Sabtu, 19 Januari 2013

Lagenda Raja Buaya

Lagenda Raja Buaya


Sumatera Selatan, sebagai daerah yang dipenuhi rawa-rawa dan dilewati banyak sungai, memiliki populasi yang cukup banyak dan penampakan buaya merupakan hal biasa. Bahkan di kalangan masyarakat dikenal pula ilmu buaya. Yakni ilmu hitam, yang mana pemiliknya akan berubah menjadi buaya kalau sudah meninggal dunia.

Di tepian Sungai Musi, Palembang, banyak legenda mengenai buaya yang diceritakan turun temurun, salah satunya legenda buaya putih. Beberapa tempat yang diyakini tempat munculnya buaya putih adalah di aliran Sungai Ogan, seperti di bawah jembatan Ogan, Kertapati, Palembang dan lokasi pedalaman sungai Ogan. Munculnya buaya putih ini diyakini selalu menjadi pertanda akan terjadi bencana besar di Sumsel atau di Indonesia.

Demikian juga warga di Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. Mereka sangat percaya dengan legenda-legenda mengenai buaya. Sebagian besar warga Pemulutan percaya, nenek moyang mereka adalah buaya. Sebab ilmu buaya banyak dikuasai masyarakat Pemulutan dan ada yang menjadi pawang buaya. Banyak warga Pemulutan yang dapat berubah menjadi buaya jika masuk ke dalam sungai atau rawa. Ini adalah ilmu hitam yang biasanya dikuasai para bandit.

Di masyarakat Palembang juga ada kisah/legenda menarik dari abad ke-16. Saat itu raja Palembang bingung bagaimana mengatasi buaya-buaya yang berada di Sungai Musi. Buaya-buaya itu ganas dan dapat membuat warga terancam nyawanya. Lalu, sang raja mendatangkan seorang pawang buaya dari India. Dengan janji akan memberikan banyak hadiah, sang raja meminta si pawang menjinakkan buaya-buaya di sungai Musi. Buaya-buaya itu pun jinak. Si pawang pun menerima banyak hadiah.

Kemudian raja mengajak sang pawang ke daerah pedalaman yang banyak buayanya. Kembali pawang itu menaklukkan buaya-buaya menjadi jinak. “Coba kau buat buaya-buaya itu kembali menjadi ganas. Aku mau tahu bagaimana kehebatan ilmumu?” kata sang raja.

Pawang yang sudah mabuk pujian itu kemudian membuat buaya-buaya itu menjadi ganas. Ayam dan ternak yang dilempar ke sungai dengan cepat dimakan buaya. Dan, ketika si pawang lengah, seorang prajurit kerajaan Palembang mendorong pawang ke gerombolan buaya. Tak ayal si pawang itu mati dimakan buaya. Lokasi terbunuhnya pawang itu diperkirakan di pesisir timur Sumatera Selatan, seperti Pulaurimau, atau di kawasan Pemulutan.

Kalau pawang ini tidak dibunuh, saya khawatir dia dapat mempermainkan kita. Atau, kalau dia tidak senang dengan kita, buaya-buaya di sungai Musi dibuatnya menjadi ganas lagi, kata sang raja.Oleh karena itu, tidaklah heran, buaya di sungai Musi dengan buaya di daerah pedalaman Sumatra Selatan berbeda karakternya. Di sungai Musi tidak ada buaya yang bersifat ganas, meskipun saat ini sudah jarang terlihat, berbeda dengan daerah pedalaman yang terkenal dengan buayanya yang ganas-ganas.

Legenda Si Pahit Lidah

Legenda Si Pahit Lidah


Tersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, dikhabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.

Dikisahkan, mereka memiliki ladang padi bersebelahan yang dipisahkan oleh pepohonan. Dibawah pepohonan itu tumbuhlah cendawan. Cendawan yang menghadap kearah ladang Aria tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan jamur yang menghadap ladang Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.

Perseteruan itu, pada suatu hari telah berubah menjadi perkelahian. Menyadari bahwa Serunting lebih sakti, Arya Tebing menghentikan perkelahian tersebut. Ia berusaha mencari jalan lain untuk mengalahkan lawannya. Ia membujuk kakaknya (isteri dari Serunting) untuk memberitahukannya rahasia kesaktian Serunting.

Menurut kakaknya Aria Tebing, kesaktian dari Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar (meskipun tidak ditiup angin). Bermodalkan informasi itu, Aria Tebing kembali menantang Serunting untuk berkelahi.

Dengan sengaja ia menancapkan tombaknya pada ilalang yang bergetar itu. Serunting terjatuh, dan terluka parah. Merasa dikhianati isterinya, ia pergi mengembara.

