Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul MautSakaratul maut merupakan masa-masa terakhir menjelang ajal. Suatu kejadian yang berat, menakutkan serta mengerikan. Saat itu, orang merasakan begitu menyeramkan menyambut ajal. Orang bisa tenang jika mempunyai perbekalan akhirat yang cukup, tapi menjadi menakutkan manakala tak secuil pun kebajikan yang diperbuatnya sewaktu di dunia. Banyak memori keindahan yang terekam, tapi baying-bayang rasa sakit yang teramat sangat membuntuti.

Sakaratul maut adalah fase perjalanan yang akan dilalui manusia sebelum menuju alam akhirat. Fase ini merupakan jalan tersulit, dimana manusia akan menghadapi dan tidak bisa mengelak sedikit pun. Kehadiran sakaratul maut bisa menjadi suatu momok yang menakutkan bagi setiap orang karena rasa sakit yang amat tatkala nyawa direnggut dan dicabut dari badan. Persoalan ini telah dberitakan Allah SWT dalam firman-Nya:

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Yang artinya: ”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah apa yang selalu kamu hindari dan kamu lari menjauhinya.” (QS. Qaaf: 19)

Rasa sakit ini sungguh tiada terkira. Hingga akal seakan sulit menerima kebenarannya. Syaikh al-Kulayni meriwayatakan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq yang berkata: “Suatu hari Rasul SAW menunjungi Imam Ali yang sedang sakit mata, dan dia merintih kesakitan. Rasulullah SAW bertanya: “Apakah jeritan itu disebabkan engkau tidak tahan atau lantaran rasa sakit yang luar biasa?” Imam Ali berkata: “Saya belum pernah merasakan sakit seperti ini.” Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Malaikat Maut datang mencabut nyawa seorang kafir, dibawanya besi runcing seperti penusuk daging yang terbuat dari api. Malaikat kemudian mengeluarkan nyawanya dengan besi runcing tersebut, hingga orang kafir itu pun menjerit kesakitan.”

Setelah Imam Ali mendengarkan cerita tersebut, ia bangun, duduk lalu berkata: “Ya Rasulullah, ulangilah cerita itu, karena hal itu dapat melupakanku dari rasa sakit.” Imam Ali terus bertanya: “Apakah ada di antara umatmu ada yang nyawanya dicabut seperti itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Ya, ada. Nyawa para penguasa yang dzalim, orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan dzalim dan orang-orang yang memberikan kesaksian palsu akan direnggut dengan cara demikian.”

Pada saat-saat kritis seperti ini, seakan semua kesulitan menghampiri manusia. Bayang-bayang rasa sakit saat nyawa dicabut dari badan – sebagaimana digambarkan di atas –, membuat mulut terasa bumkam tanpa bsa mengeluarkan sepatah kata, fisik tak berdaya lemah lunglai hingga jika ada satu benda sekecil apa pun jatuh di atas badannya akan dibiarkan begitu saja tanpa bisa dihindari, pelepasan dari seluruh anggota keluarga, yang sedang menangis serta yang susah untuk dilupakan adalah harta.

Mungkin saja ada banyak harta orang lain tersimpan padanya, yang belum sempat dikembalikan kepada pemiliknya atau yang dengan sengaja diambilnya secara tidak benar. Kini ia menyadari segala kesalahannya, padahal jalan untuk memperbaiki diri telah tertutup. Keindahan dan kenikmatan dunia yang pernah ia reguk semasa hidupnya hingga menjelang ajalnya, mulai menghilang dari pandangan matanya berganti dengan bayang-bayang kesedihan; apa yang akan terjadi setelah mati serta apa yang akan diterimanya nanti.

Berkaitan dengan persoalan harta, suatu hari Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Ia mengingat-ngingat harta yang telah dikumpulkan, dicari, dan diperolehnya tanpa memperdulikan dan memperhatikan apa harta itu jelas-jelas halal atau masih diragukan kehalalannya. Yang demikian itu kadang-kadang sudah lazim terjadi dalam pengumpulan harta. Kini, ia akan berpisah dengannya, dan harta itu pun diperuntukkan bagi orang-orang yang akan ditinggalkannya. Mereka akan bersenang-senang dengannya. Maka, harta itu dinikmati oleh orang lain, sedangkan beban dan tanggung jawab atas harta tersebut berada di pundaknya. Di sisi lain, ia merasa takut memasuki alam lain yang belum pernah dialaminya. Matanya mulai melihat hal-hal yang belum dialaminya. Allah SWT berfirman:

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Yang artinya: ”Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang Munutpi) matamu, dan penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.” (QS. Qaaf: 22)

Di antara alam sadar, orang serasa melihat Rasulullah SAW serta malaikat pembawa rahmat dan adzab hadir di sisinya untuk memperlihatkan nasibnya. Selain itu, iblis dan golongannya juga datang untuk membuatnya ragu-ragu agar keimanannya sirna hingga ia meninggal dunia dalam keadaan tanpa iman. Kemudian ia juga melihat Malaikat Maut datang kepadanya dengan wajah menyenangkan atau mengerikan.

