Minggu, 27 Januari 2013

Background Wallpapers


15881

Abstract Circles background 1

Autumn Leaves in Green Background Wallpaper

Autumn Theme Windows 7 Backgrounds

Background Wallpaper 27

Background winter

bg3large

Blue Flower Background Microsoft Windows 7 Theme

Chinese New Year Background 2013

Floral Background 03

Sabtu, 26 Januari 2013

Cinta Membawanya Kembali

Cinta Membawanya Kembali


Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk menantimu kembali....


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Hujan tak lagi deras. Hanya gerimis. Tirainya yang tipis jatuh di halaman. menebar di atas kebun mawar. Menahan desahan angin yang samar. Senja yang susut dalam gerimis seakan memberi kesuraman pada bumi yang dipijak Linda. gadis itu menarik napas panjang dan lelah. Pandangannya menembus jendela. Jauh dan lepas. Dalam benaknya terlukis wajah Eki. Lelaki yang tak pernah lepas dari hatinya pun setelah dua tahun melarikan diri ke negara Mitterand.

betapa sia-sia usaha yang dirintisnya. Betapa naif. seharusnya dia tidak menyeberang ke negeri yang dingin itu. Karena sosok lelaki itu terlalu kuat terpatri di dinding hatinya. Di belahan bumi manapun dia berada, banyangannya tetap saja mengikuti. Dan kini dia kembali. Membawa kekalahan. Bias-bias cinta masa lalu masih tersisa. Tetapi lelaki itu tak bisa dimilikinya. Sekali lagi dia menarik napas. Masih seperti tadi panjang dan lelah. Sepi yang melintas perlahan membawanya dalam lamunan. Menyusuri lorong-lorong hari di mana dia pernah begitu dekat dengan Eki.

Jumat, 25 Januari 2013

Free Mp3 Vicky Zhao



Artis: Vicky Zhao
Title: Zi Cong Li Bie Hou
Size : 4,320 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Zhi Chong Li Pie Hou
Size : 4,258 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Wo Men
Size : 3,701 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Xin Lan Hua Chaw
Size : 2,927 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Yen Yi Mung Mung
Size : 3,800 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: U Meng He Ni Feng Shou
Size : 4,260 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ni Lien Mao Mi
Size : 4,278 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Mung Li
Size : 4,201 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Man Chang Fei Yuan Wu Qu
Size : 2,409 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Lie Pie Te Che San
Size : 5,620 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ik Chung Tek Ku Sin
Size : 3,809 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Hau Siang Hau Siang
Size : 3,389 KB


Artis: Vicky Zhao feat Ruby Lin
Title: Ni Se Fong Er Wo She Sha
Size : 4,355 KB


Artis: vicky Zhao
Title: Wei 1
size : 3,884 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ai Ching Ta Mo Cho
Size : 3,178 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Bu You Zhi Zhu
Size : 4,346 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ce Chung Yu Le Ni
Size : 3,209 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ching Sen Sen Ik Mong Mong
Size : 4,467 KB


Kamis, 24 Januari 2013

Tak Bisa Kelain Hati

Cerpen: Lya SM

"Bersama dia, aku sama sekali lupa Leo. Apa aku sudah mengkhianatinya ya?"



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Kenapa Mith, sakit?" tanya Nana khawatir. Soalnya tidak seperti biasanya, hari ini Mitha tampak lebih pendiam. Meskipun fisiknya tidak memperlihatkan kalau dia sedang tidak sehat.

"Aku baik-baik saja kok."

"Tapi kok murung?"

"Aku lagi pengen diem aja," jawabnya santai. Tapi tiba-tiba....

"Eh, Na, seru kali ya kalau aku mati," katanya.

Tentu saja Nana terlonjak kaget. Dirabanya kening Mitha, spontan.

"Eling, Mith. Kamu segar bugar begini kok sempet-sempetnya mikirin mati? Bisa kualat kamu> Memangnya kamu mau bunuh diri ya?"

