Selasa, 26 Agustus 2014

Terawangan dan Kasyaf

Terawang dan Kasyaf

Oleh: Ismatullah



Ada sebuah tabir antara yang tampak dengan yang tidak tampak. Seandainya tabir itu terbuka, maka akan terlihatlah segala yang tersembunyi. Pintu tabir ini disebut kasyaf, yang merupakan pintu penghubung antara alam sadar dan alam bawah sadar.

_______________________________



Melalui pintu tabir itulah yang akan menuntun orang untuk memahami alam yang ada di luar dirinya seperti alam gaib yang menyimpan begitu banyak misteri yang hanya dengan Ilmu Allah SWT saja yang akan terbuka rahasianya.

Orang yang telah terbuka pintu kasyaf-nya akan diberi kemudahan untuk merasakan, membaca dan melihat segala sesuatu yang akan terjadi ataupun berada di luar kemampuan indera fisknya.

Bila kita telah lebih jauh, sebenarnya pintu kasyaf merupakan pintu yang diperuntukkan bagi orang yang berhati suci. Oleh karena itu, kesucian hati menjadi mutlak sebelum membuka pintu kasyaf. Agar terbuka pintu kasyaf tentunya dilakukan dengan merujuk kepada syariat agama.

Misalkan dengan beribadah secara benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Orang-orang yang telah terbuka pintu kasyaf-nya akan memiliki begitu banyak kelebihan. Tetapi kelebihan ini sangat berbeda dengan apa yang disebut kemampuan terawangan.

Beberapa kemampuan terawangan diantaranya adalah mampu membaca apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Mampu melakukan teropong gaib dari jarak yang tak terbatas, mampu membaca isi hati orang lain, mampu melihat keadaan musuh di kejauhan, mampu melihat keadaan orang yang kita cintai di manapun berada, menangkap getar-getar dari alam gaib, melihat makhluk dari dimensi lain dan sebagainya yang bermuara pada ketajaman alam bawah sadar.

Konon melalui terawangan ini juga dapat melihat kekuatan gaib atau energi yang ada pada benda, pusaka dan lain-lain. Di zaman modern ini, banyak orang yang ingn menguasai ilmu terawangan. Banyak pula dari kalangan atas hingga bawah yang berduyun duyun mendatangi "oang pintar" yang tujuannya mempelajari ilmu terawangan. Tetapi tanpa kita sadari, semua perburuan mendapatkan ilmu terawangan kadang malah dimanfaatkan oleh oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Oknum semacam ini biasanya mengaku menguasai sejumlah amalan ilmu terawangan untuk menembus alam gaib dan mampu membari pelajaran ilmunya itu kepada siapapun, asalkan dengan imbalan tertentu. Padahal, mereka yang hanya mengaku-ngaku itu belum tentu juga pernah melihat alam gaib. Inilah yang mengakibatkan kita dapat dirugikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab semacam ini.

Terawangan
Banyak yang mengira ilmu terawangan ini adalah pembuka pintu kasyaf. Padahal itu sesuatu yang berbeda. Terawangan dan kasyaf adalah dua hal berbeda. Terawngan dalam konteks membaca isi hati orang, meneropong tempat yang jauh, merasakan getaran energi pusaka, melihat makhluk gaib, melihat musuh dari kejauhan dan lain-lain, tidaklah dapat disebut bagian dari kasyaf.

Kemampuan terawangan smacam itu lebih bersifat menyelidiki atau layaknya intelejen yang sedang memata-matai sesuatu. Tujuannya bisa bermacam-macam. Sedangkan kasyaf lebih merupakan kemampuan yang memang anugerah dari Tuhan untuk tujuan peningkatan kualitas ibadahnya. Terawangan jelas sesuatu yang tidak penting untuk dipelajari, itulah sebabnya, saking tidak pentingnya ilmu terawangan, maka Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkannya.

Dalam setiap peperangan, baik di zaman dulu hingga kini, operasi intelejen selalu dilibatkan dalam mendukung kesuksesan sebuah pertempuran. Diantara tujuan opersi intelejen ini adalah membaca kekuatan dan pergerakan pasukan lawan. Sehingga apabila kekuatan lawan sudah terbaca tinggal mengambil tindakan antisipasi yang tepat untuk menghadapinya. Misalnya dengan menyusupkan mata-mata atauu agen rahasialangsung ke dalam pasukan musuh. Umumnya agen yang disusupkan itu sudah sangat terlatih hingga tidak seorangpun dari pihak lawan yang mengetahui identitas yang sebenarnya.

Ketika pertempuran berkecamuk diantar kedua belah pihak yang saling berperang, maka informasi intelejen sangat ditunggu oleh setiap komandan pasukan perang masing-masing sebelum akhirnya membuat keputusan apa tidakan yang tepat untuk dilakukan.

Contoh di atas menunjukkan bahwa seandainya terawangan itu memang penting, maka tentu melatih orang-orang untuk memiliki kemampuan terawangan jauh lebih penting dibandingkan melatih orang untuk menjadi intelejen. Namun kenyataannya menunjukkan bahwa dari zaman dulu hingga sekarang ini, metode melatih agen intelejen masih digunakan dibandingkan melatih terawangan secara gaib.

Pada zaman Rasulullah SAW terdapat sebuah kisah mengenai agen intelejen. Diriwayatkan dari Abu Huraira RA berkata; "Rasulullah SAW mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Ashari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah Kampung Suku Hudhail yang biasa disebut Bani Luhayan.

Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah SAW. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, "ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka."

Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata; "Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian." Ashim bin Tsabit berkata; "Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir." Lalu memanjatkan doa; "Ya Allah, beritakan kondisi kami kepada Nabi-Mu shallallahu'alaihi wa salam."

Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah SAW dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah SAW tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang laki-laki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata; "Ini adalah pengkhianatan yang pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh)."

Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani al-Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah sepakat untuk membunuhnya.

Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya. Perempuan itu meminjamkannya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bhkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata; "Aku sangat kaget." Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata; "Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu? Aku tidak mungkin membunuhnya."

Wanita itu berkata; "Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rezeki yang dianugerahkan Allah kepada Hubaib.

Ketika Bani al-Harits membawa Hubaib keluar dari tanah haram untuk membunuhnya. Hubaib berkata; "Berilah aku kesempatanuntuk mengerjakan shalat dua rekaat." mereka mengizinkan shalat dua rekaat. Hubaib berkata; "Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku."

Lalu Hubaib memanjatkan doa; "Ya Allah susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup," lalu mengucapkan syair: Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam. Dengan cara apa saja Allah tempat kembaliku. Semua itu aku kurbankan demi Engkau. Ya Allah Jika Engkau berkenan, berkahilah aku berda dalam tembolok burung karena lukaku (syahid).

Lalu Abu Sirwa'ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.

Nabi Muhammad SAW memberitahu para sahabat pada hari disiksanya Hubaib, bahwa kaum Quraisy mengutus beberapa orang untuk mencari bukti bahwa Ashim bin Tsabit telah terbunuh dalam peristiwa itu, mereka mencri potongan tubuh Ashim.

Karena Ashim adalah yang membunuh salah seoang pembesar Quraisy . Tetapi Allah melindngi jenazah Ashim dengan mengirim sejenis sekawanan lebah yang melindungi jenazah Ashim, sehingga orang-orang itu tidak berhasil memotong bagian tubuh jenazah Ashim sedikit pun." (HR. Al Bukhari dan Abu Dawud)

Kisah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melatih sahabat-sahabatnya ilmu intelejen atau menyelidiki kekuatan musuh dan bukan melatih sahabat-sahabatnya ilmu terawangan agar dapat menerawang kekuatan musuh. Semoga kisah di atas menjadi ibroh atau pelajaran bahwa ilmu terawangan itu hanya tipu daya syetan belaka.

Kasyaf
Apa sesungghnya kasyaf itu? Kisah di bawah ini memberikan gambaran seputar kasyaf. Dalam sebuah riwayat dijelaskan, Imam Bukhari meriwayatkan dari Usaid bin Hudhair, ketika ia membaca surah Al-Baqarah di malam hari, sementara kudanya ditambatkan di sampingnya tiba-tiba kudanya meronta-ronta. Ia menenangkan kudanya hingga tenang lalu melanjutkan bacaannya lagi, kembali kudanya meronta-ronta kemudian kembali menenangkan lagi. Kejadian ini berulang tiga kali. Ia juga memperingatkan anaknya bernama Yahya agar menjauhi kudanya agar tidak disakiti.

Usaid menengadah langit dan disaksikan ada naungan yang di dalamnya terdapat pelita besar. Ketika pagi tiba, ia melaporkan kejadian ini kepada Nabi SAW. Nabi SAW berkata bacalah terus (Al-Qur'an itu) wahai Usaid, diulangi tiga kali. Aku juga menengok ke langit ternyata aku juga menemukan hal yang sama. Nabi SAW memberikan komentar; "itu adalah para malaikat yang mendekati suaramu. Seandainya kamu terus membaca (Al-Qur'an) keesokan paginya manusia akan melihat para malaikat yang tidak lagi menyembunyikan wujudnya dari mereka."

