Senin, 21 April 2014

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Edi suka sekali mendatangi tempat-tempat keramat untuk lelaku. Kata guru spiritualnya, ia tidak boleh menghentikan kegiatannya itu sebelum mendapatkan wisik. Sampai akhirnya ia mendapatkan kendi yang ternyata bisa membuatnya menjadi orang kaya.

_______________________________


Sudah beberapa malam Edi berada di makam keramat yang ada di daerah Trowulan, Mojokerto. Ia menunggu wisik atau pesan gaib yang sekiranya akan membuat dirinya mengakhiri lelakunya. Ia tidak boleh pergi sebelum mendapatkan sesuatu dari makam itu, begitu kira-kira pesan dari gurunya.

Makam yang ekarang dijadikan Edi lelaku adalah dipercaya sebagai makamnya orang sakti. Namun, sampai 7 hari di tempat itu, lelaki itu tidak juga mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ia mulai putus asa, sampai-sampai ia tidak percaya dengan semua yang telah dilakukannya.

Puncak kemarahannya adalah ia lalu dengan gerakan seperti orang kesetanan merobohkan batu nisan makam yang tidak disemen tersebut hingga ambrol dengan kakinya. Tak berhenti sampai di situ, Edi juga mengangkat sebuah kendi yang kebetulan berada di atas pusara makam tersebut. Dengan kedua tangannya, kendi itu diangkatnya tinggi-tinggi dan dibantingnya.

Sungguh di luar dugaan, kendi atau kuali itu tidak pecah atau retak barang sedikit pun. Padahal secara nalar, kendi yang terbuat dari tanah liat itu akan pecah belah menjadi potongan-potongan kecil saat membentur laintai yang keras. Edi mengambil kendi itu kembali dan hendak membenturkannya ke lantai lagi.

Tapi, tiba-tiba ia mendengar salah seorang penziarah yang kebetulan berada di belakangnya menggelepar-gelepar seperti orang yang sedang kerasukan dan mengeluarkan suara yang membuat Edi terkesima sebab mengaum seperti suara harimau. Setelah itu terdengar sebuah suara yang sangat berwibawa keluar dari mulut si penziarah yang kerasukan tersebut.

Orang yang kerasukan itu mengatakan kepada Edi untuk membawa plang kendi itu. Edi disuruh menyimpan kendi itu baik-baik, dan katanya dengan kendi itu mudah-mudahan apa yang menjadi tujuan Edi bisa terkabulkan. Namun, ada syaratnya, yaitu Edi tidak boleh menolak setiap permintaan orang yang membutuhkan pertolongannya.

Setelah berucap begitu, terdengar kembali aungan harimau sebanyak tiga kali. Lalu, kemudian menjadi senyap kembali. Seorang penziarah yang tadi kerasukan itu kembali tersadar dan seperti tidak mengerti dengan apa yang telah trjadi. Mbah Bejo, juru kunci tempat tersebut dan seorang penziarah lain mencoba menolongnya. Mbah Bejo memberinya minum segelas air putih yang baru saja diambilnya dari gentong keramat yang jaraknya hanya beberapa langkah saja.

Suasana kembali senyap untuk beberapa lama. Tanpa diminta oleh siapa pun, Edi lalu merapikan kembali nisan yang sempat dijejaknya hingga roboh dan berantakan. Setelah itu, ia mendekati Mbah Bejo dan meminta maaf atas prilakunya.

"Sudahlah, tidak apa-apa! Mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya! Dan, mudah-mudahan saja dengan cara ini, apa yang menjadi keinginan Saudara bisa terkabulkan!" Ucap orang tua itu.

Mbah Bejo sendiri sebenarnya tidak percaya dengan keberadaan kendi berwarna hitam kecoklatan itu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya darimana asalnya kendi itu. Apakah kendi itu bawaan orang-orang yang berziarah atau kendi itu muncul dengan sendirinya secara gaib? Sebab, sepengetahuannya, tidak ada kendi di atas pusara keramat tersebut sebelumnya.

Sejak mendapatkan kendi itu, sedikit demi sedikit hidup Edi dan keluarganya mulai membaik. Usaha apa saja yang dilakukan selalu sukses luar biasa. Bahkan, beberapa tahun kemudian Edi dikenal sebagai orang yang kaya raya di daerahnya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang dermawan kepada siapa saja. Setiap orang yang membuthkan pertolongannya selalu dibantunya tanpa pandang bulu, baik yang sudah dikenal atau tidak dikenalnya.

Tidak jelas, apakah sifatnya itu benar-benar karena niat ingin membantu sesama atau hanya karena itu hanya sebuah syarat agar kekayaannya tidak habis seperti yang pernah dipesankan gaibnya?

Suatu saat, lelaki ini sudah benar-benar menjadi orang yang paling kaya, datanglaj seorang laki-laki ke rumahnya. Laki-laki itu boleh dibilang cukup aneh. Sebab, ketika ditanya oleh para pembantunya tentang tujuannya, ia hanya mengatakan ingin bertemu dengan Pak Edi. Ketika diitawarkan apa yang perlu dibantu, lak-laki itu hanya menggeleng dan mengucapkan bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Pak Edi.

Ketika para pembantu mengatakan bahwa Pak Edi sangat sibuk dan tidak bisa ditemui, lelaki itu tidak menyerah. Ia mengatakan akan tetap menunggunya sampai Pak Edi ada waktu dan mau menemui dirinya.

"Saya hanya bisa mengungkapkan tujuan saya pada Pak Edi. Jadi tolonglah, izinkanlah saya bertemu dengannya," ucap lelaki misterius itu.

"Pak Edi sedang ada di luar kota dan baru pulang beberapa hari lagi. Kalau Bapak memang ingin bertemu langsung dengan Pak Edi, Bapak bisa kembali lagi nanti. itupun kami tidak tahu pasti kapan pulangnya," ucap asisten pribadi Pak Edi dengan ramah, meski lelaki yang ingin bertemu dengan Pak Edi itu sikapnya seperti orang yang menjengkelkan.

