Jumat, 25 Januari 2013

Free Mp3 Vicky Zhao



Artis: Vicky Zhao
Title: Zi Cong Li Bie Hou
Size : 4,320 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Zhi Chong Li Pie Hou
Size : 4,258 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Wo Men
Size : 3,701 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Xin Lan Hua Chaw
Size : 2,927 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Yen Yi Mung Mung
Size : 3,800 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: U Meng He Ni Feng Shou
Size : 4,260 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ni Lien Mao Mi
Size : 4,278 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Mung Li
Size : 4,201 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Man Chang Fei Yuan Wu Qu
Size : 2,409 KB


Artis: Vicky zhao
Title: Lie Pie Te Che San
Size : 5,620 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ik Chung Tek Ku Sin
Size : 3,809 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Hau Siang Hau Siang
Size : 3,389 KB


Artis: Vicky Zhao feat Ruby Lin
Title: Ni Se Fong Er Wo She Sha
Size : 4,355 KB


Artis: vicky Zhao
Title: Wei 1
size : 3,884 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ai Ching Ta Mo Cho
Size : 3,178 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Bu You Zhi Zhu
Size : 4,346 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ce Chung Yu Le Ni
Size : 3,209 KB


Artis: Vicky Zhao
Title: Ching Sen Sen Ik Mong Mong
Size : 4,467 KB


Kamis, 24 Januari 2013

Tak Bisa Kelain Hati

Cerpen: Lya SM

"Bersama dia, aku sama sekali lupa Leo. Apa aku sudah mengkhianatinya ya?"



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Kenapa Mith, sakit?" tanya Nana khawatir. Soalnya tidak seperti biasanya, hari ini Mitha tampak lebih pendiam. Meskipun fisiknya tidak memperlihatkan kalau dia sedang tidak sehat.

"Aku baik-baik saja kok."

"Tapi kok murung?"

"Aku lagi pengen diem aja," jawabnya santai. Tapi tiba-tiba....

"Eh, Na, seru kali ya kalau aku mati," katanya.

Tentu saja Nana terlonjak kaget. Dirabanya kening Mitha, spontan.

"Eling, Mith. Kamu segar bugar begini kok sempet-sempetnya mikirin mati? Bisa kualat kamu> Memangnya kamu mau bunuh diri ya?"

"Ih amit-amit!"

"Lho, tadi kamu bilang...." Nana mengerutkan keningnya.

"Maksudku, aku ingin bikin skenario seolah-olah sebentar lagi aku akan mati. Pasti seru kan?"

Nggak! Sama sekali nggak seru. Aku malah nggak suka ide itu. Ngapain sih, kamu bikin skena/ rio yang serem begitu?"

"Aku ingin lihat apa reaksinya."

"Reaksinya? Reaksi siapa?"

"Si Leo, Siapa lagi?" Nana menepuk jidatnya sendiri.

"yA ampun! Jadi cintamu masih ditolak juga?"

Nggak. Aku cuma sebel aja ke dia. Katanya dia sayang sama aku. Cinta sama aku. Tapi kok begitu aku ngajak dia buat jadian, nggak mau. Dia malah cuekin aku sekarang. Bete nggak sih?" ujarnya sewot sendiri.

Nana bru mengerti apa maksud Mitha sebenarnya. Sambil senyum-senyum geli, dia menlingkarkan tangannya di bahu sahabatnya sejak sama-sama SMP itu.

"Aku kasih tahu ya. Mith, buat nindukin cowok model si Leo itu, harus pake taktik sedikit. Dia kan cuekin kamu, jadi kamu harus balas cuekin dia dong. Lebih cuek lebih bagus," kata Nana serius.

Aku sudah coba tapi nggak mempan."

"Berapa lama?"

"Dua hari."

"Yaaa, itu sih...."

"Soalnya aku nggak tahan. Waktu aku lagi enak-enaknya cuekin dia, eh, tiba-tiba dia muncul di depanku. Dia ngajak aku ke mall. Kamu tahu sendiri kan gimana reaksiku kalau sudah diajak muter-muter ke pertokoan kayak gitu?"

"Tahu. Mata kamu langsung ijo!"

"Sekarang kamu harus coba lagi. Tapi kali ini kamu jangan mudah terbujuk. Memangnya cuma dia yang bisa ngajak kamu jalan ke mal?"

"Kalau aku nggak tahan lagi?"

Soal jalan ke mal sih sebenarnya tidak terlalu aku pikirin, Na. Tapi masalahnya aku ingin punya cowok. Nggak asyik kan jalan sendirian terus. Kamu sih enak udah punya cowok, meskipun masih misterius."

Nana nyengir. Cowok misterius? Pertanyaan itu membuat Nana geli, tapi sekaligus miris. Nggak misterius amat kok, Mith. Kamu udah kenal cowok itu kok. Hanya saja sekarang bukan saatnya aku buka kartu. Sabar aja ya...!

"Kalau aku boleh bilang sih, teman-teman si Leo juga juga masih banyak yang lebih oke. Kenapa kamu nggak coba untuk pindah kelain hati aja? Kayak ke si Ken atau Ryan, gitu. Daripada nungguin si Leo bikin kmu capek," ujar Nana hati-hati. Mitha mengerutkan keningnya. Kepalanya manggut-manggut.

"Kamu benar. Tapi kamu juga salah, karena aku tidak bisa pindah kelain hati. Sekali Leo, tetap Leo. You know?"

Nana menaikan alisnya. Nyengir. Terserah kamu deh!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Bubaran kelas, Mitha buru-buru meninggalkan sekolahnya. Langkahnya tergesa-gesa. Hari ini dia memang sudah janji untuk mengantar Mama ke salon. Dan kesempatan ini tidak akan Mitha sia-siakan, biar bisa nebeng creambath gratis. Rencananya sepulang dari salon, mereka akan langsug pergi belanja. Biasa, untuk menghabisan sisa dana akhir bulan.

"Sudah mau pulang, Mith? Kok buru-buru amat sih? Nggak nunggu Leo dulu?" tanya Ken yang berpapasan dengannya di depan pintu gerbang sekolah.

"Aduh sori deh. Kali ini aku nggak punya waktu lagi buat nunggu si Leo. Lagian hari ini aku sudah ada janji kok."

"Janji? sama cowok lain?"

""Ada deh. Sudah ya.... daaaahhh..." Mitha buru-buru meninggalkannya.

