Rabu, 19 November 2014

Senin, 17 November 2014

Arwah Gentayangan Gadis Tabrak Lari

Arwah Gentayangan Gadis Tabrak LariOleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Suasana terasa makin mencekam. Angin malam berdesir, menyebarkan hawa dingin. Sisa tetesan air hujan membasahi daun pepohonandi sepanjang jalan setapak itu. Di balik kekelaman malam, terdengar suara burung malam menggema di kejauhan.

______________________________



Dari jalan setapak itu, samar terlihat seseorang berjalan. Sesekali langkahnya berhenti sejenak, kemudian melangkah lagi dengan tertatih-tatih. Ia mencoba menembus gelapnya malam. Tangan kirinya seperti membawa bungkusan tas plastik hitam. Sedang tangan kanannya memegang sebuah senter kecil yang sudah tak seberapa terang. Sosok it uterus berjalan, tanpa menghiraukan dinginnya udara malam.

Lolongan anjing liar sesekali terdengar memilukan. Menambah seramnya suasana malam. Ustadz Solmed, sedang dalam perjalanan pulang seusai memberikan ceramah pengajian di suatu tempat yang berbatasan dengan daerah pelosok desa terpencil sangat jauh dari perkotaan.

Dan Ustadz Solmed pun sudah lama memberikan ceramah pada jemaah di sebuah desa terpencil itu, dan ini rutinitas yang harus dilakukan setiap bulan apabila sudah mendapat giliran untuk mengisi pengajian di desa tersebut.

Karena setiap musim hujan, jalan yang dilalui becek dan licin, terpaksa sepeda motornya harus dititipkan pada seorang teman di perbatasan kota itu. Ustadz Solmed melanjutkan perjalanan ke desa tempat pengajian dengan naik ojek. Karena jalan setapak menuju desa tak dapat dilewati kendaraan, terpaksa hanya sampai di ujung jalan setapak tersebut. Dari situ, Ustadz Solmed lalu melanjutkan perjalan dengan jalan kaki sekitar dua kilometer sebelum sampai di desa yang akan dituju. Pulangnya pun demikian. Seperti yang ia lakukan malam itu.

Tanpa terasa perjalanannya sudah hampir tiba di tempat tujuan. Dari kejauhan sudah tampak kerlip lampu rumah temannya. Ustadz Solmed mempercepat langkahnya agar segera keluar dari jalan setapak yang becek tersebut.

Sampai di tikungan jalan beraspal, Ustadz Solmed berhenti sejenak. Menghela napas sambil membersihkan sandal karetnya yang dipenuhi lumpur akibat tanah becek. Tak jauh dari tikungan terdapat sebuah pemakaman umum.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Ustadz Solmed melihat bayangan seorang wanita berjalan ke arahnya. Sejenak ia merasa kaget dengan kemunculan wanita itu.

Hatinya bertanya-tanya; “Dari manadatangnya wanita tersebut? Lalu mengapa malam-malam begini berada di daerah itu?” Perasaan Ustadz Solmed bukan tanpa sebab. Ia merasa heran, melihat seorang wanita berkeliaran seorang diri di jalanan yang gelap dan sepi. Apalagi setelah turun hujan. Sementara daerah tersebut jauh dari perkampungan penduduk.

Pemandangan tak wajar tersebut membuat Ustadz Solmed semakin bertanya-tanya dalam hati: “Jangan-jangan. . . . jangan-jangan. . . . . . . . . . .?” dugaannya mulai pada hal-hal berbau mistik.

Ah. . . . . paling-paling ia perempuan nakal desa seberang yang pulang malam agar tidak diketahui tetangganya,” gumam Ustadz Solmed sedikit menghibur hatinya.


Namun Ustad Solmed tidak bisa menghilangkan ketakutannya tatkala kemunculan wanita itu disertai datangnya bau wangi yang menusuk penciumannya. Hidungnya kembang kempis, mencari sumber datangnya bau wangi itu. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. Detak jantungnya semakin kencang.

Dengan sembunyi di balik sebuah pohon besar di tepi jalan, Ustadz Solmed mengamati gerak-gerik wanita itu. Tak disangka-sangka ternyata wanit itu justru berjalan ke arahnya. Bau wangi semakin menusuk hidungnya. Sekilas Ustadz Solmed menangkap wajah wanita itu, yang ternyata masih sangat muda.

Dari wajahnya yang bersih, mengesankan wanita tersebut tergolong orang yang cukup perhatian dalam merawat tubuh. Rambutnya terurai sampai ke punggung. Warna pakaian tak begitu jelas, tertutup gelapnya malam.

