Minggu, 12 Juli 2015

Kuntilanak Pohon Jamblang di Belakang Rumahku

Kuntilanak Pohon Jamblang di Belakang Rumahku Jantungku bergetar hebat tatkala aku melihat bayang-bayang melintas di dapurku. Bayangan perempuan menggendong bayi, memakai jarik, kain batik Solo dan kain gendongan lusuh, melintas dari kamar mandi menuju pintu dapur.



“Siapa kamu?” pekikku, beberapa saat setelah kaget dengan nyali menciut. Bayangan itu hanya diam saja, menghambur keluar pintu.

“Hei, kemana kami, siapa kamu sebenarnya?” tanyaku, setengah takut.

Malam itu hanya aku sendirian di rumah. Sebuah rumah baru yang kami tempati setelah suamiku pensiun. Rumah lama kami jual, lalu kami pindah ke luar kota. Membeli rumah model Paseo de Garcia.

Karena tidak mau menganggur setelah bebas tugas, suamiku bisnis batubara di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Dua anak kami, semua bekerja di luar negeri. Karena tidak mau menggunakan pembantu, maka sejak pindah runah, aku selalu sendiri di rumah apabila suamiku mengurus bisnisnya.

Malam itu, adalah malam Jumat Kliwon, tanggal 5 Juli 2013. Usai sembahyang Maghrib, aku membaca Al-Qur’an, surat Yasin, sebagaimana dulu, rutin aku lakukan saat kami tinggal di Jakarta Timur. Membaca surat Yasin dan ratusan surat Al-Fatihah yang aku kirimkan untuk almarhum ibuku, ayahku, adikku dan famili-famili yang telah mendahuluiku.

Setelah membaca surat-surat itu, aku lanjutkan sembahyang Isya’. Habis sembahyang Isya’ aku kelaparan dan mau membuat mie instan di dapur. Sebelum aku menyiapkan kompor dan mie instan, aku melihat bayangan itu. Bayangan mengejutkan dari seorang ibu tua yang sedang menggendong bayi. Langkahku langsung terhenti dan aku tersentak kaget.

“Siapa kamu?” hardikku. Namun, bayangan itu hanya diam dan langsung berlalu. Menghilang ke pintu dapur dan raib ke pohon jamblang di belakang rumah.

Jantungku terus berdegub kencang karena takut. Gunjangan jantungku membuat aku menelepon suamiku. Kuceritakan apa yang aku lihat dan suamiku tertawa terpingkal-pingkal, bukan prihatin kepadaku yang ketakutan.

“Mana ada hantu di rumah kita Ma? Apalagi hantu perempuan tua menggendong bayi, nggak ada itu? Mama tersugesti cerita majalah yang Mama baca barangkali, sehingga Mama ketakutan lalu terhalusinasi seakan ada hantu di sekitar Mama. Sudah tenang aja, tidur saja yang nyenyak, besok Papa pulang,” kata suamiku di seberang sana.

“Papa ini bagaimana sih? Istrinya ketakutan, meminta pertolongan, malah ditertawakan? Pakai perasaan dong Pa?” bentakku, memarahi suamiku.

Malam itu aku tidak dapat tidur. Semua lampu aku nyalakan, padahal kami sepakat untuk berhemat energi listrik sejak suamiku pensiun. Mataku aku pejamkan tapi pikiranku terbayang-bayang kepada sosok ibu-ibu yang menggendong bayi itu. Jujur saja, aku ketakutan sekali malam itu.

Untuk minta bantuan orang agar dapat menemaniku, aku tidak bisa. Sebab aku penduduk baru di Kampung Enclek, dan belum kenal siapapun. Lurahnya aku kenal baik, saat membeli rumah itu. Tapi, masak aku minta temani Pak Lurah?

Tidak, aku harus berani. Malam ini aku harus lewati dan aku mesti berani menghadapi apapun. Jangankan hantu, pikirku, menghadapi rampok pun, aku harus berani.

Jam di dinding menunjukkan pukul 23.45 WIB. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari arah dapurku. Mirip suara geledek dan petir di pohon jamblang. Dengan sisa keberanian yang ada, aku mengambil senter dan menghambur ke dapur. Saat kusenteri, jantungku berdetak makin tak menentu di mana di sana aku melihat ibu-ibu tadi sedang memberi minum bayinya. Dia memberikan dot plastik berisi susu darah, merah, kepada bayinya. Darah siapa itu yang diberikan ke bayinya? Batinku, bertanya-tanya.

“Maaf Bu, ibu siapa dan ada apa di rumah saya ini?” tanyaku.

Si ibu tak menjawab sepatah katapun. Dia acuh tak acuh kepadaku dan terus memberikan susu darah kepada bay dalam gendongannya. Dia tidak melihat dan tidak mendengarkan aku. Namun senter terus aku arahkan ke mukanya yang pucat pasi, putih seperti kertas tulis.

“Maaf, ibu ini siapa dan mengapa di sini?” sorongku pula, tanpa menghiraukan bahwa dia tidak akan menjawabku.

Dengan diberani-beranikan, aku agak mendekat. Melaju beberapa langkah ke depan. Begitu agak dekat, ibu itu lalu duduk bersimpuh di kakiku masih memegang erat bayinya. Darah yang ada di dalam botol susu lalu tumpah dan aku melihat darah kental berceceran di dapurku.

