Rabu, 24 Juli 2013

Misteri Tangisan Wanita di Air Terjun Tegan Kiri

Kabupaten Bungo memiliki objek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Satu di antaranya adalah Air Terjun Tegan Kiri, yang terdapat di Dusun Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan. Air terjun yang kini menjadi sumber air warga Rantau Pandan ternyata memiliki cerita tersendiri.

Untuk bisa melihat keindahan Air Terjun Tegan Kiri, harus menempuh perjalanan darat dengan jarak kurang lebih 30 km dari ibu kota Kabupaten Bungo, Muara Bungo, Jambi. Pengunjung bisa menggunakan sepeda motor maupun mobil karena infratruktur jalan menuju ke sana sudah meski tak begitu mulus.

Aspal di badan jalan telah banyak yang terkelupas. Namun para pengunjung tidak akan kecewa setelah sampai di air terjun yang kini juga dijadikan sumber air yang masuk kerumah warga Rantua Pandan, itu. Air terjun yang memiliki tinggi lebih kurang 10 meter, terlihat sepi dan tidak ada pengunjung lain yang ingin menikmati indahnya pesona alam ini.

Di pintu masuk objek wisata tersebut terlihat palang penutup dan terdapat penjaga tiket masuk. Pengunjung harus membayar tiket Rp 10 ribu per orang. Lalu setelah sampai di dalam, kita juga akan diminta untuk membayar uang parkir kendaraan sebesar Rp 5.000.

Air terjun tersebut menurut masyarakat setempat, pertama kali ditemukan oleh suku anak dalam (SAD) ini, yang kini menjaganya. Mereka terdiri dua keluarga, yakni penjaga pintu masuk dan penjaga parkir. Untuk mencapai air terjun tersebut, pengunjung harus menuruni tangga beton terlebih dahulu.

Ada cerita mistis tentang air terjun itu. Berdasarkan cerita dari masyarakat, terdengar suara tangis dari seorang gadis di sana saat turun hujan disertai panas.

“Memang betul, di sini sering terdengar suara gadis menanggis jika ada hujan panas,” kata Darna (49) yang telah dua tahun menjaga air terjun tersebut.

Katanya, meski sering terdengar suara gadis menangis, mereka tidak pernah digangu oleh apapun termasuk dari sumber suara tersebut. “Kami sering mendegarnya. Hanya suaranya saja,” akunya.

Darna menceritakan, sewaktu dirinya masih kecil, air terjun tersebut pertama kali ditemukan oleh orang Kubu (SAD). Mereka kemudian memberitahukannya ke penduduk dusun.

Menurut Darna, di lokasi air terjun tersebut juga pernah tumbuh bunga bangkai. “Dulu pernah ada dua orang anak gadis meninggal saat memegang bunga bangkai. Makanya setelah itu sering terdengar suara gadis menanggis,” jelasnya.

.Ia mengatakan, saat ini pengunjung yang datang kelokasi tersebut tidak begitu ramai. Pengunjung ramai hanya saat Lebaran. “Sekarang pengunjungnya sepi, makanya tidak ada orang yang berjualan,” ujarnya. (dbs)

Palembang Post, Jumat, 28 Juni 2013

Senin, 22 Juli 2013

Islamic Wallpapers (part 2)

Islamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers
Islamic WallpapersIslamic Wallpapers

Minggu, 14 Juli 2013

Surau di Pinggir Sungai

Surau di Pinggir Sungai

Parade Cerpen Ramadhan 1443 H



Cerpen: Bangga Surya Nagara

Seorang bocah tujuh tahunberjalan menunduk sambil memegang erat gamis Ibunya. Berjalan menatap tanah yang dipijaknya. Sesekali ia melirik melihat anak-anak yang sibuk bermain di halaman surau. Ibunya membelai kepala bocah itu, seakan paham tentang perasaan anaknya saat itu. Si bocah semakin takut saat masuk ke surau yang lantainya sudah bolong termakan usia. Dari jauh seorang pria berusia sekitar duapuluh lima sampai tigapuluh tahun tersenyum dan segera menyongsong kedatangan ibu dan sibocah yang masih ketakutan.

Assalamu'alaikum Uni..." ujar pria tadi sambil merapatkan tangan ke dadanya.

"Wa'alaikumsalam Ustadz...," balas si Ibu.

"Jadi ini Fajar yang akan mengaji di sini?" ujar Ustadz muda itu sambil tersenyum ke arah Fajar.

"Iya Ustadz, tolong dibantu ya Ustadz. Sudah seringkali pndah tempat mengaji, tapi juga belum juga lancar. Kadang Fajar ini malas mengaji Ustadz." Si Ibu menceritakan kebiasaan buruk anaknya pada Ustadz muda itu.

"Iya Bu... Insya Allah saya bantu," jawabnya.

Mulai sore itu, Fajar resmi menjadi salah satu murid Ustadz Rajab, guru mengaji di surau pinggir sungai, begitu masyarakat menyebut nama surau itu. Posisinya yang persis di pinggir sungai membuat surau itu lebih terkenal sebagai surau pingir sungai. Sudah sejak lima tahun lalu surau itu kembali ramai oleh suara anak-anak mengaji, suara murid-murid yang sedang menghafalkan surat-surat pendek, dan bacaan shalat. Terkadang juga terdengar suara Ustadz Rajab yang menceritakan kisah-kisah kepahlawanan sahabat Nabi. Ba'da Ashar surau pinggir sungai menjadi tempat berumpulnya anak-anak untuk belajar mengaji.