Serunting pergi bertapa ke Gunung Siguntang. Oleh Hyang Mahameru, ia dijanjikan kekuatan gaib. Syaratnya adalah ia harus bertapa di bawah pohon bambu hingga seluruh tubuhnya ditutupi oleh daun bambu. Setelah hampir dua tahun bersemedi, daun-daun itu sudah menutupi seluruh tubuhnya. Seperti yang dijanjikan, ia akhirnya menerima kekuatan gaib. Kesaktian itu adalah bahwa kalimat atau perkataan apapun yang keluar dari mulutnya akan berubah menjadi kutukan. Karena itu ia diberi julukan si Pahit Lidah.

Ia berniat untuk kembali ke asalnya, daerah Sumidang. Dalam perjalanan pulang tersebut ia menguji kesaktiannya. Ditepian Danau Ranau, dijumpainya terhampar pohon-pohon tebu yang sudah menguning. Si Pahit Lidah pun berkata, "jadilah batu." Maka benarlah, tanaman itu berubah menjadi batu. Seterusnya, ia pun mengutuk setiap orang yang dijumpainya di tepian Sungai Jambi untuk menjadi batu.

Namun, ia pun punya maksud baik. Dikhabarkan, ia mengubah Bukit Serut yang gundul menjadi hutan kayu. Di Karang Agung, dikisahkan ia memenuhi keinginan pasangan tua yang sudah ompong untuk mempunyai anak.

Bukti Batu Gajah Di Pasemah akibat "Kutukan" Si Pahit Lidah

Legenda Si Pahit LidahNurhadi Rangkuti meraba-raba batu gajah sambil menjelaskan torehan gelang kaki pada wujud tokoh manusia yang memegang gajah, yang merupakan benda koleksi Museum Balaputradewa di Palembang.

Si Pahit Lidah sungguh sakti kata-katanya. Setiap serapah sumpah yang keluar dari mulutnya yang berlidah pahit kontan akan membuat benda yang dikutuk menjadi batu. Begitu kira-kira dongeng lisan masyarakat Pasemah di kawasan Lahat dan Pagar Alam di Sumatera Selatan.

Kesaktian tokoh suci folklorik itu menjadi salah satu hiasan info populer perihal banyaknya arca batu dan batu bertatahkan torehan bentuk manusia dan binatang.

Cerita rakyat itu hanya imbuhan karena para pakar arkeologi sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini masih terkagum- kagum dan takjub dengan adanya peninggalan budaya masa lampau, konon ditaksir sudah sejak beratus-ratus tahun silam.

Lokasi situs megalitik itu letaknya di alam bumi Pasemah Lahat dan Pagar Alam, sekitar 500-an kilometer dari Palembang, di dataran tinggi antara 750 meter-1.000 meter di kaki Gunung Dempo dari Pegunungan Bukit Barisan dan daerah aliran hulu Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Ahli arkeologi Belanda sejak EP Tombrink (1827), Ulmann (1850), LC Westernenk (1921), Th van der Hoop (1932) dan lainnya sejak dulu berusaha memecahkan misteri ilmiah keberadaan kompleks situs megalitik yang penuh serakan peninggalan arkeologi.

"Van den Hoop tercatat membawa batu bundar ini ke Palembang, sekitar tahun 1930-an tanpa penjelasan rinci," ujar Drs Nurhadi Rangkuti MSi (49), Kepala Balai Arkeologi Sumatera Bagian Selatan, akhir Februari lalu, saat menjelaskan batu besar berhiasan unik yang kini koleksi Museum Balaputradewa di kota Palembang.

Batu bundar macam telur besar pejal asal Kotoraya di Lahat mencolok sekali tatahan dan goresannya berbentuk gajah dan manusia. Perhatikan hiasan pahatannya, menggambarkan seorang manusia sedang menggapit seekor gajah. Tokoh itu mengenakan tutup kepala macam ketopong, telinganya mengenakan semacam anting dan mengenakan juga kalung leher. Kakinya mengenakan gelang kaki yang diduga berbahan logam. Di punggung manusia itu ada sebentuk nekara, tetapi wajahnya berbibir tebal, hidung pesek dan pendek, mata lonjong dan badannya terkesan bungkuk. Di pinggangnya terdapat senjata tajam, ujar Nurhadi yang mengaku belum pernah mengukur rinci besar dan bobot batu andesit itu.

"Dari ujung belalai sampai ke ekor gajahnya, sekitar 2,7 meter. Di balik relief gajah ini, ada pula bentuk seekor babi bertaring panjang dengan dua tokoh manusia."

