Senin, 11 Maret 2013

Diselamatkan Kapal Hantu

Oleh: Henny Nawani

Dari perusahaan Yunani itu, kami tersentak, di sana diberikan jawaban bahwa kapal Black Ship itu sudah tenggelam 40 tahun lalu di Bermuda Treangle, segitiga Bermuda dan menjadi kapal hantu, berkeliling dunia untuk menyelamatkan kapal-kapal yang terancam karam

* * * * * * * * * * * * * * *

Langit cerah, laut biru. Pelayaran sore itu sungguh menyenangkan. Kami sekeluarga harus pergi ke Pulau Gilitrawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kami berlayar menggunakan kapal yach pribadi, Juwita Marine, mesin 500 PK double angine, berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, untuk menikmati malam tahun baru di Pulau Gilitrawangan.

Di pulau kecil itu kami punya villa, namanya Bungalow Putih, semua ornament bercat putih, serba putih dengan bunga-bunga yang berunsur warna putih. Panitia setempat sudah mempersiapkan pesta, undangan 1400 orang sudah disebar, dari Surabaya, Bali, Mataram dan Sumbawa Besar. Semua datang dengan kapal pribadi, ada yach, ada yang membawa perahu layar bermesin. Bahkan ada pula yang datang dengan jetvoil.

Lima artis top dari Jakarta sudah diberi perskot, tiga artis perempuan satu artis pria dan satu MC.

"Kita harus menyenangkan semua teman-teman, keluarga dan semua relasi bisnis kita, maka itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membuat suatu pesta besar setiap malam penutupan tahun dan malam pembukaan tahun," ujar suamiku.

Sopir kapal, kapten laut Wahyu Abdurahman begitu optimis sore itu. Udara baik, angin sedang dan gelombang laut cukup tenang. Dengan kecepatan 80 knot mil laut per jam, maka diperkirakan akan sampai ke Pulau Gilitrawangan tengah malam, sekitar pukul 23.40 Waktu Indinesia Tengah. Maka pada tanggal 31 Desember 2010 pagi, kami sudah biasa bersiap untuk pesta di malam harinya, menyiapkan makanan, minuman dan jejamuan untuk para tamu undangan.

Kapal terus berlayar dalam ketenangan dan keteduhan senja dan kenyamanan udara laut sore itu . Kami berjalan melewati Selat Madura, setelah masuk Selat Bali lalu menuju Selat Selong, Nusa Tenggara Barat. Di tengah laut Selong, tiba-tiba angin kencang datang. Angin keras dan deras itu di luar perkiraan dan tidak masuk dalam hitungan Wahyu Abdurahman sebagai pelaut berpengalaman.

"Maaf Pak, ini angin dan di luar perhitungan ramalan geofisika dan radar awan yang ada. Angin ini aneh dan tidak liar, tidak pernah terjadi sebelum ini. Sebab angin ini berputar, seperti angin puting beliung atau badai tornado Amerika," ungkap Wahyu Abdurahman, driver kapal pengalaman yang penah mangkal di Miami, Amerika Serikat sebagai pekerja kapal yacth di negeri Paman Sam. Semakin lama angin semakin ganas, liar dan menakutkan. Langit tiba-tiba berpetir dan berguntur keras lalu menyambar kapal kami. Tiga kali ledakan petir menghantam buritan kapal dan kapal kami terpecah lalu bocor. Aku segera mengumpulkan anakku dan kami berempat berpelukan di dekat cockpit, tempat dimana Wahyu Abdurahman terus mengendalikan kapal itu dengan wajah dan ekspresi yang sangat panik.

Karnetnya pun, Maman, ikut panik dan berulangkali menimba air yang masuk tapi air terus menerus menyerbu dinding kapal dan masuk ruang bawah. Mas Hermanto segera menelpon ke kapal-kapal temannya untuk bantuan, tapi karena petir, sinyal tiba-tiba menghilang, daerah laut itu menjadi daerah blackspot, daerah yang tidak bersinyal sama sekali. Radio komunikasi pun, cb channel full energies, tiba-tiba macet dan tidak dapat digunakan.

