Kamis, 06 Desember 2012

Berhenti Merawat Luka

Sepenggal Kisah dari Novel Sepatu Dahlan


Oleh : Khrisna Pabhicara

[1] Musim kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tapi, mimpi sepasang sepatu yang terus berkelebat di kepala di sepanjang jalan. Andai kata aku punya sepatu, telapak kakiku tidak akan melepuh atau membengkak. Sebenarnya aku sudah mencoba mencari uang, sebanyak mungkin agar bisa beli sepatu. Sejak Kelas 3 SR, aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan di sela-sela jadwal rutin mengembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku–sepatu dan sepedda. Namun, sering kali kuserahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan mengisi perut lebih mendesk ketimbang mimpi sederhanaku itu. Setiap menyerahkan hasil nguli nyeset, biasanya mata Ibu berkaca-kaca, seperti hendak mengatakan “Tidak seharusnya kamu bekerja seperti ini. NaK!” atau mungkin “Terima kasih, Nak.”

Senyum Ibu adalah ungkap terima kasih yang tak terbandingkan. Hanya sekilas, tapi rasa haru selalu memenuhi dada. Setiap melihat mata Ibu berkaca-kaca, letih dan gatal-gatal di sekujur tubuh sirna begitu saja. Seperti biasa, Ibu akan membelakangiku, tentu setelah menepuk-nepuk pundakku sambil memberikan senyumnya yang paling indah. Sungguh, tak ada kegembiraan melebihi senyum Ibu.

[2] Kebon Dalem, kampung kelahiranku, sebuah kampung kecil dengan enamm buah rumah, tepatnya gubuk, yang letaknya saling berjauhan. Jika berjalan seratus atau dua ratus langkah ke arah timur, Sungai Kanal segera terlihat. Di sepanjang sungai itu banyak pepohonan yang besar-besar, seperti trembesi, angsana, jawi, dan jati. Di sebelah barat dan selatan hanya ada tebu. Ya, ladang-ladang tebu terhampar sejauh mata memandang. Di sanalah, ladang-ladang tebu itu, aku mengais rezeki.

Tuhan memberkati Kebon Dalem dengan tanah yang gembur dan subur. Padi, palawija, pisang, ketela, atau umbi-umbian tumbuh dan berbuah dengan baik. Tapi, warga Kebon Dalem miskin. Tidak ada penduduk asli kampung ini yang kaya. Tanah yang gembur dan subur itu bukan milik mereka. Ladang-ladang itu sebagian milik “tuan tanah”–orang-orang pendatang berduit yang punya tanah ber-hektare-hektare–dansebagian lainnnya milik negara.

Nyaris seluruh lelaki dewasa di Kebon Dalem bekerja sebagia buruh: menggarap tanah bengkok milik aparat desa, buruh harian di perkebunan tebu, atau kuli nyeset di ladang tebu. Ibu-ibu juga aktif membantu suami-suami mereka dengan membatik. Anak-anak pun takkalah giat. Ada yang menggembala domba, sapi, atau kerbau. Ada juga yang nguli ngangkut di Pasar Takeran atau kuli harian di ladang tebu.

Meskipun miskin, anak-anak–atau remaja seusiaku–semuanya sekolah. Bagi penduduk Kebon Dalem, kemiskinan bukanlah halangan untuk menuntut ilmu.

[3] Rumahku, seperti rumah lainnya di kampunng ini, berlantai tanah. Jika musim hujan tiba, akan lembab dan basah. Setiap kemarau datang, pasti panas dan berdebu. Di sana, di lantai tanah yang lembab atau berdebu itu, aku dan adikku menggelar tikar setiap malam. Ajaibnya, kami selalu bisa mendengkur dengan nikmat.

Dinding rumahku terbuat dari potongan-potongan bata merah yang dikumpulkan Bapak satu per satu dari sisa-sisa bangunan yang tak digunakan oleh pemiliknya. Tak ada kursi, meja atau perabotan lain yang kami punya. Kecuali, sebuah kayu tua dipojok kiri dapur. Bukan untuk menyimpan pakaian, melainkan untuk menaruh barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, dan perabot dapur lainnya. Lemari itu sudah tua, lebih tua dari aku atau kakak keduaku, Sofwati.

Hanya dua kamar. Satu tempat Bapak dan Ibu. Sedangkan kamar yang satu lagi kamar untuk kakak-kakakku, Atun dan Sofwati. Namun, semenjak mereka tidak tinggal di rumah ini lagi—Atun tugas mengajar dan Sofwati kuliah, keduanya di Madiun—kamar itu menjadi tempat menyimpan peralatan membatik, seperti kain mori, gawangan, canting, anglo, dingklik, dan wajan malam. Tak ada ranjang atau kasur di dalam kedua kamar itu. Pakaian yang tak seberapa banyak cukup dicantolkan di paku, selesai. Jika ada yang datang bertamu, tikar pandang langsung digelar di ruang tamu—jika ruang lapang tempatku tidur itu layak disebut ruang tamu—dan di sanalah tamu itu dijamu. Kalau tamu itu terpaksa menginap, biasanya aku dan Zain yang mengalah, menyingkir ke langgar dan tidur di sana.

Meski begitu, kami tak pernah mengeluh atau merasa menderita.

[4] Iskan. Begitu nama Bapak. Tak ada sekulum senyum atau kata-kata lembut yang saban hari bisa kudengar dari mulut Bapak. Matanya yang bening dan tajam seolah perintah-perintah yang tak boleh dibantah, seperti “Sini!” atau “Cepat!” dan tak seorang pun dari anak-anaknya yang berani menyanggah perintah itu. Termasuk aku.

Bapak sangat pendiam. Sampai-sampai aku bisa menghitung berapa banyak kata yang diucapkan dalam satu hari. Tapi Bapak sangat ulet dan tangkas bekerja. Tangannya tak pernah diam. Ada saja yang dikerjakan: memangkas pohon beluntas, meratakan lantai tanah rumah, membuang pelepah pisang yag daunnya mulai menguning. Tak pernah terdengar Bapak Mengeluh walau keringat menguyupi tubuhnya. Uban basah mengkilap menjadi pemandangan tak menjemukan. Tak ada artinya tubuh ringkih atau kulit keriput, Bapak terus dan terus bekerja.

Lisna, Ibuku, tak kalah sibuknya. Dia membatik di rumah meski dengan upah kecil, sepuluh rupiah, untuk satu kain yang rampung dibatik. Upah itu biasanya dibelikan dibelikan tepung ketela oleh Ibu. Begitulah, setiap hari Ibu bergelut dengan canting dan kain, tak peduli siang atau malam. Mbatik seolah hiburan paling menarik untuk melepaskan penat atau melupakan persoalan hidup. Dari mbatik itu, barangkali, Ibu belajar sabar.

Dalam belitan kemiskinan, Ibu tak pernah membantah, apalagi melawan, apa saja yang dilakukan atau diinginkan oleh Bapak. Tak ada kalimat-kalimat menggugat seperti “Mengapa?” atau “Bagaimana dengan…?”

Ibu selalu mampu membuat suasanarumah tetap bernyawa. Sepasang lengan Ibu selalu hangat, baik lewat pelukan ataupun usapan, dan kami, anak-anaknya, selalu merindukan lengan hangat itu. Ibulah yang raji mengingatkan aku untuk sarapan setiap pagi atau mengelap keringat di kening adikku, Zain. Ibu juga yang tak pernah letih meminta kami agar tekun menuntut ilmu dan tetap sabar. Terutama, saat aku dan adikku mulai merajuk dan banyak permintaan.