Peninggalan tradisi megalitik itu amat terkenal di dunia kajian arkeologi karena, selain diduga dari masa prasejarah, tradisi batu besar itu pun berlanjut sampai kini. Bentuk peninggalan megalitik lainnya di wilayah Pasemah, selain batu gajah dan beberapa arca besar lainnya yang kini ada di Palembang, di Pagar Alam juga masih banyak peninggalan arkeologi berupa arca batu besar, alat-alat batu, tembikar, bilik batu dan menhir.

Khususnya di situs bilik batu, terdapat lukisan menggambarkan manusia sedang menggamit seekor kerbau dengan warna merah bata, hitam, dan kuning oker. Selain itu, juga ada lukisan aneka bentuk lukisan manusia, binatang, dan burung dengan kombinasi warna merah, kuning, putih, dan hitam.

"Seluruh peninggalan budaya prasejarah itu memberikan informasi bahwa pada masa lampau di daerah hulu Sungai Musi sudah terdapat hunian awal manusia, di daerah tepian sungai pada bidang tanah yang tinggi. Hunian yang lebih sedikit maju ditemukan di daerah kaki Gunung Dempo di sekitar kota Pagar Alam sekarang. Di daerah ini ditemukan banyak sekali arca megalit dan bilik-bilik batu yang berhiaskan lukisan…," tulis arkeolog Bambang Budi Utomo.

Kompas

Membantu Persalinan dan Mendapat BH Genderuwo di Alas Donglo

Oleh : Deny Wibisono
Saleh kembali terkejut, karena perempuan itu tiba-tiba minta dimandikan, wanita itu tak tampak lelah sebagaimana halnya wanita yang baru saja melahirkan. Ia bahkan kelihatan segar....!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



SALEH, demikian sapaan akrabnya, dapat digolongkan sebagai manusia yang benar-benar pantang menyerah. Boleh dikata, takada kata menyerah di dalam kamus hidup dan kehidupannya --- dan sebagai lelaki yang memiliki tanggung jawab terhadap istrinya, maka, berbagai pekerjaan pun ia lakoni demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Mulai dari tukang bangunan, buruh pabrik, pencari kayu, pencari pasir dan bahkan sederatan pekerjaan kasar lainnya pernah ia lakoni.

Meski impitan ekonomi terus saja mendesaknya, tetapi, ia adalah sosok yang tak peranah melupakan Sang Maha Pencipta. Bahkan, ibadah yang dilakukannya boleh dikata setara dengan para kiyai, selain selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an selepas mendirikan shalat Isya', shalat malam dan dhu'ha pun selalu dijalaninya dengan perasaan senang dan gembira.

Kini, di tengah-tengah kesibukkannya sebagai tukang cukur (pangkas rambut), ia menuturkan pengalaman-pengalamannya dengan makhluk gaib. Dan berikut adalah kisahnya....

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Mungkin karena cukup beribadah, maka saya jadi sering melihat penampakan," demikian pendapatnya saat berbincang dengan dengan Misteri.

Pendapat itu memang cukup beralasan dan dapat diterima oleh akal sehat. Apalagi jika dikaitkan dengan suatu kejadian saat dirinya hendak pulang. Kala itu, saat dalam perjalanan menuju kerumahnya, ia melihat ada seorang gadis di sis jembatan Bedengan, Ambulu. Yang paing mengherankan adalah, ternyata, tak ada seorang pun yang melihat sang gadis ruupawan itu di sana. Hal ini baru diketahuinya saat ia sengaja singgah barng sebentar di warung kopi yang ada di seberang jembatan itu.

Sedang peristiwa yang lainnya adalah ketika ia akan berangkat bekerja dengan mengendarai sepeda dan melewati kuburan desa Karanganyar. Saat sedang mengayuh dengan santai, mendadak, ada seorang perempuan yang melambaikan tangan dan tampaknya berniat ingin menumpang. Saleh pun menghentikan sepedanya dan langsung bertanya, "Mau saya antar ke kuburan mana, Mbak?" Tanya Saleh.

Ia bertanya demikian karena melihat betapa kaki makhluk cantik itu tak menempel pada tanah. "Terserah Bapak!" Jawab perempuan berpakaian atas putih dan memakai gaun panjang berwarna merah.

Dengan keberanian yang dimilikinya, Saleh pun lalu memboncengkan perempuan misterius itu. Dan seolah tak terjadi apa-apa, Salaeh selalu mengajak bercakap-cakap sambil sesekali mengawasi keberadaannya. Tapi sayang, ketika ia lengah karena memikirkan keluarganya di rumah, tiba-tiba, perempuan itu sudah menghilang baak ditelan bumi. Saleh langsung saja mengumpat dalam hati. Ia kecewa, karena keteledorannya maka ia jadi kurang perhatian terhadap perempuan yang membonceng di belakang sadelnya.

