Kamis, 09 Mei 2013

Ambar dari Gang Mawar

Cerpen: Ikhtiar Jannati Arini

Seperti perempuan lainnya, ketika jodohnya telah tiba, perempuan bernama Ambar yang tinggal di Gang Mawar itu menikahlah. Segera tersiar kabar: Ambar dan Umar menikah di Gang Mawar. Setahun kemudian tersiar kabar di Gang Mawar: Ambar mengandung.

Kepada Umar, Ambar berkata. "Kalau kendunganku membesar, bos supermarket tempatku bekerja pasti memecatku, sebab itulah peraturan di sana."

"Tapi apa. Aku bisa kerja lembur terus. Aku bisa ambil upahan apa saja pada hari Minggu. Malam aku bisa ngojek."

"Tapi, aku ingin, hari Minggu Kakak ada di rumah bersamaku dan bersama anak kita," kata Ambar seolah-olah anaknya sudah lahir. "Kakak juga jangan ngojek malam hari. Pikirkan kesehatan Kakak."

"Kalau aku tidak lembur dan tidak ngojek sampai malam, dari mana kita bisa menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak kita?" Ambar terdim. Umar membelainya dengan belaian yang meneduhkan.

Malam berikutnya, Ambar bertanya kepada Umar. "Kak, kue buatanku enak tidak?"

"Sangat! Mengapaa? Aku lupa memuji, ya? Maaf ya..."

"Nah, kalau enak, mengapa kita tidak jualan kue saja? Aku titipkan di warung-warung dan di pasar, Kakak bawa ke tempat Kakak kerja, Kakak tawarkan kalau-kalau ada orang hajatan yang mau pesan kue buatanku.."

Umar membelai kepala Ambar. "Istriku, istri nomor satu di dunia." Ambar merasa melambung ke langit lapisan tertinggi oleh pujian Umar.

Umar mencari pinjaman dari sana-sini untuk modal awal usaha. Lamban laun, mulai banyak orang yang memesan kue buatan Ambar. Umar tambah bersemangat mempromosikan kue buatan Ambar. "Tapi janji, ya... Ambar, kamu harus janji, mengasuh anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknya!"

"Oke, Bos! Siap laksanakan!"

Ketika anak Ambar lahir, Ambar memenuhi janjinya. Umar bersyukur sekali, anaknya terurus dengan baik. Tentu saja ia sangat bersyukur mengingat banyak anak orang lain yang tidak diasuh dengan baik oleh ibunya sendiri gara-gara sang ibu sibuk oleh pekerjaan atau usaha lain.

Tak lama kemudian, perempuan bernama Ambar itu mengandung lagi lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi. Dua anak perempuan dan dua anak laki-laki diamanahkan Allah baginya dan bagi suaminya. Umar menamai mereka: Jamilah, Hasan, Robiah, dan Sofyan.

Adapun lelaki bernama Umar itu, tiada henti-hentinya bersyuukur. Semua anaknya disusui sendiri oleh Ambar dengan tuntas. Ambar sendiri yang mengantar dan menjemput anak-anak mungil itu sekolah dan mengaji. Ambar bersusah payah mejalankan usaha kuenya, tetapi tetap memegang teguh janjinya: mengasuh anak-anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknnya.

Kalau Umar tidak bekerja sebagai buruh bangunan, ia memilih membantu Ambar membuat kue dan menjualnya daripada ngojek agar ia bisa lebih banyak bersama Ambar dan anak-anaknya.

Lama kelamaan, berkat promosi yang gencar dilakukan Umar, pesanan bertambah banyak, Ambar mulai merasa kesulitan menjalankan usaha itu sendiri. "Bagaimana kalau kita buat gerobak kue. Kita jualan di pinggir jalan . Mudah-mudahan laris dan lama-lama kita bisa sewa kios kecil di pinggir jalan...."

Umar terdiam. Ia berpikir. "Nanti dulu. Anak-anak kita masih kecil-kecil. Kalau kamu sibuk jualan di pinggir jalan, anak-anak kita bagaimana? Justru ketika mereka masih kecil-kecil, mereka butuh perhatian penuh dan didikan yang baik dari kamu sebagai ibunya. Mengapa tidak seperti selama ini saja. Kita buat kue di rumah. Orang-orang pesan, mengambi sendiri di rumah kita atau kita upah orang lain untuk mengantarnya?"
"Begini, Kak.... Maksudku, bagaimana kalau Kakak yang jualan di pinggir jalan.... Aku tetap di rumah, buat kue dan mengasuh anak-anak.... Yakinlah, Kak.... Anak-anak kita tetap terurus dengan baik semampuku."

Umar terdiam lebih lama. Berpikir lembih lama. "Godaan" untuk dapat uang lebih banyak menari-nari dalam angannya. Namun, bersamaan dengan itu, ia merasa harga dirinya sebagai lelaki dan sebagai kepala rumah tangga mulai terusik.

"Begini.... Sejak awal, ini usaha kamu,'kan? Aku senang. Aku dukung. Tapi, ingat, niat awal kamu, dan yang aku bayangkan selama ini, kamu melakukan itu untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga. Bukan untuk mengambil alih tanggung jawabku mencari nafkah. Kalau kamu suruh aku yang jualan di pinggir jalan, berarti kamu suruh aku berhenti jadi buruh bangunan! Artinya apa? Artinya, sejak saat itu aku tidak lagi cari nafkah sendiri untuk kamu dan anak-aank! Artinya apa? Artinya, aku tergantung padamu paadahal aku suamimu!"

"Kata siapa, Kak? Ini usaha kita bersama. Kakak yang cari modal awalnya, 'kan? Kakak yang promosikan, Kakak bantu aku antar kue ke pembeli yang memesan. Kakak juga bantu aku buat kue kalau Kakak sedang tidak kerja."

Umar diam seribu bahasa. Ambar akhirnya berkata. "Sekali lagi aku mohon maaf, Kak! Tolong lupakan saja permintaanku tadi."

"Ya, sudahlah! Aku maafkan.... Aku mau pergi dulu, takziah ke rumah kenalan di kampung sebelah." Ambar mengantar Umar sampai ke pintu dengan air mata berurai. Ia menyesal telah membuat hati suaminya terluka.

Baru beberapa langkah Umar berlalu, Ustadzah Arni mengetuk pintu. Ia hendak memesan kue untuk konsumsi jemaah yang akan menghadiri peringatan Tahun Baru Hijriyah. Ambar buru-buru menghapus air matanya, tetapi bekas menagis masih terlihat oleh Ustadzah Arni.

Karena Ustadzah Arni terkenal dapat dipercaya menjaga rahasia dan sering dapat memberikan solusi atas masalah rumah tangga, Ambar curhat padanya. Lagi pula, Ustadzah Arni adalah bibinya sendiri. "Aturlah agar kita bertiga dengan suamimu dapat bicara dari hati ke hati. Insya Allah ada jalan keluarnya."

