Rabu, 05 Juni 2013

Menyibak Misteri “Antu Banyu”



Benarkah Ada Ataukah Sekedar Legenda?
Korban tewas di perairan sungai tak sedikit dikaitkan dengan unsur mistis. Umumnnya dikaitkan dengan antu banyu. Di kawasan Sumsel, sebutan tersebut sudah sangat familiar. Apakah sekedar tahayul atau benar adanya, banyak keluarga korban yang tewas tenggelam, kemudian memanggil pawang untuk menemukan jasad keluarga mereka. Lantas, seperti apa antu banyu acapkali disebut-sebut masyarakat tersebut? Berikut penelusuran Sumeks Minggu.

Sudah berapa banyak jenazah dievakuasinya dari perairan sungai? Ditanya begitu, Abdul Somad, akrab disapa Mang Kunung sempat terdiam. Bukannya binggung, warga Desa Pamulutan Ilir, Kecamatan Pamulutan, Indralaya ini kesulitan menghitungnya. “Sudah tak terhitung. Jumlahnya sudah ribuan,” jelasnya kepada Sumeks Minggu, ditemui dikediamannya, Kamis (4/7) lalu.

Mang Kunung merupakan satu dari beberapa pawang di Pamulutan, kerap dimintai bantuanya oleh masyarakat saat keluarga mereka tenggelam atau di makan buaya. Sebutan pawang buayo, melekat pada pria berumur 53 tahun ini.

Tidak hanya warga Pamulutan, di kawasan Ogan Ilir (OI), Palembang, OKI, Banyuasin serta Musi Banyuasin (Muba), Mang Kunung acap kali di panggil. Jika panggilan datang, pagi, siang ataupun malam, Mang Kunung pun mesti siap keluar. Prinsipnya, ia harus membantu, mencari jenazah warga yang tenggelam.

Diceritakan Mang Kunung, keahlian didapatnya berasal dari nenek moyangnya. Namun, ia baru mengetahuinya tahun 1980 lalu ketika ia berumur 23 tahun. Ketika warga tenggelam dan sulit ditemukan, ia mendapatkan bisikan gaib agar membantu.

Meski ragu, ia kemudian memberanikan terjun. Saat dirinya terjun ke dalam sungai, baru ia ketahui, terdapat kekuatan membantunya mencari jenazah. “Kadang di dalam air saya berenang melawan arus. Logikanya tidak bisa. Tapi itulah kenyataanya,” jelas Mang Kunung.

Nah, dari pengalamannya membantu menemukan jenazah warga tenggelam itulah, Mang Kudung mengetahui seputar seluk beluk antu banyu. “Tiap tahun, kejadian orang meninggal akibat tenggelam bisa ratusan. Hanya 25 persen bisa dikatakan meninggal akibat tenggelam. Lebihnya, bisa dikatakan akibat perbuatan antu banyu itu,” urainya.

Perbedaan jenazah tewas tenggelam dan digelayuti mistis antu banyu dikatakan Mang Kunung terlihat dari hidung jenazah ditemukan. Jika terus menggeluarkan darah, menurutnya itu akibat hisapan. Tak menggeluarkan darah, itu karena tenggelam biasa.

Warga yang tenggelam akibat tenggelam sendiri lanjut Mang Kunung tak lama bakal muncul di permukaan. Sebaliknya, jika lama tak muncul ke permukaan, itu karena tengah dalam pegangan sang mahluk halus.

Dari seluruh korban ditolong, umumnya anak-anak. Berkisar pada umur tujuh tahunan. Atau pasangan yang baru menikah atau wanita yang tengah hamil. “Orang-orang yang diambil itu, biasanya orang-orang yang pada umurnya benar-benar disayang,” jelasnya.