Yang jelas, pakaian yang dikenakannya agak ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya sangat menonjol dan membuat terangsang setiap lelaki yang memandangnya. Hal ini membuat ustadz Solmed semakin penasaran untuk mengenalinya, meski rasa takutnya semakin menjadi-jadi.

Kurang beberapa meter saja jarak antara ustadz Solmed dengan wanita itu. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahnya dan tersenyum. Rasa takut ustadz Solmed mendadak hilang dan spontan ia keluar dari bailk pohon. Dengan langkah perlahan, ustadz Solmed mendekati wanita itu hingga posisinya hampir berhadap-hadapan. Akhirnya, terjadi sebah percakapan dan perkenalan.

Tiba-tiba saja ustadz Solmed kehilangan prasangka dan tanda tanya yang muncu saat wanita itu berada di hadapannya. Ustadz Solmed juga lupa bahwa dirinya berada di sebuah persimpangan jalan dekat kuburan yang jauh dari pemukiman penduduk. Yang dia ingat hanyalah ia sedang berkenalan dengan wanita cantik nan lembut.

Dari perkenalan dan percakapan yang terjadi, tampaknya ustadz Solmed setuju untuk mengantar wanita itu sampai ke rumahnya. Sesaat kemudian, keduanya sudah sampai di rumah wanita itu.

Ustadz Solmed merasa sangat heran kerana masih berjalan beberapa puluh meter saja sudah sampai di eumah si wanita. Ia mengira rumahnya berada di seberang desa. Oleh wanita tersebut ustadz Solmed langsung dipersilakan duduk. Rumah itu tampak begitu megah dengan taman bunga yang indah dan teratur.

Belum selesai ustadz Solmed mengamati rumah wanita itu, tiba-tiba keadaan jadi gelap gulita. Anehnya si wanita seperti cuek saja tak memperdulikannya. Yang tampak sedikit terang hanyalah kamar wanita tersebut. Itupun seperti cahaya dari lampu minyak. Si wanita masih terus menanyakan hal-hal tentang pribadi ustadz Solmed.

Begitu juga yang dilakukan ustadz Solmed. Hingga akhirnya, ustadz Solmed menanyakan pada wanita itu, mengapa tinggal di rumah itu sendirian? Apalagi jauh dari tetangga. Namun wanita tersebut hanya diam. Sesaat kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar. Tidak berapa lama ia muncul kembali bersamaan dengan tersebarnya aroma wangi minyak serimpi dan kembang kuburan yang bercampur bau amis darah.

Ustadz Solmed terperanjat, wanita itu tiba-tiba sudah berdiri membelakanginya. Dalam kesadaran yang tak penuh, ustadz Solmed merasa ketakutannya kembali muncul, seperti saat-saat pertama kemunculan wanita itu. Setelah itu, dengn sisa-sisa keberanian, ustadz Solmed menanyakan kepada wanita itu, apa yang terjadi?

Seraya membalikkan badan hingga posisinya berhadap-hadapan dengan ustadz Solmed, wanita tersebut berkata; “Bapak jangan kecewa bertanya seperti itu!” jawaban itu ia sampaikan dengan suara memelas.

Kembali ustadz Solmed kembali terperanjat, bahkan hampir saja pingsan. Wanita cantik kenalan barunya, berubah menjadi wanita yang sangat menyeramkan. Kepalanya pecah dengan isi kepala dan darah segar keluar membasahi seluruh tubuhnya.

”Sepuluh hari yang lalu aku terlidas sebuah truk hingga keadaanku jadi begini. Sakit Bapak! Tak seorang pun yang menolongku saat itu,” ujarnya. Selesai berkata demikian, gadis itu merintih kesakitan dan diakhiri sebuah teriakkan yang memilukan. Lalu dengan tiba-tiba, gadis itu menghilang. Ustadz Solmed merasakan suasana menjadi lebih gelap, pekat dan hening sekali.

Ustadz Solmed mendapati dirinya bukan lagi berada di rumah gadis itu, melainkan di sebuah kuburan yang nampak masih baru. Ustadz Solmed baru sadar kalau dirinya baru saja mengalami kejadian yang mengerikan. Untung saja ia termasuk orang yang shaleh, karena memang ia seorang guru ngaji.

Meski sempat ketakutan, ia masih bisa menguasai diri hingga tidak sampai pingsan atau lari terbirit-birit. Yang dilakukannya, justru ia lalu berdoa di kuburan tersebut dengan harapan penghuninya diberikan ketenangan.