"Ih amit-amit!"

"Lho, tadi kamu bilang...." Nana mengerutkan keningnya.

"Maksudku, aku ingin bikin skenario seolah-olah sebentar lagi aku akan mati. Pasti seru kan?"

Nggak! Sama sekali nggak seru. Aku malah nggak suka ide itu. Ngapain sih, kamu bikin skena/ rio yang serem begitu?"

"Aku ingin lihat apa reaksinya."

"Reaksinya? Reaksi siapa?"

"Si Leo, Siapa lagi?" Nana menepuk jidatnya sendiri.

"yA ampun! Jadi cintamu masih ditolak juga?"

Nggak. Aku cuma sebel aja ke dia. Katanya dia sayang sama aku. Cinta sama aku. Tapi kok begitu aku ngajak dia buat jadian, nggak mau. Dia malah cuekin aku sekarang. Bete nggak sih?" ujarnya sewot sendiri.

Nana bru mengerti apa maksud Mitha sebenarnya. Sambil senyum-senyum geli, dia menlingkarkan tangannya di bahu sahabatnya sejak sama-sama SMP itu.

"Aku kasih tahu ya. Mith, buat nindukin cowok model si Leo itu, harus pake taktik sedikit. Dia kan cuekin kamu, jadi kamu harus balas cuekin dia dong. Lebih cuek lebih bagus," kata Nana serius.

Aku sudah coba tapi nggak mempan."

"Berapa lama?"

"Dua hari."

"Yaaa, itu sih...."

"Soalnya aku nggak tahan. Waktu aku lagi enak-enaknya cuekin dia, eh, tiba-tiba dia muncul di depanku. Dia ngajak aku ke mall. Kamu tahu sendiri kan gimana reaksiku kalau sudah diajak muter-muter ke pertokoan kayak gitu?"

"Tahu. Mata kamu langsung ijo!"

"Sekarang kamu harus coba lagi. Tapi kali ini kamu jangan mudah terbujuk. Memangnya cuma dia yang bisa ngajak kamu jalan ke mal?"

"Kalau aku nggak tahan lagi?"

Soal jalan ke mal sih sebenarnya tidak terlalu aku pikirin, Na. Tapi masalahnya aku ingin punya cowok. Nggak asyik kan jalan sendirian terus. Kamu sih enak udah punya cowok, meskipun masih misterius."

Nana nyengir. Cowok misterius? Pertanyaan itu membuat Nana geli, tapi sekaligus miris. Nggak misterius amat kok, Mith. Kamu udah kenal cowok itu kok. Hanya saja sekarang bukan saatnya aku buka kartu. Sabar aja ya...!

"Kalau aku boleh bilang sih, teman-teman si Leo juga juga masih banyak yang lebih oke. Kenapa kamu nggak coba untuk pindah kelain hati aja? Kayak ke si Ken atau Ryan, gitu. Daripada nungguin si Leo bikin kmu capek," ujar Nana hati-hati. Mitha mengerutkan keningnya. Kepalanya manggut-manggut.

"Kamu benar. Tapi kamu juga salah, karena aku tidak bisa pindah kelain hati. Sekali Leo, tetap Leo. You know?"

Nana menaikan alisnya. Nyengir. Terserah kamu deh!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Bubaran kelas, Mitha buru-buru meninggalkan sekolahnya. Langkahnya tergesa-gesa. Hari ini dia memang sudah janji untuk mengantar Mama ke salon. Dan kesempatan ini tidak akan Mitha sia-siakan, biar bisa nebeng creambath gratis. Rencananya sepulang dari salon, mereka akan langsug pergi belanja. Biasa, untuk menghabisan sisa dana akhir bulan.

"Sudah mau pulang, Mith? Kok buru-buru amat sih? Nggak nunggu Leo dulu?" tanya Ken yang berpapasan dengannya di depan pintu gerbang sekolah.

"Aduh sori deh. Kali ini aku nggak punya waktu lagi buat nunggu si Leo. Lagian hari ini aku sudah ada janji kok."