Ia akhirnya memilih menunggu di mushala yang ada di rumah milik orang kaya tersebut. Para pembantu, termasuk asisten Pak Edi tak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan saja.

Setelah menunggu sampai sehari-semalam, akhirnya pulang juga Pak Edi dari kepergiannya. Setelah berada di rumah, ia pun masih disibukkan dengan segala aktivitasnya. Dan, rupanya tidak hanya orang itu yang ingin bertemu. Tamu-tamu yang lain juga banyak yang ingin bertemu dengan laki-laki sukses itu. Sejak menjadi orang yang penting di daerahnya; Edi memang susah ditemui, lebih-lebih jika tamunya bukan orang penting. Tapi, berkat keuletan dan kesabarannya, akhirnya bisa juga laki-laki itu bertemu langsung dengannya.

"Apakah Pak Edi masih ingat kepada saya?" Tanya orang itu saat sudah berhadap-hadapan dengan Edi.

Ditanya begitu, Edi hanya mengernyitkan dahinya. Ia seperti pernah bertemu dengan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Tapi, siapa dia dan pernah bertemu dengannya dimana, Edi tidak ingat betul. Meski mencoba mengingat-ingat, tapi Edi tdak juga kunjung ingat siapa sebenarnya jati diri lki-laki misterius tersebut.

"Saya adalah orang yang pernah bersama-sama Bapak melakukan ziarah di makam Mbah Wali," ucapnya.

Meski sudah mendengar ucapan itu, Edi belum juga ingat. Laki-laki itu tidak juga segera mengungkapkan jati dirinya. Ia bahkan ganti topik pembicaraan dengan memuji keberhasilan Edi hingga membuta tuan rumah menjadi bosan. Dan, setelah dirasa Edi benar-benar tidak tahu dengan siapa dirinya, barulah laki-laki itu mengungkapkan siapa dirinya.

"Saya adalah orang yang pernah melihat Bapak waktu mendapatkan kendi dari makam keramat dulu!

Edi sedikit kaget! Tapi, ia lalu mencoba menanyakan apa yang menjadi tujuan laki-laki itu. Ditanya begitu, elaki itu malah mengatakan tidak membutuhkan uang atau materi seperti yang lain. Yang ia butuhkan katanya hanyalah sebuah kendi!

Deg!!! Tiba-tiba jantung Edi seperti berhenti berdetak. Ia tidak pernah menduga laki-laki di hadapannya itu akan seberani dan senekad itu hendak mengambil sesuatu yang dianggapnya sangat penting. Buru-buru Edi menarik napas dalam-dalam dan mencoba menguasai perasaannya. Ia lantas teringat akan pesan gaib yang pernah terucap lewat mulut laki-laki yang ada di hadapannya dulu.

"Bagaimana, Pak Edi, apakah saya diijinkan membawa pulang kendi pemberian Mbah Wali itu?!"

Edi tidak juga segera menjawab. Ia seperti berpikir dengan keras untuk mengambil keputusan yang tepat. Sesuai dengan pesan gaib yang perna diterimanya, ia memangg tidak boleh menolak setiap permintaan pertolongan dari orang yang membutuhkan bantuannya.

Setelah cukup lama berpikir dengan keras, akhirnya keputusan itu diambil. "Baiklah, Bapak boleh membawa pulang kendi itu," ucapnya lirih.

Ia pun lalu masuk ke dalam rumahnya yang besar dan kembali lagi sambil membawa serta sebuah kendi yang dibungkus kain warna putih. "Bwalah Bapak pulang kendi ini, dan semoga apa yang menjadi keinginan Bapak bisa terkabulkan."

Selepas kepergian laki-laki aneh itu, Jafaril masih terteun di tempatnya. Beberapa orang yang ingin bertemu dengannya untuk sementera waktu ditolaknya. Para pembantu juga tidak ada yang berani bertanya macam-macam. Ia tahu bosnya sedang tidak bleh diganggu.

Dalam hatinya, Edi berkata bahwa ia sudah melaksanakan pesan gaib ituu dengan sebaik-baiknya. Dan, kalau memang segala apa yang telah diperolehnya akan diambil oleh Tuhan gara-gara ia memberikan kendi itu kepada orang lain, ia sudah pasrah untuk menerimanya. Di tengah perenungannya, tiba-tiba di depan pintu gerbang rumahnya terdengar orang ramai. Edi bergegas ingin tahu dengan apa yang terjadi. Di situ rupanya telah terjadi kecelakaan, yaitu sepeda motor menabrak seorang pejalan kaki.

"Itu tamu yang tadi sempat bertemu dengan Bapak!" Ucap salah seorang pembantunya.

Edi kaget sekaligus tertegun saat menyaksikan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu terlihat tergeletak bersimbah darah dan tak jauh dari situ ada benda terbungkus kain putih yang tak lain adalah sebuah kendi. Edi bergegas menyuruh anak buahnya membawa laki-laki itu ke rumah sakit agar nyawanya terselamatkan.

Saat Edi mengambil bungkusan kain putih itu, kendi itu dirasakan masih dalam keadaan utuh tidak pecah sedikit pun. Sementara itu, orang yang berniat mengambil kendi pemberian Mbah Wali dari tangan Edi, sampai di rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. (*)

Misteri Edisi 579 (05 April-19 April) Tahun 2014

Kamis, 27 Maret 2014

Pesugihan Bayi Ambar Pengumpul Harta Benda

Pesugihan Bayi Ambar Pengumpul Harta Benda

Janin yang meninggal dalam kandungan, dipercaya sebagian orang masih bisa tumbuh layaknya anak manusia, hanya saja alamnya lain. Benarkah? Terkadang ada pula orang yang memanfaatkan anak ini untuk mencari kekayaan?

