Rabu, 19 Maret 2014

Penganut Pesugihan Blorong

Penganut Pesugihan Blorong
Seekor ular berkepala manusia keluar dari atap rumah. Siluman ular itu kemudian masuk ke rumah warga. Dan keesokan harinya, warga yang kemasukan siluman ular itu meninggal tanpa sebab yang jelas.Kejadian ini aku alami beberapa tahun lalu, saat itu terjadi kegemparan di desa kami. Beberapa warga meninggal mendadak tanpa sebab apapun, kebanyakan usianya masih muda. Hampir tak ada yang tahu penyebabnya, hasil tes dokter menyatakan bahwa mereka semua baik-baik dan tidak mengidap penyakit apapun. Tetapi dari rumr yang berkembang mereka dijadikan tumbal pesugihan oleh beberapa orang warga desa kami yang menjalani ilmu sesat meraih kekayaan itu.

Kebetulan, di desa kami ada beberapa orang yang dinilai masyarakat meraih kekayaan dalam waktu singkat. padahal, mereka juga warga desa biasa yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan bekerja di sawah seperti kebanyakan warga lain. Tiga orang itu, sebut saja Budi, Tole, dan Andik, tiba-tiba memiliki kekayaan yang melampaui warga lain. Berhubung baru saja terjadi kematian aneh beruntun, ketiga orang tersebut selalu menjadi pergunjingan warga karena dianggap menjalankan pesugihan.

Selama berbulan-bulan pergunjingan itu terus berlangsung. Sedemikian hebatnya gosip itu beredar hingga membuat Budi, Tole, dan Andik tak berani berkumpul dengan warga, mereka menjadi introvet dan anti sosial. Beruntung tak terjadi tindakan-tindakan brutal dan main hakim dari warga terhadap ketiga orang tersebut. Bila terjadi, tentu desa kami menjadi terkenal seantero Indonesia.

Sesungguhnya aku tak tahu menahu mengenai pergunjingan tersebut. Aku bukan orang yang suka menggunjing, karena aku juga tidak ingin menjadi bahan pergunjingan. Tetapi entah mengapajustru aku yang harus tahu kebenaran jawaban dari teka-teki kematian misterius beberapa warga desaku. Itu semua terjadi tanpa sengaja ketika aku bersilaturahmi ke rumah para tetangga ketika Lebaran Idul Fitri.

Saat berkunjung ke rumah Pak Sapto, sebut saja begitu, tetangga yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahku. Tak biasanya keponakanku yang pendiam tiba-tiba berontak dan menangis ketakutan mnta pulang.

"Ayo pulang Mbah Uti. Ayo pulang. Aku takut," tangis Ulil, keponakanku, sambil menangis menunjuk salah satu kamar di rumah Pak Sapto.

"Jangan menangis, ayo dimaka dulu kuenya. Ini lho enak," rayuku menenangkan. Tapi ulil tetap menangis, bahkan semakin keras.

"Sudah jangan menangis, kamu takut apa?" kakakku ikut menenangkan.

"Aku takut Pa...," rengeknya.

"Takut apa?" Tanya kakakku yang juga ayahnya Ulil.

"Itu Pa, di kamar Mbah Sapto ada wanita tapi badannya ular. Di sebelahnya ada uangnya banyak," jawab Ulil. Seketka kami tertawa mendengar jawaban keponakanku yang baru berumur tiga tahun itu, tentu itu hanyalan anak-anak yang suka lihat sinetron dan film artun saja.

Tak sedikitpun terbersit pikiran negatif ketika Ulil berkata demikian, tak pernah kami menganggap kata-kata keponakan itu sebagai hal yang benar hingga lima hari kemudian. Lebaran sudah hampir seminggu berlalu, para pemudk sudah sudah banyak yang balik meninggalkan kampung kami yang sunyi. Malam itu, Ulil tak bisa tidur. Ia terlihat gelisah seolah melihat sesuatu yang mengerikan tengah terjadi. Nina bobo dan bujuk rayu ayah ibunya tak mampu membawanya terlelap.

Lonceng jam berdentang dua kali, pertanda malam telah merambat pada pukul dua dini hari ketika balita itu berjalan menuju kamarku dan membangunkanku.

"Om... om... bangun...," teriaknya membangunkanku. Aku yang sedar sore tak bisa tidur karena terganggu suara bersk kakakku merayu menidurkan Ulil menjadi terbangun.