Ali RA berkata: “Semua kesulitan sakaratul maut telah mengepung dan mengerumuninya. Maka berubahlah segala sesuatu yang telah dianugarahkan kepadanya.”

Menurut beberapa keterangan, jika hendak mencabut nyawa seorang mukmin yang shaleh, malaikat menjelma dengan wajah menyenangkan, pakaian indah lagi wangi. Selain itu tutur kata dan penampilannya pun ramah, dan selalu didahului ucapan salam. Dengan keramahannya, ia akan menjemput orang mukmin itu penuh rasa hormat dan berlaku baik.

Sehingga orang itu tetap tenang dan tidak menampakkan ketakutan. Tapi tidak demikian halnya jika yang hendak dicabut nyawanya bukan orang mukmin. Malaikat Maut datang dengan memperlihatkan wajah garangnya. Kata-kata dan perilakuknya kasar, hingga nyawanya dicabut dengan paksa dan ia merasakan sakit yang hebat.

Demikianlah beberapa hal yang menyertai sakaratul maut. Menjelang ajal, ada yang meronta-ronta kesakitan, gelisah serta ketakutan. Orang bertingkah demikian karena orang yang bersangkutan merasa mempunyai banyak dosa yang belum sempat ia tebus sedangkan waktu taubat sudah tertutup.

Sebaliknya, ada yang menjelang ajalnya tampak tenang dan pasrah, wajahnya berseri-seri serta lancar mengucapkan istighfar. Bahkan seulas senyum kebahagiaan selalu menebar dari bibirnya. Ini menandakan bahwa yang bersangkutan sudah siap menghadap Yang Kuasa dengan bekal iman, taqwa dan amal shaleh yang dilakukan sewaktu di dunia.

Orang yang beriman siap menghadapi kematian dengan penuh harapan serta pegangan batin yang kokoh. Seperti diungkap H Bey Arifin dalam bukunya, Hidup Sesudah Mati, orang yang beriman bagai seorang penerjun paying. Dia melompat meninggalkan pesawat terbangnya dari angkasa yang tinggi. Namun dengan kepercayaan penuh bahwa parasut akan terkembang yang dapat menyelamatkan jiwanya. Hanya beberapa saat saja saat dia sedikit berbeda dan terkatung-katung di angkasa akhirnya dapat menginjak tanah kembali dengan kedua kakinya tanpa kurang suatu apa.

Ibnu Abbas meriwayatkan Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat teliti. Ia mempunyai ruangan khusus untuk beribadah. Ke mana pun ia pergi, ia selalu mengunci pintu dan membawa anak kuncinya. Suatu hari ia begitu terkejut, ketika membuka pintu. Tenyata di dalamnya ada seseorang yang mencurigakan. “Siapa yang mengizinkan engkau memasuki ruang kamar ini?” tanya Ibrahim.

”Pemilik rumah ini yang menyuruhku masuk.”

”Aku pemilik rumah ini,” jawab Ibrahim.

”Yang memiliki bumi dan langit,”ucap orang itu dengan nada diplomatis yang membuat Ibrahim kian bingung. Ibrahim kemidian bertanya lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Jika begitu, siapa engkau sebenarnya?”

”Akulah malaikat maut,” jawabnya.

Nabi Ibrahim AS bertambah kaget, tapi berusaha menyembunyikan keterkejutannyadan kembali bertanya. “Dapatkah engkau menunjukkan sebagaimana hendak mencabut nyawa orang mukmin?”

”Tentu, alihkan pandangan sebentar.”

Ibrahim menuruti permintaan tamunya itu. Dan ketika kembali memperhatikannya, dilihatnya wajah dan penampilan malaikat maut sudah berubah. Malaikat maut telah mengubah diri menjadi seorang pemuda berparas tampan, berpakaian indah dan wangi.

Dari cerita di atas, tampaknya penjelmaan Malaikat Maut dalam sosok yang agung, tenang dan menyenangkan tergantung dengan kadar keimanan dan amal shaleh seseorang selama hidupnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah mengunjungi seorang anak muda yang sedang sekarat. Rasulullah mengajarkan kepadanya agar ia mengucapkan kalimat syahadat. Namun, mulu pemuda itutetap bumkam dan tak dapat mengucapkannya. Walau sudah berulang kali Rasulullah menyuruhnya, tak urung mulutnya tetap saja terkatup.