Ketiga hadits shahih di atas mengisyaratkan adanya penyingkapan (kasyaf), yaitu kemampuan seseorang untuk melihat atau menyaksikan sesuatu yang bersifat gaib, seperti melihat, mendengar, atau merasakan adanya suasana gaib.

Apa yang disaksikan itu berada di luar kemampuan dan jangkauan akal pikiran manusia normal. Kasyaf tidak hanya terjadi pada diri seorang Nabi atau Rasul yang dibekali dengan mukjizat, tetapi manusia biasa yang mencapai maqam spiritual tertentu juga bisa menyaksikannya, walaupun sudah barang tentu , kapasitas kasyaf tersebut berbeda dengan penyaksian yang dialami oleh para Nabi atau Rasul.

Sumber: Misteri Edisi 584, Tahun 2014

Minggu, 10 Agustus 2014

Rahasia Membuka Pintu Gaib

Rahasia Membuka Pintu Gaib

Pernah mengalami deja vu? Ya, banyak dari kita yang merasa pernah melihat atau mengalami suatu peristiwa di masa lampau, hadir kembali. Kita lantas bertanya-tanya, kapan kita pernah melihat atau mengalami peristiwa itu. Sebagian dari kita kemudian pecrcaya, deja vu adalah bukti adanya reinkarnasi. Peristiwa yang seolah pernah dilihat atau dialaminya itu, menurut teori reinkarnasi, sebenarnya benar-benar telah dialami atau dilihat pada kehidupan sebelumnya bebarapa ratus tahun lampau. Tapi ada kelemahan dari teori tersebut karena jika hal itu terkait dengan tabrakan mobil misalnya, jelas jaman dulu atau pada kehidupan sebelumnya, belum ada mobil.

Pendekatan yang lebih tepat justru dari sisi gaib. Bahwa ada dunia lain di luar dunia yang kita lihat saat ini sudah sejak dulu diyakini oleh umat manusia dari golongan apapun. Selain dunia sebelum kelahiran dan sesudah kematian, teks-teks kuno baik yang bersandar pada jejak manusia pra agama sampai berdirinya agama-agama samawi --agama yang mengakui ke-Esaan Tuhan, sudah menuliskan adanya dunia lain di luar dunia fisik yang kita lihat dan rasakan, yakni dunia gaib.

Nah, dunia gaib memiliki pintu-pintu yang bisa dimasuki manusia. Sebagian percaya pintu gaib di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti kuburan, hutan, gunung atau goa. Namun dari beberapa peristiwa yang terjadi, menguatkan dugaan, pintu gaib tidak selalu berada di tempat-tempat keramat, minimal tempat yang belum diketahui keramat oleh manusia seperti dalam kasus masuknya bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix ke kawasan hutan Jati Gedongan di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora beberapa waktu lalu.

untuk membuka pintu gaib diperlukan kemampuan supramistik. Hanya orang-orang dengan ilmu linuwih yang bisa mengetahui pintu gaib dan masuk ke dunia itu. Namun jika beruntung, Anda pun bisa masuk ke sana. Pahami dulu ciri-ciri adanya pintu gaib dan apa yang harus Anda lakuan setelah berada di dalamnya. (*)

Pintu Gaib



Ada dunia lain di luar dunia yang kita lihat saat ini sudah sejak dulu diyakini oleh umat manusia dari golongan apapun. Selain dunia sebelum kelahiran dan sesudah kematian, teks-teks kuno baik yang bersandar pada jejak manusia pra agama sampai berdirinya agama-agama besarsudah meuliskan adanya dunia lain di luar dunia fisik yang kita lihat dan rasakan, yakni dunia gaib. Upaya untuk menyingkap dunia gaib tersebut pun sudah dilakukan sejak dulu. Sebagian dari mereka ada yang mengaku bisa memasuki dunia gaib dan berhubungan dengan makhluk di dalamnya.

Dengan kontruksi seperti itu maka kita tidak perlu lagi terjebak pada pertanyaan ada atau tidaknya dunia gaib. Sebab keberadaan alam gaib adalah sebuah kenscayaan. Bahkan pada hakikatnya, tanpa disadari, semua orang pernah memasuki alam gaib. Sebagai contoh yang yang paling mudah adalah deja vu. Peristiwa ini hanya mungkin terjadi nakala seseorang pernah memasui alam gaib dan melihat suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Lalu dimanakah letak dunia gaib itu? Dunia gaib ada di sekitar diri kita. Sebab dunia gaib seluas dunia nyata juga. Hanya saja untuk bisa masu ke sana diperlukan metode khusus. Nah, disitu letak persoalannya. Sebab, ibarat hendak masuk ke sebuah goa atau lorong, terlebih dulu kita mengetahui letak pintunya. Jika kita sudah mengetahui pintnya, maka dengan mudah kita bisa keluar-masuk ke alam gaib dan berinteraksi dengan para penghuninya.

Untuk menemukan pintu gaib, dibutuhkan kaahlian khusus. Sebab diyakini, pintu gaib ada di suatu tempat tertentu yang yang tidak sembarangan orang bisa mengetahuinya. Bisa di tempat-tempat keramat seperti makam, gunung, pantai dan lain sebagainya. Namun ada juga yang berada di tengah keramaian, di sekitar kita. Itu sebabnya, manusia kadang tanpa sadar masuk ke dalam dunia gaib manakala dia berada di pintu gaib yang tengah terbuka. Peristiwa bus yang masuk ke hutan seperti yang terjadi di Indramayu, hanyalah salah satu bukti bahwa pintu gaib tidak selalu berada di kuburan atau tempat keramat. Atau bisa jadi, manusia belum mengetahui bahwa tempat itu keramat karena dulunya menjadi petilasan atau bahkan makam manusia linuwih.

Jika kita sudah menemukan pintu gaib, tentu kita tidak serta merta dapat masuk ke alam sana, keculai ketika pintunya terbuka. Namun bagi mereka yang memiliki ilmu, bisa menggunakan mantra-mantra atau pusaka tertentu untuk membukanya. Metodenya adalah, kita memanggil penghuni gaib. Pada saat yang kita penggil keluar sehingga pintu terbuka, maka kita pun masuk. Cara-cara seperti itu sudah banyak dilakukan. Biasanya terkait pesugihan atau perkawinan antara manusia dengan bangsa gaib.

Kini tata cara untuk masuk ke alam gaib, tidak melulu melalui mantra. Manusia modern sudah banyak melakukan riset untuk menemukan pintu gaib. Tentu mereka tidak sedang berburu harta karun, namun lebih pada pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab saint Barat pun mengakui adanya kegaiban di luar dunia nyata yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Ilmuan Barat terus mengembang teori dan pengetahuan untuk memecahkan hal tersebut. (*)

Pintu Gaib Ada Di Mana-Mana



Sudah banyak ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia untuk manaklukkan tantangan kehidupan. Manusia sudah mampu menaklukkan burung dengan terciptanya pesawat terbang sehingga manusia bisa terbang ke mana-mana. Manusia juga sudah mengalahkan ikan, dengan tercptanya kapal selam sehingga manusia bisa hidup di dalam air hingga berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.

Namun ada suatu dunia yang hingga saat ini belum bisa ditaklukkan manusia yakni dunia gaib. Dunia itu masih merupakan misteri; antara ada dan tiada. Bagi manusia yang beriman, tentunya percaya adanya kegaiban tersebut. Namun bagi sebagian yang lannya, dunia gaib tak lebih dari igauan alias tahayul. Bahkan adfa yang beranggapan dunia gaib hanyalah rekayasa manusia untuk menyembunyikan ketidakmampuannya. Artinya hal-hal gaib hanyalah bentuk pelarian manusia untuk menghindari kenyataan yang ada.

"Padahal dalam dunia gaib juga ada kehidupan layaknya di dunia nyata. Para penghuni dunia gaib juga membentuk komunitas. Mereka tinggal di tempat-tempat tertentu yang hanya bisa diketahui oleh orang yang berilmu," ujar Aziz Hidayatullah, pakar supramistik.

Mantan pemburu hantu yang sudah menjelajah ke banyak tempat keramat itu juga menuturkan sangat mudah untuk menemukan pintu gaib sebagai jalan menuju dunia gaib. Sebab pintu gaib tidak hanya ada di tempat-tempat keramat. Bahkan di tengah perkotaan pun ada pintu gaib. Berikut petikan wawancara Yon Bayu Wahyono dengan Aziz Hidayatullah yang juga Ketua Ketabiban Pakar Nusa:

Apa alam gaib itu?

Banyak orang menafsirkan, mendefinisikan alam gaib berdasarkan pengetahuan dan kalimatnya masing-masing. Tapi secara umum alam gaib dapat didefinisikan sebagai alam yang kasat mata. Ia ada dan hidup berdampingan dengan alam nyata manusia dan sebagian punya wilayah tersendiri jauh dari wilayah komunitas manusia.

Alam gaib adalah alam tempat tinggal makhluk halus yang juga ciptaan Tuhan, seperti malaikat, ruh, jin siluman dan sebangsanya. Alam gaib juga dihuni di antaranya oleh roh-roh gentayangan atau yang tersesat. Seperti kita ketahui, Rukun Iman Ummat Muslim juga mewajibkan ummatnya untuk percaya pada hal-hal gaib.