Dulu suarau itu tidak ada yang mengurus dan terbangkalai. Hanya menjadi tempat beristirahat para petani yang baru pulang dari ladang. Tak heran banyak ditemukan ular dan tikus di surau itu. Namun sejak Ustadz Rajab yang lulusan pesantren pulang kampung, surau itu berubah menjadi tempat yang hidup karena suara kecil anak-anak yang belajar kalam Allah. Ustadz Rajab sangat mencintai surau itu seolah surau itu adalah rumah baginya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Sudah seminggu Fajar belajar di suaru pinggir sungai ta[i belum juga ada perkembangan. Bacaan Al-Qur'annya masih terbata-bata. Hingga suatu sore Ustadz Rajab memanggilnya.

"Fajar, mulai hari ini kamu pulang agak belakangan dari tean-temanmu. Saya sudah bicara dengan orangtuamu. Setiap hari kita belajar tambahan satu jam, untuk memantapkan bacaanmu."

"Iya Ustadz." Fajar mengiyakan dengan hati agak dongkol karena jika ada pelajaran tambahan berarti waktunya untuk bermain sepulang mengaji akan tersita. Fajar mengerutu di dalam hati.

Selepas murid yang lain pulang, Fajar sudah duduk di depan Ustadz Rajab. Di hadapannya sudah ada Al-Qur'an yang tulisannya beasr-besar. Ustadz Rajab memegang rotan kecil yang panjangnya sekitar tiga jengkal orang dewasa. Fajar membayangkan rotan itu mendarat di tangannya.

"Mulai baca," perintah Ustadz Rajab.

Fajar mulai membaca dengan gugup dan terbata-bata. Setiap kesalahan yang dilakukannya akan mendapatkan hadiah sebuah rotan dari Ustadz Rajab, tapi itu membuatnya bertekad untuk tidak melakukan kesalahan. Satu kesalahan, satu pukulan rotan. Kalau dua kesalahan, berarti dua pukulan rotan.

Seminggu berjalan tapi bacaan Fajar belum juga menunjukkan perkembangan. Ustadz Rajab mula kebingungan dengan anak didknya yang satu ini. Mencari metode yang pas untuk mengajarkan Al-Qur'an padanya.

"Fajar, kenapa bacaan Al-Qur'anmu belum juga berubah? Masih terbata-bata. Apa kamu tidak malu dengan temanmu yang lain yang usianya lebih muda? Mereka sudah bisa membaca dengan fasih. Kasihan ibumu yang sangat ingin kamu bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Harusnya kamu berusaha lebih giat Fajar."

Kata-kata Ustadz Rajab sore itu membuat airmata Fajar jatuh. Mungkin karena takut, mungkin juga karena ia menyadari kesalahannya yang selalu belajar dengan hati dongkol dan tidak ikhlas. Sore itu ia bertekad, dalam satu minggu ke depan ia harus bisa dan lancar membaca Al-Qur'an.

Suara gemericik air sungai di samping surau menjadi saksi bisu keinginan seorang bocah yang ngin bisa mengaji dengan baik. Matahari mlai bergerak turun ke peraduan mengiringi langkah Fajar pulang ke rumanya dengan tekad minggu depan Ustadz Rajab akan tersenyum bangga padanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Libur cuti tahun in sudah semakin dekat, tak terasa datangnya bulan ini menghadirkan kerinduan dihati Fajar. Kerinduan untuk datang mengunjungi surau pinggir sungai tempat a belajar mengaji dulu. Surau tempat ia menghafal bacaan shalat setiap sore sebelum pulang. Surau yang mempunyai kenangan mendalam dihatinya. Entah kapan ia bisa mengunjungi surau itu lagi, menengok Ustadz Rajab yang sangat ia kagumi.

"Apa kabar Fajar? sudah kerja ya? emoga sukses dan selalu dalam lindungan-Nya. Dari Ustadz Rajab." Begitu pesan singkat yang diterima Fajar sore itu sepulang ia bekerja. Fajar tersentak, lalu membaca ulang pesan singkat yang masu ke ponselnya. "Apa benar ini Ustadz Rajab guru mengajiku dulu?" batin Fajar. Tanpa menunggu lama Fajar langsung menghubungi si pengirim pesan singkat tadi, Ustadz Rajab.

Lamunannya melayang ke limabelas tahun lalu. Suara gemericik air Sungai Batang Kapur yang mengalir persis di samping surau tempatnya mengaji terbayang jelas. Suara kodok yang bersahutan di sore hari ditingkahi hafalan bacaan shalat anak-anak dengan suara-suara keras memenuhi kepala Fajar. Kerinduannya semakin membuncah ntuk mengunjungi suarau itu. Surau yang tidak hanya mengajarkan mengaji tetapi juga mengajarkan tentang akhlak, dan sopan santun.
br />Cerita-cerita heroik sahabat Nabi yang diceritakan setiap subuh minggu oleh Ustadz Rajab adalah metode pendidikan dengan contoh yang diajarkan Ustadz Rajab kepada murid-muridnya. Dulu Fajar sangat menyukai saat Ustadz Rajab menceritakan kisah Umar bin Khattab, kisah sahabat yang iblis pun tak berani bila bertemu dengannya di jalan. Fajar juga menyukai kisah Ali bin Abi Thalib yang ikhlas menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya ketika kaum kafir ingin membunuhnya. Ah, kisah-kisah ini sungguh menjadi pembelajaran secara tidak langsung dari Ustadz Rajab di surau pinggir sungai. Kisah-kisah teladan yang akan selalu membekas di hati Fajar.

"Apa kabar surau itu sekarang?" Fajar bergumam dalam hati.

"Masihkah ramai oleh celoteh anak-anak?"