Kemudian Rasulullah bertanya kepada seorang wanita yang berada di dekat pemuda tersebut: “Apakah pemuda ini masih memiliki ibu?”

Wanita itu berkata: “Ya, akulah ibunya.”

Rasulullah bertanya: “Apakah kamu murka kepadanya?”

Ia menjawab: “Ya, sampai sekarang. Sudah enam tahun aku tak berbicara dengannya.”

Rasulullah berkata: “Relakanlah dia.”

Wanita itu berkata: “Semoga Allah meridhainya demi ridhamu, wahai Rasulullah.

Ketika ia mengucapkan kalimat yang menunjukkan kerelaannya, maka mulut sang pemuda pun terbuka. Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah la ilaha illaallah (tiada tuhan selain Allah). Pemuda itu pun mengucapkannya.

Rasulullah bersabda: “Apakah yang engkau lihat?”

Ia berkata: “Seorang laki-laki berkulit hitam dengan wajah buruk dengan pakaian yang nemjijikan dan mendatangkan bau busuk serta mencekik leher pernapasanku.”

Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah ya man yaqbalul yusira wa ya’fu ‘anil katsiri, iqbal minni al-yasira wa’fu ‘anni al-katsira. Innaka anta al-ghafir ar-rahim (Duhai Dzat yang menerima amal yang sedikit, dan yang memaafkan dosaku yang sangat banyak. Terimalah amal shalehku yang sedikit dan ampunilah dosaku yang amat banyak. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka pemuda itu membaca doa yang diajarkan Nabi SAW dan beliau bersabda: “Lihatlah! Apa yang tampak sekarang?”

Pemuda itu berkata: “Saya melihat seorang berkulit putih, berwajah tampan, mengenakan pakaian yang baik, tengah datang menghampiriku. Sementara itu orang yang berwajah hitam tadi membelakangiku dan hendak pergi.”

Nabi SAW berkata: “Ulangi doa itu!” Pemuda itu membacanya lagi.

Nabi SAW bertanya: “Apa yang kau lihat sekarang?”

Sang pemuda menjawab: ”Aku tida melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, dan orang yang berwajah putih itu berada di sisiku.” Tak lama kemudian pemuda itu wafat. Gambaran seorang pemuda yang menghadapi sakaratul maut demikian susahnya itu menyiratkan bahwa penghormatan antara orang satu dengan yang lainnya, terlebih pada ibunya, sangat penting.

Dari kasus di atas, secara jeas meski Rasulullah membacakan talqin untuknya, tetap saja ia tak dapat mengucapkan kalimat tauhid. Setelah bunya memaafkan kesalahannya, barulah pemuda itu dapat membuka mulutnya dan mengucapkan kalimat syahadat.

Ada sebuah riwayat yang menjelskan bagaimana caranya agar peristiwa yang dikhawatirkan tidak terjadi seperti dalam cerita pemuda di atas. Syaikh ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam as-Shadiq bahwa beliau berkata: Barang siapa ingin agar Allah memudahkan sakaratul mautnya, maka hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahmi dan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Jika ia berbuat demikian, Allah akan memudahkan segala kesulitan di saat nyawanya direnggut dari badan serta rezekinya dimudahkan.”

Dengan mengetahui sakaratul maut dan berbagai kejadian yang menyertai seharusnya menjadikan manusia tetap ingat bahwa dunia bukan ajang untuk memupuk kekayaan, kekuasaan serta gagah-gagah-an. Tapi media menusia untuk mempersiapkan bagaimana menghadapi kematian dan selanjutnya menuju kehidupan yang abadi. (Herry Munhanif/berbagai sumber)

Sumber: Hidayah

Jumat, 24 Oktober 2014

Melepas Cinta Karena Harta

Hiduplah sepasang suami istri yang bahagia. Istrinya yang cantik dan salihah bernama Fauziah binti Abdullah. Suaminya yang tampan bernama Salam bin Sufyan. Semua orang menilai mereka pasangan ideal yang taat beribadah walau keadaan ekonomi mereka biasa saja. Mereka adalah pasangan yang sabar menanti rezeki dan segala hal yang diatur oleh Allah.

Kecantikan Fauziah binti Abdullah sesungguhnya membuat semua lelaki iri kepada Salam bin Sufyan. Salah satunya adalah seorang saudagar kaya yang belum menikah di kota itu, bernama Husein bin Ishak. Husein bin Ishak selalu mengintip ke mana pun Fauziah pergi. Perasaan Husein gundah dan sangat menginginkan Fauziah. Karena tidak kuat menahan gelisah, dia mengatakan hal itu kepada sahabatnya, Ismail bin Sholeh.

