Jumat, 10 Mei 2013

Facebook "Serius" Akuisisi Aplikasi Navigasi Sosial Waze

Facebook saat ini sedang dalam pembicaraan "serius" untuk mengakuisisi aplikasi navigasi sosial Waze. Dana yang disiapkan Facebook berkisar mulai 800 juta hingga 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,7 triliun.

Menurut laporan terpisah dari media bisnis The Wall Street Journal dan Calcalist, Kamis (9/5/2013), Facebook melihat potensi besar jika berhasil mengakuisisi Waze. Karena, Waze dikenal sebagai pelopor aplikasi navigasi sosial yang memiliki data lokasi.

Waze bisa memberi petunjuk jalan secara bertahap. Ia juga dimanfaatkan sebagai tempat di mana pengguna bisa melaporkan keadaan lalu lintas, mulai dari kemacetan, kecelakaan, perbaikan, sampai penutupan jalan.

Hal ini memungkinkan pengguna lain mengetahui kondisi jalan yang akan dilewatinya berdasarkan data yang dilaporkan.

Kabar Facebook berencana mengakuisisi Waze ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada Agustus 2012 lalu, para eksekutif Facebook dikabarkan bertemu dengan pendiri Waze. Namun, belum ada informasi lebih lanjut soal hasil pertemuan itu.

Waze dikembangkan oleh Waze Inc. asal Israel pada 2008. Pendiri perusahaan ini adalah Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar. Hingga akhir 2011, Waze memiliki karyawan sebanyak 80 orang. Sebanyak 70 karyawan berkantor di Israel, dan 10 karyawan di Palo Alto, California.

Aplikasi Waze telah digunakan oleh 20 juta pengguna di 45 negara. Waze tersedia untuk perangkat iOS, Android, BlackBerry, Symbian, Maemo, dan Windows Mobile.

Waze juga bermitra dengan Apple untuk memberi informasi lalu lintas untuk aplikasi peta digital baru di iOS 6.

Editor : Sudarwan
Sumber : Kompas.com
Sriwijaya Post - Jumat, 10 Mei 2013

Windows Blue akan Hadir Akhir 2013



Microsoft Corporation akan menghadirkan pembaruan sistem operasi Windows 8 yang disebut "Windows Blue" pada akhir 2013, demikian dikatakan Kepala Pemasaran Microsoft Windows, Tami Reller.

Reller, seperti dukutip AFP, mengatakan Microsoft telah menjual lebih dari 100 juta lisensi Windows 8 dan akan meluncurkan Windows Blue (Windows 8.1) setelah menerima masukan para pengguna sistem operasi perangkat berlayar sentuh itu.

"Windows Blue akan mengusung inovasi terbaru bagi semua varian ukuran perangkat pabrikan, varian layar, varian durasi baterai dan kemampuan, serta menciptakan peluang baru bagi ekosistem kami," kata Reller.

Sejumlah analis teknologi AS mengatakan Microsoft terpaksa bereaksi akibat adopsi Windows 8 yang lambat di pasar.

"Blue didesain untuk menanggapi alasan dibalik adopsi bisnis Windows 8 yang lambat dan memotivasi pengguna XP yang tertinggal," kata Analis Enderle Group, Rob Enderle.

Sementara, Pimpinan Microsoft Windows, Julie Larson-Green seperti dilaporkan The Verge, menyatakan perusahaan yang bermarkas di Redmond Washington AS itu akan mengapalkan versi Windows 8.1 untuk pengembang pada akhir Juni.

Penampilan sekilas Windows Blue sempat muncul di Internet yang membuktikan perubahan dari Windows 8 seperti tombol Start di tampilan pengguna antar-muka dan Snap Views.

Editor : Soegeng Haryadi
Sumber : Antara
Sriwijaya Post - Jumat, 10 Mei 2013

Kamis, 09 Mei 2013

Ambar dari Gang Mawar

Cerpen: Ikhtiar Jannati Arini

Seperti perempuan lainnya, ketika jodohnya telah tiba, perempuan bernama Ambar yang tinggal di Gang Mawar itu menikahlah. Segera tersiar kabar: Ambar dan Umar menikah di Gang Mawar. Setahun kemudian tersiar kabar di Gang Mawar: Ambar mengandung.