Pada saat gawat begitu, tiba-tiba sebuah kapal besar terlihat oleh mata kami. Kapal bercat serba hitam itu berjarak hanya beberapa meter saja dari kami, dan kami memberi sinyal SOS, meminta pertolongan bantuan penyelamatan dari kapal itu. "Kapal itu hanya berjarak 400 meter dari kita, kapal itu mendekat dan mereka siap membantu kita. Segera ambil barang-barang penting yang berharga dan naiklah ke kapal itu," perintah Mas Hermanto kepada Maman, karnet kapal dan kepadaku juga.

Kapal hitam itu memberi lampu dan berhenti di dekat kami. Lalu anak buah kapal menurunkan tali dan menarik kapal kami mendekat keburitan kapal mereka. Kami sekeluarga naik kapal, begitu juga dengan Wahyu Abdurahman dan Maman si awak kapal kami, semua naik ke kapal Black Ship untuk menyelamatkan diri.

Tidak begitu lama kami naik di kapal hitam itu, kapal kami pun tenggelam. Juwita Marine telah tenggelam, dan sejarah kapal itu mencatat, bahwa Juwita pernah ada dan kini terkubur di dasar laut Selong yang mengerikan, laut berpetir, berguntur dan berangin putingbeliung.

Kapal yang kami tumpangi mengarah ke Padang Bay, Semara Pura, pelabuhan penyeberangan di ujung Bali bagian timur. Kapten kapal memberi bantuan dengan ikhlas kepada kami dan menyelamatkan kami dari kematian. "Bila tidak ada kapal Black Ship ini, matilah kita semua dalam tragedi tenggelamnya Juwita Marine," kata Mas Hermanto, kepada Wahyu dan Maman, awak kapalnya, yang manggut-manggut sambil menangis.

Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Kapten Kapal Black Ship, Mister Idral Zaron, 56 tahun, yang berasal dari Tebinggrinting, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang secara sukarela dan ikhlas membantu kami. Pada saat suamiku memberikan sejumlah uang tanda rerima kasih. Kapten Idral Zaron menolak dan dia tidak bersedia menerima uang tanda terima kasih itu.

"Saya menolong kalian dengan ikhlas, berdasarkan sumpah kelautan saya, untuk itu, bukan uang tujuan saya, tapi kasih sayang sesama sesuai perintah Allah SWT," desisnya, sambil menjabat tangan suamiku, dan tersenyum ramah.

"Berikan saja uang itu kepada anak yatim piatu dan orang jompo, Pak! Mereka lebih membutuhkannya, bukan saya," katanya, meminta agar suamiku berimfaq untuk orang-orang miskin dan papah.

Setelah menurunkan kami di dermaga Padang Bay, kapal Black Ship meneruskan pelayarannya menuju Cilacap, Jawa Tengah, untuk mengangkut minyak lalu pergi ke Yunani, Eropa Barat.

Setelah lima jam menunggu dan tidur di sebuh hotel kecil di Padang Bay, sebuah kapal jetvoil menjemput kami. Begitu kami checkout dari hotel, kami langsung naik ke kapal jetvoil itu dan memasukkan barang-barang yang masih tersisa. Sementara itu, Wahyu dan Maman, minta pamit kembali ke Surabaya, tidak ikut serta ke Pulau Gilitrawangan dengan alasan untuk menenangkan diri dari tragedi laut yang baru saja dihadapi dan sangat mengerikan.

"Kami mau buat pengajian, sujud syukur bersama keluarga besar, dimana kami telah diselamatkan oleh kapal Black Ship dan kapten Idral Zaron yang baik hati. Kami mohon maaf tidak bisa ikut ikutan pesta tahun baru di Pulau Gilitrawangan," kata Wahyu Abdurahman, dengan wajah gundah, sambil menerima ongkos dari suamiku, untuk acara syukuran di Surabaya.

