tak peduli.

"Oh, Tuhanku yang penuh cinta!" Damha menyerah.

Muraj segera menyambung, "Aku akan mematuhimu dalam cinta!"

Tetapi Damha terdiam. Kepatuhan? "Kepatuhan pada siapa?"

Muraj merentangkan sayap kecil yang pelangi itu. Matanya memancarkan cahaya merah. "Ulangi saja kata-kataku!" teriaknya. Telinga Damha berdentang. Ia mengeriap.

"Patuh padamu, atau pada Tuhan? Muraj mendengus. "Kau pikirkan itu sampai aku datang lagi!" serunya dan buru-buru melesat terbang lewat jendela.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Marya mengizinkan Damha menemuinya dekat air mancur di alun-alun kota. Gadis itu merengut saat Damha berjalan ke arahnya, lalu tanap basa-basi ia meninju perut lelaki itu.

"ku tak bermaksud membuatmu malu," Damha meringis memegangi perutnya. Gadis itu tak menyahut. Ia merogoh sakunya dan menjentikkan sebuah koin tembaga 25 sen ke dalam kolam air mancur. Di dasar kolam, koin-koin berkilat lembut terpapar cahaya. "Mohonlah sesuatu, Damha," pinta Marya.

"Memohon untuk apa?" Damha balik bertanya. Marya tersenyum. "Berdoalah. Mintalah sesuatu." Damha mengusap wajahnya. Ia memilih duduk. "Itu tak penting sekarang ini."

Marya memutar tubuhnya. Ia kaget. "Kenapa tak penting? Kau perlu berdoa."

"Sesuatu telah mendatangiku." Nada suara Damha membuat Marya cemas. "Siapa?" Gadis itu langsung merespons lelaki di sisinya.

"Muraj." Damha berharap Marya tak menyangkanya sudah gila. "Ia sosok yang menghantui kamarku."

"Kau gila, Damha! Di saat bersamaku pun kau lebih suka bicara tentang hantu." Damha menyerah. Gadis itu baru saja membenarkan kegilaannya. Tapi, hantu itu bicara tentang Tuhan." Mulut Marya terbuka dan ia membungkuk memegangi perutnya. Lelaki di sisinya itu berhasil membuatnya terbahak. Marya mengibaskan kepalanya, matanya menyorot tajam.

"Jadi Muraj ini sejenis hant yang alim?" Damha tiba-tiba merasa canggung dengan pembicaraan ini. "Sudahlah. Aku tak mau membahasnya lagi."

"Jangan merajuk begitu," kelucuan di wajah gadis itu belum usai. "Aku percaya padamu. Ia memang hantu, dan ia datang setelah kau menyentuh dadaku." Damha benar-benar menyerah dengan sindiran Marya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Marya adalah satu-satunya orang yang masih mau bicara padanya. Orng-orang menghindarinya karena menyangka ia dikelilingi maut. Marya tak peduli pada dugaan orang-orang. Ia menyukai Damha, walau lelaki di depannya itu tak pernah menyadarinya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Muraj mendarat keras di lantai kamar Damha. Makhluk itu tampak payah. Sebelah sayayapnya membentang lunglai, sebelah lagi tertutup darah kering. "Inikah hantu yang kau bicarakan itu?" bisik Marya ke telinga Damha.

Damha mengangguk. "Ya. Dialah Muraj." Tapi Marya tak peduli siapa pun namanya. "Kanapa sayapnya berdarah?" Damha berlutut dan mendapati Muraj yang bergeming lemah. Makhluk itu bernapas nyaris senyap. Marya teringat lagi pada kisah neneknya.

"Ia seperti tak bernapas lagi." Damha membalikkan tubuh Muraj agar terlentang. Marya merengut. "Ini burung, bukan hantu. Tak ada burung yang bisa bicara. Kau berhalusinasi, dan bodohnya aku mempercayaimu!" rutuk Marya berdiri dari jongkoknya. Muraj membuka matanya. "Marya, aku bukanlah malaikat pembangkang. Malaikat patuh yang nenekmu maksud dalam ceritanya itu adalah malaikat yang kini kerap menghalau dirimu mematuhi Tuhan. Ia tidak menyukai cinta."

Marya gelagapan. Mulutnya tiba-tiba terkunci. "Cinta," Muraj mengirik pada Damha, "Aku harus menuntaskan tugasku. Damha, kata pertama yang diajarkan Tuhan pada manusia adalah cinta. Katakanlah bahwa Tuhanmu menciptakan cinta. Cintailah setiap makhluk Tuhanmu."

Sudah kukatakan aku bukan pecinta. Aku tak pernah melihat wajah ayah dan ibuku." Damha tertunduk. "Bagaimana mungkin aku mencintai orang-orang yang tak pernah aku temui?"

"Jangan cemas, Damha. Bukankah kau mencintai Tuhan, sedang kau tak pernah melihat-Nya? Aku tahu, kau bisa mencintai dua orang tuamu. Bersabarlah Damha. Kita akan bertemu lagi." Napas Muraj kian tipis, matanya mengerjap lemah. "Oya, Marya," sapa Muraj, "nenekmu menitipkan salam dan rindunya untukmu." Muraj tersenyum dan mengatupkan mata. Tak ia buka lagi dan benar-benar pergi.

Mengenai luka di tubuh Muraj, luka yang membuat Muraj menemui kematiannya itu adalah luka peluru senapan. Muraj tertembak penembak jitu saat ia melintasi kota yang dikepung huru-hara. Saat orang-orang begitu bernafsu membunuh cinta. Mereka membakar, menjarah, membunuh dan memerkosa. Walau tertembak, ia tetap datang memenuhi janjinya. Damha dan Marya memakamkan Muraj di bawah jendela.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Molenvlient, Januari 2014
Ilham Q. Moehiddin, satiris, menggemari Ambrose Bierce Gwinnett.


Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 17 Agustus 2014

Minggu, 03 Agustus 2014

Nol Berhamburan

Nol Berhamburan

Oleh: Abidah El Khalieqy



Terasa nyaman waktu. Sebab kita tak sendiri. Sinyal-sinyal indah meretas jarak antara langit dan bumi. Makin kuhikmati dirimu. Semestamu. Makin terang cahaya di atas lembaran buku-buku. Nol berhamburan. Keramaian politik bergeming memmbaca rindu alif-ba-ta-mu.

Membentang luas cakrawala di cekung matamu. Gugusan awan mencair, menjelma hujan. Hilang jarum jam dari dari menit dan detik. Namun api di dada masih tetap membara sampai jua rinduku di titik nadir. "Turunkan rindu ini. Cintaku, aku tak kuat lagi!"

"Ke mana akan turun, rindu itu selamanya surga."

"Surga pertama atau kedua?"

"Lebih dari Adam dan Hawa, dalam rindu kita tak ada surga kedua."

"Ke mana pun, asal tak di sini. Aku ingin meloncat keluar!"

"Jangan! Nanti terpercik api."

"Sesekali aku ingin terjilat."

"Jangan berlebihan! Kau nanti bisa hangus."

"Oleh apa?"

"Api cinta!"

"Seberapa kobarannya?"

"Lebih membakar dari tujuh jahanam."

"Tapi aku ingin, sesekali merasai kobarnya."

