Sabtu, 22 Juni 2013

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman Papua

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman PapuaOleh : Hady Sumiyanto


Sebuah pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan oleh si pelaku peristiwa. Kawan-kawannya habis dimangsa oleh segerombolan tikus raksasa. Sementara dia sendiri harus menderita cacat seumur hidupnya....

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



MASIH kuingat, waktu itu sekitar enam bulan lagi aku akan segera menikah dengan Tari, seorang gadis cantik desa tetangga. Sebenarnya, aku telah meminta agar pernikahan ini diundur satu atau dua tahun lagi, sebab secara lahir maupun batin aku memang belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Bukan berarti aku tidak mencintai Tari. Aku sangat cinta dan sayang kepadanya.

Aku memang tidak bisa berbuat banyak, ketika pihak keluarga Tari terus mendesakku. Padahal, sejak awal kujelaskan kepada mereka bahwa pernikahan itu bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk sepanjang hidupku. Apalagi ketika itu aku masih belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga penghasilanku pun sering tak menentu. Lantas bagaimana aku akan membahagiakan istriku nanti?

Tapi, oranng tua Tari berkata, "Masalah pekerjaan, kita pikirkan sambil jalan, Insya Allah pasti ada jalan keluarnya," tegas Ayahnya Tari mantap. Kata-kata inilah yang pada akhirnya memaksaku untuk menyerah.

Sambil menunggu hari saat akan bersanding sebagai pengantin, aku berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan yang layak. Di samping untuk menambah dana pernikahan nanti, aku juga berharap, kelak pekerjaan ini akan bisa menopang rumah tanggaku.

Nah, ditengah kebingunganku mencari pekerjaan, tiba-tiba aku kedatangan seorang tam. Namunya Yajid. Dia teman karibku sewaktu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. Lima tahun kammi berpisah, dan selama lima tahun itu pula kami tidak pernah saling berkomunikasi. Jadi wajar, jika kedatangannya yangg mendadak membuatku jadi sedikit terkejut.

Apalagi, penampilan Yajid di mataku benar-benar berubah. Pakaian yang dipakainya bermerk dan sangat necis. Wajahnya yang tampan, semakinn gagah dibalut busananya yang kelihatan elegan. Padahal, sewaktu duduk di SMA dulu, Yajid kelihatan culun sekali. Tubuhnya kurus, tapi sekarang kelihatan lebih lebih berotot dan tegap. Mungkin karena pengalaman telah mengajarkan dia, bagaimana harus menjaga penampilan.

Setelah ngobrol kesana-kemari, akhirnya kuceritakan tentang masalah yang tengah kuhadapi saat itu. Syukurlah, dengan tangan terbuka, Yajid mau membantuku untuk melamar pekerjaan di perusahaan tempat bekerjaan. Atas rekomondasinya, kemungkinan besar aku pasti diterima. Apalagi aku sudah berpengalaman naik turun gunung sebagai pecinta alam.

Singkat cerita, seminggu setelah mengajukan surat lamaran ke Surabaya, Yajid datang lagi sambil membawa surat panggilan bekerja untukku. Dan besok harinya aku harus berangkat bersama Yajid dan Tim Ekspedisi dari perusahaan itu ke suatu tempat di pedalaman yang sebut Yajid sebagai sebuah lembah bercadas. Pikirku tak masalah, sebab aku sangat menyukai petualangan.

Setelah mendapatkan kepastian bekerja, hari itu juga, aku datang ke rumah calon mertuaku. Kuutarakan niatku untuk memenuhi pannggilan pekerjaan tersebut. Tari dan kedua orang tuanya terang-terangan tidak setuju. Sebab, kepergianku ini sangat jauh, ke pedalaman Irian Jaya. Apalagi ketika itu hari pernikahan kami tinggal enam bulan lagi.

Dengan berbagai alasan, akhirnya aku dan Yajid berhasil menyakinkan mereka, kalau di hari pernikahan nanti aku pasti akan pulang dengan selamat. Apalagi pihak perusahaan telah memberiku uang trasport dan akomodasi. Sayang, kalau dibatalkan. Ditambah lagi, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak sulitnya minta ampun.

Kalau ayah dan ibuku, memang sudah biasa kutinggalkan jauh berlama-lama. Mereka memang tidak ingin membatasi kreativiitasku. Meski begitu, aku tahu, sebagai orang tua, sebenarnya mereka juga khawatir sebab sekali ini aku pergi ke tempat yang benar-benar jauh dan sangat asing. Memang mereka tidak memperlihatkan kekhawatirannya itu.

Aku pun mencoba untuk tidak memperdulikan kecemasan kedua orang tuaku. Lagi pula, aku sudah terlalu sering meningglkan rumah untuk menaklukkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Toh akhirnya aku selalu pulang juga dengan selamat. Jadi, tak ada alasan bagi kedua orang tua dan adik-adikku untuk khawatir yang berlebihan. Sebab, mereka percaya kalau aku bisa menjaga dan membawa diri.

