Tampilkan postingan dengan label Pesugihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesugihan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2015

Perjanjian Gaib dengan Siluman Gunung Arjuna

Perjanjian Gaib dengan Siluman Gunung Arjuna

Orang yang memuja siluman Naga Pertala akan diikat perjanjian gaib, ia harus merelakan tumbal setiap tahunnya. Korban siluman Naga Pertala penguasa Gunung Arjuna itu tubuhnya akan kering dan menghitam.

_____________________________________________

Di sebelah utara Kota Batu, Malang, terdapat sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Arjuna. Di saat Sang Bagakara terbangun, ia seakan menopang dagunya di puncak Gunung Arjuna yang tampak gagah menjulang tinggi dengan megahnya. Sesekali puncak gunung itu mengeluarkan asap.



Dahulu saking tingginya, puncak Gunung Arjuna ini diibaratkan menyentuh langit. Namun sekarang ketinggiannya hanya mencapai 3.339 meter di atas permukaan laut. Konon salah satu puncak Gunung Arjuna ini dipotong oleh Kiai Semar dan Kiai Togog, dan dilempar ke sebelah tenggara Kota Batu, yang kemudian diberi nama Gunung Wukir.

Ketika Misteri ke Imogiri, kebetulan di tempat itu ada priyayi luhur, Panembahan Agung Tejowulan. Tak lupa menghaturkan sungkem-bhakti, sambil menikmati wedang uwuh. Panembahan Agung Tejowulan bercerita, bahwa disamping makam Sultan Agung Hanyokrokusumo itu ada batu yang agak dhekok (cekung) karena saking seringnya dicium para penziarah. Disela batu cekung lantai makam itu, tanahnya sangat harum. Konon, tanah harum itulah yang dilempar Sunan Kalijogo dari Tanah Suci Arab.

Beberapa sahabat yang pernah menunaikan Ibadah Haji bilang, bau harum tanah makam Sultan Agung aromanya sama dengan bau harum batu Hajar Aswat. Entah karena kebetulan, atau legenda tentang Sultan Agung yang melempar segenggam tanah dari Tanah Suci, itu benar-benar terjadi, yang mungkin ada makna yang “tersirat” maupun yang “tersurat”.

“Yang harumnya hampir sama dengan tanah makan Sultan Agung Hanyokrokusumo di Tanah Jawa, ada di puncak Gunung Arjuno itu, bila dibakar seperti harum kemenyan wangi,” jelas Panembahan Agung Tejowulan kala di Imogiri.

“Tak mudah untuk menemukan Tanah Arum di bukit Arjuna itu, orang-orang yang berhati bersih akan dituntun untuk menemukannya,” lanjut Panembahan.

Beliau juga bahkan membawa contoh Tanah Arum dari puncak Gunung Arjuno, berwarna putih, dan aromanya memang harum, benar seperti apa yang dikatakan Panembahan Agung Tejowulan. Merasa tertarik dengan cerita beliau, Misteri mencoba menelusuri legenda dan mitos yang hidup di Gunung Arjuna tersebut.

Konon, penguasa gaib Gunung Arjuna ini berupa siluman ular raksasa mengenakan mahkota (jamang) dan dikepalanya ada tanduk sepasang yang cukup panjang. Meski Gunung Arjuna merupakan introspeksi diri bagi orng-orang yang sudah tinggi ilmunya, jika lolos ujian dia akan menjadi “Ratu Lelananging jagad” (baca: pemimpin yang ambeg adil paramarta), namun bagi mereka yang gagal dengan godaan yang dilakukan penguasa gaib Gunung Arjuna ini, ia akan menjadi budak iblis selamanya.

Orang yang datang ke Gunung Arjuna jika hatinya tidak bersih, namun dia memiliki kesaktian atau kewaskitaan batin yang tinggi, dirinya akan dijumpai oleh siluman naga pertala (naga bumi) yang dijanjikan kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa. Benar apa kata sahabat, bahwa mencari pesugihan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, yang artinya tidak setiap orang yang datang ppasti berhasil berkolaborasi dengan setan. Setan itu sangat jeli dan licik. Dia tidak mau rugi, memberikan harta benda dan kuasa yang banyak, kalau orang yang mencari itu juga tidak memiliki prospek. Dijamin pasti gagal.

Orang yang kemudian memuja siluman naga pertala ini akan diikat dengan perjanjian gaib, biasanya dia harus merelakaan tumbal setiap tahunnya. Bagi mereka tak akan sulit mencari tumbal, cukup karyawan atau anak buahnya dijadikan korban gaib. Umumnya korban siluman naga pertala penguasa Gunung Arjuna ini tubuhnya akan kering dan menghitam. Sehabis setor tumbal, para penyupang ini usahanya akan melejit dan atau yang terjun ke dunia politik posisinya akan naik dengan luar biasa.

Namun jangan silap, orang yang mengadakan perjanjian gaib dengan siluman Gunung Arjuna ini biasanya juga akan menerima nasib yang sama dengan orang-orang yang ditumballkannya. Para tumbal itu akan bebas, jika orang yang menumbalkan itu sudah mati.

Legenda Gunung Arjuna dikaitkan dengan perjalanan Radyan Dananjaya, ia salah satu dari Ksatria Pandawa, putra Prabu Pandu Dewanata dan ibunya Ratu Kunti Talibrata. Wajahhnya yang sangat rupawan dan kegemarannya bertapa, yang waktu mudanya sangat ingin jadi Lelananging Jagad.

Suatu hari dia bertapa di sebuah gunung, tubuh Radyan Dananjaya tiba-tiba bersinar dan mengeluarkan kekuatan yang dahsyat. Hasil tapanya ini mengakibatkan gunung tempat bersemedinya itu menjulang tinggi hingga dikisahhkan menyentuh langit. Hal ini membuat khayangan jonggring salaka geger, dan arcapada gema bumi, akibat ulah tapa bratanya Radyan Dananjaya.

Perjanjian Gaib dengan Siluman Gunung Arjuna Sebagai sesepuh para dewa, Rsi Kanekaputra diutus sang hyang jagad nata untuk mencari sumber masalah. Dan ditemukan di sebuah puncak gunung ada Radyan Dananjaya, ia di-“gugah” Rsi Kanekaputra agar “wedar” tapa bratanya, tapi tak digubris. Bahkanpara bidadari diutus untuk menggoda Radyan Dananjaya, agar bata tapa bratanya, dengan godaan paling erotispun juga gagal total.

Sampai-sampai Rsi Kanekaputra berkata, “Pantas, kamu diberi nama Dananjaya, yang artinya tak terkalahkan, dengan godaan apapun. Hanya satu yang bisa membatalkan tapa bratamu, yaitu Kakang Ismaya dan Kakang Tejamaya.”

Dihadapan Bhatara Ismaya dan Bhatara Tejamaya, Rsi Kanekaputra menceritakan apa yang terjadi. “Hanya Kakang berdua yang bisa menggugah tapa bratanya momongan-mu. Meski sudah digempur senjata khayangan oleh Senopati Jongring Saloka dan juga diray para bidadari tercantik, dia tetap tak bergeming. Jika tapa bratanya diteruskan, maka arcapeda akanhancur dan khayangan akan binasa. Tolonglah Kakang,” pinta Rsi Konekaputra atau sering disebut Bathara Narada, gelar kedewaannya.

Akhirnya Bathara Ismaya dan Bathara Tejomantri, turun ke arcapeda dengan berganti wadag (raga) menjadi abdi para ksatria; Ki Lurah Semar dan Ki Lurah Togog, sampai di tempat Radyan Dananjaya “teteki”, Semar mencari posisi di kanan, Togog di kiri, dan memotong puncak gunung tersebut, lalu dibuang atau dilemparkan ke arah tenggara. Konon jatuhnya gunung di tenggara itu sekarang dikenal dengan nama Gunung Wukir.

Karena puncak gunung tempat bertapa dipotong, Radyan Dananjaya terjatuh, hingga tersadar dari tapa bratanya. Dan betapa terkejutnya ketika melihat di kanannya telah berdiri Sang Pamomong Ki Lurah Semar, dan sebelah kiri berdiri Ki Lurah Togog.

“Apa yang terjadi Uwa?” tanya Radyan Dananjaya.

“Kami baru melemparkan puncak gunung yang Radyan gunakan untuk bertapa,” jawab Semar kalem.