Obrolan dengan Ustadz Rajab via telepon menyratkan kekecewaan, itu tergambar jelas dari suara Ustadz Rajab yang sangat lemah saat Fajar menanyakan kondisi surau itu sekarang. Apalagi saat Fajar menanyakan bagaimana murd-muridnya sekarang. Ustadz Rajab hanya menawab. "Nanti kalau ada waktu luang, mapirlah ke sni. Sama-sama kita lihat surau kita dulu."

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Kegembiraan terpancar di wajah Fajar siang itu. Permohonan untuk cuti dikabulkan pimpinannya. Berarti tak lama lagi ia bisa pulang kampung. Menemani Ibu, Ayah, dan keluarganya yang lain. Fajar juga tak sabar ingin mengunjungi surau pinggir sungai, menikmati suara gemericik airnya di sore hari sambil memperhatikan Ustadz Rajab mengajari murid-muridnya membaca dan memahami Al-Qur'an. Tak sabar juga juga ia ingin hadir pada Subuh minggu untuk mendengarkan lagi cerita-cerita dari mulut Ustadz Rajab. Rasanya hari-hari ingin segera dipercepat.

Pesawat yang membawa Fajar akhirnya tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Segera Fajar memesan tiket bus menuju kampung halamannya, sekitar tiga jam dari Kota Padang. Di sepanjang jalan alam mempersembahkan panoramanya yang indah dengan sawah-sawah hijau membentang di kaki gunung Merapi dan Singgalang. Tak rela Fajar memejamkan matanya, tak ingin ia melewatkan keindahan alam ini.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Sepi, sunyi, hanya gemerick air yang terdengar. Sesekali terdengar ejaan hurf hijaiyah tapi bukan dari mulut anak-anak kecil. Bukan dari mulut-mulut mungil yang bersemangat membaca Al-Qur'an dengan bersemangat dan suara lantang. Ejaan-ejaan yang terdengar dari orang-orang dewasa yang baru belajar mengaji ketka hendak menikah. Bukan dari anak-anak yang belajar mengaji karena semangat.

Fajar tertegun dengan apa yang dilihatnya. Sekarang suarau ini memang megah, lantainya terbuat dari keramik mengkilat, tiang-tiangnya pun kokoh dan permanen. Sebuah mimbar bagus dari kayu jati berdiri dengan gagahnya, tapi surau ini sepi. Hanya ada lima orang dewasa yang sedang belajar mengaji, terbata, mengeja. Tidak ditemukan lagi anak-anak yang dengan suara lantang menyebutkan huruf hijaiyah seperti dulu.

"Inilah surau kita dulu Fajar," ujar Ustadz Rajab.

Dulu Sungai Batang Kapur menjadi saksi bisu anak-anak yang bertekad kuat belajar mengaji dengan sungguh-sungguh. Sekarang, sungai itu tetap bisu dengan sepi yang melanda surau yang berdiri gagah di pinggirnya. Bangunan gagah namun sepi (*)

Citra Budaya



Sumatera Ekspres, Minggu, 14 Juli 2013


Terhipnotis Cinta yang Ditolak

Terhipnotis Cinta yang DitolakOleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mengunjungi sahabatku Lestari yang telah belasan tahun tak bertemu. Keinginan itu tak bisa kutahan. Rumah Lestari berada di pinggiran Kota Jakarta, sudah masuk wilayah Kodya Bekasi. Melihat kedatanganku ia menyambut gembira. Begitupun keluarganya, membuatku terkesan. Mereka tetap akrab dan ramah, meski aku tak bawa buah tangan

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


"Sudah lama tak ketemu. Rasanya kangen sekali," ucap mereka sembari menyalamiku.

"Aduh, maaf ya, bu, saya nggak bawa apa-apa. Tadi niatnya mau mampir ke pasar. Eh angkotnya nerus saja. Jadi lupa deh," jelasku sedikit basa-basi. "Lagian si Neng nggak mau main ke sini. Sombong, deh," goda ibu sahabatku.

"Jangan didoain sombong dong bu, entar saya sombong beneran," sahutku diiringi derai tawa. Tapi mataku tak dapat ditipu. Aku melihat ada garis kesedihan terpancar di wajah polos mereka. Wajah yang berubah layu, seakan menyimpan suatu duka. Aku mencoba mencari tahu akar kesedihan mereka.

"Kenapa anak-anak tdak diajak neng?" Tanya ibunya. aku tersenyum lalu kuhirup teh di atas meja. "Maaf bu, saya haus sekali."

"Neng Lastri sekarang anaknya berapa?" tanya si ibu. "Dua bu. Yang pertama perempuan dan yang edua laki-laki," jawabku singkat. "Syukurlah sudah sepasang."

"Maaf ya, bu. Buan maksud saya ingin tahu. Kalau saya lihat dari raut waja ibu sekeluarga sepertinya sedang ada masalah. Barangkali saja saya bisa bantu?" ucapku. Lestari, sahabatku, beranjak dari duduknya dan berlari masuk ke kamar. Aku merasa tidak enak. Sedangkan ibunya kulihat meremas-remas ujung kebayanya. Aku menarik napas panjang. Ada rasa sesal atas pertanyaanku yang kulontarkan tadi.

"Maaf bu. Bukan maksud............"

"Nggak apa-apa kok neng. Neng sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Selama ini kepedihan yang ibu rasakan seakan-akan sudah mau meledak. Saking nggak kuatnya melihat penderitaan si Lestari!"

"Penderitaan Lestari? Apa maksud ibu?" tanyaku. Aku emain tidak mengerti. Kupegang tangan kurus itu. Kulihat bibirnya gemetar. Kugenggam erat tangannya. Kutepuk-tepuk telapanya dengan lembut.

