Jumat, 01 Februari 2013

Berprofesi Sebagai Awak Kapal Gaib

Oleh : Nurwindo

Janu, adikku menjadi awak dari sebuah kapal gaib. Bagaimana mungkin hal ini terjadi....?

* * * * * * * * * * * *


BEGITU banyak kisah gaib yang telah diungkap, menyadarkan kepada setiap kita kalau bangsa manusia memang tidak hidup sendirian di bumi ini. Ada bangsa lain yang juga sebenarnya mempunyai hal untuk tinggal dan melakukan aktivitasnya, berdampingan dengan manusia. Tak jarang seseorang yang mempunyai frekwensi fisik dan batin tertentu ataupun karena keadaan yang terkondisi, menyebabkan dia mampu menembus alam lain yang tak tampak itu. Bahkan mereka dapat masuk dan keluar sesuai kebutuhan. Keadaan ini tentu saja tidak semua orang dapat melakukannya.

Akhir Perjanjian Dengan Siluman Ular (Persekutuan Gaib)

Oleh : Rosikin

Di Setiap penjuru desa tercium bau busuk yang sangat menyengat. Bangkai apakah yang baunya sebusuk itu? Hingga tercium radius berkilo-kilo meter? Selidik punya selidik ternyata itu akibatt kemmatian salah seorang warga yang dipercaya telah ngupri. Yaitu orang yang memuja siluman ular.....

* * * * * * * * * * * * *



pernikahannya dengan seorang gadis desa yang mempunyai orang tua kaya, Yanu merasa hidup ini tiba-tiba indah. Segala apa yang dia inginkan hampir semuanya tercapai. Tentu saja itu karena atas fasilitas mertuanya, Haji Leman. Haji Leman pun menyerahkan beberapa beberapa tempat usahanya ke menantunya. Dan usaha yang di percayakan untuk dikelola Yanu adalah butik pakaian.

Dalam beberapa bulan sejak ia mengelola tempat usaha mertuanya memang kondisi perekonomian masih bagus. Butiknya yang masih mendompleng nama "H.. Leman" masih dikunjungi banyak pembeli.
"Ma, bagaimana kalau nama butik kita diganti. Jangan pakai nama ayahmu. Kan usahanya sudah diserahkan ke kita," usul Yanu kepada Munaroh istrinya.

"Memang kenapa, Pa? Selama ini aku pikir usaha kita usaha kita baik-baik saja," kata istrinya.

"Iya sih. Tapi aku malu kalau harus mendompleng kebesaran nama ayahmu."

Dipikir-pikir memang benar juga. Masa selamanya harus mendompleng kebesaran nama ayahnya. Ada baiknya kalau memang namanya diganti. Keduanya pun sepakat untuk mengganti nama usaha butiknya. Tentu saja dengan nama yang di sukai mereka, yaitu "BUTIK YAMU," hasil gabungan dari nama mereka.

Usahanya berjalan seperti biasanya. Cuman banyak langganan dan pembeli yang menanyakan pergantian nama butiknya. Pertanyaan-pertanyaan itu di jawab oleh Yany dengan enteng. Perubahan omset penjualan tiba-tiba menurun. Lambat tapi pasti, langganan dan pembelinya semakin berkurang.

Aneh sejak nama usaha di ganti omset tiba-tiba menurun. Begitu berartikah nama bagi setiap tempat usaha? Tidak sampai setahun setelah nama butiknya diganti usaha butik YAMU pun bangkrut total! Begitulah, nama untuk membuat tempat usaha memang harus diperhitungkan secara batiniah. Tidak boleh sembarangan. Beberapa syarat harus dipenuhi untuk membuat nama sebuah usaha. Rupanya hal itulah yang tidak diperhatikan Yanu dan istrinya sehingga usahanya mengalami bangkrut total.

Untuk meminta suplay dana laggi dari mertuannya, tentu saja Yanu malu. Sementara cicilan bahan pakaian yang belum dibayar dari grosir semmakin menumpuk. Yanu dan istrinya praktis hidup dalam kemiskinan. Karena sebagian hartanya telah habis dijual untuk membayar hutang-hutangnya. Sementara kehidupan mereka terbiasa enak. Tiap hari mereka terbiasa mengeluarkan keuangan begitu besar sehingga saat usahanya sedang bangkrut mereka sangat menderita sekali.