’Ya Allah, kaujatuh cinta kepada perempuan bersuami. Apakah tidak ada perempuan lain selain dia?" tanya Ismail terkejut.

"Aku sangat mencintainya. Bahkan aku rela menukar apa pun untuknya," kata Husein yakin.

Mereka lalu menyusun rencana untuk memisahkan suami istri itu. Ismail mengatakan akan membantu Husein memperistri Fauziah. Ismail mendatangi rumah Fauziah dan Salam.

"Wahai Sahabatku, saudagar kaya bernama Husein bin Ishak ingin bertemu denganmu," kata Ismail pada Salam.

Salam sangat kaget dengan undangan itu. Bagaimana mungkin seorang saudagar kaya mengundang orang miskin sepertinya. Salam lalu memenuhi undangan Husein dengan hati yang dipenuhi tanda tanya.

Sampailah Salam di kediaman Husein yang sangat indah. Salam merasa undangan dari Husein merupakan penghargaan baginya dan dia merasa bahwa ini bisa menjadi jalan bagi kehidupannya.

"Selamat datang, Sahabatku," sambut Husein ramah.

Salam menjadi kikuk dengan panggilan sahabat.

"Assalamu’alaikum," katanya bergetar."Wa’alaikumsalam. Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri," kata Husein. "Aku ingin berbincang denganmu. Itu sebabnya, aku memanggilmu," lanjut Husein.

"Apa gerangan yang membuat kau memanggilku. Katakanlah, aku akan membantu jika memang kau membutuhkan ban tuanku," jawab Salam.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Husein.

"Aku baik-baik saja, sungguh pun aku dan istriku berada dalam kemiskinan," Salam berpikir dengan mengatakan hal itu, Husein akan memberikan sesuatu padanya.

’Ya, aku tahu mengenai itu. Itulah sebab aku memanggilmu."

Apa yang dikatakan Husein membuat Salam terperanjat.

"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Husein.

"Istriku? Dia adalah perempuan yang salihah dan sabar menghadapi ujian ini. Dia tidak pernah mengeluh dan tetap mengabdi kepadaku sebagai suaminya. Selain itu, yang membuatku bangga adalah kecantikannya tidak pernah memudar walau kesulitan melilit kami. Dia selalu merasa bahagia," jawab Salam bersemangat ketika bercerita mengenai Fauziah.

"Apa yang terjadi jika kalian bercerai?" Husein bertanya tanpa ragu.

"Ah, ada-ada saja. Aku sangat mencintainya dan hanya Allah yang akan memisahkan kami," jawab Salam.

"Hmmm, maksudku... aku ingin menukar istrimu dengan separuh harta yang kumiliki untukmu," kata Husein.

"Maksudmu?"

"Sejak lama, aku memendam cinta pada istrimu, bahkan rasa cinta itu membuatku gelisah sepanjang malam. Aku tidak bergairah melakukan apa pun, yang terbayang hanyalah istrimu dan aku ingin melamarnya. Karena itulah, aku memanggilmu. Aku ingin berbagi kisah sedih ini denganmu. Apakah perasaanku wajar? Bahkan aku rela menukar apa pun untuk seorang Fauziah," Husein mengatakan itu dengan bergetar.

Salam tidak mengatakan apa-apa. Pikirannya berkecamuk antara cinta dan harta. Jika dia memilih Fauziah, hidupnya akan tetap miskin. Jika dia melepaskan Fauziah, dalam hitungan detik dia menjadi kaya raya. Apa yang akan dipilihnya.

"Semua keputusan ada di tanganmu," ujar Husein.

"Berikan aku waktu untuk berpikir," pinta Salam.

Lalu pulanglah Salam ke rumahnya. Ditemuinya Fauziah dan memberitahukan perbincangannya dengan Husein. Fauziah sangat terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya. Timbul perasaan waswas dalam hatinya. Sampai suatu hari, akhirnya Salam mengambil keputus¬an untuk menceraikan Fauziah.

"Suamiku menceraikanku," kata Fauziah dengan kesedihan yang mendalam. "Semua karena harta," lanjutnya.

Salam mengatakan kepada Husein bahwa dia sudah menceraikan Fauziah dan dia menuntut janji Husein yang akan memberikan setengah hartanya. Seluruh masyarakat mempergunjingkan hal itu. Semua orang mengetahui peristiwa yang dianggap memalukan itu; memilih harta dibandingkan cinta. Salam menceraikan Fauziah karena harta. Setelah masa idah Fauziah habis, Husein datang meminang Fauziah. Fauziah mengatakan akan melakukan shalat istikharah sebelum menolak atau menerima pinangan Husein. "Aku setuju untuk menunggu," kata Husein dengan tegas.