"Sudahlah, bu, lupakan pertanyaan saya tadi. Minum.....?" Kusodorkan segelas air putih. Setelah minum, ia kelihatan ebih tenang. Aku berusaha meredam keingintahuanku. Kulangkahkan kaki ke kandang ayam yang isinya telah kosong.

"Ayamnya telah lama dijual Bapak. Habis mati melulu," sela Lestari yang tba-tba sudah berada di sampingku. Di tangannya tergenggam sesuatu. "Nggh, sayang ya! Las........., sebenarnya aku bercerita padamu, tapi aku malu. Aku takut kamu tidak mempercayainya." Kupandangi wajah Lestari. Begitu beratkah bebannya sampai-sampai ia kikuk untuk menceritakan padaku?

"Kalau begitu, nggak usah saja! Paling-paling aku cuma mendengarkan saja kan? Lalu kamu pikir setelah tahu aku akan tertawa ngakak. Begitu kan......?" Gantian Lestari yang menatap ke arahku, lalu berpaling seakan ia berusaha bicara tapi tak kuasa. "Apa itu?" Aku menunjuk sesuatu yang digenggamnya. Lestari membuka telapak tangannya.

"Seperti Isim ya? Dari mana? Punya kamu?" Ia mengangguk. Kuraih Isim tersebut. Kubuka isinya. Sederetan tulisan Arab yang tak kumengerti maknanya. "Aku diberi ini oleh Mas Joko."

"Mas Joko! Siapa dia?" tanyaku.

"Suamiku." Aku terperangah.

"Jadi kamu telah menikah? Kapan?"

Lestari menarik tanganku. Dibimbingnya aku memasuki rumahnya. Setiba di dalam kamarnya, kudapati photo seorang laki-laki tampan berpakaian ABRI.

"Oh...... ini Mas Joko!" Lestari mengangguk. Kuturunkan bingkai photo itu. Kuusap debu yang menutupi sebagian pinggirnya.

"Aku malas membersihkannya. Malah kadang ingin kubuang sajja...."

"Kenapa?" tanyaku lagi. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur.

"Aku merasa sudah tak berarti lagi baginya," ucapnya lirih.

"Kalian bercerai?" Ia menggeleng. Kulihat tatapan matanya kosong. Lalu menyusul setetes air mata jatuh di pipinya. Kuambil tissue dari saku celana dan kuberikan padanya. Ia menghapus air matanya. Aku kembalikan photo pada tempatnya. Aku duduk di samping Lestari. "Sebenarnya ada apa? Aku jadi penasaran!"

"Karena kamu temanku, akan kuceritakan apa yang telah menimpaku."

"Tiga tahun lalu aku bertemu Mas Joko. Waktu ia sedang mengikuti program ABRI Masuk Desa. Desaku mendapat giliran. Mereka memperbaiki jalan dengan sirtu (pasir dan batu). Dari ujung desa hingga ke desa lainnya. Waktu itu kelompokku dapat giliran menjamu mereka. Akulah yang disuruh Pak Kades mengantarkan makanan. Melihat kedatanganku, mereka yang tengah bekerja seakan tersentak, berhenti. Tanpa komando mereka memandangiku. Aku malu. Aku grogi dipandangi belasan pasang mata lelaki."

"Habis kamu cantik sih. Kalau aku jadi laki-laki, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama," godaku. Ia tersipu, lalu melanjutkan ceritanya. "Melihat tatapan mereka, aku buru-buru meletakkan makanan lalu cepat balik. Akibat buru-buru ujung sandalku terjepit sebongkah batu. Hampir aku jatuh kalau tanganku tidak diraih seseorang. Tanpa melihat yang menolongku, aku terus saja berlari pulang.

Setelah itu setiap giliran kelompokku, aku menolak ikut mengantarkan makanan. Ketidakhadiranku ternyata membuat seseorang mendatangiku. Dialah Mas Joko, yang berpangkat Sersan Satu. Awalnya aku terkejut, tapi melihat sikapnya yang santun dan harmonis, aku jadi menyukainya. Keluargaku juga ikut akrab. Aku tak kuasa menolak cintanya. Bahkan komandannya sendiri datang ke orang tuaku untuk melamarkan. Melihat keberuntunganku, banyak temanku jadi iri dan sirik.

Sebelum aku resmi jadi istrinya, dibawanya aku ke Jakarta untuk menemui pamannya yang mengasuhnya sejak kecil. Orang tua Mas Joko telah lama meninggal. Ia anak tunggal.

Cintaku semakin tumbuh. Meski punya banyak kesempatan menjamah tubuhku, apalagi bakal jadi istri, tapi sikap Mas Joko tetap sopan. Katanya nanti saat malam pertama. Ia hanya mengecup keningku.

Lestari terdiam. Nada bicaranya yang tadi bersemangat mengendor dan raut wajahnya muram. "Ada apa Les, kok berhenti.........?" Dipandanginya wajahku.

"Kamu kenal kan sama si Faruk?" tanyanya. "Faruk! Faruk yang mana?" Aku berusaha mengorek isi kepalaku untuk mengingat wajah Faruk.

"Faruk yang dulu mengambil sandalmu yang hanyut di sungai? tebakku. Lestari mengangguk.

"Lalu kenapa dengan dia? Apa hubunganya denganmu? tanyaku. Ia melanjutkan ceritanya.

