Minggu, 13 Januari 2013

Perempuan Tua Pengayuh Becak

Perempuan Tua Pengayuh Becak
Cerpen: Silvia Oktaresa

Perempuan itu memunguti sepuntung rokok yang cuma tersisa rasa manis di depan sebuah toko. Siang menyengat mungkin membuat lidahnya cepat pahit dan asam lambung naik. Cuma roko yang ia temukan sebagai pengobatnya. Wajahnya tegas, tidak seperti perempuan kebanyakan, perempuan tua yang masih cukup gagah ini berdada datar dengan rambut cepak yang menemaninya lima tahun belakangan ini. Tukang potongnya tak jauh dari sini, mungkin sahabat karibnya karena ia bisa pergi melenggang tanpa menyelipkan upah.

Sebagaimana di usianya, di sini tempat ia mencari nafkah. Kudengar sebelumnya, ia di-PHK sebagai buruh pabrik, tanpa pesangon sepeser pun. Ia cuma punya nyali baju pabrik yang dibawa kabur, mungkinn lebih tepatnnya sebagai sisa kenangan, bukan sebagai aset yang bisa dijual. Sepuluh tahun mengabdi bukan hal mudah dilupakan sebagai kenangan. Untuk hidup saja ia tidak punya pilihan, diberhentikan dari sana berarti sama halnya menggali kubur. ibunya dulu tidak pernah mengajarkan arti penting sebuah jenjang sekolah. Sebagai seorang tamatan sekolah dasar, bukan? Ia belum sampai melewati kelulusan itu. Ia hanya bisa hidup dengan menjadi pekerja kasar dan mustahil baginya memilih ang lain. Mengayuh becak memang bukanlah profesi untuk perempuan, tapi baginya ia tidak memiliki pilihan. Cuma itu satu-satunya pekerjaan yang ia dapatkan, meski dengan terpaksa sekalipun.

Guratnya sama sekali tidak menunjukkan kepayahan bahkan dadanya membusung seolah-olah menantang kenyataan, seraya berkata. "Kau tidak bisa membunuhku dengan cara ini." Lipatan matanya seakan menuntun ke sebuah rumah tua yang sangat gelap di dalamnya beberapa anak yang masih menjadi tanggungan. Ia mungkin saja bisa lelah, tapi lipatan matanya selalu meminta harapan. Ia tidak sempat mengeluh, cuma mengaduh di kepulan asap yang ia biarkan mengepul di wajahnya. Suaranya parau persis suara pria yang terbiasa mengisap rokok. Kepulan asap membaur di wajahnya, sesekali kudengar batuk paraunya membahana tapi itu tidak sempat membuatnya terganggu. Asap mungkin bagian kecil yang tidak perlu sama sekali mendapat hitungan, mengingat kehidupannya jauh lebih perih dibanding dengan sesuatu yang membuatnya terbatuk. Cuma terbatuk tidak membuatnya mati.

Matanya menerawang ke atas seolah pikiranya telah jauh membawanya, namun ia tidak pernah lengah terhadap kemungkinan penumpang yang menjadi incarannya. Ia cukup beristirahat sejenak siang itu, sebelum perempuan yang sedang asyik berbelanja di toko sembako itu memanggilnya.

Tak beberapa lama perempuan paruh baya itu benar memanggilnya. "Mas..." Ia bangkit dengan cepat dan matanya segera menusuk perempuan di depannya. Ia mengangguk dan mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat: tungg. Batuk yang membahana membuatnya mengambil botol air mineral di balakang kemudinya. Tanpa perlu disuruh, perempuan tua itu (sebenarnya ia tidak terlalu, cuaca, keadaan pekerjaan membuat kulitnya berlekas tua) telah mengangkut barang-barang belanjaan perempuan paruh baya itu. Beras satu karung itu ia hantamkan ke atas bahunya, melanjutkan dua kardus yang dipindahkan secara singkat ke atas becaknya. Ini memang bukan kali pertama aku meihatnya memanggul barang-barang berat, tapi tetap saja membuat mataku seolah tak percaya. Gas elpiji dua belas kilogram nyaris membuat tulangnya retak berkali-kali.

Setelah semua beres, penumpang perempuan paruh baya itu telah dirasa duduk dengan nyaman. Perempuan tua itu lalu mengayuh setelah sebelumnya bertanya tujuan hendak ke mana. "Gang Lebak murni, Bang!" Jawaban singkat penumpang itu segera menuntunnya mengayuh di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Terkadang kendaraan roda tiga itu cuma disebut sampah, yang membuat macet jalanan saja bagi kendaraan lain. Ia juga sampah, yang terkadang membuat pikiran mereka tak pernah berpikir kalau sampah terselip fungsi. Meski terlihat sebagai seonggok barang kotor yang tergeletak di pinggir jalan, terabaikan. Banyak yang kaya tidak suka sampah, tapi mereka tidak pernah tahubarang yang ia miliki juga setelahnya menjadi sampah. Setelah membusuk mereka juga akan menjadi sampah. Sampah, sampah, dan sampah.