Bak telah menjadi suratan alam, dalam kesehariannyajalan hidup Saleh seolah sarat dengan berbagai kejadian yang bersaput mistik --- ya... betapa tidak, selain bertemu dengan tuyul, menggali makam dan mendapatkan mayat yang masih utuh, ia juga memiliki kemampuan dapat melihat penunggu rumah atau tempat-tempat yang wingit. Dan dari sekian banyak ceritanya, ada yang menurut Misteri paling menarik. Yakni, pertemuannya dengan genderuwo. Kala itu, ia tak hanya melihat. Melainkan bercakap-cakap dan sekaligus membantu genderuwo tersebut.

Setelah sejenak mengumpulkan segala ingatannya, Saleh pun mulai bercerita. Waktu itu, ia yang pekerjaan sehari-harinya mencari kayu di Alas Donglo, Kraton, Ambulu, Jember, berusia sekitar 30-an tahun. Dan saat hendak pulang, mendadak, ia melihat ada seorang perempuan yang entah dari mana datangnya sedang melambaikan tangan kepadanya. Saleh segera mendekati dan bertanya, "Ada apa bu?"

"Tolong saya... pak. Tolong saya!" Jawab perempuan yang perutnya dalam keadaan buncit itu dengan wajah menghiba.

Saleh seolah tak kuasa untuk menolakknya. Bak kena sihir yang teramat kuat, ia mengikuti langkah perempun itu yang tak lama kemudian membawanya ke sebuah rumah yang cukup bagus dan semuanya terbuat dari kayu jati. Saleh hanya mengangguk-angguk dan bergumam dalam hati, "Pantas kalau orang-orang sering bilang banyak pencurian kayu. Ternyata, semua rumah-rumah di sini terbuat dari kayu jati."

"Ada apa bu?" Tanya Saleh setelah ia duduk di ruang tamu.

"Perut saya, pak. Sepertinya saya mau melahirkan. Tolong saya ya, pak..." jawab perempuan itu sambil mengelus-elus perutnya.

"Lho.... suami ibu kemana?"

"Sedang pergi ke luar negeri, pak."

Bak kerbau dicocok hidung, Saleh pun berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar. Dan tanpa malu-malu, perempuan itu langsung membuka daster dan telentang di atas tempat tidur dengan kaki terbuka. Saleh semakin terkejut! Sejenak kemudian ia melihat perempuan itu mengejan dan berusaha mengeluarkan sang jabang bayi dari rahimnya. Saleh tak bisa berbuat apa-apa. Maklum, ia memang bukan belum pernah membantu persalinan. Alih-alih membantu persalinan, saat istrinya hendak melahirkan saja ia bergidik ngeri.

Perempuan itu seolah mengerti, ia hanya memegang tangan Saleh dengan sekuat tenaganya. Kini, Saleh pun maklum. Agaknya, perempuan itu butuh teman agar ia tak menanggung sakit seorang diri.

Dan beberapa menit kemudian, lahirlah dengan selamat seorang bayi dari rahim perempuan itu. Tangisan bayi pun langsung terdengar memenuhi ruangan. Ketika Saleh mengamati dengan seksama, tak sadar, ia pun bergidik ngeri. Betapa tidak, bayi itu memiliki kelebatan bulu yang tidak sebagaimana bayi biasa. Dadanya berbulu sebagaimana orang dewasa, bahkan, lengannya juga dipenuhi bulu.

Ketika Saleh sedang tergugu, mendadak perempuan itu berkata, "Tolong mandikan saya!"

Saleh kembali terkejut, karena perempuann itu tiba-tiba minta dimandikan. Dan satu lagi keanehan yang sempat terekam dalam benaknya adalah, wanita itu tak tampak lelah sebagaimana halnya yang baru saja mellahirkan. Ia bahkan kelihhat segar!

Jantung Saleh kian berdegup kencang manakala perempuan itu meminta untuk melucuti seluruh pakaiannya. Ya.... untuk kesekian kalinya Saleh hanya menuruti keinginan perempuan itu tanpa maksud-maksud yanng lain. "Saya menyabuni tubuhnya, bahkan, mengeringkan tubuh perempuan yang baru melahirkan itu dengan handuk putih yangg memang sudah tersedia di sana. Sejenak kemudian, saya tertidur karena kelelahan... dan tak lama setelah itu, saya pun terjaga," demikian ungkapnya kepada Misteri.