Tiap hari Yanu hanya berpikir bagaimana untuk mendapatkan keuangan yang cukup besar dan singkat tanpa harus bekerja keras. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitlah kata pepatah untuk menggambarkan sebuah keberuntungan. Di saat Yanu sedang berpikir untuk kaya dengan cara cepat seorang tua yang berpengalaman dalam bidang supranatural mendatanginya. Orangtua tersebut sering di panggil dengan nama Ki Bogel.

Ki Bogel menunjukkan sebuah tempat keramat yang dapat mendatangkan kekayaan dengan cara cepat. Yaitu dengan Ngupri (sejenis perjanjian dengan siluman ular). Ada perbedaan ngupri dan ngipri. Kalau ngupri perjanjiannya dengan siluman ular, tapi kalau ngipri perjanjiannya dengan siluman kera). Yang ditunjukkan oleh Ki Bogel adalah ngupri di sebuah pulau kecil. Pulau itu sering di sebut oleh pemuja setan dengan nama Pulau Karas.

Di Pulau Keras tersebut bercokol silluman ular yang dipercaya dapat membantu manusia yang bersedia bersekutu dengannya untuk mendatangkan kekayaan dengan cara yang sangat cepat. Siluman ular tersebut berjenis kelamin betina. Dan kalau ia menampakkan diri sebagai manusia, siluman tersebut terlihat sebagai seorang perempuan yang sangat cantik dengan nama "Siti Polang Sari."

Yanu tidak berpikir panjang lagi. Inilah saat yang aku tunggu, sedangkan resiko perjanjian urusan belakangan, ia membatin. Ia pun menyiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan untuk berhubungan dengan siluman ular di Pulau Keras. Di antaranya bunga setaman. Tumpengan lengkap dengan adep-adepnya. Dan beberapa persyaratan lainnya seperti yang diperintahkan oleh Ki Bogel.

Malam Selasa Kliwon dengan menyewa perahu kecil Yanu dan Ki Bogel membawa aneka sesaji membelah ombak laut Indramayu. Tujuan mereka sudah jelas. Pulau Karas! Tengah malam kemudian mereka sampai di sana. Sebuah pulau yang sangat kecil. Di sana hanya terdapat sebuah gubuk yang sangat reot. Memang di deretan wilayah tersebut ada tiga buah pulau kecil yang banyak di tumbuhi pohon nyiur. Masing-masing pulau tersebut terkenal sangat angker dan juga merupakan sebuah pilihan bagi orang yang akan bersekutu dengan iblis. Di samping pulau Karas yang dihuni silumman ular ada pulau Platu yang kata Ki Bogel juga dapat digunakan untuk ngipri memuja siluman kera besar berambut merah. Kera tersebut sering di sebut dengan nama "Camang."

Kembali kepada niat Yanu yang akan memuja siluman ular bernama Siti Polang Sari. Tengah malam itu ketika ia sudah merapikan sesaji di gubuk reot tersebut ia pun tertidur. Di dalam tidurnya ia didatangi seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan tersebut mengajkan beberapa syarat yang hanya diketahui oleh mereka. Selanjutnya mereka hanya bercinta secara binal. Sebagai lambang bersatunya perjanjian sesat!

Sungguh keajaiban tiba-tiba menimp Yanu dan keluarganya. Setelah ia pulang dari Pulau Karas kehidupannya mulai berubah. Tingkat perekonomian yang tadinya bangkrut total, dengan sangat cepat bangun dari keterpurukan. Usaha butiknya pun berkembangan dengan sangat cepat. Bahkan tidak tanggung-tanggung sejak kebangkitan ekonominya dalam beberapa bulan ia membuka cabang butik pakaian di mana-mana. Tahun pertama dilaluinya dengan harapan yang besar tentang kemajuan ekonominya yang begitu pesat. Tumbal pertama jatuh sebagai akibat perjanjian dengan siluman ular. Salah seorang pembantu perempuannya tiba-tiba meninggal di dapur dengan tubuh membiru. Seperti habis terkena gigitan ular. Tahun-tahun berikutnya pun selalu meminta tumbal. Terutama bagi mereka yang banyak ikut menikmati kekayaan Yanu dan istrinya.

Sementara itu usaha Yanu semakin maju pesat. Ia menjadi tuan tanah di desanya. Beberapa tanah yang letaknya strategis (dipinggir jalan raya) dibelinya termasuk beberapa rumah. Sungguh sangat menakjubkan! Sebagi kebiasaan orang kaya lainnya yang tinggal di pedesaan. Yanu pun mmemelihara kuda yang bagus untuk kendaraan mengawasi kebunnya. Karena ia memiliki kuda, maka ia pun mempekerjakan Mang Kardi seorang pencari rumput untuk memberi makan kuda kebanggaannya.

Malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih! Begitulah pepatah yang menggambarkan orang sedang apes. Suatu sore Mang Kardi yang sedang memberi makan kuda tiba-tiba melihat ular besar berwarna hitam pekat mendekati dirinya. Mang Kardi pun kaget. Dan secara reflek ia mengibaskan aritnya ketubuh ular tersebut. Ular itupun terpotong menjadi dua. Ular itu segera di buang ke sungai di dekat kandang kuda.

Tak lama kemudian Mang Kardi mendengar bahwa majikannya meninggal dunia dengan cara yang sangat aneh. Antara tubuh dan pinggangnya terdapat garis hitam melingkar. Kematiannya pun sungguh mendadak. Persisnya berbarengan dengan ia membunuh ular hitam yang hampir menyerangnya di kandang kuda. Sungguh aneh!

Yang lebih aneh lagi berbarengan dengan kematian Yanu desa tersebut di serang bau busuk yang amat sangat. Barangkali itulahh akhir perjannjian dengan siluman ular. Mengalammi kematian dengan cara sangat tragis dan menjijikan. Setelah Yanu meninggal anak-anaknya kini hidup susah dan menderita. Harta orangtuanya yang dulu sangat di banggakan tiba-tiba hilang seperti kepulan asap. Sungguh suatu pelajaran yang baik bagi kita agar berpikir seribu kali untuk melangkah di jalan kesesatan. (*)

SUMBER : MISTERI, Edisi 342, 20 Januari 2004/04 Februari 2004

Doa Sebutir Peluru


Cerpen: Skylashtar Maryam

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Perlahan, amat perlahan.... tubuh yang kau lubangi itu menyebut nama Tuhan pada sepenggal napas yang tersisa . Meski di tempat kau berada kini, Tuhan kerap tak digubris dan ditepis. Tubuhmu bergetar, suara-suara menggelegar. Petir mulai menyambar, hujan bukan lagi berderai melainkan tumpah ruah. Abeputra pun kuyup.

Engkau mulai menggigil, ketakutan. Berusaha keluar daari tubuh yang hidupnyatelah engkau renggut bagai parasit berlari dari inang. Namun tubuhmu sendiri sudah terperangkap dalam begitu dalam, sementara suara-suara samar mulai berubah menggelegar; suara-suara yang tak ingin engkau dengar.

"Lalu siapa engkau?" sesosok makhluk tinggi besar bersayap hitam menjulang di hadapanmu, di atas tubuh inangmu yang tergeletak bisu.

Engkau menggigi. "Saya.... saya..." geragap.

"Katakan siapa engkau!" gelegar.

Kau semakin menggigil. "Bukan salah saya, sungguh bukan salah. Setan-setan itulah yang memaksa saya bersarang di sini."

"Berani-beraninya kau menjelma aku, berani-beraninya kau!" petir menyambar.

Engkau genap menangis, meringis mengais-ngais ingatan apapun yang bisa dijadikan tamba. "Tuan oh Tuan yang perkasa. Ketahuilah Tuan, saya hanya sahaya. Tangan merekalah yang telah membuat saya sedemikian hina. Tuan, oh Tuan yang begitu gagah. Tolong keluarkan saya dari sini," kau mulai memohon.

"Orang ini, yang di dalamnya kau bersarang. Siapa dia?"

Kau kembali gagap. "Saya tidak tahu, Tuan. Ini pertama kali kami bertemu."

Ya, kau tak tahu siapa lelaki malang itu. Lelaki malang yang tidak pernah sekalipu menyangka akan menghembuskan napas terakhir disebabkan oleh gempurannmu. Lelaki malang yang mati bersimbah darah tanpa tahu kesalahan apa. Lelaki yang berada di tempat dan waktu yang salah ketika berbagai macam pertikaian menjelma menjadi kolam pembantaian.

Yang engkau tahu hanyalah malam tadi kau ditempatkan di dalam revolver seseorang, dibawa mengarungi malam. Engkau memasang kuping, ingin mencuri dengar apa-apa yang terjadi diluar. Di malam yang lain, enam kawanmu tercerabut dari sarang untuk berpindah ke tubuh-tubuh, menjelma Izrail; malaikat maut yang sekarang tengah kau hadapi.

Bagimu, terlepasnya tubuh dri kungkungan putaran besi adalah sebuah perjudian tanpa satu orang pun pemenang. Kau dan kawan-kawanmu tak dapat menerka, tak dapat mengira, selongsong siapa yang kelak muntah menyongsong darah. Sialnya, malam tadi adalah giliranmu.