Hari itu, tepat pukul 5 pagi, aku dan Yajid berangkat meninggalkan kota kecilku menuju kantor di Surabaya. Karena jarak rumah kami sangat jauh, sembilan jam kemudian kami baru sampai di kantor untuk mengurus administrasi, mengambil tiket pesawat yang sudah disiapkan oleh perusahaan dan segala keperluan akomodasi lainnya.

Pukul 5 sore, kami terbang ke provinsi Papua Timur, yaintu Jayapura, lewat Bandara Juanda. Sekitar pukul 18.20 WIT, kami sudah mendarat di Bandar Udara Sentani. Ternyata di ruang tunggu kehadiran kami sudah dinanti oleh seorang yang kemudian kukenal seebagai Pak Amat. Dia adalah sopir perusahaaan yang diutus menjemput kami. Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai di kantor pusat perusahaan di Sentani. Setelah mengisi laporan, kami pun diantar ke sebuah hotel untuk istirahat.

Saking lelahnya dalam perjalanan, aku dan Yajid bangun pukul 10 pagi. Setelah mandi dan sarapan, semua karyawan berkumpu di aula untuk mendengarkan pengarahan dan jalur yang akan dilewati besok. Yang memberi pengarahan adala pemimpin ekspedisi, Pak Lutfi, dari TNI.

Rencananya, kami akan melewati kecamatan Sawesuma dan menyeberanngi sungai Sermowai.Sungai itu sangai lebar dan merupakan sarang binatang yang sangat menyeramkan, buaya. Letek sasaran yang dituju adalah di sekitar sungai tersebut. Sesuai dengan pengarahan, di daerah itu ada sebuah lembah tak bertuan yang mereka beri namasebagai Lembah Cadas.

Aku sama sekali tak menduga. Ternyata, pekerjaan yang akan kami lakukan adalah berburu sarang burung walet. Dan pekerjaan ini legal, karena disponsori oleh negara. Liur burung walet yang bernilai tinggi tersebut, nantinya akan diolah menjadi berbagai obat-obatan dan makanan yang bergizi tinggi, atau juga diekspor ke sejumlah negara. Waktu itu, seporsi sub burung walet berukuran mangkuk sedang, bisa dihargai antara 35-50 ribu rupiah. Saking mahalnya, sub buurung walet hanya ada di hotel kelas satu atau hotel bintang lima.

Waktu yang ditentukan telah tiba. Jumlah rombongan ada 50 orang di tambah 5 orang dari TNI AD dan 3 orang dari Kepolisian. Tugas mereka untuk mengawal pekerjaan kami. Jadi jumlah rombongan totalnya 58 orang. Menurut Pak Lutfi, kalau tidak dikawal pihak keamanan, bisa-bisa hasil pekerjaan kami yang berat itu akan dijarah oleh para perampok.

Setelah menempuh perjaalanan darat sejauh 35 Km dari Sentani ke kecamatan Sawesuma, kami turun dari mobil dan berjalan sejauh 10 Km. Setelah itu, barulah kami sampai di pinggir sungai Sermowai. Meski sungai tersebut penuh dengan buaya, akhirnya kami berhasil juga melewatinya. Sebab, kami juga melibatkan penduduk sekitar yang bisa menjadi pawang buaya. Namanya Alex Warobay. Di tangannya, masalah binatang reptil yang ganas tersebut bisa teratasi.

Akhirnya, kami sampai juga di Lembah Cadas. Batu-batu cadas tersebut berdiri dengan kokoh dan tinggi menjulang. Batu-batu itu berdiri seperti barisan tentara di tengah sungai. Nah, di tebing yang curam dan licin itulah, bergelantungan beribu-ribu burung walet, dan tuggas kami adalah mengambil sarang-sarang burung walet itu dengan hati-hati. Sebab, kalau tidak hati-hati, burung walet itu akan terbang pergi dan tidak akan kembali lagi.

Dengan peralatan panjat tebing berupa sling dan tambang yang kuat, kami pun bergelantungan bahkan tengkurep dan merayap untuk mengambil sarang burung walet. Sementara, di bawah air sungai yang kecoklatan dipenuhi dengan buaya yang sewaktu-waktu siap menerkam dan melumat tubuh kami bila tali tambang khusus yang kami pegangi putus dan kkami terjatuh ke dlam sungai.

Pekerjaan ini memang pekerjaan berat dan membutuhkan keberanian serta kesiapan mental. Lengah sedikit saja, maka, nyawa taruhannya. Namun syukur Alhamdulillah! Setelah 10 jam, kami berhasil menyelesaikan pekerjaan ini dengan selamat. Dan kami berhasil mengumpullkan sarang burung walet seberat 125 Kg.

Sarang burung walet yang telah kami berhasil kami kumpulkan, kemudian dibawa oleh petugas dan beberapa karyawan untuk dikirim ke kantor. Sementara, beberapa karyawan yang lain istirahaat di dalam tenda yang telah disiapkan sebelumnya.