Rupanya, bukan aku saja yang terbakar. Engkau pun terbakar seperti para muda kasmaran cinta. Matamu merah. Senyum bibir di wajahmu juga merah. Aku terpana, menatap cahaya menyinar dari aorta seluruh tubuhmu. Sepanjang langitmu serasa cerah.

"Katanya dah siap menjadi Rabiah?"

"Otomatis! Jika kau juga serupa Ibrahim Adham!"

"Jadi?"

"Kita mesti mengembara, memadamkan api di dada."

"Bukan! Tapi menaklukan rimba. Semesta rimba raya."

"Termasuk rimba diri?"

Entah! Berjuta jam berdetak di jantung. Ingin turun dari langitmu, menjejak fakta di bumi cinta. Mengharu biru jejak rindu. Seberangi tujuh lembah, tujuh samudera, tujuh gunung, dan tujuh belantara. Hingga fajar ditembus mentari, berbilyun watt cahaya. Menikahkan langit dan bumi, aku dan engkau, semarakkan jagat sunyi. Surga abadi turun dari galaksinya, menawarkan buah khludi.

Seperti butir debu yang pertama kali merangkaiku, debu demi debu menggulung tubuhku. Maka terbanglah aku merunuti semesta, keliling memutari timur yang jauh, barat yang sekarat, di balik kutub utara dan selatan, amblas terbenam ke dasr bumi. Coba mengingat dan mengenangmu tanpa jeda sampai kita dipertemukan di alam, saling berpacu dalam melodi cinta.

Dan kini kita telah kembali, dipangku hijau bumi. Putik-putik rindu menguntum lalu mekar. Lahirlah kata-kata, puisi dan cinta. Kueja satu per satu frasanya, melintasi doa, coba pisahkan aku dan kau dalam kerinduan. Bermiliar galaksi menyusun bintang. Mengedar planet dan bulan, berenang sepanjang garis edar dalam keserasian. Aku dan kau yang ditetapkan baginya, tak kuasa.

Aku pun pulang dan kembali dalam rumah kehidupan. Merawat cinta di bawah matahari. Tapi efeknya, wajahku kehangusan, lidahku kelu menjawab pertanyaan.

"Kau ingin pergi dari nyata?"

"Bukan! Aku hanya ingin melihat wajahmu di cerminku."

"Tak perlu, akan kuambil seluruh cermin agar kau bisa tetap merawat cinta."

Sungguh ajaib. Kata tetangga, wajahku cemerlang penuh cahaya. Bersama keikhlasan yang tak rampung kumengerti, aku sedih karena tak bisa lagi menikmati wajah tampanmu.

Aku sabar mengingat pengorbanan cinta walau purnama berganti seribu kali.

"Jika rindu menyergap, tatap lekatkah langit cintamu?"

"Yups! Separo wajahmu tergambar di sana."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Ehm, aku agi siap-siap untuk..."

"Untuk apa? Jadi relawan bumi pertiwi penuh korupsi?"

"Bukan! Aku ingin..."

"Ingin menjadi relawan penjajah negeri?"

Wajahmu membiru, senyummu kaku. Aku tak kuasa ingin meraihmu. Mencabut kembali tanyaku. Sendu pilu mendera aorta. Awan berarak di ubun-ubun. Matahari tidur dan angin ikut libur. Nyeri di dada kian mematri.

"Ya. Seperti rencana semula. Aku ingin bertapa di dasar jiwamu."

"Agar aku tak repot jika ingin menyusulmu?"

"Kalau tak sanggup, biarlah cinta kembali bersamaku."

"Mana mungkin? Tinggal ini kenangan, aku bisa mati tanpa cinta."

"Jika begitu, aku berangkat duluan nuju kerajaan."

Kerajaan siapa?"

"Ibrahim Adham!"

"Dan aku...?"

"Rabiah Adawiyah!"

"Jika kukatakan, pemenuhan tugasmu lebih tinggi nilai dibanding senyap gua Rabiah, aku tak yakin kau tak bakal membantah."

"Begitukah?"

"Ya. Telah mendalam aku selam. Aku hapal luar dalam."

"Tentang apa?"

"Cinta dan kerinduan. Mahabbah dan Sauqiyah. Aku dan kau."

"Haha! Sok tahulah! Tapi benar juga. Masa kita sama manusia, tempuhan jalan mesti berbeda. Rasa-rasanya, aku ingin, kita berangkat bareng bertiga."

"Bahkan Ibrahim Adham pun cemburu. Untuk apa lagi ia harus ikutan nuju istana itu? Istana, kerajaan, dan mahkota, telah tersemat lekat di atas kepalanya. Engkau pangeranku..."

Tatapmu beralih, mendesahkan nasib yang memuja. Makhluk tak berada telah menundukkan semesta adamu, sekaligus mengerjaimu bertumpuk halaman, berjilid pengetahuan tentang makna hidup. Inti cinta.

Hakikat pengorbanan. Membuat aku tak mau menyerah, ingin sejalan seirama. Jika kau pergi dan masuk ke gua Adham, sendiri aku tak kuat berjalan.

"Baiklah, aku tak punya pilihan lagi selain menahan waktu yang akan menghapusku dari keberadaanmu."

Atas nama lepuh cinta, mulut manusia bercuaca membakar apa saja yang dianggap tak memiliki cita-rasa. Apa salah para pecinta hingga rela dipanggang seperti irisan daging kambing di atas tungku. Disayat-sayat, dilukai, dan dikutuki.

Hanyalah cemburu pada aroma yang merangsang lidah untuk bergoyang. Sampai cinta migrasi. Jikalah ada planet biru yang siap menunggu, akan kubangun rumah rindu yang baru. Tapi di manakah planet itu berada, dan mampu tinggalkan masa lalu.

"Sudah lenyap planet itu, di gempa abad."

"O ya nasib...! Kalau negeri angin, masih adakah jejanya?"

"Kudengar masih. Nanti kulihat jadwal pesawat, kalau-kalau ada penerbangan nuju sana."

Ternyata negeri rindu itu masih terpeta di bumi. Ada fakta. Ada penerbangan pagi dan siang nuju sana. Kami suka cita membaca cuaca cerah dan semlir angina dikirim langsung dari laut cinta, mengipasi hati untuk terus berbenah. Perjuangan mesti berderap doa, si lemah terpapar derita, maju menggema bergulung bak gelegar guntur merindu redam.

Cintaku padamu, Kekasih. Munajat tanpa ampun. Menggedor langit menyibak Arsistawa! Bukan hanya Chairil Anwar, Kekasih, aku juga tak bisa berpaling. Hilang bentuk, hilang rupa. Dilecur rindu, lari pontang-panting nuju cakrawala, stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara. Lalu-lalang manusia, mata-mata asing dan langkah terburu. Radiasi nuklir darurat cinta.

"Pakai masker dong!"

"aku tak biasa masker. Bahkan takut melihat para pengguna masker pelindung, seperti hantu di televisi, ditanda dua titik hitam, mata kiri dan kanan. Berkali sudah diterang-jelaskan, bahaya nuklir lebih mengerikan dibanding vampir, karena benar-benar bikin leher kehilangan jarak paling dekat antara aku dan kau. Aku hanya tahu, masker bikin sesak napas saja. Ogah, ah! Walau nuklir itu cintamu."

"Telah diciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, duka dan bahagia yang terus berputar di garis edarnya."