“Aku adalah Rustini, bayiku ini bayi perempuan yang membutuhkan belas kasihan. Aku dan bayiku tinggal di pohon jamblang di belakang rumah ini. Tolong jangan dipotong pohon itu, biarkan rumah kami itu berdiri hingga alam akan mematikannya. Aku sudah meninggal 34 tahun lalu dan bayiku berumur setahun, butuh susu darah, minuman darah dan darah yang diminum darah ayam cemani, ayam serba hitam dan tolong disiapkan. Jika ibu membantu kami, kami akan membantu ibu. Saya menjaga harta karun di bawah pohon jamblang itu, dan harta itu hanya untuk ibu bila ibu secara rutin memberikan kami darah ayam cemani,” pntanya, setengah segukan. Dan nyaris menangis.

Aku berdiri tertegun melihat dia merangkak mencium kakiku. Aku lalu mengusap rambutnya yang lusuh, tetapi tidak dapat terjamah. Tanganku seperti memegang angin. Namun, aku berjanji kepadanya, akan menyediakan darah ayam cemani setiap malam Jumat Kliwon, seperti yang dipintanya. Aku tahu tempat di mana aku membeli ayam serba hitam itu. Darahnya diambil dan dagingnya boleh aku makan. Digoreng, dipanggang atau digulai, tidak masalah. Dia hanya membutuhkan darah ayam hitam itu dan aku memakan dagingnya.

Tengah malam itu arwah Rustini bersepakat denganku. Aku menyediakan darah ayam cemani sedangkan dia membuka harta gaib yang ada di pohon jamblang usia ratusan itu. Harta gaib yang ada di situ, disebut Rustini berbentuk emas batangan. Jumlahnya sangat banyak walau dia tidak memberitahukan jumlah nominalnya.

“Baik, kapan aku bisa mendapatkan harta gaib itu,” tanyaku.

“Tidak bisa sekaligus, boleh diberikan secara bertahap. Malam ini juga, aku akan memberikan kepadamu sebagian kecil dari benda gaib itu. Tapi tolong besok malam siapkan darah ayam cemani. Dan malam Jumat Kliwon bulan depan, siapkan yang banyak. Tujuh darah ayam cemani. Besok cukup satu, sebagai ikatan perjanjian keramat kita malam ini, jadi,” katanya.

Pukul 01.35 WIB, Rustini mengajak aku ke pohon jamblang. Ada rasa takut tapi aku membunuh rasa takut itu. Kutahan rasa ngeri itu. Dengan langkah gontai Rustini dan bayinya ke luar dari pintu dapur. Dia mampu menembus pintu yang terkunci rapat. Sedangkan aku tidak, aku harus terlebih dahulu membuka pintu itu dengan anak kunci di tanganku. Setelah terbuka, aku melihat pohon jamblang dan Rustini ada di bawahnya.

“Ke marilah Bu,” ajaknya.

Aku mendekat ke pohon jamblang dan Rustini menghilang ke dalam tanah, ppas di akar terbesar dari pohon jamblang itu. Beberapa saat kemudian, Rustini muncul lagi dengan bayinya dan menggenggam tiga batang benda berwarna kuning. Benda itu ternyata emas murni 24 karat dan diberikannya padaku.

“Tolong, hal ini jangan diberitahu kepada siapapun, termasuk kepada suami ibu sendiri. Ingat, jangan diberitahu orang lain, hanya ibu seorang yang tahu. Jika suami ibu diberitahu, akan sangat berbahaya bagi ibu. Saya akan marah dan ibu akan binasa di rumah ini,” ancamnya.

Tiga batang emas itu aku ambil dan kubawa ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Rustini dan anaknya masuk lagi ke tanah dan raib dari pandanganku. Setelah masuk rumah, aku kunci lagi pintu dapur dan aku bawa emas itu ke kamar tidurku.

Besok paginya, hari Jumat pagi aku ke toko emas langgananku. Aku tersentak kaget karena emas itu murni 24 karat. Sore hari aku baru sampai di rumah. Aku diantar taksi berkeliling kota untuk urusan emas batanganku itu. Sesampainya di rumah, aku segera masuk mandi air panas. Sementara ayam cemani yang ada di dalam keranjang bambu, aku keluarkan untuk aku sembelih dan darahnya akan aku berikan untuk Rustini di pohon jamblang.

Setelah mandi aku sembahyang Ashar dan berdzikir panjang. Usai dzikir dan shalat, aku kembali ke pohon jamblang untuk mengucapkan terima kasih kepada Rustini dan meletakkan darah ayam cemani yang baru aku sembelih di dalam botol air mineral besar. Setelah itu aku memanggil Rustini dan dia diam saja, aku berdiri meninggalkan darah di pohn jamblang itu. Beberapa saat kemudian, aku melihat kembali ke botol air mineral, Duh Gusti, aku tersentak lagi. Darah itu langsung habis, botol menjadi kosong.

Pikirku, Rustini sudah meminumnya dan meminumkan darah itu untuk anaknya. Malam harinya, pukul 20.30 WIB suamiku datang. Aku dan suami tentu saja berpelukan erat dan kami makan malam bersama. Makan ayam cemani panggang kering yang aku campurkan dengan asam pedas. Suamiku sangat lahap menikmati daging ayam cemani yang gurih itu, sementara aku hanya sedikit. Aku tidak begitu menikmati karena ingat darahnya yang telah diminum oleh Rustini, kuntilanak, atau arwah penasaran yang menjadi kuntilanak penghuni pohon jamblang di belakang rumah kami.

“Daging ayam ini kok tumben, enak sekali ya Ma? Ayam apaan sih ini Ma?” tanyanya, sambil lahap menggigit daging ayam berberat satu kilo gram itu.

