Sabtu, 22 Desember 2012

Kesedihan Penghuni Kubur

Kesedihan Penghuni Kubur
Oleh: Adminaba

Tsabit Al Banani adalah orang yang biasa melakukan ziarah kubur setiap malam Jumat. Di sana ia bermunajat dan taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah hingga Subuh tiba.

Suatu ketika, Tsabit tertidur saat bermunajat, lalu bermimpi. Di dalam mimpinya ia melihat semua penghuni kubur keluar dari kubur mereka dengan mengenakan pakaian indah. Wajah mereka juga berseri-seri. Kemudian setiap orang dari mereka mendapat hidangan makanan bermacam-macam. Namun di antara mereka ada juga seorang pemuda yang tampak bersedih. Wajahnya pucat, rambutnya kumal, pakaiannya jelek, kepalanya tertunduk, serta berlinangan air mata. Ia juga tidak mendapat hidangan seperti penghuni kubur lain.

Setelah itu para penghuni kubur kembali ke dalam kuburnya masing-masing dengan bahagia dan puas, kecuali pemuda itu. Ketika pemuda itu juga hendak kembali ke dalam kuburnya namun dengan penuh kesedihan, duka cita serta putus asa. Tsabit pun berkata kepadanya, "wahai anak muda, siapakah engkau? Mengapa mereka mendapat hidangan serta kembali ke kubur masing-masing dengan kegembiraan dan kebahagiaan, sedang engkau tidak mendapat hidangan, bahkan engkau kembali dengan kesedihan, duka cita, dan putus-asa?"

"Wahai Imam orang-orang mukmin, aku ini seorang pendatang yang terasing dan tak seorang pun mengingatku, mendoakan, maupun melakukan amal kebaikan karena aku. Sementara mereka (para penghuni kubur yang lain) mempunyai anak cucu, kerabat serta keluarga yang senantiasa mengingatnya dan mendoakannya, beramal baik dan bersedekah karenanya. Sehingga setiap malam Jumat selalu datang pada mereka pahala kebaikan dan sedekah dari anak cucu, kerabat serta keluarga mereka. Sebenarnya aku ini orang yang hendak berhaji bersama ibuku. Tapi ketika kami sampai di kota ini, ketetapan Allah (maut) berlaku untukku. Maka ibuku menguburkanku di tempat ini, kemudian ibu menikah dengan seorang laki-laki sehingga lupa padaku dan tak pernah mengingatku, mendoakanku, maupun mengirimkan pahala sedekah untukku. Sungguh, sepanjang waktu aku berada dalam keputusasaan dan dan kesedihan."

Tsabit berkata, "wahai anak muda, katakan padaku di mana ibumu tinggal saat ini? Aku akan memberitahunya tentang dirimu dan keadaanmu."

Pemuda itu menjawab, "wahai imam orang-orang mukmin, sesungguhnya ibuku tinggal di desa sana, rumahnya begini dan begini. Katakan padanya semua tentang diriku. Seandainya ia tidak memberi sedekah padamu maka katakan, sesungguhnya di dalam kantongmu terdapat seratus keping uang perak warisan suami pertamamu. Sedangkan yang berhak memiliki uang itu adalah anakmu yang sudah meninggal dan terasing. Maka sedekahkanlah kepadaku apa yang seharusnya menjadi haknya."

Ketika terbangun dari tidur, Tsabit segera pergi mencari ibu si pemuda yang ditemuinya dalam mimpi itu. Setelah bertemu ibu pemuda itu, Tsabit mengatakan tentang semua yang dialami anaknya, juga mengatakan tentang seratus keping uang perak yang menjadi hak anaknya, yang kini ia simpan.

Mendengar semua yang dikatakan Tsabit, perempuan itu jatuh pingsan karena sedih dan sesal yang amat dalam. Ketika siuman, perempuan itu segera menyerahkan seratus keping uang perak sembari berkata, "aku pasarahkan padamu sedekah seratus keping ini demi anakku yang terasing."

Maka Tsabit pun menerima uang itu, kemudian menyedekahkan semuanya demi si pemuda yang ia temui di dalam mimpinya. Seperti biasa, malam Jumat berikutnya, Tsabit melakukan ziarah kubur lagi. Ia kembali ketiduran saat munajat, hingga bermimpi seperti kemarin. Hanya saja pemuda yang kemarin ia temui dalam mimpi itu kini mengenakan pakaian bagus dan wajahnya berbinar-binar. Ia tampak bahagia. Pemuda itu berkata pada, "wahai Imam orang-orang mukmin, semoga Allah membelas-kasihanimu sebagaimana engkau telah membelas-kasihani aku."

