Jumat, 05 Juli 2013

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Makanan pedas merupakan makanan yang unik. Menusuk lidah dengan sensasi panasnya, namun rasanya tetap disukai oleh banyak orang. Bahkan ada pula yang berprinsip, tidak bisa makan tanpa makanan pedas.

Satu teori yang mungkin menjelaskan hal ini adalah manusia menyukai sensasi. Manusia secara aneh menemukan kenikmatan dari hal-hal yang seharusnya menakutkan dan menyakitkan, seperti menaiki roller coaster atau berlari maraton. Ini adalah pertarungan antara pikiran dan tubuh, dan dimenangkan oleh pikiran.

Di samping itu, di balik sensasi pedas yang menusuk lidah, makanan pedas juga memiliki segudang manfaat kesehatan bagi tubuh. Simaklah 6 manfaat makanan pedas berikut.

1. Menurunkan berat badan
Makanan pedas dapat meningkatkan metabolisme yang berdampak pada penurunan berat badan. Penelitian menunjukkan senyawa utama dalam cabai yang disebut capsaicin memiliki efek termogenik dan membantu tubuh untuk membakar lebih banyak kalori setelah makanan dimakan.

2. Menyehatkan jantung
Penelitian menunjukkan, orang yang terbiasa memakan makanan pedas memiliki jumlah insiden serangan jantung dan stroke yang lebih kecil. Alsannya karena cabai dapat mengurangi efek merusak dari kolesterol "jahat" atau Low Density Lipoprotein (LDL) dan capsaicin memiliki efek antiinflamasi. Inflamasi merupakan faktor risiko dari penyakit jantung.

3. Mencegah kanker
Menurut American Association for Cancer Research, capsaicin memiliki kemampuan untuk membunuh sel kanker dan leukemik. Rempah-rempah tertentu seperti kunyit yang ditemukan dalam bubuk kari dan mustard dapat memperlambat penyebaran kanker dan pertumbuhan tumor. Kombinasi kunyit dengan lada hitam akan membuat efeknya berlipat ganda.

4. Menurunkan tekanan darah
Vitamin A dan C dapat memperkuat dinding otot jantung, dan panas dari lada akan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Sehingga dengan mengonsumsi makanan mengandung lada secara keseluruhan dapat memperbaiki sistem kardiovaskular.

5. Memperbaiki mood
Makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon yang membuat perasaan menjadi bahagia, seperti serotonin. Maka makanan pedas dapat membantu meringankan depresi dan stres.

6. Mencegah Parkinson
Sebuah penelitian baru yang dipublikasi dalam jurnal Annals of Neurology menemukan bahwa mengonsumsi lada dua kali seminggu dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan penyakit Parkinson hingga lebih dari sepertiganya. Hal ini berhubungan dengan kandungan nikotin dalam lada yang dapat mencegah kerusakan saraf.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Sriwijaya Post, Sabtu, 11 Mei 2013

Rabu, 03 Juli 2013

Bercumbu dengan Arwah di Atas Sungai Musi

Bercumbu dengan Arwah di Atas Sungai MusiOleh: Siti Henny Nawani

Dengan manja Bulan merebahkan dirinya dipangkuanku. Semilir angin Sungai Musi menebarkan alunan kidung cinta asmara. Desiran puisi cinta mendayu-dayu menambah keindahan malam Jumat Kliwon yang keramat. Bulan membeikan kehangatan ranjang rumah panggungku yang sudah sepuluh tahun ditinggal Yulianti Murtopo, istriku yang terkena serangan penyakit kanker rahim yang ganas. Kuburan Yulianti sudah lama kering dan aku dikiriminya Bulan, gadis cantik, seksi dan anggun, yang ternyata bukan wanita bangsa gaib biasa, tetapi Yulianti Murdopo yang cantik. Arwah almarhumah istrku yang berubah nama menjadi.... Bulan!

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Hari setelah sepuluh tahun hidup bersama dengan Yulianti Mirdopo tanpa anak, akhirnya penyakit kanker ganas dirahimnya, terpaksa merenggut nyawanya juga. Kematian Yilianti menorehkan luka yang dalam dibatinku, utuk itu aku bertekad tidak akan menikah lagi, dan aku tetap setia sampai mati kepada istriku yang aku sangat cintai itu.

Setiap minggu, aku ziarah ke makam Yulianti di Tebing Ginting, Ogan Ilir 40 kilometer dari Kota Palembang. Di pemakaman umum itu, aku mengganti kembang, bunga mawar kesukaan Yulianti ketika hidup, mawar warna merah yang sangat wangi, yang kubeli di tukang kembang Kertapati.

Semua keluarga, termasuk keluarga Yulianti Murdopo, Pak Mudopo, mertuaku, menyarankan agar aku menikah lagi, berpacaran dan melupakan Yulianti yang sudah tiada. Tetapin aku tidak bisa, karena cintaku yang berkarat kepada strku itu, maka aku tidak bisa melupakannya. Bahkan, pihak keluargaku menganggap aku sudah gila, mencintai istri yang sudah terkubur dan tiap minggu mendatangi makamnya dan berbicara.

"Yulianti sudah menjadi tulang belulang di tanah perkuburannya, bila kau hendak mengirim Al-Fatihah, tahlil untuknya, tdak harus ke makamnya, cukup kau lakukan di rumah Insya Allah akan sampai dan meringankan kehidupannya di alam baka," desis Haji Marwan Manaf, ayahku, yang bolak balik meminta aku untuk tidak ke makam Yulianti lagi, karena menempuh jarak yang jauh dan berisiko berat.

"Dari hari Jumat hingga Minggu kau mendatangi makam dan menginap di pemakaman, kau sudah tidak normal lagi, kau sudah gila ya?" bentak ayahku, meminta agar aku memberhentikan usaha itu, usaha yang dianggapnya sangat tidak masuk di akal sehat manusia. Berulang kali aku berkata kepada ayah, bahwa aku yang menjalani ini, wilayah pribadiku dan aku tidak berat melakukannya untuk Yulianti Murdopo.

Hubungan percintaan aku dengan Yulianti Murdopo, berlangsung sejak kami duduk di bangku SMA Negeri 1, Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto, Bukit Besar, Palembang. Saat itu kami sama-sama satu kelas dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama karena kami sama-sama aktif di kesenian.

Kami berada dalam satu kelompok Pop Song, grup musik sekolah yang sering tampil di panggung luar sekolah. Saya bermain gitar sedangkan Yulianti, bersama Rika, Ita dan Hilmie, menyanyi. Sedangkan aku bersama empat teman pria lain, bermain gitar,flute, dan keyboard.

Ketika grup kami diadu dalam festival Pop Song se-SLTA Sumatera Selatan, di luaar dugaan, karena rajinnya kami berlatih, kami keluar sebagai juara satu. Karena kami berjibaku utuk menang, kekentalan kami dalam satu grup, begitu dekat dan tak ayal aku dan Yulianti saling jatuh hati.