Aku menghindar untuk menyebut bahwa itu daging ayam cemani. Sebab ayam cemani sudah diketahui banyak orang bahwa itu ayam mistik. Ayam alam gaib yang digunakan untuk ritual memanggil jin, kuntilanak, genderuwo yang hidup di sekitar manusia. Bila kukatakan sesungguhnya, pasti suamiku curiga. Dia akan mencecar aku dengan banyak pertanyaan. Akibatnya, berabe, dia akan tahu bahwa aku sedang berhubungan dengan dunia mistik.

“Ayam kampung biasa Pa. ayam kampung yang Mama beli di pasar tadi pagi,” kataku, membodohinya. Berbohong untuk kebaikan kami. Aku sangat menjaga perjanjian gaib dengan kuntilanak, arwah Rustini di pohon jamblang. Jika suamiku tahu, akan sangat berbahaya bagiku. Bukan saja tidak diberikan emas kekuasaan gaib miliknya, tapi bisa juga mati dicekiknya. Untuk itu, aku harus merahasiakan hal itu dengan sangat tertutup dan ketat.

Hampir sebulan Rustini tidak menampakkan diri. Aku sudah berani keluar malam hari untuk mendatanginya ke pohon jamblang. Tapi, sejauh ini, Rustinitidak muncul dan aku tidak menemukannya. jangankan wujud yang nampak, suaranya pun, tidak bisa aku dengarkan.

Malam Jumat tanggal 9 Agustus 2013, tepat malam hari raya kedua, 2 Syawal 1434 Hijriah, tengah malam, aku mendengar suara gemuruh di belakang dapurku. Suara angin kencang yang mengayun pohon hingga berbunyi bergemeretak. Gesekan antara dahan ke dahan pohon mangga sebelah pohon jamblang.

Darah tujuh ayam cemani, dalam jerigen besar telah aku siapkan di dalam gudang. Suamiku tidak melihat itu dan dia tidak curiga. Pukul 24.00 WIB aku memberikan darah ayam hitam itu ke pohon jamblang. Beberapa saat kemudian, Rustini dan bayinya keluar dari tanah dan memberikan enam batang emas kepadaku. Buru-buru aku menyimpan emas itu di kamarku. Untung suamiku ngorok dan tertidur lelap. Dia tidak tahu sama sekali tentang emas itu dilemariku. Setelah mengisap darah dalam jerigen besar, kuntilanak Rustini menghilang ke dalam tanah lagi. Tiga hari setelah lebaran, suamiku berangkat ke Tenggarong lagi. Aku mengantarnya di depan rumah.

Namun sayang, di luar dugaan, pada malam Jumat, 13 September 2013, pohon jamblang berhantu itu dihantam petir dan mati. Pohon langsung terbakar dan tumbang ke tanah. Aku memanggil nama Rustini tapi Rustini dan bayinya tidak muncul lagi hingga kini. Maka itu, sejak tanggal 13 September 2013 hingga Februari 2015 ini, tidak ditemukan lagi. Ke mana dan ada di mana Rustini, hanya Allah Azza Wajalla yang tahu. Dan rezeki gaibku hanya berhenti di situ. Aku ambil hikmah positifnya, bahwa manusia tidak boleh serakah dan tamak. Alhamdulillah, aku telah mendapatkan harta gaib yang cukup untukku bisnis. (*)

Jumat, 26 Juni 2015

Berjalan di Atas Kaca

Berjalan di Atas KacaOleh: N Marewo

“Ceritakan padaku tentang keajaiban?” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan wsebatang rokok dari dalam bungkusnya. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita:

Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-hentinya memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang laying-layang dilepas. Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja.

Malam itu hari keempat. Kubuka mata yang berat. “Maha Suci Allah. . . ,” kataku dalam hati.mungkin mimpi. Tapi sepertinya bukan. Kulihat di mana-mana bintang beredar bagai kelap-kelip lampu yang kulihat di kolong jembatan itu. Di mana-mana air. Lautan luas. Kupandang samudera, seakan-akan apa yang terjadi benar-benar peristiwa sungguhan,

Bagas, Arlan, dan Parno terkulai tak berdaya. Kepala dan leher kami lemas seperti belut pingsan. Belum ada tanda-tanda akan terlihat perahu, atau kapal yang membantu. Hidup telah ditakdirkan. Maut kita bawa ke mana-mana. Bila ditakdirkan mati maka kuterima. Di mana hendak berlari? Bagaimana menghindari ajal? Ke mana minta perlindungan dalam samudera seluas itu jika tak berserah diri kepada-Nya? Dimana pula kita tak berserah diri? Kami akhirnya berempat. Sore yang murung perahu yang kami tumpangi tak tertolong. Badan perahu tenggelam seperti bekas kaleng minuman terinjak sepatu.

Suasana sangat histeris. Lautan tak berjarak dari langit. Para penumpang berhamburan menyelamatkan diri bagai abu tertiup dari asbak. Empat jeriken dan seutas tali sepertinya sedang menanti saat seluruh isi kapal tercebur ke laut. Kami melompat menuju jeriken-jeriken lalu mengikat tangan masing-masing pada tiap jeriken yang mendekati kami. Kami mengikrarkan janji – akan tetap bersama dalam keadaan bagaimana pun. Hidup atau mati tetap bersama. Kami tak hendak berpisah. Meski mati ingin jasad kami dalam keadaan terapung.