Ustadz Solmed lalu melanjutkan perjalanan ke rumah temannya, dimana sepeda motornya dititipkan. Sesampai di tempat tujuan, ustadz Solmed masih nampak pucat, menceritakan kejadian mengerikan yang baru dialaminya. Dari temannya itulah diperoleh keterangan, bahwa yang dimakamkan di kuburan itu adalah seorang gadis desa korban tabrak lari yang mengakibatkan kematian si gadis.

Tragisnya, gadis tersebut ditemukan warga setempat pada keesokan harinya oleh seorang warga yang berangkat ke pasar. Mungkin saja gadis yang ditemui ustadz Solmed malam itu adalah arwah gadis yang mati mengenaskan tempo hari. Dan mungkin karena kematiannya yang tak wajar, arwahnya menjadi gentayangan (*)

Sumber: Misteri Edisi 591 Tahun 2014

Dendam Kesumat Istana Kerajaan Ratu Nyi Wulan Ungu

Dendam Kesumat Istana Kerajaan Ratu Nyi Wulan Ungu

Oleh: Restoe Prawironegoro



Barman, tak pernah berhenti berpikir tentang Indirwati yang begitu tega dan kejam terhadap dirinya, menghina dan mengoyak-ngoyak harga dirinya. Kata-kata yang diucapkan Indirwati terus saja mengiang ditelinga Barman.

___________________________



“Kamu tidak berguna, dan kamu tidak akan pernah bisa membahagiakan aku, karena kamu orang miskin, kamu tidak lebih seperti sampah, Barman!”

Kata-kata itu lambat laun menumbuhkan rasa dendam yang semakin mengkristal sehingga kebencian kepada Indirwati tidak dapat dihapus begitu saja. Sebulan kemudian Barman sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan itu sehingga ia berteriak sekencang-kencangnya di pinggir sungai untuk menumpahkan rasa benci terhadap Indirwati. Barman duduk di tepi sungai dan terus bertanya-tanya dalam hatinya dengan tatapan mata yang hampa, menatap aliran sungai.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Indirwati?” Barman terus bertanya-tanya. Bagaimana pun hubungan dengan wanita itu hampir dua tahun dan selalu baik-baik saja. Demikian pula dengan Wiryokusumo dan Roro Ayu yang telah merestui hubungan cinta mereka. Tapi mengapa tiba-tiba Indirwati berubah menjadi gadis berhati kejam.

Tanpa disadari Barman duduk di tepi sungai sampai matahari hampir tenggelam. Saat hari hampir gelap, tiba-tiba Barman melihat sosok bayangan hitam muncul dari arah dalam sungai, kemudian bergerak mendekati Barman. Semakin dekat bayangan itu, tubuhnya hitam legam, matanya yang besar bersinar, giginya runcing-runcing. Barman hanya terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika makhluk itu dengan cepat menymbar tangannya.

Barman terus dibawa lari oleh makhluk itu ke dalam sungai. Tetapi anehnya, badan Barman tidak basah dan tidak seperti berada di dalam air. Beberapa saat kemudian, makhluk yang membawa Barman memasuki sebuah goa yang berisi ribuan tengkorak-tengkorak berserakan dimana-mana. Bahkan Barman sempat menginjak beberapa tengkorak-tengkorak itu. Setelah perjalanan sekian lamaakhirnya Barman sampai di istana kerajaan yang megah. Di depan gerbang istana itu Barman melihat banyak penjaga istana lengkap dengan senjatanya. Saat makhluk itu membawa Barman mendekati pintu gerbang istana, seluruh pasukan memberi hormat dan menundukkan kepalanya.

Makhluk itu terus berjalan menuju pintu gerbang dan tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Barman dibawa masukke dalam istana. Di halaman istana Barman disambut oleh dayang-dayang kerajaan, lalu dibawa menghadap ratu. Bagai terhipnotis Barman tidak dapat berkedip dan terus menatap ratu. Ia demikian terkagum-kagum dengan kecantikan ratu, apalagi ketika tersenyum ramah.

“Selamat datang di istanaku, Barman!” ratu menyambut kedatangan Barman. Barman agak terkejut dan bertanya-tanya dalam hatinya, darimana ratu tahu namaku dan siapa sebenarnya ratu ini.

“Kau tidak perlu banyak bertanya, Barman, nikmati saja apa yang ada di sini,” jelas ratu kemudian. “Aku akan membuatmu senang dan membuat semua keinginanmu tercapai.”

