Kamis, 20 Desember 2012

Huruf Terakhir

Cerpen: Benny Arnas

Namaku Lili, ujarmu diperkenalan kalian dua tahun yang lalu, perkenalan yang akhirnya mengantarkan kalian ke pelaminan, pernikahan yang melempar kalian ke kesemuan yang lucu, kenyataan menyeret kalian ke dalam lakon berdarah siang itu!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sejak dipromosikan menjadi sekretaris direktur, sebagian besar waktumu kau habiskan untuk urusan pekerjaan. Kau tak pernah tahu, sedari kau putar kunci Avanza lalu meluncur ke kantor di utara kota. Illy selalu berhasil membawamu kembali. Dari pagi hingga malam meninggi, kalian membincangkan banyak hal. Dari pekerjaan, kesetaraan gender, kurs rupiah yang makin anjlok, anggota-anggota DPR yang beradu mulut dan saling tonjok, isu naiknya harga BBM, hingga perkara asmara> Untuk yang terakhir, kalian tidak hanya terlibat dalam perbincangan yang hangat, tapi juga kerap bercumbu bagai tak menenggang keberadaan tetangga. Kadang Illy tertawa keras-keras, kadang memekik penuh gairah, dan tak jarang melenguh seolah tengah menuntaskan pertarungan-pertarungan. Kalian selalu melakukannya sepanjang hari.

Bila kau pulang cept, di waktu yang sama, kau buru-buru menyelinap keluar dari pintu belakang. Illy juga selalu pandai berakting seolah sepanjang hari sibuk menulis artikel budaya untuk koran lokal, beberapa puisi picisan untuk majalah remaja, menghitung untung-rugi beberapa usaha alternatif yang hingga kini belum direalisasikan, atau membereskan pekerjaan rumah sebagaimana dilakukan oleh para ibu rumah tangga - atau bahkan para pembantu rumah tangga. (Bukan, bukan kau yang meminta Illy melakukannya. Dia sendirilah yang mengajukan diri seolah menenggang kesibukan yang membelitmu, seolah tahu diri dengan status pengangguran).

Selayang pandang, Illy memang tampil sebagai suami yang sayang istri. Ya, walau menjadi penopang keuangan keluarga, kau tak pernah berpikir untuk membabukan suami. Kau hanya sering heran, mengapa Illy selalu lupa merapikan seprei ranjang atau sofa panjang ruang tengah. Kau selalu mendapati dua perabotan itu dalam keadaan kusut atau berantakan. Kau tak pernah menaruh curiga kepadanya. Kau seolah lupa, sepengangguran apa pun, Illy adalah seorang sarjana, Illy adalah laki-laki nornal yang haus kehangatan, Illy bukanlah seorang dungu yang setia-buta menantikan kau pulang larut malam dalam keadaan lelah yang sangat (dan Illy menyiapkan air hangat yang akan membilas lelahmu agaar kau dapat menyongsong malam dengan mimpi yang menrebangkan kepenatan). Lagi pula takkah kau merindukan kehadiran seorang anak, Lili?

Ah, yang terang, kau tak pernah tahu, Illy hanya memandangimu yang pulas disampingnya (Oh Lili, takkah kau iba kepadanya?); kau tak pernah sadar bahwa kau tak pernah punya waktu untuk bertarung dengannya di dalam kelambu brokat tembus pandang; kau juga tak pernah tahu, akhirnya Illy melampiaskan gairah kepada kesepiannya, yang tiba-tiba meluangkan waktu untuk mendengar curhatnya, kepada yang tiba-tiba mendengarkan setiap keluh-kesahnya, kepada yang selalu memberi pertimbangan perihal usaha yang akan ia buka, kepada yang selalu memberi kenikmatan tak tertanggungkan tanpa harus berlaku sepertimu dulu: menerapkan kamasutra yang aneh-aneh lalu menganggurkannya sekian lama hingga saat ini! Kau sangat kejam Lili!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Pagi itu, kau tergesa-gesa mengunyah nasi goreng masakan Illy ketika ponselmu berdering nyaring. Direktur memintamu ke kantor lebih awal. Ada rapat mendadak dengan klien di perusahaan. Tanpa banyak ba-bi-bu, kau oke-kan saja. Kau tinggalkan sarapan yang baru kau lahap dua sendok. Terburu-buru kau ambil segelas sirup-sunkis dan meminumnya seperempat isi. Setengah berteriak kau pamit. Kau tutup pintu serampangan. Menuju Avanza yang baru selesai dicuci Illy pagi tadi. Tak sampai dua menit, mobil metalik itu sudah membawamu menyusur jalanan yang bingar oleh perang klakson.

Di kantor, kau akan mendampingi laki-laki flamboyan yang kau panggil "Pak Direktur" untuk mengikuti rapat yang akan dimulai satu jam lagi. Kau tahu kalau laki-laki itu sudah lama menaruh hati kepadamu. Namun kau mengabaikannya saja. Tentu saja kau tidak menunjukkannya. Kau masih cukup cerdas memilih; kapan melengkungkan senyum, kapan mengejek ketidakberdayaan pemimpin. Kau selalu pandai berkilah bila rekan-rekan kantor (khususnya yang wanita) kerap mengolok-olokmu.

Kepada mereka kau nyatakan bahwa kau memang tak membantah perihal Pak Direktur yang sangat perhatian, namun kau menolak dikatakan mendapatkannya dalam porsi lebih, apalagi dengan cara yang tak semestinya. Pak Direktur hanya ingin menunjukkan bahwa karyawan yang baik akan mendapat tempat yang lebih layak, ujarmu sok bijak. Kau terenyak mendapati berkas-berkas di dalam mapmu.