“Lho, kenapa Uwa lakukan padaku?” tanya lagi.

“Uwa hanya ingin memperingatkan. Masih belum cukupkah kesaktian yang Radyan Dananjaya miliki sekarang ini? Ingatlah Radyan ini Panengah Pandawa, yang juga memiliki nama Arjuno, dijuluki Sang Lelananging Jagad, yang sangat sakti mahambara, disegani kawan dan ditakuti lawan. Belum cukupkah semua itu?” tanya nasehat dengan keras namun bijak.

Radyan Dananjaya hanya diam menunduk, mulai menyadari kesalahannya. Semar melanjutkan wejangnya. “Radyan dijuluki Dananjaya; yang tak terkalahkan. Tapi Radyan ternyata belum bisa mengalahkan kesombongan, keangkuhan dan ambisi, Radyan. Sadarkah dari apa yang kamu lakukan ini telah menimbulkan malapetaka, arcapeda hancur dan jonggring saloka kacau balau.”

Segera Radyan Dananjaya menyadari kekhilafannya dan segera menubruk kaki Uwa Semar dan Uwa Togog. Dia ksatria, dan tak malu meminta maaf dengan apa yang telah dilakukannya itu jika memang keliru.

“Untuk mengingat-ingat kejadian ini, agar tidak ditiru anak cucu kelak, maka gunung tempatmu bertapa ini tidak aku beri nama Gunung Dananjaya, karena kamu masih dikalahkan oleh ambisi dan kesombonganmu. Sebaiknya kuberi nama Gunung Arjuna, yang telah sadar dari kekeliruannya,” sabda Uwa Semar badranaya.

Dan sejak kejadian itu gunung tersebut dikenal dengan nama Gunung Arjuna. Hingga sekarang puncak Gunung Arjuna masih sering digunakan untuk tirakat para ahli kebatinan, katanya belum tuntas ilmu Wong Jowo bila belum bisa menaklukkan puncak Gunung Arjuna. Padahal ajaran ini menyiratkan bahwa kita belum sempurna nggegulang kawruh kebatinan jika batin kita masih dikuasai oleh kesombongan, keangkuhan, ambisi keserakahan akan keduniawian. Manusia sering lupa diri, lebih-lebih kalau sedang bernasib baik, akan cenderung menjadi sombong dan tinggi hati yang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Alangkah bijaknya jika kita selalu rendah hati meskipun memiliki keistimewaan tertentu yang dianugerahi Gusti Allah. (*)

Senin, 21 April 2014

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Edi suka sekali mendatangi tempat-tempat keramat untuk lelaku. Kata guru spiritualnya, ia tidak boleh menghentikan kegiatannya itu sebelum mendapatkan wisik. Sampai akhirnya ia mendapatkan kendi yang ternyata bisa membuatnya menjadi orang kaya.

_______________________________


Sudah beberapa malam Edi berada di makam keramat yang ada di daerah Trowulan, Mojokerto. Ia menunggu wisik atau pesan gaib yang sekiranya akan membuat dirinya mengakhiri lelakunya. Ia tidak boleh pergi sebelum mendapatkan sesuatu dari makam itu, begitu kira-kira pesan dari gurunya.

Makam yang ekarang dijadikan Edi lelaku adalah dipercaya sebagai makamnya orang sakti. Namun, sampai 7 hari di tempat itu, lelaki itu tidak juga mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ia mulai putus asa, sampai-sampai ia tidak percaya dengan semua yang telah dilakukannya.

Puncak kemarahannya adalah ia lalu dengan gerakan seperti orang kesetanan merobohkan batu nisan makam yang tidak disemen tersebut hingga ambrol dengan kakinya. Tak berhenti sampai di situ, Edi juga mengangkat sebuah kendi yang kebetulan berada di atas pusara makam tersebut. Dengan kedua tangannya, kendi itu diangkatnya tinggi-tinggi dan dibantingnya.

Sungguh di luar dugaan, kendi atau kuali itu tidak pecah atau retak barang sedikit pun. Padahal secara nalar, kendi yang terbuat dari tanah liat itu akan pecah belah menjadi potongan-potongan kecil saat membentur laintai yang keras. Edi mengambil kendi itu kembali dan hendak membenturkannya ke lantai lagi.

Tapi, tiba-tiba ia mendengar salah seorang penziarah yang kebetulan berada di belakangnya menggelepar-gelepar seperti orang yang sedang kerasukan dan mengeluarkan suara yang membuat Edi terkesima sebab mengaum seperti suara harimau. Setelah itu terdengar sebuah suara yang sangat berwibawa keluar dari mulut si penziarah yang kerasukan tersebut.

Orang yang kerasukan itu mengatakan kepada Edi untuk membawa plang kendi itu. Edi disuruh menyimpan kendi itu baik-baik, dan katanya dengan kendi itu mudah-mudahan apa yang menjadi tujuan Edi bisa terkabulkan. Namun, ada syaratnya, yaitu Edi tidak boleh menolak setiap permintaan orang yang membutuhkan pertolongannya.

Setelah berucap begitu, terdengar kembali aungan harimau sebanyak tiga kali. Lalu, kemudian menjadi senyap kembali. Seorang penziarah yang tadi kerasukan itu kembali tersadar dan seperti tidak mengerti dengan apa yang telah trjadi. Mbah Bejo, juru kunci tempat tersebut dan seorang penziarah lain mencoba menolongnya. Mbah Bejo memberinya minum segelas air putih yang baru saja diambilnya dari gentong keramat yang jaraknya hanya beberapa langkah saja.

Suasana kembali senyap untuk beberapa lama. Tanpa diminta oleh siapa pun, Edi lalu merapikan kembali nisan yang sempat dijejaknya hingga roboh dan berantakan. Setelah itu, ia mendekati Mbah Bejo dan meminta maaf atas prilakunya.

"Sudahlah, tidak apa-apa! Mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya! Dan, mudah-mudahan saja dengan cara ini, apa yang menjadi keinginan Saudara bisa terkabulkan!" Ucap orang tua itu.

Mbah Bejo sendiri sebenarnya tidak percaya dengan keberadaan kendi berwarna hitam kecoklatan itu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya darimana asalnya kendi itu. Apakah kendi itu bawaan orang-orang yang berziarah atau kendi itu muncul dengan sendirinya secara gaib? Sebab, sepengetahuannya, tidak ada kendi di atas pusara keramat tersebut sebelumnya.

Sejak mendapatkan kendi itu, sedikit demi sedikit hidup Edi dan keluarganya mulai membaik. Usaha apa saja yang dilakukan selalu sukses luar biasa. Bahkan, beberapa tahun kemudian Edi dikenal sebagai orang yang kaya raya di daerahnya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang dermawan kepada siapa saja. Setiap orang yang membuthkan pertolongannya selalu dibantunya tanpa pandang bulu, baik yang sudah dikenal atau tidak dikenalnya.

Tidak jelas, apakah sifatnya itu benar-benar karena niat ingin membantu sesama atau hanya karena itu hanya sebuah syarat agar kekayaannya tidak habis seperti yang pernah dipesankan gaibnya?

Suatu saat, lelaki ini sudah benar-benar menjadi orang yang paling kaya, datanglaj seorang laki-laki ke rumahnya. Laki-laki itu boleh dibilang cukup aneh. Sebab, ketika ditanya oleh para pembantunya tentang tujuannya, ia hanya mengatakan ingin bertemu dengan Pak Edi. Ketika diitawarkan apa yang perlu dibantu, lak-laki itu hanya menggeleng dan mengucapkan bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Pak Edi.

Ketika para pembantu mengatakan bahwa Pak Edi sangat sibuk dan tidak bisa ditemui, lelaki itu tidak menyerah. Ia mengatakan akan tetap menunggunya sampai Pak Edi ada waktu dan mau menemui dirinya.

"Saya hanya bisa mengungkapkan tujuan saya pada Pak Edi. Jadi tolonglah, izinkanlah saya bertemu dengannya," ucap lelaki misterius itu.

"Pak Edi sedang ada di luar kota dan baru pulang beberapa hari lagi. Kalau Bapak memang ingin bertemu langsung dengan Pak Edi, Bapak bisa kembali lagi nanti. itupun kami tidak tahu pasti kapan pulangnya," ucap asisten pribadi Pak Edi dengan ramah, meski lelaki yang ingin bertemu dengan Pak Edi itu sikapnya seperti orang yang menjengkelkan.