Bagai kerbau dicocok hidung, Barman menuruti apa yang diperintahkan ratu. Barman kemudian terus mengamati seluruh ruangan istana yang dindingnya terbuat dari emas serta butiran-butiran berlian. Demikian pula dengan mahkota ratu yang berbentuk kepala buaya, ama-sama dihiasi emas dan berlian. Saat Barman sedang terlena dengan apa yang dilihatnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara tepukan tangan ratu yang mengisyaratkan agar dayang-dayang meninggalkan ruangan itu hingga di dalam ruangan itu hanya ada ratu dan Barman.

“Barman, aku akan memberikan harta yang berlimpah dank au akan kujadikan orang yang tampan, asal kau mau memenuhi syarat dariku,” jelas ratu membuat Barman semakin tidak mengerti dengan apa yang sedangterjadi. Barman memang tidak menyadaribahwa sebenarnya ia berada di sebuah kerajaan siluman.

“Syarat apa yang diinginkan ratu?”

“Kau harus menyerahkan Indirwati kepadaku!” lagi-lagi Barman dibuat terkejut saat ratu menyebut mantan kekasihnya itu. Namun sesaat kemudian kembali rasa sakit itu terasa mencubit-cubit hatinya.

“Aku setuju dengan syarat itu ratu, tetapi aku ingin mengetahui mengapa ratu menginginkan Indirwati dan apa hubungannya Indirwati dengan ratu?” akhirnya Barman mencoba menyelidiki apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mendengar pertanyaan dari Barman, ratu hanya tersenyum lalu terdengar berkata lagi. “Baiklah kalau kau ingin tahu,” jelas ratu kemudian.

“23 tahun yang lalu, anakku, Pangeran Praba terpikat oleh kecantikan Roro Ayu ibunya Indirwati, anakku jatuh cinta kepadanya. Pada saat pergantian tahun, tapat jam 12.00 malam, anakku datang menemui Roro Ayu lalu mereka bercinta dan melakukan hubungan intim dan ketika Roro Ayu hamil satu bulan, dia menikah dengan Wiryokusumo. Pada saat mereka berhubungan itulah Pangeran Praba telah memasukkan mustika kembar berwarna ungu ke dalam perut Roro Ayu sampai lahirnya Indirwati, mustika kembar itu bersemayam di kening Indirwati. Tetapi saat Indirwati berusia 40 hari, Wiryokusumo mengetahui semua itu, lalu mengambil dan menghancurkan mustika kembar itu dengan kesaktian ilmu Tangkal Mustika yang dimilikinya. Tanpa mustika kembar itu aku tidak dapat mengambil Indirwati dari tangan Wiryokusumo. Hanya orang yang disakiti oleh Indirwati yang dapat membawanya kepangkuanku. Dan orang itu adalah kau, Barman,” jelas ratu panjang lebar. Barman hanya termangu mendengar penjelasan ratu. Kini ia telah mengetahui apa hubungan antara ratu dengan Indirwati.

“Apabila kau dapat menyerahkan Indirwati, maka sesuai janjiku, kau akan kuberikan harta yang berlimpah dank au akan kujadikan pria tampan. Tetapi apabila kau mengingkari syarat yang aku ajukan maka kau akan kusatukan dengan dengan ribuan tengkorak-tengkorak di goa Ungu di perbatasan istana.”

“Baiklah ratu, aku akan menjalankan perintah ratu, tetapi aku ingin tahu satu hal lagi, siapa ratu sebenarnya?”

“Aku penguasa kerajaan ini, gelarku Nyi Wulan Ungu, dan aku adalah dari bangsa siluman, kerajaan ini adalah kerajaan siluman buaya dan akulah ratu siluman buaya!”

Jantung Barman seakan mau copot, saat mengetahui keberadaannya di kerajaan siluman buaya. Tetapi ketika Barman kembali mengingat penghinaan Indirwati atas dirinya, ketakutan itu seolah punah tanpa bekas.

“Terimalah mustika kembar ini, dan tempelkan di kening Indirwati tepat jam 12.00 malam saat pergantian tahun. Setelah itu kau bebas dari perjanjian denganku.”

Barman menerima mustika kembar itu. Mustka kembar tersebut adalah kembaran dari mustika yang telah dihancurkan Wiryokusumo. Lalu Barman diberkan mantra tarik sukma agar dapat dengan mudah memanggil sukma Indirwati.

“Baik ratu, semua perintah ratu akan aku lakukan,” jelas Barman. Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja tubuh Barman seperti melayang dan kini Barman telah berada di pinggir sungai seperti saat Barman ditarik oleh makhluk hitam itu.