Apa yang terjadi pada korban ini, karena adanya kekosongan pikiran hingga mudah dimasuki mahluk halus. Ada juga, sejak bayi atau sejak kecil sudah ditandai (memiliki siung, red). “Kadang, korban sebelum meninggal kalau diingat memiliki kelainan. Kalau keluarga mengetahui, sebenarnya bisa dirias (diobati, red),” urainya.

Mahluk halus disebut antu banyu sendiri, bentuknya seperti monyet. Lebih kecil dengan rambut panjang hitam. Meski lebih mirip binatang, mahluk ini dikatakan Mang Kunung merupakan jelmaan iblis. Sedangkan iblis, berdasarkan sejarah, sejak Nabi Adam terus menggoda dan menyesatkan manusia.

Di sungai, mereka tinggal di cekukan atau gua. Biasanya ke permukaan di pangkalan-pangkalan tempat masyarakat mandi. “Mereka ada di sepanjang sungai. Jumlahnya banyak. Di kolam juga ada. Seperti kolam yang di Jakabaring,” jelas Mang Kunung.

Pun begitu, bagi masyarakat Sumsel masalah ini diakui Mang Kunung masih menjadi kontroversi. Banyak yang tidak mempercayai hal ini. Banyak juga menyakini hal tersebut sebagai hal lain. Ada yang mengatakannya sebagai perwujudan manusia berbentuk kera besar dan hendak mencari ilmu. Versi lain pun sangat beragam menjadi perbincangan masyarakat.

Meski sering muncul di permukaan, mahluk ini dikatakan Mang Kunung tak terlihat. Sulit sekali kasat mata warga bisa bertatapan langsung. Mereka tak mau terlihat, langsung nyemlung ke dalam air. Nah, untuk menangkal mahluk ini, Mang Kunung memberikan sedikit tips.

Pertama, menempatkan tempurung kelapa, berlubang akibat dimakan tupai. Tempurung kelapa tersebut diletakan diatas batang kayu kandis. Kedua, bahan sapu berwarna hitam (disebut dok, red) dicampur dengan besi, dilapisi kain, dilempar di aliran sungai tempat tinggal.

Bagi Mang Kunung, tiap tahun secara pribadi dia melakukan ritual. Menyembelih ayam, meminta kepada Yang Maha Kuasa agar korban-korban di sepanjang sungai tidak banyak. Entah apa hubungannya, tiap tahun juga Mang Kunung mengaku pergi ke dekat kawasan Muara Tungkal, Jambi.

Tempat tersebut merupakan perpaduan antara air laut dan air sungai. Di kawasan tersebut, menurut cerita Mang Kunung di tempat tersebut terdapat istana, ibarat ibukotanya mahluk gaib. Yang mengejutkan, tiap tahun dia diundang, sekedar melaporkan jumlah masyarakat yang tewas.

Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, KH Sodikun saat di konfirmasi koran ini sempat tertawa mendengar istilah antu banyu. Namun dirinya tak menampik adanya mahluk gaib, baik di darat ataupun di air. Kepada masyarakat, Sodikun hanya menghimbau untuk memperbanyak dizikir serta bacaan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. (wwn)

Merasa Dikejar Antu Banyu
Entah sekedar sugesti atau benar adanya, salah seorang warga Lorong Selekta/Kangkung, Rt 24, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I sebut saja Emi (42) mengaku seperti dikejar antu banyu.

Perasaan ini diceritakan Emi timbul setelah dirinya melihat kejadian anak tetangganya, Natalia (9,5) yang tewas tenggelam di bawah jembatan Ampera, Sabtu 16 Juni lalu.

Menurut Emi, saat Natalia dikabarkan tenggelam sore hari, penduduk sudah ramai melakukan pencairan. Setelah beberapa jam tak membuahkan hasil, suaminya meminta bantuan pawang di kawasan Keramasan, Kertapati.

Hasilnya, setelah pawang tersebut datang, jenazah Natalia langsung timbul ke permukaan. Namun, saat evakuasi tersebut, Emi yang berada di pinggiran sungai merasa dicolek seseorang.