Kepada Umar, Ambar berkata. "Kalau kendunganku membesar, bos supermarket tempatku bekerja pasti memecatku, sebab itulah peraturan di sana."

"Tapi apa. Aku bisa kerja lembur terus. Aku bisa ambil upahan apa saja pada hari Minggu. Malam aku bisa ngojek."

"Tapi, aku ingin, hari Minggu Kakak ada di rumah bersamaku dan bersama anak kita," kata Ambar seolah-olah anaknya sudah lahir. "Kakak juga jangan ngojek malam hari. Pikirkan kesehatan Kakak."

"Kalau aku tidak lembur dan tidak ngojek sampai malam, dari mana kita bisa menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak kita?" Ambar terdim. Umar membelainya dengan belaian yang meneduhkan.

Malam berikutnya, Ambar bertanya kepada Umar. "Kak, kue buatanku enak tidak?"

"Sangat! Mengapaa? Aku lupa memuji, ya? Maaf ya..."

"Nah, kalau enak, mengapa kita tidak jualan kue saja? Aku titipkan di warung-warung dan di pasar, Kakak bawa ke tempat Kakak kerja, Kakak tawarkan kalau-kalau ada orang hajatan yang mau pesan kue buatanku.."

Umar membelai kepala Ambar. "Istriku, istri nomor satu di dunia." Ambar merasa melambung ke langit lapisan tertinggi oleh pujian Umar.

Umar mencari pinjaman dari sana-sini untuk modal awal usaha. Lamban laun, mulai banyak orang yang memesan kue buatan Ambar. Umar tambah bersemangat mempromosikan kue buatan Ambar. "Tapi janji, ya... Ambar, kamu harus janji, mengasuh anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknya!"

"Oke, Bos! Siap laksanakan!"

Ketika anak Ambar lahir, Ambar memenuhi janjinya. Umar bersyukur sekali, anaknya terurus dengan baik. Tentu saja ia sangat bersyukur mengingat banyak anak orang lain yang tidak diasuh dengan baik oleh ibunya sendiri gara-gara sang ibu sibuk oleh pekerjaan atau usaha lain.

Tak lama kemudian, perempuan bernama Ambar itu mengandung lagi lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi. Dua anak perempuan dan dua anak laki-laki diamanahkan Allah baginya dan bagi suaminya. Umar menamai mereka: Jamilah, Hasan, Robiah, dan Sofyan.

Adapun lelaki bernama Umar itu, tiada henti-hentinya bersyuukur. Semua anaknya disusui sendiri oleh Ambar dengan tuntas. Ambar sendiri yang mengantar dan menjemput anak-anak mungil itu sekolah dan mengaji. Ambar bersusah payah mejalankan usaha kuenya, tetapi tetap memegang teguh janjinya: mengasuh anak-anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknnya.

Kalau Umar tidak bekerja sebagai buruh bangunan, ia memilih membantu Ambar membuat kue dan menjualnya daripada ngojek agar ia bisa lebih banyak bersama Ambar dan anak-anaknya.

Lama kelamaan, berkat promosi yang gencar dilakukan Umar, pesanan bertambah banyak, Ambar mulai merasa kesulitan menjalankan usaha itu sendiri. "Bagaimana kalau kita buat gerobak kue. Kita jualan di pinggir jalan . Mudah-mudahan laris dan lama-lama kita bisa sewa kios kecil di pinggir jalan...."