Percintaan akami semakin kuat hingga kami sampai d perguruan tinggi Universitas Sriwijaya di Fakultas Hukum. Setalah sarana, Yulianti mendalami ilmu notaris sedangkan aku menjadi pengacara LBH di Palembang. Setelah menjalani beberapa proses pendidikan, di antaranya magang sidang membantu advokat, aku pun akhirnya menjadi lawyer profesional.

Setelah kami sama-sama menghasilkan uang, kami pun mensucikan percintaan kami dengan menikah. Ijab Kabul dilakukan di Masjid Agung Sultam Mahmud Badaruddin dan resepsi dilakukan di Hotel Swarna Dwipa di Talang Semut, Palembang.

Setelah resepsi yang agung itu, kami kembali ke rumah panggung yang aku beli dari pamanku di tepi Sungai Musi daerah 7 Ulu Laut, Palembang Lamo. Rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu onglen, ulin itu, menghadap lalu lintas air sungai yang terbentang luas nan panjang. Aku membeli sebuah skoci, speedboat 80 PK untuk kendaraan air aku dan Yulianti ke mana mau pergi.

Jika kami berlibur hari Sabtu dan Minggu, dengan skoci itu kami berjalan selama 4 jam menyusri 80 mil laut menuju Sungsang, Musi Banyuasin. Kami menghabiskan liburan itu di hotel terapung milik Pak Lurah Sarketing, dan disitu pula kami menikmati hidup dengan kesederhanaan.

Cinta kami semakin kuat. Rasa ketergantungan hidup terhadap Yulianti semakin besar dari hari ke hari. Begitu juga dengan Yulianti, yang semakin jauh semakin ketergantungan kepadaku. Bila aku mendapatkan uang besar dari prfesiku sebagai lawyer dan Yulianti dapat bonus dari pekerjaannya sebagai notaris, kami gunakan pula uang kami bersama itu untuk jalan-jalan ke luar negeri. Kami sudah menginap di Rio Jeneiro Brazil, Pulau Bermuda di Puerto Rico dan kaki gunng Mount Cook di Selandia Baru.

Mungkin, karena tidak punya anak, maka usaha untuk berwisata mancanegara itu lebih mudah ketimbang orang yang punya anak. Yulianti sering memanjakan aku seperti anak kecil, aku dianggapnya sebagai anak yang dielus-elus dan dimanjakannya, setelah bergantian aku yang menadikannya sebagai anak, memanjkannya bahkan sering sekali aku menggendongnya sampai jauh. Untunglah tubuh Yulianti agak langsing, beratnya hanya 52 kg tinggi 166 cm sedangkan aku berberat 88 kg bertinggi 178 cm, maka itu aku sangat kuat menggendongnya sampai ratusan meter di kaki gunung.

Perjalanan kehidupan perkawinan kami penuh semarak. Keluarga Murdopo dan keluargaku, sangat mendukung apa yang kami lakukan, menikmati jerih payah kami sebagai pencari uang dengan keras. Namun begitu, kami menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk keluarga Yulianti yang kurang mampu dan keluargaku juga yang kurang mampu.

Karena lama tidak hamil, kami memeriksakan keadaan kesubran kami ke para ahli. Beberapa dokter kami datangi beberapa ahli alternatif kami sambangi, kepingin mendapatkan anak. Namun terakhir, setelah melakukan general check up, termasuk melakukan foto MRI (magnetic resonance imaging) di Jakarta, kami terperanjat dan shock. Arkian, ternyata dalam dinding rahim Yulianti ada kanker, tumor ganas yang positif dan sangat berbahaya. Kanker itu, selain tidak akan membuatnya mampu hamil, tapi juga akan mengancam jiwanya.

Karena penyakit mengerikan itu, maka setiap malam aku sulit tidur. Pada saat Yulianti terlelap, aku memandangi wajahnya dan menangis. Namun, di dalam pandanganku juga, aku menyertakan doa yang khusyuk meminta agar Allah Azza Wajalla menurunkan kasih sayang Nya kepada Yulianti, membebaskan istrku itu dari penyakit berbahaya itu. Aku meminta dengan sangat kepada Allah agar Allah melindungi istriku, mnarik penyakit itu dan menyembuhkannya.

Sayang, doaku ini ternyata belum diijabah oleh Allah, karena setelah dilakukan operasi, operasi itu gagal dan Yulianti menghembuskan napasnya yang terahir. Tubuhku oleng dan aku tidak kuat lagi berdiri. Aku terus menerus mencuim jasad istriku yang malang itu. Yulianti Murdopo yang sangat aku cintai, sangat aku sayangi dan hampir sepenuh jiwaku kugantungkan kepadanya. Namun begitu, pada sisi yang lain, aku menerima keputusan Alla SWT yang buru-buru mengambil nyawa istrku ini setelah sepuluh tahun kami hidup berdua. Sudah menjadi skenario, jalan cerita hidup yang sudah tergaris dan aku harus bisa menerimanya.

Sebenarnya, terkadang aku kepingin mati bersama Yulianti dengan meminum racun atau menembak jantungku sendiri akan aku mati pula bersamanya. Namun, ajaran agamaku, mengharamkan orang mati bunuh diri dan Allah sangat murka, maka au membatalkan niat itu. Aku tidak mau masuk neraka karena sesuatu tindakan yang yang dibenci Allah, Tuhanku Yang Maha Agung.

"Bunuh diri adalah dosa yang tiada ampunan dari Allah. Tanpa ditimbang-timbang, orang yang mati karena bunuh diri, akan dimasukkan ke dalam neraka yang panas," ujar Kiyai Abdullah Rofiq, guru spiritualku di Lubuksakti, Ogan Komering Ilir, pada saat aku mempertanyakan hal itu kepadanya.

Tapi, pikirku, hal dosa itu hanya pendapat kiyai yang belum tentu ada di kitab suci maupun hadits. Yang berhak atas dosa, pahala, neraka dan surga itu hanya Allah. Kenyataan hidup mati itu, termasuk pernik dalam kehidupan, merupakan kekuasaan juga kekuatan Allah SWT dan hanya Dia-lah yang tahu. "Tahu apa manusia soal apa yang ada di keputusan Allah? Tidak ada yang tahu, kecuali Allah Yang Maha Besar," batinku.

Secara logika aku menghitung-hitung, bahwa lahir, hidup dan mati itu wewenang Allah dan hanya Dia-lah yang berkuasa atas manusia, alam raya, jagat semesta, dan dunia arwah.

Bunuh diri, mungkin artinya, sama saja dengan menyangkal keputusan Allah walau cara bunuh diri itu sendiri, bisa dicegat oleh Allah jika Allah mau. Takdir bunuh diri itu sendiri karena Allah, dalam hukum sebab akibat. Akibat menembak jantung, maka jantung terhenti lalu mati. Tetapi, jika Allah tidak tidak memutuskan hal itu, maka jantung yang ditembak, meleset ke daging dan tidak jadi mati. Atau peluru melenceng mengenai kerbau dan kerbaulah yang mati, bukan si penembak.