"Dan tahu dari dulu sejak aku bertemu dengan cintamu."

Kau pun diam dalam fakta-fakta. Menjelajah astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar Solar Apex. Terus bergerak sejauh 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, planet, dan satelit, aku dan kau juga berjalan menempuh jarak ini. Demi cinta yang tak pernah redam di dada.

"Benarkah?"

"Ya. Karena itu bukan kisah biasa. Tapi kisah cinta antara aku dan kau yang nestapa. Sampai-sampai langit pujangga menangis, mengolam airmata, bahkan mendanau. Namun di seberang danau itu, aku yakin suatu saat nanti kan terlihat kuntum demi kuntum mawar surga bermunculan. Wangi selaksa parfum bidadari. Mekar sepenggal bumi, sepotong waktu, tempat kita bercumbu mengekalkan makna setia. Hilanglah dunia seisinya jadi cemburu."

Kau diam diujung daun talas sehabis hujan. Lantas kubangun rumah rindu, sebisanya. Dan menyala bagaikan cahaya mengundang laron-laron saling berbondong ingin bertetangga.

Membangun rumah rindu, berjajar-jajar seperti seperti bintang di langit biru. Lantas kita pun sepakat, merayakan kampung rindu di negri antah baratah.

"Negeri rindu langit arsistawa, Bukan?

"Mungkin ya, mungkin juga bukan, karena aku dan kau masih serupa manusia."

Wajahku ngungun. Sepi sendiri di bawah singgasana, di antara kilatan cahaya kubah dan tiang-tiang yang dipikul para malaikat utusan Maha Pemurah yang bersemayam di atas lengkung tujuh langit. Tak berwujud. Bukan seperti singgasana para raja, atap rumah atau pilar dari logam mulia. Apalagi menjadi bagian dari punggung kaki, jejak cinta di gurun Layla-Majnun.

"Pusat pengendalian segala persoalan alam semesta, maksudmu?"

"Bisa jadi. Sebab cinta yang bersemayam di langit arsistawa bakal mengatur segala urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan cinta antara aku dan kau!"

Tak dinyana, aku menggelapar di tengah kesunyian. Seribu kata berpendar lepas dari kesombongan hati. Bermiliar jarak menghiba di urat nadi. Coba terbang mengelilingi cakrawala semesta dengan sayap cinta. Dan gagal berkali-kali, tak kuasa mengejar malaikat bersayap cahaya yang bisa terbang ke mana saja. Seperti ayat-ayat suci menempel di jejak nol kilometer antara Adam dan Hawa.

Hatta mathla'il fajri. Kucari-cari cintamu hingga matahari sepenggalah. Namun apa daya, aku tetap mendebu di sini. Menunggu rumah rindu dikelilingi fakta bumi dan rupanya, belum juga beranjak dari tempat semula. Menggelepar sunyi. Menggapai-gapai matahari menyinari cinta di negeri zamrud khatulistiwa.

"Negeri Indonesia Raya maksudmu?"

"Tak ada negeri tanpa rindu. Tak ada Indonesia Raya tanpa cinta!"

"Hatta mathla'il fajri. Lailatul Qadar mengaji sepanjang malam, menapaki jejak-jejak kehidupan. Nol berhamburan di antara sepi dan sunyi. Menunggu kesejahteraan merata dikeliling fakta bumi, kedamaian dan keselamatan, namun rupanya belum juga beranjak. Masih melata sepertti semula.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Abidah El Khalieqy, penulis novel best seller Perempuan Berkalung Sorban. Tinggal di Jogjakarta

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 3 Agustus 2014

Minggu, 14 Juli 2013

Surau di Pinggir Sungai

Surau di Pinggir Sungai

Parade Cerpen Ramadhan 1443 H



Cerpen: Bangga Surya Nagara

Seorang bocah tujuh tahunberjalan menunduk sambil memegang erat gamis Ibunya. Berjalan menatap tanah yang dipijaknya. Sesekali ia melirik melihat anak-anak yang sibuk bermain di halaman surau. Ibunya membelai kepala bocah itu, seakan paham tentang perasaan anaknya saat itu. Si bocah semakin takut saat masuk ke surau yang lantainya sudah bolong termakan usia. Dari jauh seorang pria berusia sekitar duapuluh lima sampai tigapuluh tahun tersenyum dan segera menyongsong kedatangan ibu dan sibocah yang masih ketakutan.

Assalamu'alaikum Uni..." ujar pria tadi sambil merapatkan tangan ke dadanya.

"Wa'alaikumsalam Ustadz...," balas si Ibu.

"Jadi ini Fajar yang akan mengaji di sini?" ujar Ustadz muda itu sambil tersenyum ke arah Fajar.

"Iya Ustadz, tolong dibantu ya Ustadz. Sudah seringkali pndah tempat mengaji, tapi juga belum juga lancar. Kadang Fajar ini malas mengaji Ustadz." Si Ibu menceritakan kebiasaan buruk anaknya pada Ustadz muda itu.

"Iya Bu... Insya Allah saya bantu," jawabnya.

Mulai sore itu, Fajar resmi menjadi salah satu murid Ustadz Rajab, guru mengaji di surau pinggir sungai, begitu masyarakat menyebut nama surau itu. Posisinya yang persis di pinggir sungai membuat surau itu lebih terkenal sebagai surau pingir sungai. Sudah sejak lima tahun lalu surau itu kembali ramai oleh suara anak-anak mengaji, suara murid-murid yang sedang menghafalkan surat-surat pendek, dan bacaan shalat. Terkadang juga terdengar suara Ustadz Rajab yang menceritakan kisah-kisah kepahlawanan sahabat Nabi. Ba'da Ashar surau pinggir sungai menjadi tempat berumpulnya anak-anak untuk belajar mengaji.

Dulu suarau itu tidak ada yang mengurus dan terbangkalai. Hanya menjadi tempat beristirahat para petani yang baru pulang dari ladang. Tak heran banyak ditemukan ular dan tikus di surau itu. Namun sejak Ustadz Rajab yang lulusan pesantren pulang kampung, surau itu berubah menjadi tempat yang hidup karena suara kecil anak-anak yang belajar kalam Allah. Ustadz Rajab sangat mencintai surau itu seolah surau itu adalah rumah baginya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Sudah seminggu Fajar belajar di suaru pinggir sungai ta[i belum juga ada perkembangan. Bacaan Al-Qur'annya masih terbata-bata. Hingga suatu sore Ustadz Rajab memanggilnya.

"Fajar, mulai hari ini kamu pulang agak belakangan dari tean-temanmu. Saya sudah bicara dengan orangtuamu. Setiap hari kita belajar tambahan satu jam, untuk memantapkan bacaanmu."

"Iya Ustadz." Fajar mengiyakan dengan hati agak dongkol karena jika ada pelajaran tambahan berarti waktunya untuk bermain sepulang mengaji akan tersita. Fajar mengerutu di dalam hati.

Selepas murid yang lain pulang, Fajar sudah duduk di depan Ustadz Rajab. Di hadapannya sudah ada Al-Qur'an yang tulisannya beasr-besar. Ustadz Rajab memegang rotan kecil yang panjangnya sekitar tiga jengkal orang dewasa. Fajar membayangkan rotan itu mendarat di tangannya.

"Mulai baca," perintah Ustadz Rajab.