Ada yang kurang. Kaau lirik arloji mungil yang melilit pergelangan tangan kirimu. Tiga puluhmenit lagi rapat akan dimulai. Kau minta izin keluar sebentar. Pak Direktur menunjukkan air muka keberatan. Namun senyum manis yang kau sunggingkan, seolah-olah meyakinkan pimpinan perusahaan itu bahwa kau akan kembali sebelum rapat dibuka. Ya, tentu saja kau pulang mengambil beberapa nota kesepakatan yang akan ditandatangani klien perusahaan di akhir rapat.

Kau nyalakan mobil. Kau tarik napas agak panjang sebelum menginjak pedal gas. Kau akan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Mobil melaju. Cepat. Kau pasang konsentrasi tinggi. Mobilmu meliuk dengan mulus di beberapa simpang dan jalan yang tak rata. Baru kali ini kau dapati bukti bahwa keadaangentingdapat melecutkan keberanian hingga beberapa kali lipat.

Kau bunyikan klakson beberapa kalinamun Illy tak kunjung membukan pagar. Kau pun kesal. Kau turun dari mobil. Kau menggeret pagar dengan muka kusut. Kau parkir mobil sekenanya di halaman (sebenarnya bisa saja kau memarkirkan mobil di depan pagar tapi kau khawatir ada mobil lain yang akan melintas di jalan kompleks yang sempit itu). Kau menarik grendel pintu depan dengan gerakan malas.

Kau banting pintu. Kau gegas ke ruang kerja. Kau membuka lemari yang biasanya kau gunakan untuk menyimpan berkas-berkas kantor. Sembari memeriksa berkas-berkas yang belum juga ditemukan, kau memanggil-manggil suamimu. Tentu saja kau bukan hendak meminta bantuannya untuk mencarikan beberapa map penting karena ia memang tak tahu apa-apa tetang pekerjaanmu. Kau hanya ingin memastikan bahwa suamimu ada di rumah. Kau hanya ingin tahu mengapa ia tidak mengunci sekaligus membukakan pagar dan pintu untukmu.... Mengapa ia mengabaikanmu!

Praaaanggggg!!

Kau menoleh. Vas bunga kristl yang dihadiahkan Pak Direktur di hari ulang tahunmu beberapa bulan lalu, tersenggol siku tanganmu. Pecah. Beling-beling berserakan di lantai. Kau makin kesal. Mulutmu mulai merunyam. Beberapa kali kau panggil suamimu dengan berteriak. Tak juga ada tanggapan. Ponselmu berdering. Nama Pak Direktur mengedap-kedipkan layarnya. Irama degup jantungmu mulai timpang. Butir-butir keringat mulai berebutan menerobos pori-pori kulitmu. Kau menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk menjawab panggilan.

Klek!

Perasaan lega dan khawatir bertabrakan dalam dadamu ketika mendapati panggilan terputus sebelum sempat kau jawab. Kau gegas menekuri lemari berkasmu. Ups! matamu berbinarcerlang. Kau akhirnya menemukan apa yang kau cari. Kau melirik arloji di tangan. O, rapat pasti baru saja dimulai, gumammu. Kau tahu Pak Direktur pasti marah. Tapi memilih mendampinginya tanpa berkas yang harus ditandatangani, tentu dapat membuatmu terdepak dari posisi nyaman. Baru saja hendak menuju pintu, kau mendengar suara dari kamarmu. O, suara itu memang berasal dari sana. Dan, suara itu. O, benarkah suara itu benar-benar dari kamar? Itu suara suamiku, batinmu bergetar. Suara itu, suara itu, desahan itu, desahan yang menggambarkan kenikmatan yang tengah didaki.

Benarkah desah itu memanggil-manggil namaku, batinmu menggigil. Bahumu turun-naik. Perasaanmu benar-benar tak tentu. O, tidakkah kau sadar, sudah lama nian kau tidak membuat suamimu mengeluarkan suara-suara yang meremangkan gairah? Dan kini..... O kini, kepalamu bergaasing demi menerka siapa yang telah membuat suamimu sebergelora saat ini! Kau bersijingkat mendekati pintu kamar. Pelan-pelan kau buka pintunya yang tidak terkunci. Kau mengintip.

Awalnya kau sipitkan sebelah mata sebelum akhirnya tanpa kendali kau belalakan kedua indera penglihatanmu itu. Kau berteriak sembari berlari menuju suamimu yang bergeliat di atas seprei ranjang yang kusut.

Paaakkkk!

Sebelah tanganmu terasa berdenyar sehabis menampar sebelah pipi laki-laki yang sedari tadi sibuk memegangi kelaminnya sendiri! Illy pun terkesiap tak alang kepalang. Refleks ia bangun, mengeret tubuhnya ke pojok ranjang, lalu meraih selimut untuk menutupi kemaluannya. Ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja terjadi. Kau pun memandanganya dengan tatapan iba. Sekujur tubuh suamimu simbah oleh keringat.

Tampaknya kau benar-benar merindukanku, sayang.... ujarmu seperti bergumam. Suaramu seperti merasa sangat berdosa. Illy masih menggigil. Ia seperti remaja yag habis digagahi tiga orang sekaligus. Tatapannya kosong. Ia terus memanggil-manggil namamu. Kau tak kuasa meneteskan air matamu. Kau seolah baru sadar telah mengabaikan suamimu lebih dari setahun belakangan.

Kau lepaskan stiletto-mu. Kau naik ke ats ranjang. Kau peluk suamimu seolah menenangkan seorang anak kecil yang habis dihajar ayah tiri. Kau rapat-rapatkan dadamu ke wajahnya dan ia terus memanggil-manggil namamu. Aku di sini, sayang, ujarmu lagi dengan nada menenangkan seraya melepaskan syal yang melilit lehermu. Aku juga sangat merinduimu, lanjutmu dengan wajah penuh rona. Kini kau lepaskan semua yang menutupi tubuhmu. Kau pikir, bercinta dengan suamimu siang itu adalah salah satu cara untuk mengakui kealpaanmu selama ini. Kau seperti mendada tak perduli pada rapat di kantor yang akan segera berakhir. Kau tak tahu kalau suamimu benar-benar bingung apa yang tengah di hadapi. Sungguh, ia ingin melanjutkan percintaan denganmu, perempuan yang menggiring jemarinya mencumbui selangkangan sendiri.