Aku, Yajid dan beberapa karyawan lain duduk di depan tenda sambil makan roti bakar dan ubi bakar. Api ungun selalu menyala sebagai penghangat tubuh. Sambil mengelilingi api ungun, kami berdendang riang dengan diiringi gitar, mirip anak-anak SMA yag tengah berkemah dan baru belajar mengenal hutan.

Ketika aku sedang asyik berdendang, entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seekor tikus besar lewat di sekitar api ungun. Tanpa dikomando, teman-teman berlomba menangkapnya. Di mataku, ukuran tikus itu benar-benar besar, sehingga mirip dengan kelinci.

Karena dikepung ramai-ramai, tikus itu berhasil mereka tangkap. Entah bagaimana, aku merasa iba melihat hewan tak berdaya itu. Aku pun berusaha merayu teman-teman agar melepaskan binatang tersebut. Tapi, teman-teman tidak memperdulikan permintaanku.

"Kau tahu, daging tikus jenis ini enak sekalli kalau dibakar!" Kata salah seorang dari mereka. Yang lain tertawa-tawa menyambutnya.

Aku menyerah. Dalam waktu yang singkat, tikus tersebut dibakar, dipotong, dan segera dikuliti, lalu dipanggang mirip babi guling. Kemudian dalam sekejap, sudah ludes jadi santapan mereka. Aku yang tak kuasa mencegah kekejaman mereka hanya diam menyaksikan pesta kecil itu.

Anehnya, ketika teman-teman baru menyelesaikan santapan daging tikus itu, mendadak ada seekor tikus lagi melintas. Kali ini lebih besar dan montok. Teman-teman berusaha menangkapnya. Tapi tikus ini rupanya jauh lebih cerdik dan gesit. Dia berlari masuk ke dalam gua kecil dekat perkemahan kami. Yohanes, salah seorang anggota tim, nekad berlari mengejar sambil membawa kayu yang sudah membara. Begitu juga dengan beberapa teman yang lainnya.

Akibatnya, lubang gua yang tidak terlalu besar itu dipenuhi oleh bara api. Dan Yohanes bersiap-siap menangkap tikus yang bersembunyi di dalam gua tersebut. Namun, apa yang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah tempat kami berpijak. Dan dalam hitunngan detik, dari dalam guakeluar tikus-tikus besar banyak sekali jumlahnya.

Tikus-tikus tersebut menyerang siapa saja yang ada didekatnya. Kulihat Yohanes terjatuh ketika menghindari tikus-tikus yang menyerang. Dia terjerembab ke tanah dan tubuhnya yang tegap itu segera menjadi santapan tikus-tikus tersebut.

Tak hanya itu, tenda tempat kami perkemahan kami juga hancur digigit gerombolan tikus-tikus itu. Sementara, Aku dan Yajid berusaha berlari sekencangnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran para tikus yang kesetanan itu. Tapi rupanya terlambat. Entah bagaimana, bumi tempat kami berpijak tiba-tiba runtuh. Dan kami pun ikut amblas ke dalam bumi.

Di dalam tanah yang kedalamanya sekitar sepuluh meter dari permukaan, aku dan Yajid melihat tikus-tikus besar dengan taringnya yang kuat dan tajam. Mereka sepertinya telah bersiap mencabik-cabik tubuh kami. Kulihat pula teman-teman pada teriak histeris menahan sakit. Bahkan, beberapa di antara mereka, dalam waktu sekejam saja tubuhnya hanya tinggal tulang-belulang.

Aku berusaha menyelamatkan diri. Ya, aku berusaha untuk selamat dari pertarungan yang aneh ini. Aku segera menarik Yajid dan kami berusaha untuk naik ke atas. Sialnya, tikus-tikus itu begitu gesit dan lincah. Hingga wajahku, kaki kananku, juga pundakku berhasil digigit hewan pengerat tersebut.

Aku dan Yajid berusaha sekuat tenaga untuk melawandan sebisa mungkin menghindari mereka. Darah segar muncrat dari sekujur tubuh kami. Tapi kami tidak menyerah. Kami berusaha untuk naik ke permukaan. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil.

Selanjutnya, kami terus berlari sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat guna menjauh dari tempat aneh itu. Celakanya, tikus-tikus itu seperti telah dirasuki naluri untuk membunuh. Mereka tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja. Kami terus berlari, dengan tikus-tikus yang terus mengejar!

Untunglah, ada sepasang suami istriyang menolong kami. Aneh sekali, tikus-tikus besar itu berhasil mereka halau hanya dengan melempar garam. Selanjutnya, aku dan Yajid dibawa ke rumah para penolong kami tersebut. Setelah luka-luka kami dibersihkan, kami pun diobati dengan ramuan berupa dedaunan. Meski awalnya terasa sangat perih, namun ramuan itu terbukti dapat menghilangkan rasa sakit, bahkan kemudian kami tertidur pulas.