Dua bulan telah berlalu, kini tiba saatnya Barman untuk membalsa dendamnya dengan Indirwati. Tepat pada malam pergantian tahun, dimana Barman harus menjalankan perintah ratu siluman buaya dan ia telah siap untuk membaca mantra tarik sukma.

Sementara itu di rumah Indirwati, ia mendengar suara yang terus memangilnya namanya dan seperti dibimbing oleh suatu kekuatan yang tidak nampak, Indirwati terus melangkah mengikuti suara yang memanggilnya. Wiryokusumo merasa curiga dengan tingkah laku Indirwati, dia mengikuti langkah Indirwati dari belakang, ketika Barman hendak menempelkan mustika kembar itu di kening Indirwati, tiba-tiba terdengar uara Wiryoksumo membentak Barman.

“Hentikan Barman!” teriak Wiryokusumo. Seketika itu Barman terkejut saat melihat Wiryokusumo di tempat itu.

“Tidak, aku haru melakukan ini, dan aku mohon kau jangan ikut campur Pak Wiryo!”

“Barman dengarkan aku, kau tidak boleh melakukan itu, karena itu sama saja kau membunuh Indirwati orang yang kau cintai!”

“Persetan dengan ucapanmu itu, Pak Wiryo, dia telah menghina dan menghancurkan hatiku. Dia telah menyakiti aku, sudah sepantasnya dia menerima pembalasanku.”

“Aku mengerti perasaanmu, Barman,” Wiryokusumo melemahkan suaranya dengan harapan Barman mengurungkan niatnya, tetapi Barman nampak semakin geram.

“Pak Wiryo, aku tidak ada urusan denganmu dan dengar aku sudah tahu semuanya, Indirwati bukanlah anakmu, tapi dia anak Pangeran Prab, putra ratu siluman buaya,” jelas Barman.

“Kita bicarakan baik-baik Barman, agar tidak saling mencelakakan,” Wiryokusumo kembali membujuk Barman karena Wiryokusumo tidak mencelakakan Barman. Sebenarnya bagi Wiryokusumo tidaklah terlalu sulit untuk merebut mustika kembar yang berada di tangan Barman.

Wiryokusumo kembali berkata, “Semua yang kau katakana adalah benar, memang Indirwati anak Pangeran Praba, karena itu aku melindungi Indirwati dar bahaya yang akan mengancamnya, karena kau pun sudah tahu, Pangeran Praba adalah bangsa siluman buaya.”

“Aku tidak peduli, dia akan kuserahkan pada ratu siluman buaya,” tegas Barman. Namun Wiryokusumo tidak putus asa, dia terus membujuk Barman.

“Barman, apabila kau membatalkan niatmu, aku yakin Indirwati akan menjadi milikmu, dia akan menjadi istrimu,” Barman mulai ragu dengan niatnya, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Wiryokusumo.

“Apa kata-katamu bisa dipercaya Pak Wiryo, dan bagaimana perjanjianku dengan ratu siluman buaya itu, aku akan dibunuhnya jika ak melanggar perjanjian dengannya.”

“Percayalah padaku, dan aku akan menyelesaikan semuanya,” Wiryokusumo berjanji pada Barman.

Perlahan Barman menjulurkan tangannya kepada Wiryokusumo dengan menyerahkan mustka kembar itu, bersamaan dengan Wiryokusumo menerima itu, tiba-tiba sebuah sinar ungu berkelebat menghantam tubuh barman, sehinga barman mengeluarkan darah dari mulutnya.

Beruntung mustika kembar itu telah berada dalam genggaman Wiryokusumo, sinar ungu itu kini menyerang Wiryokusumo, tetapi Wiryokusumo dapat menahannya dan membalas dengan pukulan tenaga puser bumi dan sinar ungu itu langsung menghilang. Wiryokusumo merapatkan kedua tangannya, sesaat kemudian Wiryokusumo telah berada di alam siluman dan bertarung dengan ratu siluman buaya. Mereka mengadu kekuatan dan kesaktian hingga pada akhirnya Wiryokusumo dapat mengalahkan ratu siluman buaya.

Ratu siluman buaya itu menghilang setelah mengancam Wiryokusumo dengan kata-kata. “Aku akan membalasmu Wiryo.”