Ken melongo. Dia benar-benar heran melihat sikap Mitha hari ini. Tumben tuh anak cuek, pikirnya. Tanpa pikir panjang lagi, Ken memburu kelas Leo yang baru saja bubaran.

"Leo. Leo!" teriaknya tanpa ampun lagi. Dari arah yang berlawanan Leo melambaikan tangannya.

"Ada apa? Kok kayak baru melihat setan begitu sih?"

"Itu si Mitha...." sahutnya ngos-ngosan.

"Kenapa? Dia titip salam lagi? Kan sidah biasa," kata Leo tenang.

"Justru sebaliknya, Leo"

"Maksud kamu?"

"Kayaknya dia sudah tidak suka lagi sama kamu deh. Sikapnya cuek banget waktu tadi aku ajak dia nungguin kamu. Dia malah buru-buru pergi. Katanya sudah ada janji dengan seseorang. Kayaknya dia punya cowok baru deh."

"Nggak mungkin. Aku tahu banget bagaimana si Mitha. Orangnya setia. Sakali jatuh cinta, terus lengket selamanya."

"Geer banget sih kamu. Kali ini aku barani taruhan deh. Dia pasti bakal tinggalin kamu," kata Ken meyakinnya. Melihat keseriuasan Ken, Leo terpancing juga.

"Serius, Ken?"

"Serius. Makanya kamu jangan terlaalu jual mahal begitu. Kamu pikir si Mitha akan tahan dicuekin terus seperti ini? Dia juga punya perasaan, Leo."

"Kamu tahu, kira-kira siapa cowoknya?"

"nggak sih. Tapi kayaknya masih anak sekolah kita deh."

"Berani banget dia," kata Leo gemas. Tapi sepertinya Leo hafal betul kepada siapa dia harus memastikan soa informasi itu. Nana. Siapa lagi?

"Eh, Ken, kamu masih ingat kan bagaimana caranya membuat Mitha kembali sama aku?"

"Pasti ajak dia ke mal."

"Nah, tunggu apa lagi?" kata Leo sambil mengembangkan senyum manisnya. Rasa percaya dirinya kembali muncul. Ah, terlalu gampang sebenarnya merontokkan hati Mitha.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



"Kamu benar, Na!" seru Mitha keesokan harinya. Tentu saja tanpa hujan tanpa angin, Mitha muncul begitu saja di rumah Nana sore itu.

Apanya yang benar?" Nana mengerutkan keningnya.

"Soal si Leo."

"tentu saja. Kali ini aku benar-benar bertahan. Padahal kemarin sore dia datang ke rumahku dan mengajak lagi jalan ke mal. Tapi aku menolak. Kamu tahu kenapa?"

"Karena kamu ingin balas cuekin dia."

"Bukan. Tapi karena aku dapat cowok baru. Dan ternyata aku bisa pindah ke lain hati kok," tuturnya.

"Haahh? Serius Mith? Secepat itu? Siapa?" Nana nyaris tak percaya.

"Sebenarnya bukan orang baru. Tapi di mataku dia benar-benar tipe cowok macho. Bayangin aja, dia sudah menolong Mamaku waktu hampir kecopetan. Ya, seperti dalam film-film, tiba-tiba dia datang buat menolong kami. Aduh, meskipun ceritanya agak lucu, tapi buatku itu romantis banget. Dia mampu melakukan hal yang tidak pernah Leo lakukan. Entah kenapa hatiku langsung berdebar-debar." Mitha menarik napas panjang, sebelum melanjutkan lagi...

"Lebih seru lagi, ketika tiba-tiba Mamaku muncul. Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Mamaku berteriak. Tidak, bukan karena mu kecopetan lagi. Tapi ternyata, Mamanya cowok itu adalah bekas teman Mamaku waktu di SMA. Ya, jadinya kita kayak reunian deh. Aku sama cowok itu juga jadi ikut-ikutan tertawa geli. Lalu kita punya ide yang sama. Kita tinggalin aja mereka untuk kangen-kangenan. Sementara aku dan cowok itu ngubek-ngubek mal berdua. Aduh, aku senang banget deh, Na. Aku bahagia banget deh, Na. Suer, bersama dia, aku sama sekali nggak inget sama Leo tuh. Tapi apa itu aku berarti aku sudah mengkhianati Leo ya?" ujarnya sambil menatap Nana yang hanya terbengong-bengong mendengar penuturan Mitha yang panjang lebar itu.

"Ah, tapi cuek aja deh. Toh Leo belum jadi cowokku. Nggak tahu deh, kita bakal jadian atau nggak. Tapi sekarang aku sudah nggak perduli lagi kok," lanjutnya. Nana hendak membuka mulutnya. Tapi ia tidak jadi bicara.

"Heh, Na, kalau kamu juga naksir sama si Leo, ambil aja deh. Toh aku sudah punya gebetan baru. Dan kayaknya, sama yang ini aku cocok deh."

"Kamu serius Mith? Nggak nyesel?"

"Nggak. Aku rela kok. Siapa tahu sama kamu si Leo mau diajak jadian. Eh, sori, aku harus buru-buru balik nih. Cowok itu janji mau datang ke rumahku. Yang pasti ini jadi kejutan buat Leo."

"Kejutan? Apa maksud kamu Mith? Apa Leo mengenl cowok itu?"

"Tentu saja. Dia kan sahabatnya juga."

"Haahh?!"

"Si Ryan. Kamu juga kenal dia kan?"

"Kok bisa sih, Mith?"

"Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Sudah ya, aku pulang dulu."

Mitha melenggang santai meninggalkan Nana yang masih terbengong-bengong sendirian.

"Eh, Mitha, tunggu dulu. Aku mau ngomong sama kamu."

"Ah, sudahlah. Nanti saja."

"Tapi Mith, ada sesuatu yang belum kamu tahu..." Nana mencoba mengejarnya. Tapi terlambat. Mitha sudah naik ke mobilnya dan segera melaju meninggalkan kepulan asap di udara. Nana terpaku di tempatnya berdiri. Ah, Mitha, seharusnya kamu mendengarkan aku dulu. Aku hanya ingin mengatakan, sebenarnya Leo sudah lama ngeduain kita. Dan aku tidak bisa menolaknya. Aduh, aku dosa nggak ya sama kamu, Mitha?