Betisnya yang bulat mengayuh menggambarkan puluhan jarak yang pernah ia lewati. Mungkin setelahnya, di pertengahan jalan pulang ia menumukan penumpang lainnya sebelum kembali ke tempat ini. Mungkin aku tidak tidak pernah bertemu kembali dengannya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Mengenal asap bukan bukan baranng baru baginya. Ia mengisap rokok setelah berstatus janda pertama kali. Terhitung ia telah menjanda tiga kali. Dengan dipenuhi berbagai tragedi, tentunya.

Lelaki petama di kehidupannya seorang pemabuk berat. Saat mabuk, ia bisa menjadi apa saja yang ia mau. Pipi merah yang didapatkannya setelah pagi bukan barasal dari perona merah bedak. Lelaki itu memang terkadang tak sadar setelah mabuk, bahkan ia telah lupa atas perilakunya. Lelaki itu semakin menjadi-jadi setlah di PHK dari pekerjaannya. Lelaki itu diberhentikan secara tidak hormat setelah isu yang merebak ia mencuri produk pabrik di sana.

Puncaknya, perempuan itu menghantamkan botol bir di kepala lelaki itu setelah sebelumnya lelaki itu mengancam akan menjual cincin kawin mereka. Akhirnya, tanpa status yang tak jelas mereka berdua berpisah. Perempuan itu tidak diceraikan tapi ia telah bebas dari bayang lelaki itu. Lelaki itu tidak pernah sama sekali menampakkan batang hidungnya lagi, setelah fase itu, ia mengenal rokok. Mengisi waktu kosong, ia lebih suka merokok. Menyemburkan ke wajahnya seolah-olah aroma terapi yang membuatnya dapat melupakan sejenak pahitnya kehidupan. Dari lelaki pertama ia mendapatkan satu anak yang saat itu masih berusia dua tahun.

Kemudian ia jatuh cinta dengan lelaki kedua yang mengenalkannya pada kenikmatan rokok. Bersama lelaki kedua, dukanya berlkas sirna. Ia akhirnya menikah lagi. Lalu mendapatkan dua anak. Hidup mereka cukup bahagia meski dalam serba keterbatasan. Sampai akhirnya pernikahan mereka terbawa gelombang, seorang wanita tiba-tiba datang ke rumahnya sambil menangis. Wanita itu menggamit tangan seorang seorang anak lelaki yang bengong sajja melihat ibunya menangis. Untuk kedua kalinya perempuan itu patah. Lelaki kedua ternyata tidak lebih baik dari lalaki pertama.

Mereka bertengkar hebat. Di balik pintu anak pertamanya cuma bisa menyaksikan peristiwa pelemparan itu. Wanita yang datang adalah istri pertama dari lelaki yang ia nikahi selama ini. Ia semakin sulit terlepas dari rokok, yang menjadi satu-satunya teman terbaiknya menghilangkan getirnya hidup.

Ia tidak akan menikah lagi, itu batinnya. Rasanya sudah cukup berat menghidupi kitiga anaknya, bahkan ia tidak sempat berdandan yang baik saat berjumpa dengan lelaki. Ia sudah cukup menasbihkan bahwa semua lelaki buaya. Cukup heran dengan perlambangan ini, padahal buaya sebenarnya selalu setia pada pasangannya. Seperti roti buaya di pernikahan Betawi.

Namun, ia kembali menemukan seorang yang menjungkirbalikan kehidupannya. Ia sangat mudah jatuh cinta, lalu menikah.Kehidupannya kembali membaik. Lelaki itu penuh tanggung jawab. Sampai kembali semua diuji, anak terakhir tiba-tiba jatuh sakit. Dengan keadaan seperti itu semua yang dibicarakan akan bergulir menjadi perang saraf. Lelaki itu menuding-nuding perempuan itu pembawa sial. Segala harta yang hanya beberapa gelintir habis untuk pengobatan. Lelaki itu tidak tahan lalu meninggalkannya. Lagipula ia belum memiliki anak bersama wanita itu. Ia bisa bebas.

Roko kembali menjejali perutnya. Ia kembali membunuh semua lelaki dalam pikirannya, semua lelaki sama dan berakhir mati. Sepenuhnya ia menghabiskan harta dan kerja keras demi mengobati anaknya yang sakit. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Profesi dari tukang cuci sampai juru masak, ia geluti. Sampai akhirnya, profesi tukang becak ia jalani. Semua tertuju padaa anak yang sakit. Si sulung yang sudah besar merasa terabakan.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Bu, aku akan menikah!" Si sulung tiba-tiba melemparkan kata-kata yang menohok hati ibunya.