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Seorang wanita yang tinggal di sebuah dusun terpencil di daerah Mojokerto, Jawa Timur, dalam beberapa hari selalu mimpi didatangi seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandungnya. Setelah dilakukan konsultasi dengan orang pintar yang membantunya, ternyata pemuda yang datang lewat mimpinya itu adalah roh anak kandunganya yang meninggal puluhan tahun yang lalu saat masih dalam kandungannya dan sempat dilahirkan meski dalam keadaan sudah meninggal.

Cerita tersebut di atas, ada yang menyebut sebagai anak atau bayi bajang, namun ada pula yang menyebut sebagai anak ambar. Orang awam mungkin tidak tahu atau tidak percaya, jika anak ambar atau anak bajang itu di alam gaib mereka akan tumbuh dan berkembang seperti layaknya anak pada umumnya. Meski lain dunia dengan ayah dan ibunya yang berada di dunia, ada sebagian masyarakat yang percaya jika anak ambar ini suatu saat pasti akan meminta sesuatu pada orang tuanya.

Hal ini ternyata pernah dialami seorang ibu yang tinggal di daerah Mojokerto, seperti yang disebutkan di atas, Asmiati, sebut saja begitu, wanita asal Mojokerto ini mengaku mengaku pernah mengandung anaknya pertama dari perkawinannya dengan suaminya sekitar dua puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu, mereka sebenarnya sudah lama mendambakan momongan.

Dan, baru menginjak usia perkawinan mereka yang ketiga tahun, Asmiati menampakan tanda-tanda kehamilannya. Sayangnya, pada usia kandungan ke tiga bulan, bayi itu keluar ke dunia atau keguguran.

Janin yang baru berumur tiga bulan itu masih gumpalan darah dan belum berwujud bayi seutuhnya. Karena itu peristiwa tersebut hanya diberitahukan kepada keluarga terdekat dan beberapa tetangga saja. Janin tersebut pun hanya dikuburkan di halaman belakang rumahnya tanpa prosesi pemakaman yang semestinya. Meski begitu, batu nisan tetap diberikan sebagai pertanda bahwa di situ telah dikuburkan anak manusia.

Lambat laun, kuburan bayi itu pun hilang ditelan waktu, begitu pula batu nisannya yang hanya terbuat dari kayu. Sampai akhirnya benar-benar tidak terlihat sama sekali. Seiring dengan waktu, kehidupan keluarga Asmiati yang sebelumnya tenang dan ekonominya baik-baik saja menjadi berantakan.

Suaminya sempat dipecat dari tempat kerjanya. Setelah itu mereka melakukan usaha wiraswasta namun tidak juga berhasil sampai akhirnya benar-benar bangkrut. Bahkan, Asmiati yang sempat hamil itu, selanjutnya tidak lagi menampakkan tanda-tanda akan punya anak lagi.

Melihat kehidupan keluarganya yang terus menerus dilanda masalah, Asmiati dan suaminya pun berkonsultasi pada orang yang dianggap pinta dalam hal-hal supranatural. Sampai akhirnya ia diberi petunjuk untuk kembali marawat makam bayi yang pernah dilahirkannya dalam keadaan sudah meninggal dulu. Setelah itu, konon kehidupan suami-istri ini lambat laun mulai membaik dan bisa punya anak lagi.

Dua puluh tahun berikutnya, Asmiati mengaku sering bermimpi didatangi seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandungnya. Dia menangis dan bersujud di pangkuan Asmiati. Dalam pertemuan dua dimensi itu, pemuda itu ternyata di alamnya sana belum dikasih nama. Ia minta diberi nama, juga ada permintaan yang lain, yakni minta dibelikan baju dan celana baru.

Mulanya hal itu tidak diperhatikan dan dianggap sebagai bunga tidur saja oleh Asmiati dan suaminya. Baru setelah mimpinya itu sering terjadi, Asmiati kembali berkonsultasi pada orang pintar yang pernah didatanginya. Sesuai saran orang pintar itu, pemberian nama itu akhirnya diberikan. Prosesi pemberian nama ini juga harus dilakukan dengan tradisi bancakan atau pemberian nasi kuning pada anak-anak kecil sekampungnya. Permintaan pakaian dan celana juga dikabulkan dengan cara ditaruh di kuburannya.

Anak ambar itu baru lepas sama sekali dan tidak pernah mengganggu kehidupan keluarganya yang di dunia setelah permintaannya yang terakhir. Yakni minta dikawinkan dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah sama-sama anak ambar seperti dirinya. Tidak ingin terjadi hal-hal seperti sebelumnya, keluarga Asmiati pun mengabulkan keinginan anak bajangnya itu meski prosesi perkawinannya hanya diketahui beberapa orang dekatnya, termasuk orang pintar yang sudah menjadi guru spirtual orang tuanya.

Cerita yang hampir sama pernah juga menimpa sebuah keluarga yang tinggal di Jakarta. Bahkan, karena merasa tidak pernah dirawat oleh orang tuanya, anak ambar ini sempat merusak usaha catering orang tuanya. Dia membikin ulah agar rezeki yang mengalir dari usaha catering ibunya itu macet. Pelanggan orang tuanya yang sebelumnya ramai menjadi sepi.

Konon, hal itu karena dikacaukan anak ambarnya yang tidak diperhatikan lagi di alamnya. Bahkan, saat anak itu minta dibelikan cincin untuk tunangan, orang tuanya tdak mengabulkannya. Beruntung keluarga pengusaha bahan-bahan bangunan ini mempunyai orang tua yang mengerti soal-soal seperti itu.

Dan, setelah dibelikan cincin sepasang dan pada malam yang telah dihitung untuk memilih hari baik, cincin itu dikuburkan di nisannya. Selanjutnya, teror anak ambar itu tidak terjadi lagi.