Rabu, 23 Januari 2013

Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai
Cerpen: Hammad Riyadi

Saya sudah Lama mendambakanmu. Tapi kamu kelewat perfect buat saya....
* * * * * * * * * * * *



Dini tengah asyik menikmati acara infotainmet di televisi ketika tiba-tiba telepon berdering.

"Hallo selamat sore." Dini menyapa dengan santun. Tapi sampai sekian menit tak ada reaksi apa-apa dari seberang. Sekedar say hallo pun tidak ada. Bahkan sampai Dini mengulangnya berkali-kali, tetap saja tak ada jawaban. Kecuali kemudian, bunyi tulalit panjang pertanda telepon telah dimatikan.

Dini meletakkan gagang telepon dengan kasar. "Payah!" gerutunya. Kentara sekali pancaran kekesalan yang mengkilat di wajahnya. Dia merasa dipermainkan.

Tiba-tiba telepon berdering lagi. Dini ingin berteriak memanggil Lina, tapi dia keburu sadar adiknya itu sedang kemping ke Bukit Panderman. Pembantunya mudik. Dia membiarkannya cukup lama.

"Hallo selamat sore." Untuk kedua kalinya Dini bersikap seramah mungkin. Tapi sampai beberapa lama masih juga tak ada jawaban, seolah-olah tak ada siapa-siapa di seberang.

Terang saja kekesalan yang telah ditekannya dalam-dalam mencuat kembali ketika penelpon itu tetap berdiam diri. Dini sudah tidak sabar. Maka segera dia muntahkan semua kalimat yang mencekik lehernya. "Hei banci, aku nggak punya banyak waktu untuk main-main dengan kamu. Kesempatan saya terlalu sempit untuk angkat telepon semacam ini."

Dia mematikan TV, sebelum menambahkan. Kamu enggak punya kerjaan? Kalau kamu perlu sama adik saya, dia sedang ke Panderman Kalau penting sama Papa, telepon saja ke kantornya. Mama lagi arisan. Di sini cuma ada saya, Dini. Tapi kalau enggak perlu sama saya, ya udah, saya tutup saja!"

Dini berhenti sejenak. Menunggu reaksi. Tapi tak juga ada "tanda-tanda kehidupan". Dia sudah bersiap-siap membanting gagang telepon lagi, andai tak ada sebuah suara yang masuk ke gendang telinganya.

"Hallo apa kabar Din?" suara lelaki.

Dini terhenyak. "Baik." Kata-kata itu tiba-tiba meloncat begitu saja dari bibirnya. Cepat-cepat ditaruhnya gagang telepon sebelum makhluk usil itu bertanya lagi. Menurutnya, sudah tak ada gunanya meneruskan pembicaraan yng tak jelas lagi dan bikin otak serasa mau meledak.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Namun kalau mau jujur, sampai keesokan harinya, Dini belum bisa melupakan suara usil di telepon itu. Diam-diam, ada penyesalan yang menyesaki hatinya. Kenapa dia bersikap nggak bersahabat.

Kriiiing....!!

Dering telepon itu serta merta mengejutkan Dini. Dan entah kenapa tiba-tiba dia berharap cowok kemarin yang meneleponnya.

"Selamat sore," sapanya dengan logat Batak.

"Sore," jawab seorang lelaki diseberang. Dngan cepat Dini bisa memastikan yang bicara adalah cowok yang ditunggunya. "Sejak kapan jadi orang Batak, Non?"

Dini bukannya menjawab pertanyaan itu. "Kamu cowok yang kemarin kan" todongnya.

"Ya," jawabnya mantap. "Bila kemarin saya telah bikin kamu sebel, saya minta maaf. Bukan maksud saya mempermainkanmu, tapi hanya ingin memastikan saya tidak salah sambung. Juga untuk meyakinkan, sore-sore begini kamu pasti nonton TV. Tentu kamu masih seperti dulu." Lelaki itu berbicara dengan hati-hati.

"Siapa namamu?"

"Apa artinya sebuah nama, Din?" ucap cowok itu, seperti berpuisi. Dini hampir tertawa mendengarnya.

"Justru itulah sebabnya!"

"Tapi saya lebih suka dipanggil 'kamu' saja, bukan nama. Bukankah suara saya cukup dikenali?"

"Iya sih, tapi apa salahnya saya tahu nama orang yang menghubungi saya, wahai 'Kamu"?"

"Jelas salah, karena sekarang bukan saatnya untuk itu."

"Bagimu bukan begitu. Bagi saya sekaranglah saatnya."

"Yang punya hak itu saya kan? Jadi, tidak etis kalau kamu memaksa saya memperkenalkan diri sekarang."

"Ingat Bung, kamu tidak sedang posisi menawar!"

"Sudahlah, jangan kelewat dinamis. Perkara nama belakangan. Alon-alon sing penting kelakon."

"Saya bukan orang Jawa, Bung! Itu bukan prensip saya!"

Buat apa kamu berdusta? Bahwa kamu lahir, besar dan sekolah di tanah Jawa ini, saya tahu. Kalau pun kamu pernah sekolah SMP di Ujung Pandang, itu semata-mata karena Papamu pernah dinas di sana. Tapi bukan berarti kamu bisa menghilangkan akar budayamu kan?"

Dini terdiam. Lama. Siapa cowok ini sebenarnya sampai-sampai dia tahu banyak hal mengenaidirinya. "Lalu apa maumu?"

"Saya ingin mengulangi pertanyaan kemarin. Bagaimana kabarmu?"

"Baik," jwab Dini dengan aksen lemah den mengandung amarah. "Saya sehat."

"Syukurlah," kata cowok itu singkat. Lalu, "Terima kasih. Selamat sore," telepon ditutup.

Dini tersentak, seolah tak percaya, apa yang telah lewat. Semuanya terasa sekejap. Terlalu singkat buat Dini yang masih penasaran. Kejutan cowok itu semakin membuatnya ingin tahu lebih dalam.

Andai Dini punya mesin pelacak, seperti di film-film action, mungkin dia tidak perlu pusing. Sekali sentuh, radar akan menyebutkan lokasi penelpon itu, berikut nomor teleponnya. Sayang, Dini bukan anggota FBI atau CIA.