Gubrraaakkk!!! Tendangan kaki kanan Illy membuatmu terjengkang dari atas ranjang. Tubuhmu berguling-guling di lantai. Kau rasakan banyak kunang-kunang mengitari kepalamu. Pelipismu meneteskan cairan marun kental. Samar-samar kau lihat Illy meraih tembikar seukuran tubuh bayi dan...... o o o, ia mengarahkannya ke arahmu, ke kepalamu! Kau tak sempat berteriak, seolah membiarkan dering ponsel dalam tas kerjamu (nama Pak Direktur mengedap-ngedipkan kayarnya) membisingkan siang itu, seolah membiarkan kematian datang bersama ketaktahuan yang mengenaskan. Yang Illy inginkan bukan Lili, tapi Lily! (jp)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 16 Desember 2012

Pesona Kecantikan Perempuan

Oleh: Adminaba

Subhan tidak bisa menolak apa yang yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah. Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah," kata ibunya.

"Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini," lanjut ayahnya mantap.

Hati Subhan berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti kemauan orangtuanya.

"Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azi-zah di kampungnya," ujar ayahnya. Bagaimana mungkin aku tidak setuju ? kata Subhan dalam hati.

Subhan hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orangtuanya bahagia, Subhan akan menyetujuinya. Bagi Subhan, tidak ada yang lebih berharga selain membahagiakan orangtuanya.

Paras Subhan yang tampan memudahkan dirinya memilih perempun cantik mana pun yang akan dijadikanm istrinya. Sebenarnya, Subhan memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya. Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang elok. Semua harapannya tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali tidak dia ketahui rupanya.

Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Subhan bisa melihat dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan di sana. Aaah...

Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana, jatih dari kriterianya. Batin Subhan menjerit, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki tubuh tinggi langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah demikian.

Peijodohan harus terlaksana. Subhan tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Subhan mengusir kriteria perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.

Akhirnya, pernikahan teijadi. Subhan melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya mengatakan hal itu. Subhan berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Subhan berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan impiannya.

Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura-pura bahagia. Subhan merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Subhan mencintainya.

Subhan mulai mengacuhkan Azizah. Azizah semakin menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Subhan semakin ketus hingga akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Subhan tak menjawab.

"Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku," ujar Azi¬zah mantap.

Subhan hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Subhan bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Subhan dengan baik. Azizah memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud dan melantunkan ayat Al-Qur’an. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat had Subhan tergugah. Kadang, Subhan memaki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu terobsesi pada perempuan cantik? Bukankah dalam agama Islam diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpendng dalam memilih pasangan?

"Aku hamil," kata Azizah suatu pagi.

Subhan hanya menatapnya dengan dingin.

Pada suatu hari, di tengah peijalanan menuju rumah, Subhan bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.

"Mengapa kau terlihat bersedih?" tanya Subhan.

Sahabat Subhan lalu mengajak Subhan berteduh di sebuah masjid.

"Aku ingin bercerita," katanya.

Subhan berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia bertanya tentang hal yang ingin diceritakan sahabatnya itu. Seharusnya dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.

"Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah...," desisnya pelan. "Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi..." lanjutnya.

"Apa yang teijadi?" tanya Subhan.

"Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna."

"Ya...," terbayang di benak Subhan wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.

"Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya, memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh kecantikannya."

"Lalu?" tanya Subhan penasaran.

"Ternyata, pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut. Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal..."

"Ya...?" mata Subhan membulat. "Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku."

Subhan tertegun.

"Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak menghormatiku," kata sahabat Subhan sambil menitikkan air mata.

"Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya."

Cerita sahabatnya itu membuat hati Subhan teriris. Apa yang sudah dia lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik. Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta tanpa pamrih yang begitu indah.
Selepas mendengarkan kisah pilu sahabatnya, diam-diam hati Subhan bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah untuknya.
"Azizah, aku akan berusaha mencintaimu," kata Subhan dalam hatinya.

Sebelum pulang, Subhan menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Subhan tidak dihiraukan.

"Ke mana istriku?" tanyanya dalam hati.

Kreeeek... ternyata pintu rumah tidak terkunci. "Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumsalam." Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.

Dengan langkah cepat, Subhan menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.

"Ya Allah, apa yang teijadi padamu?" Subhan memeluk Azizah.

"Aku terjatuh di kamar mandi," jawab Azizah lirih.

"Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?" Subhan gusar.

"Aku belum meminta izinmu, Suamiku,"

Subhan menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian Azizah sungguh luar biasa. Subhan memeluk erat tubuh Azizah hingga Subhan merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam penyesalan yang menyeruak, Subhan merasakan angin sejuk menghampiri dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat untuknya. Subhan menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan itu.

Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Subhan lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.

Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita. Aku mencintaimu. ISTRIMU



Subhan menangis tersedu-sedu. Kenapa cinta datang terlambat? Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.

"Sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (istri) yang salihah." (HR. Muslim)



Sumber: Kolom.abatasa.com

Rabu, 19 Desember 2012

Golok Berdarah di Tanganku

Cerpen: Sunaryono Basuki Ks

Tiba-tiba golok berdarah sudah berada di tanganku. Aku tidak tahu dari mana datangnya, namun orang-orang menunjuk ke arahku dan mulai bergerak setelah terdengar teriakan: "Itu jambretnya! Tangkap!" Gelombang orang-orang yang merangsek ke arahku. Tanpa kuinginkan, tangan kananku yang memegang golok terangkat ke atas.