Namun bgitu, pikirku, dunia ini bukanlah matematika. Tidak bisa dinalar dengan hitung menghitung. Apalagi menyangkut mati, gaib, kelahiran dan penyakit. Allah menurunkan penyakit, memberi penyakit kepada ummatnya, tetapi Allah pula yang mngambil penyakit itu, jika Dia mau. Maka itu, banak dukun berkata, setiap penyakit pasti ada obatnya. Sebab Allah yang menurunkan penyakit, Allah pula yag menurunkan obat. Cuma terkadang keterbatasan manusia, maka manusia tidak tahu mana obat untuk penyakit yang sama-sama diturunkan oleh Allah itu.

Setelah sepuluh tahun Yulianti Murdopo meniggal dan aku rutin ke makamnya setiap minggu, suatu malam Jumat Kliwon yang wingit, aku tertidur di pusara Yulianti. Dalam mimpiku, Yulianti keluar dari kuburnya dan menunjkkan wajah yang cantik, anggun dan mempesona persis semasa kami baru menikah.

Dalam mimpiku itu, Yulianti memakai gaun warna putih sutra dengan gambar mawar merah di bagian krahnya.

"Aku akan hidup lagi dan akan bersamamu di rumah dengan nama Bulan, Bang. Abang rahasiakan hal ini kepada siapapun dan semutpun, tidak boleh tahu, dinding rumah kita pun, tidak boleh tahu. Apalagi keluarga besar kita. Rahasiakan pertemuan ini dan aku akan tetap hidup bersama Abang di Sungai Musi, rumah kita yang damai," kata Yulianti Murdopo, dalam impian itu. Setelah sepuluh tahun wafat, baru itulah aku mimpi didatangi Yulianti dan mimpi itu eperti kenyataan.

"Kesetian Abang kepadaku begitu besar, cinta dan kasih sayang Abang kepadaku begitu agung, walau sudah sepuluh tahun aku terkubur, sehingga gaib memerintahkanku untuk turun lagi ke bumi, maujud untuk mendampingi Abang yang kesepian," bisiknya, merdu, persis suara Yulianti Murdopo semasa hidup.

Ketika aku terbangun, hari sudah menjelang pagi. Aku buru-buru ke teluk, sumur dekat makam untuk mengambil air wudhu dan shalat Subuh d makam Yulianti. Sementara itu, Yulianti raib karena kenyataan itu hanya fatamorgana, mimpi belaka, mimpi yang seakan menjadi kenyataan. Fatamorgana yang seakan-akan nyata di depan mataku.

Setelah hari pagi, aku kembali ke Palembang, meninggalkan pemakaman Tebing Ginting, kuburan Yulianti bersama ribuan kuburan lain. Aku pacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi karena aku ingin segera masuk ke rumahku di Sungai Musi, tempat di mana Yulianti menggambarkan ada kembang mawar merah kesukaannya di kamar. Dalam mimpiku, Yulianti berkata tentang bukti kehadirannya di rumah, yaitu kembang mawar merah di ranjang kami, yang speinya ditata oleh Yulianti 10 tahun lalu tanpa aku ganti, kecuali dibersihkan dari debu.

Begitu memarkirkan mobil di perparkiran 7 Ulu Laut, aku berjalan menuju rumah dengan cepat. Setelah membuka kunci pintu, aku buru-buru menghambur ke kamar tidur yang sudah lama tidak aku tempati itu. Aku terus terusan menangis melihat melihat tempat tidur kami berdua itu dan kenangan sprei serta ranjang yang begitu agung bagiku. Ibu dan ayahku marah besar mengetahui sprei itu tidak pernah aku ganti lantaran, kataku, karena demi cinta kepada almarhumah.

"Kamu itu seorang advokat, pengacara tangguh, lawyer yang pintar dan tangkas di persidangan, semua teman seprofesi kamu mengakui kehebatanmu. Akan tetapi sikap hidupmu sesungguhnya, terutama mensiasati kematian istrimu, tidak pernah sama sekali menunjukkan bahwa kamu itu seorang pengacara yang logis, matematis dan rasional. Kamu seorang yang tidak rasional dan cenderung menjadi gila kepada istrimu yang sudah menjadi tulang belulang," teriak ayahku, saat mengetahui sprei milik Yulianti masih terpasang utuh.

Karena kesal, ayahku lalu menarik sprei itu dan melemparkannya ke Sungai Musi. Secara reflek, aku terjun dari jendela ke aliran sungai yang deras untuk mendapatkan kembali sprei Yulianti itu. Untunglah nyawaku selamat dan sprei itu kembali aku dapatkan, aku keringkan dan kupasang lagi di ranjangku.

Sejak itu ayah dan ibuku tidak berani lagi menggangu harta peninggalan Yulianti, barang peninggalan Yulianti istri terkasih. Sebenarnya ada dua pengacara wanita canti yang menaksirku dengan mendekati ibu dan ayahku. Mereka ingin aku pacari bahkan ingin aku nikahi. Keduanya berebut untuk mendapatkan cintaku, namun hatiku hanya untuk Yulianti sampai aku mati.

Pada saat aku membuka pintu kamar, aku benar-benar kaget, tersentak melihat setangkai mawar merah dengan tangkainya yang masih segar bugar berseri. Yang artinya baru saja dipetik dari sebuah taman di daerah Palembang.

Bila Abang masuk kamar dan melihat setangkai mawar merah kesukaanku, itu berarti aku akan datang di malam harinya dan Abang bersiaplah dengan busana tidur dan tubuh yang bersih setelah shalat Isya'," kata Yulianti, di dalam impianku di makam itu. Mawar itu segera aku ambil dan aku cium. Baunya semerbak dan sangat mewangi. Di tangkai kembang itu, aku menemukan tulisan di kertas kecil dan tulisan tangan itu sangat aku kenal betul, adalah goresan jari Yulianti Murdopo.

"Abang, aku Bulan, istrimu Yulianti Murdopo, dan sebutlah namaku Bulan, jangan dengan nama asliku, karena aku sudah menjadi bulan," tulisan Yulanti Murdopo, dengan rapi dan tertata artistik di kertas putih yang wangi.

Malam Jumat Kliwon, 7 Januari 2011, pukul 23.00 menjelang tengah malam, Yulianti Murdopo yang berganti nama Bulan, datang dari pintu depan, terbang di atas Sungai Musi yang damai. Dia masuk di jendela kamar dan mengenakan baju tidur putih bergambar mawar merah di krahn busananya. Sama persis dengan impianku, di makamnya itu. Malam itu kami bercerita banyak hal, persis sebagai mana kami dulu masih bersama dalam pernikahan. Suara, desah napas dan kemanjaannya, tidak ada yang berbeda dengan sepuluh tahun lalu saat dia menjadi istriku.