Secara matematis, kemungkinan besar orang itu berada di dalam kota. Sore-sore begini, di saat pulsa sedang mahal, susah mendapati orang yang berani interlokal, kecuali di didesak kepentingan atau....dia memang kaya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Saat keesokan harinya pada jam yang sama, lelaki itu menelpon lagi, Dini mencoba menanyakan hal tersebut. Tapi dia malah diajak main kucing-kucingan. "Kalau saya bilang ada telepon umum depan rumahmu, apa kamu akan keluar?"

Cepet-cepat Dini membuka korden dan memandang boks tepat di depan rumahnya, tapi ternyata dia ditipu. Tak ada siapa pun di sana.

"Apa yang kamu lakukan barusan? Melihat telepon umum?" Coeok itu tertawa kecil. "Perlu kamu ketahui, waktu kecil, kalau lagi main petak umpet, saya tidak pernah berteriak memanggil teman supaya dia tahu tempat persembunyian saya. Apalagi sudah besar begini."

"Jangan bercanda!" Dini mendengus. "Kalau kamu enggak bilang lokal atau interlokal, saya tutup telepon ini."

"Oke... oke... interlokal. Puas?"

"Belum. Dari mana?"

"Yang jelas saya di Indonesia. Tepatnya di mana, kapan-kapan kamu akan tahu juga. Tidak surprise jadinya. Jika saya sampaikan sekarang," tutur si 'Kamu'. "Oh ya, kamu masih pacaran sama Erwin, tetanggmu itu ya?"

Dini terdiam. Sudah sebegitu jauhkah dia mengenalku sampai tahu tentang Erwin segala, batinnya. Dan belum sempat dia berkata apa-apa, cowok itu bertanya lagi. "Kabarnya kalian putus, benar begitu?"

"Ya, sudah lama kok."

"Syukurlah."

"Kenapa?"

"Berarti saya punya peluang untuk mengisi hari-hari kamu."

Entah untuk keberapakalinya, Dini dibikin terkaget-kaget. Semua ucapan pertanyaan si 'Kamu' sungguh telah mengobrak-abrik prifacynya. Dia tak ubahnya dewa tahu sampai ke akar-akarnya.

Sebenarnya sudah lama saya mendambakanmu," lanjut si 'Kamu'. "Tapi selama itu pula saya tidak berani menyatakanya. Saya khawatir ditolak mentah-mentah karena saya tidak cukup pantas menjadi pacarmu. Kamu kelewat perfet buat saya sehingga saya tidak yakin, apakah saya bisa membahagiakanmu. Saya menyukaimu Dini. Yakinlah, saya tidak main-main. Saya..."

"Belum selesai rayuannya?" potong Dini begitu telinganya mulai gerah.

"Ini bukan rayuan. ini kenyataan yang harus disampaikan."

"Di telepon ini nggak ada yang namanya kenyataan, Bung. Semuanya maya. Contohnya, kamu nggak jelas siapa. Jadi kalau kamu tiba-tiba ngelamar saya, saya anggap itu nggak penting saya dengar. Apalagi saya jawab. Saya lagi sibuk. Selamat...."

"Eit, jangan keburu bilang selamat sore, Din. Kita belum selesai ngomong."

"Apalagi? Males ah, saya jadi malu pada diri sendiri, karena masih juga ngelayanin oranh yang nggak kenal. Entar saya jai gila lagi."

"Oke.. oke. Saya sebut nama saya...."

"Nah gitu dong!"

Tapi nggak sekarang. Besok sore aja, oke?"

"Kelamaan!" Habis menerikkan kalimat itu, Dini langsung menutup telepon. Dia enggan mendengarkan kalimat berikutnya. Rasa penasaran telah habis dikikis kebosanan dan kekesalan yang terus menderas, karena lelaki itu bersikap sok misterius. Lagipula besok atau nanti malam atau kapan saja, cowok itu pasti akan menelponnya lagi, setidaknya untuk menanyakan jawabannya. Jadi inilah saat paling tepat untuk mempertahankan dan menaikkan 'harga'nya bukan justru membuka pintu lebar-lebar. Posisinya lebih menguntungkan untuk itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Tapi kejutan-kejutan yang hendak Dini ciptakan ternyata tak satu pun yang menjadi kenyataan. Bukan karena salah strategi, melainkan karena sudah seminggu si 'Kamu' tidak menghentk-hentak pesawat teleponnya. Tak ada sapaan hallo setiap sore. Aku bisa senewen mikirin bangsat ini, batin Dini setiap kali terpaksa termangu, menunggu orang yang ingin sekali dilumatnya.

Seminggu, dua minggu sampai genap satu bulan, ternyata si 'Kamu' belum menghubunginya. Keyakinan bahwa dia bakal menanyakan jawaban lamarannya, rontok sudah. Dini, mau tak mau mulai melupakan semuanya. Tapi sebelum setiap kenangannya memudar, Ayu familynya di Yogya menelponya. Tumben. Lebih tumben lagi, sewaktu dia bertanya, "Apa selama ini Mas Indra nggak pernah ngebel ke situ, Mbak?"

Dini celingukan. Terus terang dia nggak familiar dengan nama itu, meski samar-samar pernah didengarnya. "Indra? Indra siapa?"

"Masa nggak kenal? Dasar Mbak Dini nggak pernah silaturahmi sih!" Ayu tertawa kecil. "Itu lho, kakaknya Ayu yang kuliah di Bandung."

"Ooo..." cuma itu yang keluar dari bibir Dini. Lantas otaknya sibuk memutar memori kusut, sampai dia ingat: Indra, saudara jauh sepupunya yang hanya sekali bertemu langsung. Itu pun sudah usang. Lima tahun silam.

"Dia pernah menelpon Mbak ya?"

Dini panik mendengar ulangan pertanyaan yang semakin spesifik. "Nggak tuh!" Akhirnya dia berbohong. "Memang kenapa?"

"Ayah marah-marah tuh, pulsa telepon tiba-tiba bengkak. Padahal nggak biasanya kayak gini. Terus dari lembaran bukti print-out Telkom, ketahuan ada yang nelpon ke situ. Sore-sore lagi. Kebayangkan berapa habisnya. Kami curiga ini ulah Mas Indra karena satu-satunya yang berada di rumah jam-jam segitu cuma dia."

"Nggak tuh! Dini mengulangi kebohongannya. Mencoba meyakinkan.

"Ya udah, makasih."