Darah makin melumuri tanganku, sesaat rombongan orng yang tadinya merengsek maju terhenti, namun seseorang berteriak: "Jangan takut! Ayo maju bersama. Ambil tongkat besi! Ambil!" Mereka mulai mencari-cari di tong sampah, di got, di halaman toko, apa saja yang bisa yang bisa mereka pakai sebagai senjata. Tapi lelaki yang tadi berteriak malah sudah memegang pedang panjang. Dari mana dia mendapatkannya? Aku tak sempat berpikir panjang sebab mereka sudah mulai merangsek maju dan mulai mencapai tubuhku, dan memukuliku dengan tongkat dengan apa saja yang bisa dipakai memukul, dan tangan kiriku meraba kepalaku yang bersimbah darah, dan kemudian aku tidak tahu apa aku pingsan atau mati.

Kulihat tubuhku terjatuh di tanah, mereka tetap memukuliku bertubi-tubi, walau aku tidak melawan. Kemudian, kukira aku berbisik: "Apa salahku? Aku tidak berbuat apa-apa." Jangankan bisik, andaikata aku mampu berteriak pun pasti mereka tidak mampu dan tidak mau mendengarku. Yang penting mungkin bagi mereka melampiaskan rasa kesal mereka pada tubuhku, pada diriku yang memegang golok berdarah.

Tapi, bukankah aku tidak tahu dari mana golok berdarah itu berada di tanganku? Tiba-tiba dan begitu saja. Pasti mereka jengkel, hampir setiap hari terjadi penodongan, penusukan, pemerkosaan, dan semuanya menjadikan masyarakat resah kehilangan rasa aman. Polisi tidak mampu mengatasi hal ini, selalu kecolongan aksi-aksi para penjahat itu. Tetapi, aku bukan penjahat. Hanya saja aku tidak punya pekerjaan tetap.

Kalau ada kesempatan, aku memulung sampah-sampah kardus yang dapat kujual pada pengumpul. Namun aku tak punya niat atau keberanian buat membunuh orang dengan golok berdarah yang tiba-tiba berada di tanganku. Sekarang entah tubuhku terbaring di jalan atau ngambang di awang-awang. Aku tidak yakin. Apakah aku berada di rumah sakit, tetapi siapa yang peduli membawa tubuhku ke rumah sakit? Ataukah aku berada di kamar jenazah dan mati sebagai Mr X sebab aku memang tidak punya KTP.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Aku lihat seorang lelaki yang baru meakukan penusukan dengan cepat mengalihkan itu ke tangan seorang lelaki berpakaian kumuh yang sedang mengorek-ngorek tong sampah mencari sisa-sisa yang masih dia bisa dikais. Peristiwa itu berlangsung cepat, aku hampir tak mampu mengawasinya andaikata aku tidak berada di depan jendela lantai dua bangunan itu. Dengan jelas aku lihat lelaki yang menusuk seorang perempuan tua dengan golok, entah apa yang dia kehendakinya.

Ya, baru jelas, dia menjabret kalung perempuan yang berteriak itu yang segera dibungkam dengan sabetan golok yang membuatnya berlumuran darah. Kulihat perempuan itu rebah ke tanah, namun lelaki yang mengais tong sampah itu tiba-tiba memegang golok berdarah di tangannya, dan menjadi sasaran amuk massa. Aku ingin meneriakkan ari atas sini bahwa dia tidak bersalah, dan bahwa lelaki yang berteriak rampok itulah pelaku yang sesungguhnya. Namun, andaikata aku berteriak pun akan sia-sia dan tak akan mampu menahan gelombang amarah massa. Apalagi kalau pelaku sesungguhnya marah danmenuduhku sebagi komplotan pembunuh.

Oh, tidak. Aku tidak mau membahayakan diriku sendiri dengan menerima ancaman golok sewaktu-waktu. Siapa yang bisa memastikan bahwa pelaku penjambretan itu hanya seorang diri saja? Aku yakin mereka tidak pernah beroperasi sendirian. Pasti, paling tidak bertiga atau berempat. Klau kelihatnya pelaku hanya seorang, maka yang lain berjaga-jaga, sewaktu-waktu bisa menghujamkan golok atau pisaunya ke perut orangg yang membahayakan nasib mereka sebagi kelompok. Bahkan polisi pun bisa jadi korban penusukan. Mungkin itu sebabnya petugas polisi tidak sembarangan bertindak.

Dia selalu awas dan mengawasi situasi, siapa tahu di antara kerumunan massa ada yang membawa sajam, dan kemudian menerkamnya dari belakang. Aku terpaku bagai patung kayu di depan jendela, tak bisa menggerakkan lidahku untuk meneriakkan ketidakbenaran dan ketidakadilan itu. Aku hanya bisa menyaksikan ketidakbenaran dan ketidakadilan dari jendela rumah bertingkat dua itu tanpa berbuat apa, bagaikan saksi situasi yang menimpa negeriku. Berbagai peristiwa hanya bisa disaksikan tanpa bisa meluruskannya. Ya, sekarang ini siapa yang mampu meluruskan jalannya sejarah, atau apakah memang sejarah punya puya jalan yang harus diluruskan? Aku benar-benar tidak tahu dan tidak mampu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Aku berada di keramaian kota yang sudah biasa kujalani, dan aku juga sudah biasa waspada, memperhatikan orang-orang di sekelilingku yang gelagatnya mencurigakan. Sebagaimana biasa aku pergi ke pasar untuk membeli keperluan sehari-hari buat keluargaku. Aku bukanlah orang kaya. Suamiku hanyalah hanyalah seorang PNS kecil dari departemen yang mustahil melakukan korupsi, apalagi sampai menggelapkan pajak. Namun, aku bersyukur telah diberi kehidupan walaupun secara sederhana.