Fajar mulai membaca dengan gugup dan terbata-bata. Setiap kesalahan yang dilakukannya akan mendapatkan hadiah sebuah rotan dari Ustadz Rajab, tapi itu membuatnya bertekad untuk tidak melakukan kesalahan. Satu kesalahan, satu pukulan rotan. Kalau dua kesalahan, berarti dua pukulan rotan.

Seminggu berjalan tapi bacaan Fajar belum juga menunjukkan perkembangan. Ustadz Rajab mula kebingungan dengan anak didknya yang satu ini. Mencari metode yang pas untuk mengajarkan Al-Qur'an padanya.

"Fajar, kenapa bacaan Al-Qur'anmu belum juga berubah? Masih terbata-bata. Apa kamu tidak malu dengan temanmu yang lain yang usianya lebih muda? Mereka sudah bisa membaca dengan fasih. Kasihan ibumu yang sangat ingin kamu bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Harusnya kamu berusaha lebih giat Fajar."

Kata-kata Ustadz Rajab sore itu membuat airmata Fajar jatuh. Mungkin karena takut, mungkin juga karena ia menyadari kesalahannya yang selalu belajar dengan hati dongkol dan tidak ikhlas. Sore itu ia bertekad, dalam satu minggu ke depan ia harus bisa dan lancar membaca Al-Qur'an.

Suara gemericik air sungai di samping surau menjadi saksi bisu keinginan seorang bocah yang ngin bisa mengaji dengan baik. Matahari mlai bergerak turun ke peraduan mengiringi langkah Fajar pulang ke rumanya dengan tekad minggu depan Ustadz Rajab akan tersenyum bangga padanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Libur cuti tahun in sudah semakin dekat, tak terasa datangnya bulan ini menghadirkan kerinduan dihati Fajar. Kerinduan untuk datang mengunjungi surau pinggir sungai tempat a belajar mengaji dulu. Surau tempat ia menghafal bacaan shalat setiap sore sebelum pulang. Surau yang mempunyai kenangan mendalam dihatinya. Entah kapan ia bisa mengunjungi surau itu lagi, menengok Ustadz Rajab yang sangat ia kagumi.

"Apa kabar Fajar? sudah kerja ya? emoga sukses dan selalu dalam lindungan-Nya. Dari Ustadz Rajab." Begitu pesan singkat yang diterima Fajar sore itu sepulang ia bekerja. Fajar tersentak, lalu membaca ulang pesan singkat yang masu ke ponselnya. "Apa benar ini Ustadz Rajab guru mengajiku dulu?" batin Fajar. Tanpa menunggu lama Fajar langsung menghubungi si pengirim pesan singkat tadi, Ustadz Rajab.

Lamunannya melayang ke limabelas tahun lalu. Suara gemericik air Sungai Batang Kapur yang mengalir persis di samping surau tempatnya mengaji terbayang jelas. Suara kodok yang bersahutan di sore hari ditingkahi hafalan bacaan shalat anak-anak dengan suara-suara keras memenuhi kepala Fajar. Kerinduannya semakin membuncah ntuk mengunjungi suarau itu. Surau yang tidak hanya mengajarkan mengaji tetapi juga mengajarkan tentang akhlak, dan sopan santun.
br />Cerita-cerita heroik sahabat Nabi yang diceritakan setiap subuh minggu oleh Ustadz Rajab adalah metode pendidikan dengan contoh yang diajarkan Ustadz Rajab kepada murid-muridnya. Dulu Fajar sangat menyukai saat Ustadz Rajab menceritakan kisah Umar bin Khattab, kisah sahabat yang iblis pun tak berani bila bertemu dengannya di jalan. Fajar juga menyukai kisah Ali bin Abi Thalib yang ikhlas menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya ketika kaum kafir ingin membunuhnya. Ah, kisah-kisah ini sungguh menjadi pembelajaran secara tidak langsung dari Ustadz Rajab di surau pinggir sungai. Kisah-kisah teladan yang akan selalu membekas di hati Fajar.

"Apa kabar surau itu sekarang?" Fajar bergumam dalam hati.

"Masihkah ramai oleh celoteh anak-anak?"

Obrolan dengan Ustadz Rajab via telepon menyratkan kekecewaan, itu tergambar jelas dari suara Ustadz Rajab yang sangat lemah saat Fajar menanyakan kondisi surau itu sekarang. Apalagi saat Fajar menanyakan bagaimana murd-muridnya sekarang. Ustadz Rajab hanya menawab. "Nanti kalau ada waktu luang, mapirlah ke sni. Sama-sama kita lihat surau kita dulu."

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Kegembiraan terpancar di wajah Fajar siang itu. Permohonan untuk cuti dikabulkan pimpinannya. Berarti tak lama lagi ia bisa pulang kampung. Menemani Ibu, Ayah, dan keluarganya yang lain. Fajar juga tak sabar ingin mengunjungi surau pinggir sungai, menikmati suara gemericik airnya di sore hari sambil memperhatikan Ustadz Rajab mengajari murid-muridnya membaca dan memahami Al-Qur'an. Tak sabar juga juga ia ingin hadir pada Subuh minggu untuk mendengarkan lagi cerita-cerita dari mulut Ustadz Rajab. Rasanya hari-hari ingin segera dipercepat.

Pesawat yang membawa Fajar akhirnya tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Segera Fajar memesan tiket bus menuju kampung halamannya, sekitar tiga jam dari Kota Padang. Di sepanjang jalan alam mempersembahkan panoramanya yang indah dengan sawah-sawah hijau membentang di kaki gunung Merapi dan Singgalang. Tak rela Fajar memejamkan matanya, tak ingin ia melewatkan keindahan alam ini.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Sepi, sunyi, hanya gemerick air yang terdengar. Sesekali terdengar ejaan hurf hijaiyah tapi bukan dari mulut anak-anak kecil. Bukan dari mulut-mulut mungil yang bersemangat membaca Al-Qur'an dengan bersemangat dan suara lantang. Ejaan-ejaan yang terdengar dari orang-orang dewasa yang baru belajar mengaji ketka hendak menikah. Bukan dari anak-anak yang belajar mengaji karena semangat.

Fajar tertegun dengan apa yang dilihatnya. Sekarang suarau ini memang megah, lantainya terbuat dari keramik mengkilat, tiang-tiangnya pun kokoh dan permanen. Sebuah mimbar bagus dari kayu jati berdiri dengan gagahnya, tapi surau ini sepi. Hanya ada lima orang dewasa yang sedang belajar mengaji, terbata, mengeja. Tidak ditemukan lagi anak-anak yang dengan suara lantang menyebutkan huruf hijaiyah seperti dulu.

"Inilah surau kita dulu Fajar," ujar Ustadz Rajab.

Dulu Sungai Batang Kapur menjadi saksi bisu anak-anak yang bertekad kuat belajar mengaji dengan sungguh-sungguh. Sekarang, sungai itu tetap bisu dengan sepi yang melanda surau yang berdiri gagah di pinggirnya. Bangunan gagah namun sepi (*)

Citra Budaya



Sumatera Ekspres, Minggu, 14 Juli 2013


Minggu, 07 Juli 2013

Kamboja di Awal Ramadhan

Parade Cerpen Ramadhan 1443 H



Kamboja di Awal RamadhanCerpen: Dian Eka Sari

"Aku ingin cerai. Ceraikan aku Mas," tegas Dewi kepada Usman suaminya.