Kali ini, berjuta pertanyaan membuncah dalam benaknya, kini, ia berada di bawah pohon karet dalam keadaan duduk bersandar. Sementara, seorang temannya kemudian datang dan menegurnya, "Kamu sedang apa kok lewat semak-semak itu?"

Saleh menoleh ke kanan dan kiri mencari perempuan yang baru saja ditolongnya. Tapi apa daya, rumah berdinding kayu jati itu seolah lenyap ditelan bumi. kini, yang ada hanyalah jajaran pohon-pohon yang tinggi. Setelah menghela napas beberapa kali, ia pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada temannya. Dan Saleh pun menarik simpulan, yang barusan ia tolong adalah genderuwo. Apalagi, bayinya memilik bulu yang teramat lebat.

Sang teman yang semula mendengar sambil sesekali mencibirkan bibirnya akhirnya percaya. Betpa tidak, walau semak belukar yang baru dilalui Saleh penuh dengan ditumbuhi dengan onak dan duri, tetapi, tubuh Saleh tak tergores barang sedikitpun. Setelah kesadaran memenuhi benak keduanya, maka, kedua sahabat itu segera bergegas pulang. Ya... Saleh masih diliputi kengerian atas kejadian yang baru saja dialaminya.

Setibanya di rumah, setelah beristirahat sejenak, Saleh pun menceritakan pengalaman yang baru saja dialami kepada kepada istrinya. Ternyata, keanehan tak berhenti sampai di situ. Ketika keluar rumah, Saleh merasakan ada hal yang berbeda pada dirinya. Ya.. entah kenapa, banyak wanita bahkan anak-anak SMA yang seketika jadi tertarik kepadanya. Salehhanya bisa bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang menyebabkan semua ini terjadi?"

Tak perlu berlama-lama, pertanyaan yang dalam beberapa waktu melingkar-lingkar dalam benaknya akhirnya terjawab manakala ia akan berangkat untuk mencari kayu di Alas Donglo.Di tengah-tengah tumpukan kayu yang ada di belakang rumahnya, Saleh menemukan secarik pakaian dalam berupa BH. Seingatnya, istrinya tak memiliki BH dengan warna seperti itu --- akhirnya, Saleh pun sadar, agaknya BH inilah yang membuatnya jadi dikagumi oleh banyak atau bahkan seluruh wanita ang melihatnya.

Sadar bahwa keutuhan rumah tangganya harus selalu dijaga, maka, Saleh pun langsung mengembalikan BH itu ke Alas Donglo. Setelah mengucapkan kata, "Terima kasih, tapi saya telah mempunyai istri dan berjanji tidak ingi tergoda dengan wanita lain. Selain itu, saya takut jika benda ini diketemukan dan dipakai oleh orang yang tak bertanggung jawab dapat untuk menyakiti para perempuan. Untuk itu, saya kembalikan BH ini kepada nyai," sambil meletakkan BH tersebut di tengah-tengah semak belukar yang dua hari lalu dilaluinnya.

Dan benar, setelah itu tak ada pandangan atau lirikan penuh arti dari wanita yang berpapasan atau melihatnya. Demikian sekelumit dari sekian banyak pengalaman mistik dari Pak Saleh, semoga para pembaca setia dapat mengambil hikmah dari cerita ini.

SUMBER : Misteri, Edisi 452, Tahun 2008

Jumat, 18 Januari 2013

Stres Bisa Picu Timbulnya Sariawan

Masyarakat umum mengenal sariawan sebagai keadaan yang terjadi akibat kekurangan vitamin C. Namun sebenarnya banyak penyebab lain yang mendasari seseorang dapat terkena sariawan, salah satunya stres.

Menurut dr Erial Bahar MSc, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri), saat seseorang mengalami stres, daya tahan tubuh akan menurun. Sehingga mudah terjadi infeksi yang mengakibatkan timbulnya sariawan.

"Stres dapat menjadi salah satu faktor pemicu timbulnya sariawan. Seseorang yang sering mengalami sariawan berulang, walau pun telah banyak mengonsumsi vitamin C dalam jumlah yang banyak tapi tetap mengalami sariawan. Kemungkinan faktor utamanya adalah stres. Seharusnya diberi penenang stresnya terlebih dahulu," ungkapnya.

iterangkan dr Erial, sariawan yang dalam medis disebut stomatis aphtosa disebabkan oleh infeksi yang terjadi pada selaput mukosa di daerah mulut seperti bibir dan lidah. Infeksi yang terjadi tersebut biasanya diawali dari luka akibat kurangnya jaringan ikat yang memperkuat mukosa di dalam mulut. Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan jaringan mukosa daalam mulut mudah mengalami luka sehingga dapat terinfeksi kuman.