Tibalah hari memberi kabar mengenai jawaban yang diberikan Allah atas shalat istikharah Fauziah. Orangtua Fauziah mengutus salah satu kerabat ke rumah Husein.

"Wahai Sahabatku, jawaban dari Allah untuk pinanganmu adalah menerimamu sebagai suami bagi Fauziah."

Betapa bahagia hati Husein. Pernikahan diselenggarakan dengan meriah. Husein dan Fauziah berbahagia. Salam yang telah hidup bergelimang harta rupanya mendengar kebahagiaan mereka. Hatinya terbakar api cemburu. Dia membayangkan mantan istrinya yang cantik, salihah, dan sabar, kini telah menjadi milik orang lain. Kecemburuan itu membuat kesehatannya mem¬buruk. Akhirnya, Husein jatuh sakit. Biaya pengobatan yang besar lambat laun membuat hartanya habis dan dia kembali jatuh miskin.

"Cinta yang sangat terhadap harta dan kedudukan dapat mengikis agama seseorang." -HR Aththusi

Air Mata Ketakutan

Oleh : adminaba

Seluruh Madinah pastilah mengenal Abdurrahman bin Auf, seorang saudagar kaya yang tersohor. Ia juga seseorang yang dermawan. Seluruh penduduk Madinah menikmati kekayaannya. Sepertiga hartanya dipinjamkan untuk penduduk Madinah, sepertiganya lagi untuk membayar utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka.

Namun, Abdurrahman bin Auf ternyata adalah seseorang yang mudah tersentuh dan mempunyai rasa takut yang luar biasa. Ketakutan apakah yang dapat membuat Abdurrahman bin Auf menangis tersedu-sedu? Ini teijadi ketika para sahabat berkumpul dengan Abdurrahman bin Auf untuk menghadiri sebuah undangan di rumah beliau. Setelah makanan terhidang di hadapan mereka, sontak Abdurrahman bin Auf mena¬ngis. Seorang sahabat kemudian bertanya, "Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman?"

Masih berderai air mata ia menjawab, "Benar Rasulullah telah wafat. Tahukah kalian, beliau beserta keluarganya belum pernah memakan roti sampai kenyang? Apa harapan kita andai dipanjangkan usianya, tetapi tidak pula bertambah kebajikannya?"

Para sahabat pun ikut menangis bersama Abdurrahman bin Auf. Mereka inilah pemilik hati yang rapuh terhadap hidayah, selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak pernah berputus asa dalam mengharap ridha- Nya.

Di lain kesempatan, seseorang pernah bertanya kepadanya perihal ketakutannya tersebut. Begini jawaban Abdurrahman bin Auf.

"Kalian tentu mengenal Mush’ab bin Umar, bukan? Ia telah gugur sebagai seorang syuhada dan merupakan orang yang lebih baik daripada aku. Namun, ketika ia mati, padanya hanya diberikan sehelai kain kafan dari burdah. Jika ditutupkan ke kepalanya, kelihatan kakinya. Jika ditutupkan ke kedua kakinya, terbukalah kepalanya. Itu juga yang terjadi pada Hamzah, seorang syuhada yang lain, yang juga lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapatkan sehelai selendang sebagai kafannya. Padahal, kepada kami telah dihamparkan dunia seluas-luasnya, dan diberikan pula hasil yang sebanyak-banyaknya. Sungguh aku khawatir, jangan-jangan pahala kebajikan kami sudah diberikan di dunia ini saja."

Itulah penyebab mengalirnya air mata ketakutan dari seorang Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya yang sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan membawa kebahagiaan padanya ketika tidak ia gunakan untuk membela agama Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita takut apabila harta kita tidak dapat menolong kita di akhirat nanti?

"Kekayaan yang kita peroleh adalah harta titipan dari Allah SWT
yang kelak dapat menolong kita di akhirat nanti."



-------------------------------------------------------
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Sumber : Kolom Abatasa.com
-------------------------------------------------------

Sabtu, 25 Mei 2013

Berikanlah Ketulusan Hatimu

Berikanlah Ketulusan Hatimu

Oleh : Adminaba

Kisah di bawah ini adalah kisah yang di dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Pelajaran tentang Hati dan perasaan.

Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling."

Sabtu, 22 Desember 2012

Kesedihan Penghuni Kubur

Kesedihan Penghuni Kubur
Oleh: Adminaba

Tsabit Al Banani adalah orang yang biasa melakukan ziarah kubur setiap malam Jumat. Di sana ia bermunajat dan taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah hingga Subuh tiba.