Umar terdiam. Ia berpikir. "Nanti dulu. Anak-anak kita masih kecil-kecil. Kalau kamu sibuk jualan di pinggir jalan, anak-anak kita bagaimana? Justru ketika mereka masih kecil-kecil, mereka butuh perhatian penuh dan didikan yang baik dari kamu sebagai ibunya. Mengapa tidak seperti selama ini saja. Kita buat kue di rumah. Orang-orang pesan, mengambi sendiri di rumah kita atau kita upah orang lain untuk mengantarnya?"
"Begini, Kak.... Maksudku, bagaimana kalau Kakak yang jualan di pinggir jalan.... Aku tetap di rumah, buat kue dan mengasuh anak-anak.... Yakinlah, Kak.... Anak-anak kita tetap terurus dengan baik semampuku."

Umar terdiam lebih lama. Berpikir lembih lama. "Godaan" untuk dapat uang lebih banyak menari-nari dalam angannya. Namun, bersamaan dengan itu, ia merasa harga dirinya sebagai lelaki dan sebagai kepala rumah tangga mulai terusik.

"Begini.... Sejak awal, ini usaha kamu,'kan? Aku senang. Aku dukung. Tapi, ingat, niat awal kamu, dan yang aku bayangkan selama ini, kamu melakukan itu untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga. Bukan untuk mengambil alih tanggung jawabku mencari nafkah. Kalau kamu suruh aku yang jualan di pinggir jalan, berarti kamu suruh aku berhenti jadi buruh bangunan! Artinya apa? Artinya, sejak saat itu aku tidak lagi cari nafkah sendiri untuk kamu dan anak-aank! Artinya apa? Artinya, aku tergantung padamu paadahal aku suamimu!"

"Kata siapa, Kak? Ini usaha kita bersama. Kakak yang cari modal awalnya, 'kan? Kakak yang promosikan, Kakak bantu aku antar kue ke pembeli yang memesan. Kakak juga bantu aku buat kue kalau Kakak sedang tidak kerja."

Umar diam seribu bahasa. Ambar akhirnya berkata. "Sekali lagi aku mohon maaf, Kak! Tolong lupakan saja permintaanku tadi."

"Ya, sudahlah! Aku maafkan.... Aku mau pergi dulu, takziah ke rumah kenalan di kampung sebelah." Ambar mengantar Umar sampai ke pintu dengan air mata berurai. Ia menyesal telah membuat hati suaminya terluka.

Baru beberapa langkah Umar berlalu, Ustadzah Arni mengetuk pintu. Ia hendak memesan kue untuk konsumsi jemaah yang akan menghadiri peringatan Tahun Baru Hijriyah. Ambar buru-buru menghapus air matanya, tetapi bekas menagis masih terlihat oleh Ustadzah Arni.

Karena Ustadzah Arni terkenal dapat dipercaya menjaga rahasia dan sering dapat memberikan solusi atas masalah rumah tangga, Ambar curhat padanya. Lagi pula, Ustadzah Arni adalah bibinya sendiri. "Aturlah agar kita bertiga dengan suamimu dapat bicara dari hati ke hati. Insya Allah ada jalan keluarnya."

Dalam pertemuan itu, Ustadzah Arni berkata, "Kau lelaki yang baik, Umar. Kau tidak mau makan keringat istrimu. Aku kagum padamu. Sebelumnya maafkan aku kalau aku kau anggap mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, aku ini bibi kalian. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Keputusanmu Umar, kuakui, sangat baik dan sangat tepat, Begitulah seharusnya lelaki. Ambar sangat beruntung,menjadi istrimu. Tapi, maukah kalian kutawarkan sesuatu yang lebih baik lagi?"

Muqoddimah yang disampaikan Ustadzah Arni mampu mencairkan egoisme Umar sebagai lelaki. Ia mengangguk.

"Usaha kue kalian harus dipertahankan dan harus dikembangkan. Melihat perkembangannya selama ini, usaha kue kecil-kecilan ini dapat bertahan lama bahkan dapat lebh maju asal kalian lebih serius dalam penjualan. Memancing minat beli dengan memajang kue di gerobak di pinggir jalan ada baiknya dilakukan selain menunggu pesanan datang ke rumah kalian."

"Maaf, Bibi sudah tahu penirianku...," Umar menyela.