"Nak, dia bukan pilihan Ibu. Kau masih muda, teruskan sekolahmu, tinggikan cita-citamu, jangan kau seperti Ibu, kau harus bisa mengangkat Ibu ke tempat yang lebih baik."

"Aku harus menikah, Bu."

"Nak!"

Pembicaraan itu setelahnya terputus begitu saja, si sulung yang benar-benar dimabuk cinta telah melupakan segalanya. Diam-diam ia tuliskan surat dan diletakkan di atas meja makan, surat yang membawa guntur untuk ibunya. Bersamaan dengan surat itu, si sulung menghilang dari rumah dan tidak pernah kembali.

Perempuan itu benar-benar terpukul. Ia seolah-olah menjadi seorang ibu yang paling gagal di dunia. kedua anaknya ikut bersedih atas kehilangan kakaknya. Entah ia ada di mana, anaknya tidak pernah kembali. Mungkin ia menikah lalu mengulang kembali kisah hidup ibunya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sudah hampir dua minggu ini aku tidak melihat kembali perempuan itu di sini. Perempuan pengayuh becak yang wajahnya hitam legam terpapar sengat mentari. Aku biasanya mengamatinya lewat toko sembari membeli barang-barang kebutuhan. Ia biasanya bersantai di atas becaknya sembari menunggu penumpang. Mengisap rokok dalam-dalam dan mengamati pelan-pelan asap yang keluar dari mulutnya.

Dari toko depan yang menjual sembako, ia terbilang cukup akrab, biasanya pemilliknya memberi sekantong beras untuk perempuan itu bawa pulang tiap hari. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih telah mengantarkan pelanggannya pulang dengan baik. Hampir semua orang-orang pasar mengenalnya. Tapi, ia sudah tak pernah datang kembali dengan becaknya. Penumpang yang sering pakai jasanya juga bertanya-tanya. Atau mungkin ia mendapatkan kembali pekerjaan yang lebih layak atau jangan-jangan perusahaannya tempat ia bekerja mempekerjakannya kembali. Kalau begitu aku cukup senang mendengarnya, berarti ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Karena penasaran kutanyakan pada penjual toko depan yang tahu dengannya. Di tangan kananku menenteng belanjaan, di sebelah kiri menggamit anakku yang telah berusia tujuh tahun.

"Pak.... biasanya ada prempuan tua pengayuh becak di sini. Tapi beberapa hari ini dia tidak prnah kelihatan lagi. Ke mana ya Pak?"

"Owh Bu Sora."

"Iya Bu Sora."

"Dia sedang beristirahat di rumah. Beberapa hari yang lalu, ia melakukan operasi transplantasi ginjal buat anaknya yang sakit. Kasihan Ibu Sora, demi anaknya ia rela menyerahkan ginjal buat anaknya yang sudah lama sakit."

Mendengarnya seperti guntur mencabik-cabik tubuhku. Entah, aku terlalu malu untuk menyapa ibuku sendiri. Nasihat ibuku dahulu tidak kuhirau lagi, lalu menikah dengan teman sepermainanku dan mendapatkan satu anak darinya. Kisah ibu akhirnya terulang kembali.

Sungguh aku malu menemuinya. Ia masih berjuang demi anaknya di usianya yang yang tak lagi muda. Kalau mungkin ak yang sakit, kurasa ibu akan menyodorkan ginjalnya untukku.

Setelah ini, aku ingin kembali. Aku ingin pulang bersama anakku. Menemui Ibu (*)


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Juara I Pena Sumsel Gemilang 2012
Cerpen Pilihan Pembaca Sumatera Ekspres
Kategori Pemuda 20--27 Tahun

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 13 Januari 2013

Senin, 31 Desember 2012

Berkomunikasi Dengan Makhluk Gaib

Berkomunikasi Dengan Makhluk Gaib
Alam Gaib mungkin tak asing lagi di telinga kita, karena banyak sekali stasiun televisi yang menayangkan program-program yang berhubungan dengan alam gaib. Alam gaib begitu misterius dan sulit ditebus dengan kasat mata kecuali orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan dan kekuatan supranatural yang dapat melihat fenomena alam gaib.

Alam Gaib itu sangat luas, tanpa batas ruang dan waktu. Kalau kita mendengar dan melihat makhluk gaib pasti bulu kuduk kita merinding apalagi ditambah daerahnya yang dianggap angker. Akan tetapi bagi orang mempunyai kelebihan atau mempunyai kemampuan bisa menembus ruang dimensi lain menganggapnya biasa-biasa saja.