"Janji? sama cowok lain?"

""Ada deh. Sudah ya.... daaaahhh..." Mitha buru-buru meninggalkannya.

Ken melongo. Dia benar-benar heran melihat sikap Mitha hari ini. Tumben tuh anak cuek, pikirnya. Tanpa pikir panjang lagi, Ken memburu kelas Leo yang baru saja bubaran.

"Leo. Leo!" teriaknya tanpa ampun lagi. Dari arah yang berlawanan Leo melambaikan tangannya.

"Ada apa? Kok kayak baru melihat setan begitu sih?"

"Itu si Mitha...." sahutnya ngos-ngosan.

"Kenapa? Dia titip salam lagi? Kan sidah biasa," kata Leo tenang.

"Justru sebaliknya, Leo"

"Maksud kamu?"

"Kayaknya dia sudah tidak suka lagi sama kamu deh. Sikapnya cuek banget waktu tadi aku ajak dia nungguin kamu. Dia malah buru-buru pergi. Katanya sudah ada janji dengan seseorang. Kayaknya dia punya cowok baru deh."

"Nggak mungkin. Aku tahu banget bagaimana si Mitha. Orangnya setia. Sakali jatuh cinta, terus lengket selamanya."

"Geer banget sih kamu. Kali ini aku barani taruhan deh. Dia pasti bakal tinggalin kamu," kata Ken meyakinnya. Melihat keseriuasan Ken, Leo terpancing juga.

"Serius, Ken?"

"Serius. Makanya kamu jangan terlaalu jual mahal begitu. Kamu pikir si Mitha akan tahan dicuekin terus seperti ini? Dia juga punya perasaan, Leo."

"Kamu tahu, kira-kira siapa cowoknya?"

"nggak sih. Tapi kayaknya masih anak sekolah kita deh."

"Berani banget dia," kata Leo gemas. Tapi sepertinya Leo hafal betul kepada siapa dia harus memastikan soa informasi itu. Nana. Siapa lagi?

"Eh, Ken, kamu masih ingat kan bagaimana caranya membuat Mitha kembali sama aku?"

"Pasti ajak dia ke mal."

"Nah, tunggu apa lagi?" kata Leo sambil mengembangkan senyum manisnya. Rasa percaya dirinya kembali muncul. Ah, terlalu gampang sebenarnya merontokkan hati Mitha.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Kamu benar, Na!" seru Mitha keesokan harinya. Tentu saja tanpa hujan tanpa angin, Mitha muncul begitu saja di rumah Nana sore itu.

Apanya yang benar?" Nana mengerutkan keningnya.

"Soal si Leo."

"tentu saja. Kali ini aku benar-benar bertahan. Padahal kemarin sore dia datang ke rumahku dan mengajak lagi jalan ke mal. Tapi aku menolak. Kamu tahu kenapa?"

"Karena kamu ingin balas cuekin dia."

"Bukan. Tapi karena aku dapat cowok baru. Dan ternyata aku bisa pindah ke lain hati kok," tuturnya.

"Haahh? Serius Mith? Secepat itu? Siapa?" Nana nyaris tak percaya.

"Sebenarnya bukan orang baru. Tapi di mataku dia benar-benar tipe cowok macho. Bayangin aja, dia sudah menolong Mamaku waktu hampir kecopetan. Ya, seperti dalam film-film, tiba-tiba dia datang buat menolong kami. Aduh, meskipun ceritanya agak lucu, tapi buatku itu romantis banget. Dia mampu melakukan hal yang tidak pernah Leo lakukan. Entah kenapa hatiku langsung berdebar-debar." Mitha menarik napas panjang, sebelum melanjutkan lagi...