"Karena itu, kutawarkan padamu begini. Kau beli usaha kue itu dari Ambar. Suruh Ambar hitung berapa nilai usahanya sekarang. Belilah usaha itu supaya jadi milikmu. Terserah kalian mau kontan atau dicicil. Sesuadah itu, suruh Ambar bekerja padamu sebagai pembuat kue. Kau gaji dia sebagai pembuat kue. Maka, seluruh keuntungan akan merupakan hasil usahamu sebagai suami. Maka, kau tak perlu lagi merasa tergantung pada istrimu sebab nyatanya kaulah yang mengelola dan menentukan, kau bos-nya...."

Wajah Umar cerah. Itu gagasan yang "aneh" tapi cemerlang. Pantas saja banyak orang yang meminta bantuan kepada bibinya itu untuk menyelesaikan masalah tertentu. Namun, wajah cerah Umar segera meredup. "Aku tak punya uang...."

"Kau boleh pinjam uangku. Aku sudah minta izin suamiku untuk meminjamkan uang kepadamu. Tapi harus ada surat perjanjian bahwa utangmu akan kau lunasi.... Kita buat perjanji itu di rumahku. undanglah Ketua Masjid sebagai saksi di pihakku, dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sabagai saksi di pihakmu. Jangan lupa undang Ketua RT untuk mengetahui perjanjian itu!"

Ambar tersenyum dalam hatinya. Gagasan agar Umar membeli usaha kuenya itu murni gagasan Ustadzah Arni, sedangkan gagasan mengundang Ketua Masjid dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sebagai saksi serta Ketua RT sebagai pejabat yang mengetahui perjanjian itu adalah gagasan Ambar. Tujuannya agar tanpa harus cerita dan menjelaskan dengan siapa-siapa, berita akan tersebar dengan cepat dari mulut ketiga orang itu bahwa: usaha kue itu telah "sah" berpindah tangan menjadi milik umar karena ia telah membelinya meskipun membeli dengan istrinya sendiri, bahwa bukan Ambar yang "berkuasa" atas usaha itu, melainkan Umar.

Begitulah sebagian kisah dari perempuan bernama Ambar, yang tinggal dan menikah di Gang Mawar, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya di Gang Mawar.

Dari mana aku tahu kisah itu?Aku tahu kisah itu sejak lama sebab aku juga tinggal di Gang Mawar. Untuk apa kukisahkan kepadamu? Untuk membanggakan perempuan bernama Ambar itu: perempuan yang menguras tenaga dan pikirannya untuk membantu menambah penghasilan keluarga, tetapi tetap mengasuh dan mendidik anak-anaknya: perempuan yang ikhlas melakukan yang terbaik agar dapat mengumpulkan rezeki untuk biaya pendidikan anak-anaknya tanpa membuat suaminya merasa kehilangan harga diri.

Mengapa kubanggakan ia, perempuan bernama Ambar itu? Sebab sejak berada dalam rahimnya, aku telah merasakan kasih sayangnya yang total! Sebab sejak keluar dari rahimnya, aku merasakan usahanya yang gigih agar aku dapat mengenal Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah!.

Kenalkan namaku Jamilah bin Umar: Adik-adikku ada tiga: Hasan bin Umar, Robiah bn Umar, dan Sofyan bin Umar. Ya! Ibuku Ambar, bapaku Umar, kami tinggal di Gang Mawar. (*)

Citra Budaya

Sematera Ekspres, Minggu, 31 Maret 2013

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Iwan Lemabang

LEMABANG 2008

Selasa, 07 Mei 2013

Legenda Puteri Dayang Merindu

Cinta adalah jabaran sebuah kata yang sarat akan makna....

Begitu luasnya makna yang terkandung dalam cinta....

Sehingga maut pun menjadi taruhannya....

Begitu juga dengan logika dan akal yang seringkali hilang hanya karena alasan cinta....