Seorang paranormal yang tinggal di Mojokerto menjelaskan bahwa anak ambar di alam sana juga tumbuh seperti manusia. Bahkan juga menikah. Mereka membentuk komunitas tersendiri, pisah dengan alam jin dan alam arwah. Anak ambar baru benar-benar lepas setelah mereka membentuk keluarga sendiri. Seperti di dunia, seorang anak baru dianggap bisa mandiri setelah mereka berkeluarga.

Hebh mengenai anak bajang atau anak ambar, sebenarnya bukan hal yang baru di negeri ini. Sebuah surat kabar Melayu-Cina pada 1940-an bahkan pernah menulis cerita mengenai anak ambar.

Ceritanya, di sebuah daerah di Jakarta, di antara wanita Betawi keturunan Cina, ada yang memelihara hantu yang berasal dari roh anaknya sendiri yang meninggal karena lahir sebelum masanya.

Untuk hantu yang mirip tuyul ini oleh ibunya dibuatkan perabot kamar yang serba mini, seperti ranjang mini lengkap dengan bantal, guling, selimut, dan sebagainya. Bahkan anak ambar itu dikabarkan sempat minta dikawinkan oleh orang tuanya dengan anak ambar wanita kepunyaan keluarga lain. Keinginan untuk menikahi kekasihnya itu diberitahukan kepada ibunya melalui mimpi.

Pada mulanya anak ambar itu sempat mengamuk dengan merusak perabotan rumah karena keinginannya itu tidak dikabulkan orang tuanya. Karena keanehan terus-terusan terjadi di rumah itu, akhirnya permintaan yang ganjil itu pun dikabulkan. Pesta perkawinannya dikabarkan dilakukan dengan cukup ramai. Bahkan, surat kabar tersebut sempat membuat foto boneka yang dianggap keluarga pemilik anak ambar sebagai simbolisasi perkawinan itu.

Masih menurut paranormal asal Mojokerto, anak bajang atau anak ambar memang bisa dijadikan untuk pesugihan. Ia bisa diperintah untuk mengambil harta benda milik orang lain mirip tuyul. Namun, meski begitu tidak semudah membalikkan telapak tangan lelaku dan prosesi ritualnya. Jika salah bahkan bisa fatal akibatnya, jelasnya tanpa menyebutkan akibat fatal yang bagaimana.

Tidak semua orang bisa melakukannya dan orang yang bisa melakukan pesugihan anak ambar biasanya meminta bantuan seorang dukun dukun. Tapi, meski anak ambar bisa dipelihara untuk pesugihan, bukan berarti melakukan ini tidak ada resikonya.

"Wong anak di alam dunia saja terkadang orang tua sulit mengaturnya, apalagi di alam sana. Tanpa bisa melihat sepak terjangnya tentu lebih tidak terkontrol lagi. Sebab itu, orang yang mau melakukan pesugihan anak ambar harus memikirkan resikonya," ujarnya.

Jumat, 21 Maret 2014

foto collection


Andalkan Transportasi Sungai: Bupati OKI, saat kunjungan kerja ke Desa Gading Mas, Kecamatan Sungai Menang, harus menggunakan speed boat karena wilayah tersebut tidak bisa dijangkau melalui jalan darat. Sejumlah daerah di Kabupaten OKI memanfg berada di wilayah perairan yang mengandalkan transportasi sungai. (Sumeks, Selasa, 11 Maret 2014

Terperosok: Kawasan Merah Mata, Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Sematang Borang khususnya di jalan menuju LP Merah Mata memiliki tanah yang labil. Akibatnya beberapa tiang istrik mengalami kemiringan dan truk kerap terperosok. Sumeks, Selasa, 11 Maret 2014

Energik: Para peserta menampilkan gerakan senam yang energik dalam lombo aerobik dan zumba di artium Palembang Icon, kemarin. Sumeks, Senin, 17 Februari 2014

Membara:Si jago merah mengamuk menghanguskan tiga rumah di Kayuagung, Kabupaten OKI. Sumeks, Senin, 17 Februari 2014

Membara: Petugas berusaha memadamkan yang melalap tiga rumah di Talang Ubi, Kabupaten PALI. Sumeks, 17 Februari 2014

Mati Mengapung: Dalam dua hari terakhir, ikan nila dan baung yang siap panen dalam keramba di Sungai Kekar mati mendadak. Diduga kondisi PH sungai yang rendah jadi penyebabnya. Sumeks, Senin, 17 Februari 2014

Paparan Usaha:Empat siswa Paramount School memaparkan usaha yang dijual kepada siswa lainnya dan orang tua saat kegiatan Entrepreneur Day, akhir pekan lalu. Kegiatan ini salah satu upaya sekolah mendidik jiwa entrepreneur sejak dini. Sumeks, 17 Februari 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Benarkah Aku Anak Jin?

Benarkah Aku Anak Jin? Namaku Citra. Citra Larasati Atmaja. Aku dilahirkan di Klinik Mempelam Raya, pada tengah malam Jum'at, tanggal 15 Januari 1980 di Jalan Mempelam Raya, Jakarta Pusat. Pada sebuah klinik kecil yang ditangani Bidan Nursanti. Di klinik ini, aku dijual kepada pengusaha mebel besar Suradi Atmaja. Seorang pria yang tidak punya anak walau sudah tiga belas tahun menikah dengan Surti Kemala. Surti Kemala ibu angkatku. Dialah yang mendidik, membesarkan serta memberi kasih sayang yang penuh kepadaku. Begitu juga dengan ayah angkatku, papi Suradi Atmaja, yang juga sangat menyayangiku, mendedikasikan dirinya untuk kemajuanku hingga aku menjadi seseorang di masa dewasaku. Aku menjadi sarjana dan pengusaha sukses, meneruskan perusahaan dan berjaya.

Namun kekayaan dan kemewahan hidupku tidaklah lengkap sebelum aku menemukan siapa ibu ibuku, siapa ayahku sebenarnya. Sebab, sejak aku remaja, banyak orang, terutama keluarga mamiku, membongkar rahasia kehidupanku, di mana aku bukan anak kandung Suradi dan Surti.

