Minggu, 12 Mei 2013

Pada Setiap Putaran

Pada Setiap PutaranCerpen: Reni Heriani

Aku menelusup di sela sela enceng gondong lalu melesat mencari kehidupan baru di sebebas bebasnya air. Aku baru saja merasakan penyempurnaan bentukku sebagai telur yang menetas menjadi ikan. Namun aku masih mengenali aliran air yang menjadi tempatku hidup. Aku mengapung ke permukaan air lebih menghadap ke atas. Udara sekitar yang kadang gersang, kadang sejuk tak membuatku lupa. Ampere masih kokoh berdiri di sana, warna catnya pun masih sama seperti waktu dulu. Hanya bangunan di sekelilingnya yang agak membuatku pangling, seperti sebuah keramaian.

Bebarapa orang berdiri di pinggir sungai, benyeng pertahanan perang jaman dulu kini telah telah serupa tempat rekreasi. Aku bisa melihat dengan jelas keramaian di sana. Orang-orang itu berkata tempat itu Benteng Kuto Besak. Aku mengandai-andai menetas menjadi burung, mungkin aku lebih leluasa mengitari tempat itu. Sayapku bisa mengepak ke setiap sudut kota, hinggap di menara Masjid Agung atau mengelilingi puncak Monpera. Dulu aku melakukannya saat aku berupa kupu-kupu. Meski kedua sayapku rapuh, namun aku sempat singgah di taman itu. Orang-orang tak ada yang menghiraukan aku meski aku mengencingi dinding-dinding mereka.

Tiba-tiba saja ombak dari sebuah jukung menghempaskan aku ke sisi sungai yang membuatku tersangkut pada sampah minuman mineral. Napasku tersengal-sengal karena asupan oksigen yang sangat minim. Sebisaku aku berupaya menyelamatkan diri dari tempat itu dan berenang lebih jauh. Lagi-lagi ombak dari kapal barmuatan batu bara menghempaskanku dan membuatku panic. Sungai Musi sekarang begitu menyeramkan. Aroma limbah sempat terasa menyengat dan begitu pahit. Kepalaku sempat pusing dan berenang lebih menjauh. Air sungainya pun tak sejernih dulu, aku bahkan kesulitan mengenali teman-teman sesama ikan.

“Hai Putak… apa kau hanyut…?”

Seekor ikan Tapa menyapaku saat melintas. Aku tersenyum pada ikan yang jauh lebih tua dariku itu. Ukurannya sangat besar dibandingkan ukuranku, sepertinya ia penghuni lama sungai ini.

“Apa kabar paman Tapa, aku hanya sedang berjalan-jalan mengitari tempat ini.”

“Oh…, kenapa kau hanya sendirian…?”

“Tidak mengapa, aku hanya ingn lebih leluasa.”

Ikan Tapa itupun menemaniku sepanjang aliran sungai. Ia menceritakan banyak peristiwa yang ada dalam ingatannya. Tentang tuan pemilik hotel terapung yang dulu sering duduk sambil memainkan gitarnya dari balik bilik. Diam-diam Tapa selalu mendengarkan nyanyiannya yang mendayu-dayu dan berharap ada remahan roti yang terjatuh dari sela-sela lantai.

“Apa kau sudah lahir ketka Tan Bun Han tenggelam?”

Ikan Tapa hanya memutar tubuhnya dan berenang lebih ke tengah. Aku bergegas menyusulnya dari arah samping.

“Aku hanya mendengar dari cerita seisi sungai ini. Waktu itu aku belum lahir. Dan kisah pangeran dan putri begitu menghebohkan.”

“Lalu apa kau pernah melihat guci-guci yang menjadi malapetaka itu…?”