Dari hikayat tersebut, nampak bahwasannya orang yang sudah meninggal merasakan kesedihan bilamana keluarganya yang masih hidup melakukan kejelekan atau tak beramal kebaikan. Sebaliknya jika keluarganya melakukan amal-amal kebaikan, maka orang yang sudah meninggal akan merasakan kebahagiaan, karena mendapat bagian dari pahala mereka, tanpa sedikit pun terkurangi hitungan pahala milik mereka.

Kolom.abatasa.com, Jum'at, 30 November 2012

Cantik Dalam Pandangan Islam

Cantik Dalam Pandangan Islam
Oleh: Adminaba

Wanita tercantik adalah wanita yang memiliki tubuh ramping, pinggang kecil, betis membujur, rambut panjang dan pirang, kulit putih, bibir kecil dan penuh, hidung mancung, dan mata berbinar. Itulah yang ada dalam fikiran wanita atau pria. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja.

Orang Indonesia dengan kulit sawo matang yang ada dimana-mana, dan hampir bisa dipastikan bahwa sebagai wanita berkulit sawo matang, akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari'at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Kemudian mereka ada yang harap-harap cemas menggunakan cream pemutih wajah, jamu peramping perut dan conditioner herbal penumbuh rambut agar panjang dan ikal, sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dan lain-lain. Ini semua menjadikan wanita menjadi tidak percaya diri terhadap inner beauty yang telah Allah berikan padanya sejak lahir, dan akan menunjukkan auranya ketika sudah mencapai akil baligh.

Sekarang kalau ditanya siapakah wanita yang tercantik atau dianggap cantik di muka bumi ini? Maka persepsi yang ditanamkan media, dengan dipelopori dunia barat, tentunya menunjuk gadis berkulit putih yang tinggi semampai, dan rambut pirang kecoklatan, berbaju sexy terbuka, memperlihatkan aurat yang harusnya ditutupi dan menjadikan semua terbuka agar semakin nampak kecantikannya. Apabila telah terpilih sebagai wanita tercantik di seluruh dunia, maka semua wanita akan berlomba untuk mengikuti gaya dan penampilan sang wanita tercantik di seluruh dunia ini sehingga mereka ingin tampil secantik model tercantik.

Menyukai kecantikan dan keindahan adalah salah satu fitrah, kecenderungan yang dimiliki setiap wanita. Dan perasaan ingin cantik ini adalah nikmat Allah SWT. Tetapi seringkali kita salah memaknai nilai kecantikan yang sebenarnya dan menganggap bahwa kecantikan wanita hanya tertumpu pada keindahan fisik atau secara lahiriah saja. Seringkali kita menyaksikan betapa banyak wanita cantik di dunia ini tapi keindahannya hanya sesaat, pribadinya adalah pribadi yang tak menyenagkan, kehidupannya berantakan dan sebagainya. Perilakunya tidak cantik bahkan menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

Padahal Allah menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepada-Nya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang (mencontoh Rasulullah). Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ALLAH menciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk :

Cantik Dalam Pandangan Islam (QS. At-Tiin: 4, Iwan Lemabang

"Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim"

Artinya:"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tiin: 4)


Siapakah yang membuat standar penilaian terhadap ciptaan Allah yang Maha Kuasa? Wahai para wanita percayalah bahwa wanita tercantik adalah wanita yang mampu memahami bahwa dia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk dan dia diciptakan adalah untuk beribadah:

Cantik dalam Pandangan Islam (QS. Adz-Dzariyaat: 56, Iwan Lemabang)

"wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun"

Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyaat: 56)



Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:

"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)



Berbahagialah ketika kecantikan itu bukan sekedar menghiasi wajah, tapi terutama hati dan akhlak kita. Karena kecantikan fisik pasti akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Tapi kecantikan hati dan akhlak, itulah yang akan bersinar dan terus dikenang oleh orang-orang di sekitar kita.

"Allahumma kamaa hassanta khalqii, fahassin khuluqii"

"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadian (fisik) ku, maka perindah pulalah akhlakku." (HR. Ahmad)



Sumber: Kolom.abatasa.com Sabtu, 24 November 2012
Kaligrafi Qur'an By: LEMABANG 2008

Kamis, 20 Desember 2012

Misteri Malam Satu Suro

Kedatanga tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk) dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah.

Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu. Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 WIB saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Dibelakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.

Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro. (net)

Palembang Post, Selasa, 15 November 2012

Hati yang Dalam Kala Terluka

Hati yang Dalam Kala Terluka
Oleh: Adminaba

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri,mandi dan bersalin pakaian.

Sejenak sebelum masuk keruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, "Kenapa lama sekali dokter! Tidak taukah lama anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?"

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, "Saudaraku saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada diluar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju kesini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda."

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredamkan amarah si bapak, bahkan suaranya mengguntur. "Anda bilang apa? Tenang!?Sedikit pun anda tidak peduli rupannya, apakah Anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? Semoga Allah mengampuni Anda, apa yang akan Anda lakukan jika anak anda meninggal?"

Sambil tetap mengulas senyum dokter menanggapi, "Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan ALLAH: "Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’in."

Dokter itu melanjutkan, "Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman? Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga memendekkannya. Usia ditangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putera Anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah,oleh karena itu jika terjadi yang tidak kita inginkan ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushala rumah sakit untuk memperbanyak shalat dan doa kepada Allah agar Dia menyelamatkan anak Anda," Tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, "Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda."

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergerasa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, "Berbahagialah Pak, Alhamdulillah operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci."

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat.

Seketika orang tua anak itu berkata, "Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikitpun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?"

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, "Kemarin putera beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan puteranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda."

Ya Allah rahmatillah hati yang meski terluka, namun tidak bicara.



Sumber: Kolom.abatasa.com Senin, 19 November 2012

R a j a w a l i

Cerpen: Esti Pramestiari

Aku merindukanmu Rajawali, sepekat pelangi merindukan hujan sore tadi. Aku merindukanmu rajawali, merindukan mata yang berpendar mengajakku terbang tinggi dan menari. Aku merindukanmu rajawali seperti kala itu kita berjanji untuk kembali, bersama suatu hari.

Malam ini, hujan bergemuruh, langit gelap, mataku selalu ingin terpejam, meski sulit. Dibayangku hanya ada saat dimana kita bersama, rajawali itu menatapku..sayapnya seakan menyentuh pori-pori tubuhku, diam tanpa suara... aku memandangnya, melihat luka yang sama dimatanya, luka itu kurasakan, batinku yang berkata, meski bibirnya terdiam tanpa suara. Aku menyentuhnya, menyentuh wajahnya yang kuat namun aku mengerti sayapnya telah rapuh karena terpaan cuaca.

"Hei Rajawali.. apa aku boleh menyentuh sayapmu?" kataku. Rajawali itu terdiam, aku memandangnya lekat, tanpa suara meski aku mengerti maknanya. "Bolehkah aku mengobati sayapmu yang patah?" kataku kemudian. Rajawali itu tetap terdiam, matanya memandangku, andai rajawali itu mengerti betapa aku telah menyerahkan seluruh hatiku padanya. Seperti hembusan nafasku yang terlahir sempurna hanya untuk bersamanya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Petir bergelora, aku bersama rajawali, menyentuh kepakan sayapnya, sempurna.. sebentar lagi mungkin rajawali dapat kembali terbang mengitari dunia. Rajawali itu diam, melihatku tanpa bersuara, meski kali ini sayapnya yang tak luka menyentuhku. Aku larut, larut dalam gelora dunia, tak perduli akan awan hitam yang mengajak pergi namun selalu ingin kembali.

Aku larut alam geloranya, matanya mengajakku untuk terus menari. Aku menyentuhnya, menyentuh kepakan sayap dengan luka lamanya. “Rajawali tetaplah disini,” aku berkata dalam hati, tak ingin membiarkannya pergi. Rajawali tak mendengarkanku, dia larut dalam sinar malam ditemani bintang dengan kejoranya.

“Rajawali... jangan pergi,” aku berkata dalam hati, daun keringku tertiup angin lalu pergi, malam ini dia nyaris tak dapat mendengarku.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Pagi ini, cakrawala menari, mentari berpendar dengan indahnya, tanpa suara, tanpa kata. Rajawali berkata "Pagi," aku tersenyum, karena itu kata dimana aku selalu menanti pagi, menanti matahari, menanti kehidupan. Aku juga memiliki luka, luka yang mungkin aku simpan sendiri dan tak ada seorang pun mengerti maknanya, namun aku harus berkata kali ini, kepada rajawali, aku yakin jiwanya yang indah dapat menerimanya, menerima luka yang aku rasa, seperti aku menerima kepakan sayapnya yang patah karena terpaan cuaca.