Dalam pertemuan itu, Ustadzah Arni berkata, "Kau lelaki yang baik, Umar. Kau tidak mau makan keringat istrimu. Aku kagum padamu. Sebelumnya maafkan aku kalau aku kau anggap mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, aku ini bibi kalian. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Keputusanmu Umar, kuakui, sangat baik dan sangat tepat, Begitulah seharusnya lelaki. Ambar sangat beruntung,menjadi istrimu. Tapi, maukah kalian kutawarkan sesuatu yang lebih baik lagi?"

Muqoddimah yang disampaikan Ustadzah Arni mampu mencairkan egoisme Umar sebagai lelaki. Ia mengangguk.

"Usaha kue kalian harus dipertahankan dan harus dikembangkan. Melihat perkembangannya selama ini, usaha kue kecil-kecilan ini dapat bertahan lama bahkan dapat lebh maju asal kalian lebih serius dalam penjualan. Memancing minat beli dengan memajang kue di gerobak di pinggir jalan ada baiknya dilakukan selain menunggu pesanan datang ke rumah kalian."

"Maaf, Bibi sudah tahu penirianku...," Umar menyela.

"Karena itu, kutawarkan padamu begini. Kau beli usaha kue itu dari Ambar. Suruh Ambar hitung berapa nilai usahanya sekarang. Belilah usaha itu supaya jadi milikmu. Terserah kalian mau kontan atau dicicil. Sesuadah itu, suruh Ambar bekerja padamu sebagai pembuat kue. Kau gaji dia sebagai pembuat kue. Maka, seluruh keuntungan akan merupakan hasil usahamu sebagai suami. Maka, kau tak perlu lagi merasa tergantung pada istrimu sebab nyatanya kaulah yang mengelola dan menentukan, kau bos-nya...."

Wajah Umar cerah. Itu gagasan yang "aneh" tapi cemerlang. Pantas saja banyak orang yang meminta bantuan kepada bibinya itu untuk menyelesaikan masalah tertentu. Namun, wajah cerah Umar segera meredup. "Aku tak punya uang...."

"Kau boleh pinjam uangku. Aku sudah minta izin suamiku untuk meminjamkan uang kepadamu. Tapi harus ada surat perjanjian bahwa utangmu akan kau lunasi.... Kita buat perjanji itu di rumahku. undanglah Ketua Masjid sebagai saksi di pihakku, dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sabagai saksi di pihakmu. Jangan lupa undang Ketua RT untuk mengetahui perjanjian itu!"

Ambar tersenyum dalam hatinya. Gagasan agar Umar membeli usaha kuenya itu murni gagasan Ustadzah Arni, sedangkan gagasan mengundang Ketua Masjid dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sebagai saksi serta Ketua RT sebagai pejabat yang mengetahui perjanjian itu adalah gagasan Ambar. Tujuannya agar tanpa harus cerita dan menjelaskan dengan siapa-siapa, berita akan tersebar dengan cepat dari mulut ketiga orang itu bahwa: usaha kue itu telah "sah" berpindah tangan menjadi milik umar karena ia telah membelinya meskipun membeli dengan istrinya sendiri, bahwa bukan Ambar yang "berkuasa" atas usaha itu, melainkan Umar.

Begitulah sebagian kisah dari perempuan bernama Ambar, yang tinggal dan menikah di Gang Mawar, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya di Gang Mawar.

Dari mana aku tahu kisah itu?Aku tahu kisah itu sejak lama sebab aku juga tinggal di Gang Mawar. Untuk apa kukisahkan kepadamu? Untuk membanggakan perempuan bernama Ambar itu: perempuan yang menguras tenaga dan pikirannya untuk membantu menambah penghasilan keluarga, tetapi tetap mengasuh dan mendidik anak-anaknya: perempuan yang ikhlas melakukan yang terbaik agar dapat mengumpulkan rezeki untuk biaya pendidikan anak-anaknya tanpa membuat suaminya merasa kehilangan harga diri.

Mengapa kubanggakan ia, perempuan bernama Ambar itu? Sebab sejak berada dalam rahimnya, aku telah merasakan kasih sayangnya yang total! Sebab sejak keluar dari rahimnya, aku merasakan usahanya yang gigih agar aku dapat mengenal Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah!.

Kenalkan namaku Jamilah bin Umar: Adik-adikku ada tiga: Hasan bin Umar, Robiah bn Umar, dan Sofyan bin Umar. Ya! Ibuku Ambar, bapaku Umar, kami tinggal di Gang Mawar. (*)

Citra Budaya

Sematera Ekspres, Minggu, 31 Maret 2013

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Iwan Lemabang

LEMABANG 2008

Selasa, 07 Mei 2013

Legenda Puteri Dayang Merindu

Cinta adalah jabaran sebuah kata yang sarat akan makna....

Begitu luasnya makna yang terkandung dalam cinta....

Sehingga maut pun menjadi taruhannya....

Begitu juga dengan logika dan akal yang seringkali hilang hanya karena alasan cinta....


ALKISAH zaman dahulu dikenal seorang putri cantik dari Tanjung Iran Niru yang bernama Dayang Merindu. Puteri ini merupakan cucu dari seorang yang disegani dan dihormati yaitu Rie Carang.

Dayang Merindu yang digambarkan berambut panjang bak mayang terurai ini menjalin kasih dengan jejaka tambatan hati yaitu Naring Cili yang terkenal sakti dari Dusun Galang Tinggi. Hubungan cinta ini sudah disepakati kedua belah pihak dan ketika masanya sang Naring Cilik akan meminang Dayang Merindu, maka disepakati beberapa permintaan dari Dayang Merindu, diantaranya sirih selebar Niru, pinang sebesar kulak, puyuh setakin, dan perhiasan.

Semuanya dapat dipenuhi Naring Cili kecuali tanduk kerbau Lambuare yang tak kuasa dicari Naring. Tetapi bukan berarti Naring Cilik kecewa dan putus asa. Untuk mencari tanduk kerbau itu, Naring minta bantuan Tumanggung Mintik dengan syarat mau menyerahkan kesaktian dan disetujui Naring.

Alhasil, tanduk tersebut dapat ditemukan di wilayah Kerajaan Mataram, tetapi itu memakan waktu berbulan-bulan sementara Dayang Merindu menanti tanpa kabar dan kepastian dari Naring

Dayang merindu menghibur diri bersama dayang-dayangnya yaitu mandi di sungai. Ketika mandi disungai inilah, bokor yang berisi peralatan dan rambut Dayang Merindu hanyut terbawa arus dan ini membuatnya sedih.

Alkisah, bokor ini ditemukan rakyat Sunan Adi Maskayedipati (Palembang) dan langsung diberikan kepada Sunan mereka. Sang Sunan yang melihat bokor memastikan pemiliknya puteri yang cantik, apalagi dengan bantuan Tumanggung Mintik dan Karangge Sintik yang mempunyai ilmu tinggi dalam melakukan pencarian.

Alkisah, pemilik bokor ditemukan dan segera dilamar Sunan kemudian resmi menjadi istrinya. Sementara ditempat lain Naring Cili yang sudah menemukan tanduk kerbau yang dimaksud segera mendatangi Dayang Merindu, tetapi ditolak keluarga Dayang Merindu karena sang puteri sudah dipinang di Palembang.