Mereka membuka rahasia bahwa aku anak perempuan misterius yang dilahirkan di Klinik Mempelam Raya, dibantu oleh bidan Nursanti, di mana ibuku kabur setelah melahirkan aku. Data tentang ibuku tidak ada, gelap dan bidan Nursant sendiri sendiri, tidak tahu di mana alamat ibuku dan apa pekerjaannya.

Namun, pada saat melahirkan aku, Bu Bidan hanya bilang bahwa ibuku mash berusia muda. Diperkirakan berusia 15 atau 16 tahun. Dikisahkannya juga, setelah aku berusia tiga hari, dan ibuku itu sudah pulih, bertenaga, dia kabur lewat jendela klinik lalu menghilang entah ke mana.

Pada bulan Januari 2012, aku berumur 30 tahun. Karena umurku cukup dewasa, maka ketika Mas Sugama melamarku, aku langsung kabarkan ke papa da mamaku. Mereka mendukung dan menerima lamaran Mas Sugama dan kami pun menikah.

Ayah dan ibu angkatku sangat memanjakan aku. Namun sayangnya, aku masih merasa kurang bahagia. Atau katakanlah, kebahagiaanku kurang lengkap sebelum aku menemukan ibu kandungku. Ibu yang melahirkan aku dan dari rahimnya aku ada ke dunia ini. Untuk itu, aku gigih mencarinya. Aku memasang iklan di mana-mana, masukkan di radio, teevisi, majalah dan koran-koran.

Hal ini, mulanya ditentang ayah dan ibu angkatku. Namun, setelah aku terangkan bahwa aku hanya ingin bertemu saja, setelah itu kembali ke ayah angkat, maka merekapun memperbolehkan. Bahkan ibu angkatku turut membantuku mencari ibu kandungku itu. Bidan yang punya klinik yang menolong persalinan, juga membantu dengan sungguh-sungguh.

Berkat bantuan seseorang intelejen partikelir yang disewa papaku, maka aku mendaatkan petunjuk penting tentang di mana keberadaan ibuku itu. Bu Bidan pun, menemukan data yang sama dan ibu kandungku itu berada di Jati Petamburan, Jakarta Pusat.

Kami masuk ke daerah stasiun kereta api di pinggir Sungai Kanal. Di antara gerbong-gerbong kereta barang tua, yang sudah tidak dipakai, seorang erempuan pesakitan sedang merintih. Dia kelaparan dan sakit maag parah dan tidak ada yang mengurus.

"Tidak salah lagi, dialah ibuku, wanita yang melahirkanku di klinik," kata Bu Bidan. Bu Bidan tahu persis wanita itu. Dia ingat wajahnya dan wajah wanita itu mirip sekali denganku.

Seperti datang intuisi kemanusiaan, wanita yang di situ bernama Suriyem itu langsung berusaha duduk. Dengan tubuh yang lemah, dia berusaha menyambut kami. Bu Bidan memegang bahunya, meminta agar dia tidak berdiri. Bu Sariyem meminta tanganku diulurkan kepadanya. Dia lalu menarik tanganku dan memelukku dengan erat. Beberapa saat kemudian da menciumku dengan mesra.

"Anakku, anakku, maafkan ibu telah meninggalkanmu di Klinik Mempelam Raya punya Bu Bidan ini," lirihnya sambil menangis tersedu.

"Hampir setiap minggu ibu datang mengintip ke rumah orang tua angkatmu. Ibu melihatmu dari kejauhan, dari balik pohon dan mengintipmu saat kau keluar dengan mobilmu menuju tempat usahamu. Ibu pun tahu tempatmu bekerja, ibu mengetahui persis pertumbuhanmu dari tahun ke tahun dan melihat perkembangan dirimu setiap waktu," kata ibu sambil menangis.

"Bagaimanapun, kau anak yang aku lahirkan dan ibu sangat mencintaimu. Ibu sangat terpaksa meninggalkanmu dan ibu yakin ada keluarga yang akan mengadopsimu dan mengurusmu sampai kau menjadi orang berharga, wanita yang berguna bagi nusa dan bangsa ini. Jika ibu membawamu, kau akan bernasib malangseperti ibu. Ibu seorang manusia miskin, hina dina, menderita. Ibu hanyaah pelacur kelas bawah, yang menjadi pekerja seks komersial murahan, yang tidur dari gerbong ke gerbong kereta tua," desisnya, sambil terus terisak.

Duh Gusti, aku ternyata anak seorang wanita tuna susila. Ibu kandungku ternyata seorang pelacur pinggir jalan. Hidupnya menggelandang dari gerbong ke gerbong, dari kolong jembatan ke kolong jembatan yang lain di ibukota. Karena tak tahan melihat nasib kandungku, aku menangis memeluk tubuhnya yang kotor dan kurus.

Batinku berbicara, bertekad, bahwa aku harus menyelamatkan ibuku. Aku akan memasukkannya ke rumah sakitdan berjuang untuk kesembuhannya. Setelah dia sehat, aku akan mengajaknya tinggal di rumahku. Walau ayah dan ibu angkatku begitu dekat dan aku sayang, namun ibu kandungku ini juga haruslah aku perhatikan. Dia berhak mendapatkan kasih sayangku. Suamiku harus menerima dia karena dia ibu kandungku.

Hari itu juga aku membawa ibuku ke rumah sakit. Ayah dan ibu angkatku, menerima kenyataan ini. Bahkan mereka memberikan dukungan yang kuat kepadaku dengan ikut memikirkan ibu kandungku setelah keluar rumah sakit.

Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah ibuku sembuh total. Badannya mulai berisi dan kulit pucat mulai memerah segar. Ibu langsung aku bawa ke rumahku. Namun keputusanku ini ternyata tidak berjalan mulus. Suamiku menolak ibuku karena dia seorang pelacur. Yang dihna suamiku bukan hanya ibu, tapi juga aku.