"Kalau terus-terusan begini aku tidak sanggup lagi hidup denganmu Mas," Dewi terus berbicara sembari tangannya sibuk memberskan pakaian yang dimasukkannya ke kantong berukuran besar berawna hitam.

"Aku akan pulang kerumah orangtuaku. Zaki akan kubawa. Terserah Mas mau menyusul atau tidak. Aku sudah siap kalau Mas sudah siap dengan perceraian kita," ucap Dewi dengan nada tinggi seolah melampiaskan puncak kekesalannya terus berkata dengan Usman yang tetap duduk di tempat tidur tanpa ekspresi apa pun.

"Aku pergi Mas," Dewi langsung meninggalkan Usman sembari menggendong Zaki yang baru berusia tiga tahun buah hati pernikahannya dengan Usman.

Dengan membanting pintu kamar, Dewi tidak peduli lagi dengan pandangan dari mertuanya yang sedang duduk di depan televisi. Tanpa pamit lagi, Dewi langsung keluar rumah dan menyetop becak yang melintas untuk kembali ke rumah ibunya.

Sementara, Usman masih mematung di tempat tidurnya. Usman tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Usman menyadari, sudah 6 bulan ini ia tidak mampu memberikan nafkah lahir untuk istrinya. Pekerjaannya yang serabutan membuat Usman tidak mampu mencegah kepergian Dewi yang membawa serta Zaki.

Debu-debu berterbangan ditiup angin menjelang musim kemarau. Udara yang panas membuat hati Dewi kian panas. Turun dari becak, ia langsung menerobos masuk ke rumah orang tuanya tanpa mengucap salam.

Setelah menitipkan Zaki kepada ibunya, Dewi langsung masuk ke kamarnya menghempaskan kekesalan di tempat tidurnya. Dewi tidak mampu lagi mencari jalan keluar dari permasalahan yang membelit rumah tangganya. Kekesalan yang disimpannya dirasakan telah mencapai titik didih.

Jika hanya tidak mencari nafkah, masih bisa dimaafkan. Namun dewi merasa kesal dengan ulah suaminya yang setiap hari bergadang tanpa jelas arah tujuan. Apalagi, Dewi pernah memergoki Usman tengah berjudi.

Sudah beberapa kali Dewi mengingatkan Usman. Namun permintaan Dewi seolah hanya angin lalu di telinga Usman. Di benak Dewi, Usman seolah tidak perduli kalau ada buah hati yang harus mereka hidupi.

Semua harta simpanan termasuk mas kawin yang dimiliki Dewi sudah ludes terjual untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Terkadang Dewi merasa malu ketika saudara-saudara iparnya berkunjung kemudian memberi bantuan atau sekedar uang jajan untuk Zaki. Demikian dengan saudara kandungnya ketika Dewi sedang menjenguk ibunya. Dewi tidak ingin menjadi orang yang dikasihani.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Tujuh hari menjelang Ramadhan, Usman diingatkan ibunya untuk menjemput Dewi di kediaman orang tuanya. "Seminggu lagi kita puasa. Tidak baik menyambut bulan yang penuh berkah ini, kalian masih belum akur. Cobalah temui Dewi. Bicarakan baik-baik, bujuk dia untuk kembali ke sini. Pikirkan Zaki, jangan pikirkan keegoisan kalian saja," urai ibu kepada Usman di sela-sela makan siang.

"Nanti kalau Dewi tetap tidak mau. Biar ibu yang langsung bicara dengannya," tegas ibu yang melihat roman enggan dimuka Usman ketika mendapat nasihat.

Meski dengan perasaan enggan. Usman pun menuruti nasihat ibunya. Ia memang tak menampik terselip kerinduan kepada Dewi, terutama tingkah lucu Zaki serta celoteh jagoannya itu yang hampir dua pekan tidak bertemu. Dipacunya motor bebek butut kesayangannya, Usman pun ke rumah mertuannya.

Tidak sampai seperempat jam, Usman tiba di kediaman mertuanya. Ibu mertuanya terlihat tengah menjemur kerupuk memanfaatkan cuaca panas menjelang Ramadhan.

"Assalamu'alaikum. Apa kabar BU? Dewi dan Zaki ada?" tanya Usman kepada ibu mertuanya seraya menyalami.

"Ada. Kamu ingin menjemputnya?"

"Iya Bu. Sebentar lagi Ramadhan, aku tak ingin mengawali bulan suci ini dengan hal-hal yang tidak baik."

"Syukurlah kalau begitu. Masuklah. Dewi sekarang ada di kamarnya menemani Zaki bermain. Bicaralah baik-baik. Ibu tidak ingin kalian terus-terusan seperti ini."

"Maafkan Usaman Bu," ucap Usman dengan nada penyesalan seraya masuk menemui Dewi.

Di ruang tamu berukuran 6x4 metr dengan lantai papan, Dewi terlihat asyik menemani Zaki menyusun puzzle bergambar dinosaurus. Ketika mengetahui kedatangan Usman, Zaki yang mulai bosan bermain langsung menghambur ke pelukan ayahnya. "Ayah. Ayah kok baru datang sekarang? Ayah akan menjemput Zaki kan?" berondong Zaki dengan cadelnya di pelukan Usman.

"Iya. Ayah akan menjeput Zaki sama Ibu. Ayo sekarang beres-beresin mainannya, kita segera kembali ke tempat nenek lagi."

Zaki pun langsung mematuhi perintah ayahnya. Sementara Usman mencoba merayu Dewi agar bisa ikut serta dengannya.

"Maafkan Mas, Wi. Selama ini mas belum mampu menjadi suami yang baik. Namun menjelang bulan baik ini Mas berjanji akan memperbaiki semuanya. Tolong berikan kesempatan lagi. Jika nanti memang Mas tidak mampu, Mas akan menuruti semua kemauan Dewi," ujar Usman pelan dengan nada penyesalan.

Melihat ketulusan yang ditunjukkan oleh Usman, Dewi pun tidak membantah. Lagi pula ia tidak mau melihat Zaki kecewa. Segera dibereskannya pakaian untuk kembali ke rumah mertuanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Setelah dua malam merenda kembali benang-benang rumah tangganya, Usman membuktikan janjinya. Ia tidak lagi keluar malam serta dari pagi hingga petang Usman pun mencoba mencari nafkah dengan cara berdagang ponsel di kawasan Beringin Janggut dengan bantuan modal dari kakak iparnya. Hanya saja Dewi masih belum membuka hatinya dengan ikhlas atas perubahan itu.

Sore kedua setelah kebersamaan, Usman dengan baju koko putih usai shalat Ashar mengajak Zaki berjalan sore dengan motornya sembari membeli tekwan, makanan kegemaran Zaki di kawasan Pasar 7 Ulu.

Pulang dari jalan-jalan, Zaki terlihat benar-benar bahagia. Dengan pedang mainan yang dibelikan Usman, Zaki dengan bangga memamerkan mainan barunya kepada nenek dan kakeknya yang bersiap ke masjid untuk shalat Maghrib.

Usai shalat Maghrib, Usman duduk di meja makan mengajak Zaki menikmati tekwan yang telah mereka beli. Baru satu suap menelan makanan khas Palembang itu, tiba-tiba Usman merasakan dadanya sesak dan kemudian tersungkur ke lantai. Zaki langsung menjerit memanggil ibunya tatkala melihat ayahnya sudah terkapar di lantai.