Teringat pesan ayah agar mengisap jempol bila mendapat musibah di lautan. Kulakukan dari hari ke hari. Kuisap jempol untuk menahan diri dari haus dan lapar. Anehnya, meski sangat lapar aku sedikit terbantu. Meski sangat haus agaknya bisa bertahan. Kita memang tak boleh takabur. Hidup tak cuma di lidah dan di perut. Kusuapi jiwa dengan apa yang dapat membantu bertahan. Namun sampai kapan terseret arus? Adakah diriku akan mati dengan cara itu? Apakah hidupku berakhir pada jeriken? Aku rela menerima segalanya bils ditakdirkan. Siapa sanggup menolak?

Parno membangunkanku dan kawan-kawan yang lain.

“Lihat!” katanya. Matanya berbinar. “Lampu-lampu,” tangannya menunjuk gelombang yang membukit.

“Lampu-lampu?” tanyaku.

“Kita sudah sampai,” katanya, tersenyum senang. “Sampai ke mana?” Bagas menanyakan.

“Sudah buta kau?” ia membentak, “Apakah kalian tidak melihat pulau sebasar itu?” “Tdak, Kawan,” jawabku. “Mana mata kalian? Sialan! Kita sudah dekat, sudah sampai. Itu pulau. Pohon-pohon. Kapal-kapal. Gunung. Tunggu apa lagi. Ayo kita berenang.”

“Berenang?” tanya Arlan, heran. “Berenang ke pulau itu, monyet.” Bukan pulau, Parno. Kita di tengah samudera. Lihat gelombang yang menggunung itu,” bantah Arlan.

“Sudah gila kalian. Kalian bilang gelombang itu pulau,” ia terheran-heran. “Biar aku sendiri yang pergi.”

“Ke mana?” tanyaku.

“Kenapa tanya?” ia terburu-buru hendak melepas tali dari jeriken.

“Tak ada pulau!” kata Bagas mengingatkan.

“Diam, bangsat! Nanti kau kubunuh!” katanya mengancam.

Kami terdiam, tak lagi berkata-kata. Hanya mata kami saling memandang – melihat saja apa yang ia lakukan. “Jangan ada yang menahanku,” katanya seraya mengeluarkan belati. “Siapa-siapa yang menahanku akan kubunuh.” Lalu ia memotong tali yang menyatukan tangannya dengan jeriken. Dikasihkannya aku belati sebelum ia berenang. Tampak seonggak tubuh terhadang ombak melawan arus. Kilauan cahaya dari deburan air hilang bersamaan dengan lumatnya teriakan histeris.



Malam bergeser. Hari berlalu. Kapal atau perahu yang diharapkan untuk memberi bantuan seakan cuma khayalan. Memang, pernah kusaksikan ada orang-orang menjaring ikan di malam buta. Kurasa mereka penghuni laut dan tak menggubris kami. Untuk bertahan aku masih mengisap jempol tangan dan kaki – mencoba tegar dalam kepasrahan. Subuh sebelumnya aku bermimpi mengunyah pisang bakar dan meneguk secangkir kopi. Mimpi-mimpi aneh.

Laut sarat keanehan. Kadang-kadang terlihat kota penuh lampu. Sering hidung kami mencium aroma ayam dan bebek panggang. Terkadang terdengar orang-orang mengobrol, dengusan ternak, suara kokok ayam, dan kicauan burung.

Bagas semakin payah. Aku juga. Arlan sama. Tapi Bagas gelisah sekali. “Aku mau sendirian,” katanya suatu pagi. “Kenapa berubah pikiran? Kita sudah berikrar hidup atau mati tetap bersama,” Arlan menanggapi.

“Ah!” Suaranya mendesis.

“Kau sendiri lihat bagaimana nasib Parno,” kataku memperigatkan.

“Memang. Tapi kalian punya rencana buruk terhadapku,” sahutnya dan membuang muka.

“Rencana apa?” Arlan bertanya.

“Kalian kira aku tidak tahu itikad busuk kalian. Jangan berpura-pura,” lanjutnya.

“Berpura-pura apa?” tanyaku.

“Kalian pikir aku tidak tahu? Diam-diam kalian bersekongkol mau memakanku, kan?”

“Wah Bagas. . . ,” kata Arlan. “Ingat, Kawan. . . .

“Ingat apa?”

“Ingat Tuhan!”

Bagas tak menggubris. Aku menggeleng. “Jangan lupa,” kataku, “hidup dan mati ditentukan oleh-Nya. Kita tak akan pernah bisa berlari. Dalam kapal emas yang penuh intan dan berlian pun tidak. Kalau ditakdirkan mati, ya mati.”

“Lepaskan!” teriaknya, “Kalian penjahat. Kok tega-teganya mau memakan daging teman sendiri.”

“Bagaimana mungkin kami berpikir memakanmu?!” kata Arlan.

“Percayalah,” kataku, berusaha meyakinkan, “Kita sudah berjanji sehidup semati.”

“Lepaskan aku,” tangannya mendorong tubuhku, “Aku tidak percaya pada kalian.”

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Lepaskan. Biarkan aku sendirian. Aku akan berenang.”

“Kau lihat sendiri gelombang itu. Ke mana hendak menghindar? Ini samudera, sobat. Tak bisa dilawan dengan nafsu. Alam tak tertaklukan.

“Lepaskan aku. . . kalian membawa sial.”

“Kau sadar nggak apa yanh kau ucapkan?” tanya Arlan.

“Sadar apa? lepaskan aku.”

“Pikirkanlah. . .”

“Tolong. . . . bantu aku,” pintanya menghiba.

“Tolong. Tolong aku. . .”