Suatu ketika, Tsabit tertidur saat bermunajat, lalu bermimpi. Di dalam mimpinya ia melihat semua penghuni kubur keluar dari kubur mereka dengan mengenakan pakaian indah. Wajah mereka juga berseri-seri. Kemudian setiap orang dari mereka mendapat hidangan makanan bermacam-macam. Namun di antara mereka ada juga seorang pemuda yang tampak bersedih. Wajahnya pucat, rambutnya kumal, pakaiannya jelek, kepalanya tertunduk, serta berlinangan air mata. Ia juga tidak mendapat hidangan seperti penghuni kubur lain.

Setelah itu para penghuni kubur kembali ke dalam kuburnya masing-masing dengan bahagia dan puas, kecuali pemuda itu. Ketika pemuda itu juga hendak kembali ke dalam kuburnya namun dengan penuh kesedihan, duka cita serta putus asa. Tsabit pun berkata kepadanya, "wahai anak muda, siapakah engkau? Mengapa mereka mendapat hidangan serta kembali ke kubur masing-masing dengan kegembiraan dan kebahagiaan, sedang engkau tidak mendapat hidangan, bahkan engkau kembali dengan kesedihan, duka cita, dan putus-asa?"

"Wahai Imam orang-orang mukmin, aku ini seorang pendatang yang terasing dan tak seorang pun mengingatku, mendoakan, maupun melakukan amal kebaikan karena aku. Sementara mereka (para penghuni kubur yang lain) mempunyai anak cucu, kerabat serta keluarga yang senantiasa mengingatnya dan mendoakannya, beramal baik dan bersedekah karenanya. Sehingga setiap malam Jumat selalu datang pada mereka pahala kebaikan dan sedekah dari anak cucu, kerabat serta keluarga mereka. Sebenarnya aku ini orang yang hendak berhaji bersama ibuku. Tapi ketika kami sampai di kota ini, ketetapan Allah (maut) berlaku untukku. Maka ibuku menguburkanku di tempat ini, kemudian ibu menikah dengan seorang laki-laki sehingga lupa padaku dan tak pernah mengingatku, mendoakanku, maupun mengirimkan pahala sedekah untukku. Sungguh, sepanjang waktu aku berada dalam keputusasaan dan dan kesedihan."

Tsabit berkata, "wahai anak muda, katakan padaku di mana ibumu tinggal saat ini? Aku akan memberitahunya tentang dirimu dan keadaanmu."

Pemuda itu menjawab, "wahai imam orang-orang mukmin, sesungguhnya ibuku tinggal di desa sana, rumahnya begini dan begini. Katakan padanya semua tentang diriku. Seandainya ia tidak memberi sedekah padamu maka katakan, sesungguhnya di dalam kantongmu terdapat seratus keping uang perak warisan suami pertamamu. Sedangkan yang berhak memiliki uang itu adalah anakmu yang sudah meninggal dan terasing. Maka sedekahkanlah kepadaku apa yang seharusnya menjadi haknya."

Ketika terbangun dari tidur, Tsabit segera pergi mencari ibu si pemuda yang ditemuinya dalam mimpi itu. Setelah bertemu ibu pemuda itu, Tsabit mengatakan tentang semua yang dialami anaknya, juga mengatakan tentang seratus keping uang perak yang menjadi hak anaknya, yang kini ia simpan.

Mendengar semua yang dikatakan Tsabit, perempuan itu jatuh pingsan karena sedih dan sesal yang amat dalam. Ketika siuman, perempuan itu segera menyerahkan seratus keping uang perak sembari berkata, "aku pasarahkan padamu sedekah seratus keping ini demi anakku yang terasing."

Maka Tsabit pun menerima uang itu, kemudian menyedekahkan semuanya demi si pemuda yang ia temui di dalam mimpinya. Seperti biasa, malam Jumat berikutnya, Tsabit melakukan ziarah kubur lagi. Ia kembali ketiduran saat munajat, hingga bermimpi seperti kemarin. Hanya saja pemuda yang kemarin ia temui dalam mimpi itu kini mengenakan pakaian bagus dan wajahnya berbinar-binar. Ia tampak bahagia. Pemuda itu berkata pada, "wahai Imam orang-orang mukmin, semoga Allah membelas-kasihanimu sebagaimana engkau telah membelas-kasihani aku."

Dari hikayat tersebut, nampak bahwasannya orang yang sudah meninggal merasakan kesedihan bilamana keluarganya yang masih hidup melakukan kejelekan atau tak beramal kebaikan. Sebaliknya jika keluarganya melakukan amal-amal kebaikan, maka orang yang sudah meninggal akan merasakan kebahagiaan, karena mendapat bagian dari pahala mereka, tanpa sedikit pun terkurangi hitungan pahala milik mereka.