Dia menyesal menikahiku karena ternyata aku anak seorang pelacur. Kami berselisih dan terjadi keributan besar dan aku menggugat cerai. Suamiku memenuhi gugatanku dan kami pun bercerai. Ayah dan ibu angkatku mula-mula keberatan, namun setelah melihat sikap kerasku mempertahankan ibu kandungku, orangtua angkatku pun akhirnya menerima.

Lmbaran kehidupan baru pun aku buka sebagai janda. Namun aku bahagia karena aku bersama ibu kandungku yang melahirkanku. Aku mempunyai dua ibu, saah satunya ibu yang membesarkan aku yang aku sangat cintai dan ibu kandungku yang melahirkan yang juga aku cintai. Kami tinggal bersama di Cinere dan ibuku aku beri kegiatan usaha mini market di sebelah rumahku yang aku beli untuk ibuku. Ibuku memimpin beberapa karyawan dan toko itu meneguk banyak keuntungan.

Setelah kami hidup tenang, pelan-pelan aku mengorek ibuku. Aku kepingin tahu siapa sebenarnya ayahku. Pikirku, mungkin saja ayahku tidak bisa diketahui karena ibuku pelacur. Ibu berhubungan seks dengan siapa saja dan dengan lelaki bermacam-macam lalu hamil diriku dan dia tidak tahu benih yang mana menjadi aku.Suatu malam, sambil bergetar ibuku mengakui apa adanya, bahwa aku bukan anak manusia.

"Kok bukan anak manusia, maksud ibu?" deakku.

Ibu menggambarkan bahwa dia menggunakan pil anti hamil pada saat melakukan hubungan intim dngan pelanggannya. Tidak akan hamil dan tidak mungkin hamil, katanya. Namun, ibu mengakui bahwa dia menikah secara gaib dengan Jin Tamil, jin hitam dari India yang ibuku temui di Pasar Ular, Tanjuk Priok, Jakarta Utara. Dikisahkan, tengah malam, ibuku dinikahkan oleh dukun pemelihara ratusan jin untuk pesugihan. Ibu melakukan pesugihan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu dan menikah dengan Jin Tamil.

Setelah hidup sebulan dengan Jin Tamil, ibu hamil. Kehamilan itu terjadi di Pulau Onrust dan ibu mendapatkan hadiah emas batangan yang banyak dari Jin Tamil yang diangkat dari Pulau Onrust. Setelah mendapatkan emas batangan, Jin Tamil terbang meninggalkan ibu yang sedang hamil muda. Ibu lalu membawa emas itu menaiki perahu nelayan menuju Tanjuk Periok. Di pelabuhan Tanjung Periok, ibuku dirampok dan semua emas dibawa kabur lima perampok. Ibuku pingsan dan ditemukan sudah berada di salah satu kamar pelacuran Kramat Tunggak, Jakarta Utara.

Sejak itu ibuku menjadi pelacur profesional karena frustasi. Ibu djadikan pekerja seks komersial di situ hingga germonya pergi meninggalkan lokasi. Sebab, pemerintah DKI menutup lokasi pelacuran Kramat Tunggak dan dijadikan Islamic Center. Semua pelacur, germo, termasuk ibuku keluar meninggalkan lokasi dan terlantar sebagai pelacur di rel kereta api Senen dan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Di lokasi kelas bawah ini ibu tidak pernah dikontrol kesehatannya, tidak ada dokter dan tidak ada ahli juru suntik juga klinik. Maka itu ibu terkena penyakit kotor, penyakit gonorho, sepilis yang membuat dirinya menderita berat. Lain dari itu, karena kurang makan, ibuku menjadi penderita penyakit maag akut dan nyaris meninggal.

Alhamdulillah, aku bertemu ibu dalam keadaan hidup. Ibu lalu bersumpah, bahwa dia akan bertobat nasuhah. Dia bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah Azza Wajalla dengan dikubur hidup-hidup. Prosesi tobat itu dilakukan di Pualu Onrust oleh Kiyai Hamidan Awaludin. Kiyai membimbing bertobatan ibuku itu dan kini ibu menjadi muslimah sejati. Kami naik haji bersama-sama orangtua angkatku dan ibuku total berubah.

Dia melakukan sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, rajin shalat tahajjut, shalat Dhuha dan selalu menangis di sejadah. Sikap berserah dirinya kepada Tuhan begitu jauh dan dalam , bahkan melebihi diriku. Dia benar-benar menyesali perbuatan masa lalunya dan total bekerja untuk Tuhan. Setelah sukses dengan mini market, kami menbuat majelis taklim, pesantren, dan yayasan sosial. Ibuku mengurus semua itu dan sukses besar.

Malam Jum'at Kliwon, 16 Juli 2010, Jin Tamil tiba-tiba datang ke rumahku. Wujudnya seperti pria India, persis bintang film Bolywood, Rajesh Kanna. Tampan walau hitam, tinggi dan suaranya bariton. Dia minta bertemu ibuku dan aku memanggil ibu.

"Inikah anak kita Yem?" katanya, menunjuk aku, Ibu mengangguk tetapi ibuku menolak Jin Tamil itu. Ibu marah besar dan meminta Jin Tamil cepat meninggalkan rumah kami. Jin Tamil itu ketakutan dan buru-buru keluar rumah. Dalam hitungan detik, dia raib entah ke mana. Kata ibuku, dia terbang ke negaranya, Maladewa.

"Dialah bapakmu, tapi jangan kau akui dia bapak karena dia bukan manusia biasa. Dia Jin Tamil yang tak akan pernah bertanggungjawab kepada anaknya. Baik bangsa dia sendiri maupun anak bangsa manusia. Jangan ingat dia dan jangan pikirkan lagi dia," pesan ibuku.

Kiyai Aminudin yang aku mintai nasehatnya mengatakan hal yang sama. Bahwa Jin Tamil itu tidak bisa menyayangi anaknya. Dia hanya mengawini manusia tapi tidak pernah tulus menyayangi manusia.