"Faruk, ternyata diam-diam mencintaiku. Mendengar aku dilamar orang, ia mengamuk. Dengan membawa parang ditebasnya seluruh pohon pepaya dan pisang milik orang tuanya. Dengan berteria-teriak ia acungkan parangnya, menantang siapapun yang mencegah amuknya. Penduduk ketakutan. Berita Faruk mengamuk sambil menyebut-nyebut namaku ceoat tersebar. Aku dan keluargaku jadi ketakutan, apalagi setelah tahu Faruk sedang menuju rumahku.

Mas Joko berusaha menenangku. Pak Kades sendiri tak kuasa mencegah. Kami semua tahu Faruk, walau masih muda, ia suka mempelari ilmu hitam. Ia sering tidur di kuburan atau duduk-duduk di bawah pohon waru di tepi kali. Padahal waru itu terkenal angker. Kalau diperingatkan pasti marah. Bahkan tak segan-segan mengancam dan melukai orang yang menegurnya. Ia merasa jadi jagoan. Apapun yang diinginkan harus dimiliki.

Setiba di rumah ia berteriak-teriak memanggilku dan menantang duel dengan Mas Joko, tapi tak diladeni. Merasa diremehkan ia nekad menerobos masuk rumahku. Warga kampung yang hanya bisa berkerumun. Mereka takut jadi korban keganasan Faruk yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Teman Mas Joko yang berusaha melerai banyak yang kena sabetan. Mereka mundur setelah jatuh korban.

Melihat Faruk semakin brutal, Mas Joko terpaksa menembaknya untuk melumpuhkannya. Hebatnya semua peluru mental setelah mengenai tubuhnya. Tahu dirinya kebal, ia tertawa terbahak-bahak, mengejek Mas Joko agar terus menembaknya. Tiba-tiba sebuah peluru mengenai tepat di mulutnya yang tertawa lebar. Darah segar muncrat, matanya mendelik, parangnya terlempar dan darah segar membasahi tubuhnya. Sebelum mati ia sempat menyumpahi diriku bahwa suatu hari ia akan merenggut kegadisanku dan membuatku menderita.

Setelah menyumpahi sambil tangannya menunjuk-nunjuk diriku, roh Faruk terlepas dengan mengeluarkan suara mirip babi disembelih. Tak berselang lama tubuhnya seperti hangus terbakar. Aku ketakutan. Mas Joko merengkuh tubuhku dan dipeluknya.

Setelah kejadian itu pikiranku kacau. Kami sekeluarga berusaha tidak tidur. Berjaga kalau sumpah Faruk benar-benar terjadi. Teman Mas Joko juga begadang di rumah. Keluarga Faruk tidak dendam pada kami, karena sadar anaknya memang biang kerok. Bikin susah semua orang termasuk orang tuanya sendiri.

Kecemasan keluargaku beralasan. Sumpah itu bisa benar-benar terjadi.

"Maksudmu, dia benar-benar memperawanimu?" Mendengar pertanyaanku, Lestari terisak.

Setelah Faruk mati, Mas Joko menyerahkan diri pada komandannya. Tapi ia minta syarat sebelum disdangkan diijinkan dulu menikahku. Keinginannya dipenuhi. Seminggu setelah kasusnya selesai Mas Joko menemuiku. Ia siap menerimaku apa adanya. Kebesaran jiwanya membuatku dapat bertahan hingga sekarang.

Seumur hidup aku tak dapat melupakannya. Aku menjadi malas mengurus diriku sendiri. Melihat perubahan diriku, kedua orang tuaku ikut tersiksa. Kalau bukan karena Mas Joko, sudah lama aku ingin mati. Aku terharu melepas kepergiannya.

Lestari mengusap air mata. Ia pandangi aku yang ganti ketakutan. Sebenarnya aku hanya terkejut di zaman teknologi canggih masih ada makhluk halus memperkosa. Mudah-mudahan Allah SWT menjaga setiap langkahku dan memeliharaku dari fitnah dunia.

"Las.... Lastri!" Aku terkejut ketika Lestari menepuk lenganku. Jantungku terasa mau copot. Aku seperti terhipnotis ceritanya.

"Ya Alla, bikin jantung orang mau lepas saja!"

"Ngelamun ya?" tanyanya.

"Ceritamu bikin aku deg-degan." Tak lama kemudian terdengar suara adzan Ashar dari surau. "Alhamdulillah, masih ketemu Ashar," ucapku. Aku beranjak dari dudukku. Pinggangku terasa sakit bersandar di antara bilik rumah yang berplester semen.

"Les, pohon waru yang mana sih?" tanyaku penasaran ketika kami sedang mengambil wudhu.

"Tadi kamu lewat mana? tanyanya.

"Lewat situ," sahutku sembari menunjuk ke depan. "Pokoknya ada waru dekat kali itu. Ya..... itu tempatnya," jelasnya.

"Ah! Jadi yang kulewati tadi tadi dong.....!" Lestari tak menyahut. Aku melotot. Selepas shalat Ashar aku berpamitan.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini saja. Hati-hati ya!" Aku mengangguk. Kurangkul Lestari.

"Sabar ya, semua merupakan kehendak Allah SWT. Aku akan selalu berdoa untukmu. (*)

Sumber: Misteri Edisi 561 Tahun 2013

Kamis, 11 Juli 2013

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku Lumpuh

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku LumpuhOleh: Usep M

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang. Namun akibat yang ditimbulkan sungguh membuatku teriksa. Bahkan aku nyaris lumpuh dan kehilangan segala-galanya.

• • • • • • • • • • • • • • •


Aku ingat betul, bulan itu adalah awal bulan suci Ramadhan waktu, awal bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan puasa dan menahan hawa nafsu, amarah, juga menahan rasa lapar dan dahaga selama satu bulan penuh. Di mana kebetulan juga malam itu jatuh pada malam Jumat Kliwon.