"Om... ayo ikut aku," katanya sambil menggeret tanganku. Ia memintaku membuka pintu rumah dan mengajakku menuju teras.

Di depan teras tengah malam yang sunyi itu tiba-tiba perasaan angker menyergap diriku, mendirikan bulu kuduk.

"Ada apa kamu mengajak keluar?" Tanyaku memecah kesunyian.

Mata kecil balita itu memandangku tajam. Lama baru ia menjawab. "Om lihat genteng rumah Pak Sapto," katanya.

"Lihatlah, nanti om akan tahu sesuatu," katanya ringan tetapi membuatku semakin bergidik ketakutan di tengah malam itu.

Beberapa detk kemudian pemandangan mengejutkan terjadi di depan mataku, dari atap rumah Pak Sapto tiba-tiba keluar sesosok wanita berambut panjang dan bertubuh ular sebesar pohon kelapa. Tubuhnya berpendar leluasa menerobos genteng menunjukkan bahwa ia adalah makhluk gaib. Siluman wanita itu kemudian berjalan melata melintasi jalanan depan rumah yang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Hampir saja aku pingsan ketka makhluk jadi-jadian itu melintas di depanku sembari menoleh dan memamerkan gigi runcingnya.

Setelah makhluk itu melintas tiba-tiba muncul keberanian, aku melangkah membuntutinya hingga beberapa langkah keluar menuju jalan depan rumah. Aku meihat jelas siluman itu memasuki rumah Bagus, temanku SMP. Dalam kebingungan dan tanda tanyaku apa yang dilakukan siluman itu di rumah sahabatku, tiba-tiba Ulil memanggilku dan mengajak masuk rumah serta mengunci pintu. Balita lelaki itu kemudian menyuruhku tidur dan ia juga tidur.

Dalam kamar aku malah tak bisa tidur, sulit mempercayai apa yang aku lihat. Tetapi semua itu begitu nyata terjadi di depan mataku. Lama aku berpikir hingga rasa kantuk menyergap dan aku tertidur.

"Le.. le, bangun, Bagus meninggal," suara keras itu membangunkanku saat baru saja aku merasa terlelap. Aku sangat terkejut dan seketika terbangun mendengar kabar mengejutkan itu. Sahabatu sejak masih SMP itu kini meninggalkanku untuk selamanya.

Kematian Bagus yang tanpa didahului sakit dan sebab apapun menambah daftar kematian misterius di desaku. Aku tercengang di antara bingung dan tanda tanya. Apa hubungan antara kematian Bagus dengan apa yang aku lihat tadi malam. Apa pula hubungannya dengan kejadian Ulil menangis melihat wanita berbadan ular saat kami bertandang ke rumah Pak Sapto beberapa hari lalu. Semua serba misterius.

Lamunanku dikejutkan oleh suara Ulil yang baru saja bangun. "Ada apa Om di rumah Om Bagus kok ramai?" Tanyanya.

"Om Bagus meninggal," jawabku pelan.

"Iya Om, Om Bagus dimakan siluman ular yang datang tadi malam," jawaban Ulil mengejutkanku. Aku tersentak kaget mendengar, mendengar perkataan Ulil. Antara percaya dan tidak, tapi aku melihatnya sendiri. Sampailah aku pada kesimpulan, kematian misterius selama ini adalah tumbal pesugihan Pak Sapto.

Apa yang aku lihat kemudian membuka benang merah mengenai misteri kematian aneh di desaku. Semua pemuda yang mati mendadak ternyata sebelumnya pernah diajak berpergian dan dimanjakan oleh Pak Sapto. Semula tak ada yang curiga jika Sapto menjalankan pesugihan, selain ia aktif berjemaah di Musholla depan rumah istrinya juga pandai menyebarkan gosip behwa pemilik pesugihan adalah Budi, Tole, dan Andik. Kolaborasi keji suami istri itu memang mampu menutup lelakon sesat yang mereka jalani untuk mencapai kekayaan.

Ternyata Budi, Tole, dan Andik menjadi kaya bukan karena pesugihan, mereka hanya korban fitnah istri Sapto. Mereka kaya kerena sebab yang berbeda. Budi kaya karena mendapat bagian warisan dari neneknya yang berada di Singapura. Tole kaya karena sepetak sawah yang ia miliki dbeli dengan harga berpuluh lipat leh operator telepon untuk tiang relay. Sedangkan Andik kaya karena menggeluti bisnis on-line. Pantas mereka kaya meski masyarakat tahu ketiganya tak bekerja.