Ia akhirnya memilih menunggu di mushala yang ada di rumah milik orang kaya tersebut. Para pembantu, termasuk asisten Pak Edi tak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan saja.

Setelah menunggu sampai sehari-semalam, akhirnya pulang juga Pak Edi dari kepergiannya. Setelah berada di rumah, ia pun masih disibukkan dengan segala aktivitasnya. Dan, rupanya tidak hanya orang itu yang ingin bertemu. Tamu-tamu yang lain juga banyak yang ingin bertemu dengan laki-laki sukses itu. Sejak menjadi orang yang penting di daerahnya; Edi memang susah ditemui, lebih-lebih jika tamunya bukan orang penting. Tapi, berkat keuletan dan kesabarannya, akhirnya bisa juga laki-laki itu bertemu langsung dengannya.

"Apakah Pak Edi masih ingat kepada saya?" Tanya orang itu saat sudah berhadap-hadapan dengan Edi.

Ditanya begitu, Edi hanya mengernyitkan dahinya. Ia seperti pernah bertemu dengan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Tapi, siapa dia dan pernah bertemu dengannya dimana, Edi tidak ingat betul. Meski mencoba mengingat-ingat, tapi Edi tdak juga kunjung ingat siapa sebenarnya jati diri lki-laki misterius tersebut.

"Saya adalah orang yang pernah bersama-sama Bapak melakukan ziarah di makam Mbah Wali," ucapnya.

Meski sudah mendengar ucapan itu, Edi belum juga ingat. Laki-laki itu tidak juga segera mengungkapkan jati dirinya. Ia bahkan ganti topik pembicaraan dengan memuji keberhasilan Edi hingga membuta tuan rumah menjadi bosan. Dan, setelah dirasa Edi benar-benar tidak tahu dengan siapa dirinya, barulah laki-laki itu mengungkapkan siapa dirinya.

"Saya adalah orang yang pernah melihat Bapak waktu mendapatkan kendi dari makam keramat dulu!

Edi sedikit kaget! Tapi, ia lalu mencoba menanyakan apa yang menjadi tujuan laki-laki itu. Ditanya begitu, elaki itu malah mengatakan tidak membutuhkan uang atau materi seperti yang lain. Yang ia butuhkan katanya hanyalah sebuah kendi!

Deg!!! Tiba-tiba jantung Edi seperti berhenti berdetak. Ia tidak pernah menduga laki-laki di hadapannya itu akan seberani dan senekad itu hendak mengambil sesuatu yang dianggapnya sangat penting. Buru-buru Edi menarik napas dalam-dalam dan mencoba menguasai perasaannya. Ia lantas teringat akan pesan gaib yang pernah terucap lewat mulut laki-laki yang ada di hadapannya dulu.

"Bagaimana, Pak Edi, apakah saya diijinkan membawa pulang kendi pemberian Mbah Wali itu?!"

Edi tidak juga segera menjawab. Ia seperti berpikir dengan keras untuk mengambil keputusan yang tepat. Sesuai dengan pesan gaib yang perna diterimanya, ia memangg tidak boleh menolak setiap permintaan pertolongan dari orang yang membutuhkan bantuannya.

Setelah cukup lama berpikir dengan keras, akhirnya keputusan itu diambil. "Baiklah, Bapak boleh membawa pulang kendi itu," ucapnya lirih.

Ia pun lalu masuk ke dalam rumahnya yang besar dan kembali lagi sambil membawa serta sebuah kendi yang dibungkus kain warna putih. "Bwalah Bapak pulang kendi ini, dan semoga apa yang menjadi keinginan Bapak bisa terkabulkan."

Selepas kepergian laki-laki aneh itu, Jafaril masih terteun di tempatnya. Beberapa orang yang ingin bertemu dengannya untuk sementera waktu ditolaknya. Para pembantu juga tidak ada yang berani bertanya macam-macam. Ia tahu bosnya sedang tidak bleh diganggu.

Dalam hatinya, Edi berkata bahwa ia sudah melaksanakan pesan gaib ituu dengan sebaik-baiknya. Dan, kalau memang segala apa yang telah diperolehnya akan diambil oleh Tuhan gara-gara ia memberikan kendi itu kepada orang lain, ia sudah pasrah untuk menerimanya. Di tengah perenungannya, tiba-tiba di depan pintu gerbang rumahnya terdengar orang ramai. Edi bergegas ingin tahu dengan apa yang terjadi. Di situ rupanya telah terjadi kecelakaan, yaitu sepeda motor menabrak seorang pejalan kaki.

"Itu tamu yang tadi sempat bertemu dengan Bapak!" Ucap salah seorang pembantunya.

Edi kaget sekaligus tertegun saat menyaksikan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu terlihat tergeletak bersimbah darah dan tak jauh dari situ ada benda terbungkus kain putih yang tak lain adalah sebuah kendi. Edi bergegas menyuruh anak buahnya membawa laki-laki itu ke rumah sakit agar nyawanya terselamatkan.

Saat Edi mengambil bungkusan kain putih itu, kendi itu dirasakan masih dalam keadaan utuh tidak pecah sedikit pun. Sementara itu, orang yang berniat mengambil kendi pemberian Mbah Wali dari tangan Edi, sampai di rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. (*)

Misteri Edisi 579 (05 April-19 April) Tahun 2014

Kamis, 27 Maret 2014

Pesugihan Bayi Ambar Pengumpul Harta Benda

Pesugihan Bayi Ambar Pengumpul Harta Benda

Janin yang meninggal dalam kandungan, dipercaya sebagian orang masih bisa tumbuh layaknya anak manusia, hanya saja alamnya lain. Benarkah? Terkadang ada pula orang yang memanfaatkan anak ini untuk mencari kekayaan?

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Seorang wanita yang tinggal di sebuah dusun terpencil di daerah Mojokerto, Jawa Timur, dalam beberapa hari selalu mimpi didatangi seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandungnya. Setelah dilakukan konsultasi dengan orang pintar yang membantunya, ternyata pemuda yang datang lewat mimpinya itu adalah roh anak kandunganya yang meninggal puluhan tahun yang lalu saat masih dalam kandungannya dan sempat dilahirkan meski dalam keadaan sudah meninggal.

Cerita tersebut di atas, ada yang menyebut sebagai anak atau bayi bajang, namun ada pula yang menyebut sebagai anak ambar. Orang awam mungkin tidak tahu atau tidak percaya, jika anak ambar atau anak bajang itu di alam gaib mereka akan tumbuh dan berkembang seperti layaknya anak pada umumnya. Meski lain dunia dengan ayah dan ibunya yang berada di dunia, ada sebagian masyarakat yang percaya jika anak ambar ini suatu saat pasti akan meminta sesuatu pada orang tuanya.

Hal ini ternyata pernah dialami seorang ibu yang tinggal di daerah Mojokerto, seperti yang disebutkan di atas, Asmiati, sebut saja begitu, wanita asal Mojokerto ini mengaku mengaku pernah mengandung anaknya pertama dari perkawinannya dengan suaminya sekitar dua puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu, mereka sebenarnya sudah lama mendambakan momongan.

Dan, baru menginjak usia perkawinan mereka yang ketiga tahun, Asmiati menampakan tanda-tanda kehamilannya. Sayangnya, pada usia kandungan ke tiga bulan, bayi itu keluar ke dunia atau keguguran.

Janin yang baru berumur tiga bulan itu masih gumpalan darah dan belum berwujud bayi seutuhnya. Karena itu peristiwa tersebut hanya diberitahukan kepada keluarga terdekat dan beberapa tetangga saja. Janin tersebut pun hanya dikuburkan di halaman belakang rumahnya tanpa prosesi pemakaman yang semestinya. Meski begitu, batu nisan tetap diberikan sebagai pertanda bahwa di situ telah dikuburkan anak manusia.

Lambat laun, kuburan bayi itu pun hilang ditelan waktu, begitu pula batu nisannya yang hanya terbuat dari kayu. Sampai akhirnya benar-benar tidak terlihat sama sekali. Seiring dengan waktu, kehidupan keluarga Asmiati yang sebelumnya tenang dan ekonominya baik-baik saja menjadi berantakan.