Perjalan laut dengan jetvoil begitu cepat. Maka itu, tapet pukul 20.00 malam, kapal itu sudah sampai di Pulau Gilitrawangan dan kami bisa tetap membuat acara walau musibah baru saja menimpa kami. Semua tamu undangan yang mendengar kabar itu ikut berduka dan mereka ikut bersyukur atas keselamatan keluarga besar kami dari tragedi yang mengerikan di Laut Selong yang ganas tersebut.

Tepat pukul 21.00, acara segera di mulai. Band mulai bermain dan MC segera naik panggung. Semua tamu undangan sudah hadir. Pesta berjalan dengan mulus dan puncak acara sangat membahagiakan kami. Pas tepat pukul 00.00 tengah malam, suara petasan dan kembang api meletus menghiasi udara dan langit pun menjadi ceria. Semua orang keluar dan menikmati malam pergantian tahun dengan bahagia.

Namun tengah malam, saat kami melihat ke tengah laut, dari temaram bulan terang , kami melihat kapal hitam. Black Ship melempar sauh, lempar jangkar di tengah laut seberang bungalow kami. "Ma, itu kapal Black Ship yang menyelamatkan kita. Kapten Idral Zaron pasti ada di dalamnya," kata suamiku.

Kami segera meminta kapal kecil untuk diantarkan mendekati kapal itu. Aku dan Mas Hermanto berlayar mendekati kapal Black Ship dan kapal itu, anehnya, menghilang dalam hitungan detik.

"Kemana kapal tadi, bukankah tadi kapal itu jelas lempar jangkar di sini?" tanya suamiku, tak menuntut jawaban. Aku bingung,, sama dengan suamiku, bingung mempertanyakan, ke mana kapal itu perginya. Kalau pun jalan, bagaimana secepat itu jalannya?

"Jangan-jangan kapal itu, kapal Black Ship, bukan kapal biasa, Ma!" desis suamiku.

"Maksud Papa bukan kapal biasa itu, apa artinya?" tanyaku.

"Mungkin kapal itu kapal hantu, Ma, kapal misterius yang belakangan ini banyak muncul ke permukaan laut," kata suamiku.

Keesokan harinya, tanggal 1 Januari siang, Mas Hermanto menghubungi maskapai usaha laut kapal itu di Yunani lewat telpon. Nama maskapai itu adalah Olatus Rexx Ship Management. Dari perusahaan Yunani itu, kami tersentak, di sana diberikan jawaban bahwa kapal Black Ship itu sudah tenggelam 40 tahun lalu di Bermuda Treangle, segitiga Bermuda dan menjadi kapal hantu, berkeliling dunia untuk menyelamatkan kapal-kapal yang terancam karam.

"Kalian telah diselamatakan oleh kapal hantu Black Ship dan begitulah kapal itu, selalu muncul menbantu kapal-kapal yang terancam karam. Kapal itu tiba-tiba muncul secara gaib dan keberadaannya, selalu tepat waktu untuk mengangkut para korban kecelakaan laut," ungkap Mister Hanadiege Rumola, kepala humas perusahaan yang tetap eksis di dunia kelautan tersebut, memiliki 40 kapal berbendera Yunani dan mengangkut bahan bakar minyak di seluruh dunia. Sebagian kapal mereka, termasuk Black Ship, pernah mengangkut minyak di Indonesia 40 tahun yang lalu, sebelum tenggelam diterkap hantu laut Segitiga Bermuda.

Kami sangat terkesan dengan kapal Black Ship yang ternyata diawaki oleh kapten laut asal Indonesia yang mengaku lulusan sekolah tinggi kelautan Indonesia dan ternyata seorang gaib. Memang, dari Yunani kami dapat kabar, bahwa awak kapal mereka paling banyak berasal dari Indonesia, Filipina, dan Thailand.