Dini lekas menghambur ke kamar, setelah Ayu mengucapkan salam. Dia bingung. Di satu pihak, dia percaya, yang selama ini mengisi sore harinya adalah Indra. Di lain pihak, dia susah menerima kenyataan bahwa Indra benar-benar menyukainya. Disamping karena belum tahu benar sifat makhluk bernama Indra itu, dia juga enggan menjalin hubungan spesial dengan orang-orang yang punya ikatan famili.

"Dini!" panggil Mama tiba-tiba. "Ada telepon."

"Siapa?"

"Indra!"

Senin, 21 Januari 2013

Firasat

"Tetapi tak bisa dijelaskan sebab akibatnya antara jatuhnya foto dengan kecelakaan yang akan menimpa orang dalam foto tersebut!"

Prang..! Tiba-tiba saja foto anakku yang tergantung di dinding ruang tamu jatuh. Sontak, seisi rumah kaget. “Foto Mas Budi jatuh!” seru si bungsu.

Istriku yang sedang menyapu, bergegas lari ke depan meninggalkan sapunya begitu saja. Entah berapa kali ia menyapu dalam sehari. Akhir-akhir ini rumah memang selalu berdebu, akibat kemarau dan tiupan angin yang cukup kencang.

Kebetulan juga rumahku menghadap selatan yang berarti melawan arah angin. Jadilah, tiap kali angin bertiup, tiap kali pula ribuan bulir debu masuk rumah. Hujan debu menderas menyusup ke tiap sudut.

“Ya Allah!” terdengar istriku setengah berteriak. “Ada kejadian apa ini?”Nada suara istriku terdengar sangat khawatir. “Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa!” Seperti berdialog dengan dirinya sendiri, istriku melanjutkan kata-katanya.

Tampak ia berusaha menenangkan diri, meskipun usahanya sering tidak membuahkan hasil. Ia memang mudah panik, cepat khawatir dan percaya pada hal-hal yang berbau takhayul.

Aku yang sedang duduk menikmati sore sambil membaca novel ‘9 Matahari’ beteman secangkir kopi hitam, terpaksa berhenti sejenak. Kulihat bingkai fotonya masih utuh, hanya kacanya yang pecah menjadi beberapa bagian. “Sudahlah, kau bereskan saja kacanya. Bungkus pakai kertas yang agak tebal agar tak melukai tukang sampah nantinya!“ Aku kembali duduk dan melanjutkan lagi membaca halaman yang tertunda. “Bingkai dan fotonya kau simpan saja dulu, nanti tinggal mengganti kacanya!”

“Kemana tadi Budi pergi, ya?” tanya istriku sambil membereskan pecahan kaca. Tak jelas kepada siapa dia bertanya. “Kamis sore kan jadwalnya main futsal!” Aku mencoba menjawab tanya istriku, tanpa mengalihkan perhatian dari halaman buku yang kian menarik saja.

“Itu aku tahu, tapi maksudku, dengan siapa dia?”

“Tadi Mas Budi pergi sama Ardi naik motor!” Si Bungsu ikut manjawab, hanya saja ia tak menyebutkan kemana kakaknya pergi, mungkin yang ia tahu hanya Ardi ke rumah dan pergi lagi dengan Budi.

“Apa? Sama Ardi? Ardi, anak yang suka ngebut itu? Yang bunyi knalpot motornya seperti helikopter rusak?” Istriku tampak makin khawatir. Ardi memang suka ngebut kalau bawa motor. Mungkin pengaruh suara knalpotnya yang sangat keras hingga memicu adrenalin untuk mamacu motornya dengan kencang. Tipe anak SMA sekarang. “Coba kau susul saja dia sekarang! Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Budi!” “Ah, terjadi apa-apa gimana?Budi kan cuma main futsal, sudah biasa. Nggak usah terlalu khawatir!”

“Tapi, itu Pa…..itu fotonya jatuh! Kacanya pecah!” “Memang kalau fotonya jatuh kenapa? Apa hubungannya?”

“Itu petanda, Pak. Pertanda agar kita hati-hati dan siap untuk mencegah sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!”

Aku sangat yakin kalau foto itu jatuh akibat tiupan angin yang cukup kencang dari luar. Karena paku tempat mencantelkan bingkai terlalu kecil, maka bisa dipastikan tiap kali angin bertiup, tiap kali pula foto bergoyang dan akhirnya jatuh. Tapi penjelasan ini tak bisa diterima istriku. Ia yakin kalau angin yang masuk tak cukup kuat untuk menjatuhkan bingkai foto, dan mengapa tidak dari dulu-dulu foto itu jatuh, katanya.

“Kita berdoa saja, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa.” Aku mengalah.

“Tapi perasanku nggak enak, Pak. Seorang ibu punya perasaan lebih halus dibandingkan seorang bapak! Perasaan perempuan lebih peka, kalau laki-laki kebanyakan nggak punya perasaan!” “Cobalah kau hubungi dulu lewat HP-nya!”

Seperti baru saja tersadar, istriku langsung menyambar HP dan segera saja jari-jarinya sangat lincah memencet tombol keypad. Saat HP telah menempel di telinga, barulah ia sadar jika pulsanya telah habis. Ia pun segera saja menyambar HP-ku. Entah kebetulan atau apa, ternyata pulsaku juga habis, tak cukup untuk melakukan penggilan.

“Ya Allah, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa dengan anakku! Kok, bisa HP dua-duanya nggak ada pulsanya. Semoga saja ini bukan pertanda buruk!” Istriku seperti menghibur diri, meskipun kelihatan makin panik.

“Sudahlah, nggak usah panik! Coba sms aja barangkali masih bisa!”

Sms-pun akhirnya terkirim. Tapi Budi tak kunjung membalasnya. Ditunggu semenit, dua menit, hingga seperempat jam tak ada jawaban juga. Tentu saja hal ini membuat istriku makin cemas.

“Kok, belum dibalas juga ya? Biasanya anak itu selalu cepat menjawab sms!”

“Mungkin saja dia sedang main, jadi nggak mungkin jawab sms! Atau bisa juga pulsanya habis sperti kita!”

“Jangan ngaco! Perasaanku makin nggak enak saja!”

Untung saja aku telah terbiasa dengan kecerewetan istriku, dengan keluhan-keluhannya yang kadang berlebihan hingga aku tetap tenang saja. Makin kutenggelamkan diriku dalam lembar-lembar halaman novel yang kiankuat menarikku ke dalam lingkaran kisahnya.