Suaminya sempat dipecat dari tempat kerjanya. Setelah itu mereka melakukan usaha wiraswasta namun tidak juga berhasil sampai akhirnya benar-benar bangkrut. Bahkan, Asmiati yang sempat hamil itu, selanjutnya tidak lagi menampakkan tanda-tanda akan punya anak lagi.

Melihat kehidupan keluarganya yang terus menerus dilanda masalah, Asmiati dan suaminya pun berkonsultasi pada orang yang dianggap pinta dalam hal-hal supranatural. Sampai akhirnya ia diberi petunjuk untuk kembali marawat makam bayi yang pernah dilahirkannya dalam keadaan sudah meninggal dulu. Setelah itu, konon kehidupan suami-istri ini lambat laun mulai membaik dan bisa punya anak lagi.

Dua puluh tahun berikutnya, Asmiati mengaku sering bermimpi didatangi seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandungnya. Dia menangis dan bersujud di pangkuan Asmiati. Dalam pertemuan dua dimensi itu, pemuda itu ternyata di alamnya sana belum dikasih nama. Ia minta diberi nama, juga ada permintaan yang lain, yakni minta dibelikan baju dan celana baru.

Mulanya hal itu tidak diperhatikan dan dianggap sebagai bunga tidur saja oleh Asmiati dan suaminya. Baru setelah mimpinya itu sering terjadi, Asmiati kembali berkonsultasi pada orang pintar yang pernah didatanginya. Sesuai saran orang pintar itu, pemberian nama itu akhirnya diberikan. Prosesi pemberian nama ini juga harus dilakukan dengan tradisi bancakan atau pemberian nasi kuning pada anak-anak kecil sekampungnya. Permintaan pakaian dan celana juga dikabulkan dengan cara ditaruh di kuburannya.

Anak ambar itu baru lepas sama sekali dan tidak pernah mengganggu kehidupan keluarganya yang di dunia setelah permintaannya yang terakhir. Yakni minta dikawinkan dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah sama-sama anak ambar seperti dirinya. Tidak ingin terjadi hal-hal seperti sebelumnya, keluarga Asmiati pun mengabulkan keinginan anak bajangnya itu meski prosesi perkawinannya hanya diketahui beberapa orang dekatnya, termasuk orang pintar yang sudah menjadi guru spirtual orang tuanya.

Cerita yang hampir sama pernah juga menimpa sebuah keluarga yang tinggal di Jakarta. Bahkan, karena merasa tidak pernah dirawat oleh orang tuanya, anak ambar ini sempat merusak usaha catering orang tuanya. Dia membikin ulah agar rezeki yang mengalir dari usaha catering ibunya itu macet. Pelanggan orang tuanya yang sebelumnya ramai menjadi sepi.

Konon, hal itu karena dikacaukan anak ambarnya yang tidak diperhatikan lagi di alamnya. Bahkan, saat anak itu minta dibelikan cincin untuk tunangan, orang tuanya tdak mengabulkannya. Beruntung keluarga pengusaha bahan-bahan bangunan ini mempunyai orang tua yang mengerti soal-soal seperti itu.

Dan, setelah dibelikan cincin sepasang dan pada malam yang telah dihitung untuk memilih hari baik, cincin itu dikuburkan di nisannya. Selanjutnya, teror anak ambar itu tidak terjadi lagi.

Seorang paranormal yang tinggal di Mojokerto menjelaskan bahwa anak ambar di alam sana juga tumbuh seperti manusia. Bahkan juga menikah. Mereka membentuk komunitas tersendiri, pisah dengan alam jin dan alam arwah. Anak ambar baru benar-benar lepas setelah mereka membentuk keluarga sendiri. Seperti di dunia, seorang anak baru dianggap bisa mandiri setelah mereka berkeluarga.

Hebh mengenai anak bajang atau anak ambar, sebenarnya bukan hal yang baru di negeri ini. Sebuah surat kabar Melayu-Cina pada 1940-an bahkan pernah menulis cerita mengenai anak ambar.

Ceritanya, di sebuah daerah di Jakarta, di antara wanita Betawi keturunan Cina, ada yang memelihara hantu yang berasal dari roh anaknya sendiri yang meninggal karena lahir sebelum masanya.

Untuk hantu yang mirip tuyul ini oleh ibunya dibuatkan perabot kamar yang serba mini, seperti ranjang mini lengkap dengan bantal, guling, selimut, dan sebagainya. Bahkan anak ambar itu dikabarkan sempat minta dikawinkan oleh orang tuanya dengan anak ambar wanita kepunyaan keluarga lain. Keinginan untuk menikahi kekasihnya itu diberitahukan kepada ibunya melalui mimpi.

Pada mulanya anak ambar itu sempat mengamuk dengan merusak perabotan rumah karena keinginannya itu tidak dikabulkan orang tuanya. Karena keanehan terus-terusan terjadi di rumah itu, akhirnya permintaan yang ganjil itu pun dikabulkan. Pesta perkawinannya dikabarkan dilakukan dengan cukup ramai. Bahkan, surat kabar tersebut sempat membuat foto boneka yang dianggap keluarga pemilik anak ambar sebagai simbolisasi perkawinan itu.

Masih menurut paranormal asal Mojokerto, anak bajang atau anak ambar memang bisa dijadikan untuk pesugihan. Ia bisa diperintah untuk mengambil harta benda milik orang lain mirip tuyul. Namun, meski begitu tidak semudah membalikkan telapak tangan lelaku dan prosesi ritualnya. Jika salah bahkan bisa fatal akibatnya, jelasnya tanpa menyebutkan akibat fatal yang bagaimana.

Tidak semua orang bisa melakukannya dan orang yang bisa melakukan pesugihan anak ambar biasanya meminta bantuan seorang dukun dukun. Tapi, meski anak ambar bisa dipelihara untuk pesugihan, bukan berarti melakukan ini tidak ada resikonya.

"Wong anak di alam dunia saja terkadang orang tua sulit mengaturnya, apalagi di alam sana. Tanpa bisa melihat sepak terjangnya tentu lebih tidak terkontrol lagi. Sebab itu, orang yang mau melakukan pesugihan anak ambar harus memikirkan resikonya," ujarnya.

Rabu, 19 Maret 2014

Penganut Pesugihan Blorong

Penganut Pesugihan Blorong
Seekor ular berkepala manusia keluar dari atap rumah. Siluman ular itu kemudian masuk ke rumah warga. Dan keesokan harinya, warga yang kemasukan siluman ular itu meninggal tanpa sebab yang jelas.Kejadian ini aku alami beberapa tahun lalu, saat itu terjadi kegemparan di desa kami. Beberapa warga meninggal mendadak tanpa sebab apapun, kebanyakan usianya masih muda. Hampir tak ada yang tahu penyebabnya, hasil tes dokter menyatakan bahwa mereka semua baik-baik dan tidak mengidap penyakit apapun. Tetapi dari rumr yang berkembang mereka dijadikan tumbal pesugihan oleh beberapa orang warga desa kami yang menjalani ilmu sesat meraih kekayaan itu.

Kebetulan, di desa kami ada beberapa orang yang dinilai masyarakat meraih kekayaan dalam waktu singkat. padahal, mereka juga warga desa biasa yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan bekerja di sawah seperti kebanyakan warga lain. Tiga orang itu, sebut saja Budi, Tole, dan Andik, tiba-tiba memiliki kekayaan yang melampaui warga lain. Berhubung baru saja terjadi kematian aneh beruntun, ketiga orang tersebut selalu menjadi pergunjingan warga karena dianggap menjalankan pesugihan.

Selama berbulan-bulan pergunjingan itu terus berlangsung. Sedemikian hebatnya gosip itu beredar hingga membuat Budi, Tole, dan Andik tak berani berkumpul dengan warga, mereka menjadi introvet dan anti sosial. Beruntung tak terjadi tindakan-tindakan brutal dan main hakim dari warga terhadap ketiga orang tersebut. Bila terjadi, tentu desa kami menjadi terkenal seantero Indonesia.

Sesungguhnya aku tak tahu menahu mengenai pergunjingan tersebut. Aku bukan orang yang suka menggunjing, karena aku juga tidak ingin menjadi bahan pergunjingan. Tetapi entah mengapajustru aku yang harus tahu kebenaran jawaban dari teka-teki kematian misterius beberapa warga desaku. Itu semua terjadi tanpa sengaja ketika aku bersilaturahmi ke rumah para tetangga ketika Lebaran Idul Fitri.