"Tenaga kerja asal Indonesia baik-baik dan disiplin tinggi, lagi pula mereka tidak suka demo, tidak banyak protes dan menjadi pekerja paling baik untuk kapal-kapal berbendera Yunani," kata sang kepala humas kepada suamiku. (*)

Sumber: Misteri Edisi 550 Tahun 2013

Jumat, 08 Maret 2013

Perbedaan Mimpi dan Astral Projection

Oleh: M. Yusuf

Mimpi hanyalag buah dari tidur manusia yang hanya diapresiasikan gambaran yang sebelumnya terjadi dan akan terjadi dan setelah terjadi dan semua bergantung pada setiap orang yang memimpikannya. Setiap kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan itu semua di luar kuasa mimpi

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, ataupun indera lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep). Mimpi juga dapat dikatakan sebagai bunga tidur bagi setiap orang, ada pula mimpi yang dianggap sebagai harapan yang tidak kesampaian, bahkan banyak juga yang beranggapan, bahwa mimpi itu tidak memiliki arti sama sekali.

Tapi ada pula yang menyatakan bahwa mimpi adalah merupakan jalan utama atau jalan emas untuk memasuki dunia batin atau hati nurani kita. Dan mimpi itu adalah wujud dari setiap gambaran yang tidak nyata, mimpi kadang dapat menjadi nyata ketika setelah sadar dan terbangun dari tidur kita atau ketika suatu waktu tidak sengaja atau tidak direncanakan atau pula tiba-tiba bertepatan dengan waktu yang bersamaan dengan mimpi itu sendiri.

Minggu, 03 Maret 2013

Guruku Menghilang ke Alam Ghaib

Oleh: Yudhistira Manaf

Pesugihan yang aku jalani adalah pesugihan Monyet Melet, monyet yag menjulurkan lidah lalu mengeruk uang hasil korupsi dan dana kotor diperbankan. Hasilnya, aku mendapatkan solusi dana, jalan keluar untuk menutupi kekurangan biaya sekolah dan mampu membayar biaya operasi ibu kandungku operasi jantung di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura

* * * * * * * * * * * * * * *



Kesulitan hidup dan kemiskinan membuat aku gelap mata, lalu melarikan diri pada dunia pesugihan. Aku benar-benar membutuhkan uang untuk biaya sekolah empat anak dan biaya berobat ibu kandungku yang terkena penyakit jantung. Suamiku, Rasdi Sungkono, 36 tahun, meninggalkan dalam suatu tragedy kecelakaan lalu lintas. Truk yang disopirinya, jatuh ke dalam jurang di bilangan Kalianda, Lampung Selatan, saat membawa nenas ke Pasar Induk, Jakarta Timur. Kenek bersama suamiku yang terjatuh bersama truknya, langsung meninggal di tempat, tidak sempat di bawa ke rumah sakit.

Pesugihan yang aku jalani adalah pesugihan Monyet Melet, monyet yang menjulurkan lidah lalu mengeruk uang hasil korupsi dan dana kotor dipernakan. Hasilnya, aku mendapatkan solusi dana, jalan keluar untuk menutupi kekurangan biaya sekolah dan mampu membayar biaya operasi ibu kandungku, operasi jantung di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura.

Pada saat aku panik karena kesulitn uang, aku mendatangi Kaji Maron, 45 tahun, dukun mumpuni yang bermukim yang bermukim di perkebunan karet Banggalajaya, Ogan Komering Ilir. Kaji Maron seorang pemilik ilmu gaib saktimandraguna yang mampu berbahasa hewan, terutama monyet utan yang banyak di sekitar rumahnya, di Banggalajaya, dekat Danau Takarang Sakti, satu kawasan hutan lebat dan perkebunan karet milik keluarga Kaji Maron yang semuanya sudah wafat.