Ikan Tapa meliuk-liukkan tubuhnya.“Amarah dan kemurkaan tak menjadikan akhir yang indah…”

Aku terdiam dengan kalimat paman Tapa barusan. Mengekorinya menelusuri aliran sungai hingga delta sungai. Dulu aku pernah menjadi cacing di tanah itu, seorang nelayan menemukan aku di antara akar pohon cinta. Kait besi yang tajam dan runcing itu melukai tubuhku hingga tubuhku melengkung selengkung pancing. Itu awal kesakitan dan kegembiraan yang mempertemukan aku dengan takdir cinta yang berakhir pada penggorengan. Ternyata ikan Betutu itu bukan dirimu, dan aku kembali bereinkarnasi menjadi semut.

“Di sinilah legenda itu terukir.”

Ikan Tapa merapatkan tubuhnya agak ke tepi. Aku mengumpulkan ingatanku pada semua kejadian-kejadian yang mengitari kehidupanku. Aroma tanah yang gembur dan suasana yang sepi dan berangin membuatku merasa terharu. Aku tak pernah lepas dari perputaran ini. Dan aku ingin segera menemukanmu.

“Aku ingin mencari guci itu.”

“Aku tak pernah menyelam sedasar itu, tak perlubagiku mengetahuinya.”

Ikan Tapa menatapku tanpa mengerti apa yang aku pikirkan. Tubuhnya perlahan meninggalkanku yang tak juga beranjak dari dinding pulau. Aku masih berpikir tentang dirimu yang kini harus aku temukan lalu kita bersama-sama berjanji untuk kembali bereinkarnasi kembali menjadi manusia. Lihatlah, kita pernah menjadi sepasang kekasih yang selalu dikenang. Tidakkah kau ingin kita berakhir dengan pernikahan, bukan kematian.

Tan Bun Han melamar Fatimah, utusan dari Cina datang dengan kapal bermuatan penuh. Semua orang sudah berkumpul di tepi sungai menantikan kedatangan utusan dari Cina. Hati Tan Bun Han begitu berbunga, sebentar lagi wanita pujaannya akan sepenuhnya menjadi miliknya. Namun apa hendak dikata, apa yang diharapkan tak seperti perkiraan. Saat satu persatu guci diturunkan, isinya bukan emas permata seperti yang diharapkan. Semua guci hanya berisikan sayuran kering.

Rasa malu dan kecewa tak terbendung, dengan marah Tan Bun Han menendang guci-guci itu hingga tenggelam ke sungai. Hingga pada sebuah guci yang melayang, ia melihat isi guci yang terhambur berupa emas permata. Tan Bun Han terkejut dan berupaya menyelamatkan guci tersebut. Ia tanpa piker panjang segera menceburkan diri ke sungai. Karena arus sungai yang deras dan dalam, Tan Bun Han tak juga muncul ke permukaan sungai. Dengan perasaan cemas dan tanpa piker panjang, Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai untuk menyelamatkan Tan Bun Han. Namun apa hendak dikata, mereka berdua tak bisa selamat dan akhirnya ditemukan tewas.

Aku menutup kenangan yang membuatku begitu terpukul karena kebodohanku sendiri. Lalu aku berharap bisa menemukan Fatimah dalam kehidupan selanjutnya. Aku tak harus menjadi pasangannya asal aku bisa berjumpa dengannya dalam satu kali putaran hidup dan menebus kesalahanku. Pernah aku menjadi ular yang berdesis-desis dan mematuk seorang laki-laki yang berupaya menculikmu. Namun sial bagiku, mereka memukuliku hingga kepalaku remuk. Tapi aku bahagia karena engkau bisa berlari dari cengkraman para penculik itu meski aku harus mati.

“Hei, menjauhlah…., manusia-manusia jahat itu sedang menuju kemari.”

Serombongan ikan meliuk-liuk saling mendahului. Aku ikut-ikutan bersama mereka bergerak dengan sangat lincah

“Mereka membawa putas, kita pasti mati.”

Seekor ikan patin terlihat sangat ketakutan.

“Kita juga akhirnya akan mati kawan.”“Ya, tapi tidak diracun.”