"Maaf kiyai, benarkah jin pria itu bisa membuahi wanita, dalam hal ini ibuku, lalu lahirlah anak seperti aku ini?" tanyaku.

Dengan serius kiyai bertafakur, termenung, menengadah, lalu berucap. "Sebenarnya jin itu tak akan bisa membuahi wanita karena berbeda dimensi, berbeda bangsa dan mereka tanpa sperma yang mampu membuahi wanita kalangan manusia. Saya lihat kau bukan anak jin, tapi anak manusia, sperma manusia, laki-laki yang masuk ke rahim ibumu, lalu membuahi indung telur hingga jadilah dirimu. kau adalah anak alam, anak Pulau Onrust, yang mungkin ada bangsa manusia yang tidur bersama ibumu diluar pengetahuan ibumu. Jika kau mau, ada lelaki Pulau Onrust yang saya lihat mirip wajahmu, namanya Mat Rois. Dia nelayan pulau itudan dialah yang kuyakini ayah kandungmu. Bila DNA nya disamakan denganmu, pastilah dialah ayah kandungmu dan kau boleh menelitinya," terang kiyai.

Setelah bertemu kiyai, aku menjelajah kembali Pulau Onrust, pulau yang dulunya menjadi dermaga kapal Portugis yang digempur Belanda itu. Aku mencari ayah kandungku dan aku pun bertemu dengan Mat Rois. Dengan ketat aku menayai Mat Rois. Aku mengintrogasinya bagaikan polisi menanyai maling.

Mat Rois pun akhirnya mengakui jujur bahwa dia pernah bersahabat dengan Jin Tamil dan ikut tidur bersama ibuku. Dilah yang membuahi ibuku hingga ibuku hamil aku. Sejak itu, Mat Rois kuajak ke rumahku dan dinkahkan dengan ibuku. Kini, aku punya ayah baru, Mat Rois nelayan asal Pulau Onrust yang terlantar hidupnya.

Kini Mat Rois aku panggil ayah dan aku libatkan mengurus yayasan serta pesantren yang kami bangun di beberapa daerah di Jawa Tengah. Alhamdulillah, kini aku mempunyai dua ibu dan dua ayah, yang semuanya aku sayangi dan menyayangi aku. Terma kasih Tuhan, terima kasih ayah dan ibu angkatku, yang telah menjadikan aku manusia yang utuh.

Penganut Pesugihan Blorong

Penganut Pesugihan Blorong
Seekor ular berkepala manusia keluar dari atap rumah. Siluman ular itu kemudian masuk ke rumah warga. Dan keesokan harinya, warga yang kemasukan siluman ular itu meninggal tanpa sebab yang jelas.Kejadian ini aku alami beberapa tahun lalu, saat itu terjadi kegemparan di desa kami. Beberapa warga meninggal mendadak tanpa sebab apapun, kebanyakan usianya masih muda. Hampir tak ada yang tahu penyebabnya, hasil tes dokter menyatakan bahwa mereka semua baik-baik dan tidak mengidap penyakit apapun. Tetapi dari rumr yang berkembang mereka dijadikan tumbal pesugihan oleh beberapa orang warga desa kami yang menjalani ilmu sesat meraih kekayaan itu.

Kebetulan, di desa kami ada beberapa orang yang dinilai masyarakat meraih kekayaan dalam waktu singkat. padahal, mereka juga warga desa biasa yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan bekerja di sawah seperti kebanyakan warga lain. Tiga orang itu, sebut saja Budi, Tole, dan Andik, tiba-tiba memiliki kekayaan yang melampaui warga lain. Berhubung baru saja terjadi kematian aneh beruntun, ketiga orang tersebut selalu menjadi pergunjingan warga karena dianggap menjalankan pesugihan.

Selama berbulan-bulan pergunjingan itu terus berlangsung. Sedemikian hebatnya gosip itu beredar hingga membuat Budi, Tole, dan Andik tak berani berkumpul dengan warga, mereka menjadi introvet dan anti sosial. Beruntung tak terjadi tindakan-tindakan brutal dan main hakim dari warga terhadap ketiga orang tersebut. Bila terjadi, tentu desa kami menjadi terkenal seantero Indonesia.

Sesungguhnya aku tak tahu menahu mengenai pergunjingan tersebut. Aku bukan orang yang suka menggunjing, karena aku juga tidak ingin menjadi bahan pergunjingan. Tetapi entah mengapajustru aku yang harus tahu kebenaran jawaban dari teka-teki kematian misterius beberapa warga desaku. Itu semua terjadi tanpa sengaja ketika aku bersilaturahmi ke rumah para tetangga ketika Lebaran Idul Fitri.

Saat berkunjung ke rumah Pak Sapto, sebut saja begitu, tetangga yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahku. Tak biasanya keponakanku yang pendiam tiba-tiba berontak dan menangis ketakutan mnta pulang.

"Ayo pulang Mbah Uti. Ayo pulang. Aku takut," tangis Ulil, keponakanku, sambil menangis menunjuk salah satu kamar di rumah Pak Sapto.

"Jangan menangis, ayo dimaka dulu kuenya. Ini lho enak," rayuku menenangkan. Tapi ulil tetap menangis, bahkan semakin keras.

"Sudah jangan menangis, kamu takut apa?" kakakku ikut menenangkan.

"Aku takut Pa...," rengeknya.

"Takut apa?" Tanya kakakku yang juga ayahnya Ulil.

"Itu Pa, di kamar Mbah Sapto ada wanita tapi badannya ular. Di sebelahnya ada uangnya banyak," jawab Ulil. Seketka kami tertawa mendengar jawaban keponakanku yang baru berumur tiga tahun itu, tentu itu hanyalan anak-anak yang suka lihat sinetron dan film artun saja.