[5] Pagi ini tak ada nasi tiwul di dapur, padahal kemarin Ibu sudah belanja agak banyak. O, ya, walau hanya nsi tiwul, makanan itu selalu kurindukan. Hidup seadanya membuat aku tak pernah membayangkan ikan-ikan segar atau opoor ayam tersaji di atas meja makan. Di sini, tak ada meja makan, jadi untuk apa aku membayang-bayangkan sesuatu yang tak mungkin ada itu, bukan? Sebab tak ada nasi tiwul di dapur, aku bergegas ke kamar Ibu. Aku curiga, belum pernah Ibu bangun setelat ini. Barangkali karena letih semalaman duduk mencanting.

Tapi, kamar Ibu kosong, tak ada siapa-siapa di situ.

Lamat-lamat terdengar seseorang yang sedang batuk-batuk, kemudian diikuti dengan lenguhan kesakitan. Itu suara Ibu. Tapi, di mana? Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Ibuku berjongkok sambil memegangi batang pisan. Bahunya erguncang-guncang menahan batuk.

Ibu menoleh. “Dahlan, tolong ambilkan Ibu segelas air, Nak!”

Tanpa menunggu perintah itu diulangi, aku berlari kembali ke dapur, mengambil ceret berisi air matang di atas tungku dan sebuah gelas. Bagai terbang saja rasanya karena aku takut terjadi sesuatu pada Ibu. Telapak kaki seolah tak menapak di tanah lagi ketika melewati pintu dan mendapati Ibu sudah terjengkang. Aku terpekik melemparkan ceret dan gelas di tangan, berlari sekencang mungkin dan berhenti menjeritsetelah merasakan kengerian mencekam seketika. Dengan kedua tangan, aku mengguncang-guncangkan tubuh Ibu. Ibu tak bergerak. Dengan panik, aku meraba pipi Ibudan berdoa semoga tak terjadi apa-apa, Kemudian menggigil ketika memeluk tubuh Ibuku yang terasa dingin, sangat dingin. Selama beberapa detik, aku tidak bergerak. Aku hanya mengamati Ibu dengan seksama, memeriksa lehernya dan mendapati masih ada denyut nadi di bawah kulit lehernya yang dingin. Aku cemas memikirkan tindakan apa yang seharusnya kulakukan. Lalu mata Ibu mengerjap, beberapa kali berusaha mengangkat kepala dann terbatuk.

“Ibu kenapa? Bangun, Bu….”

Ibu pingsan lagi. Tak bergerak. Dan…. darah! Ada sisa-sisa darah merah kehitam-hitaman di ujung bibir Ibuku.

Aku menjerit ketakutan, pandanganku mengabur.

[6] Ketika tersadar, tubuhku terbaring di atas sehelai tikar pandan. Aku mencoba bangkit, tapi persendianku masih terasa lemas. Ada beberapa menit kupejamkan mata ketika gumam-gumam lirih memasuki telinga. Kudapati wajah kurus berkulit hitam sedang memandangiku: wajah yang tampak lebih tua daripada yang pernah kulihat selama ini, wajah yang seketika dipenuhi kerutan.

”Ibu, Pak….”

Bapak menarik napas. “Syukurlah kamu sudah siuman.”

”Ibu, Pak….”

”Sudahlah, tenangkan dirimu dulu,” ujar Bapak sambil mengelus rambutku.

”Ibu ndak apa-apa….”

Aku mengangkat kepala dan memandangai orang-orang yang tampak panik. Ada dua orang perempuan berdiri di ambang pintu kamar, entah berapa orang yang sedang di dalam kamar karena pandanganku terhalang, dan Zain yang terus berurai air mataduduk di samping lemari kayu tua.

Pada saat itu, masuklah Mandor Komar dan istrinya.

”Mas, ndak dibawa ke rumah sakit?” tanya Mandor Komar kepada bapakku.

Bapak tergeragap, seperti orang linglung yang tiba-tiba dikejutkan. “Numpak opo?”

”Pakai sepeda saya saja.”

”Panggil dokter ssaja….” usul seseorang dari dalam kamar.

”Iya, mosok naik sepeda ke Madiun….” sahut yang lainnya.

Mandor Komar mengernyit, “Ya, sudah. Saya cari dokter dulu.”

tiba-tiba kepalaku pening. Aku merasa bahwa masih ada kejadian lain yang lebih mengejutkan daripada peristiwa pagi ini. Orang-orang kampung mendadak sibuk mengangkat tubuh Ibu keluar kamar, terus melewatiku, dan akhirnya keluar rumah. Sekilas aku lihat perut Ibu lebih besar dari kemarin atau hari-harisebelum kemarin. Seperti perut yang perempuan yang sedang hamil tua. Aku ingin berdiri menyaksikan apa yang akan terjadi berikutnya, tapi lututku gemetaran. Rasanya sendi-sendiku telah copot satu demi satu, hingga aku kehilangan daya untuk berdiri.

Bapak yang biasa bergerak lincah dan cekatan, tampak lamban dan mondar-mandir tidak karuan di dalam rumah.

”Ibu kenapa, Pak?” tanyaku.

Bapak tidak menjawab, hanya menatapku lekat-lekat.

”Ibu ndak apa-apa, kan?” tanyaku lagi.

”Berdoa saja, Le!” kata Bapak berusaha menenangkanku meskipun dia sendiri terlihat cemas dan kebingungan.

Beberapa saat kemudian, Mandor Komar masuk lagi.

”Mas, kelamaan nunggu dokar di sini. Mending pake sepeda dulu ke Bukur, nanti di sana nunggu dokar datang.”

Suara Mandor Komar, yang sebelumnya selalu terdengar “mengerikan,” sekarang terdengar makin menakutkan. Bapak bergegas keluar rumah, mengikuti Mandor Komar. Kasak-kusuk itu kini berpindah ke luar rumah, sebelum akhirnya keheningan terasa mengerikan. Sepertinya Ibu sudah dibawa pergi dan aku tidak tahu dibawa kemana.

[7] Zain tetap duduk mencangkung di samping lemari kayu tua. Jangankan dia yang masih delapan tahun, aku saja bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Yang kutahu, Ibu muntah darah. Dan sekarang, tinggal kami berdua.

Hawa dingin mulai merayap di kulit wajahku. Aku mulai lelah, lelah berpikir. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Dari jendela, tampak matahari mulai tinggi. Sendi-sendi di tubuhku juga masih terasa lunglai, seperti enggan diperintah walau sebatas duduk atau berjalan mendekati saudaraku yang meringkuk menahan isakitu.

Zein menatapkan dengan pandangan kosong. “Mas, Ibu ke mana?”

”Ke rumah sakit….”

”Ibu sakit?”

Aku mengangguk, merapatkan bibir dan memejamkan mata, tapi bayangan Ibu dan tangis Zain memaksaku tetap terjaga. Aku bangkit dan mengambil buku catatan di atas lemari kayu tua, duduk memeluk lutut sambil bersandar di dinding rumah meletakkan buku di atas paha, dan kutulis:

Inilah hari dengan kesedihan tak berkesudahan. Ibu jatuh sakit. Bapak tidak ada di rumah, dan aku tak berdaya. Aku tak bisa memejamkan mata biar terlupakan, sebentar saja, kesedihan yang tak kuharapkan ini, tapi mataku tetap terjaga. Aku menghibur Zain, membujuknya agarberhenti menangis, tapi air matanya bagai bah yang terus menerus mengalir.