Benarkah kita bisa masuk ke dalam alam gaib jika bisa menemukan pintunya?

Ya tentu saja bisa. Banyak sejarah membuktikan manusia bisa masuk ke alam gaib. Entah itu masuk dengan sengaja atau tanpa sengaja, tersesat. Yang pasti manusia bisa masuk ke alam gaib. Dan tentu saja harus melalui pintunya.

Apa syarat untuk membuka pintu alam gaib?

Yah itulah masalahnya. Semua tempat atau pintu alam gaib itu memilik cara dan syarat sendiri-sendiri. Seperti juga budaya manusia di alam nyata ini. Misalnya ketika kita hendak masuk alam gaib Pantai Selatan ke Kerajaan Ibu Ratu Kidul, biasanya dia akan membuat persyaratan sendiri jika manusia hendak masuk ke alamnya itu.

Penguasa gaib Pantai Selatan itu akan meminta syarat berbagai jenis ubo rampe, sesajian dan tentu saja sejumlah mantra atau ajian yang harus dikuasai oleh manusia yang hendak membuka pintu alam gaib itu.

Biasanya ajian atau mantra itulah yang sulit untuk dikuasai, artinya tidak semua orang bisa atau mengetahuinya. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang punya kelebihan ilmu waskita yang bisa menguasainya.

Saya ambil contoh pintu gerbang alam gaib Pantai Selatan itu antara lain ada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi dan Parang Kusumo, Parangtritis, Bantul-Jogjkarta. Di antara dua tempat berbeda itu, sesajian, ubo rampe dan mantra yang dibacakan para juru kuncinya berbeda. Padahal maksudnya sama, yaitu untuk membuka pintu alam gaib itu. Tapi kan bahasa yang digunakan berbeda, satu menggunakan bahasa Sunda Buhun di Pelabuhan Ratu dan di Parang kusumo menggunakan bahasa Jawi Kuno.

Saya ambil contoh lagi yang terdekat di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sekitar tempat pembantaian para jenderal itu ada pintu alam gaib yang bisa dibuka dengan ajian dan sesajian lengkap. Di situ saya pernah melakukan meditasi dan membuka pintu alam gaibnya.

Alhamdulillah, saya bisa masuk ke sana dan melihat fenomena-fenomena gaib yang saya masuki melalui pintu di Lubang Buaya tersebut.

Di mana kita bisa menemukan pintu menuju alam gaib?

Sepengetahuan saya pintu alam gaib itu ada di mana-mana. Sama seperti manusia yang punya rumah atau kompleks perumahan. Makhluk-makhluk gaib di alamnya pun punya komunitas dan pintu menuju komunitas itu. Jadi di mana pintu alam gaib itu, ya jawabnya ada di mana-mana. Tergantung ke komunitas makhluk gaib yang mana kita akan masuk. Mungkin di belakang rumah kita pun ada pintu menuju alam gaib, jika di sekitar kita ada komunitas makhluk gaib.

Jadi pintu alam gaib itu tidak hanya di tempat-tempat keramat?

Tidak, seperti yang saya katakan tadi ada di mana-mana, tidak harus di tempat keramat. Namun, memang umumnya kebanyakan pintu gaib itu ada di tempat keramat, tempat angker atau terpencil. Sebab di situlah kebanyakan makhluk halus membentuk komunitasnya. Tapi faktanya di tengah perkotaan pun ada makhluk halus yang gentayangan menampakkan diri. Jadi sangat mungkin di tengah perkampungan atau tempat tinggal kita pun ada pintu masuk ke alam gaib.

Seperti apa suasana di alam gaib?

Hehe... kurang lebih sama seperti suasana di alam manusia kita ini. Mereka juga punya rumah tangga, punya suami/istri dan anak-anak. Ada pula komunitas makhluk halus yang tidak menggunakan pakaian. Manusia terdiri dari berbagai macam golongan dan suku bangsa. Komunitas jin (makhluk gaib) pun demikian. Bahkan jin dari golongan binatang pun ada. Jin inilah yang yang biasa orang katakan sebagai siluman. Ada yang penampakannya baik, bersih, ganteng, cantik. Tapi ada pula yang wujudnya jelek, serem, hitam, tinggi besar dan lain-lain. Golongan makhluk halus seperti itu yang biasanya kita sebut genderuwo.

Apa yang bisa kita lakukan ketika berada di alam gaib?

Tergantung apa tujuan kita. Bagi yang ingin kaya, ya harus menemui penguasa gaib di situ untuk meminta kekayaan. Biasanya dengan membuat perjanjian khusus yang harus dipenuhi oleh manusia yang meminta kekayaan tersebut. Tapi kalau sekedar ingin berwisata, ya kita jalan-jalan saja. Menyaksikan kehidupan dunia lain, dunia gaib yang tidak bisa kita temui di dunia nyata.

Setelah berada di alam gaib, apakah kita bisa kembali ke alam nyata?

Tergantung ilmu yang dimiliki orang itu. Jika orang itu memiliki ilmu yang mumpuni, maka ia bisa masuk alam gaib dan bisa pula kembali ke alam manusia. Tapi pada kenyataannya banyak pula manusia yang masuk alam gaib dan tidak bisa kembali. Makanya banyak kita jumpai atau mendengar manusia yang gila, stress atau linglung setelah masuk alam gaib. Itu karena ruhnya atau sukmanya tertinggal atau masih ada di alam gaib.

Apa pandangan ustadz terhadap fenomena deja vu (seperti pernah melihat atau merasakan sesuatu peristiwa)? Benarkah fenomena deja vu terjadi karena orang tersebut pernah masuk ke alam gaib dan kemudian bertemu dengan peristiwa di alam nyata yang mirip dengan peristiwa yang ditemuinya di alam gaib?

Ya, saya sering emndengar fenomena ini. Menurut saya ada beberapa kemungkinan, salah satunya adalah disebabkan pernah masuk dan berinteraksi di alam gaib. Ada juga disebabkan oleh fenomena mimpi.

Di dalam mimpi tersebut seolah kita pernah berada di satu tempat yang tidak kita kenal. Tapi beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian, kita benar-benar berada dan mengalami kejadian sama seperti di tempat yanf pernah kita impikan itu. Mungkin ini peristiwa deja vu dalam lingkup yang lebih kecil. Kita ketahui, mimpi adalah bagian dari alam gaib.

Dalam lingkup yang lebih luas, biasanya dialami oleh orang-orang waskita yang memiliki ilmu gaib seperti ilmu terawangan, imu ragasukma, atau indera ke-6 yang memungkinakan mereka untuk mengetahui "weruh sakdurunge winarah" tshu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Namun bedanya kalau orang mengalami deja vu biasanya akan dilami tanpa ada unsur kensengajaan. (*)

Terbukanya Hijab Jinis



Oleh: K. Hendy Koeswara



Pintu gaib sering disebut juga sebagai hijab jinis. Ia menajadi pembatas antara alam fisik dengan alam metafiska maya. Salah satu peristiwa paling menghebohkan terkait terbukanya pintu gaib adalah tersesatnya bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Kedua kendaraan itu masuk ke kawasan hutan jati Gadongan di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

________________________________________



Banyak pihak yang dibuat takjub dengan peristiwa yang terjadi pada Juni 2012 lalu itu. Sampai saat ini masih muncul pertanyaan bagaimana mungki truk beton dan bus yang mengangkut 33 penumpang bisa masuk ke kawasan hutan jati yang tidak ada jalannya.

"Bus dan truk itu itu melintasi hijab jinis atau pintu gaib yang saat itu terbuka," Ki Imam Subkhi, salah seorang paranormal yang tinggal di daerah Indramayu.

Menurut dia, kejadian yang sama juga pernah terjadi di hutan Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sebuah bus antar kota antar provinsi (AKAP) masuk ke tengah hutan tanpa kerusakan pada body-nya. Padahal jarak antar satu pohon dengan pohon lainnya sangat berdekatan sehingga mustahil bisa dilalui bus tanpa menabraknya. Dari beberapa kisah kemudian diketahui, tempat itu dulunya angker karena menjadi perkampungan makhluk gaib.

sementara peristiwa di Blora, awalnya, bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura, tepatnya di jalur Juwana-Rembang. Karena lalu lintas macet, sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang jalur yang dilalui adalah jalan desa. Entah bagaimana, bus tersebut masuk ke kawasan hutan jati Gadongan di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Ceritanya, ketika menempuh jalan pintas itudi perbukitan yang dipenuhi pohon jati , bus berjumpa dengan truk beton. Sopir berusaha mendahului truk namun kernet meminta sopir membiarkan truk duluan mendaki. Truk akhirnya bisa mendaki, disusul bus. Pendakian bus tidak mulus. Ban beakan selip, lalu berjalan mundur. Kemudian terdengar suara benturan.