Kolom.abatasa.com, Jum'at, 30 November 2012

Cantik Dalam Pandangan Islam

Cantik Dalam Pandangan Islam
Oleh: Adminaba

Wanita tercantik adalah wanita yang memiliki tubuh ramping, pinggang kecil, betis membujur, rambut panjang dan pirang, kulit putih, bibir kecil dan penuh, hidung mancung, dan mata berbinar. Itulah yang ada dalam fikiran wanita atau pria. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja.

Orang Indonesia dengan kulit sawo matang yang ada dimana-mana, dan hampir bisa dipastikan bahwa sebagai wanita berkulit sawo matang, akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari'at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Kemudian mereka ada yang harap-harap cemas menggunakan cream pemutih wajah, jamu peramping perut dan conditioner herbal penumbuh rambut agar panjang dan ikal, sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dan lain-lain. Ini semua menjadikan wanita menjadi tidak percaya diri terhadap inner beauty yang telah Allah berikan padanya sejak lahir, dan akan menunjukkan auranya ketika sudah mencapai akil baligh.

Sekarang kalau ditanya siapakah wanita yang tercantik atau dianggap cantik di muka bumi ini? Maka persepsi yang ditanamkan media, dengan dipelopori dunia barat, tentunya menunjuk gadis berkulit putih yang tinggi semampai, dan rambut pirang kecoklatan, berbaju sexy terbuka, memperlihatkan aurat yang harusnya ditutupi dan menjadikan semua terbuka agar semakin nampak kecantikannya. Apabila telah terpilih sebagai wanita tercantik di seluruh dunia, maka semua wanita akan berlomba untuk mengikuti gaya dan penampilan sang wanita tercantik di seluruh dunia ini sehingga mereka ingin tampil secantik model tercantik.

Menyukai kecantikan dan keindahan adalah salah satu fitrah, kecenderungan yang dimiliki setiap wanita. Dan perasaan ingin cantik ini adalah nikmat Allah SWT. Tetapi seringkali kita salah memaknai nilai kecantikan yang sebenarnya dan menganggap bahwa kecantikan wanita hanya tertumpu pada keindahan fisik atau secara lahiriah saja. Seringkali kita menyaksikan betapa banyak wanita cantik di dunia ini tapi keindahannya hanya sesaat, pribadinya adalah pribadi yang tak menyenagkan, kehidupannya berantakan dan sebagainya. Perilakunya tidak cantik bahkan menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

Padahal Allah menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepada-Nya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang (mencontoh Rasulullah). Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ALLAH menciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk :

Cantik Dalam Pandangan Islam (QS. At-Tiin: 4, Iwan Lemabang

"Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim"

Artinya:"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tiin: 4)


Siapakah yang membuat standar penilaian terhadap ciptaan Allah yang Maha Kuasa? Wahai para wanita percayalah bahwa wanita tercantik adalah wanita yang mampu memahami bahwa dia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk dan dia diciptakan adalah untuk beribadah:

Cantik dalam Pandangan Islam (QS. Adz-Dzariyaat: 56, Iwan Lemabang)

"wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun"

Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyaat: 56)



Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:

"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)



Berbahagialah ketika kecantikan itu bukan sekedar menghiasi wajah, tapi terutama hati dan akhlak kita. Karena kecantikan fisik pasti akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Tapi kecantikan hati dan akhlak, itulah yang akan bersinar dan terus dikenang oleh orang-orang di sekitar kita.

"Allahumma kamaa hassanta khalqii, fahassin khuluqii"

"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadian (fisik) ku, maka perindah pulalah akhlakku." (HR. Ahmad)



Sumber: Kolom.abatasa.com Sabtu, 24 November 2012
Kaligrafi Qur'an By: LEMABANG 2008

Kamis, 20 Desember 2012

Hati yang Dalam Kala Terluka

Hati yang Dalam Kala Terluka
Oleh: Adminaba

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri,mandi dan bersalin pakaian.

Sejenak sebelum masuk keruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, "Kenapa lama sekali dokter! Tidak taukah lama anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?"

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, "Saudaraku saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada diluar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju kesini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda."

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredamkan amarah si bapak, bahkan suaranya mengguntur. "Anda bilang apa? Tenang!?Sedikit pun anda tidak peduli rupannya, apakah Anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? Semoga Allah mengampuni Anda, apa yang akan Anda lakukan jika anak anda meninggal?"

Sambil tetap mengulas senyum dokter menanggapi, "Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan ALLAH: "Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’in."

Dokter itu melanjutkan, "Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman? Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga memendekkannya. Usia ditangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putera Anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah,oleh karena itu jika terjadi yang tidak kita inginkan ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushala rumah sakit untuk memperbanyak shalat dan doa kepada Allah agar Dia menyelamatkan anak Anda," Tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, "Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda."