Kutaruh buku catatan itu di atas tikar, dan kucoba membaringkan badan. Ya biasanya aku lebih tenang setelah menuliskan apa saja yang kurasakan. Bagiku, menulis tak ada bedanya dengan obat, menyembuhkan luka akibat sayatan kepedihan. Sekuat tenaga kupaksa mata untuk terpejam, tapi isak Zain mengentak-entak gendang telinga, seolah elegi yang dilantunkan dengan nada paling miris. Sungguh, aku butuh tidur, sejek pun bolehlah.

Tetapi, aku tahu tidak akan bisa tertidur dengan mudah. (*)

Sepatu Dahlan, 50 Persen Fakta, 50 Persen Fiksi


Novel Sepatu Dahlan yang ditulis Khrisna Pabhicara akan segera diterbitkan Noura Books (grup penerbit buku buku Mizan) pertengahan Mei 2012. Novel tersebut merupakan satu dari trilogi yang terinspirasi dari kehidupan Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan pemimpin media Jawa Pos.

Tiga seri novel tersebut terangkum dalam trilogi novel Sepatu Dahlan. Novel kedua direncanakan berjudul Koran Dahlan yang akan terbit pada Juli 2012. Terakhir, novel Kursi Dahlan direncanakan terbit pada September 2012 ”Bukan biografi, tapi novel sebagai karya sastra, karena isinya 50 persen fakta dan 50 persen fiksi,” ujar Khrisna Pabichara, Kamis (3/5) lalu.

Judul novel Sepatu Dahlan, menurut Khrisna, terinspirasi dari masa remaja Dahlan Iskan. Bermula penulis mengajukan semacam kerangka penelitian untuk bahan novel hingga disetujui oleh Noura Books. Akan tetapi, alur, penokohan, dan latar murni dari pengarang, tanpa intervensi dari penerbit maupun narasumber. “Kesulitan yang dialami saat mewawancarai narasumbernya (Dahlan Iskan, red) sakit di tempat yang berbeda,” terangnya.

Diketahui, Khrisna Pabhicara dikenal sebagai motivator, ppenulis dan editor buku nonfiksi dan fiksi. Pria kelahiran Borongammatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan, 10 November 1975 ini tergolong aktif di dunia pendidikan dan perbukuan. Khrisna mengakrabi sastra seperti kekasih dan telah melahirkan 14 karya, termasuk trilogi novel terbarunya yang akan terbit, yakni Sepatu Dahlan, Koran Dahlan, dan Kursi Dahlan.

Sebelumnya, pada 2010 ia menerbitkan kumpulan cerita dengan judul Mengawini Ibu. Saat itu Khrisna Pabhicara terpilih menjadi juru bicara Pak Raden dalam mendapatkan kembali hak cipta si Unyil yang kabarnya difasilitasi oleh Dahlan Iskan. (Azhari/berbagai sumber)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 6 Mei 2012

Senin, 26 November 2012

Pada Bulan Merah, Akankah Kau Pulang?



Cerpen: Fakhrunnas M. A. Jabbar

Pelataran kecil di tepi laut itu kian rapuh dan ringkih. Ombak kecil masih berlarian. Saling mendahului dan berpacu. Teritip bertumbuh di tiap-tiap tiang kayu. Saling berhimpitan. Bak ukiran yang terpahat sendiri. Lengkung-lengkung berwarna hitam dan abu-abu di tiang-tiang itu membentuk mosaik yang begitu elok.

Di sela-sela mosaik itu selalu kulihat kilau kenangan bermunculan. Sekelebat wajah Zaini menyembul dengan senyum terkulum. Lelaki gagah dan berwibawa itu tak mudah lenyap dari pikiran dan perasaanku. Aku tiba-tiba jadi bergairah dan asyik-maksyuk tenggelam ke masa-masa silam itu. Cahaya lampu-lampu kapal di kawasan Pelabuhan Sri Bintan Pura bagai mengepung kesunyian. Memang, aku kian suka bersunyi-sunyi belakangan ini.

Meski boleh jadi aku datang bersendiri atau ditemani Zami, anakku satu-satunya --berusia sepuluh tahun-- buah pernikahanku dengan almarhum Usman. Seketika kutatap langit terbentang kala senja baru berlalu, warnanya kemerah-merahan. Biasanya, sebentar lagi bulan merah akan menggelantung di langit tinggi Tanjung Pinang. Sejak dulu, tak kutahu pasti kenapa bulan itu bisa berubah jadi merah saga.

Suasana begutlah pernah kulewati bersama Zaini. Lelaki berkulit agak gelap dengan kumis lebat yang pernah berikrar akan memperistri diriku. Aku selalu berbisik bangga pada lelaki itu bahwa dirinya adalah jelmmaan wira Melayu, Hang Jebat. Meski kemudian kutahu semangat kelelakiannya begitu jauh dari sosok sang wira.

"Pada bulan merah, aku pasti pulang!" hanya kalimat itu juga yang selalu terngiang di gendang telingaku. Kalimat itu juga yang diucapkan Zaini saat meninggalkan tanah Kawal yang merah terakhir kali.Butiran-butiran bauksit yang memerah ikut bersaksi malam itu. Zaini di usia belia --masa itu-- harus meninggalkanku. Ia hendak menimba ilmu di negeri Jiran Tanah Semenanjung Malaysia yang letaknya hanya berseberangan pulau saja.

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Amboi, Zaini begitu melekat dijiwaku. Padahal, selama dua puluh tahun itu, irama hidupku silih berganti. Aku sempat pula menikah dengan Usman atas paksaan Ayah dan Emak. Bahkan, hubungan pernikahan itu telah membuahkan Zamzami --orang-orang yang memanggilnya Zami--. Perkawinanku dengan Usman ditakdirkan tak berkekalan. Di usia Zami genap lima tahun, Usman mengalami kecelakaan feri. Ia tenggelam bersama puluhan penumpang lain di perairan antara Batam dan Bintan.

Meski hubungan cinta-kasihku dengan Zaini ditentang Ayah dan Emak --keduanya sudah almarhum dan almarhumah-- tapi kebengalan kami tetap saja tak mengapikkan kemarahan orang tua masing-masing. Kian hari, rasa cinta kami menghujam di lubuk hati yang terdalam. Sampai-sampai Zaini selalu mendendangkan pantun Melayu yang hingga kini tak akan pernah kulupa:

"Buah kelemak buah bidara
Sayang selasih diluruhkan
Buanglah emak buanglah saudara
Bila kekasih hati diturutkan


Biasanya bila Zaini sudah berpantun begitu, kami pasti tertawa bersama. Serasa diri kami bagaikan sepasang burung merpati yang sedang diamuk asmara. Sikap keras hati kami pula yang menyebabkan kisah cinta kami jadi buah mulut orang sekampung termasuk di sekolah kami.

Banyak hal yang membuat percintaan kami berkekalan di masa itu. Kami sama-sama menyukai sejarah. Titisan darah Melayu yang mengalir dalam nadi-nadi kami benar-benar menjadikan kami bagaikan Sultan dan Tuan Puteri yang bertahta di singgasana istana. Konon, diriku ini masih berkaitkelindan dan hubungan darah dengan pujangga Raja Ali Haji yang menghasilkan mahakarya Gurindam 12.

"Pada bulan merah, aku pasti pulang!" kalimat ringkas Zaini itu selalu berulang-ulang merajut kesunyian diriku. Bila aku sudah larut dalam lamunan yang ditingkahi debur ombak keputihan, tak kusadari aku bisa menghabiskan waktu setengah malam. Angin laut yang dingin tak mempan mengejutkan lamunanku.

"Mak, kenapa Emak suka bersunyi-sunyi di pelantar ini?" ucap Zami membuyarkan lamunanku. Aku tersentak. Amat gugup menatap mata Zami yang penuh ingin tahu.