"Lebih seru lagi, ketika tiba-tiba Mamaku muncul. Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Mamaku berteriak. Tidak, bukan karena mu kecopetan lagi. Tapi ternyata, Mamanya cowok itu adalah bekas teman Mamaku waktu di SMA. Ya, jadinya kita kayak reunian deh. Aku sama cowok itu juga jadi ikut-ikutan tertawa geli. Lalu kita punya ide yang sama. Kita tinggalin aja mereka untuk kangen-kangenan. Sementara aku dan cowok itu ngubek-ngubek mal berdua. Aduh, aku senang banget deh, Na. Aku bahagia banget deh, Na. Suer, bersama dia, aku sama sekali nggak inget sama Leo tuh. Tapi apa itu aku berarti aku sudah mengkhianati Leo ya?" ujarnya sambil menatap Nana yang hanya terbengong-bengong mendengar penuturan Mitha yang panjang lebar itu.

"Ah, tapi cuek aja deh. Toh Leo belum jadi cowokku. Nggak tahu deh, kita bakal jadian atau nggak. Tapi sekarang aku sudah nggak perduli lagi kok," lanjutnya. Nana hendak membuka mulutnya. Tapi ia tidak jadi bicara.

"Heh, Na, kalau kamu juga naksir sama si Leo, ambil aja deh. Toh aku sudah punya gebetan baru. Dan kayaknya, sama yang ini aku cocok deh."

"Kamu serius Mith? Nggak nyesel?"

"Nggak. Aku rela kok. Siapa tahu sama kamu si Leo mau diajak jadian. Eh, sori, aku harus buru-buru balik nih. Cowok itu janji mau datang ke rumahku. Yang pasti ini jadi kejutan buat Leo."

"Kejutan? Apa maksud kamu Mith? Apa Leo mengenl cowok itu?"

"Tentu saja. Dia kan sahabatnya juga."

"Haahh?!"

"Si Ryan. Kamu juga kenal dia kan?"

"Kok bisa sih, Mith?"

"Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Sudah ya, aku pulang dulu."

Mitha melenggang santai meninggalkan Nana yang masih terbengong-bengong sendirian.

"Eh, Mitha, tunggu dulu. Aku mau ngomong sama kamu."

"Ah, sudahlah. Nanti saja."

"Tapi Mith, ada sesuatu yang belum kamu tahu..." Nana mencoba mengejarnya. Tapi terlambat. Mitha sudah naik ke mobilnya dan segera melaju meninggalkan kepulan asap di udara. Nana terpaku di tempatnya berdiri. Ah, Mitha, seharusnya kamu mendengarkan aku dulu. Aku hanya ingin mengatakan, sebenarnya Leo sudah lama ngeduain kita. Dan aku tidak bisa menolaknya. Aduh, aku dosa nggak ya sama kamu, Mitha?

Rabu, 23 Januari 2013

Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
Cerpen: Hammad Riyadi

Saya sudah Lama mendambakanmu. Tapi kamu kelewat perfect buat saya....
* * * * * * * * * * * *



Dini tengah asyik menikmati acara infotainmet di televisi ketika tiba-tiba telepon berdering.

"Hallo selamat sore." Dini menyapa dengan santun. Tapi sampai sekian menit tak ada reaksi apa-apa dari seberang. Sekedar say hallo pun tidak ada. Bahkan sampai Dini mengulangnya berkali-kali, tetap saja tak ada jawaban. Kecuali kemudian, bunyi tulalit panjang pertanda telepon telah dimatikan.

Dini meletakkan gagang telepon dengan kasar. "Payah!" gerutunya. Kentara sekali pancaran kekesalan yang mengkilat di wajahnya. Dia merasa dipermainkan.

Tiba-tiba telepon berdering lagi. Dini ingin berteriak memanggil Lina, tapi dia keburu sadar adiknya itu sedang kemping ke Bukit Panderman. Pembantunya mudik. Dia membiarkannya cukup lama.

"Hallo selamat sore." Untuk kedua kalinya Dini bersikap seramah mungkin. Tapi sampai beberapa lama masih juga tak ada jawaban, seolah-olah tak ada siapa-siapa di seberang.