“Sulit kami lakukan,” kataku menanggapi.

“Terus terang, aku sangat tersiksa bersama kalian. Tolong. . . lepaskan aku.”

“Kalau itu maumu,” hatiku sedih tercabik-cabik. Aku tak tega memotong tali yang menyatukan jeriken dan tangannya. Tapi ia terus menghiba. Ajaib. Setelah dilepas tubuh Bagas terangkat ke udara. Seperti manusia terbang dalam film-film horror; naik beberapa meter di atas permukaan air. Mata kami takjub beberapa saat. Kakinya tidak menyentuh air seperti seorang yang dapat terbang. Tak lama berselang tubuhnya berputar makin cepat seperti gasing. Beberapa saat kemudian tubuh yang berputar merendah lalu naik beberapa meter sebelum akhirnya tercebur ke dalam air. Semacam jangkar yang dibuang, atau beton yang terlempar ke laut – tak kelihatan lagi. Hening. . . .



“Di serambi ini,” lelaki itu menepuk bahu bocah yang duduk di sampingnya, “Kita berada dalam lautan itu, Nak, dalam keadaan tangan terikat. Batang leher lunglai, bersandar pada jeriken. Tiap saat menunggu panggilan. Hidup seperti dedaunan yang bertuliskan nama-nama. Bukan soal kapan daun gugur sebab mati bisa kapan saja. Bagaimana mengisi hidup dan memahami wajah yang terpantul di kaca. Tiap saat bisa saja manusia berubah haluan seperti halnya Arlan yang berpikiran mengunyah dagingku. Bila pernah bertanya siapa yang menyimpan rasa pada buah-buahan. Bila memikirkan siapa memasukkan aroma pada benda-benda. . . .”

“Mau kopi, Paman?” tanya bocah itu.

Pamannya tak menggubris.

“Bukan samudera. Juga bukan daratan dan udara,” ujarnya. “Semua itu hanya ruang. Tetap saja kita akan menjadi mayat seperti tiga temanku. Kita tidak pernah tahu bagaimana meninggal, bukan menata kematian. Kita dalam perjalan memilih lorong untuk terus melangkah di atas cermin tak berkesudahan memantulkan segala yang dirajut dengan tangan, kaki, hati, dan pikiran.”

“Ibu sudah membuatkan kopi. . . .”

Ia mengenang aroma sate dan wangi kopi yang pernah dirasainya dalam mimpi. (*)

Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa

Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa Oleh: Ilham Q Moehiddin



Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota vyang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang menghisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya.

Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya. Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka: Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” kecam para Apua (tetua adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapat darinya, justru diberinya aku amarah. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panic ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.


Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya. Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang kumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka mencoba-coba mengubah kalimat keramat yang dipahatnya di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena mereka menistakan para pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Satu-satunya moral yng diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ketepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah di tenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.


Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apa pun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan pada setiap orang yang datang ke sini, padaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa pendahulu memilih kekal di dasarnya. –Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga humbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—“

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya. “Cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas – siapa pun yang dilarang dengan kalimat bernama seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.



Mendongaklah – saat kau menda-pati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kedpatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan ditugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku.

Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa. Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku um\ntuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.” Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Terima saja keadaan kami. Kau tahu – kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingijn jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau padaku lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang dibelakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—“ Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dxasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu – jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan – banyak sekali.” Suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.” Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)



Selasa, 28 April 2015

Sang Idola

Musim kemarau belum juga berakhir. Terik matahari terasa begitu menyengat, seakan menembus kulit. Pak Imam baru saja keluar, menuju tempat parkir. Sebelum mengeluarkan kunci kontak, dia mengambil saputangan dari saku celana, menyeka keringat di wajah dan dibalik kerah bajunya.

Anak-anak kelas dua dan tiga yang berada di kantin sekolah, melihat pemandangan itu sebagai sesuatu yang tidak biasa. Mereka bertanya-tanya tentang kepergian Pak Imam yang tampak begitu tergesa-gesa. Pada jam istirahat begini, jarang sekali ada guru yang keluar. Adakalanya beberapa orang sering datang ke kantin secara berombongan duduk mengelilingi sebuah meja. Mereka makan atau minum sembari ngobrol.

Drs Imam Hanafi adalah guru agama di sekolah menengah atas itu. Banyak siswa yang mengagumi sosok Pak Imam yang ramah dan murah senyum. Begitulah penilaian mereka. Namun ada juga beranggapan, harusnya Pak Imam tidak menjadi guru, pantasnya jadi pemain sintron atau menjadi penyanyi seperti Maher Zain.

Pernah juga salah seorang guru wanita berkata bahwa Pak Imam adalah figur seorang pria yang “elok rupa bagus tabiat”, betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan suami seperti dia.

Tetapi keadaan ini telah menyulitkan posisi Pak Imam, membuatnya serba salah karena menjadi batu sandungan untuk mendapatkan simpati dan predikat guru idola. Hari ini sikap guru agama itu lain dari hari biasanya. Tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, juga tidak tersenyum. Tiga hari berturut-turut Pak Imam tidak menampakkan wajahnya.

Pada keesokan harinya juga merupakan hari keempat Pak Imam tidak muncul di sekolah itu, tiga orang siswa kelas dua dan tiga, bergerombol, berbisik-bisik. Mereka baru saja mendapat bocoran bahwa Pak Imam kena skorsing.