Tapi seperti peribahasa, batu yang keras sekali pun jika terus-menerus ditetesi air akan berlubang juga. Keluhan istriku tentang kekhawatiran nasib Budi telah mampu menarik mataku dari halaman- halaman novel, mampu mencabut hatiku dari kisah-kisah dramatis yang tersaji, mampu membagi pikiranku beralih keluar dari rangkaian peristiwa yang makin memikat.

“Cobalah kau susul saja Budi, agar pulangnya tak diboncengkan Ardi yang suka ngebut! Aku sangat khawatir, Pak! Nih, lihat keringat dingin keluar dan dadaku juga deg-degan!” Istriku berkata sambil memamerkan leher jenjangnya yang berhias bintik-bintik keringat.

Tentu saja aku enggan menuruti kemauannya, karena aku tahu pasti Budi sudah tidak suka lagi aku jemput dari tempatnya main. Entah itu main di rumah teman, main futsal, atau pulang ekskul di sekolah. Dia baru mau aku boncengkan kalau dari ruimah memang sudah bersamaku. Gara-garanya ia pernah diolok-olok teman-temannya sebagai anak kecil yang kalau main masih disuruh pulang. Lebih tragis lagi dianggap sebagai anak ayam yang kalau sore nggak masuk kandang akan dicari pemiliknya, karena dianggap nggak tahu jalan pulang. Oleh karenanya, aku tidak ingin Budi mendapat olok-olok lagi dari teman-temannya.

Aku maklum. Bahkan senang karena itu berarti ia tak lagi membebaniku. Anak sebesar dia memang sudah saatnya untuk belajar bertanggung jawab tehadap dirinya sendiri. Tidak bergantung pada orang lain. Meskipun akhirnya aku sendiri pusing dengan permintaannya untuk dibelikan motor.

“Cepatlah, Pak! Biasanya setengah jam lagi dia pulang! Kau harus sampai sebelum mereka selesai. Aku takut. Sekarang lalu lintas lagi ramai. Apalagi harus lewat jalur pantura dengan bus dan truk besar!”

Istriku kelihatan makin gusar, “Apa kau lebih peduli dengan novel sialan itu daripada nasib anak kita sendiri!”

Kata-kata istriku makin ngawur saja. Bolehlah ia tak suka membaca novel. Bolehlah ia tak suka membaca buku, tapi aku sama sekali tak suka dituduh tak peduli dengan keselamatan anakku. Apalagi ini hanya gara-gara firasat konyol yang tak bisa dijelaskan dengan nalar sehat! Memang semua kejadian ada rangkaian sebabnya, seperti hujan yang didahului mendung, gunung meletus ditandai dengan turunnya binatang ke bawah.

Tetapi tak bisa dijelaskan sebab akibatnya antara jatuhnya foto dengan kecelakaan yang akan menimpa orang dalam foto tersebut! Hal seperti itu hanya ada dalam sinetron, mungkin gara-gara sering nonton sinetron maka istriku seperti tak lagi bisa membedakan dunia nyata dan dunia rekaan di layar kaca. Kalau biasanya penulis naskah mengangkat kisah nyata ke dalam sinetron, maka istriku membuat yang sebaliknya menjadikan kisah sinetron menjadi skenario kehidupan nyata.

“Cepatlah, Pak kau susul dia! Perasaanku makin nggak enak. Sms juga belum dibalas sampai sekarang!” “Tenang Bu, nggak perlu gugup! Semua yang dikerjakan dengan terburu-buru hasilnya akan jelek!”

“Ini cepat Pak, bukan terburu-buru! Cepat berarti tidak lamban, kalau kita selalu lamban, kita akan ketinggalan terus, nggak akan kebagian apa-apa!”

Dengan sedikit niat untuk memperlambat tempo, aku mengulur waktu keberangkatan menjemput Budi dengan terlebih dulu membeli pulsa tak jauh dari rumah. Biar istriku bisa menelepon dan perasaannya bisa lebih tenang. Siapa tahu setelah itu aku bisa terbebas dari tugas menjemput Budi dari tempatnya bermain futsal. Hingga aku pun bisa terbebas dari rasa bersalah membuat Budi malu di hadapan teman-temannya.

Meskipun aku tak yakin setelah istriku bisa menelpon, aku akan tebebas dari tugas menjemput Budi. Sebab kekhawatiran istriku tidak hanya pada nasib Budi sekarang, tetapi yang utama adalah keselamatan Budi dalam perjalanan pulang nanti.

Begitulah, saat istriku mulai menghubungi Budi lewat telepon, aku berdoa dalam hati agar anakku ngomong sama ibunya kalau ia tak mau dijemput. Atau dia sudah dalam perjalanan pulang sehingga aku tak perlu lagi menjemputnya. Kini giliranku yang cemas. Bukan cemas karena foto Budi yang jatuh, tetapi mencemaskan isi obrolan lewat HP nanti.

“Nggak nyambung, Pak! Cobalah dengan HP-mu!”

Selesai kutekan nomor Budi, tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita dari seberang sana, “ Nomor yang Anda tuju…..”

Sekarang aku tak tahu perasaan apa yang ada dalam hatiku.

Istriku makin panik.Padahal biasanya nomor-nomor kami sangat mudah dihubungi satu sama lain karena satu operator. Kebetulan yang aneh.

Berulang kali kami coba, tetap sama hasilnya. Kami seperti berlomba, seperti berharap menang undian, nomor siapa yang akan menjadi pemenang. Namun perlombaan usai tanpa pemenang. Kami terdiam sesaat. Diam sama-sama sebagai pecundang.

Selanjutnya mudah diduga, istriku langsung memintaku , oh, bukan meminta tapi lebih tepatnya menyuruhku segera berangkat menyusul Budi. Inilah salah satu kesulitan punya istri yang nggak bisa naik motor. Tidak bisa pergi sendiri. Kemana-mana selalu minta diantar. Tidak bisa gantian menjemput anak.Dan saat ini aku tak punya pilihan lain kecuali aku sendiri yang menjemput Budi. Tak bisa aku limpahkan ke istri.

Dengan sedikit berat hati aku berangkat menjemput Budi, bukan karena aku nurut atau karena takut terjadi apa-apa dengan Budi sebagaimana yang dipercayai istriku. Aku hanya tak ingin lagi mendengar omelannya, gerutuannya, atau keluhannya yang hanya membuat telinga panas.