Terang saja kekesalan yang telah ditekannya dalam-dalam mencuat kembali ketika penelpon itu tetap berdiam diri. Dini sudah tidak sabar. Maka segera dia muntahkan semua kalimat yang mencekik lehernya. "Hei banci, aku nggak punya banyak waktu untuk main-main dengan kamu. Kesempatan saya terlalu sempit untuk angkat telepon semacam ini."

Dia mematikan TV, sebelum menambahkan. Kamu enggak punya kerjaan? Kalau kamu perlu sama adik saya, dia sedang ke Panderman Kalau penting sama Papa, telepon saja ke kantornya. Mama lagi arisan. Di sini cuma ada saya, Dini. Tapi kalau enggak perlu sama saya, ya udah, saya tutup saja!"

Dini berhenti sejenak. Menunggu reaksi. Tapi tak juga ada "tanda-tanda kehidupan". Dia sudah bersiap-siap membanting gagang telepon lagi, andai tak ada sebuah suara yang masuk ke gendang telinganya.

"Hallo apa kabar Din?" suara lelaki.

Dini terhenyak. "Baik." Kata-kata itu tiba-tiba meloncat begitu saja dari bibirnya. Cepat-cepat ditaruhnya gagang telepon sebelum makhluk usil itu bertanya lagi. Menurutnya, sudah tak ada gunanya meneruskan pembicaraan yng tak jelas lagi dan bikin otak serasa mau meledak.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Namun kalau mau jujur, sampai keesokan harinya, Dini belum bisa melupakan suara usil di telepon itu. Diam-diam, ada penyesalan yang menyesaki hatinya. Kenapa dia bersikap nggak bersahabat.

Kriiiing....!!

Dering telepon itu serta merta mengejutkan Dini. Dan entah kenapa tiba-tiba dia berharap cowok kemarin yang meneleponnya.

"Selamat sore," sapanya dengan logat Batak.

"Sore," jawab seorang lelaki diseberang. Dngan cepat Dini bisa memastikan yang bicara adalah cowok yang ditunggunya. "Sejak kapan jadi orang Batak, Non?"

Dini bukannya menjawab pertanyaan itu. "Kamu cowok yang kemarin kan" todongnya.

"Ya," jawabnya mantap. "Bila kemarin saya telah bikin kamu sebel, saya minta maaf. Bukan maksud saya mempermainkanmu, tapi hanya ingin memastikan saya tidak salah sambung. Juga untuk meyakinkan, sore-sore begini kamu pasti nonton TV. Tentu kamu masih seperti dulu." Lelaki itu berbicara dengan hati-hati.

"Siapa namamu?"

"Apa artinya sebuah nama, Din?" ucap cowok itu, seperti berpuisi. Dini hampir tertawa mendengarnya.

"Justru itulah sebabnya!"

"Tapi saya lebih suka dipanggil 'kamu' saja, bukan nama. Bukankah suara saya cukup dikenali?"

"Iya sih, tapi apa salahnya saya tahu nama orang yang menghubungi saya, wahai 'Kamu"?"

"Jelas salah, karena sekarang bukan saatnya untuk itu."

"Bagimu bukan begitu. Bagi saya sekaranglah saatnya."

"Yang punya hak itu saya kan? Jadi, tidak etis kalau kamu memaksa saya memperkenalkan diri sekarang."

"Ingat Bung, kamu tidak sedang posisi menawar!"

"Sudahlah, jangan kelewat dinamis. Perkara nama belakangan. Alon-alon sing penting kelakon."

"Saya bukan orang Jawa, Bung! Itu bukan prensip saya!"

Buat apa kamu berdusta? Bahwa kamu lahir, besar dan sekolah di tanah Jawa ini, saya tahu. Kalau pun kamu pernah sekolah SMP di Ujung Pandang, itu semata-mata karena Papamu pernah dinas di sana. Tapi bukan berarti kamu bisa menghilangkan akar budayamu kan?"

Dini terdiam. Lama. Siapa cowok ini sebenarnya sampai-sampai dia tahu banyak hal mengenaidirinya. "Lalu apa maumu?"