Dari Ulil aku kemudian juga tahu, rupanya balita itu terbuka indera keenamnya, bahwa Sapto mendapatkan pesughan tersebut dari Laut Selatan. Permintaan mereka untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan pesugihan ditolak oleh Ratu Laut Selatan yang baik. Penguasa Laut Selatan itu sebenarnya memang tak pernah amu diajak kerjasama untuk melakukan perbuatab buruk. Kesempatan itu dipergunakan oleh Nyi Blorong , lelembut Laut Selatan yang jahat itu dan sesat untuk menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan dengan menyanggupinya kaya raya melalui ritual pesugihan.

Sabtu, 08 Maret 2014

Antara Nasib dan Arah Pintu Rumah



Membuat rumah ternyata bukan sekedar membangun secara fisik. Perlu dicerna lebih lanjut, bahwa posisi rumah maupun arah menghadap rumah sangat berpengaruh bagi kemajuan penghuninya. Menurut hongshui Jawa atau Pakuwon, ada aturan tertentu untuk menentukan arah pintu rumah yang baik.

Penentuan arah menghadap rumah bagi masyarakat Jawa, merupakan hal yang sangat penting dalam membangun suatu rumah sebagai tempat tinggal. Secara garis besar, arah menghadap rumah yaitu menghadap ke utara, timur, selatan, dan arah barat. Seperti halnya bangsa Cina, orang Jawa percaya bahwa arah menghadap rumah memiliki pengaruh atau dapat membawa keberuntungan maupun kesialan dalam hidupnya. Begitupun akan berpengaruh pada keluarganya.

Pada zaman dahulu dalam masyarakat Jawa hampir tidak dijumpai rumah menghadap ke barat dan demikian pula halnya yang menghadap ke arah timur. Rumah orang biasa (masyarakat umum, bukan bangsawan, red) pada umumnya menghadap ke arah utara atau ke selatan. Sedangkan arah menghadap ke timur khusus dipergunakan untuk keraton.

Setiap arah mata angin dipercayai ditunggu oleh dewa, dan oleh karena itu ada makna simbolis tertentu untuk penentuan arah menghadap rumah yang berdasarkan pada empat mata angin. Keempat arah mata angin yang dijaga oleh dewa tersebut adalah timur ditunggui oleh Maha Dewa, barat ditunggui oleh Batara Yamadipati, utara ditunggui oleh Batara Wisnu, dan selatan ditunggui Batara Brahma.

Dalam mitologi Jawa, Batara Yamadipati adalah dewa kematian. Sehingga bagi orang yang mempercayai, arah menghadap ke barat harus dihindari karena secara simbolik berarti sama dengan mengharap kematian. Adapun cara menentukan arah menghadap rumah adalah dengan menjumlah neptu (hitungan) hari kelahiran dan pasaran orang yang akan membangun rumah.

Ketentuannya adalah jika jumlah neptunya 7, 8, 13, 18, arah rumah menghadap ke arah utara atau ke timur. Jika jumlah neptunya 9, 14 arah rumah harus menghadap ke selatan atau ke timur, jika neptunya 10 arah rumah harus menghadap ke selatan atau barat dan jika jumlah neptunya 11, 15, 16 arah rumah harus menghadap ke barat. Kemudian, jika jumlah neptunya 12, 17 arah rumah harus menghadap ke utara atau ke barat.

Untuk diketahui, neptu hari Ahad adalah 5, Senin adalah 4, Selasa adalah 3, Rabu adalah 7, Kamis adalah 8, Jumat adalah 6 dan Sabtu adalah 9. Neptu pasaran, Kliwon 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7. Misalnya Anda lahir pada ahad pahing, maka jumlah neptu menjadi (ahad = 5) + (pahing = 9) = 14.

Berdasarkan penghitungan neptu tersebut, maka Anda sebaiknya memiliki rumah menghadap arah selatan atau ke timur. Tentu saja, pengetahuan ini merupakan peninggalan nenek moyang dan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Manusia berikhtiar namun segala ketentuan ada pada Tuhan. (*)

Sumber: Palembang Post/Supranatural

Perbedaan Hipnotis dan Gendam

Perbedaan Hipnotis dan Gendam

Mendengar kata hipnotis biasanya orang akan takut karena konon hipnotis bisa membuat orang tidak sadarkan diri sehingga bisa diapakan saja misalnya dipereteli perhiasan, HP, uang dan kejahatan lainnya. 