Segerombolan ikan-ikan yang panic itu menepi dan berbahagia karena selamat dari putas. Aku mengekori mereka dan berenang makin bebas. Tiba-tiba seekor cacing menari-nari di mukakubegitu menggiurkan. Dengan sikap seeokr patin menyambar cacing yang menggoda itu dan secepat itu juga tubuhnya terangkat dari dalam sungai dan berakhir di kaleng sang pemancing. Dalam keterkejutanku, aku berusaha berlari sejauh mungkin. Tiba-tiba saja tubuhku seperti melayang dan air sungai terasa kering. Aku terjaring sang nelayan.

Dalam kaleng yang nyaris tanpa air, aku berkumpul bersama ikan-ikan yang lain, yang sama menunggu nasibnya beberapa jam lagi. Kesedihan merayapi hatiku, berharap kematian tak terjadi sebelum aku bertemu denganmu. Canting sang nelayan mengeruk ke dalam kaleng, ikan-ikan yang tertangkap berebut untuk melompat keluar. Tubuhku terhimpit di antara ikan-ikan yang lain dan berlabuh ditimbangan. Entah berapa rupiah aku dan taman-temanku dihargai, seorang wanita membawa kami di dalam keranjang.

“Segar benar ikan-ikan ini bu.” Suara seorang laki-laki begitu dekat kearah keranjang.

“Iya, ibu akan menggiling dagingnya untuk membuat Pempek Pak.”

Suara parang begitu nyaring mengetuk-ngetuk papan tempat menyiangi ikan. Aku menghitung nyawaku sebelum berakhir di ujung parang. Mataku terpejam saat tangan perempuan itu menangkapku, sebentar lagi aku akan menjelma menjadi selenjer pempek dan kita tidak dapat bertemu dalam kehidupanku yang sekarang.

“Jangan, Bu.” Suara seorang anak kecil menghentikan ayunan parang sang ibu.

“Ikannya masih kecil, biar aku pelihara.”

Tanpa kata-kata sang ibu mengulurkan tubuhku yang tak berdaya pada anak lelakinya. Anak kecil tersebut melemparkan tubuhku ke kolam, tubuhku meliuk-liuk menghargai keselamatanku. Seekor ikan emas kecil mendekatiku, tiba-tiba saja hatku bergetar, mungkinkah itu Fatimah yang menjemput takdir cinta kami dalam sebuah kolam. Ikan emas makin gesit bergerak mendekatiku, sirip-siripnya terbentang semakin cantik. Aku menatapnya dengan takjub dan hatiku berharap, semoga saja ia Fatimah.

“Kenapa kau tersesat kemari…?” Ikan emas tiba-tiba telah berada di mukaku.

“Jaring nelayan mengaitku dan ibu itu membeliku.”

“Kau tahu, sebentar lagi kita akan menjadi sepiring pindang, atau berengkes tempoyak.”

Aku memahami apa yang ditakutkan ikan emas, namun aku tak peduli dengan semua itu. Kematian adalah pasti, dan aku tak akan menyesal asalkan berjumpa dengan Fatimah pada setiap reinkarnasi. Ikan emas seperti tak mengenali aku, dan aku juga tak tahu apakah ia yang aku cari.

“Apakah kau pernah berada di Sungai Musi, merasakan airnya yang selalu membuatmu rindu pada Palembang…?”

Ikan emas menggeleng dengan perasaan tak mengerti.

“Aku pernah di sana, saat Sriwijaya masih Berjaya, saat Ampera didirikan, bahkan saat pencemaran mulai memabukkan penghuni sungai. Namun aku selalu ingin berada di sana.” Ikan emas memandangku dengan takjub, seperti mendengarkan sebuah dongeng.

“Tapi kau masih kecil sayang.”

“Ya, tapi aku tak pernah lupa. Juga pada Fatimah.”

Tiba-tiba sebuah benda menyeruak ke dalam kolam. Air mendadak keruh dan aku terpental jauh dari ikan emas.

“Tolong..”

Tiba-tiba ikan emas berteriak-teriak dari cengkraman tangan seorang laki-laki. Aroma bumbu dapur begitu wangi tercium. Tubuhku lemas mengiringi kepergian ikan emas dari kolan ini. Satu tangan lagi mengobok-obok isi kolam. Saat itu aku sangat berharap bisa tertangkap dan bertemu dengan ikan emas salam belanga dan menuntaskan takdir cinta kami.