Kernet dan sopir turun dari bus mencoba melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba mesin mobil mati. Sopir dan kernet kaget bukan main karena menyadari posisi mobil tidak lagi di jalan tapi di tangah-tengah hutan jati. Waktu itu pukul 02.30 dini hari . Kernet membangunkan 33 orang penumpang bus. Sekitar pukul 06.30 WIB, kru mencoba mencari pemukiman warga dan meminta bantuan. Warga lalu melapor kepada lurah setempat.

setelah sekitar lima jam di tengah hutan jati itu, pertolongan datang. Mobil patroli bersusah payah masuk ke TKP. Maklumlah, lokasi bus itu rupanya hanya jalan setapak. Agar bisa keluar sebagian pohon ditebang dan jalan diratakan. Pada pukul 18.35 WIB barulah bus itu mencapai jalan desa.

Peristiwa itu bukan kali pertama. Menurut Saman, warga setempat, pernah juga ada rombongan penyeda hiburan tersesat di dalam hutan itu. Saat itu, mereka mengaku disewa oleh warga setempat untuk menghibur hajatan semalaman. Mereka pun melayani sesuai pesanan.

"Padahal saat itu tak satupun warga yang menggelar hajatan . Mereka nyetel video di tengah hutan. Tapi anehnya mendapat bayaran uang betulan (asli)," katanya.

Selain cerita-cerita tersebut, masih ada sederatan cerita lain yang temanya sama, yakni tersesat. Ada kelompok seniman yang beraksi di hutan seolah-olah sedang menghibur warga, polisi yang nyasar sanpai ke tengah pemakaman, dan lain-lain.

"Jadi model tersesat ada yang pas saat lewat di situ tiba-tba tembus entah kemana. Atau dari luar daerah tiba-tiba nyasar tembus di situ," kata Lilik Pujianto, Kepala Desa Kedungbacin, Blora.

Dari cerita para leluhur desa, daerah sekitar hutan tersebut adalah sebuah kota gaib yang menjadi tempat tinggal banyak makhluk halus. Kota tersebut cukup megah dan besar. Namun hanya orang-orang tertentu yang memiliki kelebihan saja yang bisa melihatnya.

Beruntunglah seluruh sopir dan penumpang kendaraan yang masuk alam gaib itu selamat setelah mendengar suara kokokan ayam dan kumandang adzan Subuh.

"Itu jelas ulah makhluk halus. Kendaraan itu sebenarnya masuk ke dalam sebuah terowongan gaib yang entah kemana tembusnya. Beruntung sopir segera tersadar setelah mendengar suara kokokan ayam dan suara adzan," kata Mbah Kesi-spiritualis setempat.

Suara kokokan ayam jago dan adzan itu terdengar karena saat ketiga kendaran ada di tengah hutan bersamaan dengan waktu shalat Subuh menjelang pagi yakni sekitar pukul 04.30. Menurut kakek 62 tahun ini, jika saja tak ada suara-suara yang membuat sopir tersadar tersebut, bisa jadi rombongan bus dan truk itulebih masuk jauh ke dalam jalan gaib itu. Bshkan bisa jadi rombongan truk dan bus yang mengangkut puluhan penumpang tersebut masuk ke dunia lain dan tak kembali.

Menurut Mbah Kesi, menirukan ucapan sopir bus yang sempat berobat padaanya, jalan gaib yang dilalui tersebut sangat mirip dengan jalur pantura. Kondisi jalan ramai oleh lalu lalang kendaraan. Bahkan lengkap dengan tukang becak yang mangkal di tepian jalan. Tanjakan tempat truk dan bus nyasar di tengah hutan Mbagon itu adalah berupa perempatan yang saat itu meyala lampu merah hingga sopir berhenti. (*)

Sumber: Misteri Edisi 586, Tahun 2014

Minggu, 03 Agustus 2014

Nol Berhamburan

Nol Berhamburan

Oleh: Abidah El Khalieqy



Terasa nyaman waktu. Sebab kita tak sendiri. Sinyal-sinyal indah meretas jarak antara langit dan bumi. Makin kuhikmati dirimu. Semestamu. Makin terang cahaya di atas lembaran buku-buku. Nol berhamburan. Keramaian politik bergeming memmbaca rindu alif-ba-ta-mu.

Membentang luas cakrawala di cekung matamu. Gugusan awan mencair, menjelma hujan. Hilang jarum jam dari dari menit dan detik. Namun api di dada masih tetap membara sampai jua rinduku di titik nadir. "Turunkan rindu ini. Cintaku, aku tak kuat lagi!"

"Ke mana akan turun, rindu itu selamanya surga."

"Surga pertama atau kedua?"

"Lebih dari Adam dan Hawa, dalam rindu kita tak ada surga kedua."

"Ke mana pun, asal tak di sini. Aku ingin meloncat keluar!"

"Jangan! Nanti terpercik api."

"Sesekali aku ingin terjilat."

"Jangan berlebihan! Kau nanti bisa hangus."

"Oleh apa?"

"Api cinta!"

"Seberapa kobarannya?"

"Lebih membakar dari tujuh jahanam."

"Tapi aku ingin, sesekali merasai kobarnya."

Rupanya, bukan aku saja yang terbakar. Engkau pun terbakar seperti para muda kasmaran cinta. Matamu merah. Senyum bibir di wajahmu juga merah. Aku terpana, menatap cahaya menyinar dari aorta seluruh tubuhmu. Sepanjang langitmu serasa cerah.

"Katanya dah siap menjadi Rabiah?"

"Otomatis! Jika kau juga serupa Ibrahim Adham!"

"Jadi?"

"Kita mesti mengembara, memadamkan api di dada."

"Bukan! Tapi menaklukan rimba. Semesta rimba raya."

"Termasuk rimba diri?"

Entah! Berjuta jam berdetak di jantung. Ingin turun dari langitmu, menjejak fakta di bumi cinta. Mengharu biru jejak rindu. Seberangi tujuh lembah, tujuh samudera, tujuh gunung, dan tujuh belantara. Hingga fajar ditembus mentari, berbilyun watt cahaya. Menikahkan langit dan bumi, aku dan engkau, semarakkan jagat sunyi. Surga abadi turun dari galaksinya, menawarkan buah khludi.

Seperti butir debu yang pertama kali merangkaiku, debu demi debu menggulung tubuhku. Maka terbanglah aku merunuti semesta, keliling memutari timur yang jauh, barat yang sekarat, di balik kutub utara dan selatan, amblas terbenam ke dasr bumi. Coba mengingat dan mengenangmu tanpa jeda sampai kita dipertemukan di alam, saling berpacu dalam melodi cinta.

Dan kini kita telah kembali, dipangku hijau bumi. Putik-putik rindu menguntum lalu mekar. Lahirlah kata-kata, puisi dan cinta. Kueja satu per satu frasanya, melintasi doa, coba pisahkan aku dan kau dalam kerinduan. Bermiliar galaksi menyusun bintang. Mengedar planet dan bulan, berenang sepanjang garis edar dalam keserasian. Aku dan kau yang ditetapkan baginya, tak kuasa.

Aku pun pulang dan kembali dalam rumah kehidupan. Merawat cinta di bawah matahari. Tapi efeknya, wajahku kehangusan, lidahku kelu menjawab pertanyaan.

"Kau ingin pergi dari nyata?"

"Bukan! Aku hanya ingin melihat wajahmu di cerminku."

"Tak perlu, akan kuambil seluruh cermin agar kau bisa tetap merawat cinta."

Sungguh ajaib. Kata tetangga, wajahku cemerlang penuh cahaya. Bersama keikhlasan yang tak rampung kumengerti, aku sedih karena tak bisa lagi menikmati wajah tampanmu.

Aku sabar mengingat pengorbanan cinta walau purnama berganti seribu kali.

"Jika rindu menyergap, tatap lekatkah langit cintamu?"

"Yups! Separo wajahmu tergambar di sana."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Ehm, aku agi siap-siap untuk..."

"Untuk apa? Jadi relawan bumi pertiwi penuh korupsi?"

"Bukan! Aku ingin..."

"Ingin menjadi relawan penjajah negeri?"

Wajahmu membiru, senyummu kaku. Aku tak kuasa ingin meraihmu. Mencabut kembali tanyaku. Sendu pilu mendera aorta. Awan berarak di ubun-ubun. Matahari tidur dan angin ikut libur. Nyeri di dada kian mematri.

"Ya. Seperti rencana semula. Aku ingin bertapa di dasar jiwamu."

"Agar aku tak repot jika ingin menyusulmu?"

"Kalau tak sanggup, biarlah cinta kembali bersamaku."

"Mana mungkin? Tinggal ini kenangan, aku bisa mati tanpa cinta."

"Jika begitu, aku berangkat duluan nuju kerajaan."

Kerajaan siapa?"

"Ibrahim Adham!"

"Dan aku...?"

"Rabiah Adawiyah!"

"Jika kukatakan, pemenuhan tugasmu lebih tinggi nilai dibanding senyap gua Rabiah, aku tak yakin kau tak bakal membantah."

"Begitukah?"

"Ya. Telah mendalam aku selam. Aku hapal luar dalam."

"Tentang apa?"

"Cinta dan kerinduan. Mahabbah dan Sauqiyah. Aku dan kau."