Diajeng Kartikasari, seorang tokoh supranatural yang cukup terkenal di Kota Palembang bercerita banyak tentang pengalamannya mengenai alam gaib. “Alam gaib dan makhluk gaib dapat dilihat dan dirasakan sebagaimana kita merasakan hidup di alam nyata,” ungkapnya kepada koran ini, kemarin.

Menurut dia, banyak sekali orang-orang yang ingin tahu dan dapat melihat makhluk gaib namun kemampuannya tidak cukup untuk melakukannya.

Suatu ketika pernah ada pasien yang datang kepada Diajeng dan mengatakan berani dan ingin sekali melihat makhluk-makhluk gaib. Pasien tersebut menantang minta dibukakan mata ketiganya agar dapat melihat makhluk gaib yang ada disekitarnya.

Sebagai tokoh paranormal yang berpengalaman, Diajeng mengingatkan pasien tersebut, jangan berani dan coba-coba melihat makhluk gaib kalau anda belum pernah dibekali dengan kekuatan didalam tubuh.

“Nanti bisa-bisa anda celaka, karena daya energi makhluk gaib itu sangat kuat,” kata Diajeng.

Namun dasar manusia, tidak akan kapok kalau belum mencoba, pasien tersebut ngeyel dan menantang. Setelah beberapa menit kami buka mata ketiganya dia melihat makhluk gaib berbentuk kuntilanak yang begitu menyeramkan orang tersebut kaget dan tersungkur-sungkur di bawah kolong meja merasa ketakutan.

“Jangan pernah untuk menantang makhluk-makhluk alam gaib jika kita belum mendapatkan bekal yang cukup untuk melihatnya,” lanjut dia. (ety)

Palembang Post, Senin, 15 Oktober 2012

Jumat, 28 Desember 2012

Hening di Ujung Senja

Hening di Ujung Senja
Cerpen: Wilson Nadeak

Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua?

”Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu.

Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. ”Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk.

Belum juga dapat kutebak siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. ”Wajahmu masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. ”Tidakkah engkau peduli kampung halaman?” tanyanya. ”Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku.”Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?” kataku. Ia mengangguk. ”Kalau begitu, kau si Tunggul?”

”Ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah.

Lalu ia mengatakan perlunya tanah leluhur dipertahankan. ”Jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu. ”Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri leluhur mereka,” katanya dengan penuh keyakinan. ”Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau kau perlu bantuan, aku akan menolongmu.”

”Akan kupikirkan,” kataku. ”Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak,” jawabku.

Pertemuan singkat itu berlalu dalam tahun. Pembicaraan sesama kakak-beradik tidak tiba pada kesimpulan. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika aku berkunjung ke kampung halaman, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua meter. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, ”Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai tanah itu. Kuserahkan persoalannya kepada keluarga dekat.

Dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Jakarta, berbisik padaku, ”Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67.”

”Oh, Tuhan,” kataku kepada diriku sendiri. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliranku? bisikku pada diriku.

Rendi selalu datang dalam mimpi. Diam-diam, lalu menghilang. Dahulu ia teman sekantor. Tetapi, karena mungkin ingin memperbaiki nasib, ia mengirim istrinya ke Amerika, justru ingin mengadu nasib. Ia menyusul kemudian, dengan meninggalkan pekerjaan tanpa pemberitahuan. Lewat Bali, Hawaii, ia sampai ke California. Di negeri penuh harapan ini ia memulai kariernya yang baru, bangun subuh dan mengidari bagian kota, melempar-lemparkan koran ke rumah-rumah. Entah apalagi yang dilakukannya, demi kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan.

Setahun berada di sana, ia kehilangan istrinya, derita yang membawa duka karena kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. Dari agen koran subuh, sampai rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan.

Dari kesunyian hati itu, ia cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja.

Tetapi, dalam kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api. Seperti seorang turis, suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya, barangkali asmanya kumat. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah stasiun kereta, petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan kawan itu dalam keadaan tidak bernyawa. Identitas diketahui dengan alamat di Los Angeles. Petugas stasiun menghubungi nama yang tertera di Los Angeles. Dari Los Angeles datang telepon ke alamat di Bandung. Dari Bandung berita disampaikan kepada anaknya, tetapi kebetulan sedang ke Paris. Jenazah dibawa ke rumah anaknya, dan dimakamkan kerabat dekat yang ada di kota ”Y”.

Tragis, pada usia ke-64 itu, ia mengembara jauh merajut hidup, tapi ia berhenti dalam kesepian, jauh dari kenalan dan kerabat. Beberapa kenalan saja yang menghantarnya ke tempat istirah.

Terlalu sering ia datang di dalam mimpi yang membuatku galau.

Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca berita yang masuk.

Lusiana baru saja meninggal dunia. Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61.

Besok akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah.

Lusiana seorang sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian hati.

Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya.