Dewi yang tengah menyiapkan makan malam langsung memeluk Usman yang sudah tidak bergerak. Beberapa kali dipanggilnya Usman, tetap tidak ada respons, namun detak jantung Usman masih terdengar. Segera saja Dewi menyetop becak depan rumahnya menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 1 km dari rumahnya. Sedangkan Zaki dititipkan Dewi ke tetangga depan rumahnya yang memang telah menganggap Zaki seperti anak mereka sendiri.

Sesampai di rumah sakit, Usman langsung dibawa ke UGD. Melihat tidak ada respons, dokter langsung memasang oksigen serta infus di tangannya. Sekitar 3 menit melakukan tindakan, dokter meminta Dewi menebus obat ke apotik rumah sakit yang jaraknya 500 m dari UGD. Karena memang tidak ada yang menemani segera saja Dewi menebus obatnya.

Betapa terkejutnya Dewi, ketika kembali ke UGD ia tdak bisa lagi bertemu suami. Dokter mengatakan Usman terkena serangan jantung yang menyebabkan dia meninggal.

Seumur hidupnya, perjalanan di ambulance dari rumah sakit ke rumah mertuanya merupakan perjalanan paling jauh. Dewi tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Ia ingin menangis, tapi air mata seolah tak ingin menjadi saksi kesedihan Dewi.

Begitu jasad Usman diturunkan, ibu dan ayah Usman angsung menghabur menangisi kepergian anaknya. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa sebelum mereka ke masjid sore tadi adalah saat terakhir kebersamaan bersama puteranya.

Kesedihan begitu terasa pada malam itu. Namun Dewi tak mampu merasakannya. Kesedihan itu tertutup penyesalan mendalam sehingga air mata pun tak mampu a titikkan. Sehingga setiap pelayat yang datang kagum dengan ketegaran Dewi menghadapi musibah yang menimpanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Angin musim kemarau berhembus pelan di area pemakaman Kebun Bunga. Banyak pelayat yang mendatangi makam-makam keluarga mereka menjelang Ramadhan. Demikian juga dengan Dewi. Di atas gundukan tanah merah yang masih baru, Dewi bersimpuh di sebelah makam Usman.

"Tuhan mendengarkan doaku Mas. Tuhan mengabukan doaku Mas," lirih Dewi perlahan.

"Tuhan benar-benar mengijabah doaku Mas. Kita akhirnya bercerai. Tapi bukan dengan cara seperti ini yang aku inginkan Mas. Aku belum siap kehilanganmu Mas. Aku belum sempat meminta maafmu. Bahkan kau tidak izinkan aku menemai saat detik-detk kepergianmu Mas. Mengapa Mas. Aku tidak mau bercerai denganmu Mas," tangis Dewi pun pecah. Tangisan yang diselimuti penyesalan mendalam pecah di kala senja menjelang.

Rona merah di ufuk barat membuat para pelayat berangsur meninggalkan pemakaman. Sedangkan Dewi dengan penyesalan seolah enggan beranjak. Ditemani sekuntum kamboja yang gugur di atas makam Usman di awal malam Ramadhan. (*)

Citra Budaya

Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Juli 2013

Minggu, 30 Juni 2013

Ayodya

Ayodya Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah Anda bila kuceritakan bahwa beribu-ribu tahun yang lampau, Mojokerto, kota yang sekarang kutempati ini bernama Ayodya? Jauh sebelum Raden Wijaya membuka hutan Tarik dan membangun Kerajaan Majapahit di sini. Dan itu berarti, jauh pula sebelum candi-candi dari batu bata merah seperti Bajang Ratu atau Wringin Lawang dibangun dan Negarakertagama ditulis dan banyak digunakan oleh ahli sejarah untuk menguak mempelajari kejayaan kerajaan yang konon sar di Nusantara itu. Ribuan tahun yang cukup untuk menenggelamkan sejarah atau mengubah yang kenyataan menjadi dongeng atau legenda.

Barangkali, mendengar nama kota itu, ingatan kita akan langsung terbawa pada cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. Sebuah negeri darimana pahlawan besar dari epik itu, Rama Wijaya, berasal dan kelak di ujung cerita itu, menjadi rajanya. Tapi percayalah Ayodya di epik Ramayana tidaklah sama dengan dengan Ayodya dalam cerita yang hendak kukisahkan ini. Ayodya di epik ini terletak di tepi Sungai Brantas. Dan tidak ada Rama dalam ceritaku ini. Tidak pula ada Dasaratha, atau Laksmana, atau Sinta.

Aku tidak tahu kenapa Walmiki menamai negeri dalam ceritanya Ayodya. Ayodya dalam ceritaku ini memiliki arti kota perawan. Entah dalam cerita Walmiki. Namun aku bisa mengisahkan kepada Anda kenapa kota purba dalam ceritaku ini bernama Ayodya, kota perawan.

Aku mendengar riwayat ini dari seorang tua di daerah Trowulan, sebuah kecamatan di Mojokerto di mana banyak orang meyakini bahwa di kecamatan inilah Keraton Majapahit terpendam (beberapa orang juga teramat yakin bahwa keraton itu muksa setelah perang Paregrek usai), yang sdah tidak ingat lagi berapa usianya namun ngotot mengatakan bahwa dia sudah lahir ketika Sunan Ampel menginjakkan kaki pertama kali di Surabaya (bisakah Anda bayangkan berapa usianya? Bahkan, perihal sumber cerita ini saja sudah mragukan).

Di kota ini, tinggal seorang perempuan yang pandai meracik ramuan dan banyak membaca kitab-kitab mantra. Orang-orang menyebutnya dukun. Bertahun-tahun ia mempelajari segala ramuan dan mantra. Itu semua dikarenakan oleh seorang lelaki. Lelaki yang dicintainya namun menolaknya dengan cara yang tidak baik dan membuatnya merasa malu.

Lelaki itu berkata bahwa hidung si perempuan seperti hidung babi dan kulitnya kasar seperti kulit buaya. Dan si lelaki itu, yang juga seorang pembual, menceritakan di warung-warung, di pasar, di lapangan, di segala tempat keramaian bahwa ia telah menolak si perempuan karena rupa perempuan itu tidak seperti manusia.

"Bagaimana seseorang setampan aku bisa jatuh cinta dengan perempuan semacam itu?" si lelaki berkata. Dan Anda tak perlu heran bila pada waktu itu perempuan tidak merasa sungkan mengucapan cinta lebih dulu kepada laki-laki. Itu bukan hal yang tabu dn lazim dilakukan pada masa itu (dan entah karena kisah ini atau tdak, para perempuan di Mojokerto sekarang cenderung tidak mau mengungkapkan cintanya lebih dulu kpada lelaki dan memilih untuk menunggu. Barangkali ada sesuatu yang berada di bawah alam sadar mereka yang berasal dari cerita yang sudah diragukan dan banyak dilupakan ini yang menyebabkan mereka berlaku seperti itu. Sekali lagi, entahlah).

Si perempuan merasa begitu dilecehkan. Ia malu keluar rumah. Dan cinta di kedalaman dadanya, berubah menjadi dendam yang membara. Maka ia belajar mantra dan ramuan agar suatu hari bisa membalas sakit hatinya.