Benarkah hipnotis bisa untuk kejahatan? jawabannya adalah TIDAK BISA. Kenapa? karena untuk menghipnotis memerlukan persetujuan dari suyet atau orang yang akan dihipnotis. Jika suyet takut atau tidak mau, maka dipastikan hipnotis tidak akan berhasil karena alam bawah sadar akan menolak sugesti yang masuk.



Lalu bagaimana halnya dengan peristiwa kejahatan yang sering terjadi dimana seseorang mudah memberikan harta bendanya tanpa ia sadari? bukankah ini seperti hipnotis? memang benar mirip hipnotis tapi sebenarnya ilmu tersebut bukan ilmu hipnotis melainkan ilmu GENDAM. 

Perbedaan Hipnotis dengan Gendam adalah:

1. Hipnotis tidak memiliki kekuatan yang sifatnya memaksa. Jika orang yang ingin dihipnotis menolak maka ia tidak akan bisa dihipnotis. Lain halnya dengan gendam yang bisa memaksa seseorang tidak sadarkan diri karena gendam menggunakan kekuatan mahluk halus.



2. Belajar hipnotis tidak ada ritual yang berbau mistis sama sekali. Sedangkan ilmu gendam diperoleh dengan jalan ritual melalui puasa, mantra atau pengisian dari guru gendam.



3. Ilmu hipnotis diarahkan untuk kebaikan misalnya untuk terapi diri sendiri dan orang lain. Bahkan dijaman dahulu, hipnotis digunakan untuk operasi agar pasien tidak merasa kesakitan. Adapun gendam rentan sekali digunakan untuk kejahatan.



4. Ilmu Hipnotis telah banyak digunakan orang dari berbagai latar belakang seperti psikolog (SDM), dokter (kesehatan), parenting (mendidik anak), hypnobirthing (lahir tanpa sakit) dan lain sebagainya sedangkan gendam hanya berfokus membuat orang tidak sadarkan diri.

Hipnotis telah diakui secara nasional dan internasional.

Semoga dengan adanya artikel ini bisa kita bisa membedakan antara ilmu hipnotis yang benar dengan ilmu "hipnotis" yang salah alias gendam.(www.indospiritual.com)

Sumber: Palembang Post/Supranatural

Minggu, 22 September 2013

Besale, Upacara Penyembuhan Masyarakat Anak Dalam (MAD)

Besale,  Upacara Penyembuhan Masyarakat Anak Dalam (MAD)

Upacara besale (penyembuhan) merupakan ritual Masyarakat Anak Dalam (MAD) yang bertujuan menyembuhkan sesuatu yang sakit akibat roh-roh jahat yang bersemayam dalam diri seseorang.

MAD menganggap jika ada keluarga atau kerabat yang sakit maka itu pertanda dewa telah menurunkan malapetaka. Agar dewa menjauhkan malapetaka, MAD melakukan upacara besale sebagai wujud memohon ampun. Selain menjaga hubungan dengan keseimbangan antara yang hidup dengan alam gaib. Keseimbangan yang dmaksud adalah tidak ada malapetaka yang datang kepada mereka seperti penyakit yang sulit diobati.

Prosesi besale ketika dukun besale menyanyikan mantera-mantera sambil menari tak jauh dari orang yang sakit. Sesaji yang sudah ada dipersembahkan kepada dewa-dewa agar mereka memberikan kebaikan dan menjauhkan MAD dari malapetaka. Upacara besale berasal dari daerah Mentawak Sorolangun. Prosesi upacara besale dipimpin seorang pawang/dukun yang secara turun memurun mewarisi ilmu sambil bernyanyi dan menari untuk orang yang sakit. Saat dukun menari dan menyanyi dalam kondisi setengah sadar karena arwah-arwah nenek moyang sudah masuk ke dalam tubuh sang dukun. Mulai dari pakaian putih, celana panjang berwarna putih sampai penutup kepala dan tudung yang juga berwarna putih.

Perlengkapan besale terdiri dari lonceng terbikin dari kuningan yang memiliki suara nyaring. Dua buah mangkuk kecil untuk air jampi-jampi, kain putih yang ujungnya berwarna pera dicelupkan dalam air jampi-jampi dan diteteskan pada mata orang yang sakit. Semua perlengkapan ini disimpan di atas anyaman rotan.