Seperti hari-hari biasanya, pada setiap pukul 02.30 WIB kebiasaanku adalah bangun dari tidurku untuk melaksanakan shalat malam, sunnah tahajjud juga shalat hajat. malam-malam yang tak pernah aku lewatkan untuk selalu berkomunikasi dengan Gusti Allah melalui shalat malam. Malam itu sebelum aku terbangun dari tidurku yang sangat lelap, aku bermimpi didatangi sesosok makhluk seperti seekor kelelawar besar dari atap kamarku.

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang, yang kulihat sepertinya makhluk itu akan menyerang tubuhku yang dalam keadaan sedang berbaring di tempat tdurku. Seketika aku tersentak dan terbangun, setelah aku sadari bahwa ternyata yang baru saja aku alami tadi hanyalah mimpi belaka, aku pun segera saja beranjak dari pembaringanku, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Sesampainya aku di kamar mandi aku mengalami kejadian yang sangat aneh. Secara tak terduga tiba-tiba saja tangan kananku bergerak dengan sendirinya dan secara reflek ingin memukul wajahku sendiri. Dengan reflek pula aku segera menahan ayunan tangan kananku yang mengarah ke wajahku sendiri dengan tangan kiriku.

Aku segera keluar dari kamar mandi. Sesaat aku tak dapat berkata dan berpkir apa-apa, aku hanya diam tertegun dan dan ucapan Istighfar terus kulantunkan tanpa henti, sambil tak lupa juga aku memohon dalam hati kepada Allah SWT, agar aku dilepaskan dari kejadian aneh yang kurasakan saat itu.

Apa salah dan dosak, pikirku. Kubatalkan niat shalat tahajjud dan hajatku malam itu, karena terus terang aku saat itu jadi merasa benar-benar takut dan terguncang dengan kejadian yang baru saja kualami dan tidak masuk akal pikiranku. Bagaimana mungkin salah satu anggota tubuhku ingin menyakiti anggota tubuhku yang lain, sungguh sangat musykil hal itu dilakukan oleh orang yang dalam kesadaran penuh, tidak gila.

Kejadian terus berlanjut, bukan tanganku yang ingin memukul wajahku, tetapi, dimana keesokan harinya tubuhku tiba-tiba saja terasa sangat lemas, nyaris seperti tak bertulang. Namun demikian ku coba paksakan diriku untuk tetap bekerja pada hari itu. Aku tetap berjalan untuk bekerja ke kantor seperti kegiatan rutin setiap harinya.

Namun setibanya d kantor, kurasakan seluruh tubuhku semakin bertambah lemas saja dan seolah tiada daya sama sekali. Atasanku yang mengetahui dan melihat keadaanku saat itu, memberi saran kepadaku untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dia memberi ijin padaku untuk pulang saja guna berobat ke dokter, dab beristirahat beberapa hari sampai kondisiku sudah memungkinkan untuk kembali ke kantor dan bekerja seperti biasanya.

Tanpa buang waktu dan banyak pikir lagi, aku pun langsung kembali pulang ke rumah untuk kemudian pergi ke dokter praktek guna memeriksakan kondisiku yang semakin terasa lemas. Akhirnya hasil dari pemerksaan dokter itu, aku memang diharuskan istirahat total selama beberapa hari. Beruntung pimpananku di kantor sudah memberi ijin, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mendatangi kantor hanya sekedar untuk meminta ijin atasanku.

Aku pun mengambil kesepatan itu untuk pulang ke rumah orang tuaku agar dapat beristirahat dengan total sesuai yang dianjurkan dokter yang meemeriksaku. Setibanya di rumah orang tuaku, aku disambut dengan tidak kemengertian orang tuaku, kenapa aku kembali ke rumah mereka. Setelah kujelaskan semua keadaanku, dan mereka mengerti, aku langsung beranjak ke kamar tidur, dan langsung aku rebahkan tubuhku yang terasa lemas hingga aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, sampai beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja aku terbangun, kejadian malam di rumahku terjadi kembali di rumah orang tuaku. jiwaku semakin terguncang, istriku yang kuberitahu keadaanku yang berada di rumah orang tuaku segera datang menjemputku, untuk kembali pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan juga untuk mampir mengunjungi rumah orang tua istriku. Sore harinya aku pulang dengan berjalan kaki bersama istriku dan ditemani oleh adik iparku.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba di ujubg kakiku terasa seperti ada sesuatu yang masuk, entah itu apa, tak sempat aku lihat. Benda itu seperti berjalan terus menjalar sampai ke ujung kepalaku. Sampai akhirnya kurasakan mulutku tertarik ke kanan, mataku terbuka lebar dan tubuhku kejang-kejang.

Istri an adik iparku yang melihat semua itu haya bisa menangis, mereka tak tega melihat kondisi badanku seperti itu. Aku masih bisa mendengar biskan adik ipar di telingaku agar aku tetap membaca istighfar. Sedangkan istrku segera mencari kendaraan taksi, untuk membawaku ke Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon.

Sesampainya di rumah sakit itu, aku langsung dimasukan ke UGD dan dengan cepat ditangani oleh seorang dokter perempuan. Saat itu telingaku masih mendengar suara tangisan istri dan adik iparku, dokter yang menanganiku membisikkan kalimat di telingaku untuk tetap mengucapkan istighfar. Alhamdulillah keajaiban terjadi, seketika itu mulutku kembali seperti semula, dokter yang menanganiku sangat senang dan tiada hentinya mengucapkan Alhamdulillah.