Wiryokusumo kembali ke alam nyata dan menghancurkan mustika kembar ungu itu dengan ilmu tangkal mustika. Sementara itu Barman merasakan sakit yang luar biasa. Wiryokusumo membantu Barman untuk memulihkan kondisi tubuhnya dengan menyalurkan energi tenaga dalam ke tubuh Barman. Setahun kemudian, semua yang dikatakan Wiryokusumo pada Barman mbenar-benar menjad kenyataan. Kini Indirwati telah menjadi istri Barman dan mereka hidup rukun dan bahagia selamanya (*)

Sumber: Misteri Edisi 587 Tahun 2014

Sabtu, 08 November 2014

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul MautSakaratul maut merupakan masa-masa terakhir menjelang ajal. Suatu kejadian yang berat, menakutkan serta mengerikan. Saat itu, orang merasakan begitu menyeramkan menyambut ajal. Orang bisa tenang jika mempunyai perbekalan akhirat yang cukup, tapi menjadi menakutkan manakala tak secuil pun kebajikan yang diperbuatnya sewaktu di dunia. Banyak memori keindahan yang terekam, tapi baying-bayang rasa sakit yang teramat sangat membuntuti.

Sakaratul maut adalah fase perjalanan yang akan dilalui manusia sebelum menuju alam akhirat. Fase ini merupakan jalan tersulit, dimana manusia akan menghadapi dan tidak bisa mengelak sedikit pun. Kehadiran sakaratul maut bisa menjadi suatu momok yang menakutkan bagi setiap orang karena rasa sakit yang amat tatkala nyawa direnggut dan dicabut dari badan. Persoalan ini telah dberitakan Allah SWT dalam firman-Nya:

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Yang artinya: ”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah apa yang selalu kamu hindari dan kamu lari menjauhinya.” (QS. Qaaf: 19)

Rasa sakit ini sungguh tiada terkira. Hingga akal seakan sulit menerima kebenarannya. Syaikh al-Kulayni meriwayatakan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq yang berkata: “Suatu hari Rasul SAW menunjungi Imam Ali yang sedang sakit mata, dan dia merintih kesakitan. Rasulullah SAW bertanya: “Apakah jeritan itu disebabkan engkau tidak tahan atau lantaran rasa sakit yang luar biasa?” Imam Ali berkata: “Saya belum pernah merasakan sakit seperti ini.” Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Malaikat Maut datang mencabut nyawa seorang kafir, dibawanya besi runcing seperti penusuk daging yang terbuat dari api. Malaikat kemudian mengeluarkan nyawanya dengan besi runcing tersebut, hingga orang kafir itu pun menjerit kesakitan.”

Setelah Imam Ali mendengarkan cerita tersebut, ia bangun, duduk lalu berkata: “Ya Rasulullah, ulangilah cerita itu, karena hal itu dapat melupakanku dari rasa sakit.” Imam Ali terus bertanya: “Apakah ada di antara umatmu ada yang nyawanya dicabut seperti itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Ya, ada. Nyawa para penguasa yang dzalim, orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan dzalim dan orang-orang yang memberikan kesaksian palsu akan direnggut dengan cara demikian.”

Pada saat-saat kritis seperti ini, seakan semua kesulitan menghampiri manusia. Bayang-bayang rasa sakit saat nyawa dicabut dari badan – sebagaimana digambarkan di atas –, membuat mulut terasa bumkam tanpa bsa mengeluarkan sepatah kata, fisik tak berdaya lemah lunglai hingga jika ada satu benda sekecil apa pun jatuh di atas badannya akan dibiarkan begitu saja tanpa bisa dihindari, pelepasan dari seluruh anggota keluarga, yang sedang menangis serta yang susah untuk dilupakan adalah harta.

Mungkin saja ada banyak harta orang lain tersimpan padanya, yang belum sempat dikembalikan kepada pemiliknya atau yang dengan sengaja diambilnya secara tidak benar. Kini ia menyadari segala kesalahannya, padahal jalan untuk memperbaiki diri telah tertutup. Keindahan dan kenikmatan dunia yang pernah ia reguk semasa hidupnya hingga menjelang ajalnya, mulai menghilang dari pandangan matanya berganti dengan bayang-bayang kesedihan; apa yang akan terjadi setelah mati serta apa yang akan diterimanya nanti.