“Fatimah, aku menemukannya.”

Tangan anak lelaki itu menangkapku dan memasukkan aku ke dalam gelas. Wajah anak perempuan itu menatapku begitu senang. Ia berteriak-teriak kegirangan saat anak lelaki itu memberikan gelas berisi ikan padanya.

“Namanya Han.”

Begitulah anak perempuan itu memberiku nama. Matanya yang jernihberkeliaran memperhatikan gerakanku di dalam gelas. Aku mengingat senyumnya, seperti kuntum mawar di rambut seorang putrid. Aku mendadak melupakan ikan emas dan menatap lekat wajah gadis itu. Di tangan gadis kecil itu aku meletakkan takdirku, di tangan seorang gadis bernama Fatimah. (*)

Cerpen: Reni Heriani

------------------------------------

Juara Harapan II Pena Sumsel Gemilang 2012

-----------------------------------------------------------------------

Cerpen Pilihan Pembaca Sumatera Ekspres Kategori Umum

-----------------------------------------------------------------------

Citra Budaya

---------------------------------

Sumatera Ekspres, Minggu, 12 Mei 2013

--------------------------------------------------------------

Iwan Lemabang

Jumat, 10 Mei 2013

Facebook "Serius" Akuisisi Aplikasi Navigasi Sosial Waze

Facebook saat ini sedang dalam pembicaraan "serius" untuk mengakuisisi aplikasi navigasi sosial Waze. Dana yang disiapkan Facebook berkisar mulai 800 juta hingga 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,7 triliun.

Menurut laporan terpisah dari media bisnis The Wall Street Journal dan Calcalist, Kamis (9/5/2013), Facebook melihat potensi besar jika berhasil mengakuisisi Waze. Karena, Waze dikenal sebagai pelopor aplikasi navigasi sosial yang memiliki data lokasi.

Waze bisa memberi petunjuk jalan secara bertahap. Ia juga dimanfaatkan sebagai tempat di mana pengguna bisa melaporkan keadaan lalu lintas, mulai dari kemacetan, kecelakaan, perbaikan, sampai penutupan jalan.

Hal ini memungkinkan pengguna lain mengetahui kondisi jalan yang akan dilewatinya berdasarkan data yang dilaporkan.

Kabar Facebook berencana mengakuisisi Waze ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada Agustus 2012 lalu, para eksekutif Facebook dikabarkan bertemu dengan pendiri Waze. Namun, belum ada informasi lebih lanjut soal hasil pertemuan itu.

Waze dikembangkan oleh Waze Inc. asal Israel pada 2008. Pendiri perusahaan ini adalah Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar. Hingga akhir 2011, Waze memiliki karyawan sebanyak 80 orang. Sebanyak 70 karyawan berkantor di Israel, dan 10 karyawan di Palo Alto, California.

Aplikasi Waze telah digunakan oleh 20 juta pengguna di 45 negara. Waze tersedia untuk perangkat iOS, Android, BlackBerry, Symbian, Maemo, dan Windows Mobile.

Waze juga bermitra dengan Apple untuk memberi informasi lalu lintas untuk aplikasi peta digital baru di iOS 6.

Editor : Sudarwan
Sumber : Kompas.com
Sriwijaya Post - Jumat, 10 Mei 2013

Windows Blue akan Hadir Akhir 2013



Microsoft Corporation akan menghadirkan pembaruan sistem operasi Windows 8 yang disebut "Windows Blue" pada akhir 2013, demikian dikatakan Kepala Pemasaran Microsoft Windows, Tami Reller.

Reller, seperti dukutip AFP, mengatakan Microsoft telah menjual lebih dari 100 juta lisensi Windows 8 dan akan meluncurkan Windows Blue (Windows 8.1) setelah menerima masukan para pengguna sistem operasi perangkat berlayar sentuh itu.