Aku mengenal Kaji Maron sejak aku masih keci, karena dulu kami bertetangga di Desa Talangdukun, sama-sama berkebun duku dan durian Komering. Ketika aku bersekolah ke Kota Palembang, Kaji Maron pindah ke hutan mendalami ilmu Linuwih Ogan Badayah, ilmu sakti mandraguna yang mampu menaklukkan semua hewan di dalam hutan. Baik hewan buas sejenis macan, buaya, beruang maupun monyet-monyet.

Kaji Maron seorang diri di rumahnya yang sederhana. Rumahnya bertiang tinggi , tiga meter dari kayu ulin dan dinding rumahnya dari kayu gerawan, dan atap rumah itu dari daun nipah. Sebagai wanita, aku agak ragu juga untuk datang ke rumah Kaji Maron, apalagi rumahnya itu berada di tengah hutan belantara, jauh dari penduduk lain. Terpencil di pinggir danau yang masih perawan.

Walau Kaji Maron banyak mempunyai ilmu gaib, tapi lelaki asal Talangdukun, Tanjungraja, Ogan Komering Ilir ini, tidak boleh menjadi kaya. Perjanjian gaib dengan penguasa alas, tempatnya bersemadi, adalh hidup cukup akan dan cukup pakaian, tapi tidak boleh mengumpulkan uang yang banyak, walaupun dia mampu untuk itu.

"Kalau mau, aku bisa kaya raya, kekayaanku bisa membeli sebuah pulau di negeri ini, tapi aku dilarang gaib untuk kaya, karena begitulah perjanjian yang aku buat sejak aku mendalami ilmu ini. Bila aku kaya, aku akan terkena banyak penyakit dan aku mati mendadak," desis Kaji Maron kepadaku.

Perjalanan menuju rumah Kaji Maron di dalam hutan ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Setelah berhenti di Tugumulyo dengan bus, aku mesti berjalan kaki sepanjang 34 kilometer ke dalam hutan belentara. Tidak ada jalan menuju rumahnya. Jangankan jalan mobil, jalan untuk sepeda motor pun tidak ada menuju rumahnya.

Aku melangkah menuju rumahnya setelah melewati pohon-pohon berduri dan alang-alang yang tinggi. Kulit tubuhku terluka dan beret-beret kerana ketajaman duri yang aku senggol. Bahkan, kaki kananku keseloa karena kakiku itu tersangkut batu lalu terkilir.

Namun, demi uang dan solusi hidupku, maka aku nekad, bertekad harus bertemu dengan Kaji Maron yang sakti linuwih. Aku harus bertemu lalu berguru dengannya, walaupun apa yang akan terjadi. Untuk itu, empat anakku aku titip kepada ibuku yang sedang sakit, terkapar dengan napas yang ngap-ngapan karena penyakit jantungnya yang sewaktu-waktu kambuh.

Kaji Maron tidak pernah keluaar hutan menuju kampung dan kota. Dia hidup dengan makan ikan hasil tangkapan di danau yang dijaringannya dengan pukat dan jala. Dia makan nasi dari beras yang dia taman lewat persawahan padi tadah hujan yang subur dan berkembang baik. Memasak selalu dengan kayu bakar dan penerangan lampu dengan minyak jarak yang dia buat sendiri dari hasil kebunnya.

Sejak remaja, Kaji Maron tidak tertarik kepada lawan jenis. Dia sangat dingin kepada wanita dan tidak pernah terpikir untuk menikah. Pikirku, bahkan pemikiran banyak warga kami di Desa Talangdukun, Kaji Maron itu adalah seorang pria yang kerkalian khusus. Dia tidak tertarik pada lawan jenis dan tidak tertarik untuk menikah. Oleh karena itulah, aku berani tinggal di rumahnya, hidup bersamanya selama berguru ilmu Linuwih Ogan Mandraguna.

Pertama kali aku tinggal di rumahnya, Kaji Maron bertanya, aku senang pada buah macam apa. Setelah aku jelaskan aku senang durian, rambutan dan duku, Kaji Maron lalu mengeluarkan kepalanya di jendela sambil bersiul keras. Suara siulan ternyata memanggil menyet-monyet yang bersarang di atas pohon beringin di pinggir danau bagian blok barat.