"Haha! Sok tahulah! Tapi benar juga. Masa kita sama manusia, tempuhan jalan mesti berbeda. Rasa-rasanya, aku ingin, kita berangkat bareng bertiga."

"Bahkan Ibrahim Adham pun cemburu. Untuk apa lagi ia harus ikutan nuju istana itu? Istana, kerajaan, dan mahkota, telah tersemat lekat di atas kepalanya. Engkau pangeranku..."

Tatapmu beralih, mendesahkan nasib yang memuja. Makhluk tak berada telah menundukkan semesta adamu, sekaligus mengerjaimu bertumpuk halaman, berjilid pengetahuan tentang makna hidup. Inti cinta.

Hakikat pengorbanan. Membuat aku tak mau menyerah, ingin sejalan seirama. Jika kau pergi dan masuk ke gua Adham, sendiri aku tak kuat berjalan.

"Baiklah, aku tak punya pilihan lagi selain menahan waktu yang akan menghapusku dari keberadaanmu."

Atas nama lepuh cinta, mulut manusia bercuaca membakar apa saja yang dianggap tak memiliki cita-rasa. Apa salah para pecinta hingga rela dipanggang seperti irisan daging kambing di atas tungku. Disayat-sayat, dilukai, dan dikutuki.

Hanyalah cemburu pada aroma yang merangsang lidah untuk bergoyang. Sampai cinta migrasi. Jikalah ada planet biru yang siap menunggu, akan kubangun rumah rindu yang baru. Tapi di manakah planet itu berada, dan mampu tinggalkan masa lalu.

"Sudah lenyap planet itu, di gempa abad."

"O ya nasib...! Kalau negeri angin, masih adakah jejanya?"

"Kudengar masih. Nanti kulihat jadwal pesawat, kalau-kalau ada penerbangan nuju sana."

Ternyata negeri rindu itu masih terpeta di bumi. Ada fakta. Ada penerbangan pagi dan siang nuju sana. Kami suka cita membaca cuaca cerah dan semlir angina dikirim langsung dari laut cinta, mengipasi hati untuk terus berbenah. Perjuangan mesti berderap doa, si lemah terpapar derita, maju menggema bergulung bak gelegar guntur merindu redam.

Cintaku padamu, Kekasih. Munajat tanpa ampun. Menggedor langit menyibak Arsistawa! Bukan hanya Chairil Anwar, Kekasih, aku juga tak bisa berpaling. Hilang bentuk, hilang rupa. Dilecur rindu, lari pontang-panting nuju cakrawala, stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara. Lalu-lalang manusia, mata-mata asing dan langkah terburu. Radiasi nuklir darurat cinta.

"Pakai masker dong!"

"aku tak biasa masker. Bahkan takut melihat para pengguna masker pelindung, seperti hantu di televisi, ditanda dua titik hitam, mata kiri dan kanan. Berkali sudah diterang-jelaskan, bahaya nuklir lebih mengerikan dibanding vampir, karena benar-benar bikin leher kehilangan jarak paling dekat antara aku dan kau. Aku hanya tahu, masker bikin sesak napas saja. Ogah, ah! Walau nuklir itu cintamu."

"Telah diciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, duka dan bahagia yang terus berputar di garis edarnya."

"Dan tahu dari dulu sejak aku bertemu dengan cintamu."

Kau pun diam dalam fakta-fakta. Menjelajah astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar Solar Apex. Terus bergerak sejauh 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, planet, dan satelit, aku dan kau juga berjalan menempuh jarak ini. Demi cinta yang tak pernah redam di dada.

"Benarkah?"

"Ya. Karena itu bukan kisah biasa. Tapi kisah cinta antara aku dan kau yang nestapa. Sampai-sampai langit pujangga menangis, mengolam airmata, bahkan mendanau. Namun di seberang danau itu, aku yakin suatu saat nanti kan terlihat kuntum demi kuntum mawar surga bermunculan. Wangi selaksa parfum bidadari. Mekar sepenggal bumi, sepotong waktu, tempat kita bercumbu mengekalkan makna setia. Hilanglah dunia seisinya jadi cemburu."

Kau diam diujung daun talas sehabis hujan. Lantas kubangun rumah rindu, sebisanya. Dan menyala bagaikan cahaya mengundang laron-laron saling berbondong ingin bertetangga.

Membangun rumah rindu, berjajar-jajar seperti seperti bintang di langit biru. Lantas kita pun sepakat, merayakan kampung rindu di negri antah baratah.

"Negeri rindu langit arsistawa, Bukan?

"Mungkin ya, mungkin juga bukan, karena aku dan kau masih serupa manusia."

Wajahku ngungun. Sepi sendiri di bawah singgasana, di antara kilatan cahaya kubah dan tiang-tiang yang dipikul para malaikat utusan Maha Pemurah yang bersemayam di atas lengkung tujuh langit. Tak berwujud. Bukan seperti singgasana para raja, atap rumah atau pilar dari logam mulia. Apalagi menjadi bagian dari punggung kaki, jejak cinta di gurun Layla-Majnun.

"Pusat pengendalian segala persoalan alam semesta, maksudmu?"

"Bisa jadi. Sebab cinta yang bersemayam di langit arsistawa bakal mengatur segala urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan cinta antara aku dan kau!"

Tak dinyana, aku menggelapar di tengah kesunyian. Seribu kata berpendar lepas dari kesombongan hati. Bermiliar jarak menghiba di urat nadi. Coba terbang mengelilingi cakrawala semesta dengan sayap cinta. Dan gagal berkali-kali, tak kuasa mengejar malaikat bersayap cahaya yang bisa terbang ke mana saja. Seperti ayat-ayat suci menempel di jejak nol kilometer antara Adam dan Hawa.

Hatta mathla'il fajri. Kucari-cari cintamu hingga matahari sepenggalah. Namun apa daya, aku tetap mendebu di sini. Menunggu rumah rindu dikelilingi fakta bumi dan rupanya, belum juga beranjak dari tempat semula. Menggelepar sunyi. Menggapai-gapai matahari menyinari cinta di negeri zamrud khatulistiwa.

"Negeri Indonesia Raya maksudmu?"

"Tak ada negeri tanpa rindu. Tak ada Indonesia Raya tanpa cinta!"

"Hatta mathla'il fajri. Lailatul Qadar mengaji sepanjang malam, menapaki jejak-jejak kehidupan. Nol berhamburan di antara sepi dan sunyi. Menunggu kesejahteraan merata dikeliling fakta bumi, kedamaian dan keselamatan, namun rupanya belum juga beranjak. Masih melata sepertti semula.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Abidah El Khalieqy, penulis novel best seller Perempuan Berkalung Sorban. Tinggal di Jogjakarta

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 3 Agustus 2014

Sabtu, 26 Juli 2014

Istriku Dikuasai Jin Betina

Istriku Dikuasai Jin Betina

Oleh: Bagaskara Shanta



Kisah tragis ini dialami oleh Pak Toto (50) asal Kota Cirebon, Jawa Barat. Mahligai rumah tangganya dengan sang istri tercinta yang telah dirajut selama 25 tahun hancur berantakan. Biang keroknya adalah sesosok jin betina yang bersemayam dalam tubuh wanita yang telah memberinya dua orang anak. Bagaimana cerita lengkap yang dialami Pak Toto? Berikut penuturannya untuk pembaca Misteri budiman....!

______________________________



Desember kelabu ternyata bukan hanya judul sebuah lagu. Sebab, bagiku bulan Desember tahun 2013 lalu benar-benar menjadi bulan kelabu. Bulan penuh duka yang nyaris membuat aku terhempas dan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Betapa tidak di penghujung tahun itu mahligai rumah tangga yang telah kurajut selama 25 tahun lebih bersama Eliana (sebut saja begitu), nama istriku tercinta, hancur berantakan. Badai dahsyat telah mengguncang rumah tanggaku, dan kini sudah masuk hitungan bulan kelima aku menunggu keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat.

Ya, eliana telah melayangkan surat gugatan cerai melalui atasannya di sebuah instansi pemerintahan. Dan konon proses cerai bagi mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), seperti kami ini, harus melalui birokrasi yang cukup berbelit. Jelas hal itu akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar.

Aku tidak tahu kapan akan menerima surat keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat. Tapi yang jelas bagiku adalah ketidakpahaman diri ini terhadap biang kerok yang menjadi penyebab datangnya badai yang meluluhlantakkan rumah tanggaku. Biang keladi yang diduga menjadi penyebab pecahnya mahligai rumah tanggaku bersama Eliana adalah sesosok siluman jahat yang bersemayam di dalam tubuh istriku.

Dari berdasarkan hasil penerawangan beberapa pelaku metafisika jin itu telah menguasai Eliana sekitar lima atau enam tahun lamanya! Entah benar atau tidak hasil deteksi mereka yang jelas aku memang mulai merasakan ada keganjilan pada istriku sejak lima atau enam tahun silam.

"Jujur saja, Mah, kamu ini sebenarnya ada apa?" Tanyaku pada Eliana di pekan terakhir bulan Desember 2013 silam.