Menjelang Subuh, aku mendengar suara orang perempuan merintih, menahan sakit di dalam kamarnya. Segera kubangunkan Yajid. Kami kemudian berusaha mengintip dari balik daun pintu. Ternyata, istri si penolong tadi mau melahirkan. Aku dan Yajid keheranan, sebab, waktu wanita itu menolong kami jelas sekali tidak dalam keadaan hamil. Perutnya juga biasa, tidak besar, bahkan terkesan langsing.

Tapi, aneh! Kok bisa tiba-tiba perutnya membesar seperti orang yang hamil 9 bulan. Belum sempat kami berpikir lebih jauh, tiba-tiba kami melihat terjadi sesuatu keanehan. Dari dalam perut wanita itu yang keluar bukannya si jabang bayi manusia, tapi tikus-tikus sebesar lengan yang masih berwarna merah. Sontak kami pun bergidik ketakutan.

Segera saja kami keluar dari tempat itu, dan selanjutnya kami berlari sekuat tenaga hingga kahirnya kami jatuh dan pingsan. Ketika aku membuka mata, tahu-tahu sudah ada di rumah sakit. Dan disampingku juga terbujur tubuh Yajid. Kaki kirinya diamputasi dan kedua dau telinganya juga lenyap. Aku terkesiap. Tak terasa air mataku mengalir deras.

Kuraba tubuhku. Subhanallah! Ternyata aku telah kehilangan lengan kiriku, dan pipiku yang sebelah kanan growak cukup dalam. Aku berteriak histeris, tapi tetap saja teriakkan itu tidak akan mengembalikan wajahku dan lenganku seperti semula, sebab aku telah menjadi orang cacat sepanjang hidupku.

Dan aku tidak tahu, apakah Tari masih menerimaku atau tidak. Apakah kelakk ada wanita yang siap menjadi calon istriku, karena aku tidak lagi gagah dan tampan?

Kini, diusia yang sudah menjelang kepala 5 aku masih tetap hidup sendiri. Dengan harapanuntuk meringankan beban hidupku, maka sengaja kuceritakan kisah pahitku ini kepada Misteri. Semoga para pembaca menjadi percaya dengan keberadaan bentuk-bentuk kehidupan lain di jagad raya yang penuh dengan misteri ini.

http://iwanlovers.wordpress.com/2011/11/12/bertarung-dengan-kawanan-tikus-siluman-di-pedalaman-papua/

SUMBER : Misteri, Edisi 452, Tahun 2008

Selasa, 11 Juni 2013

Jejak Darah Lintah

Jejak Darah LintahCerpen : Tova Zen

Setelah semua sidik, gerak-gerik dan olah data di tempat kejadian perkara, lantas apa lagi? Rasanya semua bukti raib dan menguap entah ke mana.Kejadian dalam perkara ini benar-benar mengacaukan pikiranku, membesut integratisku sebagai kepala polisi dan siap mengolok-olok kredibilitasku sebagai aparat publik yang cukup disegani. Malam ini pun aku resah dalam tidur, pikiranku selalu melayang pada peristiwa perampokan yang dialami seorang nenek tua yang hidup menyendiri di pinggiran hutan Tasmania. Wanita yang berumur tujuh puluh satu tahun itu benar-benar wanita kaya, aku bisa melihat dari gaya arsiterktur rumahnya dan perabotan dalam rumah elitnya itu. Padahal aku sempat berpikir nenek ini mungkin sudah uzur, sehingga daya ingatnya kabur dan menjalar pada ucapan dan lisannya yang serba ngawur.

Tidak! Wanita itu jelas-jelas tak pikun, aku bisa menangkap dari emosi psikoogisnya dan daya serap kata-katanya dalam pikiranku. Teratur, teliti dan penuh emosi saat mengungkapkan kisahnya padaku bahwa dirinya dirampok oleh dua orang pria bersenjata. Kami selaku tim penanganan kasus kriminalitas telah mendatangkan dua ekor anjing pelacak guna mengendus jejak pelaku, tapi hasilnya sia-sia belaka. Anjing-anjing yang terlatih itu tak menemukan bau penjahat yang terembus angin menuju keluar kawasan pedalaman itu. Semua mentok di area genangan sungai kecil yang melingkupi rumahnya. Sangat mungkin penjahat-penjahat itu masuk dan kabur menyeberangi sungai yang dihuni ribuan lintah.