Bulan datang dan memberikan kebahagiaan Bulan datang dengan desiran nyanyian yang merdu, suara gemuruh gelombang Sungai Musi yang damai. Puisi cinta yang mendayu-dayu, mendatangiku, berbelitkan cinta malam Jumat Kliwon yang wingit.

"Abang, fajar telah menyingsing di timur kota dan aku akan segera pergi ke alamku, dan aku akan datang Jumat Kliwon yang indah di bulan Februari nanti. Selamat tinggal Abang dan berjanjilah akan tetap mencintaiku selamanya, karena aku mencintai Abang walau kita sudah berbeda dunia, di mana aku telah berganti dunia nyata dengan dunia alam tersendiri yang aku sendiri tak tahu namanya," desis Bulan sambil memeluk tubuhku dengan erat.

Lalu aku membalas memeluknya erat. Setelah itu, aku memeluk angin, karena Bulan menjadi angin lalu terbang ke Sungai Musi dan terbang jauh ke alamnya, alam Dilin, dimensi lain yang aku sendiri tidak tahu di mana adanya. Selamat jalan sayang dan jangan lupa datang di bulan depan, malam Jumat Kliwon, 11 Februari 2011 pukul 23.00 Waktu Palembang di mana aku menunggumu untuk bercerita semalam di kamar kita yang romatis. (*)

Sumber: Misteri Edisi 561 Tahun 2013

Minggu, 30 Juni 2013

Ayodya

Ayodya Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah Anda bila kuceritakan bahwa beribu-ribu tahun yang lampau, Mojokerto, kota yang sekarang kutempati ini bernama Ayodya? Jauh sebelum Raden Wijaya membuka hutan Tarik dan membangun Kerajaan Majapahit di sini. Dan itu berarti, jauh pula sebelum candi-candi dari batu bata merah seperti Bajang Ratu atau Wringin Lawang dibangun dan Negarakertagama ditulis dan banyak digunakan oleh ahli sejarah untuk menguak mempelajari kejayaan kerajaan yang konon sar di Nusantara itu. Ribuan tahun yang cukup untuk menenggelamkan sejarah atau mengubah yang kenyataan menjadi dongeng atau legenda.

Barangkali, mendengar nama kota itu, ingatan kita akan langsung terbawa pada cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. Sebuah negeri darimana pahlawan besar dari epik itu, Rama Wijaya, berasal dan kelak di ujung cerita itu, menjadi rajanya. Tapi percayalah Ayodya di epik Ramayana tidaklah sama dengan dengan Ayodya dalam cerita yang hendak kukisahkan ini. Ayodya di epik ini terletak di tepi Sungai Brantas. Dan tidak ada Rama dalam ceritaku ini. Tidak pula ada Dasaratha, atau Laksmana, atau Sinta.

Aku tidak tahu kenapa Walmiki menamai negeri dalam ceritanya Ayodya. Ayodya dalam ceritaku ini memiliki arti kota perawan. Entah dalam cerita Walmiki. Namun aku bisa mengisahkan kepada Anda kenapa kota purba dalam ceritaku ini bernama Ayodya, kota perawan.

Aku mendengar riwayat ini dari seorang tua di daerah Trowulan, sebuah kecamatan di Mojokerto di mana banyak orang meyakini bahwa di kecamatan inilah Keraton Majapahit terpendam (beberapa orang juga teramat yakin bahwa keraton itu muksa setelah perang Paregrek usai), yang sdah tidak ingat lagi berapa usianya namun ngotot mengatakan bahwa dia sudah lahir ketika Sunan Ampel menginjakkan kaki pertama kali di Surabaya (bisakah Anda bayangkan berapa usianya? Bahkan, perihal sumber cerita ini saja sudah mragukan).

Di kota ini, tinggal seorang perempuan yang pandai meracik ramuan dan banyak membaca kitab-kitab mantra. Orang-orang menyebutnya dukun. Bertahun-tahun ia mempelajari segala ramuan dan mantra. Itu semua dikarenakan oleh seorang lelaki. Lelaki yang dicintainya namun menolaknya dengan cara yang tidak baik dan membuatnya merasa malu.

Lelaki itu berkata bahwa hidung si perempuan seperti hidung babi dan kulitnya kasar seperti kulit buaya. Dan si lelaki itu, yang juga seorang pembual, menceritakan di warung-warung, di pasar, di lapangan, di segala tempat keramaian bahwa ia telah menolak si perempuan karena rupa perempuan itu tidak seperti manusia.

"Bagaimana seseorang setampan aku bisa jatuh cinta dengan perempuan semacam itu?" si lelaki berkata. Dan Anda tak perlu heran bila pada waktu itu perempuan tidak merasa sungkan mengucapan cinta lebih dulu kepada laki-laki. Itu bukan hal yang tabu dn lazim dilakukan pada masa itu (dan entah karena kisah ini atau tdak, para perempuan di Mojokerto sekarang cenderung tidak mau mengungkapkan cintanya lebih dulu kpada lelaki dan memilih untuk menunggu. Barangkali ada sesuatu yang berada di bawah alam sadar mereka yang berasal dari cerita yang sudah diragukan dan banyak dilupakan ini yang menyebabkan mereka berlaku seperti itu. Sekali lagi, entahlah).

Si perempuan merasa begitu dilecehkan. Ia malu keluar rumah. Dan cinta di kedalaman dadanya, berubah menjadi dendam yang membara. Maka ia belajar mantra dan ramuan agar suatu hari bisa membalas sakit hatinya.

Tapi celakanya, ia tidak hanya ingin membalas dendam kepada lelaki yang mempermalukannya tersebut. Ia ingin membalas dendam kepada semua lelaki di kota tersebut. Ia berpikir bahwa semua lelaki memang brengsek dan suka melecehkan perempuan. Karena itulah, ketka ia telah menguasai sihir-sihir kegelapan, ia mengutuk semua lelaki di kota itu menjadi babi dan buaya.

Inilah yang kemudian keluar dari mulut para perempuan itu; "kalau tidak ada lagi lelaki di kota ini, bagaimana kami bsa hamil dan meneruskan keturunan?"

Si perempuan mengeluarkan sebotol ramuan. Ia tuangkan ramuan itu di sebuah sendang dan berkata; "Siapa pun yang minum air di sendang ini akan hamil. Anaknya sudah pasti berjenis kelamin perempuan sebab semua lelaki brengsek. Aku tdak ingin lagi ada kebrengsekan di kota ini. Aku tidak ingin lagi ada perempuan yang dipermalukan di kota ini."

Dan nama kota itu kemudian berganti menjadi Ayodya, kota perawan, karena penghuninya para perempuan. Dan setelah bertahun-tahun, setelah semua perempuan yang sebelumnya pernah bersuami meninggal, kota itu memang hanya dihuni para perempuan.

Veri yang lain yang lebih kupercaya mengatakan bahwa kota itu adalah kota para petarung. Namun para dewa berkehendak lain. Para dewa mengirim wabah demam yang mematikan seluruh lelaki dari Ayodya.