Murkalah Naring Cili dan segera menyusul ke Palembang. Akhirnya terjadilah pertempuran yang banyak memakan korban nyawa. Dayang Merindu yang mengetahui hal ini, berinisiatif daripada banyak korban, maka dirinya rela tubuhnya dipotong dua dan itu dengan berat hati dilakukan Naring Cili. Sebelah potongan tubuh Dayang Merindu dimakamkan di Tanjung Iran Niru, Muaraenim dan sebelah lagi yaitu bagiang pinggang ke bawah di bawah Sunan untuk dimakamkan di daerah Palembang.

Sriwijaya Post

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IWAN LEMABANG

Senin, 06 Mei 2013

Buku Harian Seorang Sahabat

Cerpen: Ferry Hardono

Sesungguhnya hatiku bimbang. Baca… jangan… baca… jangan…. Aku tahu bahwa aku tak boleh membaca buku harian orang lain. Walaupun itu milik sahabatku sendiri. Tapi kupikir… tak apa-apa kalau buku itu kubaca. Toh selama ini tak ada rahasia di antara kami berdua. Dedi selalu menceritakan semua rahasianya kepadaku, dan begitu pula sebaliknya denganku. Paling-paling isi buku itu semua hal yang sudah kuketahui. Kecuali… sikap aneh Dedi yang aku rasakan selama hari belakangan ini. Jadi….

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Hari ini aku bersemangat sekali pergi ke sekolah. Bukan karena pelajaran-pelajarannya sudah tak membosankan lagi. Bukan. Tapi aku ingin cepat-cepat bertemu Dedi, sahabatku, untuk memberitahu dia bahwa sejak malam Minggu kemarin Dessy sudah resmi menjadi pacar tercinta Aji Wisana. Alias sudah resmi menjadi pacarku.

Setibaku di sekolah, aku segara ke kelas sahabatku itu. Tapi sedikitpun tak nampak batang hidungnya. “Rin, Dedi mana?” tanyaku pada Rini, teman sekelasnya, yang sedang berdiri di pintu kelas.

“Hari ini dia tidak sekolah,” jawab Rini.

“Kok kamu tahu?”

“Kemarin malam dia menelponku. Ngasih tahu kalau hari ini dia nggak masuk. Sekalian mau pinjam catatanan matematika hari ini.”

“Kenapa dia? Sakit?”

“Nggak tahu. Dia nggak bilang kenapa. Mungkin juga dia sakit. Soalnya, waktu menelponku itu, ngomongnya kelihatan lesu sekali. Nggak bercanda-canda seperti biasanya.”

Aku hanya manggut-manggut mendengar pemberitahuan ini. Setelah bilang terima kasih, aku beranjak pergi ke kelasku.

Sambil berjalan, aku jadi terus memikirkan Dedi yang kurasa bersikap aneh, bagiku, sejak beberapa hari yang lalu. Lebih-lebih di hari Sabtu dan Minggu kemarin. Dia selalu tak ada setiap kali kutelepon. Tapi ternyata dia menelepon Rini. Kenapa dia tidak meneleponku? Padahal, biasanya, dia selalu menelepon dan mengajakk jika mau bolos sekolah. Tapi kali ini, dia sama sekali tidak meneleponku. Aneh. Ada apa dengan dia, ya? Lebih baik, sepulang sekolah nanti, aku ke rumahnya saja. Siapa tahu dia benar-benar sakit. Siapa tahu….

“Selamat siang, Mbak Tika. Dedi ada?” Mbak Tika, kakak Dedi yang membuka pintu, tersenyum ketika melihatku.

“Oh, Aji. Baru pulang sekolah?”

“Iya, Mbak. Kenapa hari ini Dedi nggak sekolah, Mbak? Sakit?”

“nggak. Nggak tahu kenapa. Tadi pagi dia bilang kepalanya agak pusing. Tapi sekitar jam sebelas tadi, dia malah pergi. Pakai mobil. Nggak tahu kemana. Mungkin sebentar lagi dia pulang. Mau ditunggu?”

Aku mengangguk.

“Kalau gitu, tunggu di kamarnya aja. Terus kalo kamu lapar, mau makan, minta saja sama Bik Nah di dapur. Kamu pasti belum makan siang ‘kan?”

“Waduh, jadi merepotkan nih, Mbak.”

“Nggak apa-apa. Sekalian kamu bantu jaga rumah sampai Dedi pulang. Soalnya sebentar lagi Mbak mau berangkat kuliah. Jadi rumah kosong.

“Tante dan Budi mana, Mbak?”

“Mama sedang menjemput Budi di sekolahnya. Tapi, nggak tahu kenapa sampai sekarang belum pulang juga. Mungkin mereka belanja dulu. Sudah, ya? Mbak pergi dulu.”

Aku menganggukkan kepala. Dan setelah Mbak Tika pergi, aku beranjak ke kamar Dedi. Sesampainya di sana, aku duduk dimeja belajarnya. Wah, makin banyak saja koleksi novel sahabatku ini. Kuambil beberapa novel yang seingatku, belum pernah aku baca, dari rak meja. Namun perhatianku segera beralih ke sebuah buku bersampul biru tebal dibalik tumpukan novel-novel yang kuambil tadi. Dan ketika buku itu kuambil dan kubuka… ternyata buku harian Dedi.

Aku tersenyum dalam hati. Selama ini aku tak tahu, dan tak menyangka, kalau orang secuek sahabatku itu punya buku harian.

Sesaat hatiku bimbang. Baca… jangan… baca… jangan…. Aku tahu bahwa aku tidak boleh membaca buku harian orang lain. Walaupun itu milik sahabatku sendiri. Tapi kupikir… tak apa-apa kalau buku itu kubaca. Toh selama ini tak ada rahasia di antara kami berdua. Dedi selalu menceritakan semua rahasianya kepadaku, dan begitu pula sebaliknya denganku. Paling-paling isi buku itu semua hal yang sudah aku ketahui. Kecuali… sikap aneh Dedi yang kurasakan selama hari belakangan ini. Jadi….

Minggu, 8 Desember 1991:
“Mila ulang tahun. Gue pergi ke pestanya sama-sama Aji, Makki, Branco, Taufik, Joko dan….”

Aku membaca catatan selanjutnya.

Kamis, 19 Desember 1991:
“Hari ini Mama ulang tahun. Gue nggak ngasih apa-apa. Cuma ucapan selamat aja. Yang penting khan….”

Ulang tahun mulu, gerutuku dalam hati. Kubaca catatan-catatan Dedi di halaman-halaman selanjutnya. Dan ternyata perkiraanku tadi memang benar. Hampir semua yang Dedi dalam buku hariannya itu sudah aku ketahui. Payah. Namun kubalik halaman berikutnya, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Yaitu… nama Dessy.

Selasa, 7 Januari 1992:
“Ada anak baru di kelas gue. Pindahan dari SMA Bandung. Namanya Dessy Riana. Cantik juga, lho. Dan, menurut gosip yang beredar diantara teman-teman gue, dia nggak punya cowok. Gue mau melihat reaksi Aji kalo udah melihat Dess. Pasti dia bakal ‘shock’ berat… ha… ha… ha….”