"Windows Blue akan mengusung inovasi terbaru bagi semua varian ukuran perangkat pabrikan, varian layar, varian durasi baterai dan kemampuan, serta menciptakan peluang baru bagi ekosistem kami," kata Reller.

Sejumlah analis teknologi AS mengatakan Microsoft terpaksa bereaksi akibat adopsi Windows 8 yang lambat di pasar.

"Blue didesain untuk menanggapi alasan dibalik adopsi bisnis Windows 8 yang lambat dan memotivasi pengguna XP yang tertinggal," kata Analis Enderle Group, Rob Enderle.

Sementara, Pimpinan Microsoft Windows, Julie Larson-Green seperti dilaporkan The Verge, menyatakan perusahaan yang bermarkas di Redmond Washington AS itu akan mengapalkan versi Windows 8.1 untuk pengembang pada akhir Juni.

Penampilan sekilas Windows Blue sempat muncul di Internet yang membuktikan perubahan dari Windows 8 seperti tombol Start di tampilan pengguna antar-muka dan Snap Views.

Editor : Soegeng Haryadi
Sumber : Antara
Sriwijaya Post - Jumat, 10 Mei 2013

Kamis, 09 Mei 2013

Ambar dari Gang Mawar

Cerpen: Ikhtiar Jannati Arini

Seperti perempuan lainnya, ketika jodohnya telah tiba, perempuan bernama Ambar yang tinggal di Gang Mawar itu menikahlah. Segera tersiar kabar: Ambar dan Umar menikah di Gang Mawar. Setahun kemudian tersiar kabar di Gang Mawar: Ambar mengandung.

Kepada Umar, Ambar berkata. "Kalau kendunganku membesar, bos supermarket tempatku bekerja pasti memecatku, sebab itulah peraturan di sana."

"Tapi apa. Aku bisa kerja lembur terus. Aku bisa ambil upahan apa saja pada hari Minggu. Malam aku bisa ngojek."

"Tapi, aku ingin, hari Minggu Kakak ada di rumah bersamaku dan bersama anak kita," kata Ambar seolah-olah anaknya sudah lahir. "Kakak juga jangan ngojek malam hari. Pikirkan kesehatan Kakak."

"Kalau aku tidak lembur dan tidak ngojek sampai malam, dari mana kita bisa menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak kita?" Ambar terdim. Umar membelainya dengan belaian yang meneduhkan.

Malam berikutnya, Ambar bertanya kepada Umar. "Kak, kue buatanku enak tidak?"

"Sangat! Mengapaa? Aku lupa memuji, ya? Maaf ya..."

"Nah, kalau enak, mengapa kita tidak jualan kue saja? Aku titipkan di warung-warung dan di pasar, Kakak bawa ke tempat Kakak kerja, Kakak tawarkan kalau-kalau ada orang hajatan yang mau pesan kue buatanku.."

Umar membelai kepala Ambar. "Istriku, istri nomor satu di dunia." Ambar merasa melambung ke langit lapisan tertinggi oleh pujian Umar.

Umar mencari pinjaman dari sana-sini untuk modal awal usaha. Lamban laun, mulai banyak orang yang memesan kue buatan Ambar. Umar tambah bersemangat mempromosikan kue buatan Ambar. "Tapi janji, ya... Ambar, kamu harus janji, mengasuh anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknya!"

"Oke, Bos! Siap laksanakan!"

Ketika anak Ambar lahir, Ambar memenuhi janjinya. Umar bersyukur sekali, anaknya terurus dengan baik. Tentu saja ia sangat bersyukur mengingat banyak anak orang lain yang tidak diasuh dengan baik oleh ibunya sendiri gara-gara sang ibu sibuk oleh pekerjaan atau usaha lain.

Tak lama kemudian, perempuan bernama Ambar itu mengandung lagi lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi. Dua anak perempuan dan dua anak laki-laki diamanahkan Allah baginya dan bagi suaminya. Umar menamai mereka: Jamilah, Hasan, Robiah, dan Sofyan.