Saat berkunjung ke rumah Pak Sapto, sebut saja begitu, tetangga yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahku. Tak biasanya keponakanku yang pendiam tiba-tiba berontak dan menangis ketakutan mnta pulang.

"Ayo pulang Mbah Uti. Ayo pulang. Aku takut," tangis Ulil, keponakanku, sambil menangis menunjuk salah satu kamar di rumah Pak Sapto.

"Jangan menangis, ayo dimaka dulu kuenya. Ini lho enak," rayuku menenangkan. Tapi ulil tetap menangis, bahkan semakin keras.

"Sudah jangan menangis, kamu takut apa?" kakakku ikut menenangkan.

"Aku takut Pa...," rengeknya.

"Takut apa?" Tanya kakakku yang juga ayahnya Ulil.

"Itu Pa, di kamar Mbah Sapto ada wanita tapi badannya ular. Di sebelahnya ada uangnya banyak," jawab Ulil. Seketka kami tertawa mendengar jawaban keponakanku yang baru berumur tiga tahun itu, tentu itu hanyalan anak-anak yang suka lihat sinetron dan film artun saja.

Tak sedikitpun terbersit pikiran negatif ketika Ulil berkata demikian, tak pernah kami menganggap kata-kata keponakan itu sebagai hal yang benar hingga lima hari kemudian. Lebaran sudah hampir seminggu berlalu, para pemudk sudah sudah banyak yang balik meninggalkan kampung kami yang sunyi. Malam itu, Ulil tak bisa tidur. Ia terlihat gelisah seolah melihat sesuatu yang mengerikan tengah terjadi. Nina bobo dan bujuk rayu ayah ibunya tak mampu membawanya terlelap.

Lonceng jam berdentang dua kali, pertanda malam telah merambat pada pukul dua dini hari ketika balita itu berjalan menuju kamarku dan membangunkanku.

"Om... om... bangun...," teriaknya membangunkanku. Aku yang sedar sore tak bisa tidur karena terganggu suara bersk kakakku merayu menidurkan Ulil menjadi terbangun.

"Om... ayo ikut aku," katanya sambil menggeret tanganku. Ia memintaku membuka pintu rumah dan mengajakku menuju teras.

Di depan teras tengah malam yang sunyi itu tiba-tiba perasaan angker menyergap diriku, mendirikan bulu kuduk.

"Ada apa kamu mengajak keluar?" Tanyaku memecah kesunyian.

Mata kecil balita itu memandangku tajam. Lama baru ia menjawab. "Om lihat genteng rumah Pak Sapto," katanya.

"Lihatlah, nanti om akan tahu sesuatu," katanya ringan tetapi membuatku semakin bergidik ketakutan di tengah malam itu.

Beberapa detk kemudian pemandangan mengejutkan terjadi di depan mataku, dari atap rumah Pak Sapto tiba-tiba keluar sesosok wanita berambut panjang dan bertubuh ular sebesar pohon kelapa. Tubuhnya berpendar leluasa menerobos genteng menunjukkan bahwa ia adalah makhluk gaib. Siluman wanita itu kemudian berjalan melata melintasi jalanan depan rumah yang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Hampir saja aku pingsan ketka makhluk jadi-jadian itu melintas di depanku sembari menoleh dan memamerkan gigi runcingnya.

Setelah makhluk itu melintas tiba-tiba muncul keberanian, aku melangkah membuntutinya hingga beberapa langkah keluar menuju jalan depan rumah. Aku meihat jelas siluman itu memasuki rumah Bagus, temanku SMP. Dalam kebingungan dan tanda tanyaku apa yang dilakukan siluman itu di rumah sahabatku, tiba-tiba Ulil memanggilku dan mengajak masuk rumah serta mengunci pintu. Balita lelaki itu kemudian menyuruhku tidur dan ia juga tidur.

Dalam kamar aku malah tak bisa tidur, sulit mempercayai apa yang aku lihat. Tetapi semua itu begitu nyata terjadi di depan mataku. Lama aku berpikir hingga rasa kantuk menyergap dan aku tertidur.

"Le.. le, bangun, Bagus meninggal," suara keras itu membangunkanku saat baru saja aku merasa terlelap. Aku sangat terkejut dan seketika terbangun mendengar kabar mengejutkan itu. Sahabatu sejak masih SMP itu kini meninggalkanku untuk selamanya.

Kematian Bagus yang tanpa didahului sakit dan sebab apapun menambah daftar kematian misterius di desaku. Aku tercengang di antara bingung dan tanda tanya. Apa hubungan antara kematian Bagus dengan apa yang aku lihat tadi malam. Apa pula hubungannya dengan kejadian Ulil menangis melihat wanita berbadan ular saat kami bertandang ke rumah Pak Sapto beberapa hari lalu. Semua serba misterius.

Lamunanku dikejutkan oleh suara Ulil yang baru saja bangun. "Ada apa Om di rumah Om Bagus kok ramai?" Tanyanya.

"Om Bagus meninggal," jawabku pelan.

"Iya Om, Om Bagus dimakan siluman ular yang datang tadi malam," jawaban Ulil mengejutkanku. Aku tersentak kaget mendengar, mendengar perkataan Ulil. Antara percaya dan tidak, tapi aku melihatnya sendiri. Sampailah aku pada kesimpulan, kematian misterius selama ini adalah tumbal pesugihan Pak Sapto.

Apa yang aku lihat kemudian membuka benang merah mengenai misteri kematian aneh di desaku. Semua pemuda yang mati mendadak ternyata sebelumnya pernah diajak berpergian dan dimanjakan oleh Pak Sapto. Semula tak ada yang curiga jika Sapto menjalankan pesugihan, selain ia aktif berjemaah di Musholla depan rumah istrinya juga pandai menyebarkan gosip behwa pemilik pesugihan adalah Budi, Tole, dan Andik. Kolaborasi keji suami istri itu memang mampu menutup lelakon sesat yang mereka jalani untuk mencapai kekayaan.

Ternyata Budi, Tole, dan Andik menjadi kaya bukan karena pesugihan, mereka hanya korban fitnah istri Sapto. Mereka kaya kerena sebab yang berbeda. Budi kaya karena mendapat bagian warisan dari neneknya yang berada di Singapura. Tole kaya karena sepetak sawah yang ia miliki dbeli dengan harga berpuluh lipat leh operator telepon untuk tiang relay. Sedangkan Andik kaya karena menggeluti bisnis on-line. Pantas mereka kaya meski masyarakat tahu ketiganya tak bekerja.

Dari Ulil aku kemudian juga tahu, rupanya balita itu terbuka indera keenamnya, bahwa Sapto mendapatkan pesughan tersebut dari Laut Selatan. Permintaan mereka untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan pesugihan ditolak oleh Ratu Laut Selatan yang baik. Penguasa Laut Selatan itu sebenarnya memang tak pernah amu diajak kerjasama untuk melakukan perbuatab buruk. Kesempatan itu dipergunakan oleh Nyi Blorong , lelembut Laut Selatan yang jahat itu dan sesat untuk menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan dengan menyanggupinya kaya raya melalui ritual pesugihan.

Rabu, 24 Juli 2013

Barter Nyawa di Lereng Gunung Sumbing

Barter Nyawa di Lereng Gunung Sumbing Oleh: Esparti

Tak tahan dengan kemiskinannya, Lukman menukar nyawanya sendiri dengan sejumlah uang. Potongan tubuhnya diperjualbelikan dipasar setan. Sedangkan ruhnya menjadi budak iblis sepanjang masa.

Maria masih ingat persis saat Lukman suaminya pagi itu pulang dengan langkah gontai. Ia berucap lemah dengan bibir sedikit pucat.

"Maria, mungkin ini uang terakhir yang bisa aku berikan kepadamu. Kau gunakan seperlunya agar cukup untuk keperluan sekolah Rani anak kita. Dan jika ada sisanya, bisa kau manfaatkan untuk modal berdagang," tutr Lukman sambil menyodorkan bungkusan kantong hitam, yang ternyata berisi lembaran uang kertas.