Peralatan lainnya adalah rumah-rumahan kecil yang dibuat dari kayu dan anyaman serta burung-burung yang terbuat dari daun kelapa dan disimpan di tiap rumah-rumahan. Burung-burung tersebut berjumlah 19 ekor.

Dalam prosesi upacara besale harus ada sesaji yang dipersiapkan untuk para dewa di antaranya caco, juwadah, bubur merah, tepung gandum, awam panggang, telur, gelamai dan lainnya. Beberapa jenis makanan yang ada dalam upacara adalah makanan yang memiliki nama khas. Jumlah jenis dan macamnya ada 18.

Keseluruhan perlengkapan untuk upacara besale harus ada ebagai syarat agar upacara bisa berlangsung dan doa meminta bisa brhasil. Apabila syarat perlengkapan upacara besale tidak lengkap maka prosesi upacara tidak brjalan dengan lancar.

Pembuka upacara besale dimulai dengan dukun yang melantunkan nyanyian berikut:

Betinjak dibungin baru sebiji
Dijajan baru setitik
Angin baru berembus
Beteduh di langit lembar payung



Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan upacara besale lumayan menguras kantong, banyak dari MAD lebih memilih puskesmas sebagai tempat berobat bagi keluarga yang sakit. Faktor lainnya adalah orang yang sakit setelah melakukan upacara besale banyak yang justru tidak sembuh. (amn/net)

Sriwijaya Post, Minggu, 22 September 2013

Fungsi Bagian Bawah Rumah Ulu



Pada ruangan bawah Rumah Ulu, yakni rumah kayu berbentuk panggung, sering dijumpai adanya peralatan seperti isaran padi, pipisan kapas, apitan (alat pembuat minyak), kepayang, kilangan (alat pembuat manisan tebu) dan nggahe (kandang ayam) serta banyak lagi yang lainnya.

Peralatan-peralatan tadi itu merupakan cerminan dari aktivitas yang dilakukan pada ruangan terbuka bawah rumah. Meskipun adakalanya tempat tersebut hanya merupakan gudang atau tempat untuk menyimpan, sedangkan pemakaian peralatan di tempat yang lain. Kala siang atau senja hari, apabila tidak ada pekerjaan di kebun, biasanya para wanita yang terdiri dari ibu rumah tangga dan anak gadis, melakukan pekerjaan mengetam padi, terutama setelah musim panen padi. Mereka sering kali mengobrol dan bercanda sehingga suara lesung dan canda tawa serasa 'menyatu' nyaman di telinga.

Pipisan kapas merupakan peralatan yang umumnya dimiliki penduduk, itu berarti daerah tersebut merupakan kawasan penghasil kapas. Pipisan kapas diletakkan di ruang bawah. Kegunaannya untuk membersihkan kapas dari bijinya, dikerjakan oleh lelaki dan perempuan.

Pun demikian halnya dengan kepayang, kilangan dan nggahe. Ini menandakan ruangan bawah juga digunakan untuk kegiatan tersebut. Selain untuk aktivtas keluarga yang menghasilkan, di ruangan bawah ini juga berfungsi sebagai tempat duduk santai para bujang, anak-anak bermain dan sebagainya. Tak heran jika di depan rumah yang sejajar dengan tiang-tiang atau atau dekat tangga dipasang pance yaitu tempat untuk duduk.

Pada saat orangtua atau anak-anak yang sudah gadis melakukan pekerjaan di ruang bawah, anak-anak biasanya juga ikut serta berada di ruangan tersebut. Mereka bermain seperti gasing untuk anak laki-laki dan masak-masakan bagi anak perempuan. Adakalanya mereka bermain ayun-ayunan sambil bernyanyi atau berpantun. Pantun yang dibawakan seringkali dilagukan .

(aminuddin/dari berbagai sumber)
Sriwijaya Post, Minggu, 22 September 2013

Kamis, 05 September 2013

Music Wallpapers

Music Wallpapers
1000264, 1920 × 1200
Music Wallpapers
1000265, 1152 × 864
Music Wallpapers
1000266, 1280 × 1024
Music Wallpapers
1000267, 1280 × 1024
Music Wallpapers
1000268, 1920 × 1200
Music Wallpapers
1000269, 1920 × 1080
Music Wallpapers
1000270, 1920 × 1080
Music Wallpapers
1000271, 1920 × 1200