"Seseorang yang kekurangan vitamin C sering terkena sariawan akibat jaringan ikat di mulut yang tidak kuat," ujar dokter yang juga menjabat ketua PHD Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Wilayah Sumsel itu.

Jika daya tahan tubuhnya cukup baik, sariawan dapat sembuh sendiri dengan proses penyembuhan jaringan berkisar 5 samapi 7 hari. Pengobatan sariawan, lanjut dr Erial, sangat berguna pada faktor penyebab terjadinya sariawan. ((net/ce1)

Sumatera Ekspres

Minggu, 13 Januari 2013

Perempuan Tua Pengayuh Becak

Perempuan Tua Pengayuh Becak
Cerpen: Silvia Oktaresa

Perempuan itu memunguti sepuntung rokok yang cuma tersisa rasa manis di depan sebuah toko. Siang menyengat mungkin membuat lidahnya cepat pahit dan asam lambung naik. Cuma roko yang ia temukan sebagai pengobatnya. Wajahnya tegas, tidak seperti perempuan kebanyakan, perempuan tua yang masih cukup gagah ini berdada datar dengan rambut cepak yang menemaninya lima tahun belakangan ini. Tukang potongnya tak jauh dari sini, mungkin sahabat karibnya karena ia bisa pergi melenggang tanpa menyelipkan upah.

Sebagaimana di usianya, di sini tempat ia mencari nafkah. Kudengar sebelumnya, ia di-PHK sebagai buruh pabrik, tanpa pesangon sepeser pun. Ia cuma punya nyali baju pabrik yang dibawa kabur, mungkinn lebih tepatnnya sebagai sisa kenangan, bukan sebagai aset yang bisa dijual. Sepuluh tahun mengabdi bukan hal mudah dilupakan sebagai kenangan. Untuk hidup saja ia tidak punya pilihan, diberhentikan dari sana berarti sama halnya menggali kubur. ibunya dulu tidak pernah mengajarkan arti penting sebuah jenjang sekolah. Sebagai seorang tamatan sekolah dasar, bukan? Ia belum sampai melewati kelulusan itu. Ia hanya bisa hidup dengan menjadi pekerja kasar dan mustahil baginya memilih ang lain. Mengayuh becak memang bukanlah profesi untuk perempuan, tapi baginya ia tidak memiliki pilihan. Cuma itu satu-satunya pekerjaan yang ia dapatkan, meski dengan terpaksa sekalipun.

Guratnya sama sekali tidak menunjukkan kepayahan bahkan dadanya membusung seolah-olah menantang kenyataan, seraya berkata. "Kau tidak bisa membunuhku dengan cara ini." Lipatan matanya seakan menuntun ke sebuah rumah tua yang sangat gelap di dalamnya beberapa anak yang masih menjadi tanggungan. Ia mungkin saja bisa lelah, tapi lipatan matanya selalu meminta harapan. Ia tidak sempat mengeluh, cuma mengaduh di kepulan asap yang ia biarkan mengepul di wajahnya. Suaranya parau persis suara pria yang terbiasa mengisap rokok. Kepulan asap membaur di wajahnya, sesekali kudengar batuk paraunya membahana tapi itu tidak sempat membuatnya terganggu. Asap mungkin bagian kecil yang tidak perlu sama sekali mendapat hitungan, mengingat kehidupannya jauh lebih perih dibanding dengan sesuatu yang membuatnya terbatuk. Cuma terbatuk tidak membuatnya mati.

Matanya menerawang ke atas seolah pikiranya telah jauh membawanya, namun ia tidak pernah lengah terhadap kemungkinan penumpang yang menjadi incarannya. Ia cukup beristirahat sejenak siang itu, sebelum perempuan yang sedang asyik berbelanja di toko sembako itu memanggilnya.

Tak beberapa lama perempuan paruh baya itu benar memanggilnya. "Mas..." Ia bangkit dengan cepat dan matanya segera menusuk perempuan di depannya. Ia mengangguk dan mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat: tungg. Batuk yang membahana membuatnya mengambil botol air mineral di balakang kemudinya. Tanpa perlu disuruh, perempuan tua itu (sebenarnya ia tidak terlalu, cuaca, keadaan pekerjaan membuat kulitnya berlekas tua) telah mengangkut barang-barang belanjaan perempuan paruh baya itu. Beras satu karung itu ia hantamkan ke atas bahunya, melanjutkan dua kardus yang dipindahkan secara singkat ke atas becaknya. Ini memang bukan kali pertama aku meihatnya memanggul barang-barang berat, tapi tetap saja membuat mataku seolah tak percaya. Gas elpiji dua belas kilogram nyaris membuat tulangnya retak berkali-kali.