Bukan hanya para lelaki Ayodya yang terlibat dalam perjalanan itu yang ditimpa wabah, melainkan juga para lelaki yang masih tinggal di Ayodya: lelaki-lelaki jompo dan anak-anak kecil. Para perempuan di Ayodya menangis mengetahui hal itu. Mereka meratap mengharap belas kasihan para dewa. Meratap dengan sepilu-pilunya ratap.

Tak tega mendengar ratapan mereka, para dewa turn ke Ayodya dan berkata, "kalian akan tetap berketurunan. Setiap perempuan yang membatin ingin memiliki anak, maka ia akan mendapatkannya. Namun karena dalam darah para lelaki kalian mengalir darah para petarung, maka setiap anak yang lahir di kota ini akan berjenis kelamin perempuan."

Konon, arwah para lelaki Ayodya menitis pada sekelompok prajurit Majapahit. Dan si penguasa Ayodya menjelma menjadi salah satu penguasa Majapahit. Para arwah itu merasa tidak tenang sebelum apa yang mereka cita-citakan tercapai: menguasai dunia. Sekali pun pada akhirnya kita tahu dari buku-buku sejarah bahwa Majapahit pun tidak sanggup menguasai dunia. Mereka hanya mampu menguasai apa yang sekarang kita sebut Nusantara. Limapuluh tahun lamanya setelah kejadian tersebut kota itu masih bisa bertahan. Hanya ada perempuan di sana.

Yang jelas, tidak ada sisa-sisa dari kota tersebut yang tertinggal. Dan hal itu membuat siapa saja sulit mempercayai bahwa kota itu pernah benar-benar ada di Mojokerto. Dan hal itu membuat siapa saja yang mendengar nama Ayodya akan berkata: "Bukankah itu nama negeri asal Rama Wijaya dalam cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Juni 2013

Jumat, 28 Juni 2013

Misteri Mimpi Melihat Kematian Diri Sendiri

Misteri Mimpi Melihat Kematian Diri Sendiri

Setiap orang pasti mengalami banyak mimpi sepanjang hidupnya, dan bagi sebagian orang, mimpi tersebut ternyata merupakan kejadian yang akan terjadi di kemudian hari, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, kerabat atau pun orang-orang yang dikenalnya.

Mimpi seperti ini disebut “mimpi ramalan”. Dalam sejarah, tokoh terkenal yang mengalami mimpi ramalan seperti ini tidak sedikit, di antaranya yang paling dikenal adalah mimpi ramalan yang dialami oleh mantan presiden AS, Abraham Lincoln.

4 April 1865, Presiden AS ke-16 Abraham Lincoln tewas terbunuh. Dua-tiga hari sebelum terbunuh, Lincoln sempat bercerita kepada orang dekatnya mengenai mimpi yang dialaminya, “Di sekitar sini sangat sepi, di dalam mimpi saya mendengar suara banyak orang menangis dengan begitu sedihnya. Saya berpikir, ada apa gerangan? Jadi saya pun berjalan keluar kamar, melewati satu kamar ke kamar lain, hingga akhirnya saya tiba di suatu ruangan. Di tengah ruangan itu ada sebuah tandu, di atas tandu ada sebuah mayat, dikelilingi sekumpulan orang yang sedang menangis. ‘Siapa yang meninggal di Gedung Putih?’ Tanya saya kepada seorang prajurit. ‘Presiden terbunuh’. Jawab sang prajurit.”

Tak lama kemudian mimpi buruk itu menjadi kenyataan, Lincoln ditembak mati di sebuah gedung opera. Mengapa Lincoln dapat melihat kematiannya sendiri lewat mimpi? Mengapa ia tidak dapat menghindar dari tragedi tersebut? Pertanyaan seperti ini terus mengusik pikiran orang selama seratus tahun lebih.

Jika dikatakan mimpi ramalan Lincoln tersebut ada hubungannya dengan dirinya sendiri, maka penulis terkenal AS, Mark Twain, justru mengalami mimpi yang ada hubungannya dengan kerabatnya. Tahun 1858, Mark dan adiknya Henry bersama-sama bekerja sebagai ABK di kapal Pennsylvania di Sungai Mississippi. Di suatu malam bulan Mei, Mark Twain mengalami suatu mimpi yang sangat buruk: “Saya melihat jasad adik saya diletakkan di dalam sebuah peti mati yang terbuat dari timah, dengan mengenakan jas milikku, di dadanya terdapat seikat buket kecil dari bunga mawar putih, di tengah buket bunga itu ada sekuntum mawar merah.”

Saat terbangun Mark merasa sangat tidak tenang, namun melihat adiknya sehat walafiat, ia pun merasa lega. Namun dua minggu setelah itu, terjadi ledakan pada tungku uap kapal Pennsylvania. Henry yang sedang bertugas saat itu menderita luka bakar serius di bagian paru-parunya akibat menghirup terlalu banyak uap panas, dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani 6 hari perawatan medis.

Setelah Henry meninggal, peti mati yang seharusnya menggunakan kayu pinus, digantikan dengan sebuah peti mati dari bahan timah yang disumbangkan oleh seorang kaya setempat. Jasad Henry yang terbaring di peti mati mengenakan jas milik Mark. Dan saat seorang wanita datang melayat, ia meletakkan seikat bunga ros putih di dada Henry dan sekuntum mawar merah terletak di tengah buket bunga itu. Pemandangan yang persis seperti yang dilihat di mimpi ramalannya itu membuat Mark Twain tercengang. Kekuatan apakah yang membuat Mark Twain mengalami mimpi akan kematian adiknya dan membuktikan kebenaran dari mimpi tersebut? Mimpi yang mirip dengan mimpi ramalan Lincoln itu selain mengejutkan orang lain, hanya menyisakan lebih banyak misteri.

Mimpi ramalan dapat menerawang kematian diri sendiri dan orang lain, juga dapat melihat kehancuran suatu negara. Dalam catatan Tiongkok kuno, tidak sedikit catatan mengenai mimpi ramalan seperti ini. Dalam kitab ke-29 Zuo Shi Chun Qiu Ji Jie – Ai Gong, pernah tercatat sebuah cerita demikian: Pada zaman Zhanguo masa Chunqiu ada sebuah negara kecil yang disebut Negara Cao (Cao Guo). Suatu hari seorang rakyat Cao Guo bermimpi, para bangsawan berkumpul di aula istana, sedang berencana untuk membinasakan Cao Guo. Lalu pendiri negara tersebut yakni Cao Shizu berkata, “Tunggu Gongsun Qiang.”

Semua orang pun setuju. Setelah terbangun, orang itu mencari seseorang yang bernama Gongsun Qiang di kalangan pejabat istana, tapi tidak menemukannya. Ia pun memberitahu putra-putranya, “Setelah aku meninggal nanti, jika kalian mendengar ada seseorang yang bernama Gongsun Qiang akan menjabat, tinggalkanlah negara ini. Jika tidak akan sangat tidak baik!”