Tidak biasa aku berlibur dengan keluarga. Kepergian ini hanyalah karena anak yang hidup di tengah keramaian Jakarta, yang berangkat subuh dan pulang menjelang tengah malam dari kantornya. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat ia mengambil keputusan libur ke Bali bersama orang tua.

Aku yang terbiasa masuk kantor dan pulang kantor selama puluhan tahun, kerapkali lupa cuti karena tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu cuti. Dan kini, aku duduk di tepi laut Hindia, menyaksikan ombak memukul-mukul pantai, dan sebelum senja turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari pelbagai bangsa terpaku di atas batu-batu.

Tiba-tiba ada dering di HP istriku, sebuah SMS dengan tulisan: Tan, Ibu Maria baru saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang asing.

Ibu Maria menyusul suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72. Ia pekerja keras sepeninggal suaminya yang dipensiunkan sebelum waktunya. Suaminya meninggal dalam usia ke-67 saat anaknya berpergian ke luar negeri dan tidak hadir ketika penguburannya.

Ibu Maria meninggal mendadak.

Aku baru saja menerima telepon dari kakakku yang sulung, dalam usianya yang ke-78. Kudengar suaranya gembira, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Kalimat terakhirnya dalam telepon itu berbunyi: Tetaplah tabah, Dik. Kamu dan anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyut, supaya mereka tetap sehat....

Dan tadi pagi, aku teringat. Usia menjelang ke-70, walaupun sebenarnya belum sampai ke situ, aku bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini, dan jejak-jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku?

Aku tepekur.

Hening di ujung senja.

Kompas | Editor : Jodhi Yudono | Senin, 16 Juli 2012 | 20:40 WIB

Kabut Neraka

Kabut Neraka
Cerpen: Danarto

Tubuh-tubuh dilumatkan, rumah-rumah dikunyah-kunyah. Pasar-pasar dihancurkan, masjid yang indah diledakkan. Apa saja yang tegak di atas tanah harus dilumatkan dari penciuman bumi, dari arang kehidupan, demi wajah dan kemenangan. Permusuhan antara Sunni lawan Syiah semakin membara ketika tiba-tiba di Baghdad, Irak, muncul kabut hitam pekat yang besar sekali, diam tak bergerak, mengambang di udara. Golongan Sunni menganggap kabut hitam itu rekayasa Syiah untuk mengacaukan situasi, sedang golongan Syiah menuduh Sunni menciptakan kabut hitam untuk menggagalkan upaya perdamaian.

Sementara itu tentara-tentara Amerika menyebut kabut hitam raksasa itu sebagai “Kabut Neraka.” Mereka, serdadu-serdadu Amerika, menjadikan Kabut Neraka sebagai hiburan. Hiburan baru yang mengasyikkan. Mereka berjingkrak-jingkrak sambil mengacung-acungkan lembaran uang, mendendangkan lagu-lagu rock favoritnya sambil berteriak-teriak, “Poverty is their kitchens. Held hostage by oil-for-food,” serta menembak-nembakkan senapan ke arah kabut uring-uringan.

Dalam situasi kesetanan yang penuh tanda tanya, miris, keheranan, juga ketegangan karena pernah seorang tentara Amerika memasuki kabut itu dan tak pernah keluar lagi. Dalam keadaan ketakutan dan penasaran, tentara yang lain berlari kencang menerobos ke dalam kabut itu.... ditelan.... juga tak pernah keluar lagi.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Tentara-tentara yang lain dengan humpee yang dikebut menerabas ke dalam kabut itu. Lagi-lagi kendaraan roda empat dengan empat orang tentara penumpangnya tak pernah nongol kembali untuk selama-lamanya. Hanya dalam waktu beberapa hari, Kabut Neraka, nama yang sexy, yang diberikan tentara paling muda dari Ohio, Long John Potomosth namanya, yang suka membanyol, menjadi gelanggang taruhan yang spektakuler. Para prajurit bertaruh dengan uang untuk siapa saja yang berani memasuki kabut itu dan keluar kembali dengan selamat. Sudah sebelas orang tentara menghambur ke dalamnya dan lenyap. Sebuah arena pertempuran baru yang sangat menantang, yang sangat mengasyikkan, dan sangat menakutkan. Akhirnya hari-hari peperangan yang sebenarnya sudah tidak menarik lagi. Bom-bom bunuh diri menjadi berita yang dilupakan.

Wartawan-wartawan dari dalam dan luar negeri tumplek-blek di kawasan kabut itu. Mereka membangun tenda-tenda mengelilingi kabut itu. Para jurnalis dengan bersemangat melaporkannya ke surat kabar, majalah, dan kantor-kantor berita yang menugasinya. Termasuk berita-berita tentang kegilaan tentara-tentara Amerika yang kesetanan bagai kena sihir kabut itu.