"Apakah Emak teringat ayah?" selidik Zami dalam bahasa tanpa basa-basi.

Aku jadii teringat cara bertutur Zaini. Aku hanya bisa berdiam diri. Lamban. Tak bermaya.

Meski sebenarnya aku hendak berterus terang kepada Zami bahwa kerinduanku hanya semata kepada Zaini, lelaki yang tak pernah dikenalinya. Aku tak mungkin berterus terang pada Zami. Apa katanya bila sesungguhnya akumembayangkan seorang lelaki lain yang buukan ayah kandungnya. Tapi aku tak mungkin mengelabui hati dan perasaanku. Cinta-kasihku pada Zaini terpatri begitu dalam. Tak mungkin kulupa barang sekejap pun.

Ihwal Zaini sebenarnya bukannya tak pernah terbesut dari cerita-cerita orang sekampung yang juga merantau di Negeri Jiran itu. Tapi tak satu pun kisah-kisah itu yang bisa meyakinkan diriku. Seperti pernah dituturkan Wan Suib, sahabat karib Zaini setelah lima tahun kepergiannya.

Konon, Zaini yang menyeberang menuju Johor dengan menggunakan pompong yang mengangkut orang-orang Riau Kepulauan --masa itu-- sebagai TKI gelap, sempat disergap Polis Laut Diraja Malaysia.

Zaini bersama belasan orang yang tak begitu dikenalnya dijebloskan ke lokap. Sudah jamak jadi pembicaraan, barang siapa yang sempat masuk ke lokap itu pastilah mendapat perlakuan tak pantas.

Seperti yang dialami beberapa orang sekampung kami. Hasyim, Galib, dan Rajak yanng sempat disiksa selama ditahan di Negeri Jiran. Tahu-tahu waktu pulang terdampar di salah satu pantai Bintan yang tersuruk di ceruk-ceruk bakau. Keadaan ketiganya begitu memprihatinkan. Selain kondisi tubuh mereka yang jeging dan kumal juga senu atau hampir gila dan lupa ingatan. Memang tersebar luas di kampung itu, "pendatang haram" di Negeri Jiran biasanya diperlakukan tak manusiawi. Bahkan sampai-sampai disuntik "anjing gila."

Entah angin apa yang bertiup, Wan Suib, karib Zaini yang dulu menjadi tali-baut hubunganku dengan Zaini, bersama istrinya Zuleha, selepas Maghrib datang ke rumah. Aku terperanjat karena sudah lama sekali Suib tak bertandang.

"Ihwal apa yang awak bawa, Suib?" sambutku.

"Aku dapat kabar. Tapi boleh jadi ini kabar baik sekaligus kabar buruk," katanya. Wan Suib terbata-bata. Bagai menahan beban berat untuk berucap.

"Ihwal Zainikah?" desakku tak sabar.

Wan Suib mengangguk. Tak sabar aku mencecar dirinya. Tanganku seccara tiba-tiba mengguncang tubuh Suib. Aku betul-betul tak peduli pada Zuleha yang mendampinginya.

"Apakah Zaini sudah pulang? Di mana dia sekarang?" tanyaku tak habis-habisnya.

"Dengar dulu, Wan," sahut Wan Suib yang sejak dulu memanggil namaku Wan Zuraida. Wan Suib pun bercerita panjang lebar. Dirinya mengabarkan kepulangan Zaini beberapa hari lalu. Tapi kondisi Zaini begitu jauh berbeda. Ia pulang sudah jadi orang gila. Rambutnya kusut-masai. Ia benar-benar lupa ingatan. Tak seorang pun yang dikenalinya lagi. Benarlah kata orang bila sudah masuk lokap di Negeri Jiran itu, sudah bisa dipastikan tak akan selamat lagi.

"Sudahlah, Wan. Berdoa dan bersabar saja bagi kesembuhan Zaini," hanya kalimat itu yang bisa diucapkan orang-orang sekampung sekedar bersimpati pada diriku. Benarlah firasat burukku dulu bahwa kepergian Zaini ke negeri jiran hanya menjemput kenestapaan. Konon, kuperoleh cerita yang terpisah-pisah, Zaini tak sempat bersekolah apalagi bekerja karena ditangkap pihak polisi.

Meski hanya beberapa bulan di lokap tapi saat dirinya dilepas, kondisinya sudah senu. Hidupnya luntang-lantung di kawasan kebun sawit di Johor. Bahkan pernah pula ia terlantar di terminal bus Kuala Lumpur. Tak ada yang peduli. Hidupnya pun jadi orang usiran tanpa ada yang berbelas-hati. Tak banyak yang tahu bagaimana nasibnya selama belasan tahun lebih di rantau orang.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Hari-hariku masih selalu berharap agar Zaini kembali hidupseperti sediakala. Meski dokter jiwa memperkirakan penyakit gila Zaini sudah sangat kronis. Sulit disembuhkan. Tapi aku tak pernah menyerah. Meski kedengarannyaaku seolah-olah ikut jadi gila. Kucoba membawa Zaini ke pelantar kecil di tepi pantai yang pennuh kenangan itu. Kebetulan bulan merah bertahta persis di atas Pulau Penyengat. Kukisahkan sesukaku pada Zaini bagaimana bulan merah itu selalu jadi saksi percintaan kami. Aku bercerita lepas begitu saja bagai orang gila.

"Zaini, pada bulan merah ini, kau pulang. Masih ingatkah kau ucapkan janji itu?" ucapku tanpa berharap Zaini menyahut. Tapi selalu ada harapan dalam hatiku. Bolamata Zaini tampak menatap lama ke bulan merah itu. Meski tak kutahu apa maknanya. Zaini terbatuk beberapa kali. Ajaib. Kurasakan bolamatanya basah. Air matanya mengalir hangat yang hinggap di jemariku.

"Zaini....!! kupanggil namanya kuat-kuat. Berteriak sesukaku. Meski Zaini tetap bergeming. Terus saja kuberteriak. Berharap lelaki itu tersadar dan merajut kembali sisa kenangan yang lama berlalu.

Zainiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!" (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres,Minggu, 30 September 2012

Di Balik Jendela

Di Balik Jendela


Brak!!!

Klik!!!

Suara pintu berdentum keras di belakangku, diikuti suara anak kunci diputar. Pintu dikundi dari luar. Aku menarik napas panjang. Tanda kelegaan yang luar biasa. Beberapa detik kemudian aku masih terdiam, menunggu keadaan benar-benar aman.

Sret... sret... sret... suara sandal yang di seret menjauh dari pintu menyakinkanku bahwa bahwa pemiliknya sudah pergi. Kuayun langkah mendekati Alya, putri kecilku. Dia duduk di sudut. Meringkuk ketakutan dengan tubuh mengigil. Seingatku, setiap kali ayahnya ada di rumah, Alya lebih sering dalam posisi seperti itu. Ketakutan akan sosokk ayah ayah membuatnya menekuk tubuh seperti itu.

Kupeluktubuh kecil mungil itu. Di usianya yang hampir enam tahun, posturnya tak lebih besar dari anak berumur empat tahun. Rambutnya tipis, bahkan nyaris botak akibat sering di tarik-tarik. Tingkahh tidak seperti anak-anak sebayanya. Gadis kecilku itu mengalami keterbelakangan mental.

"Ngg... Gi? Aya.. gi?" tanyanya berulang-ulang.

"Iya, Sayang. Ayah sudah pergi."

Sesaat dia menatapku sebelum akhirnya asyik dengan boneka lusuhnya.