Maria tampak bingung, bahkan tak tau harus bilang apa. Ia terbengong dengan sikap suaminya yang pergi selama tiga hari, dan tiba-tiba pulang dengan membawa sekantong penuh uang kertas.

"Uang dari mana semua ini Mas? Apa yang telah kau lakukan selama tiga hari kepergianmu?" tanya wanita beranak satu sembari mengernyitkan dahinya.

"Hidup adalah pilihan Maria. Walau pilihan itu terasa pahit bagi kita, tapi inilah takdir yang harus kita jalani." Kenang Maria menirukan ucapan suaminya dua tahun silam.

Lukman merasa telah gagal hidupnya setelah merantau beberapa tahun di daerah Cikupa, Tangerang tanpa membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Lalu ia pulang ke kota kelahirannya Kebumen. Dengan pertimbangan biaya hidup yang lebih rendah, sehinga berharap bisa sejahtera. Tapi rupanya dugaan itu meleset, kenyataan ini tak didapatinya pula di desanya. Walau segala upaya telah dilakukan Lukman agar bisa hidup layak, tapi usaha itu tetap saja gagal, tak membuahkan hasil yang berarti. Hingga ahrnya ia tergiur oleh bisikan manis iblis yang bersemayam dalam jiwanya.

"Dalam keterpurukan ekonomi, Mas Lukman benar-benar stres. Sering ia mengeluhkan keadaan itu, dan aku sendiri tak bisa berbuat banyak, kecuali hanya menyabaran hati untuk mengarungi kehidupan yang pahit ini." Lanjut Maria dalam perbincangan dengan misteri.

mungkin ungkapan "orang miskin dilarang sakit" itu ada benarnya. Jangankan sakit, sehat saja susah mencari rezeki yang halal. Sehingga haram pun ia terjang dengan berbagai cara. Pemikiran inilah yang terus bermain dibenak Lukman. Hingga akhirnya pada suatu malam, ia mendatangi rumah Baskoro adiknya, dengan maksud meminta untuk menemaninya pergi ke suatu daerah di lereng Gunung Sumbing. Menurutnya di tempat itu ada seseorang yang bisa merubah hidupnya menjadi makmur, terkabul segala kebutuhannya, dengan jalan menukar nyawa kepada dhanyang penghuni disana.

"Di tempat itulah dulu temanku bisa merubah nasibnya dengan spontan Bas. Sekarang dia menjadi orang yang kara-raya di kampungnya," bisik Lukman berusaha meyakinkan adiknya dengan suara pelan, agar tak didengar orang lain.

"Tapi Mas... aku tak berani. Apa tidak ada jalan lain? Hal itu bukan hanya dosa besar, dan resikonya suatu saat kita sendiri yang harus menanggungnya, baik kepada dhanyang tersebut, maupun di hadapan Tuhan." Ucap Baskoro yang begitu terkejut dengan keputusan kakaknya. Lukman hanya menggeleng pelan.

"Aku ingin kaya, Bas, bukan hanya sekadar mimpi jadi orang kaya. Dan semua akan aku mulai sekarang. Aku yakin, diriku bisa menjadi orang yang terpandang dan disegani di kampung ini. Kau tau Bas, aku sudah capek miskin. Aku sudah bosan dihina dan diremehkan masyarakat. Keberadaanku di tengah mereka seolah tak dianggap." Tuturnya sedikit mengeras dengan pandangan kosong.

"Yah...... itulah nasib kita Mas. Tapi untuk menempuh jalan sesat, aku tak bisa. Bahkan sama sekali tak terbersit dalam benakku. Kalau bisa kau eling dan sadar Mas!"

"Sudahlah Bas! Kalau kau tak berani, biarlah aku sendiri yang pergi ke tempat itu. Niatku sudah bulat, semua sudah aku pertimbangkan. Dan memang rasanya hanya jalan ini yang bisa merubah hidupku. Kalau kau tak mau menemaniku, biarlah aku berangkat sendiri besok pagi."

Kemudian ia berlalu, pergi meninggalkan Baskoro yang masih terbengong. Ajakan Lukman ditolaknya dengan halus, bahkan Baskoro telah berusaha keras untuk menghalangi niatnya. Tapi sayang, rupanya iblis telah bercokol dengan kuat di hatinya. Sehingga pagi itu Lukman tetap pergi meninggalkan Maria. Kepergiannya yang tanpa pamit membuat wanita setengah baya itu mengkhawatirkan dirinya.

"Setelah tga hari lamanya, tiba-tiba dipagi buta ia pulang dengan menenteng bungkusan tas plastik hitam. Dan begitu kubuka, ternyata berisi lembaran uang kertas penuh. Sontak aku terkejut, berbagai penafsiran sempat aku tanyakan, tapi ia tak menjawab sama sekali. Dirinya hanya tersenyum yang rasanya cukup pahit bagiku." Cerita Maria di hadapan Misteri.

Maih menurutnya pula, setelah dua tahun berlalu baru dirinya tau kalau ternyata kepergian Lukman saat itu menuju lereng Gunung Sumbing untuk menemui seorang dukun yang bernama Wak Diran. Semua ia ketahui dari pengakuan Baskoro. Menurutnya, Wak Diran bisa menghubungkan seseorang yang ingin menukarkan nyawanya dengan penghuni disana, asalkan orang tersebut dengan niat mantap. Dan ini terbukti pada diri Lukman.

"Aku tak menyangka suamiku akan berbuat senekat ini. Kalau saat itu tau, aku tak akan mau menerima uang dari hasil penjualan nyawanya di sana. Dan yang paling menyedihkan, Mas Lukman belum sempat menikmati hasil jerih payahnya ia keburu dijemput oleh dhanyang lereng gunung itu. Jika kuingat semua, perih rasanya hati ini." Kenang wanita yang kini menekuni usaha katring di desanya. Dan semua itu tak lepas dari modal pemberian suaminya untuk yang terakhir kalinya. Di hadapan Misteri Maria menuturkan, betapa hancur hatinya saat dengan mata kepala sendiri melihat Lukman suaminya meregang nyawa.

Sehabs makan malam bersama, tiba-tiba ia tersengal, lalu batuk dan kemudian langsung muntah darah. Mas Lukman jatuh tak sadarkan diri. Kami tak sempat membawanya ke rumah sakit, karena kejadiannya begitu cepat. Bahkan saat tetangga berdatangan dengan maksud memberikan pertolongan, ia sudah tak bernyawa."

Lebih lanjut Maria menuturkan, kematian suaminya yang tragis ini tak lepas dari ulah dhanyang gunung itu yang menukar nyawanya dengan sejumlah uang. Begitu juga keyakinan Baskoro adiknya, beruntung ia berhasil menolak ajakannya saat itu. Rupanya begitu cepat kesempatan hidup yang diberikan oleh iblis tersebut. Bahkan beredar kabar pula, manusia yang mati karena barter nyawa di tempat itu, jasadnya (raganya) akan diperjual belikan layaknya daging potongan di pasar setan yang ada di sana.

Kabar mengenai hal itu rasanya sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat di lereng Gunung Sumbing. Sedangkan nyawa mereka yang telah ditukarnya akan menjadi budak para penghuni di sana. Dari keterangan Baskoro yang disampaikan kepada Misteri, sebenarnya saat itu kakaknya masih hidup. Hanya saja waktu kesepakatan dalam penukaran nyawa telah habis, sehingga dengan paksa ia akan diambilnya saat itu juga.

"Dhanyang di sana ta mau peduli orang tersebut sedang dimana atau sedang melakukan apa. Yang pasti saat waktunya tiba, mereka beranggapan karena serangan jantung. Atau jatuh dari kendaraan tanpa sebab yang diakhiri dengan kematian. Hal ini perlu diwaspadai dengan ulah penghuni tempat itu.

"Yang pasti jasad dari orang yang menjadi korbannya dengan cepat akan ditukar dengan pohon pisang (gedebong) untuk mengelabuhi keluarga dan masyaraat. Sedang raga aslinya akan diperjual-belikan kembali di pasar alam pedhanyangan. Kemungkinan hal ini yang terjadi pula dengan kakakku." Tandas Baskoro dengan sesekali mengenang sosok kakaknya yang menurutnya cukup pendiam. Saat ditanyai mengenai proses ritualnya, laki-laki yang merupakan adik ipar Maria mengungkapkan, kalau sebenarnya hal itu tergantung dari banyak sedikitnya harta atau uang yang diminta.