"Cih, bangsat betul nasib kita. Hanya jadi budak-budak manusia bejat," kau merutuk, mengutuk.

Kawanmu yang lain, yang sedari tadi terkantuk-kantuk menunggu giliran terkekeh. "Terima sajalah nasibmu, kawan. Meski aku tak yakin yang membawa rumah kita ini manusia atau bukan. Jangan-jangan ini setan. Memangnya kau mau dengar dia dari tadi menggeram? Aku sedang membayangkan seekor makhluk bertanduk, berekor, bertaring, dan berkulit merah.

"Gila kau!" kata kawanmu yang lain lagi, yang selongsongnya begitu murung seakan-akan seluruh mendung di bumi bergelayut dipunggung. "Jangan bicara tentang setan. Apa kau tak tahu tempat macam apa ini?" Di sini, di pulau ini, segala macam barang tambang dikeruk dan diperdagangkan. Ini pulau yang kaya kawan. Semua orang pasti akan bahagia. Mana ada setan di tempat seperti ini?"

"Setan atau bukan yang membawa kita, aku ingin segera keluar dari sini. Kalian sudah dengar tentang enam kawan kita itu, kan? Kabarnya mereka dipakai untuk melubangi manusia-manusia tak berdosa. Di kepala, di dada, di mana saja," engkau bergidik ngeri.

"Pengecut kau!" hardik kawanmu yang paling berani. "Coba kau bayangkan kuasa apa yang ada di tanganmu. Kita memang selongsong kecil, tapi kita bisa menunggangi kematian. Kita adalah jelmaan Izrail, si malaikat pencabut nyawa itu," kawanmu menyeringai.

"Aku tak mau jadi Izrail!" Aku tak mau jadi apapun dan siapapun. Aku hanya ingin dikembalikan kepada ibu, dilebur jadi perkakas atau berakhir jadi barang bekas. Aku tak ingin berakhir di sini, di dalam revolver terkutuk ini," engkau meringis.

Sebelum kawanmu sempat menimpali, tubuhmu tetiba saja bergeletar,, kemudian engkau dipaksa lesat keluar ketika ketika sebuah telunjuk menarik pelatuk.

Dor!

Dan di sanalah engkau berakhir, di leher seorang lelaki malang yang napasnya telah sempurna hengkang.

"Dan kau sekarang berbangga diri karena telah menjelma menjadi aku?" gelegar itu lagi.

Engkau semakin kalut dan rasa takut. "Tidak, Tuan. Sungguh! Tak pernah setetes pun saya bermimpi untuk mengakhiri perjalanan saya seperti ini. Manusia malang ini pastilah korban juga, manusia tak berdosa yang tak tahu pertikaian macam apa yang sedang membara di sini, di pulau kaya raya ini."

"Tak ada manusia yang tak berdosa," ceceran hujjan terciprat ke tubuhmu ketika sosok di hadapanmu kembali bersuara.

"Ngggg.... begini maksud saya, Tuan. Manusia ini, ia hanya manusia biasa yang hidup, bekerja, bernapas, dan menjalani hari-harinya tanpa sedikitpun bersinggunngan dengan perkara setan-setan, bukan? Ia juga korban, sama seperti saya, bukan?" serangan gugup itu datang lagi. "Ah, Tuan. Anda tentu lebih tahu daripada saya mengenai ini. Bukankah menurut kabar yang saya dengar, ada enam manusia lain yang bernasib sama seperti manusia ini? Anda di sana juga, pasti Anda ada di sana."

"Sosok bersayap hitam itu terkekeh. "Tentu saja aku ada di sana. Kau pikir kawan-kawan busukmu itu bisa tanpa aku? Kalian hanya butir-butir bedebah, tak bisa berbuat apa-apa kalau aku tak turun tangan mengakhiri pekerjaan terkutuk yang kalian lakukan. Cih! Sebetulnya aku bosan, asal kau tahu."

Tuan, boleh saya minta tolong sesuatu?" hujan masih membasah, mencipta merah di tanah, bercampur darah.

"Apa itu?"

"Bisakah, Tuan. Sekali saja, berhenti bekerja dan tak menjadikan tempat ini neraka? Kasianilah saya, Tuan. Kasihanilah kawan-kawan saya kelak. Saya tak ingin nanti ada kawan-kawan saya yang berakhir dengan cara seperti ini; bersarang di tubuh yang tak berhak dan tak pantas untuk mati dengan cara semengerikan ini," engkau memohon. "Juga kasihanilah manusia-manusia di pulau ini."