Saat itu, orang yang suaranya seperti laki-laki tersebut mengatakan agar Emi jangan dekat kearah sungai, nanti menjadi sasaran antu banyu. “Pas aku lihat ke belakang, orang yang colek itu dak ada lagi. Sejak itu, di rumah aku merasa banyak bau amis. Sempat telihat, ada binatang hitam kecil dengan mata merah masuk ke rumah. Aku kadang merinding. Sejak itu aku takut keluar rumah,” jelas Emi.

Emi merasa baikan, berani keluar rumah setelah berobat ke seorang pawang di kawasan Pamulutan. “Kalau nurut yang ngobati aku, antu banyu itu ibarat nyari sasaran. Karno suami aku manggil wong pinter, jadi jenazah Natalia cepat ditemuke,” tandasnya. (wwn)

(Kompol M Haris SH MH, Kasat Polair Polresta Palembang) Sesuai Prosedur, Gandeng Mitra
Pencarian warga yang tenggelam di perairan sungai, dijelaskan Kasat Polair Polresta Palembang, Kompol M Haris SH MH dilaksanakan sesuai prosedur. Pencairan dilakukan oleh anggota berdasarkan keahlian menyelam selama tujuh hari dan dapat diperpanjang jika memungkinkan.

Namun, pencarian di sungai Musi cukup menyulitkan. Dengan arus deras, air sungai Musi cenderung berlumpur membuat warna sungai kekuningan. Meski telah menggunakan penerang, tak banyak hal dapat dilihat oleh anggota.

Oleh sebab itu, sejak lama, Polair dikatakan M Haris menggandeng seorang mitra. “Namanya Pak Senen dan sudah lama menjadi mitra kita. Untuk menemukan jenazah, dia membantu murni masalah kemanusian,” jelas Haris.

Senen sendiri diakui Haris kadang dikatakan orang seorang pawang. Bagi Haris, mitra Polair tersebut dinilainya memiliki kemampuan alam lebih untuk menyelam dan memperkirakan posisi jenazah ketika terjadinya arus sungai.

“Kalau antu banyu itu legenda. Kita tidak mengkaitkannya ke sana. Kita kerja sesuai prosedur dan keahlian saja,” tukasnya. (wwn)

Written by: samuji Rabu, 11 Juli 2012 12:00
SumeksMinggu.com

http://lemabangit2.blogspot.com/2012/09/menyibak-misteri-antu-banyu.html

Sabtu, 01 Juni 2013

Wanita Lebih Mudah Aktifkan Indera ke-6

Wanita Lebih Mudah Aktifkan Indera ke-6Indera keenam adalah kemampuan manusia untuk merasakan dimensi halus/non-fisik atau dunia tak kasat mata dari malaikat, hantu, surga dan lain-lain. Hal ini juga termasuk kemampuan kita untuk memahami penyebab non-fisik dan hubungan sebab akibat dari berbagai peristiwa, yang berada di luar pemahaman intelek (kecerdasan). Persepsi ekstrasensori (ESP), kewaskitaan/ kemampuan meramal, firasat, intuisi sama artinya dengan indera keenam atau kemampuan persepsi non-fisik.

Dijelaskan Di Ajeng Kartika Sari, salah seorang Paranormal di Kota Palembang, seseorang bisa merasakan dunia fana atau kasat mata melalui kelima indera fisik yaitu penciuman, rasa, penglihatan, sentuhan dan suara, tetapi dalam dunia tak kasat mata atau dunia halus/ non-fisik, kita merasakannya melalui kelima panca indera halus/ non-fisik.

“Pemikiran non-fisik dan kecerdasan non-fisik yang lebih dikenal sebagai indera keenam kita. Ketika indera keenam dikembangkan atau diaktifkan, maka hal itu membantu kita untuk mengalami dunia halus/non-fisik atau dimensi halus. Pengalaman akan dunia non-fisik atau halus ini juga dikenal sebagai pengalaman spiritual,” katanya.