Tapi celakanya, ia tidak hanya ingin membalas dendam kepada lelaki yang mempermalukannya tersebut. Ia ingin membalas dendam kepada semua lelaki di kota tersebut. Ia berpikir bahwa semua lelaki memang brengsek dan suka melecehkan perempuan. Karena itulah, ketka ia telah menguasai sihir-sihir kegelapan, ia mengutuk semua lelaki di kota itu menjadi babi dan buaya.

Inilah yang kemudian keluar dari mulut para perempuan itu; "kalau tidak ada lagi lelaki di kota ini, bagaimana kami bsa hamil dan meneruskan keturunan?"

Si perempuan mengeluarkan sebotol ramuan. Ia tuangkan ramuan itu di sebuah sendang dan berkata; "Siapa pun yang minum air di sendang ini akan hamil. Anaknya sudah pasti berjenis kelamin perempuan sebab semua lelaki brengsek. Aku tdak ingin lagi ada kebrengsekan di kota ini. Aku tidak ingin lagi ada perempuan yang dipermalukan di kota ini."

Dan nama kota itu kemudian berganti menjadi Ayodya, kota perawan, karena penghuninya para perempuan. Dan setelah bertahun-tahun, setelah semua perempuan yang sebelumnya pernah bersuami meninggal, kota itu memang hanya dihuni para perempuan.

Veri yang lain yang lebih kupercaya mengatakan bahwa kota itu adalah kota para petarung. Namun para dewa berkehendak lain. Para dewa mengirim wabah demam yang mematikan seluruh lelaki dari Ayodya.

Bukan hanya para lelaki Ayodya yang terlibat dalam perjalanan itu yang ditimpa wabah, melainkan juga para lelaki yang masih tinggal di Ayodya: lelaki-lelaki jompo dan anak-anak kecil. Para perempuan di Ayodya menangis mengetahui hal itu. Mereka meratap mengharap belas kasihan para dewa. Meratap dengan sepilu-pilunya ratap.

Tak tega mendengar ratapan mereka, para dewa turn ke Ayodya dan berkata, "kalian akan tetap berketurunan. Setiap perempuan yang membatin ingin memiliki anak, maka ia akan mendapatkannya. Namun karena dalam darah para lelaki kalian mengalir darah para petarung, maka setiap anak yang lahir di kota ini akan berjenis kelamin perempuan."

Konon, arwah para lelaki Ayodya menitis pada sekelompok prajurit Majapahit. Dan si penguasa Ayodya menjelma menjadi salah satu penguasa Majapahit. Para arwah itu merasa tidak tenang sebelum apa yang mereka cita-citakan tercapai: menguasai dunia. Sekali pun pada akhirnya kita tahu dari buku-buku sejarah bahwa Majapahit pun tidak sanggup menguasai dunia. Mereka hanya mampu menguasai apa yang sekarang kita sebut Nusantara. Limapuluh tahun lamanya setelah kejadian tersebut kota itu masih bisa bertahan. Hanya ada perempuan di sana.

Yang jelas, tidak ada sisa-sisa dari kota tersebut yang tertinggal. Dan hal itu membuat siapa saja sulit mempercayai bahwa kota itu pernah benar-benar ada di Mojokerto. Dan hal itu membuat siapa saja yang mendengar nama Ayodya akan berkata: "Bukankah itu nama negeri asal Rama Wijaya dalam cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Juni 2013

Selasa, 11 Juni 2013

Jejak Darah Lintah

Jejak Darah LintahCerpen : Tova Zen

Setelah semua sidik, gerak-gerik dan olah data di tempat kejadian perkara, lantas apa lagi? Rasanya semua bukti raib dan menguap entah ke mana.Kejadian dalam perkara ini benar-benar mengacaukan pikiranku, membesut integratisku sebagai kepala polisi dan siap mengolok-olok kredibilitasku sebagai aparat publik yang cukup disegani. Malam ini pun aku resah dalam tidur, pikiranku selalu melayang pada peristiwa perampokan yang dialami seorang nenek tua yang hidup menyendiri di pinggiran hutan Tasmania. Wanita yang berumur tujuh puluh satu tahun itu benar-benar wanita kaya, aku bisa melihat dari gaya arsiterktur rumahnya dan perabotan dalam rumah elitnya itu. Padahal aku sempat berpikir nenek ini mungkin sudah uzur, sehingga daya ingatnya kabur dan menjalar pada ucapan dan lisannya yang serba ngawur.

Tidak! Wanita itu jelas-jelas tak pikun, aku bisa menangkap dari emosi psikoogisnya dan daya serap kata-katanya dalam pikiranku. Teratur, teliti dan penuh emosi saat mengungkapkan kisahnya padaku bahwa dirinya dirampok oleh dua orang pria bersenjata. Kami selaku tim penanganan kasus kriminalitas telah mendatangkan dua ekor anjing pelacak guna mengendus jejak pelaku, tapi hasilnya sia-sia belaka. Anjing-anjing yang terlatih itu tak menemukan bau penjahat yang terembus angin menuju keluar kawasan pedalaman itu. Semua mentok di area genangan sungai kecil yang melingkupi rumahnya. Sangat mungkin penjahat-penjahat itu masuk dan kabur menyeberangi sungai yang dihuni ribuan lintah.

Dari titik itulah kami kehilangan jejak sang perampok dan anehnya anjing kami selalu mengendus si nenek, seolah barang-brang yanng ada di rumahnya hanya tercium bau nenek tua itu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa nenek ini mangalami halusinasi akut. Intinya kami kehabisan akal, kehilangan bukti, dan tak punya saksi. Penyelidikan yang berat dan mungkin akann memakan waktu lama. Sampai sore tadi pun si nenek terus bersibaku memojokkanku untuk segera menangkap pelaku. Padahal dia sendiri gagu dan rabun saat ditanya seperti apa kiranya wajah-wajah perampok yang menguras harta itu? Nenek itu terus berkelit dan ia tak bisa menyebutkan seperti apa kilasan wajah pelaku perampokan, bahkan ia tak bisa memperkirakan tinggi badan dan postur tubuh si penjahat itu. Intinya kami kalah, tapi nenek tetap bersikeras bahwa dirinya mengalami perampokan.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi sahabatku, Bill Pitzer. Dia seorang ahli kimia dan biologi dan telah lama bekerja di Willington, New Zealand. Kuminta waktu liburnya untuk datanng ke Tasmania. Dia sangat girang saat mendengar kasus yang tak becus kupecahkan, bahkan seringainya dalam telepon membuatku menggulung muka karena tak kuat menahan malu. Aku tak peduli ia mau berpikir apa tentang ketidakbecusanku mengurus kasus ini, yang penting diamau datang dan segera menolongku. Biarlah malu di muka kawan, tapi jangan menanggung malu di muka anak buahku, bahkan aku tak mau dikatakan tak becus di muka si nenek itu.

Aku menjemputnya langsung di bandara dan segera kami mmennuju kediaman rumah si nenek yang masih sangat ngotot menelpon kantorku bahwa dirinya benar-benar dirampok dua pria persenjata. Aku membawa dua orang anak buahku, naanya Micoz yang menangani observasi kasus di lapangan dan satu lagi anak buahku yang menjabat kasus di bagian forensik bernama Carbagoz.