Ratusan monyet itu turun dari pohon dan berlari mendekati rumah Kaji Maron. Ratusan monyet itu duduk tertib menunggu perintah. Dengan bahda primata, Kaji Maron memerintahkan sesuatu, tidak lama kemudian monyet-monyet itu berlari menuju kampung. Dalam waktu kurang dari satu jam, beberapa monyet datang dengan puluhan durian, duku dan rambutan. Buah-buahan itu diserahkan kepada Kaji Maron lalu disuguhkan kepadaku. Durian itu manis sekali, begitu juga dengan rambutan dan duku yang dibawa monyet dari perkebunan rakyat tersebut.

"Kalau manusia mengambil hasil kebun manusia lain, namanya mencuri, tapi kalau monyet yang mengambil hasil kebun orang, namanya meminta, minta diam-diam!" canda Kaji Maron kepadaku.

Setelh mengetahui aku datang untuk belajar ilmu menarik uang dari alam gaib, Kaji Maron menyarankan agar aku belajar dari monyet-monyet yang ditaklukkannya. Katanya, ada ilmu monyet. Raja monyet, tapi monyet gaib, artinya tidak terlihat oleh siapapun saat monyet itu beroperasi.

"Raja monyet itu akan tinggal bersamamu dan bisa kau perintah untuk mendapatkan uang haram, uang tidak bersih dari hasil korupsi pejabat hasil pencurian dan uang-uang kotor lainya. Kau akan melihat jelas monyet itu dan bisa kau gendong di punggungmu, lalu mendekatlah ke bank dan tunggui di depan bank tersebut, lalu dia akan masuk mencuri ke dalam bank, yang duitnya juga tidak terlihat, setelah itu gendong lagi monyet itu pulang dan nikmatilah uang hasil kerja siluman raja monyet itu. Nama pesugihan monyet ini adalah Raja Monyet Melet!" ungkap Kaji Maron, suatu malam, kepadaku.

"Kenapa dinamakan Monyet Melet, karena dalam menjalankan operasinya, lidah monyet itu melet-melet seperti di pinggir mulutnya ada bekas makanan yang kembali ditelan, terus menerus melet hingga tugas pengambilan uangnya selesai," desis Kaji Maron.

Untuk mendapatkan ilmu Monyet Melet ternyata tidak semudah yang aku bayangkan sejak awal. Arkian, aku ternyata diwajibkan melakukan tapa puasa tujuh hari tujuh malam tidak makan, puasa ngableng, patigeni dan tapa menyelam dalam air danau tanpa bernapas tujuh menit, keluar masuk air selama tujuh hari.

Walau tapa-tapa itu berat utuk aku jalani, tapi demi menebus kesulitan hidupku, aku terpaksa juga melakukannya. Aku ingin sukses dan tak ingin gagal lagi seperti masa-masa yang lalu, di mana aku juga pernah gagal melakukan pesugihan ular sanca di Pangandara, Jawa Barat, sementara uang 40 juta rupiah sudah kuhabiskan untuk pesugihan yang menarik uang dolar Amerika tersebut.

Setelah puasa satu minggu tidak makan tidak minum selama tujuh hari, aku melakukan tapa-tapa yang lain, dan yang paling berat adalah tapa air, di mana semua buaya di danau itu mendekati aku dan aku sangat ketakutan. Untunglah, Kaji Maron selalu menemaniku dan aku pun berhasil melewati masa-masa sulit dalam pertapaan ini.

Setelah dua bulan aku tinggal di dalam hutan bersama Kaji Maron, aku diberi ijazah, lulus dengan nilai sembilan. Seekor monyet gaib, Raja Monyet Melet, diserahkan kepadaku dengan tandatangan darah. Kaji Maron bertandatangan darahnya dan aku pun menandatangani selembar kertas perjanjian dengan tandatangan darahku pula.