Kuedarkan mataku mengelilingi ruangan. Tempat ini begitu pengap dan dingin. Rasanya lebih tepat jika kukatakan lebih mirip gudang daripada rumah. Bagaimana tidak, satu-satunya sumber penerangan di malam hari hanyalah redp lampu di tengah ruangan. Di sana-sini berserakan pakaian kotor, piring bekas makanan, dan botol-botol bir bekas minuman Bayu suamiku.

Dulu, sesekali aku mencoba membereskan ruangan ini. Tetapi lama kelamaan kurasa tak ada gunanya, karena setiap kali Bayu datang, ia memorakkporandakannya lagi. Melemparkan segala macam barang kesana kemari hingga Alya ketakutan setengah mati.

Terkadang ulahnya bisa lebih parah lagi. Entah sudah berapa ribu kali dia menendang, memukul dan menjambakku. Tapi aku selalu pasrah menerima perlakuannya, selama diia tidak mengganggu Alya. Bila dia mulai menampar Alya, aku akan berteriak mencaci-maki agar dia mengalihkan perhatiannya kepadaku dan melupakan kekkesalannya pada gadis kecilkku itu.

Sudah sekitar tujuh tahun aku terkurung di sini. Sejak menikah dengannya duniaku menyempit menjadi hanya seukuran ruangan berukuran dua puluh llima meter di lantai dua ini. Saat Bayu tidak di rumah dia akan mengunci pintu dari luar. Meninggalkan aku dan Alya terpenjara di dalam.

Jendela ruangan inilah satu-satunya penghubungku dengan dunia luar. Aku senang berlama-lama di situ jika Bayu tidak sedang di rumah. Berjam-jam memandangi orang-orang tak kukenal yang lewat di depan rumah susun kami. Menyenangkan sekali melihat kehidupan dari balik jendela ini. Seperti pagi hari ini, ada seorang tukang sayur berhenti. Beberapa ibi langsunng mengerumuninya.

"Bawa sayur bayam nggak, Bang?" tanya ibu berbaju mmerah yang menggandeng anak lellakinya.

"Ada, Bu. Mau ambil berapa? Masih segar lo."

Boleh deh. Dua ikat ya, Bang. Buat anak saya, dia lagi senang-senangnya makan sayur bayam."

Sesekali mereka tertawa memdengar salah seorang dari mereka melontarkan kalimat-kalimat lucu.

Aku tersenyum sendiri, membayangkan seandainya aku ada di sana bersama mereka. Kalau saja hidup kami seperti mereka, mungkin aku pun bisa berbelanja sambil menggandeng Alya. Sayangnya, suamiku yang pemabuk dan ringan tangan itu tidak akan membiarkanku dan Alya berkeliaran. Alya yang cacat mental membuatnya malu mengakui bahwa gadis kecil itu adalah anak kandungnya. Dia sering menimpakan kesalahan padaku. "Dasar perempuan tak berguna! Pasti kau berselinguh dengan lelaki lain! Bisa-bisanya melahirkan anak cacat seperti itu," serunya.

Aku diam saja. Terbiasa dalam situasi seperti ini tidak membuatku tidak lagi banyak mengeluh. Bukannya aku tidak pernah memikirkan bagaimana caranya untuk melarikan diri dari tempat ini. Berulang kali aku sempat berpikir untuk kabur dengan berbagai cara. Namun selalu urunng kulakukan saat ingat bagaimana harus membawa kabur Alya dan menghidupinya di tengah kota sebesar Jakarta.

Jadi, aku biarkan apa saja dilakukannya padaku asalkan dia tidak menyentuh Alya. Memar dan ngilu di tulang hampir setiap hari kurasakan. Saking seringnya, aku bahkan mungkin tidak akan tahu bedanya jika ada salah satu tulangku yang patah atau tidak.

Pkiranku melayang ke peristiwa bertahun-tahun lalu. Ketika itu kami masih pacaran. Tak henti-hentinya Bayu meminta uang hasil kejaku setiap lkali aku menerima gaji. Seharusnya saat itu juga aku harus bahwa Bayu bukanlah calon suami yang baik. Tapi entah mengapa aku selalu luluh setiap kali dia memohon-mohon maaf dariku sehabis memaksaku memberikan uang, membentak atau mencaciku. Bagai debu tersapu hujan, aku pun melupakan kesalahannya.

Kini setelah hampir tujuh tahun perangainya semakin mennjadi buruk saja. Terkurung di dunia sempit membuatku lupa berharap untuk bisa keluar dari kekacauan ini. Aku si bungsu dalam keluarga yang selalu dimanjakan oleh kakak-kakakku, kini harus bisa bertahan hidup demi Alya. Tidak ada kakak dan orang tua yang bisa melindungiku seperti dulu. Mungkin mereka pun tidak tahu apakah aku hidup atau mati, karena selama aku menikah tidak pernah sekalipun aku bisa menghubungi mereka.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Kilatan pisau beradu dengan sinar matahari membuat mataku silau. Sontak aku memekik kaget ketika melihat Alya memegang pisau itu.

"Alya! Lepaskan pisau itu, Nsk!" pekikku khawatir.

Alya tertawa-tawa dengan pisau dalam genggamannya. Mungkin baginya pisau itu mainan baru yang menyenangkan. Dimainkannya pisau itu hingga membentuk kilauan sinar di dinding.

"Bu.. liat... liat..." ucapnya kegirangan.

Aku berusaha merebut pisau itu dari genggamannya.

"Jangan, Nak! Sini.. berikan pada ibu."

"Aa..! Gak au..! Alya berusaha menghindar dariku. Aku semakin jadi khawatir karenanya.

"Nak, jangan main-main dengan pisau, berbahaya!" Mendengar aku berteriak, Alya semakin keras melawan. Dia berlari sementara aku mengejarnya.

Kres!!!

Darah menetes di mana-mana. Aku terpaku. Menatap tanganku yang berlumuran darah.

"Tidaaaaaaak...!!!" teriakku.

Aku terbangun dengan napas terengah. Ternyata hanya mimpi. Aku bersyukur dalam hati.

Sinar matahari menerobos lubang di jendela. Aku menggeliat sebentar, meneliti sekeliling ruangan yang tampak sama seperti kemarin. Bayu pasti tidak pulanng semalaman, pikirku. Betepa senangnya aku jika Bayu tidak pulang hingga berhari-hari lamanya. Sebagai istri seharusnya aku mengharapkannya pulang. Tetapi hari-hari gelap yang telah kulalui selama ini membuat hatiku beku. Sejak ia memperlakukanku tanpa belas kasih, aku tak lagi mengharapkannya pulang.

Kulihat Alya masih tertidur meringkuk bagai kucing di tikar. Dengkuran halus terdengar sesekali. Aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju meja makan yang penuh dengan remah-remah roti. Hanya sedikit yang tersisa di meja itu. Tiga potong roti tawar dengan beberapa pisang. Kadang Bayu pulang membawa makanan entah dari mana.

Sambil mengunyah roti aku teringat mimpiku tadi malam. Mimpi buruk. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku bermimpi indah. Rasanya sejak tiba di tempat ini, mimpiku selalu buruk.

Kupandangi Alya lagi. Jika bukan karena Alya, mungkin aku tidak akan bisa bertahan di sini. Membuat Alya ikut hidup menderita adalah penyesalan terbesarku. Karenanya, aku berjanji dalam hati untuk selalu melindunginya.

Jangan khawatir, Nak. Ibu akan selalu menjagamu, bisikku padanya.

Khawatir langkahku akan membangunkannya, pelan-pelan aku mennuju jendela. Betapa rindunya aku melihat dunia luar. Kemarin Bayu seharian berada di rumah. Bila dia berada di rumah, aku tidak akan bisa sekedar melongok ke luar jendela. Dia akan murka hanya karena aku memiliki dunia sebesar jendela itu.