Dari titik itulah kami kehilangan jejak sang perampok dan anehnya anjing kami selalu mengendus si nenek, seolah barang-brang yanng ada di rumahnya hanya tercium bau nenek tua itu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa nenek ini mangalami halusinasi akut. Intinya kami kehabisan akal, kehilangan bukti, dan tak punya saksi. Penyelidikan yang berat dan mungkin akann memakan waktu lama. Sampai sore tadi pun si nenek terus bersibaku memojokkanku untuk segera menangkap pelaku. Padahal dia sendiri gagu dan rabun saat ditanya seperti apa kiranya wajah-wajah perampok yang menguras harta itu? Nenek itu terus berkelit dan ia tak bisa menyebutkan seperti apa kilasan wajah pelaku perampokan, bahkan ia tak bisa memperkirakan tinggi badan dan postur tubuh si penjahat itu. Intinya kami kalah, tapi nenek tetap bersikeras bahwa dirinya mengalami perampokan.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi sahabatku, Bill Pitzer. Dia seorang ahli kimia dan biologi dan telah lama bekerja di Willington, New Zealand. Kuminta waktu liburnya untuk datanng ke Tasmania. Dia sangat girang saat mendengar kasus yang tak becus kupecahkan, bahkan seringainya dalam telepon membuatku menggulung muka karena tak kuat menahan malu. Aku tak peduli ia mau berpikir apa tentang ketidakbecusanku mengurus kasus ini, yang penting diamau datang dan segera menolongku. Biarlah malu di muka kawan, tapi jangan menanggung malu di muka anak buahku, bahkan aku tak mau dikatakan tak becus di muka si nenek itu.

Aku menjemputnya langsung di bandara dan segera kami mmennuju kediaman rumah si nenek yang masih sangat ngotot menelpon kantorku bahwa dirinya benar-benar dirampok dua pria persenjata. Aku membawa dua orang anak buahku, naanya Micoz yang menangani observasi kasus di lapangan dan satu lagi anak buahku yang menjabat kasus di bagian forensik bernama Carbagoz.

"Kau lihat kan Bill, rumah ini benar-benar terisolasi oleh sungai yang di dalamnya diternak ribuan lintah. Kurasa tak ada yang nekat menceburkan diri ke sungai kecil itu."

"Kalau dia memang nekat, apa pun bisa ia lakukan, Richard. Misalnya saja dia membawa pelampung karet atau papan yang di susun menjadi rakit. Bukankah itu mungkin saja terjadi dalam nalar yang perlu kita pikirkan?" ucapnya sambil memicingkan mata ke arahku.

Bodoh! Kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ ya? Hardikku kesal pada diriku sendiri. Segera aku memerintahkan Carbagoz dan Micoz untuk menemukan bukti-bukti berupa remahan-remahan kayu, jejak rumput yang tergesek oleh pelampung atau rakit kayu. Aku hanya mengharapkan ada bukti dan sidik jari.

"Hey, kawan. Jangan sentimentil begitu dalam menganalisis perkara. Tenanglah! Tak perlu kau repot-repot mencari jarum dalam sekam. Semua yang aku ungkapkan barusan hanya praaduga. Celoteh kawan." Bill terkekeh, puas sepertinya dia telah mempermainkan tiga orang polisi.

Nenek itu keluar saat kami menekan bel di pagar angkernya itu. Benar-benar tajam pendengaran nenek itu, sekali menekan bel langsung kepalanya menjulur melewati daun pintu rumahnya. Kami pun melangkah menghampirinya.

"Selamat pagi nyonya cantik, apa kabar anda hari ini?" pola tingkah dan gaya bicaranya sok bangsawan, sambil menundukkan tangan ia mencium punggung tangan si nenek renta itu.

Tak lama Bill menghampiriku dan merangkulku, ia membisikkan sesuatu ditelingaku. "Kawanku, tolong perintahkan dua anak buahmu itu untuk masuk ke dalam rumah nenek Gloria. Suruh mereka memeriksa benda-bendaapa saja yang kiranya mencurigakan. Aku sudah meminta izin pada nenek Gloria agar anak buahmu itu bisa melakukan penyelidikkan.

Tanpa pikir panjang aku pun menyuruh dua anak buahku masuk ke dalam rumah guna melakukan pemeriksaan. "Lalu apa yang kita lakukan Bill?"

"Kita cukup duduk di depan sungai itu sambil menunggu tugas anak buahmu selesai." Bill melangkah mendekati sungai penuh lintah itu, sementara aku hanya bisa terbengong menyaksikan polah tingkahnya yang makin aneh. Gila! "Bill! Kurasa kita harus ikut melakukan investigasi. Duduk bersantai seperti ini tak akan memecahkan masalah, kawan. O! aku tahu! Kau pasti sedang mencari inspirasi. Ku rasa berpikir untuk memecahkan masalah sambil memandang sungai berlintah merupakan ide buruk, Bill." Dia mengacuhkan perkataanku. Matanya dengan tajam menyisir area di sekitar kami duduk.

"Richard! Kau katakan padaku bahwa anjing yang kau bawa kala itu mengendus hinggaarea ini, bukan?" Aku mengangguk. Nada suaranya terdengar serius. "anjingmu melacak jejaknya, kawan. Tapi annjingmu tak mungkin berani menyeberangi sungai ini. Siapa yang menuntun tali anjing pelacakmu itu, kawan?"

"Micoz yang memegang tali kekang anjing-anjing palcak itu." Aku terdiam sesaat, lalu melanjutkann perkataanku. "Apakah kau menemukan jejaknya, Bill." Bill mengangguk ringan.