"Saya ingin mengulangi pertanyaan kemarin. Bagaimana kabarmu?"

"Baik," jwab Dini dengan aksen lemah den mengandung amarah. "Saya sehat."

"Syukurlah," kata cowok itu singkat. Lalu, "Terima kasih. Selamat sore," telepon ditutup.

Dini tersentak, seolah tak percaya, apa yang telah lewat. Semuanya terasa sekejap. Terlalu singkat buat Dini yang masih penasaran. Kejutan cowok itu semakin membuatnya ingin tahu lebih dalam.

Andai Dini punya mesin pelacak, seperti di film-film action, mungkin dia tidak perlu pusing. Sekali sentuh, radar akan menyebutkan lokasi penelpon itu, berikut nomor teleponnya. Sayang, Dini bukan anggota FBI atau CIA.

Secara matematis, kemungkinan besar orang itu berada di dalam kota. Sore-sore begini, di saat pulsa sedang mahal, susah mendapati orang yang berani interlokal, kecuali di didesak kepentingan atau....dia memang kaya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Saat keesokan harinya pada jam yang sama, lelaki itu menelpon lagi, Dini mencoba menanyakan hal tersebut. Tapi dia malah diajak main kucing-kucingan. "Kalau saya bilang ada telepon umum depan rumahmu, apa kamu akan keluar?"

Cepet-cepat Dini membuka korden dan memandang boks tepat di depan rumahnya, tapi ternyata dia ditipu. Tak ada siapa pun di sana.

"Apa yang kamu lakukan barusan? Melihat telepon umum?" Coeok itu tertawa kecil. "Perlu kamu ketahui, waktu kecil, kalau lagi main petak umpet, saya tidak pernah berteriak memanggil teman supaya dia tahu tempat persembunyian saya. Apalagi sudah besar begini."

"Jangan bercanda!" Dini mendengus. "Kalau kamu enggak bilang lokal atau interlokal, saya tutup telepon ini."

"Oke... oke... interlokal. Puas?"

"Belum. Dari mana?"

"Yang jelas saya di Indonesia. Tepatnya di mana, kapan-kapan kamu akan tahu juga. Tidak surprise jadinya. Jika saya sampaikan sekarang," tutur si 'Kamu'. "Oh ya, kamu masih pacaran sama Erwin, tetanggmu itu ya?"

Dini terdiam. Sudah sebegitu jauhkah dia mengenalku sampai tahu tentang Erwin segala, batinnya. Dan belum sempat dia berkata apa-apa, cowok itu bertanya lagi. "Kabarnya kalian putus, benar begitu?"

"Ya, sudah lama kok."

"Syukurlah."

"Kenapa?"

"Berarti saya punya peluang untuk mengisi hari-hari kamu."

Entah untuk keberapakalinya, Dini dibikin terkaget-kaget. Semua ucapan pertanyaan si 'Kamu' sungguh telah mengobrak-abrik prifacynya. Dia tak ubahnya dewa tahu sampai ke akar-akarnya.

Sebenarnya sudah lama saya mendambakanmu," lanjut si 'Kamu'. "Tapi selama itu pula saya tidak berani menyatakanya. Saya khawatir ditolak mentah-mentah karena saya tidak cukup pantas menjadi pacarmu. Kamu kelewat perfet buat saya sehingga saya tidak yakin, apakah saya bisa membahagiakanmu. Saya menyukaimu Dini. Yakinlah, saya tidak main-main. Saya..."

"Belum selesai rayuannya?" potong Dini begitu telinganya mulai gerah.

"Ini bukan rayuan. ini kenyataan yang harus disampaikan."

"Di telepon ini nggak ada yang namanya kenyataan, Bung. Semuanya maya. Contohnya, kamu nggak jelas siapa. Jadi kalau kamu tiba-tiba ngelamar saya, saya anggap itu nggak penting saya dengar. Apalagi saya jawab. Saya lagi sibuk. Selamat...."