Kubuka lebar-lebar daaun jendela tersebut. Udara pagi menyeruak masuk ke dalam hidungku. Kuhirup dalam-dalam aroma dunia luar yang tidak pernah nyata aku rasakan lagi. Di bawah sana terlihat beberapa anak sedang berangkat sekkolah. Sebagian diantar oleh ibunya, sebagian lagi berkelompok dengan teman-teman sebayanya. Mereka bersanda-gurau, sesekali suara tawa mereka terdengar di telingaku.

Aku tersenyum. Sungguh berbeda kehidupan di luar sana. Meski hanya dibatasi sebuah jendela, kehidupanku di sini kontras sekali. Di balik jendela ini aku bisa sedikit merasakan kehidupan luar. Ini membuatku sejenak melupakan derita yang kurasakan. Bagaimanapun, sejak aku terpenjara di dalam rumah, tidak pernah sekkalipun aku berbincang dengan orang lain kecuali dengan Alya yang tidak mengerti betul apa yang kukatakan.

Tetangga-tetanggaku bahkan mungkin tidak akan tahu kalauada aku di dalam salah satu ruang di rumah susun ini. Tentu saja. Maklum, hampir setiap waktu pintu rumah terkunci dari luar, sementara jendela pun hanya sesekali kubuka saat Bayu tidak berada di rumah. Orang-orang di luar sana juga tidak akan tahu apa sebenarnya terjadi di balik jendela ini.

"Bu... bu..." suara Alya membuat lamunanku buyar.

"Ada apa, Nak?"

"Na.. ik.. Itut, Bu....," katanya terbata-bata ingin ikut naik di atas kursi yang kududuki. Kuangkat tubuh mungilnya ke pangkuanku. Dia lalu melonjak-lonjak kegirangan melihat beberapa anak kecil berkejar-kejaran di depan rumah susun.

Aku memandangi Alya dengan dada sesak. Ada sesal yang mendesak-desak ke luar rongga hatiku. Betapa sayangnya aku pada Alya. Rasanya, apa pun akan kulakukan untuk membahagiakannya.

Tubuh Alya tiba-tiba mengerut, membuatku terkejut.

"Kenapa, Nak?"

"Ng.. ng.." ucapnya takjelas. Mata bulat yang tadiya berbinar ceria mendadak berubah. Ketakutan jelas terpancar dari mata itu.

Aku tersadar, sekilas kulihat ke bawah, tampak Bayu sedang berjalan bersama seorang perempuan cantik. Mereka bergandengan tangan bak sepasang kekasih. Belum pernah aku melihat Bayu berjalan dengan seorang perempuan. Tapi hatiku benar-benar sudah beku. Rasanya aku tak perduli lagi apakah dia akan berselingkuh atau tidak.

Tiba-tiba Bayu menatap ke atas. Tepat pada saat aku melihatnya dari jendela. Buru-buru kututup daun jendela setelah Bayu menatap geram ke kami. Tubuh Alya semakin meringkuk dipangkuanku. Tidak hanya Alya yang ketakutan, aku pun demikian. Belum pernah sekalipun Bayu memergoki kami sedang membuka jendela di saat dia tidak ada di rumah.

Sret... sret.. sret...

Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu.

Dia datang! Dia datang!

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Sedemikian takutnya aku sampai-sampai tanganku bergetar hebat. meski telah sering mengalami perlakuan buruk darinya,, entah kenapa perasaanku mengatakan ini akan lebih buruk dari yang sudah-sudah.

Kupeluk Alya erat-erat. Kami berdua lalu meringkkuk di pojok ruang seperti yang biasa kami lakukan jikka Bayu datang.

Brak!!

Pintu terbuka lebar. Bayu masuk dengan langkah terhuyung. Dengan sebelah tangan dibantingnya lagi pintu itu kembali.

Brak!!!

Dia lalu menuju ke arahku dan Allya.

"Sudah kubilang jangan pernah membuka jendela! Berapa kali harus akku katakan, heh!" bentakknya tepat di wajahku. Bau alkohol langsung tercium.

Sudah kuduga dia pasti mabuk, pikirku.

Matanya yang merah menghujam mataku. Kurengkuh bahu Alya erat-erat. Sementara Alya menggigil ketakutan.

"Kau tahu apa akibatnya jika melanggar perintahku?!!"

Bayu mengangkat daguku tinggi-tinggi. Tangannya yang kasar dan kuat menampar wajahku berkali-kali hingga aku ajtuh tersungkur. Kepalaku terasa pusing. Samar-samar kulihat Bayu menghampiri Alya.

Aku berusaha bangkit. Saat itu hanya satu hal yang ada di dalam pikiranku. Menyelamatkan Alya.

Alyaku sayang, jangan sampai Bayu menyakkitimu! Pekikku dalam hati.

Bayu menarik rambut Alya hingga Alya menjerit kesakitan.

"Hei, ternyata kamu cantik juga ya?" gumam Bayu sambil mengamati Alya. Si pemabuk itu mulai mengucapkan kata-kata yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Krek!!!!

Disobeknya baju Alya dengan paksa hingga dadanya terlihat. Kulitnya yang putih mulus sedikit kemerahan karena tercakar. Alya semakin kencang memanggilku.

Tuhan, apa yang akan dilakukannya?

Terhuyung-huyung aku berjalan ke arah mereka. Tapi Bayu kembali menamparku hingga aku terjatuh. Kekuatannya sungguh luar biasa. Aku tahu dalam keadaaan mabuk seperti ini dia bisa melakukan apa saja. Tapi aku harus menolong Alya. Alya adalah hidupku! Alyalah kebahagiaanku!

Mataku menangkap sebuah benda berkilat di atas meja. Tanpa pikir panjang aku ambil beda itu dan berjalan terhuyung menuju Bayu.

Kress!!

Darah menetes di mana-mana. Memenuhi lantai, baju dan tanganku!

Sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela mengenai benda berkilau di tanganku. Kulihat gunting di dalam genggamanku. Penuh dengan lumuran darah, seperti dalam mimpiku. Aku seperti mengalami deja vu

__________________________________



Sumber: KARTINI

Kamis, 22 November 2012

Pengalaman Mengobati Putri Penguasa Gaib Bukit Zamzaya

Pengalaman Mengobati Putri Penguasa Gaib Bukit Zamzaya
Oleh :Agus Siswanto

Kisah ini tergolong aneh. Selain sulit di terima akal sehat, juga jarang terjadi pada manusia. Tapi pada kenyataannya, kisah ini memang benar-benar terjadi. Sebagaimana dituturkan Ki Joyo Agung kepada Misteri.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



KISAH ini terjadi pada saat aku sedang berdzikir selepas melaksanakan shalat tahajjud. Entah kenapa, malam itu udara terasa panas, sehingga untuk melanjutkan dzikir, telah membuatku harus pindah posisi dari dalam kamar keuang tamu. Sekitar settengah jam berdzikir, tiba-tiba saja ada hawa dingin yang datang menerpa. Aku mulai merasakan keanehan, sebelumnya udara terasa begitu menyengat, mengapa sekarang tiba-tiba mendadak berubah dingin?

Namun aku tak mau terganggu, meskipun tahu akan ada sosok gaib yang ingin bertemu. Tetapi hawa dingin ini terasa asing, tidak seperti hawa sahabat-sahabat gaibku yang biasa datang berkunjung. Aku langsung memejamkan mata lebih mengkhusyukkan diri dalam menyatukan pikiran dalam memuji-Nya. Ketika mata baru saja dipejamkan, kembali hawa dinginn menerpaku. 'kali ini terpaannya agak lama, seakan mengganggu tafakurku.