Karena suami dan anak-anakku belajar dan diajari hidup jujur, maka sering pula aku beranggapan bahwa semua orang seperti kami, yang hidup dengan bersyukur dan berjalan pada jalur yang benar. Namun, hari ini mungkin hari sialku, atau muungkin sudah berupakan buah dari hasil perbuatanku, atau perbuatan orang tua ku, atau perbuatan leluhurku yang harus kupetik. Orang Bali percaya pada hukum karmaa pala hukum buah perbuatan. Dan, walaupun aku bukan orang Bali, aku juga percaya pada hukum ini. Bukanlah esensi agama mengajari manusia berbuat baik? Benih yang ditebar tidak akan tumbuh sebagai tanaman yang berbeda. Menebar benih padi akan menuai padi. Biji salak akan menumbuhkan tanaman salak yang kulitnya bersisik namun buahnya masam manis.

Entah dari mana, tiba-tiba sebuah tangan terjulur dan menjabret kalungku. Kudengar bisik keras: "Jangan berteriak! Namun mulutku terbuka, dan sebelum sepatah kata keluar, sebilah golok menyambar leherku. Darah muncrat, namun aku masih mengenali lelaki yang menyambarkan golok itu. Lalu, orang-orang memburu seorang lelaki yang tangannya memegang golok berdarah dan menghajarnya. Aku ingin meneriakkan bahwa bukan dia yang menjabret kalungku, namun aku tak berdaya, dan kemudian aku mungkin jatuh pingsan. Kasihan lelaki malang itu, yang juga sedang menanggung buah perbuatannya. Aku tak berdaya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Aku sedang berpatroli dengan sepeda motor HD sebagi petugas polisilalu lintas. Kulihat orang bergerombol menghajar seseorang, dan aku segera menelpon petugas lain untuk datang membantu. Walaupun aku bukan polisi anti huru-hara, sebagai polisi pelindung rakyat aku turun dari sepeda motorku dan meniup peluit untuk menarik perhatian massa yang mengamuk. Namun, nampaknya mereka tak peduli. Kulihat seorang lelaki sudah terkapar di jalan aspal. Tangannya memegang golok berdarah. Jalanan macrt. Kemudian juga, seorang perempuan tergeletak di jalanan. Mungkin dialah korban dari golok berdarah itu.

Aku segera mengatur lalu lintas agar tidak macet. Ambulance yang kupanggil segera datang, bunyi sirinenya meraung-raung dan dua orang korban itu segera dianggkat pergi, dikawal petugas polisi yang datang. Entah bagaimmana nasib mereka. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja dan persoalannya dapat diurus secara hukum. Beberapa orang sudah ditanyai sebagai saksi oleh rekan-rekan polisi yang datang. Setelah melapor melalui telepon, aku memacu motorku menuju rumah sakit, memburu ambulance yang meraung lebih dahulu. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 9 Desember 2012

Minggu, 16 Desember 2012

Saat Jodoh Tak Kunjung Datang

Oleh Amelia Ayu Kinanti

Semua teman telah memiliki pasangan namun Anda masih juga menjomblo? Tak perlu putus asa, karena Anda tak boleh menyerah. Ini yang harus dilakukan.

1. Tak ada kata 'tua' untuk jatuh cinta
Cinta sejati bisa datang kapan saja. Jangan pernah takut terlalu tua untuk jatuh cinta. Karena perasaan cinta milik semua orang di segala usia. jangan biarkan pandangan orang lain mengenai cinta dan batasan umur pernikahan menjadi beban bagi Anda.

2. Berpikir positif
Jangan pernah berpikir bahwa Anda ditakdirkan hidup sendiri. Tetaplah berpikiran positif. Pikiran yang positif akan memengaruhi jiwa juga penampilan Anda. Anda akan selalu terlihat menarik di mata orang lain.

3. Mencari yang terbaik
Coba ingat kembali, selama ini orang seperti apa yang Anda cari. Cantik? Kaya? Sukses? Atau mereka yang bisa membahagiakan Anda? Jangan melulu menuding kesalahan pada orang lain bahkan Tuhan. Bisa jadi, selama ini orang yang terbaik Ada di samping Anda, hanya saja Anda sibuk mencari orang lain yang menurut Anda lebih sempurna. Ingat, pasangan yang sempurna bukan yang berwajah cantik/ganteng, kaya, sukses, atau memiliki jabatan, namun mereka yang bisa membuat Anda bahagia dan merasa sempurna, walau tanpa hal-hal tadi.

4. Hargai diri sendiri
Kesalahan paling fatal yang dilakukan mereka yang masih sendiri adalah tidak menghargai diri sendiri. Belum mendapat pasangan bukan berarti Anda harus “mengobral diri”. Anda itu berharga. Siapa pun yang akan menjadi pasangan Anda adalah seseorang yang beruntung. Jadi jagalah harga diri Anda setinggi-tingginya.

5. Jangan menyerah
Layaknya hidup, cinta pun ada pasang-surutnya. Gagal dalam hubungan cinta bukanlah akhir dari dunia. Jadi bukalah hati Anda.

Sumber: Yahoo! SHE – Kamis, 30 Agu 2012

Kamis, 06 Desember 2012

Berhenti Merawat Luka

Sepenggal Kisah dari Novel Sepatu Dahlan


Oleh : Khrisna Pabhicara

[1] Musim kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tapi, mimpi sepasang sepatu yang terus berkelebat di kepala di sepanjang jalan. Andai kata aku punya sepatu, telapak kakiku tidak akan melepuh atau membengkak. Sebenarnya aku sudah mencoba mencari uang, sebanyak mungkin agar bisa beli sepatu. Sejak Kelas 3 SR, aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan di sela-sela jadwal rutin mengembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku–sepatu dan sepedda. Namun, sering kali kuserahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan mengisi perut lebih mendesk ketimbang mimpi sederhanaku itu. Setiap menyerahkan hasil nguli nyeset, biasanya mata Ibu berkaca-kaca, seperti hendak mengatakan “Tidak seharusnya kamu bekerja seperti ini. NaK!” atau mungkin “Terima kasih, Nak.”