Pertanyaan itu meluncur dari mulutku karena sudah tidak kuasa lagi menahan rasa kecewa terhadap Eliana yang selalu ogah-ogahan bila kuajak bersebadan. Terus terang saja, sebagai lelaki normal aku selalu berhasrat untuk bercinta dengan istri setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu.

Namun kenyataan yang kudapat bukannya "jatah malam" dari sang istri, tetapi penolakan demi penolakan dengan beragam alasan yang terkadang membuat aku kecewa dan harus menahan amarah.

"Maaf, Pah, aku kan capek. Tadi siang kerjaan di kantor banyak sekali. Aku mau tidur ya," jawab Eliana bukan sekali.

Dan ia akan segera memeluk guling lau dalam beberapa detik kemudian tertidur pulas. Sementara aku sama sekali tidak diacuhkan olehnya sedikit pun di belakang punggungnya. Padahal, hasratku untuk bercinta sudah sedemikian membara! Namun sebagai suami yang coba untuk selalu berbaik hati kepada istri, aku memilih pindah tempat tidur. Aku segera mengambil bantal dan tidur di atas karpet di ruang tengah.

Meski keinginanku untuk bercinta sudah sedemikian menggeledak, aku tetap masih bisa menahan diri untuk tidak marah kepada Eliana, mungkin benar, pikirku, Eliana kecapekan setelah seharian bekerja di kantornya. Jadi sungguh tidak berprikemanusiaan seandainya aku memaksa dia untuk melayaniku tidur. Selain beralasan capek Eliana juga kerap menolak dengan alasan ngantuk yang sangat.

Sekali dua kali aku bisa penolakan Eliana untuk bercinta denganku. Seminggu dua minggu aku mungkin masih bisa menahan hasrat bercintaku. Bahkan satu atau dua bulan bukan mustahil aku masih sanggup "berpuasa" tidak menyalurkan hasrat birahi dengan istri. Akan tetapi jika masuk hitungan hingga tahunan, suami atau laki-laki mana yang bisa bertahan?

Karena itulah pada suatu kesempatan aku sengaja mengajak Eliana berdialog dengan baik-baik. Aku ingin mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi pada istriku itu.

"Aku ingin tahu sesungguhnya ada apa denganmu, El? Terus terang saja, aku tidak habis berpikir dengan sikapmu yang banyak menolak jika kuajak tidur," ujarku membuka dialog dengan Eliana pada suatu kesempatan di pekan terakhir bulan Desembar 2013 silam itu.

"Aku tidak mengerti dan tidak bisa pula memahami mengapa kamu selalu menolak bila kuajak tidur. Kamu selalu beralasan capek, ngantuk, dan sebagainya. Kalau pun kamu mau melayaniku di atas tempat tidur, kamu bukan sekali menta berhenti di tengah jalan dengan alasan kemaluanmu terasa sakit," lanjutku seraya menatap wajah Eliana yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia eolah-olah tidak tidak sedang berbicara denganku.

"Dan yang lebih membuatku aneh lagi," sambungku kemudian.

"Bukan sekali kamu melayani aku di atas ranjang dalam keadaan tertidur pulas! Ini benar-benar tidak wajar, Mah. Aku tidak habis pikir kog bisa-bisanya kamu melayani aku dalam keadaan tertidur pulas seperti itu?"

Sungguh, tidak ada sepatah kata pun jawaban keluar dari mulut Eliana malam itu. Rona di wajah istrku tetap beku tanpa ekspresi. Ia memilih menyibukkan diri dengan menggigit-gigit ujung jari kuku tangannya. Tidak ada guratan rasa berdosa darinya yang telah melalaikan salah satu kewajiban sebagai seorang istri.

Melihat sikap Eliana yang selalu tak acuh seperti itu, tentu saja emosiku terpancing. Amarahku mulai naik ke permukaan.

"Baiklah, kalau kamu tidak juga mau menjawab pertanyaanku, tidak jadi masalah," kataku lagi.

"Tetapi, tolong kamu jangan sampai marah atau kecewa jika suatu saat aku mencari kompensasi di luar sana. Aku ini laki-laki yang masih normal, Mah. Kalau istri di rumah sudah tidak mau menjalankan kewajibannya di atas tempat tidur, bisa saja suami mencari pelampiasan di luar rumah!"

Belum lagi aku menyelesaikan kalimat, sekonyong-konyong Eliana melompat dari tempat duduk. Tiba-tiba menghambur ke arahku seraya memeluk erat-erat. Di dadaku Eliana menghamburkan air mata yang sedemikian hebat.

Papah jangan ngomong begitu! Papah tidak boleh bicara seperti itu! Papah tidak boleh selingkuh dengan wanita lain," ujar Eliana di tengah isak tangisnya yang kencang dan hampir membuat kedua anak kami terbangun dari tidur.

"Tapi aku sangat heran, Mah. Aku tidak habis pikir kenapa kamu selalu menolak jika kuajak tidur. Tolong beri aku jawaban, Mah! Aku tidak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini olehmu," kataku seraya mendorong perlahan tubuh Eliana dan membimbingnya duduk di sofa.

"Aku benar-benar capek, Pah. Aku mengantuk. Sumpah aku tidak bohong," sahut Eliana dengan tangis yang belum berhenti.

"Ya..ya.. aku paham.. aku aku paham, Mah. Tetapi bukan sekali kamu menolak, bukan? Kataku seraya mengangkat wajah Eliana. Aku ingin melihat dengan kejujuran di balik matanya yang bulat.

"Pokoknya Papah tidak boleh tidur dengan perempuan lain! Mamah tidak rela kalau sampai Papah selingkuh dengan wanita lain," tangis Eliana semakin kencang.

Dan sungguh di luar dugaaanku, tiba-tiba Eliana menyeret lenganku masuk ke dalam kamar. Di sana sekonyong-konyong dia menanggakan semua pakaian yang dikenakannya hingga telanjang bulat. Ya, kini Eliana berdiri di depan mataku tanpa sehelai benang pun!

"Kalau Papah mau "begituan", ayo sekarang! Mama akan melayani Papah sampai puas. Yang penting Papah tidak selingkuh dengan perempuan lain di luar sana!" Ujar Eliana penuh dengan sangat atraktif mengajakku hubungan suami istri.

Dan tidak perlu aku ceritakan secara lengkap, malam itu aku benar-benar bergumul dengan Eliana penuh dengan nafsu birahi. Malam itu istriku benar-benar menjamuku dengan pelayanan yang sangat prima. Pelayanan ranjang seperti itu baru aku temukan dan rasakan kembali setelah bertahun lamanya hilang entah kemana.

Namun belum genap sepekan Eliana memberiku service luar biasa di atas ranjang, aku terjebak permainan asmara dengan seorang perempuan. Ia adalah orangtua salah satu mahasiswa semester kedua di perguruan tinggi tempatku bekerja.

sebut saja nama perempuan itu Arhiena, 40-an, mantan pelatih tari tradisional Cirebon. Sungguh, aku tak ingat sejak kapan dan bagaimana bisa dekat dengan perempuan yang tinggal di kawasan elite itu. Yang bisa kuingat hanya saat kedatangan Arhiena ke kampus untuk berkonsultasi perihal mata kuliah yang aku ajarkan kepada anak laki-lakinya.

"Aku minta tolong pada bapak untuk berkenan memberi bimbingan kepada Koko," ujar Arhiena, sambil menyebut nama anaknya, ketika bertemu denganku di depan kampus seusai aku memberikan kuliah.

"Anakku sepertinya kurang begitu menguasai mata kuliah yang bapak berikan."

"Hm, boleh... boleh, Bu. Tetapi aku harus melihat jadwalnya dulu ya. Soalnya, selain di kampus ini aku juga mengajar di kampus lain," jawabku entah mengapa saat itu merasa menaruh hati kepada perempuan berkulit putih bersih itu. Rambutnya sebahu Arhiena yang dibiarkan tergerai kerap menggoda hasrat laki-lakiku.

Rupanya gayung pun bersambut! Dan iblis mulai merasuk ke dalam jiwaku saat Arhiena pada beberapa kesempatan curhat kepadaku tentang perjalanan rumah tangganya yang rapuh. Iblis pun kian kuat menggodaku manakala Arhiena menelepon atau mengirimkan pesan singkat (SMS) ke nomor telepon seluler pribadiku.

Namun sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tersebar juga bau busuknya. Demikian pula hubunganku dengan Arhiena. Meski aku berusaha untuk "rapi jali", tetapi tak urung ketahuan juga oleh Eliana! Entah bagaimana ceritanya, Eliana menginterogasiku habis-habisan sepulang aku memberi privat mata kuliah di rumah Arhiena.

"Pokonya kamu jangan bohong, Pah! Mamah tahu kalau Papah tadi berkencan dengan dengan perempuan lain. Mamah tahu apa saja yang dibicarakan dengan perempuan itu!" kata Eliana dengan nada seperti orang kesurupan.

Sabar, Mah... sabar...! Aku jelaskan dulu permasalahannya," potongku mencoba meredakan emosi Eliana yang mulai tidak terkendali.

Sabar...sabar apaan? Apa Papah mau munkir? Pokonya Papah jangan macam-macam di belakang Mamah. Karena Mamah tahu apa pun yang Papah lakukan di luar sana," hardik Eliana dengan wajah tegang karena amarah yang meledak-ledak.