Berkaitan dengan persoalan harta, suatu hari Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Ia mengingat-ngingat harta yang telah dikumpulkan, dicari, dan diperolehnya tanpa memperdulikan dan memperhatikan apa harta itu jelas-jelas halal atau masih diragukan kehalalannya. Yang demikian itu kadang-kadang sudah lazim terjadi dalam pengumpulan harta. Kini, ia akan berpisah dengannya, dan harta itu pun diperuntukkan bagi orang-orang yang akan ditinggalkannya. Mereka akan bersenang-senang dengannya. Maka, harta itu dinikmati oleh orang lain, sedangkan beban dan tanggung jawab atas harta tersebut berada di pundaknya. Di sisi lain, ia merasa takut memasuki alam lain yang belum pernah dialaminya. Matanya mulai melihat hal-hal yang belum dialaminya. Allah SWT berfirman:

Kedatangan Malaikat Saat Sakaratul Maut

Yang artinya: ”Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang Munutpi) matamu, dan penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.” (QS. Qaaf: 22)

Di antara alam sadar, orang serasa melihat Rasulullah SAW serta malaikat pembawa rahmat dan adzab hadir di sisinya untuk memperlihatkan nasibnya. Selain itu, iblis dan golongannya juga datang untuk membuatnya ragu-ragu agar keimanannya sirna hingga ia meninggal dunia dalam keadaan tanpa iman. Kemudian ia juga melihat Malaikat Maut datang kepadanya dengan wajah menyenangkan atau mengerikan.

Ali RA berkata: “Semua kesulitan sakaratul maut telah mengepung dan mengerumuninya. Maka berubahlah segala sesuatu yang telah dianugarahkan kepadanya.”

Menurut beberapa keterangan, jika hendak mencabut nyawa seorang mukmin yang shaleh, malaikat menjelma dengan wajah menyenangkan, pakaian indah lagi wangi. Selain itu tutur kata dan penampilannya pun ramah, dan selalu didahului ucapan salam. Dengan keramahannya, ia akan menjemput orang mukmin itu penuh rasa hormat dan berlaku baik.

Sehingga orang itu tetap tenang dan tidak menampakkan ketakutan. Tapi tidak demikian halnya jika yang hendak dicabut nyawanya bukan orang mukmin. Malaikat Maut datang dengan memperlihatkan wajah garangnya. Kata-kata dan perilakuknya kasar, hingga nyawanya dicabut dengan paksa dan ia merasakan sakit yang hebat.

Demikianlah beberapa hal yang menyertai sakaratul maut. Menjelang ajal, ada yang meronta-ronta kesakitan, gelisah serta ketakutan. Orang bertingkah demikian karena orang yang bersangkutan merasa mempunyai banyak dosa yang belum sempat ia tebus sedangkan waktu taubat sudah tertutup.

Sebaliknya, ada yang menjelang ajalnya tampak tenang dan pasrah, wajahnya berseri-seri serta lancar mengucapkan istighfar. Bahkan seulas senyum kebahagiaan selalu menebar dari bibirnya. Ini menandakan bahwa yang bersangkutan sudah siap menghadap Yang Kuasa dengan bekal iman, taqwa dan amal shaleh yang dilakukan sewaktu di dunia.

Orang yang beriman siap menghadapi kematian dengan penuh harapan serta pegangan batin yang kokoh. Seperti diungkap H Bey Arifin dalam bukunya, Hidup Sesudah Mati, orang yang beriman bagai seorang penerjun paying. Dia melompat meninggalkan pesawat terbangnya dari angkasa yang tinggi. Namun dengan kepercayaan penuh bahwa parasut akan terkembang yang dapat menyelamatkan jiwanya. Hanya beberapa saat saja saat dia sedikit berbeda dan terkatung-katung di angkasa akhirnya dapat menginjak tanah kembali dengan kedua kakinya tanpa kurang suatu apa.

Ibnu Abbas meriwayatkan Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat teliti. Ia mempunyai ruangan khusus untuk beribadah. Ke mana pun ia pergi, ia selalu mengunci pintu dan membawa anak kuncinya. Suatu hari ia begitu terkejut, ketika membuka pintu. Tenyata di dalamnya ada seseorang yang mencurigakan. “Siapa yang mengizinkan engkau memasuki ruang kamar ini?” tanya Ibrahim.

”Pemilik rumah ini yang menyuruhku masuk.”

”Aku pemilik rumah ini,” jawab Ibrahim.

”Yang memiliki bumi dan langit,”ucap orang itu dengan nada diplomatis yang membuat Ibrahim kian bingung. Ibrahim kemidian bertanya lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Jika begitu, siapa engkau sebenarnya?”

”Akulah malaikat maut,” jawabnya.

Nabi Ibrahim AS bertambah kaget, tapi berusaha menyembunyikan keterkejutannyadan kembali bertanya. “Dapatkah engkau menunjukkan sebagaimana hendak mencabut nyawa orang mukmin?”

”Tentu, alihkan pandangan sebentar.”