Beberapa tahun kemudian, Cao Boyang naik tahta pada tahun 501 SM, ia sangat suka berburu. Di negeri Cao ada seorang pemuda desa bernama Gongsun Qiang, sangat mahir memanah, lambat laun ia pun mendapat kepercayaan Cao Boyang, dan diberi gelar pengawas kota, dan ikut dalam pemerintahan. Putra dari orang yang meng-alami mimpi tersebut mendengar, ada seseorang bernama Gongsun Qiang menjadi pejabat, ia teringat akan peringatan orang tuanya, dan ia pun pergi meninggalkan Cao Guo. Ternyata benar, Cao Boyang yang terlalu mempercayai hasutan Gongsun Qiang, ia melanggar perjanjian dan hendak berkuasa seorang diri, sehingga menyebabkan para sekutunya meninggalkannya dan pemberontakan terjadi dimana-mana, akhirnya ia dibinasakan pada tahun 487 SM.

Peristiwa yang terjadi di masa mendatang, mengapa bisa muncul di dalam mimpi diri sendiri atau orang lain? Darimanakah mimpi itu berasal? Bagaimana menjelaskannya? Ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa mimpi adalah sejenis aktivitas saraf pada lapisan kulit luar otak di saat tidur, namun sama sekali tidak dapat menjelaskan eksistensi mimpi yang bersifat ramalan ini. Sebenarnya di dunia kultivasi (pertapaan), ada mimpi yang merupakan pengalaman jiwa primer seseorang yang meninggalkan tubuh fisiknya dan memasuki alam dimensi lain, atau merupakan pemandangan yang direfleksikan oleh makhluk dari dimensi lain kepada si pemimpi.

Seperti mimpi ramalan, adalah jiwa primer diri sendiri yang lebih dulu melihat kejadian di masa mendatang dan merefleksikannya ke otak besar. Saya pernah membaca tentang sebuah mimpi ramalan tentang masa depan Tiongkok, masih kuat sekali dalam ingatan, dan saya sangat senang berbagi cerita ini dengan pembaca yang budiman. Pada 2 Januari 2009 di situs minghui.net dimuat mimpi seorang praktisi Falun Gong: Suatu hari dengan menggunakan teknologi mutakhir manusia mendeteksi akan terjadi suatu bencana besar, menyebabkan jumlah korban tewas tak terhitung banyaknya, sehingga manusia pun mulai panik dan berlarian sambil memberitahu yang lainnya… semua orang berkumpul menyanyikan lagu perpisahan, namun tak disangka semua datang begitu tiba-tiba… bencana raksasa itu pun datang begitu saja, saat itulah baru terlihat betapa kerdilnya manusia, semua perjuangan sia-sia belaka, jangankan tempat bersembunyi, air bah yang turun dari langit itu dalam sekejap mata menenggelamkan semua bangunan, bahkan serpihannya pun tak tersisa, disusul dengan api, bahkan bisa dikatakan ledakan… saat semuanya berhenti, mayat bergelimpangan dimana-mana… lalu di permukaan bumi terjadi perubahan besar, puing kehancuran dan mayat yang bertebaran menghilang, di muka bumi mulai tumbuh tunas rumput hijau, segala sesuatu di atas dunia dengan speed tercepat diperbaharui, langit seketika menjadi biru. Dunia pun memasuki suatu era baru.”

Apakah di masa mendatang akan terjadi seperti itu, tidak ada salahnya kita merenungkannya, mungkin dapat ditemukan jawaban dari mimpi ramalan yang dialami oleh Lincoln, Mark Twain, dan rakyat Cao Guo

Sumber: Forum.viva.co.id

Sabtu, 22 Juni 2013

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman Papua

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman PapuaOleh : Hady Sumiyanto


Sebuah pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan oleh si pelaku peristiwa. Kawan-kawannya habis dimangsa oleh segerombolan tikus raksasa. Sementara dia sendiri harus menderita cacat seumur hidupnya....

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



MASIH kuingat, waktu itu sekitar enam bulan lagi aku akan segera menikah dengan Tari, seorang gadis cantik desa tetangga. Sebenarnya, aku telah meminta agar pernikahan ini diundur satu atau dua tahun lagi, sebab secara lahir maupun batin aku memang belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Bukan berarti aku tidak mencintai Tari. Aku sangat cinta dan sayang kepadanya.

Aku memang tidak bisa berbuat banyak, ketika pihak keluarga Tari terus mendesakku. Padahal, sejak awal kujelaskan kepada mereka bahwa pernikahan itu bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk sepanjang hidupku. Apalagi ketika itu aku masih belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga penghasilanku pun sering tak menentu. Lantas bagaimana aku akan membahagiakan istriku nanti?

Tapi, oranng tua Tari berkata, "Masalah pekerjaan, kita pikirkan sambil jalan, Insya Allah pasti ada jalan keluarnya," tegas Ayahnya Tari mantap. Kata-kata inilah yang pada akhirnya memaksaku untuk menyerah.

Sambil menunggu hari saat akan bersanding sebagai pengantin, aku berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan yang layak. Di samping untuk menambah dana pernikahan nanti, aku juga berharap, kelak pekerjaan ini akan bisa menopang rumah tanggaku.

Nah, ditengah kebingunganku mencari pekerjaan, tiba-tiba aku kedatangan seorang tam. Namunya Yajid. Dia teman karibku sewaktu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. Lima tahun kammi berpisah, dan selama lima tahun itu pula kami tidak pernah saling berkomunikasi. Jadi wajar, jika kedatangannya yangg mendadak membuatku jadi sedikit terkejut.

Apalagi, penampilan Yajid di mataku benar-benar berubah. Pakaian yang dipakainya bermerk dan sangat necis. Wajahnya yang tampan, semakinn gagah dibalut busananya yang kelihatan elegan. Padahal, sewaktu duduk di SMA dulu, Yajid kelihatan culun sekali. Tubuhnya kurus, tapi sekarang kelihatan lebih lebih berotot dan tegap. Mungkin karena pengalaman telah mengajarkan dia, bagaimana harus menjaga penampilan.

Setelah ngobrol kesana-kemari, akhirnya kuceritakan tentang masalah yang tengah kuhadapi saat itu. Syukurlah, dengan tangan terbuka, Yajid mau membantuku untuk melamar pekerjaan di perusahaan tempat bekerjaan. Atas rekomondasinya, kemungkinan besar aku pasti diterima. Apalagi aku sudah berpengalaman naik turun gunung sebagai pecinta alam.

Singkat cerita, seminggu setelah mengajukan surat lamaran ke Surabaya, Yajid datang lagi sambil membawa surat panggilan bekerja untukku. Dan besok harinya aku harus berangkat bersama Yajid dan Tim Ekspedisi dari perusahaan itu ke suatu tempat di pedalaman yang sebut Yajid sebagai sebuah lembah bercadas. Pikirku tak masalah, sebab aku sangat menyukai petualangan.