"Kurasa aku telah menemukan salah seorang perampok itu, tapi aku belum,tapi aku belum menemukan bukti untuk meneratnya. Maukah kau membantuku untuk menemukan bukti itu kawan?" Aku menatapnya sejenak. Entah mengapa dadaku yang tadinya seperti tertindih batu akibat beban kasus ini, kini jadi terasa ringan saat Bill menyingkirkan beban batu itu dengan perkataannya bahwa ia telah mengetahui sosok penjahat itu.

Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pinggir sungai berlintah it. Pandangannya mencari sesuatu entah apa yang ia cari. "Bill kawanku. Apakah kiranya yang sedang kau cari?"

"Lintah," jawabnya singkat."Lintah? Kenapa kau mencari lintah kawan?"

"Aku sangat yakin berdasarkan dengus anjingmu itu. Meyakini bahwa dua perampok itu menyeberangi sungai ini saat masuk maupun keluar. Sungai ini dangkal dan kedalamannya tak lebih dari pinggang kita, hanya saja banyak sekali lintah di dalam lumpur sungai ini. Aku yakin banyak sekali lintah yang melekat pada kaki-kaki mereka saat menyeberangi sungai ini." Aku masih bingung dengan rentetan penjelasannya. Tiba-tiba ia berteriak girang. "Aha! Akhirnya aku menemukan lintah." Ia mencapit lintah dengan dua batang ranting kering dan meyodorkan ke mukaku. "Gemuk sekali kan, Richard?"

"Singkirkan hewan jelek itu dari depan mukaku Bill." Kataku tegang bercampur jijik.

"Inilah bukti otentik yang keakuratannya nyaris sempurna untuk menjerat penjahat itu, kawan."

"Apa maksudmu, Bill. Aku tak mengerti? Tolong jelaskan padaku." Aku benar-benar tak mengerti, tapi samar-samar aku bisa menarik benang merah bahwa lintah inilah yang menempel kaki seseorang yang menyeberangi sungai itu tiga hari yang lalu."

"Inilah sampel darah lintah yang dapat kau jadikan bukti untuk menjerat pelaku. Jejak darah lintah ini sama saja jejak darah si pelaku. Ambil DNA-nya segera kawan! Untuk memperkuat bukti di persidangan. Aku akan menunjuk hidung si pelaku di depan hidungmu."

Tak lama Carbagoz dan Micoz keluar dan melaporkan hasil investigasinya. Laporan mereka klasik : tak ditemukan sidik jari yang tertinggal. Bill melangkah menghampiri Micoz lalu merangkulnya. Sambil menghadap ke arahku, Bill menunjuk hidung Micoz dengan telunjuk kanannya. "Inilah hidung si pelaku kawanku, Richard."

Aku terbengong. Benar-benar terkejut bukan kepalang. Carbagoz juga bingung melihat keterkejutanku. Jadi selama ini anjing-anjing pelacak mengendus jejak pelaku yang tak lain adalah si pawang anjing itu sendiri. Aku pun membawa sampel darah lintah itu ke laboratorium dan mencocokkan kode genetik darahlintah dan darah Micoz. Ternyata "match" dengan DNA Micoz.

Kasus terpecahkan dan Micoz mengakui perbuatannya yang dilakukannya bersama kawannya yang tak lain keponakan dari nenek Gloria. Kami pun meringkus keponakan nenek Gloria itu. Namanya Mr Robbit dan ia melakkukan perampokan hanya ingin mengambil haknya sebagai ahli waris dari ibunya yang diambil oleh nenek Gloria. Perkara keluarga yang menggemparkan daratan Tasmania. Aku patut mengucapkan terima kasih pada Bill. Tapi bagaimana ia bisa tahu kalau Micoz pelakunya? Biarlah itu enjadi teka-teki yang layak aku pecahkan sendiri. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 24 Juli 2011

Senin, 10 Juni 2013

Misteri Gua Puteri Baturaja

Misteri Gua Puteri BaturajaLokasihnya memang agak tersembunyi, namun pendatang baru sekalipun dengan mudah bisa menemukannya. Sebab, warga sekitar gua akan dengan senang hati mengantar. Apalagi, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu sudah membangun jalan beton yang mengarah ke mulut gua. Jalan selebar 1-2 meter itu cukup lapang untuk dilalui.

Memasuki gua tersebut tidak perlu memiliki keahlian khusus layaknya penelusur gua. Pintu gua cukup lebar dan tinggi sehingga pengunjung tidak perlu menunduk, apalagi merangkak untuk memasukinya. Begitu juga ruangan di dalam gua tersebut. Lebar gua yang bervariasi, 8-20 meter, cukup lapang untuk berjalan-jalan. Jarak antara lantai gua dan langit-langitnya pun lebar, berkisar 2,7-4 meter.