Tak sedikitpun terbersit pikiran negatif ketika Ulil berkata demikian, tak pernah kami menganggap kata-kata keponakan itu sebagai hal yang benar hingga lima hari kemudian. Lebaran sudah hampir seminggu berlalu, para pemudk sudah sudah banyak yang balik meninggalkan kampung kami yang sunyi. Malam itu, Ulil tak bisa tidur. Ia terlihat gelisah seolah melihat sesuatu yang mengerikan tengah terjadi. Nina bobo dan bujuk rayu ayah ibunya tak mampu membawanya terlelap.

Lonceng jam berdentang dua kali, pertanda malam telah merambat pada pukul dua dini hari ketika balita itu berjalan menuju kamarku dan membangunkanku.

"Om... om... bangun...," teriaknya membangunkanku. Aku yang sedar sore tak bisa tidur karena terganggu suara bersk kakakku merayu menidurkan Ulil menjadi terbangun.

"Om... ayo ikut aku," katanya sambil menggeret tanganku. Ia memintaku membuka pintu rumah dan mengajakku menuju teras.

Di depan teras tengah malam yang sunyi itu tiba-tiba perasaan angker menyergap diriku, mendirikan bulu kuduk.

"Ada apa kamu mengajak keluar?" Tanyaku memecah kesunyian.

Mata kecil balita itu memandangku tajam. Lama baru ia menjawab. "Om lihat genteng rumah Pak Sapto," katanya.

"Lihatlah, nanti om akan tahu sesuatu," katanya ringan tetapi membuatku semakin bergidik ketakutan di tengah malam itu.

Beberapa detk kemudian pemandangan mengejutkan terjadi di depan mataku, dari atap rumah Pak Sapto tiba-tiba keluar sesosok wanita berambut panjang dan bertubuh ular sebesar pohon kelapa. Tubuhnya berpendar leluasa menerobos genteng menunjukkan bahwa ia adalah makhluk gaib. Siluman wanita itu kemudian berjalan melata melintasi jalanan depan rumah yang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Hampir saja aku pingsan ketka makhluk jadi-jadian itu melintas di depanku sembari menoleh dan memamerkan gigi runcingnya.

Setelah makhluk itu melintas tiba-tiba muncul keberanian, aku melangkah membuntutinya hingga beberapa langkah keluar menuju jalan depan rumah. Aku meihat jelas siluman itu memasuki rumah Bagus, temanku SMP. Dalam kebingungan dan tanda tanyaku apa yang dilakukan siluman itu di rumah sahabatku, tiba-tiba Ulil memanggilku dan mengajak masuk rumah serta mengunci pintu. Balita lelaki itu kemudian menyuruhku tidur dan ia juga tidur.

Dalam kamar aku malah tak bisa tidur, sulit mempercayai apa yang aku lihat. Tetapi semua itu begitu nyata terjadi di depan mataku. Lama aku berpikir hingga rasa kantuk menyergap dan aku tertidur.

"Le.. le, bangun, Bagus meninggal," suara keras itu membangunkanku saat baru saja aku merasa terlelap. Aku sangat terkejut dan seketika terbangun mendengar kabar mengejutkan itu. Sahabatu sejak masih SMP itu kini meninggalkanku untuk selamanya.

Kematian Bagus yang tanpa didahului sakit dan sebab apapun menambah daftar kematian misterius di desaku. Aku tercengang di antara bingung dan tanda tanya. Apa hubungan antara kematian Bagus dengan apa yang aku lihat tadi malam. Apa pula hubungannya dengan kejadian Ulil menangis melihat wanita berbadan ular saat kami bertandang ke rumah Pak Sapto beberapa hari lalu. Semua serba misterius.

Lamunanku dikejutkan oleh suara Ulil yang baru saja bangun. "Ada apa Om di rumah Om Bagus kok ramai?" Tanyanya.

"Om Bagus meninggal," jawabku pelan.

"Iya Om, Om Bagus dimakan siluman ular yang datang tadi malam," jawaban Ulil mengejutkanku. Aku tersentak kaget mendengar, mendengar perkataan Ulil. Antara percaya dan tidak, tapi aku melihatnya sendiri. Sampailah aku pada kesimpulan, kematian misterius selama ini adalah tumbal pesugihan Pak Sapto.

Apa yang aku lihat kemudian membuka benang merah mengenai misteri kematian aneh di desaku. Semua pemuda yang mati mendadak ternyata sebelumnya pernah diajak berpergian dan dimanjakan oleh Pak Sapto. Semula tak ada yang curiga jika Sapto menjalankan pesugihan, selain ia aktif berjemaah di Musholla depan rumah istrinya juga pandai menyebarkan gosip behwa pemilik pesugihan adalah Budi, Tole, dan Andik. Kolaborasi keji suami istri itu memang mampu menutup lelakon sesat yang mereka jalani untuk mencapai kekayaan.

Ternyata Budi, Tole, dan Andik menjadi kaya bukan karena pesugihan, mereka hanya korban fitnah istri Sapto. Mereka kaya kerena sebab yang berbeda. Budi kaya karena mendapat bagian warisan dari neneknya yang berada di Singapura. Tole kaya karena sepetak sawah yang ia miliki dbeli dengan harga berpuluh lipat leh operator telepon untuk tiang relay. Sedangkan Andik kaya karena menggeluti bisnis on-line. Pantas mereka kaya meski masyarakat tahu ketiganya tak bekerja.

Dari Ulil aku kemudian juga tahu, rupanya balita itu terbuka indera keenamnya, bahwa Sapto mendapatkan pesughan tersebut dari Laut Selatan. Permintaan mereka untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan pesugihan ditolak oleh Ratu Laut Selatan yang baik. Penguasa Laut Selatan itu sebenarnya memang tak pernah amu diajak kerjasama untuk melakukan perbuatab buruk. Kesempatan itu dipergunakan oleh Nyi Blorong , lelembut Laut Selatan yang jahat itu dan sesat untuk menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan dengan menyanggupinya kaya raya melalui ritual pesugihan.