Kupacu sepeda motor dengan kecepatan sedang, boleh dikata sangat lambat untuk ukuran orang yang dalam keadaan genting. Saat tiba di jalur pantura, mulailah terasa kalau aku benar-benar lambat memacu sepeda motor. Tidak hanya truk dan bus yang berdesing di sebelah kananku, tetapi motor-motor lain pun hanya menyisakan suara bising di telinga saat melintas.

Sampai di tujuan, aku langsung masuk halaman parkir , sambil mengamati motor yang berderet di tempat parkir. Begitu kulihat motor Ardi ada di situ, bukannya aku senang karena Budi belum pulang, tetapi aku malah bingung, tak enak hati. Bagaimana perasaan Budi nanti saat melihat aku disini? Bagaimana aku sendiri harus bersikap? Aku makin senewen, aku sebagai bapaknya kok malah tak bisa jelas bersikap. Apa yang harus aku jelaskan pada Budi kalau dia tanya mengapa aku menjemput? Haruskah kukatakan saja apa adanya tentang kekhawatiran ibunya, tentang ibunya yang menyuruhku menjemput, hingga bisa menghilangkan sedikit rasa bersalahku? Atau kupakai alasan lain, mau kuajak beli sesuatu di toko, misalnya.

Belum sempat aku memutuskan harus bagaimana, belum sempat aku mematikan mesin motor yang ternyata masih menyala, Budi dan teman-temannya keluar bermandikan peluh. Wajah mereka tampak kemerahan , rambutnya masih basah oleh keringat, dan sorot matanya menampakan kegembiraan. Namun kegembiraan Budi seketika berubah, air mukanya menjadi penuh tanda tanya. Pancaran keriaannya berubah menjadi suram. Apalagi setelah terdengar koor teman-temannya…,”Anak babeh, nih….”

Aku sama sekali tak tega mendengar gurauan teman-temannya yang bernada mengolok-olok. Tapi apa boleh buat, semua harus aku dengarkan. Segera Budi kusuruh naik dan motor aku jalankan. Kali ini dengan kecepatan penuh. Ingin rasanya meninggalkan tempat yang sebentar saja telah membuatku merasa bersalah. Kulewatkan semuanya bersama angin yang menderu deras di wajah. Berpapasan dengan angin membuatku merasa lebih nyaman. Aku juga merasa lebih lega karena trnyata kekhawatiran istriku sampai detik ini tak terbukti.

Aku melaju di atas aspal mulus, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Kami seperti dua orang asing dalam ruangan yang sama, berdekatan tapi tak tahu harus berkata apa. Aku hanya sibuk mengembara dengan pikiranku sendiri. Aku pun sangat yakin kalau Budi berbuat hal yang sama. Meskipun demikian, kedua tanganku tak salah mengendalikan stang, mungkin karena jalannya sering aku lalui hingga motorku pun seperti punya mata sendiri mengarahkan roda kemana harus berputar.

Hingga tiba di sebuah tikungan, aku kaget ketika ada anak kecil bersepeda agak ke tengah jalan. Untunglah, meskipun motor dalam kecepatan tinggi, aku masih sempat menghindar. Namun, karena terlalu lebar ke kanan, aku tak lagi mampu menghindari sebuah mobil yang melaju tepat ke arah kami.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa aku berbaring di ruang ini? Seperti rumah sakit!

Tegal, Januari 2012

Sumber : Kompas

Sabtu, 19 Januari 2013

Mengguak Asal Usul Nama Pemulutan

Beratus-ratus tahun lalu, nama Desa Pemulutan yang kini telah berkembang menjadi sebuah Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir (OI) bernama Sudi Mampir. Nama Pemulutan yang kini melekat, diyakini berasal dari sejarah mistis seorang muyang di kawasan tersebut yang menangkap buaya dengan menggunakan getah (molot, red) pohon pulai.

Cerita ini bukanlah legenda ataupun mitos, sangat diyakini masyarakat Pemulutan. Pasalnya, keturunan muyang tersebut, adalah orang-orang yang kini dikenal masyarakat sebagai pawang buaya. Bagaimana ceritanya? Berikut penusuran Sumeks Minggu.

Menempuh perjalanan ke Desa Pemulutan cukup jauh. Dari jalan raya, Palembang-Indralaya, koran ini harus masuk hingga 7 km masuk ke dalam. Di desa Pemulutan sendiri, beberapa masyarakat yang sempat dibincangi koran ini menyakini asal usul nama Pamulutan berasal dari salah seorang muyang di daerah mereka yang dulu pernah “molot” buaya.

Meski mengetahui banyak cerita seputar puyang tersebut,masyarakat tampaknya enggan bicara lebih lanjut. Karena keturunan langsung dari puyang tersebut menurut mereka hingga kini masih ada. Salah satunya Abdul Hamid (77), warga Desa Pemulutan Ilir.

Abdul Hamid sendiri, dikenal masyarakat luas sebagai pawang buaya. Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat luas telah meminta jasa Abdul Hamid untuk mengatasi permasalahan buaya-buaya yang kerap mengganggu masyarakat.

Kesaktian Satu Dari Tujuh Bubungan
Meski telah berkepala tujuh, sosok Abdulah Hamid ternyata masih gagah. Giginya yang sudah banyak tanggal karena dimakan usia, tak membuat pria yang kepalanya sudah dipenuhi uban ini sulit bicara. Ditemui di kediamannya Kamis (30/8) lalu, Hamid menceritakan, sekitar 800 tahun lalu, di desa Pamulutan terdapat tujuh bubungan (rumah, red) dianugerahi Allah SWT kesaktian. Kala itu, nama Desa mereka adalah Sudi Mampir.

Kesaktian tersebut, ilmu harimau, buaya, ular, racun, dukun patah tulang, ilmu besi dan kayu serta ilmu menyembuhkan orang gila. Bubungan dimaksud Hamid, adalah rumah orang-orang di kawasan Desa Sudi Mampir. “Mereka masih terbilang keluarga. Rumahnya tidak berdempet. Cukup berjauhan satu sama lain tapi berada di satu desa. Yakni desa Sudi Mampir yang sekarang namanya berubah menjadi Pemulutan,” ujar Hamid.

Dari tujuh bubungan tersebut, bubungan buaya memiliki kisah tersendiri. Karena daerah Pemulutan berada di pinggiran sungai Ogan yang begitu luas, banyak buaya bermunculan. Buaya-buaya ini pun sempat memangsa orang.