Sosok di hadapanmu murung, langit malam yang kelam bertambah suram. "Ah kau ini. Andaikata saja aku bisa. Tapi siapalah aku ini."

"Tapi Anda adaala Izrailsang perkasa, malaikat pencabut nyawa," katamu, menengadah.

"hah, kau ini bodoh atau apa? Aku juga menjalankan titah."

Engkau terbengong-bengong. Bagaimana mungkin sosok yang sudah dianggap semacam dewa bagi kau dan kawan-kawanmu itu juga menjalankan titah? "Titah? Titah siapa? Jangan bilang kalau Anda juga budak setan yang karena tarikan tangannya di pelatuk itu maka saya berakhir di sini."

Suara gelak. "Kau memang benar-benar bodoh! Hahahaha... ya, aku tidak menyalahkan kalau selama ini kau memang tak tahu apa-apa karena selalu terkukung di dalam sarung-sarung. Eh, sekalinya keluar malah bernasib sial. Hahahaha...."

"Tuan, bisakah Anda berbaik hati menjawab saja pertanyaan saya? Titah siapakah itu?"

Sosok itu menengadah ke langit, menadah hamparan hujan. "Tuhan," jawabnya.

"Tuhan?" engkau mengerut. Mendengar nama yang satu itu disebut membuat tubuhmu seketika lisut. "Apakah itu nama yang tadi dirapal manusia malang ini?"

"Ya, kau benar. Keputusan apakah aku mencerabut hidup satu manusia tetap berada di tangan-Nya."

"Apakah Ia juga bisa mendengar percakapan kita?" engkau memandang berkeliling mencari-cari sosok Tuhan.

"Tentu saja Ia mendengar. Ah, kau ini memang bodoh ternyata."

"begini saja, Tuan. Riwayat saya sebentar lagi berakhir. Mungkin tubuh saya akan segera diangkat, diperiksa, dianalisa. Setelah itu mungkin saya tidak akan bisa kembali bersuara. Bisakah Anda berbaik hati menyampaikan ini kepada Tuhan?"

"Bicaralah!"

"Semenjak saya berada di sini, di dalam lehr manusia ini. Saya melihat begitu banyak hal indah. Pulau ini begitu melimpah dengan harta. Emas, uranium, dan harta-harta lain yang tidak bisa saya kenali. Manusia ini juga pergi kemari dengan berjuta harapan dan keinginan. Saya yakin ada banyak manusia lain yang memiliki harapan yang sama.

Saya tidak tahu, tidak mengerti hal seperti apa yang sedang dipertikaikan dan diperebutkan di pulau kaya raya ini, Tuan. Saya hanya memohon agar Tuhan kelak melindungi siapa saja dari amukan kawan-kawan saya demi tujuan bejat mereka. Kasihanilah mereka; manusia-manusia ini. Senantiasa lindungilah mereka. Bisakah Anda menyampaikan semua kata-kata saya barusan?"

"Tidak perlu. Ia sudah mendengar doamu. Tapi agar kau tak penasaran, iya nanti aku sampaikan."

"Doa? Makhluk macam apa pula it?"

"Haduh, aku capek bicara denganmu. Yang kau ucapkan sedari tadi itu adalah doa, tolol!"

"Apakah doa itu sesuatu yang baik?" kau mulai kebingungan.

"Sepanjang doa itu untuk kebaikan maka doa itu adalah baik."

"Apakah saya boleh berdoa agar setan-setan itu juga digiring ke neraka sekarang juga?" kau berharap-harap cemas.

"Ya ya ya... berdoalah sesukamu."

"Tuhan, menurut Izrail di hadapan saya ini, saya boleh berdoa apa saja. Tolong, jebloskan setan-setan yang berkeliaran di pulau ini ke neraka sekarang juga."

"Amin," ucap sosok bersayap hitamm itu.

"Hah, apa itu amin?"

"Kau ingin kita ngobrol di sini semalaman atau bagaimana? Aku banyak pekerjaan. Sudahlah, mari kita akhiri saja."

"Lalu bagaimana nasib saya, Tuan? Apakah Tuan sudah mencabut nyawa manusia malang ini?"

"Kau, tetaplah berdiam di situ sampai manusia lain menemukanmu. Dan ya, sudah sedari tadi aku mencabut hidup manusia malang ini. Kasihan dia kalau harus mendengar ocehanmu."

Kemudian sosok itu menghilang, ditelan malam, ditelan hujan.