Aku sengaja tidak memperdulikan hawa dingin tersebut. Tapi semakin aku diamkan, hawa dingin tersebut semakin malah semakin kencang menerpa hingga membuat gorden dan beberapa perabot di ruang tamu menjadi bergoyang. Seiring terpaan hawa dingin tersebut, sayup-sayup terdengar suara halus memanggil, "Des bagus... denn bagus." Suara itu semakin jelas terdengar dan seakan memenuhi ruang tamu.

Aku yang merasa terusik dengan sedikit kesal berkata, "Tolong jangan menggangguku. Kalau memang ingin bertemu, datang secara baik-baik dan tunjukkan wujudmu yang sebenarnya.

Setelah bberkata begitu, aku pun terus melanjutkan dzikir sambil memejamkan mata. "Selamat malam, Den bagus. Saya ada di sini di depan Anda."

Seketika aku merasakan hawa dingin yang sangat menusuk dari arah depan. Dengan memantapkan hati, pelan-pelan kubuka kelopak mata. Karena tak ingin kelihatan terkejut dihadapan makhluk halus tersebut, aku pun berdo'a, "Ya Allah kuatkan dn lindungilah hamba dari makhluk yang datang ini."

"Allahu Akbar!" Teriakku dalam hati, karena kaget melihat makhluk yang ada dihadapanku. Namun, kekagetanku cepat-cepat kusembunyikan.

Terlihat sosok anggun dan cantik. Aku mengetahui makhluk itu dari jenis kuntilanak. Karena tak ingin tergoda, maka, aku langsung menanyakan maksud kedatangannya. "Ada apa malam-mlam begini berkunjung menemuiku? Kalau sekedar ingin berkenalan, sebutkan siapa Anda dan asal usul Anda. Setelah itu pergi dari sini. Saat ini waktunya tidak tepat. Aku sedang berdzikir dan lain kali kalau kalau mau bertemu beritahu dulu... ya," kataku dengan nada agak ketus.

Sejenak kulihat kuntilanak itu terdiam dan ragu-ragu untuk mengutarakan maksudnya. Dengan sorot mata tajam, dia terus menatapku dan tiba-tiba menitikkan airmatanya.

"Ya Allah, saya sudah menyakiti hatinya," kataku dalam batin. Melihat keadaan itu, aku menjadi kasihan dan barkata, "Maafkan... aku telah membuatmu bersedih. Katakanlah apa maksudmu. Aku akan mendengarkan dan kalau kamu ada keperluan, Insya Allah aku akan membanntumu."

Setelaah mendengar jawabanku, kuntilanak itu pun tersenyum.

"Namuku Gendawari, Penguasa Bukit Zamzaya. Adapun maksud datand ke sini inginn minta bantuan kepada Den Bagus. Tapi Dan sebelum kulanjutkan, boleh aku bertanya apa benar Den Bagus yang bernama Ki Joyo Agung? Kalau diizinkan boleh saya panggil Den bagus dengan nama itu?" kata Gendawari membuka percakapan.

Astaga! Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Bukit Zamzaya? Di mana tempatnya? Dan dari mana dia tahu namaku?

"Lanjutkan ceritamu dan terma kasih telah mengenal saya," jawabku seolah tidak tertarik dengan kedatangannya.

Gendawari melanjutkan ceritanya, "Sejak beberapa bulan ini, anakku sakit. Aku tak tahu apa penyakitnya. Aku sudah kemana-mana berobat, namun penyakitnya tidak kunjun sembuh. Terus aku diberitahu untuk menemui Ki yang bisa mengobati. Dan apabila berkenan, sebagai balasannya aku akan mengabdi pada Ki Joyo seumur hidup."

Usai berkata begitu, Gendawari terdiam sambil menunggu reaksiku selanjutnya. Aku bingung dan terpana seakan tak percaya pada apa yang tengahh kualami.

"Maaf aku hanya manusia biasa yang tidak mempunyai kuasa seperti itu. Kalaupun aku mampu itu hanya kepada manusia, belum pernah kepaa makhluk gaib seperti Nyi Gendawari ," kataku jujur menjawab prmohonannya.

"Tolong Ki. Anak saya sangat parah keadaannya. Saya rasa Ki dapat mengobatinya," ujar Gendawari seperti menangis.

Kembali aku tak tega melihat ekspresi wajahnya dan barkata, "Baiklah aku akan berdoa dul memohon petunnjuk-Nya. Kalau bisa, maka, akan ku bantu. Tapi kalau tidak bisa mohon dimaafkan, karena kecuali Allah SWT, setiap makhluk punya keterbatasan."

"Silahkan, Ki. Aku juga bredoa agar Ki diberi kekuasaan itu," ujar Gendawari mengharap.

Aku pun memejamkan mata sambil berdoa, "Ya Allah, hamba tidak tahu apa yang Kau hadapkan pada hamba sekarang ini. Namun hamba tahu, di balik semua ini ada hikmah besar yang Kau berikan pada hamba. Untuk itu, mohon berilah petunjuk, tuntunan dan kekuatan yang datangnya hanya dari-Mu."

Setelah selesai berdoa, aku pun berkata pada Gendawari ," Silahkan bawa kesini anakmu, Insya Allah aku bissa membantu."

Sambil tersenyum bahagia, Gendawari menoleh ke belakang dan berkata, "Bawa anak kita. Ceptlah dia mau diobati."

Tak lama kemudian muncul dihadapanku dua makhluk. Yang satu tinggi besar dan yang satu makhluk kecil di dalam pangkuannya. Belum habis keterkejutanku, Gendawari berkata lagi, "Ini suamiku. Namanya Lauberdah dan ini anakku. Lihatlah keadaannya sangat parah sehingga harus dipangku bapaknya."

Tanpa banyak bicara, Lauberdah menurunkan anaknya dan meletakkannya dihadapanku.

"Saat aku mengobati, kalian juga harus berdoa dan memohon untuk kesembuhan anakmu," pintaku. Mereka menganggukkan kepala dengan perasaan haru dan cemas melihat keadaan anaknya yang lemah dan tak berdaya itu.

Tanpa membuang waktu, aku merapalkan amalan Ilmu Sepuluh Malaikat, sambil memohon agar diberikan kemampuan oeh Sang Pencipta. Kemudian kuusap dengan perlahan mulai dari kepala hingga kaki menarik keluar ppenyakit anak Gendawari.

Setelah usapan yang ketiga, aku pun berkata dengan sedikit berteriak, "Waras kau dan banngkitlah!"

Alhamdulillah. Dengan ridho dan rahmat-Nya, anak Gendawari langsung duduk dari tidurnya sambil menampakkan wajah ceria layaknya anak manusia yang lucu. Sesaat kemudian, Gendawari memeluk anaknya sambil menangis haru penuh bahagia diikuti suaminya.Melihat situasi ini, hatiku jadi tersentuh, turut larut dalam keharuan. Ya Allah, jangankan manusia, makhluk halus ternyata juga mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya.

Terkadang kita harus merasa malu, karena di kalangan manusia banyak orag tua yang menelantarkan anaknya. Bahkan tega membunuh dengan cara mengugurkan dan dibuang dengan alasan takut aib terbuka dan tidak mau menanggung malu.

Aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hikmah padakudari peristiwa ini. janganlah sekali-kali menyia-nyiakan anak. Karena dia merupakan titipan yang diberikan Allah kepada kita sebagai orang tua. Kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban mengenai harta kita, termasuk anak-anak kita.