Ditambahkannya, dunia halus atau non-fisik ada di sekitar kita, namun kita tidak dapat melihat dunia ini. Meskipun kita tidak dapat merasakan dunia halus, hal itu berdampak pada kehidupan kita secara luas. Untuk dapat menyesuaikan ke dalam dunia ini kita membutuhkan suatu 'antena spiritual', yaitu indera keenam kita, yang pada awalnya perlu dibangkitkan. Indera keenam kita berkembang ketika kita melakukan praktik spiritual.

“Dengan melakukan praktik spiritual sesuai dengan enam prinsip dasar spiritualitas, kita dapat meningkatkan tingkat spiritual kita dan mampu merasakan dunia halus hingga tingkat yang lebih tinggi. Kadang-kadang kita melihat orang yang memiliki kemampuan untuk merasakan dunia halus atau non-fisik dari usia yang sangat muda, bahkan meskipun mereka tidak melakukan praktik spiritual. Alasannya karena mereka telah mencapai tingkat spiritual yang diperlukan untuk merasakan dunia non-fisik tersebut,” katanya.

Masih katanya, melalui praktik spiritual yang dilakukan pada kelahiran lampaunya (kehidupan sebelumnya), wanita pada umumnya memiliki indera keenam yang lebih kuat daripada pria. “Kemampuan persepsi ekstrasensori (ESP) muncul lebih alami pada perempuan dan perempuan lebih mungkin untuk menjadi intuitif daripada pria. Salah satu alasan utama untuk ini adalah bahwa wanita lebih sering menggunakan emosional dan perasaan yang mendalam, sedangkan pria lebih berorientasi intelektual dan cenderung lebih ke sisi rasional,” papar Di Ajeng. (*)

Sumber: Palembang Pos

Murkanya Jin Bulak Kempit

Murkanya Jin Bulak KempitMarah atau nesu ternyata tidak hanya didominasi manusia, tetapi ternyata golongan jin pun juga dapat muring-muring. Terutama jika habitatnya terganggu ulah manusia yang menjurus perbuatan asusila dan sejenisnya. Contohnya jin yang menghuni Bulak Kempit atau yang lebih dikenal sebagai jalur cinta anak muda di wilayah Siyono, Logandeng, Playen, Gunungkidul yang sempat heboh jadi lokasi perkosaan menimpa seorang gadis yatim.

Lantaran tak mengindahkan peringatan warga sekitar untuk lokasi berasyik masyuk alias pacaran, dua pasang remaja berlainan jenis ngibrit dan ketakutan. Kedua pasang remaja berlainan jenis ini minta perlindungan masyarakat, karena saat sedang berpacaran, mendadak didatangi dua lelaki berbadan gendut.

Kedatangannya di tengah malam buta itu tak lain meminta agar mereka meninggalkan tempat itu. Karena menurut kedua lelaki yang diduga golongan jin, kedua pasang remaja itu melakukan perbuatan asusila di tempat suci yang dikeramatkan golongan jin.

Hal itu dibenarkan Sumaryanto, seorang pengemudi angkutan umum warga sekitar. Bahkan saat mereka kabur, dirinyalah yang menasehati untuk tidak mengulangi perbuatan serupa. Dikisahkan, sore itu dirinya bersama ketiga temannya berlainan jenis kencan di jalur cinta karena kebetulan bertepatan dengan malam Minggu.

Sebelum akhirnya menuju sasaran, mereka lebih dulu putar-putar kota dan beli bakso di Jalan Brigjen Katamso Wonosari. Acara malam Minggu dilanjutkan dengan kongkow-kongkow bersama pacar masing-masing di depan kantor Pemkab Gunungkidul sekalian melihat kegiatan anak muda.