Aku keluar rumah malam hari, pukul 23.45 Waktu Indonesia bagian Barat, tanggal 23 Maret 2001. Berdasarkan aturan yang baku di kalangan gaib, saat pergi meninggalkan guru, sangat tabu bila dilakukan siang hari, saat matahri masih mencorong di langit. Untuk itulah, aku diperkenankan pergi saat matahari tidak sedang bersinar dan boleh disinari oleh bulan dan bintang-bintang malam di kaki langit.

Dengan rasa yang sangat sedih, aku mencium tangan guruku dan aku pergi meninggalkannya sendirian di tengah hutan belantara itu. Jalan setapak yang penuh onak dan duri kembali aku jalani, kulangkahi menuju jalan raya, Jalan Lintas Timur menunggu bus untuk pulang ke Jakarta tempat tinggalku di Cidodol, Jakarta Selatan.

Berbeda dengan saat aku pergi ke rumah Kaji Maron, saat pulang aku berjalan begitu enteng. Tubuhku seakan-akan melayang terbang dengan kecepetan tinggi, jarak 34 kilometer bisa aku tempuh hanya dua jam perjalanan. Kecepatan langkahku bagaikan sepeda motor, berlari dengan speed 30 kilometer per-jam.

Begitu sampai di jalan raya, ada bus malam yang kosong dan aku naik bus tigaperempat itu menuju terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Sesampainya di terminal aku ganti bus menuju pelabuhan Kalianda, lalu menyeberang dengan kapal Jatra menuju pelabuhan Merak, Banten. Sesampainya di Merak, monyet yang aku gendong memeluk erat leherku dan kakinya mengencang di pinggangku, dengan mulutnya yang melet-melet.

Syahdan, ternyata monyet itu melihat uang haram di sebuah bank di Merak dan langsung minta tugas untuk mengambil uang kotor itu. Monyet itu aku lepas lalu dia masuk ke dalam bank. Monyetku itu tidak dilihat leh seorang pun yang ada di Merak. Hanya aku yang dapat melihatnya. Kalau pun ada yang mampu melihat monyet itu, kata Kaji Maron, adalah orang-orang yang berilmu gaib tinggi, yang setara dengan ilmu yang dikuasai Kaji Maron.

Kaji Maron berpesan, bila ada orang berilmu gaib tinggi yang mampu melihat monyetku, aku harus mendekati orang itu baik-baik dan memintanya untuk diam.

"Mohon maaf, satu guru satu ilmu tidak boleh saling ganggu. Ilmu Anda untuk Anda, ilmuku untuk aku!" nasehat Kaji Maron. Bila tidak baik-baik, akan menjadi bahaya, bencana, dan monyet melet akan hilang kesaktiannya dan aku bisa dibunuh sendiri oleh monyet itu.

"Harus berbaik-baiklah dengan orang yang berilmu gaib yang tinggi, jangan menantang dan menentang. Harus selalu menerndahkan diri dan diam, sangat rahasia dan tidak boleh memberitahu siapapun, kecuali untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan ummat," pesan guruku, Kaji Maron.

Setelah beroperasi di pelabuhan, aku mendapatkan uang segar, uang dalam bal-balan serta berjumlah jutaan. Dengan uang itulah aku memberikannya kepada fakir miskin di pelabuhan, tuna netrea terlunta dan anak-anak pengemis dekat pelabuhan. Setelh memberikan uang pecahan ratusan ribu itu, aku segera mencarter mobil sedan menuju Jakarta lewat tol Merak-Jakarta.

Sejak itu Monyet Melet terus aku operasikan dan aku bisa membawa ibuku ke Singapura, operasi jantung, dipasangkan ring dan ibuku, Alhamdulillah, sehat lagi. Semua anakku aku bikinkan paspor dan semua aku bawa ke Singapura.

Setelah ibuku sembuh total, aku membawa ibu dan anak-anakku ke Amerika Serikat, kami tinggal di negeri Paman Sam dan anak-anakku sekolah di Baltimore, dekat Manhattan. Monyet Melet terus beroperasi di Amerika dan kubawa pula di beberapa Negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Italia, Spanyol dan Yunani.