Konon hal itu disebabkan Pak Imam dinilai telah bertindak tidak tegas dan tidak memberikan sanksi setimpal kepada kepada seorang siswa yang kedapatan menyimpan sebuah pisau kecil ditasnya. Padahal sesungguhnya Pak Imam sudah memberikan teguran keras agar perbuatan itu tidak terulang lagi. Menurutnya peringatan yang ia berikan sudah cukup untuk kasus yang baru pertama kali terjadi.

Namun tidak demikian yang dikehendaki Bapak Kepala Sekolah, Drs Muntahar. Nah, dari sinilah awal mula selisih paham itu. Sebenarnya, semenjak Drs Muntahar bertugas selama setahun terakhit di sekolah tersebut, memang sudah beberapa kali beda pendapat dengan Pak Imam.

Kali ini Pak Muntahar benar-benar merasa tersinggung, dengan cara-cara Pak Imam yang dinilai seakan-akan tidak mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkkan. Menurut Pak Muntahar, tindakan semacam itu secara tidak langsung telah melecehkan kewenangannya sebagai kepala sekolah. Dan itu tentu saja tidak boleh dibiarkan.

“Saya atasan di sini, semua guru, murid atau siapa pun yang berada di sekolah ini harus mematuhi setiap kebijakan yang telah saya tetapkan.”

Sebaliknya Pak Imam berpendapat, meski dirinya bukan kepala sekolah, tetapi dia senior. Atau paling tidak, dialah salah seorang guru yang terlama bertugas di sekolah itu. Bahwa dalam rentang waktu tidak kurang dari delapan tahun dia mengajar, sepertinya belum pernah ada masalah serius yang terjadi di sekolah tersebut.

Namun sesungguhnya, ada beberapa kebiasaan d sekolah itu yang kurang disetujui Pak Imam, tetapi oleh guru-guru yang lain, bahkan kepala sekolah pun beranggapan sebagai hal yang biasa. Salah satunya adalah aksi saling coret baju seragam saat kelulusan. Dalam pandangan Pak Imam aksi coret-coret baju itu tidak ada manfaatnya, justru mubazir.

Menurutnya baju-baju itu masih bisa dimanfaatkan, diberikan kepada mereka yang membutuhkan umpamanya. Yang lainnya adalah tradisi yang dilakukan oleh para siswa senior saat masa orientasi siswa (MOS). Pak Imam berkeinginan agar panitia MOS tidak bergaya seperti tuan besar, atau bertingkah laku layaknya jagoan yang adakalanya overacting.

Tingkah laku semacam itu tanpa kita sadari telah memberi contoh kurang baik. Menanamkan perilaku tidak mendidik kepada generasi mendatang. Tanpa disengaja seolah-olah menolerir sikap arogan yang dengan sendirinya cenderung menyukai kekerasan.


Kini tiga bulan telah berlalu dan kemarau panjang pun telah terlewatkan. Dalam masa peralihan cuaca itu, banyak hal telah berubah. Di lingkungan sekolah, juga pada diri Imam Hanafi. Guru agama yang kini menghilang. Curah hujan yang mengguyur bumi, mengalirkan sampah dan kotoran ke dalam got dan sungai.

Seiring dengan itu, tergerus pula jejak-jejak kaki Imam Hanafi, yang pernah beberapa tahun mengabdi di sekolah itu. Sekian tahun pula dia mencoba menerapkan nilai-nilai kebaikan kepada semua orang, terutama kepada anak didiknya.

Dengan segenap kemampuan dia berupaya agar setiap pribadi bersedia menjalani kehidupan ini dengan ikhlas. Berusaha penuh keyakinan untuk selalu melangkah di jalan yang lurus, jalan keselamatan duniawi dan ukhrawi. Dan selalu berharap semoga di bumi persada ini selalu ada orang-orang yang dengan sukarela meneladani perilaku para Rasul pilihan.

Waktu berjalan begitu cepat, hari-hari pun berlalu tanpa terasa. Para guru dn murid-murid tampaknya sedikit demi sedikit mencoba menghapus bayangan pribadi Imam Hanafi dari kenangan mereka. Meski sesungguhnya, banyak peristiwa meresahkan telah terjadi akhir-akhiir ini. Pernah dua orang wali murid mendatangi sekolah itu dengan segenap kemarahan. Kedua wali murid itu memprotes keras tindakan salah seorang guru yang telah menghukum dua orang siswa sampai memar.

Dan hari ini, tiba-tiba saja guru agama itu muncul. Kunjungannya yang hanya beberapa saat itu, tak ubahnya bagaikan malaikat yangturun dari langit. Dia tampil di halaman sekolah dengan setelan kemeja batik berlengan panjang. Keluar dari mobil Xenia berwarna silver, langsung menebar senyum seperti biasa.

Tetapi wajah itu kini memancarkan aura yang lain. Terkesan lebih segar, dan yang pasti lebih berwibawa. Saat itu jam istirahat. Tanpa aba-aba mantan murid-muridnya langsung merubungi, menyalami, dan bersorak sebagai luapan kegembiraan. “Mobil baru ya, Pak,” sapa mereka. “Ah, ini mobil teman, bapak hanya pinjam,” sahut Pak Imam merendah.

Guru-guru pun keluar seorang demi seorang menyapa dan menyalaminya. Yang terakhir adalah kepala sekolah, meski terlihat sedikit kikuk. Imam Hanafi mengangkat kedua tangannya: “Anak-anak, tenang, saya hanya ingin berpamitan,” katanya sembari tersenyum. “Lho, mau berpamitan ke mana Pak?” tanya para siswa serempak.