"Asal Papah tahu ya kalau Mamah ini punya pendamping gaib. Pendamping gaib ini yang ngomong semua tentang Papah bersama perempuan itu!"

Sungguh, aku benar-benar terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Eliana. Istriku punya "pendamping gaib"? Sejak kapankah itu? Rasa terkejutku kian menjadi-jadi saat Eliana benar-benar kesurupan sambil blak-blakan mengaku dirinya mempunyai jin pendamping yang selalu mamantau aktifitasku di luar rumah.

Dan ketika itu pula benakku berpikir keganjilan-keganjilan yang selama ini terjadi pada diri istriku. Jangan-jangan, pikirku, selama ini Eliana kerap menolak diajak tidur olehku karena dipengaruhi oleh jin yang bersemayam di dalam dirinya. Aku berusaha mencari tahu tentang hal itu.

Beberapa teman memiliki kemampuan supranatural segera dihubungi dan dimintai tolong untuk mendeteksi Eliana. Tak lupa teman-teman dari kalangan ustadz maupun kiyai aku datangi untuk maksud yang sama. Ada sekitar empat orang teman praktisi metafisika dan tiga orang ustadz/kiyai yang ternyata memberikan prediksi hampir sama, yakni Eliana berada dalam pengaruh siluman jahat. Jin keparat itu sudah bersemayam dalam dirinya sejak lima ata enam tahun silam.

"Sudah selama itukah?" Tanyaku kepada tiga orang yang memiliki kemampuan spiritual lumayan tinggi.

"Perkiraan kami memang begitu, Mas. Repotnya siluman tersebut sudah menyatu dengan badan wadag istri Mas, sehingga agak sulit untuk mengatasinya," ujar mereka sambil menyebutkan kemungkinan buruk bisa menimpa Eliana apabila siluman jahat itu dipaksa dikeluarkan dari tubuhnya yakni istriku bisa menjadi gila atau meninggal dunia.

"Sekarang jelas sudah penyebab istri Mas selalu menolak bila diajak bersebadan. Soalnya siluman yang ada di badan istri Mas itu jenis kelaminnya perempuan dan punya suami dari bangsa dedemit juga. Jadi tidak heran kalau Mas minta dilayani tidur akan ditolak istri Mas. Sebab yang menolak itu sebenarnya bukan istri Mas melainkan si siluman tersebut," lanjut mereka membuat aku nyaris pingsan. Siluman betina itu jelas tidak mau melayaniku karena bukan suaminya sesama siluman.

Pembaca budiman, hingga sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membebaskan Eliana dari belenggu siluman betina jahanam. Salah seorang spiritualis memprediksi bahwa tidak ada makhluk halus di dalam tubuh Eliana, tetapi yang bersemayam di sana adalah "pegangan" atau "pelindung gaib" istriku yang konon tidak mudah diterawang.

"Hasil deteksi saya ttidak ada makhluk halus dalam diri istri Mas. Yang ada adalah pegangan atau pelindung gaib yang ketika saya deteksi seperti tertutup kabut," ujar spiritualis yang mau berbaik hati membantu mendeteksi istriku.

Bila benar demikian adanya, mengapa Eliana, istrku, harus meminta perlindungan dan mencari pegangan hidup kepada bangsa jin? Mengapa tidak langsung saja memohon perlindungan segalanya kepada Allah SWT, Sang Maha Pemilik Segala di muka jagat raya ini? Dan semenjak kapan pula Eliana berkenalan dengan bangsa jin seperti itu?

Entah berapa ribu pertanyaan berkecamuk dalam benakku hingga sekarang. Kini aku hanya bisa pasrah menerima cobaan hidup yang sesungguhnya teramat berat ini. Lepas dari benar atau tidaknya hasil deteksi gaib teman-teman tadi, kini dari hari ke hari aku tak pernah berhenti berdoa kepada-Nya semoga Eliana bisa segera menghindari kekhilafannya telah bersekutu dengan dengan jin. Terus terang saja, aku takut dan khawatir istrku itu meninggal dalam keadaan sesat sebelum sempat bertobat. (*)

Tanggapan Pengasuh
Oleh: Eka Supriatna

Dikendalikan Kekuatan Gaib
Dalam beberapa kasus, kekuatan gaib dalam bentuk jin, khodam atau yang lainnya memang bisa mengendalikan manusia. Biasanya manusia itu sebelumnya telah memiliki kesepakatan atau perjanjian dengan makhluk halus yang mengendalikan dirinya itu.

Dalam kasus istri Anda, ia telah meminta pertolongan gaib untuk memata-matai di mana pun Anda berada. Bersama siapa saja Anda berada dan apa yang Anda lakukan selama Anda jauh dari istri Anda. Maka tak heran bila istri Anda bisa mengetahui dengan tepat apa saja yang Anda lakukan.

Tapi kesalahan yang dilakukan istri Anda adalah terlalu tunduk pada perjanjian yang dibuatnya dengan makhluk halus itu. Atau mungkin juga istri Anda tidak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi atas dirinya. Mungkin ketika ia meminta barang, pegangan atau ajimat itu ia tidak panjang lebar bertanya apa yang sebenarnya bersemayam dalam benda itu. Mungkin pula istri Anda tidak mengetahui kalau sebenarnya ia telah melakukan perjanjian gaib dengan makhluk halus.

sesungguhnya itu bisa diselesaikan dengan mengembalikan barang, ajimat atau benda apa pun yang dimiliki istri Anda ke tempat asalnya. Anda harus bertanya pada istri Anda apa yang ia miliki dan dari mana asalnya. Mungkin ia mendapatkan kekuatan gaib itudari seseorang spiritualis, dukun, atrau paranormal yang dulu pernah ditemui istri anda. Maka kepada dialah minta bantuan untuk mengembalikan kekuatan gaib yang ada dalam diri istri Anda itu. Ini adalah cara paling mudah untuk menyembuhkan istri Anda. Sebab orang yang dimintai bantuan oleh istri Anda itu pasti tahu apa yang pernah ia lakukan pada istri Anda.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan istri Anda adalah melakukan ruweta, atau pembersihan diri lahir batin. Bisa dilakukan dengan melarung benda-benda mistik, piranti mistik yang dimiliki istri Anda. Buang benda-benda mistik pegangan istri Anda ke sungai, muara, atau ke laut. Ini dilakukan agar benda-benda itu dan kekuatan gaibnya bisa kembali ke alam asalnya.

Mudah-mudahan makhluk gaib yang mersemayam dalam diri istri Anda itu pun akan ikut pergi bersama benda-benda pusaka yang dilarung itu. Kemudian bisa juga istri Anda melakukan taubatan nasuha, taubat dengan sebenar-benarnya taubat.

Mendekatkan diri pada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk hal ini, Anda bisa menghubungi kiyai, ustadz atau pondok pesantren terdekat di rumah Anda. Mungkin ada solusi yang terbaik yang bisa dilakukan di pondok pesantren untuk mengembalikan kesadaran istri Anda. (*)>

Sumber: Misteri, Edisi 585, Tahun 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Oleh: Dawam

Truk yang dikemudikan Hadiono menabrak pembatas jalan, tak jauh dari keramat Jimbe. Sekujur tubuhnya remuk hingga untuk mengambil jasadnya dari bagian depan truk perlu waktu yang lama.

____________________________________________________________



Truk kupacu dengan lumayan kencang manakala hujan turun sangat deras. Sepanjang jalan raya Tulungagung--Trenggalek penuh dengan genangan air karena gelontor hujan dari langit. Malam nanti barang yang kubawa dalam truk harus tiba di Malang, praktis aku harus berpacu dengan waktu yang demikian mepet.

Kalau bisa, sebelum jam sembilan malam nanti barang harus diterima oleh Pak Handoko," ujar Pak Rahmat, bosku, memaparkan kehendak hatinya.

"Akan kuusahakan, Pak."

"Sungguh. Kamu pacu kendaraanmu dengan cepat."

"Ya, Pak."

Jawaban demikian musti kusorongkan pada majikan berambut botak itu, kalau aku tidak ingin kena marahnya. Pengusaha yang temperamental ini memang sering tak bisa kompromi dengan orang lain, apalagi bawahan kelas teri asin mirip aku ini. Semua kemauannya harus dituruti. Apakah di tengah jalan kendaraan kuhela dengan santai, itu urusan nanti saja. Yang penting hanya jawaban ya... ya... ya.. saja yang paling disukai Pak Pak Rahmat, setiap kali dia punya keinginan.

Demi menghargai bos, walau pada dasarnya mengemudi kendaraan dalam suasana hujan dan jalan beraspal lumayan licin mengandung resiko tinggi, truk kupacu juga dengan kecepatan di atas rata-rata. Senja yang temaram, membuat pandangan mata tidak bisa maksimal mengarah pandangan depan. Pada sebuah pertigaan dekat perbatasan Trenggalek--Tulungagung, kendaraan kurem dengan mendadak.

"Busyet," aku menggerutu sambil detak jantung berdegup amat kencang.

"Kamu punya mata untuk melihat nggak?!" Sambnungku dengan mata melotot.