Senyum Ibu adalah ungkap terima kasih yang tak terbandingkan. Hanya sekilas, tapi rasa haru selalu memenuhi dada. Setiap melihat mata Ibu berkaca-kaca, letih dan gatal-gatal di sekujur tubuh sirna begitu saja. Seperti biasa, Ibu akan membelakangiku, tentu setelah menepuk-nepuk pundakku sambil memberikan senyumnya yang paling indah. Sungguh, tak ada kegembiraan melebihi senyum Ibu.

[2] Kebon Dalem, kampung kelahiranku, sebuah kampung kecil dengan enamm buah rumah, tepatnya gubuk, yang letaknya saling berjauhan. Jika berjalan seratus atau dua ratus langkah ke arah timur, Sungai Kanal segera terlihat. Di sepanjang sungai itu banyak pepohonan yang besar-besar, seperti trembesi, angsana, jawi, dan jati. Di sebelah barat dan selatan hanya ada tebu. Ya, ladang-ladang tebu terhampar sejauh mata memandang. Di sanalah, ladang-ladang tebu itu, aku mengais rezeki.

Tuhan memberkati Kebon Dalem dengan tanah yang gembur dan subur. Padi, palawija, pisang, ketela, atau umbi-umbian tumbuh dan berbuah dengan baik. Tapi, warga Kebon Dalem miskin. Tidak ada penduduk asli kampung ini yang kaya. Tanah yang gembur dan subur itu bukan milik mereka. Ladang-ladang itu sebagian milik “tuan tanah”–orang-orang pendatang berduit yang punya tanah ber-hektare-hektare–dansebagian lainnnya milik negara.

Nyaris seluruh lelaki dewasa di Kebon Dalem bekerja sebagia buruh: menggarap tanah bengkok milik aparat desa, buruh harian di perkebunan tebu, atau kuli nyeset di ladang tebu. Ibu-ibu juga aktif membantu suami-suami mereka dengan membatik. Anak-anak pun takkalah giat. Ada yang menggembala domba, sapi, atau kerbau. Ada juga yang nguli ngangkut di Pasar Takeran atau kuli harian di ladang tebu.

Meskipun miskin, anak-anak–atau remaja seusiaku–semuanya sekolah. Bagi penduduk Kebon Dalem, kemiskinan bukanlah halangan untuk menuntut ilmu.

[3] Rumahku, seperti rumah lainnya di kampunng ini, berlantai tanah. Jika musim hujan tiba, akan lembab dan basah. Setiap kemarau datang, pasti panas dan berdebu. Di sana, di lantai tanah yang lembab atau berdebu itu, aku dan adikku menggelar tikar setiap malam. Ajaibnya, kami selalu bisa mendengkur dengan nikmat.

Dinding rumahku terbuat dari potongan-potongan bata merah yang dikumpulkan Bapak satu per satu dari sisa-sisa bangunan yang tak digunakan oleh pemiliknya. Tak ada kursi, meja atau perabotan lain yang kami punya. Kecuali, sebuah kayu tua dipojok kiri dapur. Bukan untuk menyimpan pakaian, melainkan untuk menaruh barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, dan perabot dapur lainnya. Lemari itu sudah tua, lebih tua dari aku atau kakak keduaku, Sofwati.

Hanya dua kamar. Satu tempat Bapak dan Ibu. Sedangkan kamar yang satu lagi kamar untuk kakak-kakakku, Atun dan Sofwati. Namun, semenjak mereka tidak tinggal di rumah ini lagi—Atun tugas mengajar dan Sofwati kuliah, keduanya di Madiun—kamar itu menjadi tempat menyimpan peralatan membatik, seperti kain mori, gawangan, canting, anglo, dingklik, dan wajan malam. Tak ada ranjang atau kasur di dalam kedua kamar itu. Pakaian yang tak seberapa banyak cukup dicantolkan di paku, selesai. Jika ada yang datang bertamu, tikar pandang langsung digelar di ruang tamu—jika ruang lapang tempatku tidur itu layak disebut ruang tamu—dan di sanalah tamu itu dijamu. Kalau tamu itu terpaksa menginap, biasanya aku dan Zain yang mengalah, menyingkir ke langgar dan tidur di sana.

Meski begitu, kami tak pernah mengeluh atau merasa menderita.

[4] Iskan. Begitu nama Bapak. Tak ada sekulum senyum atau kata-kata lembut yang saban hari bisa kudengar dari mulut Bapak. Matanya yang bening dan tajam seolah perintah-perintah yang tak boleh dibantah, seperti “Sini!” atau “Cepat!” dan tak seorang pun dari anak-anaknya yang berani menyanggah perintah itu. Termasuk aku.

Bapak sangat pendiam. Sampai-sampai aku bisa menghitung berapa banyak kata yang diucapkan dalam satu hari. Tapi Bapak sangat ulet dan tangkas bekerja. Tangannya tak pernah diam. Ada saja yang dikerjakan: memangkas pohon beluntas, meratakan lantai tanah rumah, membuang pelepah pisang yag daunnya mulai menguning. Tak pernah terdengar Bapak Mengeluh walau keringat menguyupi tubuhnya. Uban basah mengkilap menjadi pemandangan tak menjemukan. Tak ada artinya tubuh ringkih atau kulit keriput, Bapak terus dan terus bekerja.