Namun selang beberapa saat aku kembali kejang, seperti sesuatu yang terus masuk ke dalam tubuhku terus saja berjalan, suntikan pun diberikan dokter. Terasa obat di tanganku mengalir, sepertinya suntikan itu adalah obat untuk meringankan kejang, lalu aku dibawa ke ruang perawatan.

Setiba di penbaringan kurasakan kepalaku terasa berat seperti terdapat batu yang besar menindih kepalaku, tangan kanan dan kaki kananku terasa lemas seperti tidak dapat digerakan. Keesokan harinya pengobatan dilanjutkan, aku dibawa ke ruang scan untuk dilihat apa penyebab sakit di kepalaku.

Saat itu aku ditangani oleh seorang dokter ahli saraf, hasil dari scan didapat, ternyata di kepalaku terdapat darah menggumpal yang menutupi otakku, sehingga otakku tak dapat berfungsi sepenuhnya. Teman-teman, saudara-saudaraku, semuanya hanya bisa melihatku dengan rasa iba dan sembunyi-sembunyi menangis melihat penderitaan yang ku alami.

Selama 11 hari aku merasakan sakit, tiba-tiba tingkah lakuku pun sepertnya menjadi aneh. Bicaraku sering ngelantur ketika ibuku menanyakan nomor telepon kantorku, aku lupa. Anehnya lagi pada setiap orang yang datang, ibuku selalu bertanya kepadaku "Siapakah ini yang bersama ibu, kamu masih kenal kan?" Aku tidak bisa langsung mengingatnya dan mengenali orang yang bersama ibuku itu. Aku selalu tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan itu. Memori di otakku sepertinya telah sangat lambat bekerja. Dokter ahi saraf pun akhirnya menyarankan kepadaku untuk melakukan scan kembali.

Dari hasil scan ke-2 aku disarankan dokter untk operasi, karena pembuluh darah yang menggumpal dan menutupi otakku harus dibuang, keluargaku pun segera mengadakan musyawarah mengambil keputusan tentang operasi yang ddsarankan dokter. Dari hasil musyawarah, ternyata keluargaku menolak dilakukan operasi atas dirkiu, karena walaupun berhasil dalam operasi, tetap saja akan ada efek samping dari hasil operasi itu, yaitu aku bsa saja lumpuh. Apalagi dokter pun tidak bisa bertanggung jawab penuh atas hasil operasi hidup atau matku.

Tiba-tiba aku teringat akan uwakku di Desa Cikeleng, Kabupaten Kuningan. Aku minta kepada ibuku agar uwakku didatangkan ke rumah sakit, ibuku pun segera mengabulkan permintaanku dengan menelpon uwakku untuk dapat segera datang ke rumah sakit menemaniku. Tidak memakan waktu sampai sehari, hari itu juga uwakku datang dan melihat diriku.

Melihat kondisiku, uwakku lalu menyarankan agar aku segera dibawa pulang saja, karena menurutnya kondisi penyakit yang kuderita bukanlah penyakit medis, tetapi penyakit non medis. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan peralatan dokter secanggih apapun. Tapi saat itu kelargaku tidak begitu saja percaya dengan ucapan uwakku, dan mereka tidak mengijinkannya. Mereka mash tetap bertahan dengan penyembuhan dari dokter rumah sakit itu. Maka uwakku pulang kembali ke Cikeleng.

Malam berikutnya di rumah sakit, aku bermimpi bertemu dengan seorang kuncen, kuncen itu adalah kuncen Nabi Musa AS, beliau meminta kepadaku agar aku menemui Nabi Musa , aku berkata kepada kuncen bahwa aku tidak bisa berjalan, kuncen itu naik ke atas untuk memberitahukan kepada Nabi Musa.

Nabi Musa turun dari atas, beliau berkata kepadaku "Wahai kaumku ikutlah denganku."

"Aku menjawab, "Wahai Nabi aku tak bisa berjalan, tubuhku gemuk. Bagaimana aku bisa mencapai e atas sana?" Kemudian Nabi Musa mengangkatku seolah aku ini tidak mempunyai beban berat, lalu aku dibawanya ke atas. Di sana aku diperlihatkan sebuah mushala yang sangat indah, di sana kulihat ada empat orang yang sedang berdzikir dengan memakai sorban putih. Aku pun bertanya kepada Nabi "Wahai Nabi apa yang dlakukan orang-orang itu?"

Nabi lalu menjawab "Itulah kaumku yang kin menempati mushala ini. Apabila kamu mau, akan kujadikan kau kaumku juga." Aku membalas, "Wahai Nabi, jangan kau ambil diriku dulu, karena diriku belum sepenuhnya membahagiakan orang tuaku dan istri, di mana anakku juga masih berusia 9 bulan, masih sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Aku mohon kepadamu ya Nabi."

"Baiklah kalau itu maumu hanya satu yang kuminta darimu, bisakah kau mempertahankan ibadahmu, agar engkau tidak terjerumus menjadi orang-orang yang tersesat. Kalau engkau masih bisa mempertahankan semua itu, kau akan tetap menjadi kaumku," kata Nabi.
,br ?"Insya Allah ya Nabi, aku akan mencoba mempertahankan ibadahku ini," jawabku. Lalu aku dibawanya berkeliling mushala. Betapa megahnya mushala ini. Tetapi aneh, mengapa di pojok mushala masih ada kayun yang keropos. Aku pun bertanya kepada Nabi.

"Ya Nabi mengapa mushala yang begitu megahnya, masih ada kayu yang keropos?"

"Itulah satu tugasmu untuk di dunia." jawab Nabi.