Ibrahim menuruti permintaan tamunya itu. Dan ketika kembali memperhatikannya, dilihatnya wajah dan penampilan malaikat maut sudah berubah. Malaikat maut telah mengubah diri menjadi seorang pemuda berparas tampan, berpakaian indah dan wangi.

Dari cerita di atas, tampaknya penjelmaan Malaikat Maut dalam sosok yang agung, tenang dan menyenangkan tergantung dengan kadar keimanan dan amal shaleh seseorang selama hidupnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah mengunjungi seorang anak muda yang sedang sekarat. Rasulullah mengajarkan kepadanya agar ia mengucapkan kalimat syahadat. Namun, mulu pemuda itutetap bumkam dan tak dapat mengucapkannya. Walau sudah berulang kali Rasulullah menyuruhnya, tak urung mulutnya tetap saja terkatup.

Kemudian Rasulullah bertanya kepada seorang wanita yang berada di dekat pemuda tersebut: “Apakah pemuda ini masih memiliki ibu?”

Wanita itu berkata: “Ya, akulah ibunya.”

Rasulullah bertanya: “Apakah kamu murka kepadanya?”

Ia menjawab: “Ya, sampai sekarang. Sudah enam tahun aku tak berbicara dengannya.”

Rasulullah berkata: “Relakanlah dia.”

Wanita itu berkata: “Semoga Allah meridhainya demi ridhamu, wahai Rasulullah.

Ketika ia mengucapkan kalimat yang menunjukkan kerelaannya, maka mulut sang pemuda pun terbuka. Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah la ilaha illaallah (tiada tuhan selain Allah). Pemuda itu pun mengucapkannya.

Rasulullah bersabda: “Apakah yang engkau lihat?”

Ia berkata: “Seorang laki-laki berkulit hitam dengan wajah buruk dengan pakaian yang nemjijikan dan mendatangkan bau busuk serta mencekik leher pernapasanku.”

Rasulullah bersabda: “Ucapkanlah ya man yaqbalul yusira wa ya’fu ‘anil katsiri, iqbal minni al-yasira wa’fu ‘anni al-katsira. Innaka anta al-ghafir ar-rahim (Duhai Dzat yang menerima amal yang sedikit, dan yang memaafkan dosaku yang sangat banyak. Terimalah amal shalehku yang sedikit dan ampunilah dosaku yang amat banyak. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka pemuda itu membaca doa yang diajarkan Nabi SAW dan beliau bersabda: “Lihatlah! Apa yang tampak sekarang?”

Pemuda itu berkata: “Saya melihat seorang berkulit putih, berwajah tampan, mengenakan pakaian yang baik, tengah datang menghampiriku. Sementara itu orang yang berwajah hitam tadi membelakangiku dan hendak pergi.”

Nabi SAW berkata: “Ulangi doa itu!” Pemuda itu membacanya lagi.

Nabi SAW bertanya: “Apa yang kau lihat sekarang?”

Sang pemuda menjawab: ”Aku tida melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, dan orang yang berwajah putih itu berada di sisiku.” Tak lama kemudian pemuda itu wafat. Gambaran seorang pemuda yang menghadapi sakaratul maut demikian susahnya itu menyiratkan bahwa penghormatan antara orang satu dengan yang lainnya, terlebih pada ibunya, sangat penting.

Dari kasus di atas, secara jeas meski Rasulullah membacakan talqin untuknya, tetap saja ia tak dapat mengucapkan kalimat tauhid. Setelah bunya memaafkan kesalahannya, barulah pemuda itu dapat membuka mulutnya dan mengucapkan kalimat syahadat.

Ada sebuah riwayat yang menjelskan bagaimana caranya agar peristiwa yang dikhawatirkan tidak terjadi seperti dalam cerita pemuda di atas. Syaikh ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam as-Shadiq bahwa beliau berkata: Barang siapa ingin agar Allah memudahkan sakaratul mautnya, maka hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahmi dan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Jika ia berbuat demikian, Allah akan memudahkan segala kesulitan di saat nyawanya direnggut dari badan serta rezekinya dimudahkan.”

Dengan mengetahui sakaratul maut dan berbagai kejadian yang menyertai seharusnya menjadikan manusia tetap ingat bahwa dunia bukan ajang untuk memupuk kekayaan, kekuasaan serta gagah-gagah-an. Tapi media menusia untuk mempersiapkan bagaimana menghadapi kematian dan selanjutnya menuju kehidupan yang abadi. (Herry Munhanif/berbagai sumber)

Sumber: Hidayah