Rupanya tentara-tentara Amerika malah berjumpalitan dibilang kesurupan oleh kabut itu, bahkan ada yang minta dituliskan dengan kata-kata yang lebih kejam lagi.

Para redaktur akhirnya menuduh para wartawannya tidak lebih waras. Sejumlah ulama Sunni dan Syiah dari berbagai negeri berdatangan menyaksikan betapa kabut itu mengerikan bagai dikirim dari neraka jahanam. Para ulama menyatakan bahwa kabut itu merupakan akumulasi penderitaan rakyat Irak yang lebih menyedihkan dari peperangan maupun pembantaian. Betapa kabut itu memiliki kekuatan yang besar untuk menggagalkan upaya-upaya perdamaian. Lalu kedua golongan ulama mengirim rekomendasi kepada PBB agar menaruh perhatian yang lebih besar lagi kepada keselamatan dan kesejahteraan rakyat Irak. Juga negara-negara Barat diminta dengan sungguh-sungguh menyelamatkan Irak supaya tidak menjadi negara gagal.

Ketika komandan menyaksikan pertandingan itu, komandan yang bertanggung jawab atas keselamatan bala tentaranya akhirnya melarang permainan judi dan menutup gelanggang tersebut. Komandan mengisolasi kabut hitam pekat itu dengan memagarinya dengan kawat listrik dan dijaga ketat tiap sisi-sisinya agar tentara-tentara tidak nekat lagi terjun ke dalam Kabut Neraka. Sudah sebanyak 150 batang lebih kendaraan rongsokan, tank, helikopter, jip, panser, mobil, humpee, didorong masuk ke dalamnya dan dicoba dikait kembali dengan pengungkit, namun sia-sia, semuanya lenyap.

Para ulama kedua golongan kemudian menggelar doa bersama memohon dibukakan pintu gerbang pengetahuan tentang benda yang musykil itu. Begitu juga para pakar dari Pentagon dan badan-badan riset nasional tentara koalisi dari berbagai negara turun tangan melakukan investigasi terhadap gejala yang aneh dan menarik itu.

Foto-foto Kabut Neraka kemudian beredar di seluruh dunia dan menjadi topik perbincangan di acara-acara televisi, radio, maupun diskusi-diskusi terbuka oleh para ahli maupun anak-anak muda yang selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Berminggu-minggu sampai berbulan-bulan para ulama dan para ahli yang menetap di Baghdad menyelidikinya tetapi tidak mendapatkan jawaban.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Kawasan Kabut Neraka di kemudian hari menjadi kawasan wisata bagi para wisdom (wisatawan domestik) dan wisman (wisatawan mancanegara) yang cukup memiliki keberanian untuk tidak ambil peduli terhadap kancah peperangan yang setiap saat bergolak. Di kemudian hari tidak ada yang bisa dilihat di kawasan itu kecuali pagar yang menjulang tinggi untuk menutup kabut hitam pekat itu. Termasuk anak-anak yang mencoba mengintip-intip yang tentu saja diusir oleh para penjaga karena kawat yang memagari itu dialiri listrik.

Mengingat kawasan itu berbahaya, lalu komandan kawasan itu meneutupnya untuk umum. Namun demikian, tangan-tangan jail yang ingin hiburan, meledakkan pagar kawat listrik yang mengelilingi kabut itu sehingga hancur berantakan dan tampaklah lagi kabut dengan perkasa mengambang di udara.

Para prajurit Amerika bersorak kegirangan sambil menembak-nembakkan senapannya. Acara perjudian pun dimulai lagi dan komandan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenyataannya, suasana menjadi meriah kembali. Kabut Neraka memang menakutkan tapi juga menyenangkan. Dua sisi karakter kabut itu begitu memesona yang tak berbanding oleh keajaiban apa pun yang tergelar di dunia dewasa ini.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Bermula dari anak-anak kecil yang bermain bola terkesiap menatap kabut kental yang tiba-tiba saja muncul di atas kepala mereka. Seorang anak Irak yang punya sahabat seorang tentara Amerika memberi tahu tentang kabut aneh itu. Si tentara Amerika mendatangi dan menatap dengan terbengong-bengong kabut hitam itu. Ia mendekati kabut tetapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba sebatang tank meloncat menabrak kabut dan ditelan ke dalamnya. Serta-merta tentara itu menghardik anak-anak supaya menjauh dari kabut. Sebatang helikopter yang lain meloncat menabrak kabut dan lenyap pula ke dalamnya. Semua ternganga-nganga. Beberapa anak menangis sambil berlari menjauh.