Jadi semakin banyak permintaan, semakin cepat pula nyawanya ditarik untuk dijadikan penghuni alam sana. Seprti yang pernah aku dengar, teman Mas Lukman yang tinggal di daerah Brebes. Saat itu ia meminta sebuah rumah, mobil sewrta motor. Alhasil, gaib di sana memenuhinya dengan syarat, umur mereka tinggal setahun. Dan beberapa bulan kemudian terbukti, ia memiliki segala sesuatu yang diinginkannya. Akan tetapi baru menikmati kemewahan sesaat, waktu yang dijanjikan habis. Tibalah saatnya ia menyahur hutang atas janji yang telah disepakati. Sehingga tepat setahun kepulangannya dari gunung itu, teman Mas Lukman meninggal dengan mngenaskan.

"Pernah ada seseorang yang diberi kesempatan waktu hanya enam bulan untuk menikmati hartanya, ini dikarenakan banyaknya kekayaan yang dimintanya, sehingga penghuni di sana hanya memberinya waktu begitu singkat." Sambungnya mengingat cerita Mas Lukman saat itu atas nasib yang menimpa para sahabatnya, yang mungkin telah menginspirasikan dirinya pula, sehingga ia mengambil jalan yang serupa.

Mungkin penuturan Baskoro benar, bermacam cara bia dilakukan iblis tempat itu untuk menjemput nyawa seseorang yang telah menjadi targetnya, hanya saja berbeda jalan dan cara. Ada yang jatuh pada saat sedang jalan, dan mereka menyangka kalau ia terkena strooke. Terkadang pula dengan cara kecelakaan di jalan, dan hal ini paling sering terjadi. Bahkan ada yang hanya sakit sehari langung meninggal dunia.

Tapi ang jelas semuanya mati secara mendadak. Dan pastinya, nyawa orang yang telah dijual di tempat itu tak pernah lewat dari apa yang sudah diepakati bersama. Mungkin bagi sebagian orang menjual nyawanya disana merupakan hal yang praktis dan bisa mengurangi beban dosa, karena tak perlu menggunakan tumbal orang lain, apalagi nyawa keluraganya. Ia lebih baik mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan keluarganya.

Tapi bagaimana pun juga, ia tetap dosa besar di sisi Tuhan. Bahkan ia akan mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari iblis penghuni gunung tersebut. Rupanya diri manusia tak berarti bagi setan dan sebangsanya. Begitu pula bagi kehidupan kita sendiri. Terbukti nyawa satu-satunya diperjual-belikan kepada makhluk halus layaknya barang dagangan. Bahkan kabarnya, dagingnya pun akan menjadi tontonan dan bahan belanjaan yang banyak diminati bangsa setan di pasarnya.

Seolah menjadi mimpi buruk yang tak pernah terduga bagi Maria. Seorang Lukman yang dikenal pendiam, tiba-tiba menjalin persekutuan dan rela menjual nyawanya sendiri untuk mengatasi enderitaan yang terus membelitnya. Mungkin Lukman orang yang selalu berharap mulia untuk membahagiakan keluarganya. hanya dirinya lupa, kalau sedang hidup disebuah negara yang sulit lapangan kerja, serta rendahnya moralitas akibat terpuruknya keimanan kepada Allah SWT. (*)

Sumber: Misteri Edisi 562 Tahun 2013

Jumat, 15 Maret 2013

Pesugihan Siluman Ulat Jedung

Oleh: Budiono Dayak

Ulat itu mengisap payudara Heni kiri-kanan bergantian. Sambil merintih kesakitan, Heni berulang-ulang menyusui sambil kanannya mengelus punggung ulat jadung ini ke arah atas dan bawah. Tapi bukan putih susu yang keluar dari payudaranya, melainkan darah segar.....

* * * * * * * * * * * * * * *


Temu kangen! Ana kaget menerima undangan ini, sudah ia banyangkan betapa serunya nanti. Ia bisa bertemu dengan teman-teman lamanya, mengenang masa ketika masih di bangku SMA dulu. Ya, tak terasa sudah mereka tinggalkan bangku sekolah itu 11 tahun yang lalu.

Pada saat temu kangen nanti mereka akan bisa menumpahkan segala rasa kangen, curhat dan berbincang tentang kehidupan masing-masing masa lalu dan masa sekarang. Kegirangan Ana itu tentu saja ada alasan sendiri, kegirangannya dipicu atas kesepiannya yang sudah enam tahun belakangan ini menjanda.

Yah, karena suaminya Firdaus sudah meninggalkannya dan hidup dengan wanita lain yang menjadi istrinya sekarang. Namun itu bagi Ana jalan yang terbaik, karena wanita seperti Ana tak mau dimadu. Di Kota Madiun yang terkenal dengan makanan khas bremnya ini, ia hidup bertiga dengan Eka dan Dwi, anak hasil perkawinannya dengan Firdaus.

"Hallo Hen, kamu sudah menerima undangan temu kangen?" Sapa Ana kepada sahabatnya semasa SMA dulu via telepon kepada Heni, sejenak setelah suara telepon itu diangkat.

"Sudah, aku sudah terima undangannya kok An....," sahut Heni di seberang sana.

"Begini Hen, gimana jika hari Sabtu nanti aku menginap saja di rumahmu, jadi hari Minggu siangnnya kita bisa berangkat sama-sama ke acara temu kangen itu."

"Oke, tak tunggu."

"Tapi aku nggak mengganggu keluargamu kan?"

"Nggak.... aku belum laku kok An, tenang saja."

Pembicaraan tidak Ana lanjutkan, segera saja ia tutup telepon setelah saling say hello. Meski di sisi hatinya bertanya-tanya dan merasa heran sendiri! Mosok sih Heni belum menikah?Heni itu kan termasuk kategori perempuan cantik di sekolahnya dulu, ia berperawakan semampai, kulitnya pun kuning langsat, ramah perangainya, murah senyum dan enak diajak bicara. Bahkan ketika masih sekolah dulu ia termasuk kembang kelas III IPA 1, maka tidak heran kalau banyak cowok yang naksir dan ingin menjadikannya pacar. Tapi pertanyaan itu, hanya ia simpan dalam benaknya, karena ia takut kalau Heni tersinggung.

Sabtu sore, mobil yang Ana kendarai melaju cepat menuju rumah Heni di kota brem. Yah, di kota yang memiliki makanan khas itu; dulu ia pernah menuntut ilmu di bangku sekolah. Ketika mobilnya sudah mulai berhenti di depan rumah berpagar besi, tinggi dan bercat coklat, Ana sempat terhenyak! Rumah orang tua Heni itu kini tampak menjadi besar dan megah. Halaman depannya lebar, asri, karena di sana-sini banyak ditumbuhi bunga-bunga yang sedang berkembang. Rumah itu tidak seperti 11 tahun lalu, sempit, malah terkesan kumuh dan hanya berdinding kotangan (separuh kayu dan tembok batu bata).

Untuk menepis keheranan Ana itu, ia segera meneleponnya, mengabarkan bahwa ia sudah berada di depan pintu pagar rumahnya. Mereka berkomunikasi via telepon genggam. Tak lama kemudian terdengar langkah penghuni rumah mendekati pintu pagar. Ana kembali terhenyak, saat melihat wanita yang bertubuh kurus membuka pagar besi.

Dialah Heni, temannya yang cantik itu. Tapi mengapa kini kurus sekali? Tapi ia tidak mau membuat penhuni rumah bingung melihat sikapnya, maka ia pun segera melepaskan semua tanda tanya yang bergelayut di kepalanya, agar suasana tidak canggung.

"Wah... kamu sekarang kok kurus sekali, Hen!" bisik Ana pelan di dekat telinganya, karena hatinya tidak bisa menahan keingin tahuannya saat tubuh temannya itu ia peluk erat-erat.

"Hem..." hanya itu suara yang terdengar keluar dari bibir Heni.