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergerasa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, "Berbahagialah Pak, Alhamdulillah operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci."

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat.

Seketika orang tua anak itu berkata, "Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikitpun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?"

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, "Kemarin putera beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan puteranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda."

Ya Allah rahmatillah hati yang meski terluka, namun tidak bicara.



Sumber: Kolom.abatasa.com Senin, 19 November 2012

Pesona Kecantikan Perempuan

Oleh: Adminaba

Subhan tidak bisa menolak apa yang yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah. Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah," kata ibunya.

"Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini," lanjut ayahnya mantap.

Hati Subhan berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti kemauan orangtuanya.

"Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azi-zah di kampungnya," ujar ayahnya. Bagaimana mungkin aku tidak setuju ? kata Subhan dalam hati.

Subhan hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orangtuanya bahagia, Subhan akan menyetujuinya. Bagi Subhan, tidak ada yang lebih berharga selain membahagiakan orangtuanya.

Paras Subhan yang tampan memudahkan dirinya memilih perempun cantik mana pun yang akan dijadikanm istrinya. Sebenarnya, Subhan memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya. Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang elok. Semua harapannya tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali tidak dia ketahui rupanya.

Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Subhan bisa melihat dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan di sana. Aaah...

Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana, jatih dari kriterianya. Batin Subhan menjerit, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki tubuh tinggi langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah demikian.

Peijodohan harus terlaksana. Subhan tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Subhan mengusir kriteria perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.

Akhirnya, pernikahan teijadi. Subhan melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya mengatakan hal itu. Subhan berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Subhan berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan impiannya.

Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura-pura bahagia. Subhan merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Subhan mencintainya.

Subhan mulai mengacuhkan Azizah. Azizah semakin menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Subhan semakin ketus hingga akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Subhan tak menjawab.

"Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku," ujar Azi¬zah mantap.

Subhan hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Subhan bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Subhan dengan baik. Azizah memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud dan melantunkan ayat Al-Qur’an. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat had Subhan tergugah. Kadang, Subhan memaki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu terobsesi pada perempuan cantik? Bukankah dalam agama Islam diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpendng dalam memilih pasangan?

"Aku hamil," kata Azizah suatu pagi.

Subhan hanya menatapnya dengan dingin.

Pada suatu hari, di tengah peijalanan menuju rumah, Subhan bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.

"Mengapa kau terlihat bersedih?" tanya Subhan.

Sahabat Subhan lalu mengajak Subhan berteduh di sebuah masjid.

"Aku ingin bercerita," katanya.

Subhan berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia bertanya tentang hal yang ingin diceritakan sahabatnya itu. Seharusnya dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.

"Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah...," desisnya pelan. "Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi..." lanjutnya.

"Apa yang teijadi?" tanya Subhan.

"Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna."

"Ya...," terbayang di benak Subhan wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.

"Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya, memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh kecantikannya."

"Lalu?" tanya Subhan penasaran.

"Ternyata, pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut. Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal..."

"Ya...?" mata Subhan membulat. "Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku."

Subhan tertegun.

"Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak menghormatiku," kata sahabat Subhan sambil menitikkan air mata.

"Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya."

Cerita sahabatnya itu membuat hati Subhan teriris. Apa yang sudah dia lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik. Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta tanpa pamrih yang begitu indah.
Selepas mendengarkan kisah pilu sahabatnya, diam-diam hati Subhan bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah untuknya.
"Azizah, aku akan berusaha mencintaimu," kata Subhan dalam hatinya.

Sebelum pulang, Subhan menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Subhan tidak dihiraukan.

"Ke mana istriku?" tanyanya dalam hati.

Kreeeek... ternyata pintu rumah tidak terkunci. "Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumsalam." Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.

Dengan langkah cepat, Subhan menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.

"Ya Allah, apa yang teijadi padamu?" Subhan memeluk Azizah.

"Aku terjatuh di kamar mandi," jawab Azizah lirih.

"Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?" Subhan gusar.

"Aku belum meminta izinmu, Suamiku,"

Subhan menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian Azizah sungguh luar biasa. Subhan memeluk erat tubuh Azizah hingga Subhan merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam penyesalan yang menyeruak, Subhan merasakan angin sejuk menghampiri dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat untuknya. Subhan menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan itu.

Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Subhan lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.

Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita. Aku mencintaimu. ISTRIMU



Subhan menangis tersedu-sedu. Kenapa cinta datang terlambat? Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.

"Sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (istri) yang salihah." (HR. Muslim)



Sumber: Kolom.abatasa.com