Buaya yang memangsa orang ini lanjut Hamid berasal Pamulutan bernama Peti Bongkang, dari Kebun Gede 35 Ilir Raden Tokak, serta dari sungai Goreng Naga Swidak Plaju bernama Tambang Areng.

Melihat masalah ini, muyang dari Pemulutan yang bernama Malik khawatir anak cucunya habis dimakan buaya. Ia kemudian menebang sebuah batang pohon Pulai. Batangnya dilintangkan di sungai. Oleh muyang tersebut, pohon di cacah agar getahnya keluar. Getah yang keluar inilah digunakan untuk menangkap (molot, red) buaya.

Cara ini menurut Hamid berhasil menangkap buaya yang acapkali berulah, memangsa manusia. Muyang Malik sempat menghunuskan pedangnya berniat membunuh buaya yang kena “polot” terhenti karena kedatangan tiba-tiba, empat orang diyakini sebagai mahluk halus, penunggang buaya tersebut.

Mereka sempat bertanya kepada muyang Malik mengapa sampai menghunus pedang? Sang Muyang menurut Hamid kemudian menjelaskan maksud tujuannya yang hendak membunuh para buaya karena dikhawatirkan akan memakan anak cucunya nanti. Keempat orang ini kemudian berjanji, jika buaya tersebut tidak dibunuh, jika di panggil mereka akan datang dan membantu muyang tersebut termasuk keturunannya terhadap permasalahan seputar buaya.

Janji tersebut memang ditepati. Sejak muyang Malik, jika buaya dipanggil, 10 hingga 15 menit langsung datang. Termasuk dengan empat penunggangnya. Cerita keturunan kedua bernama Kamaluddin bergelar Ratu Jurum pun tak jauh berbeda.

Namun pada keturunan ketiga, bernama Punggawa Cabuk bergelar Raden Jurung hanya buaya saja yang datang. Penunggannya tidak kelihatan hanya suara penunggang yang terdengar. Pada muyang keempat bernama Tunak dengan gelar Raden Kuning, buaya sudah lambat datang, penunggang tidak ada termasuk suaranya.

Pada keturunan kelima bernama Imang bergelar Raden Sentul, buaya tidak lagi datang, namun bisa diusir. Termasuk pada keturunan keenam Abdullah bergelar Raden Intan. Buaya tidak lagi datang, namun bisa diusir.

“Sedangkan saya, generasi ketujuh dengan gelar Pendekar Jurung Jurung Mata Intan, buaya dipanggil tidak lagi datang, diusir masih mau,” jelas Abddulah Hamid.

Hingga kini, tenaga Hamid telah digunakan oleh banyak orang di berbagai daerah untuk mengusir buaya. Dari Desa Tanjung Jumbung, kawasan Muara Tembesi, Serolangun Jambi. Kemudian di Desa Permis serta Serdang Bangka Belitung (Babel), kawasan Selapan,kawasan Gasing Banyuasin hingga ke kawasan Limau Sumbawa.

Bahkan, berkat keahliannya menjinakan buaya, Abdullah Hamid pernah lima tahun tinggal di Singapura. Ia bekerja di sebuah sirkus. “Namanya itu Crocodile show,” tandas Hamid.

Camat Pemulutan Bahrus Syarip MSi didampingi Kasi Pemerintahan Mareta membenarkan adanya keyakinan masyarakat seputar cerita muyang Pemulutan. Hingga kini, nama Pemulutan yang sudah berkembang menjadi Kecamatan memiliki 25 desa.

Seputar sungai Ogan yang melintasi Desa Pemulutan dan sekitarnya hingga kini tetap menjadi tumpuan utama masyarakat. Mayoritas masyarakat, berprofesi sebagai nelayan yang mencari ikan di sungai. Profesi lain, bertani dengan menanam padi dengan hasil panen satu tahun sekali. (wwn)

Kisah Bujang, Buaya Peliharaan Berusia Tiga Tahun
Buaya-buaya di sungai sepanjang sungai Ogan tampaknya masih cukup banyak. Warga Desa Pamulutan sendiri hingga kini masih sering melihat buaya-buaya berukuran besar menampakan diri di perairan. “Ukurannya jangan ditanya lagi. Sisiknya saja ada yang sebesar genteng,” ucap salah seorang warga Desa Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan Ogan Ilir, kepada Sumeks Minggu beberapa hari lalu.
Itulah mengapa anak-anak buaya seringkali ditemukan warga Kecamatan Pemulutan yang kerap mencari ikan. Para nelayan ini acapkali memberikan anak-anak buaya ditemukan pada Burniat (61), warga Pelabuhan Dalam. Oleh Burniat, anak-anak buaya tersebut di peliharanya.

“Kalau dulu bisa melihar sampai tujuh ekor. Kalau besar, dijual. Sekarang tidak bisa jual lagi. Bisa-bisa ditangkap polisi,” ujar Burniat.

Pun begitu, kebiasan Burniat yang sejak lama hobi memelihara buaya tak juga hilang. Hingga kini, ia masih memiliki seekor buaya diberi nama Bujang.Buaya ini didapatnya tiga tahun lalu. Ketika itu, panjangnya hanya 70-80 cm. Sekarang, panjangnya hampir mencapai tiga meter.

Memelihara buaya ternyata tidak sulit seperti dibayangkan. Burniat mengaku memberi makan buaya hanya dengan potongan kaki atau kepala ayam yang tidak laku dijual dari peternakan. “Kalau sudah besar, seminggu sekali bisa dikasih satu ayam yang sudah mati. Sama sekali tidak keluar uang buat melihara buaya,” ujar Burniat.

Bujang sendiri saat dilihat koran ini berada di sebuah kerangkeng besi. Buaya ini sulit bergerak karena kecilnya kerangkeng yang ada. “Kadang dilepas juga. Tapi kalau kolam saya sedang tidak ada ikan. Kalau lagi ada ikan, habis semua ikannya. Kadang juga pergi dia beberapa hari. Tapi, pasti balik lagi kalau lagi lapar,” ungkap Burniat.

Khusus Bujang samasekali tidak akan dijual oleh Burniat. Hingga kini, Bujang acapkali dipinjam pihak Kecamatan Pemulutan untuk pameran. Pernah juga, sekitar delapan bulan lalu, buaya ini digunakan Panji untuk program TV swasta nasional, Panji si Petualang. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 04 September 2012 12:29 | SumeksMinggu