Rabu, 8 Januari 1992:
“Ternyata dugaan gue kemarin memang benar. Aji sama sekali nggak berkedip waktu melihat Dessy. Dia benar-benar terkesima. Kayaknya dia suka sama Dessy, tuh. Tapi tahu sendiri dong, Aji khan playboy (he… he… ). Paling-paling dua atau tiga hari lagi dia udah suka sama cewek lain. So, don’t worry be hap….”

Sialan!, umpatku dalam hati sambil tersenyum.

Minggu, 12 Januari 1992:
“Dua hari yang lalu, gue kenalkan Aji sama Dessy (itupun setelah dia memaksa gue dengan segala cara, mulai dari mengancam, memohon, menyembah, sampai mentraktir)….”

Dipaksa mentraktir, betulku.

“… tapi sejak saat itu, mereka berdua jadi akrab, bahkan melebihi keakraban gue dengan Dessy. Gue jadi menyesal memperkenalkan mereka berdua (he… he… ).”

Biar mampus, batinku. Kenapa mau….

Kamis, 16 Januari 1992:
“Aji semakin akrab dengan Dessy. Sahabat gue itu jadi kian sering ke kelas gue. Tapi bukan niat ketemu gue, melainkan Dessy! Ternyata gue salah duga. Kali ini dia nggak main-main. Dia benar-benar suka sama Dessy. Gila! Gila! Gila!”

Lho, kok gila? Hebat dong, protesku dalam hati.

Selasa, 21 Januari 1992:
“Sekarang, dimana ada Dessy, pasti di sana ada Aji. Kemana-mana mereka selalu berdua-duaan. Jujur, gue jadi sedih. Bukan karena gue jadi nggak bisa main lagi, seperti dulu, dengan sahabat gue itu. Toh, gue masih bisa main dengan teman-teman lainnya. Tapi karena sikap Dessy, yang gue rasakan jauh berubah terhadap gue, sekarang ini. Dia udah nggak seperti dulu, sewaktu belum akrab dengan Aji. Sepertinya, dia berusaha menarik jarak diantara kita berdua. Sepertinya, dia nggak mau kalo kita berdua lebih akrab lagi bukan hanya sebagai teman atau sahabat biasa. Padahal… gue suka dia. Jujur, gue sayang dia dan ingin dia jadi cewek gue. Tapi Aji….”

Aku kaget. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca. Dedi suka Dessy? Kenapa dia tidak… tidak…

Kamis, 23 Januari 1992:
“Setiap bertemu gue, Aji selalu membicarakan tentang Dessy. Tentang acara-acara kencan mereka, tentang respon-respon positif Dessy terhadapnya, tentang… pokoknya semua tentang mereka berdua, yang terdengar selalu menyenangkan. Sebagai sahabat yang baik, gue selalu berusaha menanggapi semua omongan Aji itu. Padahal sebenarnya… hati gue sakit. Asli sakit!”

Rabu, 29 Januari 1992:
“Sudah beberapa hari terakhir ini gue selalu menghindari Aji. Soalnya tiap kali ketemu, dia selalu membicarakan Dessy. Dan tiap kali pula perasaan perasaan jadi tambah sakit. Mungkin Aji merasa kalo gue menghindar dari dia, ya? Tapi gue rasa cuma itu jalan terbaik bagi gue untuk ngaak sampai merusak kebahagiaan sahabat gue itu.”

Minggu, 2 Februari 1992:
“Nanti malam, aji mau bilang terus terang kalo dia suka sama Dessy. Setiap bertemu gue, dia selalu membahas rncana itu. Gue berusaha untk mendengarkan dan menanggapinya. Sekedar untuk menyenangkan hatinya.”

Senin, 3 Februari 1992:
“Kemarin malam, dua kali Aji menelepon gue. Sekitar jam sebelas dan duabelas malam. Pasti dia mau menyampaikan berita tentang keberhasilan dia mendapatkan Dessy sebagai ceweknya. Karena itu gue jadi males buat nerima teleponnya itu. Gue suruh aja Bik Nah supaya bilang kalo gue belum pulang dari jalan-jalan dengan teman-teman basket gue. Dan hari ini, sudah tiga kali dia menelepon. Yang terakhir jam sembilan malam. Tapi gue masih merasa belum siap untuk berbicara dengannya, dan mendengar berita gembira buat dia itu. Gue tahu sikap gue ini salah. Mungkin dua atau tiga hari lagi, gue baru bisa. Dan pada saat itu….”

Aku buka halaman berikutnya.

“…. Gue nggak akan menipu Aji dan diri, serta perasaan gue lebih lama lagi dengan bersikap seakan-akan gue ikut senang dia jadi cowoknya Dessy. Gue akan berterus terang kepada sahabat gue itu tentang perasaan gue yang sebenarnya terhadap Dessy, dan gue akan meminta dia untuk melupakan persahabatan kita berdua selama ini. Kita hanya akan jadi sekedar temen biasa aja. Seperti halnya gue dengan Taufik, Joko, Makki, Branco, atau teman-teman gue lainnya. Memang kelihatnya gue egois, ya? Tapi tolonglah untuk mencoba mengerti gimana, sulitnya posisi gue sekarang ini. Gue nggak bisa tetap bersahabat dengan seseorang yang gue lihat setiap saat, setiap hari dan setiap waktu bermesraan dengan cewek yang juga gue benar-benar suka dihadapan gue….”

Aku menghela napas. Kenapa jadi begini, Di? Kenapa…. Kututup harian Dedi, dan kutaruh kembali ke tempat semula dengan hati-hati agar sahabatku itu tak curiga bahwa aku telah membacanya.

Jadi, itu sebabnya sikap Dedi terhadapku menjadi terasa aneh belakangan ini. Kenapa dia tak pernah mau membicarakan hal ini sejak dulu, saat aku aku mulai suka Dessy? Disaat segalanya masih belum terlambat untuk diubah? Andai saja dulu dia mau berterus terang kepadaku tentang hal ini, mungkin kita berdua bisa mencari pemecahan dari masalah ini.

Misalnya… kita berdua bisa perjanjian bahwa tak satupun diantara kita berdua yang akan jadi pacar Dessy. Aku yakin akan bisa mematuhi perjanjian semacam itu. Walaupun awalnya, mungkin, terasa berat bagiku. Tapi itu dulu. Sudah tak mungkin bagiku untuk membuat perjanjian semacam itu sekarang. Karena Dessy sudah menjadi pacarku. Dan aku benar-benar sayang padanya.

Tak akan mungkin bagiku untuk memutuskan hubungan kami sekarang dengan begitu saja. Aku yakin aku tak akan bisa, dan tak akan mau, melakukannya. Tapi bagaimana persahabatanku dengan Dedi yang sudah terjalin sejak kami di SD? Persahabatan yang tak akan mungkin, tak akan bisa dan tak akan mau juga kuputuskan dengan begitu saja?

Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Oh Tuhan, tolonglah aku. Pilihanku hanya ada dua. Pacar atau sahabat. Dan aku tak tahu harus memilih yang mana. Karena aku tak mau kehilangan salah satu dari mereka berdua. Karena keduanya sangat berarti bagiku.

Aku tak tahu apa yang akan kukatakan jika bertemu Dedi nanti. Aku tak mau membohonginya, tapi aku juga merasa berat untuk mengatakan yang sebenarnya. Tiba-tiba aku merasakan kehadiran sosok lain dalam kamar Dedi. Dan saat aku menengok ke arah pintu…. “Ngapain loe bengong aja di kamar gue? Gue punya novel baru, tuh. Ceritanya tentang persahabatan yang putus karena kehadiran seorang cewek….”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IWAN LEMABANG

http://iwanlemabang.blogspot.com

www.facebook.com/iwan.lemabang

www.facebook.com/lemabang.2008



Sabtu, 04 Mei 2013

Sosok Misterius di Ruang Tamu

Cerpen: Rian Wiguna

Aku tersentak kaget. Apa aku tak salah dengar? Siapa yang sedang menyanyi malam-malam begini? Kutepuk-tepuk telingaku, namun suara itu masih saja terdengar. Malah kini nyanyiannya makin menyayat hati, membuat merinding seluruh bulu romaku!

---------------------------------------



Kuhirup udara dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan sejuknya udara pegunungan yang masih bebas polusi. Ah, segarnya! Rasanya tak menyesal aku menolak ajakan Papa berlibur ke luar negeri, dan memilih diam di villa sunyi ini , villa milik Papa yang baru dibelinya setahun yang lalu.

Jujur saja, sebenarnya tujuanku menyepi di villa ini karena aku ingin melupakan sosok Alvin. Luka di dadaku rasanya masih belum sembuh semenjak ditingglkan cowo itu. Untunglah Zara, sohib kentalku, bersedia menemaniku. Dan berangkatlah kami berdua dengan diantar Pak Deden, sopir pribadi Papa. Pak Deden setelah itu langsung kusuruh pulang. Toh, di villa ini ada Mang Usup dan Bik Ijah, sepasag suami istri yang ditugaskan Papa untuk mengurus villa.mKulepasan pandangan, memandang barisan bukit yang seolah membentuk jajarn permadani yang begitu elok. Nun jauh di sana, terlihat sebuah gunung yang berbentuk laksana putri yang sedang tidur. Indah sekali.

“Eh, pagi-pagi kok udah ngelamun! Lnget si Alvin ya?” sapa Zara. Ada dua cangkir susu di tangannya. “Mlnum susu dulu, ya?”tolong jangan sebut lagi nama teriutuk itu selama kita di sini,” cetusku kesal.

“Iya deh Non! Gitu aja ngambek!”

“Tumben udah bangun,” sindirku. Sekarang baru setengah tujuh. Biasanya Zara baru nongol pada pukul Sembilan. Rupanya, setelah dua hari berada di villa, ia jadi ketularan ikut bangun bwngun pagi sepertiku.

“Aku tidak bias tidur, Jes,” keluhnya.

“Kenapa?” Jangna bilang kau kepanasan di udara sedingin ini.”

“Bukan gara-gara itu. Tapi…” Zara menggantungkan ucapannya, membuatku penasaran. Baru saja ia hendak membuka mulut, Bik Ijah dating membawa singkong rebus.

“Singkongnya dimakan ya, Non. Mumpung masih panas,” Bik Ijah menaruh sepiring besar singkong rebus ke atas meja.

“Makasih, Bi,” ucapku sambil memcomot sebuah singkong yang kelihatan amat menggoda. “Hmm, enak sekali , Bik. Empuk banget. Beli di mana, Bik?” tanyaku.

“Tanam sendiri, Non. Di kebun belakang,” jawabnya. “Eh, Non Zara kok bengong? Cobain dong, Non!”

Zara mengambil sebuah singkong dengan lesu.

“Kenapa, sih?” tanyaku pada Zara setelah Bik Ijah pergi. Ia kelihatan masih terbengong-bengong. “Eh, serius nih, kamu enggak bias tidur?”

Zara beringsut mendekatiku, lalu berbisik perlahan, “Aku takut, Jes.” Aku memandangnya tak mengerti.

“Semalam, aku dengar suara-suara aneh dari ruang tamu,” bisiknya lagi.

“Ah, gitu aja dipikirin. Paling-paling suara Mang Usup atau Bik Ijah,” tukasku.

Zara menggeleng. “Suara seorang gadis, dia nyanyi lagu Unchained Melody.”

“Ah, kau jangan mengada-ada! Mungkin Cuma imajinasimu doing!”“Suer! Aku engga lagi ngimpi! Aku jelas sekali mendengar suaranya!”

Aku terdiam. Terus terang, aku meragukan keterangan Zara. Sudah lama Mang Usup dan Bik Ijah tinggal di villa ini, tapi mereka tidak pernah mengeluh apa-apa.

“Trus, tadi kran air di kamar mandi juga aneh. Kran itu sudah aku matikan, tapi begitu aku pergi untuk menaruh handuk, tahu-tahu krannya bias nyala lagi!”

“Maksudmu? Kutatap matanya. Zara mengangguk. “Kurasa villa ini ada hantnya,” lagi-lagi ia mengatakan dengan berbisik. “Kita pulang aja yuk, Jes?”

“Jangan konyol Za! Dengusku. “Planning kita kan sepuluh hari, masak baru dua hari udah pulang! Udah, ah! Aku mau mandi!” Kuseret langkah ke dalam, meninggalkan Zara yang masih berupaya membuka mulut.

Setelah hari itu, kuperhatikan Zara jadi tidak berani sendirian. Ia kerap kali mengekorku kemana pun aku melangkah. Aku jadi geli sendiri melihat tingkahnya. Tapi kurasa itu lebih baik, daripada ia memaksaku pulang.

Pagi itu, hari kelima kami berada di villa, aku dan Zara tengah berada di dapur membantu Bik Ijah memasak. “Sayurannya segar sekali, Bik. Apa ini hasil dari kebun belakang juga? “ tanyaku sambil memotong kangkung untuk ditumis.

“Ya, Non. Asal Non berdua jangan bosan aja, tiap hari makan sayuran.”

“Nggak apa-apa, Bik. Hitung-hitung, jadi vegetarian,” sahut Zara.

“Vegetarian apaan sih, Non?” Tanya Bik Ijah, membuat kami tersenyum.

“Orang yang tidak makan makhluk hidup, Bik. Cuma makan sayur-sayuran aja,” terang Zara.

Bik Ijah mengangguk-angguk. Kemudian tanyanya. “Apa Non berdua betah tingal di sini?”“Betah dong, Bik. Emangnya kenapa?” tanyaku.

“Em, apa Non berdua tidak diganggu, eh maksud Bibik…”

Aku dan Zara berpandangan, mencoba menerka arah pembicaraan Bik Ijah.

“Diganggu siapa, Bik?” Zara menghentikan kegiatannya memotong bawang.