Hanya, meski kondisinya lapang, pengunjung harus berhati-hati saat menapaki lantai gua dan menyusuri rute dari pintu masuk sampai ke pintu keluar. Meski sudah ada lampu penerangan di rute sepanjang 500 meter tersebut, dinding gua yang kelam tidak cukup membantu untuk menerangi isi gua. Selain pencahayaan yang tidak terlalu terang, pengunjung harus berhati-hati. Sebab, di beberapa bagian, jalanan menanjak dengan lantai yang licin.

Misteri Gua Puteri BaturajaBegitu memasuki gua tersebut, bau khas kotoran kelelawar langsung menyambut. Tidak perlu kaget jika tiba-tiba beberapa ekor binatang malam itu melintas. Pada langit-langit, ratusan kelelawar bergelantungan dengan kepala di bawah. Semua tantangan perjalanan dan sambutan itu terbayar ketika memasuki bagian tengah gua. Beragam bentuk batuan, termasuk stalagtit dan stalagmit seakan menembus lantai dan langit-langit gua. Belum hilang kekaguman menyaksikan benda-benda bentukan alam tersebut, telinga sudah terbuai dengan suara gemericik air dari bagian tengah gua. Suara itu berasal dari sungai bawah tanah di gua tersebut.

Sungai tersebut merupakan aliran anak Sungai Semuhun yang selanjutnya bertemu dengan Sungai Ogan. Meski berada di dalam gua, sungai itu cukup besar. Lebar badan sungai tersebut bervariasi, 8-12 meter. Konon, warga sekitar meyakini bahwa sungai di dalam gua itu dulu adalah pemandian bagi para putri kerajaan. Ada juga yang mempercayai bahwa air sungai tersebut mengandung khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Hanya dengan membasuh muka dengan air sungai tersebut, warga sekitar yakin bisa awet muda. Remaja yang belum mendapatkan jodoh juga bisa mencoba khasiat air sungai itu yang disebut-sebut bisa mengentengkan jodoh. Dugaan bahwa Gua Puteri pernah menjadi hunian manusia prasejarah didasari penelitian pada 2005. Balai Arkeologi Palembang menemukan jejak-jejak budaya prasejarah pada kedalaman tertentu.

Beberapa diantaranya pecahan gerabah, tulang binatang, bahkan tulang manusia. Juga ditemukan beberapa perkakas kuno, seperti batu pukul, batu pahat dan kapak batu. Temuan-temuan itulah yang mengarah pada dugaan bahwa gua tersebut pernah dihuni manusia. Dugaan tersebut diperkuat hasil penelitian tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) yang dipimpin Prof Truman Simanjuntak pada awal 2009. Penelitian tersebut dilakukan di Gua Harimau yang lokasinya berdekatan dengan Gua Putri. Di Gua Harimau, tim itu menemukan empat kerangka manusia yang berdasar ciri-cirinya berasal dari zaman neolitikum. (net)

Sumber: Palembang Pos

Misteri Danau Dendam Tak Sudah

Misteri Danau Dendam Tak SudahNama Danau Dendam Tak Sudah, Bengkulu, memang terasa menyeramkan yang mengandung misteri didalamnya. Danau Dendam Tak Sudah memang belum seakrab danau-danau besar di Indonesia lainnya, seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Maninjau dan Danau Singkarak di Sumatera Barat dan Danau Ranau di Lampung. Namun pesona Danau Dendam Tak Sudah di Bengkulu ini tidak kalah indahnya dengan danau-danau lainnya.

Dari namanya saja danau ini sudah bisa mengambil perhatian para traveler. Nama Danau Dendam Tak Sudah memang tidak sewajar danau lainnya, menyeramkan dan pastinya meninggalkan tanda tanya. Mengapa dinamakan Danau Dendam Tak Sudah? Konon dibalik danau ini terdapat kisah di dalamnya. Nama ”Dendam Tak Sudah” diambil berdasarkan cerita tentang muda-mudi yang mengikat janji sehidup semati. Akan tetapi, kisah cinta mereka terhalang oleh orangtua si gadis yang tidak merestui hubungan mereka.



Gadis tersebut dijodohkan, tetapi ia tidak dapat berpaling. Kemudian keduanya memutuskan untuk bunuh diri bersama dengan cara menyeburkan diri ke danau. Konon, sejak kejadian itu di dalam danau terdapat dua ekor lintah besar yang dianggap sebagai jelmaan pasangan itu.

Danau Dendam Tak Sudah terletak di beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Selebar dan Kecamatan Talang, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Lebih tepatnya berjarak sekitar 6 km dari pusat Kota Bengkulu.

Danau seluas 577 hektare ini konon terdapat gunung berapi. Di kawasan cagar alam ini juga terdapat tanaman anggrek pensil, anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis, dan sikeduduk.

Harus diketahui bahwa anggrek pensil diyakini hanya tumbuh di kawasan ini. Selain floranya, ditempat ini juga terdapat fauna langka. Wisatawan bisa menemukan lutung dan kera ekor panjang yang bergelantungan di pepohonan. Atraksi ini tentunya juga memberikan daya tarik bagi wisatawan. Semua keunikan yang ada di danau ini juga didukung oleh keindahan alam yang mempesona. Mengandung potensi sebagai keseimbangan ekosistem dan kelestarian ekologi.