"Boleh aku bicara" ucapku. "Silahkan" rajawali menjawabnya. Aku bercerita semuanya, sejujurnya, meski membuka kenangan yang terkoyak membuat seluruh tubuhku merinding akan kelu. Rajawali terdiam, menatap mataku yang menunduk, aku berharap dia dapat menerimanya.

"Jika begitu, maka aku yang harus terbang tinggi," sahutnya. "Maksudnya?" kataku kemudian. Aku terdiam, hatiku terkoyak, jiwaku memanggilnya namun dia tak mendengarnya, betapa mentari seakan tak lagi ada, seperti udara disekelilingku pekat, seperti aku seorang diri menatap dunia.

Rajawali itu pergi, aku melihatnya, melihatnya dari kejauhan yang tak seorang pun dapat melihat kepakan sayapnya yang telah kembali sempurna. Jiwaku memanggilnya, namun rajawali tak mendengarku, dia terbang dengan sayap indahnya, lalu aku sendiri, menikmati dunia.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Diam….ditemani langit tanpa bintang. Saat ini, aku lebih menanti malam, bukan lagi mentari yang datang tanpa bintang, malam membiarkanku bersuara lantang akan banyak hal, angin malam menyapaku, menyapa tubuhku yang tak lagi bernyawa, aku merasa separuh jiwaku telah pergi bersama rajawali.

Burung gereja datang, berkerumun diatas jendela, menyapaku satu persatu dengan kepakan sayapnya, aku tersenyum, hanya berpura-pura, karena aku hanya dapat tersenyum bila rajawali kembali...aku merindukannya...merindukan mentari yang datang bersamanya..bersama kepakan sayapnya yang telah sempurna.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



“Pagi,” satu persatu burung kenari menyapaku..memegang jiwaku yang telah pergi..memelukku. Aku berusaha menikmati pelukannya, namun nyatanya..aku tak mampu...labirinku mati..ya tak ada lagi senyuman setelah dia pergi...rasaku telah terbang tinggi dan menari bersama rajawali yang terbang tinggi.

Hujan.. langit legam.. enggan bicara akan kebenaran. Aku menikmati rasa yang aku tak pernah mengerti kapan harus terhenti. Tak lama burung merpati datang, memberiku sepucuk surat, aku memegangnya, membukanya dan menikmati isinya.

"Tadi.. aku ingin meloncat.. mengambil putihnya kapas langit..sebagai persembahan sederhana..sesederhana matahari yang menjadikannya panas bumi..lalu menjadikannya awan..dan menjadikannya hujan cinta" @Rajawali. Aku tergetar...aku memelukknya, memeluk kertas dengan nama yang kurindukan didalamnya. Dimana rajawali pelangi? dimana aku harus mencarinya? Pada langit, matahari atau pelangi... aku merindukannya, katakan padanya aku ingin dia kembali.

Tak lama petir bergelegar kembali, putikku hancur, aku membiarkannya, menunggunya dalam kelam dan ruangan hampa udara, entah hingga kapan, hingga mungkin bungaku layu tanpanya, dalam penantian panjang yang sempurna.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Mentari pagi ini, bersama kupu2 terkesiyap..merejap. Aku meniupkan sesuatu kepadanya. Tiupan kata yang hanya aku dan kupu-kupu yang mengitariku yang mengerti maknanya. Serpihan kapas menggeliat..merejap. Kupu-kupu..sampaikan kata bahwa aku merindukan rajawaliku yang terbang tinggi dilangitmu . Aku berdiri dibumiku, menantinya memelukku hingga suatu hari dia akan selalu bersamaku, ya bersamaku, tertawa dan kami berpendar di udara memetik putihnya kapas langit, berdua.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



End
Ditemani Rintik Hujan
Bandung, November 2012

Esti Pramestiari, penikmat Sastra, mencintai sastra sejak pertama kali mengenal kata dan bahasa. Karya-karyanya berupa cerpen, cerbung, puisi, dan karya jurnalistik lainnya banyak diterbitkan diberbagai media cetak dan elektronik. Cerita pendeknya yang dimuat di Kompas.com antara lain Perahu Kertas, Perawan Tua, Surat Cinta untuk Aa, Wanita Penghibur, Homonculus, dll. Saat ini sedang mempersiapkan novel pertamanya yang akan terbit bersama Timoteus Talip penulis yang telah melahirkan delapan buah buku fenomenal.
Sumber: Oase.kompas.com, Jumat, 14 Desember 2012