Tak lama kemudian beberapa orang tua, laki-laki dan perempuan, gadis-gadis, berdatangan ke tempat kabut itu. Seorang ibu menangis meneriakkan, “Allahu Akbar!” lalu terduduk seperti tersihir menatap kabut itu dengan tajam. Ketika terjadi revolusi sosial di Yaman, Mesir, Libya, Tunisia, Siria, kabut itu masih dengan tenang mengambang di udara Irak yang kemudian menarik kedatangan Raja Abdullah dari Yordania dan Presiden Ahmadinejad dari Iran. Lalu disusul kedatangan Alwi Shihab, penasihat Presiden Yudhoyono; dan Muhammad Said Agil Shiradj, ketua umum PB NU; Gus Mus, seorang sufi seniman; Yenny Wahid dari Wahid Institute; Nurul Arifin dari Golkar; Siti Musdah Mulia, seorang sufi perempuan reformis; Ahmad Syafii Maarif yang disanjung sebagai Bapak Bangsa; serta Habib Lutfi, seorang ulama sufi Indonesia yang memiliki pengikut sekian juta; juga sejumlah ulama sufi dari berbagai negeri. (*)

Parade Cerpen Ramadhan

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 15 Juli 2012

Pohon Zakaria

Cerpen: Dadang Ari Murtono

Ia tidak tahu kenapa bapaknya mengikuti Zakaria. Ia masih kecil benar ketika itu. Bapaknya berkata sebelum berangkat. "Nanti kalau bapak sudah pulang, kita main petak umppet lagi." Dan ia menunggu. Apakah bapaknya juga menjanjikan hal yang sama kepada ibunya? Apakah bapaknya juga akan mengajak ibunya bermain petak umpet? Namun sepanjang ingatannya, ibunya tidak pernah suka bermain petak umpet. Ibunya akan selalu memanggilnya untuk pulang dengan berbagai macam alasan.

"Sudah surup, shalat Maghrib dulu!" teriak ibunya ketika ia bersembunyi di balik pohon mangga dan temannya yang kebagian tugas celingukan hampir putus asa terus-terusan gagal menemukan tempat persembunyiannya. Ia mendengus kesal. Ia memasang tampang jengkel sambil keluar dari tempat persembunyiannya. Gara-gara teriakan ibunya, temannya jadi tahu tempat persembunyiannya. Ia ppenyembunyi yang baik. Jarang sekali ia tertangkap ketika bermain petak umpet.

"Tak banyak anak kecil keluar rumah saat Maghrib tiba. Nanti bisa digondol wewe dan disembunyikan di rumpun bambu," tambah ibunya sambil menggandeng paksa tangannya untuk segera pulang.

Bapaknya pergi dn membawa parang dan kampak. Ia ingat benar bagaimana pada hari sebelum keberangkatan bapaknya, bapaknya mengasah baik-baik dua benda kesayangan bapaknya itu. "Dengan ini bapak mencari uang. Dan uang itu untuk kebutuhanmu bersama ibumu," kata bapaknya.

"Bapak pergi dengan siapa?" tanyanya waktu itu. Dan ibunya, sambil menyiapkan nasi kepal berisi abon sapi untuk bekal bapaknya, menjawab dengan senyum. "Tentu saja dengan pergi dengan Zakaria. Tidak ada penebang pohon yang lebih baik dari Zakaria. Zakaria akan memastikan bapakmu dapat banyak kayu tebangan, itu artinya kamu bisa ikut berwisata bulan depan bersama kawan-kawan sekolahmu.

Ia tidak tahu perihal tebang menebang. Ia hanya tahu perihal petak umpet. Perihal mencari tempat yang aman, yang tak bakal bisa ditemukan temannya yang kebagian tugas menjaga. Dan apakah Zakaria tahu perihal petak umpet?

"Kenapa bapak tidak pulang-pulang, bu?" tanyanya sambil menguap. Sudah beberapa hari semenjak kepergian bapaknya? Entalah. "Apakah bapak sedang bermin petak umpet dengan Zakaria?" tanyanya lagi. Ibunya diam saja. Namun jauh kedalaman mata ibunya, ia melihat sebuah telaga. telaga yang sepertinnya kian lama kian penuh airnya. Telaga dengan tepi-tepi yang tak bakal lagi muat menampung air dan siap meluber.

Ia sering berpikir bahwa Zakaria bukanlah orang yang tahu artinya ditunggu. Atau barangkali, memang tidak ada satu pun orang yang menunggu Zakaria di rumahnya. Menunggu untuk bermain petak umpet. Apakah Zakaria orang yang kesepian? Itukah sebabnya, kesepian itu, yang membuat Zakaria mengajak bapaknya pergi menebang pohon ke hutan dan tak membawa bapaknya pulang?