“Saya mendapat pekerjaan di satu perusahaan swasta,” ucap Pak imam dengan suara datar. “Yaaa...,” teriak para siswa pertanda kekecewaan yang mendalam. Lagi-lagi Imam Hanafi tersenyum. Kemudian untuk kedua kalinya menyalami para guru yang sedari tadi hanya berdiam diri, juga kepala sekolah. Mereka berdua berpelukan. Dari wajah kedua orang itu terbersat keharuan yang tak terucapkan.

Dan para siswa pun spontan berteriak: “Hiduuup, Pak Imam.” (*)

Gang Bunglon

Gang Bunglon

Jalan selebar tiga setengah meter itu memiliki nama: Jalan Rawa. Penduduk setempat menyebutnya Gang Rawa. Jalan itu memiliki sebuah ujung berupa tembok yang tinggi yang memisahkan sebuah perumahan elite dan kampung Gang Rawa itu.

Gang Rawa memiliki lima anak gang, masing-masing memiliki: Rawa Ular, Rawa Katak, Rawa Kadal, Rawa Bajul,, dan Rawa Bunglon. Nah, seorang kawan yang saya kunjungi tinggal di anak gang paling ujung, Gang Rawa Bunglon atau Jalan Rawa Bunglon. Di sana ia menyewa sebuah kamar yang menyempil di loteng rumah induk.

“Di sini memang agak sepi dan berantakan, tapi sewanya murah, itu yang penting,” ujar kawan saya bangga, seolah-olah beroleh sewa kamar dengan harga murah akan menjadikannya seorang jutawan. Sebuah kamar di atas loteng itu berhadapan langsung dengan teras sempit yang tak beratap, yang digunakan untuk menjemur pakaian, pakaian si bapak kos, juga pakaian kawan saya, si penyewa kamar. Disana ada empat kawat jemuran yang silang menyilang seperti rambatan pohon markisa. Sarung, celana, dan baju kumal tersampir seperti gembel yang digantung. Sebuah celana dalam kering dan buruk tergeletak tak berdaya di lantai yang juga buruk.

Aku beranggapan bahwa pemandangan di sekitar kamar dan jemuran itu akan membuat seseorang cepat mati. Kamar di loteng itu cukup sempit, hanya cukup untuk meletakkan dipan kecil serta sebuah lemari dan rak buku. Di belakang pintu, pakaian menggelantung dan menjadi sarang nyamuk.

Di depan kamar, di samping pintu, sebuah tempat sampah terguling oleh tingkah kucing kelaparan, tulang ikan, tulang ayam, berceceran di antara kertas minyak lecek bekas bungkus nasi. Secinta apa pun seseorang pada kebersihan, ia akan mengalami dilemma besar kalau tinggil di kamar sempit dan rumit seperti kamar yang disewa kawan saya itu. Bagaimanapun, murah memang lebih dekat dengan murahan.

Menurut kawan saya, bapak kosnya adalah seorang duda. Ia bercerai dengan istrinya dan anaknya yang cuma semata wayang ikut istrinya. Bapak kosnya itu tidak punya pekerjaan yang jelas. Tapi, setiap pagi, ia pergi ke warung Padang atau sesekali ke warung lalapan atau lain kali ke warung gudeg yang berbaris di ujung Gang Rawa, dekat jalan raya.

Setiap pagi bapak kosnya itu membungkus nasi tiga porsi sekaligus untuk jatah makan sehari-semalam. Ia jarang keluar rumah dan tak pernah memasak karena di rumahnya yang kecil itu memang tak ada kompor.

Kawan saya tahu bahwa bapak kosnya tak punya kompor karena untuk naik ke kamarnya di atas loteng itu, kawan saya melewati dapur rumah itu dan menaiki tangga curam yang ada di sana. Di dapur itu tak ada apa pun kecuali meja tua yang teronggok, yang di atasnya berselengkatan wadah-wadah bumbu yang berdebu serta dua buah ember untuk mencuci baju. Di sebelah meja itu ada sebuah kamar mandi yang pintunya selalu terbuka seperti mulut yang memble. Sebuah panic dan sebuah wajan tergantung di dinding dan tak pernah berubah posisi, sepanjang hari, selama kawan saya menyewa kamar di loteng rumah itu.

“Kecuali kalau bapak kosku yang ajaib itu meletakkan kompornya di ruang tamu atau di dalam kamar tidur,” celetuk kawan saya sambil terkikik.

“Jangan berkata sembarangan, nanti bapak kosmu dengar.” Saya mengingatkan. Dan ia malah menyebut bahwa bapak kosnya sedikit tuli. Hampir setiap petang kawan saya memutar musik dangdut koplo keras-keras dan bapak kosnya tak pernah menegur.

“Bapak kosku memang tak pernah naik ke loteng kecuali saat menjemur pakaian dan mengangkat jemurannya, itu pun seminggu sekali,” imbuhnya.

Dan kawan saya pun terus saja mengoceh, bahwa sebenarnya ia menelepon saya supaya datang ke kamar lotengnya bukan untuk membicarakan lelaki tuli yang tak punya kompor di rumahnya, melainkan menunjukkan sebuah cincin batu akik berwarna hijau tua.

Konon, cincin itu benda berharga peninggalan kakeknya. Dalam batu berwarna hijau itu konon ada jimat yang bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan. Dari cara kawan saya memaparkan dan tersenyum pada saya, saya tahu ke mana pembicaraan itu dibawanya.

“Nah, ceritanya aku sedang butuh duit, butuh sekali, mendesak. Makanya aku mau minta tolong sama kamu, pinjami aku duit, tak banyak, lima juta saja, cincin itu yang jadi jaminannya,” ujarnya malu-malu. Dan tebakan saya tidak meleset, setengah persen pun.