Bik Ijah ragu-ragu sejenak. “Terus terang, Non. Kalau tengah malam, di sini suka terdengar suara orang menyanyi.”

“Yang nyanyi itu, suara seorang gadis, Bik?” slidik Zara.

Bik Ijah mengangguk. “Non ssudah mendengarnya?”

Zara melirikku. Diam-diam, kurasakan bulu kudukku meremang. Ah, tiba-tiba aku mnyesal mendengar cerita Bik Ijah. Seharusnya hari ini aku tidak usah membantnya di dapur, tidak uah mendengar cerita menyeramkan itu.

Aku tidak tahu, mungkin karena tersugesti cerita itu, mala mini aku benar-benar tidak bias tidur. Kulirik Zara yang terlelap di sebelahku. Heran juga aku melihatnya bias begitu terlelap. Mungkin ia kelelahan sehabis berkebun seharian.

“Teng Teng Teng!” terdengar jam dinding di ruang tamu bedentang dua belas kali. Sudah pukul dua belas! Duh, kenapa aku blum bias tidur juga?

“Oh, my love…. my darling…. I’ve hungered for your touch….” Tiba-tiba terdengar suara nyanyian. Aku tersentak. Apa aku tidak salah dengar? Siapa yang sedang nyanyi malam-malam begini? Kutepuk-tepuk telingaku, namun suar itu masih saja terdengar. Malah kini nyanyiannya makin menyayat hati, mebuat merinding seluruh bulu romaku!

Ingin rasanya aku membangunkan Zara, tapi bibirku serasa kelu. Sama sekali tidak tidak ada suara yang bias aku ucapkan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Paginya, Zara terbelalak mendengar mendengar ceritaku btentang kejadian semalam. “Udah, deh. Mending kita pulang, Jes.

Aku menggeleng. “Kita harus berbuat ssuatu, Za”

“Berbuat apa? Kau mau ngajakin dia berantem?” omelnya.

“Kurasa, hantu itu sengaja mengganggu kita, karena dia ingin kita membantunya berbuat sesuatu,” ujarku tanpa menghiraukan omelannya. “Tak ada jalan lain, mala mini kita harus menemuinya!”

“Apa, kau mau menemuinya?” Kali ini Zara benar-benar melotot.

Aku mengangguk mantap.

“Terserah! Yang jelas, aku enggak mau ikut campur dalam ide gilamu itu! Nanti malam, jam sembilan aku udah mau tidur!” tandasnya.

Zara memang berkata begitu, tapi buktinya sekarang, saat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, ia masih terjaga di sampingku. Kalau aku jadi dia, mungkin aku pun enggak akan bias tidur dalam situasi seperti ini.

Kulirik Zara sekali lagi yang sedang pura-pura membaca majalah. Diam-diam seonggok keraguan menyelinap dadaku. Harusah kutemui hantu di ruang tamu itu? Atau, kuikuti saja saran Zara untuk pulang secepatnya? Ah, tidak! Feelingku mengatakan, kalau aku hau menemui makhluk itu . kalau mendengar suara nyanyiannya , aku yakin dia adalah seorang gadis seumurku, bukan sosok makhluk yang mengerikan.

“Teng teng teng!” Jam dinding berdentang dua belas kali. Dan seperti kejadian beberapa hari lalu, suara nyanyian itu langsung terdengar begitu bunyi jam selesai berdentang.

Aku bangkit dari tempat tidur. Kupejamkan mata sesaat, berdoa memohon perlindungan-Nya. Setelah itu, kulangkahkan kaki perlahan menuju pintu.

“Jes….” Zara berbisik perlahan. Kulihat mukanya sudah seputih kertas. “Aku ikut denganmu….”

Aku mengangguk perlahan. Berdua kami melangkah menuju ruang tamu, tempat suara itu berasal. Jarak dari kamar menuju ruang tamu yang Cuma tiga meter, kurasakan seakan jadi berpuluh-puluh meter. Begitu panjang dan lama! Dan, begitu sampai di ruang tamu…..

Aku dan Zara terpana melihat sosok itu. Sosok seorang gadis yang amat cantik. Ia memakai baj panjang berwarna putih dengan hiasan renda di sekitar lehr. Lama kami saling bertatapan. Seluruh tubuhku terasa lemas. Tapi aku tidak bias mundur lagi. Aku harus kuat, batnku sambil tetap melantunkan doa dalam hati.

“Sii…. siapa… kk…. kau?” tanyaku terbata. Zara di sebelahku sudah makn pucat. Rasanya dia sudah tidak sanggup berkata apapun.

Gadis itu trsenyum. “Terima kasih kalian mau menemuiku. Namaku Nana. Namamu Jesy, ‘kan?”

“Aaa…. apa…. mm… maumu?”

Nana tersenyum. Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian.”

Aku agak tenang mendengar ucapannya. Kutarik napas dalam-dalam. Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini, doaku sekali lagi dalam hati. “Nana…. mengapa kau ada di sini?” tanyaku lembut. “Mengapa…. mengapa kau tidak berada di surga?”

“Aku tidak bias ke surga, karena…. karena tak ada tempat buatku di sana….,” katanya memelas.

“Mengapa tak ada tempat buatmu di surge?” Rasa takutku seketika hilang mendengar ucapannya, berganti dengan rasa kasihan melihatnya begitu tertekan.

“Karena aku mati bunuh diri, Jes. Aku bodoh sekali. Kuakhiri hidupku karena ditinggalkan Tio, pacarku yang amat kusayangi….”

Aku tersekat. Sekilas hadir guratan wajah Alvin, cowok yang mengkhianatiku. Dulu, saat Alvin memutuskanku, akupun mempunyai rencana seperti Nana…. “Tapi biar bagaimana pun, tempatmu bukan lagi di dunia ini, Na,” ucapku hati-hati. “Kumoon janganlah mengganggu kami lagi.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak bia keluar dari ruangan ini. Karena…. karena tubuhku tertanam di sini.” Aku terbelalak. “Mm… maksudmu, tubuhmu di kubur di sini?”

Nana mengangguk. “Dulu, sbelum villa ini dibangun, di sini adalah tanah kosong . di sini jasadku dimakamkan.” Nana menatapku nanar. “Tolong aku, Jes. Keluarkan tubuhku dari ruangan ini.

Aku trtegun mendengarkan ceritanya. Perlahan-lahan kuanggukkan kepala meyakinnya.

“Terima kasih, Jes.” Sebuah senyuman terukir di bibirnya. “Aku janji nggak akan mengganggu kalian lagi….” Sampai di sini, kurasakan tubuhku amat dingin. Begitu dingin, sampai merasuk ke dalam tulang rusukku!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

,br />Paginya, bersama-sama dengan Mang Usupdan Bik Ijah, kami membongkar lantai yang berada di ruang tamu. Ternyata benar, di sana tersimpan tulang belulang yang sudah hampir hancur. Kami kemudian menguburkannya di lereng bukit. “Semoga Nana bias tenang ya, Jes.” Ucap Zara setelah kami selesai melakukan pemakaman.

Aku menghela napas. “Bukan hanya itu, kuharap arwahnya diterima di sisi-Nya.”