Banyak hal yang bisa membuat wisatawan betah berlama-lama di danau ini. Wisatawan juga bisa menyaksikan permukaan danau yang terlihat kemerahan. Serta atraksi matahari terbit. Selain itu, wisatawan juga bisa berperahu ria menggunakan rakit ke seluruh penjuru danau sambil memancing. Akses menuju Danau Dendam Tak Sudah sangat mudah. Wisatawan bisa memulai perjalanan dari Kota Bengkulu ke arah Kota Curup. Wisatawan bisa menggunakan mobil atau bus jurusan Bengkulu-Danau Dendan Tak Sudah dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Satu lagi, selain untuk wisata, danau ini juga dimanfaatkan sebagai daerah tangkapan air. (net)

Sumber: Palembang Pos

Misteri Segitiga Bogor

Misteri Segitiga BogorDI wilayah sekitar Halimun Bogor dan sekitarnya ada benteng-benteng milik Prabu Siliwangi yang tak kelihatan, pusat kerajaan ada di Gunung Salak, sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum. Catatan sejarah soal Kerajaan Siliwangi pasca kehancurannya setelah diserang Kesultanan Banten pada tahun 1620-an, adalah catatatan pertama kali dari Scipio yang melakukan ekspedisi sekitar tahun 1687 mencatat ada ratusan macan gembong atau harimau bertempat tinggal di sebuah bangunan dekat Kebun Raya Bogor sekarang, selain itu ditemukan rawa yang berisi badak di sekitar Sawangan, dinamakan Rawa Badak dimana di ujung Rawa Badak ditemukan juga situs parit dan bekas tembok keraton yang dijadikan sarang macan, sekarang sarang macan ini dikenal pertigaan beringin di Sawangan. Selain catatan-catatan arkeologi, ada catatan mistis tentang segitiga Bogor.

Ada tiga gunung yang dianggap angker di masa Mataram Sultan Agung, pertama Gunung Merapi, Kedua Gunung Slamet dan Ketiga Gunung Halimun, diantara ketiganya Gunung Halimun-lah yang dianggap paling angker karena memiliki misteri luar biasa. Sampai saat ini banyak peristiwa jatuhnya pesawat di sekitar segitiga Gunung Halimun-Gunung Salak-Gunung Gede.

Daya energi ketiga gunung itu ada di Istana Cipanas, sekitar gedung yang dibangun Bung Karno namanya Gedung Bentol, tempat dimana Bung Karno selalu bermeditasi sejak dia menempati Istana Merdeka di tahun 1949. Di belakang Gedung Bentol ada sumber air panas, yang merupakan energi dari Siliwangi.

Dilamarnya Puteri Dyah Pitaloka yang kecantikannya serupa bidadari dan mewariskan kecantikan yang bisa dilihat pada gadis-gadis Bandung, Cianjur dan Sumedang sekarang ini adalah rahasia ‘Wahyu Nusantara’ yang dimiliki kerajaan Pajajaran, dimana Gadjah Mada ingin memilikinya “Siapa yang menguasai Wahyu Nusantara dia akan menguasai Indonesia’, penguasaan wahyu nusantara ini menimbulkan konflik antara Hayam Wuruk yang berpendapat bahwa wahyu itu bisa diambil dengan cara Ken Arok yaitu menikahi puteri sang Raja, di satu sisi wahyu bisa diambil dengan cara menaklukkan Pajajaran dan membangun kerajaan Majapahit Barat di Pakuan.

Tanpa disengaja menurut kepercayaan banyak orang Bung Karno mengawini puteri Bandung yaitu Inggit Garnasih yang ditengarai masih keturunan Raja Siliwangi dimana wahyu Nusantara bersemayam di tubuh Inggit Garnasih, dan Bung Karno keturunan langsung Brawijaya V mengobarkan semangat Nusantara bermula di Bandung pada rapat politik Radicale Concentratie di Bandung tahun 1922.

Bandung adalah kota terakhir dimana Prabu Linggabuana menyucikan diri di danau Bandung sebelum berangkat ke Majapahit dan kelak beristirahat di Pesanggrahan Bubat dimana kemudian datang Gadjah Mada dan terjadilah insiden pembunuhan dan pembantaian besar-besaran rombongan Pajajaran.

Sisa-sisa dari Laskar Perang Bubat melarikan diri ke Gunung Salak, sementara sisa-sisa dari punggawa Siliwangi yang diserang Banten lari ke Gunung Halimun. Tempat dimana seringnya pesawat menghilang, ini mirip dengan segitiga Bermuda dan segitiga formosa.

Gunung Halimun dan Gunung salak ini mirip Gunung Lawu yang disucikan Majapahit, tak boleh ada yang melintasi diatasnya, burungpun bisa mati bila melewati satu titik tanah yang sakral. (net)

Sumber: Palembang Pos