Setelah semua beres, penumpang perempuan paruh baya itu telah dirasa duduk dengan nyaman. Perempuan tua itu lalu mengayuh setelah sebelumnya bertanya tujuan hendak ke mana. "Gang Lebak murni, Bang!" Jawaban singkat penumpang itu segera menuntunnya mengayuh di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Terkadang kendaraan roda tiga itu cuma disebut sampah, yang membuat macet jalanan saja bagi kendaraan lain. Ia juga sampah, yang terkadang membuat pikiran mereka tak pernah berpikir kalau sampah terselip fungsi. Meski terlihat sebagai seonggok barang kotor yang tergeletak di pinggir jalan, terabaikan. Banyak yang kaya tidak suka sampah, tapi mereka tidak pernah tahubarang yang ia miliki juga setelahnya menjadi sampah. Setelah membusuk mereka juga akan menjadi sampah. Sampah, sampah, dan sampah.

Betisnya yang bulat mengayuh menggambarkan puluhan jarak yang pernah ia lewati. Mungkin setelahnya, di pertengahan jalan pulang ia menumukan penumpang lainnya sebelum kembali ke tempat ini. Mungkin aku tidak tidak pernah bertemu kembali dengannya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Mengenal asap bukan bukan baranng baru baginya. Ia mengisap rokok setelah berstatus janda pertama kali. Terhitung ia telah menjanda tiga kali. Dengan dipenuhi berbagai tragedi, tentunya.

Lelaki petama di kehidupannya seorang pemabuk berat. Saat mabuk, ia bisa menjadi apa saja yang ia mau. Pipi merah yang didapatkannya setelah pagi bukan barasal dari perona merah bedak. Lelaki itu memang terkadang tak sadar setelah mabuk, bahkan ia telah lupa atas perilakunya. Lelaki itu semakin menjadi-jadi setlah di PHK dari pekerjaannya. Lelaki itu diberhentikan secara tidak hormat setelah isu yang merebak ia mencuri produk pabrik di sana.

Puncaknya, perempuan itu menghantamkan botol bir di kepala lelaki itu setelah sebelumnya lelaki itu mengancam akan menjual cincin kawin mereka. Akhirnya, tanpa status yang tak jelas mereka berdua berpisah. Perempuan itu tidak diceraikan tapi ia telah bebas dari bayang lelaki itu. Lelaki itu tidak pernah sama sekali menampakkan batang hidungnya lagi, setelah fase itu, ia mengenal rokok. Mengisi waktu kosong, ia lebih suka merokok. Menyemburkan ke wajahnya seolah-olah aroma terapi yang membuatnya dapat melupakan sejenak pahitnya kehidupan. Dari lelaki pertama ia mendapatkan satu anak yang saat itu masih berusia dua tahun.

Kemudian ia jatuh cinta dengan lelaki kedua yang mengenalkannya pada kenikmatan rokok. Bersama lelaki kedua, dukanya berlkas sirna. Ia akhirnya menikah lagi. Lalu mendapatkan dua anak. Hidup mereka cukup bahagia meski dalam serba keterbatasan. Sampai akhirnya pernikahan mereka terbawa gelombang, seorang wanita tiba-tiba datang ke rumahnya sambil menangis. Wanita itu menggamit tangan seorang seorang anak lelaki yang bengong sajja melihat ibunya menangis. Untuk kedua kalinya perempuan itu patah. Lelaki kedua ternyata tidak lebih baik dari lalaki pertama.

Mereka bertengkar hebat. Di balik pintu anak pertamanya cuma bisa menyaksikan peristiwa pelemparan itu. Wanita yang datang adalah istri pertama dari lelaki yang ia nikahi selama ini. Ia semakin sulit terlepas dari rokok, yang menjadi satu-satunya teman terbaiknya menghilangkan getirnya hidup.

Ia tidak akan menikah lagi, itu batinnya. Rasanya sudah cukup berat menghidupi kitiga anaknya, bahkan ia tidak sempat berdandan yang baik saat berjumpa dengan lelaki. Ia sudah cukup menasbihkan bahwa semua lelaki buaya. Cukup heran dengan perlambangan ini, padahal buaya sebenarnya selalu setia pada pasangannya. Seperti roti buaya di pernikahan Betawi.