Lisna, Ibuku, tak kalah sibuknya. Dia membatik di rumah meski dengan upah kecil, sepuluh rupiah, untuk satu kain yang rampung dibatik. Upah itu biasanya dibelikan dibelikan tepung ketela oleh Ibu. Begitulah, setiap hari Ibu bergelut dengan canting dan kain, tak peduli siang atau malam. Mbatik seolah hiburan paling menarik untuk melepaskan penat atau melupakan persoalan hidup. Dari mbatik itu, barangkali, Ibu belajar sabar.

Dalam belitan kemiskinan, Ibu tak pernah membantah, apalagi melawan, apa saja yang dilakukan atau diinginkan oleh Bapak. Tak ada kalimat-kalimat menggugat seperti “Mengapa?” atau “Bagaimana dengan…?”

Ibu selalu mampu membuat suasanarumah tetap bernyawa. Sepasang lengan Ibu selalu hangat, baik lewat pelukan ataupun usapan, dan kami, anak-anaknya, selalu merindukan lengan hangat itu. Ibulah yang raji mengingatkan aku untuk sarapan setiap pagi atau mengelap keringat di kening adikku, Zain. Ibu juga yang tak pernah letih meminta kami agar tekun menuntut ilmu dan tetap sabar. Terutama, saat aku dan adikku mulai merajuk dan banyak permintaan.

[5] Pagi ini tak ada nasi tiwul di dapur, padahal kemarin Ibu sudah belanja agak banyak. O, ya, walau hanya nsi tiwul, makanan itu selalu kurindukan. Hidup seadanya membuat aku tak pernah membayangkan ikan-ikan segar atau opoor ayam tersaji di atas meja makan. Di sini, tak ada meja makan, jadi untuk apa aku membayang-bayangkan sesuatu yang tak mungkin ada itu, bukan? Sebab tak ada nasi tiwul di dapur, aku bergegas ke kamar Ibu. Aku curiga, belum pernah Ibu bangun setelat ini. Barangkali karena letih semalaman duduk mencanting.

Tapi, kamar Ibu kosong, tak ada siapa-siapa di situ.

Lamat-lamat terdengar seseorang yang sedang batuk-batuk, kemudian diikuti dengan lenguhan kesakitan. Itu suara Ibu. Tapi, di mana? Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Ibuku berjongkok sambil memegangi batang pisan. Bahunya erguncang-guncang menahan batuk.

Ibu menoleh. “Dahlan, tolong ambilkan Ibu segelas air, Nak!”

Tanpa menunggu perintah itu diulangi, aku berlari kembali ke dapur, mengambil ceret berisi air matang di atas tungku dan sebuah gelas. Bagai terbang saja rasanya karena aku takut terjadi sesuatu pada Ibu. Telapak kaki seolah tak menapak di tanah lagi ketika melewati pintu dan mendapati Ibu sudah terjengkang. Aku terpekik melemparkan ceret dan gelas di tangan, berlari sekencang mungkin dan berhenti menjeritsetelah merasakan kengerian mencekam seketika. Dengan kedua tangan, aku mengguncang-guncangkan tubuh Ibu. Ibu tak bergerak. Dengan panik, aku meraba pipi Ibudan berdoa semoga tak terjadi apa-apa, Kemudian menggigil ketika memeluk tubuh Ibuku yang terasa dingin, sangat dingin. Selama beberapa detik, aku tidak bergerak. Aku hanya mengamati Ibu dengan seksama, memeriksa lehernya dan mendapati masih ada denyut nadi di bawah kulit lehernya yang dingin. Aku cemas memikirkan tindakan apa yang seharusnya kulakukan. Lalu mata Ibu mengerjap, beberapa kali berusaha mengangkat kepala dann terbatuk.

“Ibu kenapa? Bangun, Bu….”

Ibu pingsan lagi. Tak bergerak. Dan…. darah! Ada sisa-sisa darah merah kehitam-hitaman di ujung bibir Ibuku.

Aku menjerit ketakutan, pandanganku mengabur.

[6] Ketika tersadar, tubuhku terbaring di atas sehelai tikar pandan. Aku mencoba bangkit, tapi persendianku masih terasa lemas. Ada beberapa menit kupejamkan mata ketika gumam-gumam lirih memasuki telinga. Kudapati wajah kurus berkulit hitam sedang memandangiku: wajah yang tampak lebih tua daripada yang pernah kulihat selama ini, wajah yang seketika dipenuhi kerutan.

”Ibu, Pak….”

Bapak menarik napas. “Syukurlah kamu sudah siuman.”

”Ibu, Pak….”

”Sudahlah, tenangkan dirimu dulu,” ujar Bapak sambil mengelus rambutku.

”Ibu ndak apa-apa….”

Aku mengangkat kepala dan memandangai orang-orang yang tampak panik. Ada dua orang perempuan berdiri di ambang pintu kamar, entah berapa orang yang sedang di dalam kamar karena pandanganku terhalang, dan Zain yang terus berurai air mataduduk di samping lemari kayu tua.

Pada saat itu, masuklah Mandor Komar dan istrinya.

”Mas, ndak dibawa ke rumah sakit?” tanya Mandor Komar kepada bapakku.

Bapak tergeragap, seperti orang linglung yang tiba-tiba dikejutkan. “Numpak opo?”

”Pakai sepeda saya saja.”

”Panggil dokter ssaja….” usul seseorang dari dalam kamar.

”Iya, mosok naik sepeda ke Madiun….” sahut yang lainnya.

Mandor Komar mengernyit, “Ya, sudah. Saya cari dokter dulu.”

tiba-tiba kepalaku pening. Aku merasa bahwa masih ada kejadian lain yang lebih mengejutkan daripada peristiwa pagi ini. Orang-orang kampung mendadak sibuk mengangkat tubuh Ibu keluar kamar, terus melewatiku, dan akhirnya keluar rumah. Sekilas aku lihat perut Ibu lebih besar dari kemarin atau hari-harisebelum kemarin. Seperti perut yang perempuan yang sedang hamil tua. Aku ingin berdiri menyaksikan apa yang akan terjadi berikutnya, tapi lututku gemetaran. Rasanya sendi-sendiku telah copot satu demi satu, hingga aku kehilangan daya untuk berdiri.