“Eh, kalau dipikir-pikir, suaranya Nana merdu juga ya? Aku nggak keberatan kok, kalau harus mendengar nyanyiannya sekali lagi,” canda Zara.

Aku tersenyum. “Sudahlah, Za. Jangan ganggu Nana lagi. Biarkan dia beristirahat dengan tenang, oke?”

Zara mengangguk. Perlahan kami berjalan menuruni bukit. Kutatap gumpalan awan yang berarak memayungi puncak gunung. Di balik gumpalan itu seakan tergores bias wajah Nana dengan seulas senyum terukir di bibirnya. Begitu manis!

Minggu, 21 April 2013

Kepak Sebelah Sayap

Cerpen: Stephanie Beauty

"Maaf Pak Reza, Ibu Andini harus merelakan payudara sebelah kirinya untuk diangkat. Kecelakaan yang dialami istri Anda telah menyebabkan luka yang sangat parah. Kemungkinan hidupnya pun kecil jika tetap mepertahankan payudara itu. Nyawanya bisa terselamatkan jika prosedur pengangkatan payudara dilakukan. Silakan Bapak berbicara terlebih dahulu dengan keluarga," tutur Dokter Nison kepada Pak Reza tentang keadaan istrinya.

"Baik, Dok. Saya akan berbicara dengan keluarga saya. Mohon bantuannya, Dok. Selamatkan istri saya," kata Pak Reza.

"Baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon jangan terlalu lama mendiskusinyakannya, Pak. Ibu Andini harus segera ditolong. Permisi," Dokter Nison menepuk pelan bahu Reza.

Sepeninggal Dokter Nison, Reza segera mendiskuksikan keadaan Andini kepada keluarganya. Termasuk dihadapan kedua anaknya, Horyzon dan Janice. Kedua anaknya mungkin tidak mengerti karena masih berusia 1 dan 2 tahun. Kedua keluarga telah menyetujui prosedur operasi. Walau berat hati, mereka ikhlas demi menyelamatkan nyawa Andini. Reza menarik napas panjang , kemudian ia segera menemui Dokter Nison untuk memberitahu bahwa ia menyetujui prosedur operasi tersebut. Segala persiapan pun dilakukan dengan segera dan dioperasilah Andini.

Delapan jam lamanya sepuluh orang dokter, termasuk dokter bedah, dokter kulit, dan Dokter Nison sendiri yang bertindak untuk mengoperasi Andini. Operasi berjalan sukses. Andini berhasil diseamatkan tanpa harus mengalami pendarahan yang hebat. Tiga jam setelah operasi, Reza diperbolehkan menemui istrinya.

"Sayang, aku baik-baik saja kan? Argh.. dadaku sakit sekali," Andini menyentuh dada sebelah kirinya untuk merasakan mengapa begitu sakitnya. Andini terdiam begitu mengetahui bahwa ada sesuatu yang berbeda dari dari dadanya. Dadanya rata, hanya sebelah sisi saja. Ia menoleh pada Reza untuk meminta penjelasan, Reza hanya mampu mengangguk kemudian memeluk istrinya yang seketika itu juga menangis sejadinya. Andini sangat terpukul dengan keadaannya. Butuh waktu cukup lama baginya untuk mengikhlaskkan kejadian ini. Namun, karena dukungan semua keluarga, terutama Reza suaminya, ia bangkit dengan susah payah. Ia sadar masih ada Horyzon, Janice, dan suaminya yang perlu ia perhatikan. Andini menitikan air mata untuk terakhir kalinya. Ia tidak ingin bersedih lagi, karena semuanya tidak akan kembali lagi.

Andini membesarkan kedua anaknya dengan penuh kasih. Ia ingin anaknya tumbuh dan menyayangi ia apa adanya setelah setelah mengetahui keadaan ibunya ini. Walau sekarang ia hanya bisa memiliki sebelah sayap saja. Ia bahagia Horyzon dn Janice tumbuh dengan sehat. Hanya saja Horyzon menjadi anak yang nakal. Maklum saja usia remaja 17 tahun saat ini rentan dengan kenakalan. Ryzon juga masih malu mengakuinya. Ia sering kali tidak menganggap Andinisebagai ibunya. Teman-temanya sering mengatainya karena mempunyai ibu cacat. Andini paham betul bagaimana perasaan Ryzon terhadapnya. Ia tahu bahwa suatu hari nanti Ryzon akan menyayangi dirinya. Bahkan jika harus menunggu waktu kematiannya.

"Minggu depan ada pertemuan orangtua, aku ingin papa saja yang datang. Mama tidak perlu datang," ucap Ryzon.

"Baiklah, kalau itu mau kamu, sayang. Mama tidak akan datang," Andini tersenyum lembut ke arah putra semata wayangnya.

"Ryzon!! Kamu keterlaluan. Itu mama kamu, bagaimana bisa kamu berkata demikian. Kalau kamu masih bertahan dengan ego kamu, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!! Papa sudah muak melihat ulahmu ini!!" seru Reza pada Ryzon disaksikan Janice yang ketakutan memeluk ibunya. Baru kali ini Rez marah besar.

"Baikalah! Ryzon pergi dari rumah ini, Pa. Terima kasih telah membesarkan Ryzon dengan susah payah.... mama," Ryzon mengucapkan kata 'mama' dengan penekanan yang melecehkan.

"Pa, sudahlah. Hari sudah malam, kasihan Ryzon. Jangan seperti ini, Pa. Mama tidak apa-apa," Andini berusaha melerai pertengkaran dua jagoannya.

"Tidak, Ma. Dia yang harus menyadari kesalahannya. Papa tidak sudi punya anak seperti dia. Dia tidak tahu bagaimana kamu merawat mereka dengan susah payah, sewaktu kamu harus kehilngan sesuatu yang sangat berharga karena mereka. Lebih baik aku tidak punya anak seperti dia, daripada aku melihat anakku membenci ibu mereka sendiri," Reza beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju ruang kerjanya. Sementara Ryzon beranjak meninggalkan rumah mereka meninggalkan rumah mereka dan pergi dengan larutnya malam. Tinggal Andini dan Janice yang saling berpelukan erat.

Walau hatinya terluka. Ryzon tetap anaknya, darah dagingnya. Tapi ia tentu tidak ingin melawan perintah suaminya. Baginya, suami tetap harus dihormati. Sudah beberapa minggu Ryzon pergi meninggalkan rumah. Kabar terakhir yang Andini dapatkan, Ryzon sudah tidak lagi bersekolah. Hatinya semakin hancur. Anak lelaki satu-satunya tidak bisa lagi ia rangkul. Setiap malam Andini selalu tidak bisa tidur, memikirkan ananknya. Apakah sudah makan? Apakah mendapat tempat tinggal yang layak? Apakah sehat-sehat saja?