Engkau terdiam, menatap malam, meneruskan rapal doa dalam gumam. (*)

-------------------------------------------------------------------
Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Oktober 2012
-------------------------------------------------------------------

Rabu, 30 Januari 2013

Pertalian Hati

Pertalian Hati
Cerpen: M. Amin Taufani

Bagaimana kalau salah satu melihat Galang, tentu ada Lia senyum-senyum membaca apa yang sedang ditulis kakaknya. Tulisan dengan kalimat yang indah dan penuh makna. Menggambarkan perasaan hati dan kerinduan pada seseorang. Ingin rasanya pada saat itu Lia berkomentar, tapi khawatir mengganggu penghayatan Kanty pada tulisannya.

Dari kamar Kanty cewek berambut panjang dan dikepang ini menuju tempat Ratih kakaknya juga. "Aneh apa ini musim orang jatuh hati?" gumam Lia, karena dilihatnya Ratih sedang bertopang dagu dengan berekspresi membayangkan wajah seseorang, Lia mendekati Ratih dan duduk disampingnya. Ratih sendiri mengeserkan duduknya memberikan tempat Lia. "kok tahu aku datang, kukira sedng melamun," kata Lia santai.

"Memang sedang melamun. Kamu saja yang mengganggu," ujar Ratih.

"Mau tanya kak, ini musim jatuh hati ya kak?"

"Siapa yang bilang?"

"Engga ada cuma menarik kesimpulan."

"Kesimpulan? Sok tahu kamu," ujar Ratih setengah tertawa mendengar kata-kata Lia yang bicara dengan gaya orang besar.

"Ya tadi ditempat Kak Kanty, ia sedang menulis puisi tentang hati. Dan di sini Kak Ratih pun sedang melamunkan seseorang. Benar bukan?"

Kalau benar bagaimana?"

"Aku diberitahu orangnya."

"Boleh tapi rahasia."

Lia mengangguk.

"Galang."

"O, Mas Galang si kutu buku itu."

"Ingat rahasia," tegas Ratih saat Lia berteriak menyebut nama Galang.

"Kamu besok ada acara?" lanjut Ratih yang khawatir adiknya akan membicarakan cowok idamannya ini atau mungkin akan bertanya macam-macam.

Lia menepuk jidat, lalu menggeleng. "Mau ngajak kemana?"

"Besok temani aku ke perputakaan."

"Kalau aku bisa.

Sebenarnya Lia bukanlah adik kandung bagi Kanty dan Ratih. Mereka bertemu di sekolah sebagai kakak dan adik kelas. Dan karena mereka aktif mengikuti kegiatan ekstra kulikuler bersama membuat mereka lebih cepat akrab. Ditambah lagi orang tua Lia juga menganggap dua anak ini layaknya anak sendiri. Sehingga secara tidak langsung ketiganya merasa telah menjadi saudara.

Bagi Lia untuk bermain di kamar Kanty atau Ratih sudah biasa. Dan kali ini i masuk kamar Kanty untuk mencari tahu tentang orang yang sedang diincar oleh Kanty. Telah hampir sepuluh menit Lia membuka-buka buku. Mungkin ada nama cowok disana. Lia berinisiatif demikian karena ia tahu kebiasaan Kanty yang menulis sesuatu dibukunya.

"Nah kebetulan kamu ada disini," suara Kanty mengejutkan aktivitas Lia.

"Kebetulan apa Kak Ti?"

"Kamu jaga kamarku."

"Kak Ty mau kemana?" Lia heran melihat Kanty yang tergesa.

"Perpustakaan."

Lia hanya mengangguk lalu kembali membuka buku lagi. Dan... "Galang," batin Lia ketika matanya menatap sebuah nama tertulis indah di pojok sebuah buku yang ditulis dengan tulisan yang indah. Jadi Kak Kanty juga suka Mas Galang? Wah payah, pikir Lia. Bagaimana jika keduanya tahu kalau orang yang disukai sama jangan-jangan mereka nanti bermusuhan, apa yang harus akku lakukan, batin Lia.

Celaka.... Lia tersentak. Ia ingat, kemarin Ratih mengajaknya keperpustakaan dan tadi juga Kanty akan ke sana. Rupanya mereka punya rencana yang sama, yaitu ingin bertemu Galang yang memang suka sekali berlama-lama di perpustakaan. Bagaimana kalau salah satu bertemu Galang dan yang lain melihat, tentu akan cemburu. Tidak, jangan sampai terjadi. Aku harus mencegah mereka tidak saling bertemu, batin Lia lagi.