"Kau lihat kan Bill, rumah ini benar-benar terisolasi oleh sungai yang di dalamnya diternak ribuan lintah. Kurasa tak ada yang nekat menceburkan diri ke sungai kecil itu."

"Kalau dia memang nekat, apa pun bisa ia lakukan, Richard. Misalnya saja dia membawa pelampung karet atau papan yang di susun menjadi rakit. Bukankah itu mungkin saja terjadi dalam nalar yang perlu kita pikirkan?" ucapnya sambil memicingkan mata ke arahku.

Bodoh! Kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ ya? Hardikku kesal pada diriku sendiri. Segera aku memerintahkan Carbagoz dan Micoz untuk menemukan bukti-bukti berupa remahan-remahan kayu, jejak rumput yang tergesek oleh pelampung atau rakit kayu. Aku hanya mengharapkan ada bukti dan sidik jari.

"Hey, kawan. Jangan sentimentil begitu dalam menganalisis perkara. Tenanglah! Tak perlu kau repot-repot mencari jarum dalam sekam. Semua yang aku ungkapkan barusan hanya praaduga. Celoteh kawan." Bill terkekeh, puas sepertinya dia telah mempermainkan tiga orang polisi.

Nenek itu keluar saat kami menekan bel di pagar angkernya itu. Benar-benar tajam pendengaran nenek itu, sekali menekan bel langsung kepalanya menjulur melewati daun pintu rumahnya. Kami pun melangkah menghampirinya.

"Selamat pagi nyonya cantik, apa kabar anda hari ini?" pola tingkah dan gaya bicaranya sok bangsawan, sambil menundukkan tangan ia mencium punggung tangan si nenek renta itu.

Tak lama Bill menghampiriku dan merangkulku, ia membisikkan sesuatu ditelingaku. "Kawanku, tolong perintahkan dua anak buahmu itu untuk masuk ke dalam rumah nenek Gloria. Suruh mereka memeriksa benda-bendaapa saja yang kiranya mencurigakan. Aku sudah meminta izin pada nenek Gloria agar anak buahmu itu bisa melakukan penyelidikkan.

Tanpa pikir panjang aku pun menyuruh dua anak buahku masuk ke dalam rumah guna melakukan pemeriksaan. "Lalu apa yang kita lakukan Bill?"

"Kita cukup duduk di depan sungai itu sambil menunggu tugas anak buahmu selesai." Bill melangkah mendekati sungai penuh lintah itu, sementara aku hanya bisa terbengong menyaksikan polah tingkahnya yang makin aneh. Gila! "Bill! Kurasa kita harus ikut melakukan investigasi. Duduk bersantai seperti ini tak akan memecahkan masalah, kawan. O! aku tahu! Kau pasti sedang mencari inspirasi. Ku rasa berpikir untuk memecahkan masalah sambil memandang sungai berlintah merupakan ide buruk, Bill." Dia mengacuhkan perkataanku. Matanya dengan tajam menyisir area di sekitar kami duduk.

"Richard! Kau katakan padaku bahwa anjing yang kau bawa kala itu mengendus hinggaarea ini, bukan?" Aku mengangguk. Nada suaranya terdengar serius. "anjingmu melacak jejaknya, kawan. Tapi annjingmu tak mungkin berani menyeberangi sungai ini. Siapa yang menuntun tali anjing pelacakmu itu, kawan?"

"Micoz yang memegang tali kekang anjing-anjing palcak itu." Aku terdiam sesaat, lalu melanjutkann perkataanku. "Apakah kau menemukan jejaknya, Bill." Bill mengangguk ringan.

"Kurasa aku telah menemukan salah seorang perampok itu, tapi aku belum,tapi aku belum menemukan bukti untuk meneratnya. Maukah kau membantuku untuk menemukan bukti itu kawan?" Aku menatapnya sejenak. Entah mengapa dadaku yang tadinya seperti tertindih batu akibat beban kasus ini, kini jadi terasa ringan saat Bill menyingkirkan beban batu itu dengan perkataannya bahwa ia telah mengetahui sosok penjahat itu.

Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pinggir sungai berlintah it. Pandangannya mencari sesuatu entah apa yang ia cari. "Bill kawanku. Apakah kiranya yang sedang kau cari?"

"Lintah," jawabnya singkat."Lintah? Kenapa kau mencari lintah kawan?"

"Aku sangat yakin berdasarkan dengus anjingmu itu. Meyakini bahwa dua perampok itu menyeberangi sungai ini saat masuk maupun keluar. Sungai ini dangkal dan kedalamannya tak lebih dari pinggang kita, hanya saja banyak sekali lintah di dalam lumpur sungai ini. Aku yakin banyak sekali lintah yang melekat pada kaki-kaki mereka saat menyeberangi sungai ini." Aku masih bingung dengan rentetan penjelasannya. Tiba-tiba ia berteriak girang. "Aha! Akhirnya aku menemukan lintah." Ia mencapit lintah dengan dua batang ranting kering dan meyodorkan ke mukaku. "Gemuk sekali kan, Richard?"

"Singkirkan hewan jelek itu dari depan mukaku Bill." Kataku tegang bercampur jijik.

"Inilah bukti otentik yang keakuratannya nyaris sempurna untuk menjerat penjahat itu, kawan."

"Apa maksudmu, Bill. Aku tak mengerti? Tolong jelaskan padaku." Aku benar-benar tak mengerti, tapi samar-samar aku bisa menarik benang merah bahwa lintah inilah yang menempel kaki seseorang yang menyeberangi sungai itu tiga hari yang lalu."

"Inilah sampel darah lintah yang dapat kau jadikan bukti untuk menjerat pelaku. Jejak darah lintah ini sama saja jejak darah si pelaku. Ambil DNA-nya segera kawan! Untuk memperkuat bukti di persidangan. Aku akan menunjuk hidung si pelaku di depan hidungmu."

Tak lama Carbagoz dan Micoz keluar dan melaporkan hasil investigasinya. Laporan mereka klasik : tak ditemukan sidik jari yang tertinggal. Bill melangkah menghampiri Micoz lalu merangkulnya. Sambil menghadap ke arahku, Bill menunjuk hidung Micoz dengan telunjuk kanannya. "Inilah hidung si pelaku kawanku, Richard."

Aku terbengong. Benar-benar terkejut bukan kepalang. Carbagoz juga bingung melihat keterkejutanku. Jadi selama ini anjing-anjing pelacak mengendus jejak pelaku yang tak lain adalah si pawang anjing itu sendiri. Aku pun membawa sampel darah lintah itu ke laboratorium dan mencocokkan kode genetik darahlintah dan darah Micoz. Ternyata "match" dengan DNA Micoz.

Kasus terpecahkan dan Micoz mengakui perbuatannya yang dilakukannya bersama kawannya yang tak lain keponakan dari nenek Gloria. Kami pun meringkus keponakan nenek Gloria itu. Namanya Mr Robbit dan ia melakkukan perampokan hanya ingin mengambil haknya sebagai ahli waris dari ibunya yang diambil oleh nenek Gloria. Perkara keluarga yang menggemparkan daratan Tasmania. Aku patut mengucapkan terima kasih pada Bill. Tapi bagaimana ia bisa tahu kalau Micoz pelakunya? Biarlah itu enjadi teka-teki yang layak aku pecahkan sendiri. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 24 Juli 2011