Setelah malam makin larut, sesuai direncanakan langsung menuju Bulak Kempit atau yang lazim dikenal sebagai Jalur Cinta. Baru beberapa saat saling berpacaran dan berasyik masyuk, mendadak didatangi dua lelaki kekar. Kali pertama datang menyalami lebih dulu hingga membuat mereka blingsatan. Setelah itu keduanya marah-marah dan mengatakan bahwa keberadaan mereka di situ mengganggu ketenangan warganya.

Padahal tak satu orang pun bermukim disitu alias bulak. Selanjutnya, kedua lelaki yang diduga aparat keamanan golongan jin itu minta agar mereka meninggalkan tempat. Sesaat setelah itu kedua lelaki itu menghilang. Dalam keadaan bingung dan penuh ketakutan, mereka ditolong Sumaryanto seorang pengemudi angkutan yang kebetulan malam itu melewati jalan sekitar bulan Kempit. (ety/dbs)

Sumber: Palembang Pos

Sumur Misterius di Masjid Pekanbaru



Di sekitar Masjid Raya Pekanbaru, selain terdapat makam keluarga Sultan Siak, juga terdapat sebuah sumur tua. Uniknya sumur tua ini, airnya tidak pernah habis walau di musim kemarau. Misterius!

Bila berkunjung ke Pekanbaru, tak ada salahnya jika umat muslim meluangkan waktu untuk melihat masjid sejarah tertua di Pekanbaru itu. Di sebelah kiri bangunan masjid, terdapat sumur tua yang berusia sama dengan usia masjid itu yang dibangun tahun 1926 silam.

Dulu, sumur tua ini merupakan tempat mengambil air wudlu dan juga tempat mandi masyarakat. Dulunya air sumur itu bebas dipakai masyarakat. Namun, saat ini, sumur tua yang kedalamannya hanya enam meter itu kini terbatasi oleh tembok yang mengelilingi sumur itu. Bagian depan bangunan dibuat pintu masuk.

“Sumur tua ini, airnya sekarang untuk berwudlu. Dan kedalamannya cuma 6 meter, tapi airnya saban hari menyembur keluar. Dan anehnya, para jamaah di masjid ini meyakini air sumur tua itu sedikit mempunyai keunikan, atau semacam keramat. Tapi itu bukan kami yang menyebutkan, tapi masyarakat,” kata Imam Masjid Raya, Azhar Kasim.

Aneh memang, bila dilihat dari lokasi sumur itu. Sebab, sumur dan masjid ini berada di atas bukit. Biasanya daerah berbukit sangat sulit untuk mendapatkan air. Misalnya saja, kata Azhar, panitia masjid belum lama ini juga membuat sumur bor yang berlokasi tak jauh dari sumur tua itu.

“Sumur bor itu yang kita buat sampai kedalamannya 200 meter belum muncul air. Setelah dilakukan pengeboran sampai kedalaman 300 meter, baru ketemu air, itu pun airnya sangat terbatas. Tidak seperti air sumur tua itu, kedalaman enam meter, tapi airnya muncrat keluar terus,” kata Azhar.

Berbicara soal sumur ini, kata Azhar, masyarakat sampai sekarang banyak yang meyakini air sumur ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit mereka. Tak cuma itu, air sumur ini juga sering dijadikan untuk mandi oleh masyarakat sehabis melakukan nazar.

“Sampai sekarang, warga dari berbagai kota baik dari Jakarta, Medan, Yogya dan Kuala Lumpur, sering mandi di sumur ini. Mandinya tentulah tidak seperti mandi biasanya, tapi hanya sekadar membasahi anggota tubuh saja,” kata Azhar. (ety/dbs)

Sumber: Palembang Pos

Putri Loro Jonggrang Dikutuk Jadi Patung Batu

Pada zaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.

Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan. Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.

Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang. Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi, Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.

Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu. Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda. Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang "Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya". Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.

Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang. Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya. (ety/dbs)

Sumber: Palembang Post