Aku kemudian dibawa kembali ke bawah, dan aku diturunkan, dan sekitak itu aku terbangun dari tidur lelapku.Anehnya aku merasa kondisi badanku saat itu terasa lebih fit. Lalu aku meminta kepada keluargaku untuk memintakan ijin agar aku bisa segera pulang. Keesokan harinya dari pihak keluargaku pun menghadap ke dokter yang selama ini menanganiku.

Tetapi dokter yang menanganiku, tidak mengizinkanku pulang karena mengingat kondisi fisikku, selain belum benar-benar pulih. Dokter spesialis saraf juga tidak mau bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu keadaku, jika aku melaksanakan kehendak untuk pulang ke rumah. Ditambah lagi karena mata sebelah kananku pun tidak bisa melihat, tapi aku dan keluargaku meyaknkan dokter, bahwa Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, karena aku begitu yakin kalau uwakku dapat membantu untuk proses penyembuhan selanjutnya.

Sebelumnya aku memang telah disarankan oleh uwakku untuk dirawat di rumahnya. Setelah memperoleh ijin doter dan aku bisa pulang, aku dan keluarga pun segera berangkat e rumah uwakku di Cikeleng. Di rumah uwaku akupun mulai menjalani pengobatan lanjutan, dimana pada setiap malam, setiap pukul 01.00 WIB aku dibawa oleh uwaku ke makam buyut, makam keramat di Desa Cikeleng. Lokasi makamnya di tengah-tengah hutan, aku di sana berdzikir dengan uwaku dari pukul 01.00-03.00 WIB.

9 hari kemudian, malam itu malam Jumat Kliwon, aku disuruh untuk beristirahat oleh uwaku dari kegiatan melaksanakan dzikir dari pukul 01.00-03.00 WIB. Malam itu, tepatnya pukul 23.00 WIB, aku mendengar suara kroncongan kuda yang sedang berlari memutari rumah uwaku. Aku penasaran dengan suara itu, lalu beranjak ke tepi jendela, kulihat dari balik gorden jendela yang kusingkap, tapi tak tampak apapun di luar sana.

Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku pun keluar, ternyata kulihat uwa perempuan ku sedang melakukan semedi, dan uwaku yang laki-laki, seperti sedang melakukan sesuatu. Uwaku terkejut melihatku, aku disarankan untuk masuk kembali. Sepertinya mereka sedang melakukan ritual yang sangat serius. Tepat jam 24.00 WIB pada jam dndingku di kamar, aku mendengar seperti ada orang yang sedang berkelahi, aku hanya mendengarkan saja dari kamarku, tidak berani untuk melihatnya, sampai akhirnya tanpa aku sadari, aku tertidur.

Keesokan harinya jam 10.00 pagi, ketika aku ingin mandi dan aku membuka bajuku, istriku melihat dipundakku seperti ada bekas telapak tangan. Ketika istriku menanyakan kenapa, aku pun tidak tahu dan tidak dapat menjelaskan ada apa sebenarnya pada pundakku.

Lalu aku pun keluar kamar dan menanyakan kepada uwakku. Uwakku hanya diam tidak memberi jawaban, dia hanya meminta aku berbalik membelakanginya, dan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan kemudian ditiupnya bekas telapak tangan yang ada dipundakku. Seketka bekas telapak tangan dipundakku itu hilang dengan sendirinya. Aku meraba keningku, karena terasa seperti ada yang mengganjal, kutarik, ternyata di keningku ada kain kafan, kemudian kuraba pipiku yang seperti ada sesuatu juga, lalu kutarik dan ternyata ada sebuah jarum. Uwakku yang melihat itu semua hanya tersenyum, dan ia berkata bahwa hal itu semua pertanda ada kemajuan dalam pengobatan sakitku, dan uwakku bilang, tidak sia-sia selama 9 hari dia melaksankan ritual.

Kini mata sebelah kananku mulai membaik dan bisa melihat, kakiku pun yang terasa lemas beberapa hari lalu sudah mulai ada kekuatan dan aku sudah bisa berjalan kembali walau kulakukan masih perlahan-lahan. Tak kepalang betapa bahagianya keluargaku melihat kemajuan yang kudapat, maka sre itu pun kami mengadakan syukuran, dengan mengundang tetangga dekat, bersyukur bahwa diriku bisa terlepas dari pengaruh mistik yang entah siapa yang sudah berbuat setega itu padaku.

Kini tinggal sisa-sisa penyakit yang ada pada dirku, aku sudah berangsur pulih seperti sedikala. Lalu aku pun di anjurkan uwakku melakukan kontrol setiap minggu. Pada kesempatan lain aku yang merasa penasaran dengan penyakitku, dan ingin sekedar tahu saja siapakah yang dengan tega berbuat hal itu pada diriku, aku tanyakan hal itu kepada uwakku.

Jawabnya sungguh sangat mengherankan, menurut uwakku, aku terkena serangan santet yang sangat ganas, di mana menurut uwakku lagi semua itu adalah karena perbuatan teman sekantorku yang merasa iri karena aku dekat dengan atasanku. Mengetahui hal itu aku hanya mengucap sykur kepada Gusti Allah, bahwa aku masih dberi kesempatan untk sembuh. Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menaruh dendam pada teman kantorku itu, sesuai yang dsarankan uwakku juga. Dendam adalah perbuatan yang sangat menyakitkan di hati. Semua hanya kepasrahan kepada Gusti Allah. Semoga teman kantorku itu dberi kesadaran Gusti Allah untuk tidak berbuat hal yang sama pada orang lain. (*)

Sumber: Mistri Edisi 561 Tahun 2013