Adapun lelaki bernama Umar itu, tiada henti-hentinya bersyuukur. Semua anaknya disusui sendiri oleh Ambar dengan tuntas. Ambar sendiri yang mengantar dan menjemput anak-anak mungil itu sekolah dan mengaji. Ambar bersusah payah mejalankan usaha kuenya, tetapi tetap memegang teguh janjinya: mengasuh anak-anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknnya.

Kalau Umar tidak bekerja sebagai buruh bangunan, ia memilih membantu Ambar membuat kue dan menjualnya daripada ngojek agar ia bisa lebih banyak bersama Ambar dan anak-anaknya.

Lama kelamaan, berkat promosi yang gencar dilakukan Umar, pesanan bertambah banyak, Ambar mulai merasa kesulitan menjalankan usaha itu sendiri. "Bagaimana kalau kita buat gerobak kue. Kita jualan di pinggir jalan . Mudah-mudahan laris dan lama-lama kita bisa sewa kios kecil di pinggir jalan...."

Umar terdiam. Ia berpikir. "Nanti dulu. Anak-anak kita masih kecil-kecil. Kalau kamu sibuk jualan di pinggir jalan, anak-anak kita bagaimana? Justru ketika mereka masih kecil-kecil, mereka butuh perhatian penuh dan didikan yang baik dari kamu sebagai ibunya. Mengapa tidak seperti selama ini saja. Kita buat kue di rumah. Orang-orang pesan, mengambi sendiri di rumah kita atau kita upah orang lain untuk mengantarnya?"
"Begini, Kak.... Maksudku, bagaimana kalau Kakak yang jualan di pinggir jalan.... Aku tetap di rumah, buat kue dan mengasuh anak-anak.... Yakinlah, Kak.... Anak-anak kita tetap terurus dengan baik semampuku."

Umar terdiam lebih lama. Berpikir lembih lama. "Godaan" untuk dapat uang lebih banyak menari-nari dalam angannya. Namun, bersamaan dengan itu, ia merasa harga dirinya sebagai lelaki dan sebagai kepala rumah tangga mulai terusik.

"Begini.... Sejak awal, ini usaha kamu,'kan? Aku senang. Aku dukung. Tapi, ingat, niat awal kamu, dan yang aku bayangkan selama ini, kamu melakukan itu untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga. Bukan untuk mengambil alih tanggung jawabku mencari nafkah. Kalau kamu suruh aku yang jualan di pinggir jalan, berarti kamu suruh aku berhenti jadi buruh bangunan! Artinya apa? Artinya, sejak saat itu aku tidak lagi cari nafkah sendiri untuk kamu dan anak-aank! Artinya apa? Artinya, aku tergantung padamu paadahal aku suamimu!"

"Kata siapa, Kak? Ini usaha kita bersama. Kakak yang cari modal awalnya, 'kan? Kakak yang promosikan, Kakak bantu aku antar kue ke pembeli yang memesan. Kakak juga bantu aku buat kue kalau Kakak sedang tidak kerja."

Umar diam seribu bahasa. Ambar akhirnya berkata. "Sekali lagi aku mohon maaf, Kak! Tolong lupakan saja permintaanku tadi."

"Ya, sudahlah! Aku maafkan.... Aku mau pergi dulu, takziah ke rumah kenalan di kampung sebelah." Ambar mengantar Umar sampai ke pintu dengan air mata berurai. Ia menyesal telah membuat hati suaminya terluka.

Baru beberapa langkah Umar berlalu, Ustadzah Arni mengetuk pintu. Ia hendak memesan kue untuk konsumsi jemaah yang akan menghadiri peringatan Tahun Baru Hijriyah. Ambar buru-buru menghapus air matanya, tetapi bekas menagis masih terlihat oleh Ustadzah Arni.

Karena Ustadzah Arni terkenal dapat dipercaya menjaga rahasia dan sering dapat memberikan solusi atas masalah rumah tangga, Ambar curhat padanya. Lagi pula, Ustadzah Arni adalah bibinya sendiri. "Aturlah agar kita bertiga dengan suamimu dapat bicara dari hati ke hati. Insya Allah ada jalan keluarnya."