Secara rutin ibuku aku masukkan ke rumah sakit dan berobat jalan di Amerika Serikat. Tapi hal yang membuat saya menangis, saat bulan puasa lalu, saat kami sekeluarga pulang kampung, aku pergi ke rumah Kaji Maron membawakan oleh-oleh dari Amerika berbentuk baju, celana, selimut, dan sepatu boat untuk daerah cadas.

Namun sayang, Kaji Maron tidak lagi berada di situ. Rumahnya kosong melompong dan tidak ada lagi tanda-tanda bahwa Kaji Maron masih hidup dan masih tinggal di situ. Padinya mengering dan danau di sekitar rumahnya sudah menjadi tanah. Buaya-buaya dan monyet tidak ada lagi di situ, sementara monyet melet yang aku gendong, melepaskan diri dariku lalu menghilang ke hutan dan tidak kembali hingga sekarang ini. Pesugihan Monyet Meletku berakhir sudah. Monyet gaib ku tidak lagi kembali kepadaku, dia menghilang bersama hilangnya Kaji Maron di dalam rimba belantara lebat itu.

Belakangan baru aku tahu dari mimpiku, saat kedatangan Kaji Maron ketika aku menginap di kampungku, bahwa Kaji Maron menyebut bahwa dirinya sudah meninggalkan dunia.

"Saya sudah mukswa, mukso, menghilang dan masuk ke alam gaib. Saya bukan mati, tapi mukso, kembali ke alam gaib dan tidak bisa terlihat oleh manusia. Jika mati, pasti ada jasadnya, tulang dan bangkainya, tapi aku lenyap begitu saja, menghilang ke alam khusus, alam nirwana gaib dan kita tidak dapat bertemu selamanya, selain di alam mimpi," desis Kaji Maron, dengan wajah bersedih.

Kami kembali ke Amerika dengan hati yang gunda gulana. Kesedihanku terus berlangsung lama, hingga saat ini, sedih akan kehilangan Kaji Maron, teman spiritual yang baik hati dan murah hati memberikan ilmu yang begitu besar untukku menebus kesulitan hidup.

Sebenranya, jujur saja, saya bukan sedih kehilangan Monyet Melet yang telah membuat aku kaya di Amerika, tapi aku sedih dan ternyuh kehilangan sahabat gaibku yang begitu baik, yaitu Kaji Maron yang sakti mandraguna.

"Selamat jalan Kaji Maron, semoga Abang Kaji Maron diterima layak di sisi Allah SWT dan dimasukkan ke dalam surganya yang indah. Amin!" bisikku, kepada ibuku, agar ibu juga mendoakan Kaji Maron yang telah mukswa dan lenyap ditelan alam gaib yang digelutinya selama ini. (*)

Sumber: Misteri Edisi 550 Tahun 2013

Sabtu, 02 Maret 2013

Backgorund Wallpapers (Part 4)


Background Wallpaper 40

Background Wallpaper 01

Background Wallpaper 12

Background Wallpapers 17

Background Wallpaper 37
Beautiful Nature HD Wallpaper

Beautiful Vista Leaves

Window 7 Aurora Wallpaper

Background Wallpaper 13
Background Wallpaper 15

Butterfly Wallpaper

Background Wallpaper 10

Background Wallpaper 02

Background Wallpaper 04

Wood Texture

Background Wallpapers (Part 3)


Flowers Beauty Wallpapers Desktop Background

Beautiful Nature Landsacpe

Rose Beauty Flower Wallpapers

Water Lilies Beauty Wallpaper

Natural Beauty Wallpapers

Green Vector Beauty Wallpaper

Spiny Grass Of Beauty 1

Purple Vector Beauty Wallpaper

Rock Beauty Fish Widescreen Wallpaper

WS Orange Beauty

Nature Color Blast Wallpaper