"Eit, jangan keburu bilang selamat sore, Din. Kita belum selesai ngomong."

"Apalagi? Males ah, saya jadi malu pada diri sendiri, karena masih juga ngelayanin oranh yang nggak kenal. Entar saya jai gila lagi."

"Oke.. oke. Saya sebut nama saya...."

"Nah gitu dong!"

Tapi nggak sekarang. Besok sore aja, oke?"

"Kelamaan!" Habis menerikkan kalimat itu, Dini langsung menutup telepon. Dia enggan mendengarkan kalimat berikutnya. Rasa penasaran telah habis dikikis kebosanan dan kekesalan yang terus menderas, karena lelaki itu bersikap sok misterius. Lagipula besok atau nanti malam atau kapan saja, cowok itu pasti akan menelponnya lagi, setidaknya untuk menanyakan jawabannya. Jadi inilah saat paling tepat untuk mempertahankan dan menaikkan 'harga'nya bukan justru membuka pintu lebar-lebar. Posisinya lebih menguntungkan untuk itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Tapi kejutan-kejutan yang hendak Dini ciptakan ternyata tak satu pun yang menjadi kenyataan. Bukan karena salah strategi, melainkan karena sudah seminggu si 'Kamu' tidak menghentk-hentak pesawat teleponnya. Tak ada sapaan hallo setiap sore. Aku bisa senewen mikirin bangsat ini, batin Dini setiap kali terpaksa termangu, menunggu orang yang ingin sekali dilumatnya.

Seminggu, dua minggu sampai genap satu bulan, ternyata si 'Kamu' belum menghubunginya. Keyakinan bahwa dia bakal menanyakan jawaban lamarannya, rontok sudah. Dini, mau tak mau mulai melupakan semuanya. Tapi sebelum setiap kenangannya memudar, Ayu familynya di Yogya menelponya. Tumben. Lebih tumben lagi, sewaktu dia bertanya, "Apa selama ini Mas Indra nggak pernah ngebel ke situ, Mbak?"

Dini celingukan. Terus terang dia nggak familiar dengan nama itu, meski samar-samar pernah didengarnya. "Indra? Indra siapa?"

"Masa nggak kenal? Dasar Mbak Dini nggak pernah silaturahmi sih!" Ayu tertawa kecil. "Itu lho, kakaknya Ayu yang kuliah di Bandung."

"Ooo..." cuma itu yang keluar dari bibir Dini. Lantas otaknya sibuk memutar memori kusut, sampai dia ingat: Indra, saudara jauh sepupunya yang hanya sekali bertemu langsung. Itu pun sudah usang. Lima tahun silam.

"Dia pernah menelpon Mbak ya?"

Dini panik mendengar ulangan pertanyaan yang semakin spesifik. "Nggak tuh!" Akhirnya dia berbohong. "Memang kenapa?"

"Ayah marah-marah tuh, pulsa telepon tiba-tiba bengkak. Padahal nggak biasanya kayak gini. Terus dari lembaran bukti print-out Telkom, ketahuan ada yang nelpon ke situ. Sore-sore lagi. Kebayangkan berapa habisnya. Kami curiga ini ulah Mas Indra karena satu-satunya yang berada di rumah jam-jam segitu cuma dia."

"Nggak tuh! Dini mengulangi kebohongannya. Mencoba meyakinkan.

"Ya udah, makasih."

Dini lekas menghambur ke kamar, setelah Ayu mengucapkan salam. Dia bingung. Di satu pihak, dia percaya, yang selama ini mengisi sore harinya adalah Indra. Di lain pihak, dia susah menerima kenyataan bahwa Indra benar-benar menyukainya. Disamping karena belum tahu benar sifat makhluk bernama Indra itu, dia juga enggan menjalin hubungan spesial dengan orang-orang yang punya ikatan famili.

"Dini!" panggil Mama tiba-tiba. "Ada telepon."

"Siapa?"

"Indra!"