Di depan ban trukku berdiri mematung seorang perempuan dengan sekujur tubuh basah kuyup. Kusorongkan berbagai macam pertanyaan, tak begitu banyak keterangan kudapat tentang identitasnya. Untuk menghindari masalah lebih jauh, wanita umur kurang lebih tiga puluh tahun ini kuminta masuk pada bagian sopir berdampingan denganku.

Sesampainya di rumah orang tuaku, Desa Tanjungsari, Boyolangu, Tulungagung baru kuketahui siapa wanita yang hampir mendatangkan petaka bagiku itu. Dia bernama Ana, warga Kiping, Gondang, masih satu wilayah kabupaten denganku. Ana mengalami goncangan jiwa lantaran Misnan, suaminya, serong dengan wanita lain, sementara dia sendiri demikian cinta pada suaminya ini.

Beberapa hari lamanya Ana hidup seadanya dengan keluargaku. Makan dan minum juga teramat 'apa adanya', mengingat penopang utama keluargaku adalah diriku yang hanya seorang sopir suruhan majikan. Syukurlah, Ana juga tak menolak apa saja yang kami suguhkan padanya.

Kurang lebih satu bulan, Ana pamit mau pulang. Dia kuantar dengan sepeda motor bututku, sementara Narti, istriku, menemani juga dengan sepeda motor milik Kang Rahmat, kakak nomor duaku.

Lima bulan berikutnya, aku diundang supaya datang ke rumah keluarga Ana, karena setelah diceraikan secara resmi oleh suaminya, Ana menikah dengan Gunawan, lak-laki dari Plosokandang, Kedungwaru, yang hanya terpaut ratusan meter dari tempat tinggalku.

Beberapa bulan hidup berumah tangga dengan Gunawan, seorang anak lahir dari rahim Ana. Bayi laki-laki ini pada hari-hari berikutnya diberi nama Wasis. Seperti nama yang disandangnya, bocah berkulit sedikit legam ini memang memiliki kecerdasan lumayan, lincah, periang serta gampang diiajak bersanda-gurau, walau anak itu sendiri masih baru mengenal orang yang berada di hadapannya.

Rupanya Ana memang seakan wanita yang terlahir dengan kegagalan demi kegagalan perkawinan terbeban dipundaknya. Terbukti, mengarah pada hitungan tahun ke tiga pernikahannya dengan Gunawan, pahitnya pil perceraian untuk kesekian kalinya musti tertelan tenggorokan Ana.

Kurang jelas bagaimana ceritanya, dua tahun berikutnya Ana diambil istri oleh Hadiono, lelaki yang usianya lebih mudah darinya. Saat Ana dinikahi Hadiono inilah barangkali awal petaka yang menimpa dirinya, dalam rentetan waktu yang merangkak ke depan. Ceritanya, Ana diberi sebuah keris kecil oleh Bu Minah (bukan nama asli), mertuanya.

"Keris ini sangat sangat baik untuk berdagang, An. Mungkin sangat cocok dengan pekerjaan suamimu yang suatu ketika nanti menggantikan posisi oorang tuanya sebagai pedagang besar," ujar Bu Minah pada suatu senja diwarnai gerimis pada Ana.

Mertua wanitanya wanti-wanti pada Ana agar menyimpan baik-baik keris yang katanya bertuah tersebut. Ana tak banyak bertanya lebih jauh tentang keris keramat tadi. Keris itu lantas dia taruh pada lemari kayu, berbaur dengan tumpukan pakaian miliknya.

Ana sendiri sudah tidak begitu memikirkan tentang keris itu sendiri, hingga suatu hari dia mendapatkan kiriman ayam ingkung dari mertuanya. Sang mertua bilang bahwa ayam ini harus dinikmati bersama suaminya, sebagai rasa syukur kemajuan usaha yang dialami Pak Gondo (bukan nama asli), mertua laki-lakinya.

Ayam ingkung itu dbawa Ana ke rumah orang tuanya di Kiping. Kurang paham apa sebabnya, wanita yang melahirkan dirinya ini melarang Ana untuk tdak memakannya.

"Memang ada apa kok tidak boleh disantap, Mbok?" Tanya Ana tak mengerti tentang makna yang terkandung di balik larangan tersebut.

"Sementara tidak bisa kujelaskan, An. Ikuti perintah Simbokmu untuk tidak memakan ayam panggang tadi. Itu saja," pesan Simbok dengan wajah sungguh-sungguh.

Demi menghormati orangtua wanitanya, walau masih tetap membawa perasaan dongkol, Ana manggut-manggut saja menerima permintaan itu.

Tak lama setelah itu, Hadiono datang. Tanpa bertanya dari mana datangnya, lelaki itu langsung menyikat ayam ingkung yang tersaji di atas meja, lantaran di dekat ayam itu teronggok sebakul kecil nasi yang masih mengepulkan asap. Ana yang kala itu sedang berada di belakang rumah tak tahu sama sekali apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.

Sore harinya Hadiono pamit pada Ana untuk mengunjungi orangtuanya di Ngunut. Bagaimana kisah lengkapnya, Ana tak tahu. Datang kabar yang cukup mengejutkan dari mertuanya di Ngunut bahwa Hadiono mengalami kecelakaan tragis di perbatasan Blitar--Tulungagung. Truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, tak jauh dari tmpat keramat Jimbe. Sekujur tubuh Hadiono remuk hingga untuk mengambil jasadnya di bagian depan truk perlu waktu yang sangat lama.

Belakangan diketahui, walau lewat bisk-bisik, tentang kematian mengenaskan Hadiono itu disebabkan kena akibat buruk dari ayam ingkung yang disantapnya. Dari sebuah sumber diyakini bahwa yang hendak dijadikan wadal, tumbal untuk makhluk gaib lantaran pesugihan, adalah Ana sendiri. Dikarenakan Ana dipaksa Simboknya untuk tidak memakannya dan ganti Hadiono melahapnya, jadilah senjata makan tuan. Bukan Ana yang mati tapi Hadiono sendiri yang dimakan makhluk halus peliharaan seseorang.

Lewat seorang teman yang sedikit banyak tahu tentang dunia supranatural dipetik kabar bahwa keris kecil pemberian mertuanya tempo hari adalah keris yang di dalamnya bersemayam makhluk alam astral yang bisa membuat pemegangnya sangat mudah dikendalikan oleh makhluk gaib tadi. Ini dikandung maksud, cepat atau lambat, orang itu akhirnya akan mengalami nasib sama dengan Hadiono. Setidaknya, bila tubuh orang itu kuat maka hanya onyeng (pikirannya kacau) serta mengarah pada gila permanen. Sedangkan bia tak kuat berdampingan dengan khodam keris, orang itu akan meninggal dunia, tak beda dengan yang dialami Hadiono beberapa waktu silam.

Tentang diri Ana sendiri memang semakin hari kelihatan semakin aneh tingkah lakunya. Kadang bicara sendiri, kadang menangis histeris, sekali tempo malah mengamuk dengan kekuatan melebihi tenaga tiga orang dalam keadaan normal. Aku yang berusaha untuk meredam amukannya bersama Dani, Agus, Lukman, dan Manaf malah jadi bulan-bulanan kemarahan Ana. Kekuatan fisik kami berlima masih kalah dibanding Ana. Dia yang secara kasat mata ringkih, nyatanya memiliki tenaga yang minta ampun kuatnya.

Untuk membuang gaib yang bersarang pada tubuh Ana, beberapa orang pintar pernah kami mintai tolong, namun hingga kini tak ada hasil maksimalnya. Ana sembuh sesaat, dua tiga hari berikutnya kambuh lagi. Berbuat, bertingkah laku mirip orang tak waras.

Pernah oleh Mas Turkan, kawanku yang juru sembuh akibat pengaruh gaib. Ana dimandiikan pada sebuah sumur tua dengan ritual tertentu, pada suatu tengah malam. Mulai ujung rambut hingga pangkal kaki diguyur air, sambil dimanterai berulangkali. Di samping itu, dua kali dimandikan dimandikan pada aliran sungai di pinggir sawah sebelah rumah, dengan tubuh terasa membeku karena dinginnya air, toh seminggu kemudian Ana kumat lagi.

"Nampaknya makhluk gaib yang ngendon di tubuh Ana terlalu kuat untuk kita tundukkan. Musti kita temukan orang yang bisa menundukkan kekuatan gaibdi dalam keris tersebut," aku Mas Turkan, mengamini penuturan Mbah Ngadimin, orang sepuh yang juga ikut membantu menghalau pengaruh gaib dalam tubuh Ana.

Apa yang dialami Ana ini musti kutulis di majalah ini, dengan harapan barangkali ada pembaca yang bisa ikut membuka tabir misteri yang sungguh terasa sangat pelik ini.

Sebagai seorang tetangga sekaligus sahabat, rasanya kurang pas kalau aku hanya tinggal diam di sini saja. Walau sebenarnya berbagai macam upaya telah melelahkan kami semua, membikin tubuh kurus, pikiran terombang-ambing antara realita dan mimpi buruk tiada bertepi. (*)

Misteri Edisi 581, Tahun 2014