Setelah mendapatkan kepastian bekerja, hari itu juga, aku datang ke rumah calon mertuaku. Kuutarakan niatku untuk memenuhi pannggilan pekerjaan tersebut. Tari dan kedua orang tuanya terang-terangan tidak setuju. Sebab, kepergianku ini sangat jauh, ke pedalaman Irian Jaya. Apalagi ketika itu hari pernikahan kami tinggal enam bulan lagi.

Dengan berbagai alasan, akhirnya aku dan Yajid berhasil menyakinkan mereka, kalau di hari pernikahan nanti aku pasti akan pulang dengan selamat. Apalagi pihak perusahaan telah memberiku uang trasport dan akomodasi. Sayang, kalau dibatalkan. Ditambah lagi, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak sulitnya minta ampun.

Kalau ayah dan ibuku, memang sudah biasa kutinggalkan jauh berlama-lama. Mereka memang tidak ingin membatasi kreativiitasku. Meski begitu, aku tahu, sebagai orang tua, sebenarnya mereka juga khawatir sebab sekali ini aku pergi ke tempat yang benar-benar jauh dan sangat asing. Memang mereka tidak memperlihatkan kekhawatirannya itu.

Aku pun mencoba untuk tidak memperdulikan kecemasan kedua orang tuaku. Lagi pula, aku sudah terlalu sering meningglkan rumah untuk menaklukkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Toh akhirnya aku selalu pulang juga dengan selamat. Jadi, tak ada alasan bagi kedua orang tua dan adik-adikku untuk khawatir yang berlebihan. Sebab, mereka percaya kalau aku bisa menjaga dan membawa diri.

Hari itu, tepat pukul 5 pagi, aku dan Yajid berangkat meninggalkan kota kecilku menuju kantor di Surabaya. Karena jarak rumah kami sangat jauh, sembilan jam kemudian kami baru sampai di kantor untuk mengurus administrasi, mengambil tiket pesawat yang sudah disiapkan oleh perusahaan dan segala keperluan akomodasi lainnya.

Pukul 5 sore, kami terbang ke provinsi Papua Timur, yaintu Jayapura, lewat Bandara Juanda. Sekitar pukul 18.20 WIT, kami sudah mendarat di Bandar Udara Sentani. Ternyata di ruang tunggu kehadiran kami sudah dinanti oleh seorang yang kemudian kukenal seebagai Pak Amat. Dia adalah sopir perusahaaan yang diutus menjemput kami. Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai di kantor pusat perusahaan di Sentani. Setelah mengisi laporan, kami pun diantar ke sebuah hotel untuk istirahat.

Saking lelahnya dalam perjalanan, aku dan Yajid bangun pukul 10 pagi. Setelah mandi dan sarapan, semua karyawan berkumpu di aula untuk mendengarkan pengarahan dan jalur yang akan dilewati besok. Yang memberi pengarahan adala pemimpin ekspedisi, Pak Lutfi, dari TNI.

Rencananya, kami akan melewati kecamatan Sawesuma dan menyeberanngi sungai Sermowai.Sungai itu sangai lebar dan merupakan sarang binatang yang sangat menyeramkan, buaya. Letek sasaran yang dituju adalah di sekitar sungai tersebut. Sesuai dengan pengarahan, di daerah itu ada sebuah lembah tak bertuan yang mereka beri namasebagai Lembah Cadas.

Aku sama sekali tak menduga. Ternyata, pekerjaan yang akan kami lakukan adalah berburu sarang burung walet. Dan pekerjaan ini legal, karena disponsori oleh negara. Liur burung walet yang bernilai tinggi tersebut, nantinya akan diolah menjadi berbagai obat-obatan dan makanan yang bergizi tinggi, atau juga diekspor ke sejumlah negara. Waktu itu, seporsi sub burung walet berukuran mangkuk sedang, bisa dihargai antara 35-50 ribu rupiah. Saking mahalnya, sub buurung walet hanya ada di hotel kelas satu atau hotel bintang lima.

Waktu yang ditentukan telah tiba. Jumlah rombongan ada 50 orang di tambah 5 orang dari TNI AD dan 3 orang dari Kepolisian. Tugas mereka untuk mengawal pekerjaan kami. Jadi jumlah rombongan totalnya 58 orang. Menurut Pak Lutfi, kalau tidak dikawal pihak keamanan, bisa-bisa hasil pekerjaan kami yang berat itu akan dijarah oleh para perampok.

Setelah menempuh perjaalanan darat sejauh 35 Km dari Sentani ke kecamatan Sawesuma, kami turun dari mobil dan berjalan sejauh 10 Km. Setelah itu, barulah kami sampai di pinggir sungai Sermowai. Meski sungai tersebut penuh dengan buaya, akhirnya kami berhasil juga melewatinya. Sebab, kami juga melibatkan penduduk sekitar yang bisa menjadi pawang buaya. Namanya Alex Warobay. Di tangannya, masalah binatang reptil yang ganas tersebut bisa teratasi.

Akhirnya, kami sampai juga di Lembah Cadas. Batu-batu cadas tersebut berdiri dengan kokoh dan tinggi menjulang. Batu-batu itu berdiri seperti barisan tentara di tengah sungai. Nah, di tebing yang curam dan licin itulah, bergelantungan beribu-ribu burung walet, dan tuggas kami adalah mengambil sarang-sarang burung walet itu dengan hati-hati. Sebab, kalau tidak hati-hati, burung walet itu akan terbang pergi dan tidak akan kembali lagi.

Dengan peralatan panjat tebing berupa sling dan tambang yang kuat, kami pun bergelantungan bahkan tengkurep dan merayap untuk mengambil sarang burung walet. Sementara, di bawah air sungai yang kecoklatan dipenuhi dengan buaya yang sewaktu-waktu siap menerkam dan melumat tubuh kami bila tali tambang khusus yang kami pegangi putus dan kkami terjatuh ke dlam sungai.

Pekerjaan ini memang pekerjaan berat dan membutuhkan keberanian serta kesiapan mental. Lengah sedikit saja, maka, nyawa taruhannya. Namun syukur Alhamdulillah! Setelah 10 jam, kami berhasil menyelesaikan pekerjaan ini dengan selamat. Dan kami berhasil mengumpullkan sarang burung walet seberat 125 Kg.

Sarang burung walet yang telah kami berhasil kami kumpulkan, kemudian dibawa oleh petugas dan beberapa karyawan untuk dikirim ke kantor. Sementara, beberapa karyawan yang lain istirahaat di dalam tenda yang telah disiapkan sebelumnya.

Aku, Yajid dan beberapa karyawan lain duduk di depan tenda sambil makan roti bakar dan ubi bakar. Api ungun selalu menyala sebagai penghangat tubuh. Sambil mengelilingi api ungun, kami berdendang riang dengan diiringi gitar, mirip anak-anak SMA yag tengah berkemah dan baru belajar mengenal hutan.