Setelah larut dalam keharuan, Gendawari berkata kepadaku, "Terima kasih, Ki telah mengobati anakku hingga bisa sehat seperti semula."

"Jangan berterima kasih kepadaku, tapi berterima kasihlah kepada Tuhan yang telah mengabulkan permohonanmu," ujarku memotong perkataannya.

"Sebenarnya apa yanng terjadi pada anakku, Ki? Dan penyakit apa yang diderita sehingga keadaannya saangat parah?" Tanya Gendawari dengan nada penasaran.

"Anakmu pernah bermain jauh dari lingkungan kalian, bahkan lupa pulang. Karena bingung, dia sempat menyakiti anak manusia," kataku menjelaskan.

"Orangtua anak itu pun memanggil orang pintar untuk mengobati. Orang pintar itu lalu memaksa anakmu pergi dengan sangat kasar. Sehingga anakmu yang idak kuat akhirnya jatuh sakit," lanjutku menguraikan penyebab sakitnya anak Gendawari.

Gendawari dan Lauberdah mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan penuturanku. Selanjutnya, Gendawari berkata, "Sekali lagi saya dan suami serta segenap rakyat Bukit Zamzaya mengucapkan terima kasih kepada Ki atas bantuannya tadi," katanya.

"Saya juga berterima kasih karena telah dipercaya untuk membantu kalian," jawabku.

Kemudian Gendawari berkata pada Lauberdah suaminya, "Bawa pulang anak kita dan janngan biarkan berain terlalu jauh." Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, Lauberdah menghilang daeri pandanganku sambiil menuntun anaknya pulang ke alamnya.

Selanjutnya Gendawari berkata lagi kepadaku, "Sesuai janjiku tadi, maka aku rela mengabdi kepada Ki Joyo seumur hiduup."

Belum sempat kujawab, tiba-tiba sosok Gendawari menghilang ditutup asap tebal. Aku sampaimenutup mata dan hidung karena tidak tahan dengan asap tersebut. Setelah asap mulai menghilang, aku pun berteriak memanggilnya, "Nyi Gendawari, engkau ada di mana?"

Tiba-tiba terdengar suara, "Aku masih di hadapanmu Ki. Sebagai bentuk pengabdianku, maka, aku sengaja mengubah wujud mennjadi keris."

Astaghfirullahaladziim. Seketika aku langsung melihat ke lantai tampak sebilah keris hitam berwarna kusam, tanpa gagang dan sarung. "Nyi Gendawari. Engkau tidak perlu berbuat seperti ini terhadapku. Sebab hanya kepada Allah kita wajib mengabdi," ujarku di antara kebingunganku.

"Tidak apa-apa Ki. Aku sudah berjanji dan ikhlas melakukannya. Karena seperti yang diberitahu kepadaku bahwa Ki mempunyai jiwa yang tulus dan ikhlas, maka, aku pun juga tulus melakukannya," Sahut Gendawari memotonng perkataanku.

Aku terharu mendengar perkataannya. Aku pun hanya bisa terdiam tidak berusaha membalas ucapannya. Karena kupikir percuma juga membantahnya, ya, semua kuserahkan hanya kepada Allah semata.

Hingga kini, keris yang merupakan penjelmaan Gendawari itu masih aku simpan di tempat tersembunyi. Aku tidak ingin keris itu jatuh ke tangan orang yang nantinya dapat menyusahkan atau malah memperbudak orang.

Demikianlah, sekelumit penngalaman mengobati putri penguasa gaib Bukit Zamzaya. Meski tidak pernah mengetahui di mana letaknya, tapi aku merasa bersyukur pernah mengobati makhluk Tuhan dari alam lain. Semoga kisah ini ada manfaatnya.

SUMBER : Misteri Edisi 452, Tahun 2008

Dua Wanita Meninggalkan Aku

Dua Wanita Meninggalkan Aku

Rani tidak salah. Yang salah adalah aku karena telah menduakannya. Aku tahu sejatinya cintaku telah tertambat dengan Ria, wanita yang aku kenal selama empat tahun, tapi aku malah membagi cintaku dengan wanita lain. Akhirnya aku harus kehilangan dua wanita yang kusayangi itu. Kini hanya penyesalan yang tiada habisnya. Sekilas Kisah Jodoh tadi dituturkan Saudara Anton yang tiga bulan lalu harus kehilangan dua wanita yang dicintainya, hal itu dikarenakan Anton ketahuan berselingkuh.



Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Dipercaya memegang sebuah jabatan, aku pun punya penghasilan cukup untuk jika kelak sudah berumah tangga.

Sebenarnya aku sudah mendapatkan wanita itu, tapi aku tak pandai bersyukur dan mengkhianati cinta tulus itu. Aku juga sudah menyakiti perasaan Reni dan begitu mencintaiku.

Aku tahu kebodohan yang terbesar adalah mudah sekali untuk jatuh cinta. Selama ini aku seringkali iseng menggoda wanita, tapi tidak pernah mau serius karena aku sudah punya Ria. Ria pun sudah kuikat dengan pertunangan. Aku termasuk tipe lelaki playboy. Sebenarnya sifat itu merugikan diri sendiri karena setiap kali dekat dengan wanita aku selalu saja melimpahi mereka dengan materi. Karena itulah banyak wanita yang suka padaku. Hingga akhirnya aku tak bisa main-main lagi.

Aku berkenalan dengan wanita asal Kota Kembang, Bandung. Namanya Reni. Dari awal perkenalan saja aku sudah langsung jatuh hati padanya. Selain cantik, Reni juga tipe wanita penyayang. Itulah yang membuat aku jadi tergila-gila padanya dan lupa kalau aku sudah memiliki Ria, yang sudah menjadi kekasihku hampir empat tahun.

Kekuatan cintaku mulai goyah aku ingin memiliki Reni. Berbagai tipu muslihat aku lakukan untuk menutupinya dari Ria. Aku sungguh-sungguh mencintai Reni, tapi aku juga tidak bisa melepaskan Ria, akhirnya kujalanin cinta segitiga. Baik Reni dan Ria tidak tahu kalau sudah diduakan.

Awalnya tak ada kesulitan sama sekali, tapi lama kelamaan mulai kesulitan untuk berbohong kepada mereka berdua. Dan tak terasa hubungan terlarang bersama Reni hampir memasuki satu tahun, dan itu juga yang mengakhiri kisah cinta di antara kami berdua.

Hubunganku dengan Reni diketahui Ria. Ria melabrak Reni di tempat kerjanya. Aku merasa iba dengan Reni, karena dipermalukan Ria di depan teman-temannya. Aku pun khilaf lalu menampar Ria, agar tidak berteriak-teriak lagi memaki Reni.

Usai kejadian itu aku berusaha mendekati Ria dan memberikan pengertian, tetapi Ria merasa terhina terutama keluarga besarnya. Ria memutuskan pentungan kami. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi mereka juga melaporkan aku ke pihak berwajib karena tindakan kasar yang telah aku lakukan.

Sedangkan Reni saat itu juga tak mau lagi menerima telpon ataupun bertemu. Hanya ingin minta maaf saja, Reni tak mau. Reni juga minta aku untuk menjauhi dirinya, kalau tidak dia akan melaporkan aku ke pihak berwajib. Dua orang wanita yang kuharapkan bisa menjadi pendamping tak bisa ku miliki satu pun juga. Kini yang ada hanya penyesalan terdalam dari lubuk hati. Jika waktu masih bisa diulang aku ingin kembali memperbaiki hubunganku dengan Ria dan ingin menjadi pria yang setia. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 1 November 2009