Lia segera meninggalkan kamat Kanty dan menuju perpustakaan. Ia jadi gelisah bila kendaraan yang ditumpanginya berhenti untuk menaikan atau menurunkan penumpang, karena perjalanan jadi terhambat. Seandainya ia punya kuasa tentu akan meminta penumpang lain untuk mengalah, agar dirinya lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya Lia menarik napas lega, setelah tiba di perpustakaan. Tapi hanya sesaat, karena ia harus mencari Galang, Ratih dan Kanty, serta membuat cara agar mereka tidak saling bertemu.

Pertama yang ditemukan adalah Galang. "Sudah lama Mas Galang? sapanya sedikit gugup.

"Lumayan. Kamu sendirian Lia?"

Lia mengangguk, tapi matanya berkeliling mengamati orang-orang di sekitarnya.

"Kamu cari siapa Lia?" tanya Galang yang memperhatikan kegelisahan Lia.

"Tidak Mas baca aja terus!" sahut Lia sambil menarik kursi dan mendudukinya. Untuk mengurangi rasa gugup, diambilnya sebuah buku sekenanya lalu pura-pura konsentrasi membaca.

Galang hanya tersenyum, namun matanya diam-diam mencuri pandang pada gadis di depannya. Sementara Lia sendiri kadang melihat ke arah Galang, maksudnya untuk melihat keadaan sekitar tanpa dicurigai menakala mata mereka bertemu Lia hanya tersenyum dan Galang kembali pada bukunya tentu setelah membalas senyum Lia. Cukup lama mereka kucing-kucingan dengan tujuan masing-masing.

Usaha Lia tidak sia-sia. Dilihatnya Ratih tengah berada diantara rak-rak buku sambil memilih-milih. Tapi arah jalan Ratih meskipun pandangannya tertuju pada buku-buku di depannya tapi menuju ke tempat dimana dirinya dan Galang berada. Harus dicegah.

Mau kemana Lia?" tanya Galang ketika Lia beranjak pergi.

"Ambil buku," jawab Lia singkat.

"Aku jua mau ambil buku pariwisata," ujar Galang mengikuti Lia.

"Jangan biar aku saja yang ambilkan," Lia buru-buru mencegah.

Galang mengalah, ia kembali duduk. Sedang Lia dengan perasaan tak menentu mendekati Ratih dengan sesekali menoleh pada Galang.

"Cari buku apa Kak?" suara Lia seperti membuat kejutan didekat Ratih agar terlihat wajar.

"Lho kok kamu di sini?"

"Kak Ratih kan kemarin minta aku temani jadi ya aku menemani Kak Ratih," jawab Lia mantap karena bisa menemukan jawaban tepat.

"Ya sudah kita cari tempat duduk," ujar Ratih setelah mengambil sebuah buku dan berjalan menuju dimana Galang berada.

"Jangan ke sana Kak," rajuk Lia.

"Kenapa?"

"Nggak enak banyak cowoknya."

Ratih menuruti saja tanpa merasa curiga sedikitpun. Padahal kalau ia tahu Galang ada di tempat yang ia tuju tentu akan mengajak Lia ke sana. Beberapa menit terasa tenang bagi Lia, tapi begitu Galang tidak ditempatnya Lia jadi gelisah.

"Pasti Mas Galang mencariku," batin Lia.

"Sebentar Kak," pamit Lia. Begitu Lia berdiri dari arah berlawanan dengan Kanty muncul.

"Kak Ratih duduk saja, baca dengan tenang dan jangan tengok-tengok," pinta Lia.

"Ada apa?"

"Nothing pokoknya tenang saja."

Dengan hati berdebar Lia mencari Galang tapi juga harus menghindari Kanty. Ia tetap bertekad untuk tidak mempertemukan ketiganya.

"Heh bengong di sini," tegur seseorang dari belakangnya.

"Oh ya Mas Galang juga di sini," sahut Lia menutupi rasa terkejutnya.

"Cari kamu. Kupikir sudah pulang atau sedang kecantol seseorang," goda Galang. Lia cuek saja menanggapinya. Keduanya lalu berjalan santai. Jantung Lia kembali berdebar dilajur rak sebelahnya, Kanty juga sedang berjalan ke arah berlawanan. Kanty tampak mengamati buku yang mungkin akan diambil. Karena deretan buku disitu tinggal beberapa sehingga sangat mudah untuk melihat orang di sebelah. Lia mengambil buku yang cukup besar untuk menutupi celah yang kemungkinan Kanty bisa melihatnya.