Ketika aku sedang asyik berdendang, entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seekor tikus besar lewat di sekitar api ungun. Tanpa dikomando, teman-teman berlomba menangkapnya. Di mataku, ukuran tikus itu benar-benar besar, sehingga mirip dengan kelinci.

Karena dikepung ramai-ramai, tikus itu berhasil mereka tangkap. Entah bagaimana, aku merasa iba melihat hewan tak berdaya itu. Aku pun berusaha merayu teman-teman agar melepaskan binatang tersebut. Tapi, teman-teman tidak memperdulikan permintaanku.

"Kau tahu, daging tikus jenis ini enak sekalli kalau dibakar!" Kata salah seorang dari mereka. Yang lain tertawa-tawa menyambutnya.

Aku menyerah. Dalam waktu yang singkat, tikus tersebut dibakar, dipotong, dan segera dikuliti, lalu dipanggang mirip babi guling. Kemudian dalam sekejap, sudah ludes jadi santapan mereka. Aku yang tak kuasa mencegah kekejaman mereka hanya diam menyaksikan pesta kecil itu.

Anehnya, ketika teman-teman baru menyelesaikan santapan daging tikus itu, mendadak ada seekor tikus lagi melintas. Kali ini lebih besar dan montok. Teman-teman berusaha menangkapnya. Tapi tikus ini rupanya jauh lebih cerdik dan gesit. Dia berlari masuk ke dalam gua kecil dekat perkemahan kami. Yohanes, salah seorang anggota tim, nekad berlari mengejar sambil membawa kayu yang sudah membara. Begitu juga dengan beberapa teman yang lainnya.

Akibatnya, lubang gua yang tidak terlalu besar itu dipenuhi oleh bara api. Dan Yohanes bersiap-siap menangkap tikus yang bersembunyi di dalam gua tersebut. Namun, apa yang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah tempat kami berpijak. Dan dalam hitunngan detik, dari dalam guakeluar tikus-tikus besar banyak sekali jumlahnya.

Tikus-tikus tersebut menyerang siapa saja yang ada didekatnya. Kulihat Yohanes terjatuh ketika menghindari tikus-tikus yang menyerang. Dia terjerembab ke tanah dan tubuhnya yang tegap itu segera menjadi santapan tikus-tikus tersebut.

Tak hanya itu, tenda tempat kami perkemahan kami juga hancur digigit gerombolan tikus-tikus itu. Sementara, Aku dan Yajid berusaha berlari sekencangnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran para tikus yang kesetanan itu. Tapi rupanya terlambat. Entah bagaimana, bumi tempat kami berpijak tiba-tiba runtuh. Dan kami pun ikut amblas ke dalam bumi.

Di dalam tanah yang kedalamanya sekitar sepuluh meter dari permukaan, aku dan Yajid melihat tikus-tikus besar dengan taringnya yang kuat dan tajam. Mereka sepertinya telah bersiap mencabik-cabik tubuh kami. Kulihat pula teman-teman pada teriak histeris menahan sakit. Bahkan, beberapa di antara mereka, dalam waktu sekejam saja tubuhnya hanya tinggal tulang-belulang.

Aku berusaha menyelamatkan diri. Ya, aku berusaha untuk selamat dari pertarungan yang aneh ini. Aku segera menarik Yajid dan kami berusaha untuk naik ke atas. Sialnya, tikus-tikus itu begitu gesit dan lincah. Hingga wajahku, kaki kananku, juga pundakku berhasil digigit hewan pengerat tersebut.

Aku dan Yajid berusaha sekuat tenaga untuk melawandan sebisa mungkin menghindari mereka. Darah segar muncrat dari sekujur tubuh kami. Tapi kami tidak menyerah. Kami berusaha untuk naik ke permukaan. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil.

Selanjutnya, kami terus berlari sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat guna menjauh dari tempat aneh itu. Celakanya, tikus-tikus itu seperti telah dirasuki naluri untuk membunuh. Mereka tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja. Kami terus berlari, dengan tikus-tikus yang terus mengejar!

Untunglah, ada sepasang suami istriyang menolong kami. Aneh sekali, tikus-tikus besar itu berhasil mereka halau hanya dengan melempar garam. Selanjutnya, aku dan Yajid dibawa ke rumah para penolong kami tersebut. Setelah luka-luka kami dibersihkan, kami pun diobati dengan ramuan berupa dedaunan. Meski awalnya terasa sangat perih, namun ramuan itu terbukti dapat menghilangkan rasa sakit, bahkan kemudian kami tertidur pulas.

Menjelang Subuh, aku mendengar suara orang perempuan merintih, menahan sakit di dalam kamarnya. Segera kubangunkan Yajid. Kami kemudian berusaha mengintip dari balik daun pintu. Ternyata, istri si penolong tadi mau melahirkan. Aku dan Yajid keheranan, sebab, waktu wanita itu menolong kami jelas sekali tidak dalam keadaan hamil. Perutnya juga biasa, tidak besar, bahkan terkesan langsing.

Tapi, aneh! Kok bisa tiba-tiba perutnya membesar seperti orang yang hamil 9 bulan. Belum sempat kami berpikir lebih jauh, tiba-tiba kami melihat terjadi sesuatu keanehan. Dari dalam perut wanita itu yang keluar bukannya si jabang bayi manusia, tapi tikus-tikus sebesar lengan yang masih berwarna merah. Sontak kami pun bergidik ketakutan.

Segera saja kami keluar dari tempat itu, dan selanjutnya kami berlari sekuat tenaga hingga kahirnya kami jatuh dan pingsan. Ketika aku membuka mata, tahu-tahu sudah ada di rumah sakit. Dan disampingku juga terbujur tubuh Yajid. Kaki kirinya diamputasi dan kedua dau telinganya juga lenyap. Aku terkesiap. Tak terasa air mataku mengalir deras.

Kuraba tubuhku. Subhanallah! Ternyata aku telah kehilangan lengan kiriku, dan pipiku yang sebelah kanan growak cukup dalam. Aku berteriak histeris, tapi tetap saja teriakkan itu tidak akan mengembalikan wajahku dan lenganku seperti semula, sebab aku telah menjadi orang cacat sepanjang hidupku.

Dan aku tidak tahu, apakah Tari masih menerimaku atau tidak. Apakah kelakk ada wanita yang siap menjadi calon istriku, karena aku tidak lagi gagah dan tampan?

Kini, diusia yang sudah menjelang kepala 5 aku masih tetap hidup sendiri. Dengan harapanuntuk meringankan beban hidupku, maka sengaja kuceritakan kisah pahitku ini kepada Misteri. Semoga para pembaca menjadi percaya dengan keberadaan bentuk-bentuk kehidupan lain di jagad raya yang penuh dengan misteri ini.

http://iwanlovers.wordpress.com/2011/11/12/bertarung-dengan-kawanan-tikus-siluman-di-pedalaman-papua/

SUMBER : Misteri, Edisi 452, Tahun 2008