Dalam pertemuan itu, Ustadzah Arni berkata, "Kau lelaki yang baik, Umar. Kau tidak mau makan keringat istrimu. Aku kagum padamu. Sebelumnya maafkan aku kalau aku kau anggap mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, aku ini bibi kalian. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Keputusanmu Umar, kuakui, sangat baik dan sangat tepat, Begitulah seharusnya lelaki. Ambar sangat beruntung,menjadi istrimu. Tapi, maukah kalian kutawarkan sesuatu yang lebih baik lagi?"

Muqoddimah yang disampaikan Ustadzah Arni mampu mencairkan egoisme Umar sebagai lelaki. Ia mengangguk.

"Usaha kue kalian harus dipertahankan dan harus dikembangkan. Melihat perkembangannya selama ini, usaha kue kecil-kecilan ini dapat bertahan lama bahkan dapat lebh maju asal kalian lebih serius dalam penjualan. Memancing minat beli dengan memajang kue di gerobak di pinggir jalan ada baiknya dilakukan selain menunggu pesanan datang ke rumah kalian."

"Maaf, Bibi sudah tahu penirianku...," Umar menyela.

"Karena itu, kutawarkan padamu begini. Kau beli usaha kue itu dari Ambar. Suruh Ambar hitung berapa nilai usahanya sekarang. Belilah usaha itu supaya jadi milikmu. Terserah kalian mau kontan atau dicicil. Sesuadah itu, suruh Ambar bekerja padamu sebagai pembuat kue. Kau gaji dia sebagai pembuat kue. Maka, seluruh keuntungan akan merupakan hasil usahamu sebagai suami. Maka, kau tak perlu lagi merasa tergantung pada istrimu sebab nyatanya kaulah yang mengelola dan menentukan, kau bos-nya...."

Wajah Umar cerah. Itu gagasan yang "aneh" tapi cemerlang. Pantas saja banyak orang yang meminta bantuan kepada bibinya itu untuk menyelesaikan masalah tertentu. Namun, wajah cerah Umar segera meredup. "Aku tak punya uang...."

"Kau boleh pinjam uangku. Aku sudah minta izin suamiku untuk meminjamkan uang kepadamu. Tapi harus ada surat perjanjian bahwa utangmu akan kau lunasi.... Kita buat perjanji itu di rumahku. undanglah Ketua Masjid sebagai saksi di pihakku, dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sabagai saksi di pihakmu. Jangan lupa undang Ketua RT untuk mengetahui perjanjian itu!"

Ambar tersenyum dalam hatinya. Gagasan agar Umar membeli usaha kuenya itu murni gagasan Ustadzah Arni, sedangkan gagasan mengundang Ketua Masjid dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sebagai saksi serta Ketua RT sebagai pejabat yang mengetahui perjanjian itu adalah gagasan Ambar. Tujuannya agar tanpa harus cerita dan menjelaskan dengan siapa-siapa, berita akan tersebar dengan cepat dari mulut ketiga orang itu bahwa: usaha kue itu telah "sah" berpindah tangan menjadi milik umar karena ia telah membelinya meskipun membeli dengan istrinya sendiri, bahwa bukan Ambar yang "berkuasa" atas usaha itu, melainkan Umar.

Begitulah sebagian kisah dari perempuan bernama Ambar, yang tinggal dan menikah di Gang Mawar, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya di Gang Mawar.

Dari mana aku tahu kisah itu?Aku tahu kisah itu sejak lama sebab aku juga tinggal di Gang Mawar. Untuk apa kukisahkan kepadamu? Untuk membanggakan perempuan bernama Ambar itu: perempuan yang menguras tenaga dan pikirannya untuk membantu menambah penghasilan keluarga, tetapi tetap mengasuh dan mendidik anak-anaknya: perempuan yang ikhlas melakukan yang terbaik agar dapat mengumpulkan rezeki untuk biaya pendidikan anak-anaknya tanpa membuat suaminya merasa kehilangan harga diri.