"Kamu sedang apa Lia?" Galang heran melihat tingkah Lia.

"Jangan triak-teriak," Lia bicara setengah berbisik.

"Ada apa?" Galang ikut berbisik, Lia menggeleng dan memberi isyarat Galang untuk jalan lebih dulu.

"Hari ini kamu aneh sekali Lia?"

"Aneh kenapa?"

"Kamu seperti sedang gelisah dan ketakutan," tebak Galang setelah mereka duduk.

"Nggak juga nyatanya aku masih bisa tertawa," elak Lia sambil memperdengarkan ketawanya. Galang geleng-geleng bukan hanya karena tingkah Lia, tapi juga ketawanya yang mengganggu lingkungan.

"Lia!" sebuah suara menghentikan tawa Lia seketika. Suara cewek. Ia merasa tulang-tulangnya seperti dilolosi sehingga badannya menjadi lemas. Perlahan Lia memutar leher. Demikian juga Galang. Terasa longgar rongga dada Lia saat ia tak mengenal orang yang memanggilnya. Rupanya hanya persamaan nama saja. Pada kesempatan itu pula Lia dapat melihat Kanty dan Ratih di tempatnya masing-masing.

"Lia kita pulang," Galang berdiri dan berjalan keluar yang kemudian diikuti Lia dengan hati-hati. Ia merasa berhasil meski sementara.

"Besok aku ke rumahmu," janji Galang di luar gedung perpustakaan. Lia hanya mengiyakan dengan mengangguk.

"Aku suka kamu Lia," kata Galang saat menemui Lia keesokan harinya.

"Suka aku maksudnya?"

"Ya suka kamu dan inginkan kamu menjadi milikku," ujar Galang tegas.

"Tapi kakak-kakakku......" kata-katanya terhenti terhenti tak sampai mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kenapa apa karena mereka belum punya cowok?"

Lia tak menjawab.

"Baiklah kalau begitu aku akan minta izin pada mereka," Galang memutuskan. Lia masih diam dan tak peduli saat Galang meninggalkannya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sepekan setelah pernyataan Galang pada dirinya ia tak merasa adanya perubahan pada sikap Kanty dan Ratih. Mereka tetap biasa. Bahkan keduanya sering menggoda Lia yang tiba-tiba jadi pendiam. Namun ada juga kegembiraan yang menyelinap di hatinya. Ia berpikir Galang belum mengatakan apa yang pernah dijanjikan padanya untuk minta izin dari Ratih dan Kanty. Bagaimanapun juga ia tak bisa mengkhianati dua kakaknya untuk menerima Galang.

Hari-hari berikutnya Lia kembali ceria.

"Nah gitu dong jadi anak jangan cemberut."

"Siapa yang cemberut?" tangkis Lia.

"Ya kamu itu."

Lia hanya senyum simpul.

"Lia benarkah kamu anggap kami ini kakak-kakakmu?" Ratih bertanya serius. Lia tampak bingung namun ia jelas mengiyakan.

"Kalau begitu maukah memenuhi permintaan kami?" kali ini Kanty yang bicara.

"Permintaan apa Kak Ti?"

"Jawab dulu, Lia mau memenuhinya?"

Meski tak tahu apa yang dimaksud Lia menyanggupinya.

"Terimalah Galang dihatimu Lia."

Lia terkejut dipandanginya dua wajah didepannya. Penuh kedamaian. Tak ada kekecewaan dan keterpaksaan. Sebelum Lia berkomentar, Ratih telah menjelaskan tentang maksud Galang yang datang pada mereka. Ratih pun menambahkan, mereka memang suka Galang tapi lebih suka lagi, kalau Lia menerima Galang. Karena ini mempererat pertalian persahabatan dan persaudaraan di antara mereka. (*)

Download Mp3 Noah Band

Download Mp3 Noah Band

Artis: Noah Band
Title: Someone Like You
Size : 4.4 Mb


Artis: Noah Band
Title: Separuh Aku
Size : 6.2 Mb


Artis: Noah Band
Titli: Tak Lagi Sama
Size : 4.9 Mb


Artis: Noah Band
Title: Dara
Size : 4.5 Mb


Artis: Noah Band
Title: Demi Kita
Size : 3.8 Mb


Artis: Noah Band
Title: Ini Cinta
Size : 3.1 Mb


Artis: Noah Band
Title: Ku Simpan Dalam Hati
Size : 5.0 Mb


Artis: Noah Band
Title: Mati Tanpamu
Size : 4.9 Mb