Bapak yang biasa bergerak lincah dan cekatan, tampak lamban dan mondar-mandir tidak karuan di dalam rumah.

”Ibu kenapa, Pak?” tanyaku.

Bapak tidak menjawab, hanya menatapku lekat-lekat.

”Ibu ndak apa-apa, kan?” tanyaku lagi.

”Berdoa saja, Le!” kata Bapak berusaha menenangkanku meskipun dia sendiri terlihat cemas dan kebingungan.

Beberapa saat kemudian, Mandor Komar masuk lagi.

”Mas, kelamaan nunggu dokar di sini. Mending pake sepeda dulu ke Bukur, nanti di sana nunggu dokar datang.”

Suara Mandor Komar, yang sebelumnya selalu terdengar “mengerikan,” sekarang terdengar makin menakutkan. Bapak bergegas keluar rumah, mengikuti Mandor Komar. Kasak-kusuk itu kini berpindah ke luar rumah, sebelum akhirnya keheningan terasa mengerikan. Sepertinya Ibu sudah dibawa pergi dan aku tidak tahu dibawa kemana.

[7] Zain tetap duduk mencangkung di samping lemari kayu tua. Jangankan dia yang masih delapan tahun, aku saja bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Yang kutahu, Ibu muntah darah. Dan sekarang, tinggal kami berdua.

Hawa dingin mulai merayap di kulit wajahku. Aku mulai lelah, lelah berpikir. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Dari jendela, tampak matahari mulai tinggi. Sendi-sendi di tubuhku juga masih terasa lunglai, seperti enggan diperintah walau sebatas duduk atau berjalan mendekati saudaraku yang meringkuk menahan isakitu.

Zein menatapkan dengan pandangan kosong. “Mas, Ibu ke mana?”

”Ke rumah sakit….”

”Ibu sakit?”

Aku mengangguk, merapatkan bibir dan memejamkan mata, tapi bayangan Ibu dan tangis Zain memaksaku tetap terjaga. Aku bangkit dan mengambil buku catatan di atas lemari kayu tua, duduk memeluk lutut sambil bersandar di dinding rumah meletakkan buku di atas paha, dan kutulis:

Inilah hari dengan kesedihan tak berkesudahan. Ibu jatuh sakit. Bapak tidak ada di rumah, dan aku tak berdaya. Aku tak bisa memejamkan mata biar terlupakan, sebentar saja, kesedihan yang tak kuharapkan ini, tapi mataku tetap terjaga. Aku menghibur Zain, membujuknya agarberhenti menangis, tapi air matanya bagai bah yang terus menerus mengalir.

Kutaruh buku catatan itu di atas tikar, dan kucoba membaringkan badan. Ya biasanya aku lebih tenang setelah menuliskan apa saja yang kurasakan. Bagiku, menulis tak ada bedanya dengan obat, menyembuhkan luka akibat sayatan kepedihan. Sekuat tenaga kupaksa mata untuk terpejam, tapi isak Zain mengentak-entak gendang telinga, seolah elegi yang dilantunkan dengan nada paling miris. Sungguh, aku butuh tidur, sejek pun bolehlah.

Tetapi, aku tahu tidak akan bisa tertidur dengan mudah. (*)

Sepatu Dahlan, 50 Persen Fakta, 50 Persen Fiksi


Novel Sepatu Dahlan yang ditulis Khrisna Pabhicara akan segera diterbitkan Noura Books (grup penerbit buku buku Mizan) pertengahan Mei 2012. Novel tersebut merupakan satu dari trilogi yang terinspirasi dari kehidupan Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan pemimpin media Jawa Pos.

Tiga seri novel tersebut terangkum dalam trilogi novel Sepatu Dahlan. Novel kedua direncanakan berjudul Koran Dahlan yang akan terbit pada Juli 2012. Terakhir, novel Kursi Dahlan direncanakan terbit pada September 2012 ”Bukan biografi, tapi novel sebagai karya sastra, karena isinya 50 persen fakta dan 50 persen fiksi,” ujar Khrisna Pabichara, Kamis (3/5) lalu.

Judul novel Sepatu Dahlan, menurut Khrisna, terinspirasi dari masa remaja Dahlan Iskan. Bermula penulis mengajukan semacam kerangka penelitian untuk bahan novel hingga disetujui oleh Noura Books. Akan tetapi, alur, penokohan, dan latar murni dari pengarang, tanpa intervensi dari penerbit maupun narasumber. “Kesulitan yang dialami saat mewawancarai narasumbernya (Dahlan Iskan, red) sakit di tempat yang berbeda,” terangnya.

Diketahui, Khrisna Pabhicara dikenal sebagai motivator, ppenulis dan editor buku nonfiksi dan fiksi. Pria kelahiran Borongammatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan, 10 November 1975 ini tergolong aktif di dunia pendidikan dan perbukuan. Khrisna mengakrabi sastra seperti kekasih dan telah melahirkan 14 karya, termasuk trilogi novel terbarunya yang akan terbit, yakni Sepatu Dahlan, Koran Dahlan, dan Kursi Dahlan.

Sebelumnya, pada 2010 ia menerbitkan kumpulan cerita dengan judul Mengawini Ibu. Saat itu Khrisna Pabhicara terpilih menjadi juru bicara Pak Raden dalam mendapatkan kembali hak cipta si Unyil yang kabarnya difasilitasi oleh Dahlan Iskan. (Azhari/berbagai sumber)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 6 Mei 2012