Pertanyaan Ana itu pun juga kembali dia abaikan. Sekali lagi Ana harus mawas diri, ia tidak mau masuk terlalu jauh ke kehidupan temannya itu, mungkin Heni tidak mau ia tahu tentang kehidupannya, dan ia tidak mau merusak suasana pertemuan ini. Mereka pun hanya berbincang-bincang tentang masa lalu, dan saling bertukar kabar teman-teman mereka sepanjang yang mereka tahu saja. Sambil makan cemilan dan minuman ringan, nonton tayangan televisi di ruang tengah. Situasi mengenang itu sempat sejenak dapat menhilangakan bayangan keheranan dan pertanyaan-pertanyaan Ana yang belum terjawab.

"Yok kita keluar saja An, kita makan soto ayam, langganan kita dulu. Setuju? Ajak Heni.

"Oke.... sip."

Tanpa harus menunggu waktu lama, malam itu Ana menikmati kenangan di kota kelahirannya ini. Mereka berputar-putar dan berbincang, bahkan sesekali cekikikan berdua jika ingat peristiwa masa lalu yang lucu-lucu dan cinta monyet yang lugu. Setelah mereka makan soto ayam yang pernah menjadi langganan mereka berdua waktu remaja dulu. Mereka pun saling bertukar kabar Haryanto, Hartanto, Setyoko, Herman dan sederet pria lain yang dulu pernah menjadi idola para wanita di sekolahnya. Nostalgia!

Sampai tak terasa, malam pun sudah hampir larut. Ana dan Heni sudah berbaring satu ranjang di kamar depan rumah Heni, setelah pulang dari menikmati malam di jalanan kota masa remajanya itu. Di antara bincang-bincang mereka berdua di pembaringan yang berkasur empuk itu, pertanyaan Ana tentang kesendirian Heni kembali menghantui dan mengganggu pikirannya. Memang semula ia ragu kembali menanyakannya, namun wisik mengusik di relung kalbunya seolah tidak lagi mampu ia bendung.

"Kenapa kamu tidak menikah, Hen?"

"Aku sudah tidak lagi punya rasa percaya pada pri An."

"Patah hati nih."

"Ya, perasaanku sudah mati."

"Aku dulu pernah berpacaran dengan Dika, dia salah seorang pemuda dari trah ningrat di sini," lanjutnya sebelum sempat Ana memberikan pertanyaan.

"Lalu?" kata Ana sebelum diselanya lagi.

"Selama pacaran itu, aku begitu yakin, bahwa dia adalah calon suamiku, aku pun sangat mencintainya. Sehingga apapun yang ia mau dariku aku serahkan, termasuk jiwa, raga yang sebenarnya harus dijaga sebagai perempuan lajang pun aku persilakan diambilnya. Keperwananku dilumatnya! Selanjutnya, bukan hanya sekali saja, tetapi seringkali tubuhku dinikmatinya dengan nafsu birahinya yang meledak-ledak."

"Sampai kamu hamil?"

"Tidak!"

"Terus?"

"Lalu aku pun mendesak Dika, minta pertanggungjawabanya dan kepastian dari ujung hubungan kami."

"Apa katanya?" tanya Ana yang penasaran mendengar ceritanya itu, sempat bersungut-sungut. Harga dirinya sebagai perempuan mulai terusik, seolah ia tidak kuat lagi menahan inti dari klimat kisahnya.

"Orang tuanya menolak hubungan kami."

"Apa alasannya?!" Kata Ana yang ikut hanyut, dan nyaris marah. Ia tidak mampu menunggu.

"Karena aku bukanlah trah darah biru, hanya wong cilik dan rakyat jelata," ujar Heni sambil mendekap tubuh Ana erat-erat. Air matanya tak mampu terbendung lagi, membasahi dada Ana.

"Bajingan!" Umpat Ana, tidak terima atas penghinaan ini.

"Anehnya, Dika seperti kerbau dicocok hidungnya, dia hanya diam seribu bahasa. Hanya mampu sendika dawuh, bahkan prung .... meninggalkan aku."

"Kurng ajarnya dia!"

"Hal ini berangsur-ansur membuat kedua orang tuaku jatuh sakit dan menghembuskan napasnya yang terakhir secara bergantian."

Untung Ana segera eling. Tidak larut dalam suasana duka dan penhinaan kaumnya. Ia peluk erat-erat tubuh Heni. Mereka pun lama terdiam dan ia pun tidur, meski hanya tidur ayam, tidak pulas. Sebab masih saja terngiang kisah Heni yang membuat ia larut dan ikut merasa terhina, sebagai kaum hawa. Malam pun sudah semakin tua, sunyi dan semilirnya angin mulai berhembus, membelai tubuhnya dari lubang angin kamar itu. Membuat Ana kedinginan dan terhenyak sejenak terjaga. Sementara Heni sudah tidak ada di sisinya.

Tiba-tiba kesunyian malam itu, menjembak Ana dalam suasana yang menakutkan, bahkan bulu kuduknya ikut-ikutan berdiri. Rasa takut itu pun semakin menggila ia rasakan, dan menjadikan tubuh merinding, seolah ada keganjilan di rumah ini . Suasana terasa semakin sunyi, sepi seperti suasana tengah malam di kuburan. Gawat, wingit dan angker seolah berpacu dalam benak, pikiran dan jiwa Ana. Di luar hanya terdengar rintik hujan yang jatuh dan luruh di atas genting. Maklum memang saatnya sedang musim penghujan. Tiba-tiba pula suara rintihan mengaduh seorang wanita terdengar sayup-sayup menggelitik telinga kanannya.

Sura rintihan seperti mengaduh yang keluar dari mulut perempuan itu, begitu Ana kenal. Suara Heni! Jelas, membuat ia penasaran dan terus menggoncang pikirannya, dan ia mencoba menepis rasa ketakutannya sendiri, tapi ia justru lebih mengkhawatirkan dan takut jika Heni kenapa-kenapa.

Dengan sisi keberaniannya, Ana melangkah pelan bahkan sangat pelan sekali. Dengan hati-hati, ia dekati datangnya sumber rintihan tadi. Di kamar belakang itu datangnya suara rintihan bak isak tangis yang ia curigai tersebut. Tepat di depan kamar itu, kedua kakinya yang semula berjingkat-jingkat ia hentikan. Rasa penasaran yang terus bergejolak membuat dirinya berani untuk mengintip kejadian yang ada di dalam kamar itu.

Begitu mata kiri Ana tertempel di lubang kunci kamar itu. Gelap! Maka ia menambah belalakan matanya lebar-lebar, sehingga ia mampu menembus pandangan yang semula gelap menjadi remang-remang, karena ruangan dalam kamar itu hanya diterangi sebuah lilin dan beberapa dupa wangi yang tertancap di semacam vas bunga yang terbuat dari kuningan.

Kaget! Ya, ia terperanjat, ketika bola matanya mengarah ke bawah, hingga melihat di sebelah salah satu sudut ruangan itu. Di karpet warna merah maron itu tubuh Heni terbaring telanjang dada sambil memeluk suatu benda sebesar guling, berwarna hijau kekuning-kuningan, bersungut panjang.

Tubuhnya beruas-ruas dan matanya hitam melotot, persis ulat jedung (ulat yang biasa menggerogoti daun pepaya). Ulat ini sedang netek serta mengisap payudara Heni kiri-kanan bergantian. Meski sambil merintih kesakitan, Heni berulang-ulang menyusui. Tangan kanannya mengelus punggung ulat jedung ini ke arah atas dan bawah. Tapi bukan warna putih susu yang keluar dari payudaranya, tetapi darah segar.

Inikah wujud siluman ulat jedung yang dikenal pemberi pesugihan bagi orang yang pikirannya kalut dan hatinya cupet, sehingga jalan sesat dilaluinya. Guna mendapatkan kekayaan yang berlimpah dengan jalan pintas maka seolah membuat dogma yang teryakini. Orang akan bergelimang harta, naik derajat dan pangkatnya di masyarakat.

Inikah pelampiasan rasa sakit hati atas cercaan dan hinaan yang di terima Heni dari keluarga nigrat Dika? sehingga ia rela mengorbankan jiwa dan raganya di atas gelimang dosa, kendati tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, kendati masih kentara garis-garis kecantikannya. Ana hanya mampu tertegun keheranan, tubuhnya terpaku di depan pintu kamar itu, menyesali langkah yang diambil teman sekelasnya ini. Tak ada yang bisa dilakukan Ana selain hanya menyimpan rahasia ini rapat-rapat. (*)

Sumber: Misteri Edisi 550 Tahun 2013