Namun zakaria tidak pulang-pulang. Dengan begitu, bapaknya juga tidak pulang-pulang. Dan ia serta ibunya, juga mesti menunggu lagi. Sudah berapa abad? Bahkan ia sudah tak ingat lagi hal itu. Ia sudah tidak tahu lagi. Sama dengan ketidaktahuannya mengapa bapaknya mesti mengikuti Zakaria pergi. Namun dalam hati ia berjanji. Pada suatu waktu, ketika ia sudah cukup besar dan bearani pergi ke hutan, ia akan menyusul bapaknya ke hutan. Ia juga akan membawa kampak dan parang. Ia juga akan menebang pohon. Pohon-pohon yang tumbuh menghalangi jalan bapaknya untuk pulang.

Sungguh, ia merasa tak ada lagi orang di dunia yang makan lebih banyak garam dari ia dan ibunya. Suatu kali, ia bertanya kepada ibunya. "Kenapa ibu tidak lagi menggoreng mujair?" Ibunya, dengan tersenyum dan mengelus rambutnya berkata. "Tidak ada lagi kayu bakar yang bisa dijual, nak. Dan bapakmu tidak juga pulang."

Pada waktu itu, ia begitu membenci Zakaria. Kalau saja bapaknya tidak mengikuti Zakaria, bapaknya pasti akan segera pulang membawa tebangan kayu. Kayu yang bisa dijual sebagai kayu bakar.

Sungguh tekadnya sudah semakin bulat. Ia harus pergi ke hutan. Menyusul bapaknya. Dan berkata kepada Zakaria. "Biarkan bapak pulang. Ibu sudah bosan makan garam."

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Zakaria memang bukan seorang pemain petak umpet yang baik. I tidak habis pikir bagaimana masa kecil Zakaria. Barangkali Zakaria memang tidak pernah barmain petak umpet sewaktu kecil. Ah, kasian. Masa Zakaria pastilah bukan masa kecil yang menyenangkan. Zakaria pastilah anak yang kuper. Barangkali Zakaria kecil menghabiskan waktu sepanjang hari untuk membaca buku dan kitab-kitab tua di kamarnya ketika anak-anak sebayanya bermain petak umpet, belajar sembunyi dan berlari.

Barangkali karena itu pula Zakaria tumbuh menjadi lelaki yang tersendiri. Lelaki yang kesepian. Lalu memutuskan mengajak bapaknya ke hutan Zakaria menjengkelkan! Kenapa bapaknya mau mengikuti ajakan lelaki seperti itu? Tidak tahukah bapaknya bahwa ia dan ibunya berabad-abad menunggu? Dan seandainya Zakaria menghabiskan masa seperti ia enghabuskan masa kecil, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Pasti Zakaria akan membawa bapaknya pulang.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Cerita itu pada akhirnya sampai kepadanya. Entah siapa yang pertama kali mengisahkan. Ia mendengar dari ibunya. "Tiba-tiba, polisi hutan berdatangan ke hutan itu. Menangkap siapa-siapa yang menebang pohon. Menangkap mereka-mereka yang mencari kayu bakar."

"Karena itu, semua pencari kayu bakar mesti ditangkap. Tapi Zakaria orang yang keras hati. Ia mengajak bapakmu. Zakaria bilang peraturan pemerintah itu adalah upaya pembunuh secara perlahan-lahan terhadap orang-orang yang mata pencahariannya mencari kay bakar. SEperti bapakmu. Seperti Zakaria sendiri. Dan itu harus dilawan. Peraturan yang membunuh, tidak boleh dituruti. Penguasa yang lalim dengan mengabaikan nasib rakyatnya, harus dibantah. Maka dia pergi. Bersama bapakmu. Pergi dan tak kembali."

Ah,seandainya Zakaria pernah bermain petak umpet, pasti ia akan menemukan tempat persembunyian yang baik ketika para polisi itu mengejar Zakaria dan bapaknya. Pasti Zakaria tidak akan masuk ke pohon itu. Iti tempat persembunyian yang buruk.Para polisi itu dengan mudah mengetahui keratan di batang pohon yang digunakan Zakaria untuk masuk ke dalam batang pohon itu.

Dan begitulah. Dengan mudah pula, para polisi itu menemukan pohon persembunyian Zakaria. Tentu saja bukan getah yang mengalir dari pohon tersebut. Melainkan darah Zakaria. Zakaria yang tubuhnya terpotong menjadi dua serupa pohon yang tertebang.

Namun tidak ada kabar perihal bapaknya. Apakah bapaknya juga bersembnyi di dalam pohon serupa Zakaria? Bapaknya, walau tidak jago, namun pernah bermain petak umpet. Bapaknya pasti sedang bersembunyi. Sudah berabad-abad bapaknya bersembunyi. Dan kini ia, harus bersiap. Ia harus menjemput bapaknya. Ia sudah lelah menunggu. Ia kasian melihat ibunya bertambah kurus memikirkan nasib bapaknya. Ia akan pergi.

"Berhati-hatilah Yahya," kata ibunya. (*)

Parade Cerpen Ramadhan

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 29 Juli 2012