Setelah cukup lama tidak ada kabar mengenai Ryzon, tiba-tiba pagi ini ada tetangga yang datang tergopoh-gopoh dan mengatakan bahwa Ryzon ditemukan mengalami kecelakaan mobil dan sekarang berada di ruang ICU rumah sakit. Tidak ada yang tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi, polisi menduka kecelakaan tunggal akibat kelalaian pengemudi. Reza dan keluargapun bergegas mendatangi rumah sakit tersebut. Ternyata Ryzon benar berada di sana. Kondisinya tragis. Ia kehabisan banyak darah dan membutuhkan donor darah. Reza langsung mengajukann diri untuk mendonorkan darah. Kebetulan darah mereka sekeluarga sama, yaitu darah O. Setelah Reza mendonorkan darah untuk anaknya, kondisi Ryzon kembali stabil. Dokter Nison pun kembali menemui keluarga Reza. Ia ingin mengabarkan sesuatu yang sangat penting tentang kondisi Ryzon sebenarnya.

"Pak Reza, Bu Andini, Ryzon mengalami kecelakaan yang cukup parah dan kondisinya tidak begitu baik untuk kedua matanya. Matanya tidak bisa melihat lagi," ucap Dokter Nison dengan suara pelan.

"Apa Dok? Anak saya tidak bisa melihat lagi?! Bagaimana bisa Dok?" Andini meneteskan air mata.

"Maaf, Bu. Memang seperti itulah keadaan Ryzon. Dia harus segera mendapatkan donor mata. Tetapi tidak semua mata bisa dipasangkan untuk Ryzon. Kita harus melakukan sejumlah pemeriksaan. Saya akan mendaftarkan nama Ryzon dalam urutan penerima cangkok mata," lanjut Dokter Nison.

"Dokter, Dokter harus selamatkan anak saya. Dia bahkan belum mengakui saya sebagai ibunya. Tolong saya, Dok." Dalam sekejab Andini lemas dan jatuh pingsan setelahmengucapkan kata-kata tersebut. Reza membopong istrinya ke sofa terdekat.

"Baik, Pak Reza, saya serahakan keputusan pada Anda. Ibu Andini baik-baik saja, hanya stres ringan. Kita harus memikirkan cara untuk menyelamatkan anak Anda. Saya akan berdiskusi dengan dokter ahli mata dulu, permisi."

Tidak beberapa lama, Andini sadarkan diri, Reza memberikan sedikit minyak angin untuk menyadarkannya. Kemudian ia berbincang dengan istrinya secara empat mata. Janice disuruh pulang untuk memberitahu keluarga besar mereka.

"Pa, mama ingin menyelamatkan Ryzon. Mama bersedia mendonorkan mata mama, Pa."

"Ma, tidak semudah itu, kita harus memeriksakan apakah cocok atau tidak, lagipula mama bukan orang meninggal, mana mungkin mama bisa mendonorkan mata. Kita akan cari donor sampai ke luar negeri."

"Periksa mama dulu, Pa. Mama yakin bahwa mata mama cocok untuk Ryzon. Tolong Pa, izinkan mama untuk melakukan itu. Untuk anak kita, Pa."

"Tidak, Ma. Kalau mama berkorban sampai seperti ini, bagaimana papa bisa hidup tenang dengan kedua anak kita?"

"Pa, mama sudah cukup lama hidup bahagia bersama papa, Janice dn Ryzon. Ryzon sedang membutuhkan bantuan kita, Pa. Mama ingin dia tetap hidup. Mama ingin dia hidup melanjutkan sisa hidup mama. Mama ingin dia menggantikan mama hidup bahagia, Pa. Papa bersediakan mengabulkan keinginan mama?"

"Baiklah, Ma. Kita akan diskusikan dengan Dokter Nison." Reza memeluk erat istri. Ia sangat berduka kalau harus memilih untuk anak atau istrinya. Keduanya sama-sama ia cintai.

"Dokter, kami sudah sepakat untuk mendonorkan mata. Mohon Dokter mengizinkan dan memeriksa kecocokan mata istri dan anak saya." Reza berkata sembari menagis.

"Mksud Anda?!" Dokter Nison terhenyak mendengar penuturan pasangan suami istri ini.

"Saya tidak tahu apakah prosedur ini boleh dilaksanakan. Karena saya belum pernah mendapat kasus menerima cangkok mata dari orang hidup. Ini namanya pembunuhan, Pak Reza."

"Tolong Dok, untuk anak saya, saya sanggup melakukan ini."

"Baiklah. Kita akan memeriksa mata istri Anda dengan Ryzon. Silakan ke ruang periksa, saya dan suster akan menyiapkan peralatannya."

Satu jam berlalu, pemeriksaan menunjukkan kedua lingkaran bola mata ibu dan anak itu cocok. Andini pun diizinkan untuk menemui seluruh anggota keluarganya untuk terakhir kalinya. Semua meneteskan air mata bagai sudah mendapati dirinya terbaring kaku. Yang terakhir Andini menemui Ryzon yang sudah siap di ruang operasi. Ia memeluk dan mencium anaknya sembari berkata bahwa ia sangat mencintainya. Kemudian setelah semuanya selesai, ia dibawa menuju ruang operasi.

Satu bulan kemudian, kondisi Ryzon sudah pulih. Ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan mata barunya. Mata yang indah dan lembut. kemudian untuk pertama kali pertama ia menanyakan dimana ibunya.

"Pa, mama mana? Ryzon mau minta maaf."

"Mamamu sudahpergi jauh, nak. Mama sudah meninggalkankita semua." Reza tak kuasa menahan air matanya. Janice yang berada di sana juga menangis sesegukan.

"Mama kemana, Pa? Janice?"

"Mama menyelamatkan kakak dengan kedua mata mama, Kak." Janice menangis pilu. Kemudian karena tidak tahan menahan air matanya, ia berlari keluar ruangan.

"Apa maksudnya, Pa? Mata ini mata mama?" Ryzon terhenyak mendengar mendengar ucapan Janice.

"Benar, Nak. Mama mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan hidupmu. Mama sangat mencintaimu, Nak. Mama ingin kamu terus hidup bahagia melanjutkan sisa hidup mama. Itu pesan mama untukmu," Reza gemetar menahan pilu yang teramat dalam. Ryzon terdiam membisu mendapati kenyataan bahwa mamanya pergi untuk selamanya karena menyelamatkan hidupnyaa.

Seminggu kemudian Rizon, Janice dan Reza berziarah ke makam Andini. Ryzon tersungkur di pusara ibunya. Ia menangis, menahan kesedihan yang teramat dalam, juga rasa pnyesalan, dan terima kasih untuk segala pengorbanan yang ibunya berikan selama ini. Ia menyesal karena selama ini membenci ibunya akan kekurangan fisiknya. Ia menyesal setelah ia mengetahui bahwa ternyata kecelakaan yang menyebabkan payudara ibunya terpaksa diangkat karena ingin menjemput ia dan Janice di rumah nenek. Betapa banyak kesalahan yang ia lakukan. Ia berjanji bahwa ia akan hidup bahagia untuk meneruskansisa hidup mamanya di dunia ini. Terima kasih mama untuk sebelah sayap yang kau derita karenaku, dan ini untuk kedua mata indah ini. I love you, bisik Ryzon dalam hatinya. (*)

Citra Budaya

Sumatera Ekspres, 21 April 2013