Namun, ia kembali menemukan seorang yang menjungkirbalikan kehidupannya. Ia sangat mudah jatuh cinta, lalu menikah.Kehidupannya kembali membaik. Lelaki itu penuh tanggung jawab. Sampai kembali semua diuji, anak terakhir tiba-tiba jatuh sakit. Dengan keadaan seperti itu semua yang dibicarakan akan bergulir menjadi perang saraf. Lelaki itu menuding-nuding perempuan itu pembawa sial. Segala harta yang hanya beberapa gelintir habis untuk pengobatan. Lelaki itu tidak tahan lalu meninggalkannya. Lagipula ia belum memiliki anak bersama wanita itu. Ia bisa bebas.

Roko kembali menjejali perutnya. Ia kembali membunuh semua lelaki dalam pikirannya, semua lelaki sama dan berakhir mati. Sepenuhnya ia menghabiskan harta dan kerja keras demi mengobati anaknya yang sakit. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Profesi dari tukang cuci sampai juru masak, ia geluti. Sampai akhirnya, profesi tukang becak ia jalani. Semua tertuju padaa anak yang sakit. Si sulung yang sudah besar merasa terabakan.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Bu, aku akan menikah!" Si sulung tiba-tiba melemparkan kata-kata yang menohok hati ibunya.

"Nak, dia bukan pilihan Ibu. Kau masih muda, teruskan sekolahmu, tinggikan cita-citamu, jangan kau seperti Ibu, kau harus bisa mengangkat Ibu ke tempat yang lebih baik."

"Aku harus menikah, Bu."

"Nak!"

Pembicaraan itu setelahnya terputus begitu saja, si sulung yang benar-benar dimabuk cinta telah melupakan segalanya. Diam-diam ia tuliskan surat dan diletakkan di atas meja makan, surat yang membawa guntur untuk ibunya. Bersamaan dengan surat itu, si sulung menghilang dari rumah dan tidak pernah kembali.

Perempuan itu benar-benar terpukul. Ia seolah-olah menjadi seorang ibu yang paling gagal di dunia. kedua anaknya ikut bersedih atas kehilangan kakaknya. Entah ia ada di mana, anaknya tidak pernah kembali. Mungkin ia menikah lalu mengulang kembali kisah hidup ibunya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sudah hampir dua minggu ini aku tidak melihat kembali perempuan itu di sini. Perempuan pengayuh becak yang wajahnya hitam legam terpapar sengat mentari. Aku biasanya mengamatinya lewat toko sembari membeli barang-barang kebutuhan. Ia biasanya bersantai di atas becaknya sembari menunggu penumpang. Mengisap rokok dalam-dalam dan mengamati pelan-pelan asap yang keluar dari mulutnya.

Dari toko depan yang menjual sembako, ia terbilang cukup akrab, biasanya pemilliknya memberi sekantong beras untuk perempuan itu bawa pulang tiap hari. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih telah mengantarkan pelanggannya pulang dengan baik. Hampir semua orang-orang pasar mengenalnya. Tapi, ia sudah tak pernah datang kembali dengan becaknya. Penumpang yang sering pakai jasanya juga bertanya-tanya. Atau mungkin ia mendapatkan kembali pekerjaan yang lebih layak atau jangan-jangan perusahaannya tempat ia bekerja mempekerjakannya kembali. Kalau begitu aku cukup senang mendengarnya, berarti ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Karena penasaran kutanyakan pada penjual toko depan yang tahu dengannya. Di tangan kananku menenteng belanjaan, di sebelah kiri menggamit anakku yang telah berusia tujuh tahun.

"Pak.... biasanya ada prempuan tua pengayuh becak di sini. Tapi beberapa hari ini dia tidak prnah kelihatan lagi. Ke mana ya Pak?"

"Owh Bu Sora."

"Iya Bu Sora."

"Dia sedang beristirahat di rumah. Beberapa hari yang lalu, ia melakukan operasi transplantasi ginjal buat anaknya yang sakit. Kasihan Ibu Sora, demi anaknya ia rela menyerahkan ginjal buat anaknya yang sudah lama sakit."

Mendengarnya seperti guntur mencabik-cabik tubuhku. Entah, aku terlalu malu untuk menyapa ibuku sendiri. Nasihat ibuku dahulu tidak kuhirau lagi, lalu menikah dengan teman sepermainanku dan mendapatkan satu anak darinya. Kisah ibu akhirnya terulang kembali.

Sungguh aku malu menemuinya. Ia masih berjuang demi anaknya di usianya yang yang tak lagi muda. Kalau mungkin ak yang sakit, kurasa ibu akan menyodorkan ginjalnya untukku.

Setelah ini, aku ingin kembali. Aku ingin pulang bersama anakku. Menemui Ibu (*)


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Juara I Pena Sumsel Gemilang 2012
Cerpen Pilihan Pembaca Sumatera Ekspres
Kategori Pemuda 20--27 Tahun

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 13 Januari 2013