Saya tak tahu harus menjawab apa. Saldo dalam rekening saya mungkin tak sampai lima juta. Dua koran yang memuat tulisan saya sebulan terakhir ini, belum mentransfer honor yang menjadi hak saya bukan tipe orang tegaan, akhirnya saya bilang, “Wah bagaimana, ya.... kalau lima juta saya tidak ada.”

Kawan saya memicingkan matanya sebagai ungkapan tak percaya, atau mungkin untuk mngelabuhi rasa malunya. “Kamu kan penyair. Kudengar puisimu sering terbit di Koran Minggu, pasti honormu cukup lumayan. Belum lagi buku barumu yang rilis bulan lalu itu.”

Ya Tuhan, saya hanya tersenyum. Kalau kawan saya ini tahu seperti apa kondisi keuangan para penyair, khususnya penyair pinggiran macam saya, tentu ia akan patah hati.

“Aku minta maaf, aku benar-benar tidak ada kalau lima juta,” saya meyakinkannya sambil memandangi cincin batu akik berwarna hijau tua yang terus-terusan ia timang seperti butiran dirham. Sejenak terpikir oleh saya untuk bertanya kepadanya, kalau cincin itu memang bisa mendatangkan rezeki dan keberuntungan kenapa ia harus repot-repot cari pinjaman uang pada seorang penyair yang tak tentu arah macam saya.

Saya benar-benar hampir melontarkan pertanyaan itu ketika tiba-tiba kawan saya menyambar, “Tidak lima juta tidak apa-apalah. . . . empat juta atau tiga juta juga boleh.” Pernyataannya membuat saya kembali berpikir, bahwa saya juga butuh uang untuk makan sehari-hari, beli pulsa, bensin, dan membayar uang kontrakan. Apakah saya benar-benar rela meminjami kawan saya ini uang? Tapi, sungguh, kawan saya ini sangat pandai memasang tampang memelas hingga siapa pun yang memandangnya akan langsung menyayanginya. Kawan saya ini, saya mengenalnya hampir setahun lalu di sebuah perkumpulan Seniman Pinggir.

Wajahnya sepolos kain kafan. Ia memang tak pandai membuat puisi atau menulis cerpen, tapi ia ahli bermain teater. Ia pernah bilang pada saya bahwa ia bisa memerankan banyak peran secakap bunglon mengubah warna kulitnya.

Kami cepat akrab karena tampaknya kawan saya ini pandai mengakrabi siapa pun. Ia juga mengaku menggemari puisi-puisi saya. Ia kerap membaca puisi-puisi saya di Koran Minggu, katanya puisi-puisi saya hidup dan memiliki nyawa.

Selain kondisinya yang tampak menyedihkan, mengingat ia juga penggemar saya, akhirnya dengan napas naik turun, saya pun berkata, “Bagaimana kalau dua juta.”

Kawan saya pura-pura kecewa, padahal matanya sudah tersenyum lebar. Dengan nada murung yang penuh kepalsuan ia menyerahkan cincin batu akik berwarna hijau tua itu sambil berujar, “Ya sudahlah, dua juta tidak apa-apa.”

“Aku transfer saja, ya?” kata saya sedikit berat, entah kenapa. Kawan saya mengangguk lantas mendektekan nomor rekeningnya.

“Dua bulan lagi aku kembalikan, tolong jaga cincin itu baik-baik, itu satu-satunya barang berharga peninggalan kakekku.” Saya mengiyakan semua omong kosongnya dan membawa cincin itu pulang. Satu bulan kemudian, ketika saya iseng-iseng mengunjungi kamar sewanya, bapak kosnya bilang bahwa kamar itu telah disewa orang lain.

“Bocah sinting itu kabur dan berhutang uang sewa satu setengah bulan pada saya,” ujar bapak kosnya dengan geram. Saya segera sadar bahwa uang dua juta yang pernah saya transfer ke rekeningnya juga turut kabur bersamanya dan tak bakal tahu jalan pulang.

“Kurang ajar, dasar bunglon,” tiba-tiba saya memaki, makian yang saya tujukan pada bunglon yang pandai bermain teater itu. “Dia juga pinjam uang saya dua juta....,” lanjut saya. Saya bukan tipe orang yang suka memaki dan membuka aib orang lain, termasuk menceritakan hutang orang-orang kepada saya, tapi uang dua juta yang melayang begitu saja begitu saja karena kebodohan diri sendiri bisa membuat penyair mana pun kalap.

“Bocah itu juga kabur setelah mengambil cincin batu akik hijau tua milik saya,” imbuh bapak kos-nya. Saya sedikit memicing mendengar lelaki paro baya itu menyebut-nyebut cincin batu akik hijau tua.

“Biarpun tampak seperti batu akik tua biasa, tapi cincin itu cincin emas, dua puluh lima gram. Itu harta simpanan saya,” tambahnya pula. “Saya yakin bocah itu yang mengambilnya. Hari itu ia masuk ke kamar saya untuk meminjam setrikaan, dan malam harinya, ketika saya naik ke kamar loteng untuk mengambil setrikaan, kamar itu sudah kosong. Esok harinya saya baru sadar kalau cincin itu sudah lenyap dari tempatnya.”

Saya tak menimpali gerutuannya, tapi saya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Tangan saya mengepal erat-erat. Dalam salah satu saku celana saya, sebuah cincin batu akik berwarna hijau tua seperti berlompatan, ingin keluar dari tempatnya.