Mengapa kubanggakan ia, perempuan bernama Ambar itu? Sebab sejak berada dalam rahimnya, aku telah merasakan kasih sayangnya yang total! Sebab sejak keluar dari rahimnya, aku merasakan usahanya yang gigih agar aku dapat mengenal Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah!.

Kenalkan namaku Jamilah bin Umar: Adik-adikku ada tiga: Hasan bin Umar, Robiah bn Umar, dan Sofyan bin Umar. Ya! Ibuku Ambar, bapaku Umar, kami tinggal di Gang Mawar. (*)

Citra Budaya

Sematera Ekspres, Minggu, 31 Maret 2013

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Iwan Lemabang

LEMABANG 2008

Selasa, 07 Mei 2013

Legenda Puteri Dayang Merindu

Cinta adalah jabaran sebuah kata yang sarat akan makna....

Begitu luasnya makna yang terkandung dalam cinta....

Sehingga maut pun menjadi taruhannya....

Begitu juga dengan logika dan akal yang seringkali hilang hanya karena alasan cinta....


ALKISAH zaman dahulu dikenal seorang putri cantik dari Tanjung Iran Niru yang bernama Dayang Merindu. Puteri ini merupakan cucu dari seorang yang disegani dan dihormati yaitu Rie Carang.

Dayang Merindu yang digambarkan berambut panjang bak mayang terurai ini menjalin kasih dengan jejaka tambatan hati yaitu Naring Cili yang terkenal sakti dari Dusun Galang Tinggi. Hubungan cinta ini sudah disepakati kedua belah pihak dan ketika masanya sang Naring Cilik akan meminang Dayang Merindu, maka disepakati beberapa permintaan dari Dayang Merindu, diantaranya sirih selebar Niru, pinang sebesar kulak, puyuh setakin, dan perhiasan.

Semuanya dapat dipenuhi Naring Cili kecuali tanduk kerbau Lambuare yang tak kuasa dicari Naring. Tetapi bukan berarti Naring Cilik kecewa dan putus asa. Untuk mencari tanduk kerbau itu, Naring minta bantuan Tumanggung Mintik dengan syarat mau menyerahkan kesaktian dan disetujui Naring.

Alhasil, tanduk tersebut dapat ditemukan di wilayah Kerajaan Mataram, tetapi itu memakan waktu berbulan-bulan sementara Dayang Merindu menanti tanpa kabar dan kepastian dari Naring

Dayang merindu menghibur diri bersama dayang-dayangnya yaitu mandi di sungai. Ketika mandi disungai inilah, bokor yang berisi peralatan dan rambut Dayang Merindu hanyut terbawa arus dan ini membuatnya sedih.

Alkisah, bokor ini ditemukan rakyat Sunan Adi Maskayedipati (Palembang) dan langsung diberikan kepada Sunan mereka. Sang Sunan yang melihat bokor memastikan pemiliknya puteri yang cantik, apalagi dengan bantuan Tumanggung Mintik dan Karangge Sintik yang mempunyai ilmu tinggi dalam melakukan pencarian.

Alkisah, pemilik bokor ditemukan dan segera dilamar Sunan kemudian resmi menjadi istrinya. Sementara ditempat lain Naring Cili yang sudah menemukan tanduk kerbau yang dimaksud segera mendatangi Dayang Merindu, tetapi ditolak keluarga Dayang Merindu karena sang puteri sudah dipinang di Palembang.

Murkalah Naring Cili dan segera menyusul ke Palembang. Akhirnya terjadilah pertempuran yang banyak memakan korban nyawa. Dayang Merindu yang mengetahui hal ini, berinisiatif daripada banyak korban, maka dirinya rela tubuhnya dipotong dua dan itu dengan berat hati dilakukan Naring Cili. Sebelah potongan tubuh Dayang Merindu dimakamkan di Tanjung Iran Niru, Muaraenim dan sebelah lagi yaitu bagiang pinggang ke bawah di bawah Sunan untuk dimakamkan di daerah Palembang.

Sriwijaya Post

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IWAN LEMABANG