ALKISAH zaman dahulu dikenal seorang putri cantik dari Tanjung Iran Niru yang bernama Dayang Merindu. Puteri ini merupakan cucu dari seorang yang disegani dan dihormati yaitu Rie Carang.

Dayang Merindu yang digambarkan berambut panjang bak mayang terurai ini menjalin kasih dengan jejaka tambatan hati yaitu Naring Cili yang terkenal sakti dari Dusun Galang Tinggi. Hubungan cinta ini sudah disepakati kedua belah pihak dan ketika masanya sang Naring Cilik akan meminang Dayang Merindu, maka disepakati beberapa permintaan dari Dayang Merindu, diantaranya sirih selebar Niru, pinang sebesar kulak, puyuh setakin, dan perhiasan.

Semuanya dapat dipenuhi Naring Cili kecuali tanduk kerbau Lambuare yang tak kuasa dicari Naring. Tetapi bukan berarti Naring Cilik kecewa dan putus asa. Untuk mencari tanduk kerbau itu, Naring minta bantuan Tumanggung Mintik dengan syarat mau menyerahkan kesaktian dan disetujui Naring.

Alhasil, tanduk tersebut dapat ditemukan di wilayah Kerajaan Mataram, tetapi itu memakan waktu berbulan-bulan sementara Dayang Merindu menanti tanpa kabar dan kepastian dari Naring

Dayang merindu menghibur diri bersama dayang-dayangnya yaitu mandi di sungai. Ketika mandi disungai inilah, bokor yang berisi peralatan dan rambut Dayang Merindu hanyut terbawa arus dan ini membuatnya sedih.

Alkisah, bokor ini ditemukan rakyat Sunan Adi Maskayedipati (Palembang) dan langsung diberikan kepada Sunan mereka. Sang Sunan yang melihat bokor memastikan pemiliknya puteri yang cantik, apalagi dengan bantuan Tumanggung Mintik dan Karangge Sintik yang mempunyai ilmu tinggi dalam melakukan pencarian.

Alkisah, pemilik bokor ditemukan dan segera dilamar Sunan kemudian resmi menjadi istrinya. Sementara ditempat lain Naring Cili yang sudah menemukan tanduk kerbau yang dimaksud segera mendatangi Dayang Merindu, tetapi ditolak keluarga Dayang Merindu karena sang puteri sudah dipinang di Palembang.

Murkalah Naring Cili dan segera menyusul ke Palembang. Akhirnya terjadilah pertempuran yang banyak memakan korban nyawa. Dayang Merindu yang mengetahui hal ini, berinisiatif daripada banyak korban, maka dirinya rela tubuhnya dipotong dua dan itu dengan berat hati dilakukan Naring Cili. Sebelah potongan tubuh Dayang Merindu dimakamkan di Tanjung Iran Niru, Muaraenim dan sebelah lagi yaitu bagiang pinggang ke bawah di bawah Sunan untuk dimakamkan di daerah Palembang.

Sriwijaya Post

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IWAN LEMABANG

Senin, 06 Mei 2013

Buku Harian Seorang Sahabat

Cerpen: Ferry Hardono

Sesungguhnya hatiku bimbang. Baca… jangan… baca… jangan…. Aku tahu bahwa aku tak boleh membaca buku harian orang lain. Walaupun itu milik sahabatku sendiri. Tapi kupikir… tak apa-apa kalau buku itu kubaca. Toh selama ini tak ada rahasia di antara kami berdua. Dedi selalu menceritakan semua rahasianya kepadaku, dan begitu pula sebaliknya denganku. Paling-paling isi buku itu semua hal yang sudah kuketahui. Kecuali… sikap aneh Dedi yang aku rasakan selama hari belakangan ini. Jadi….

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Hari ini aku bersemangat sekali pergi ke sekolah. Bukan karena pelajaran-pelajarannya sudah tak membosankan lagi. Bukan. Tapi aku ingin cepat-cepat bertemu Dedi, sahabatku, untuk memberitahu dia bahwa sejak malam Minggu kemarin Dessy sudah resmi menjadi pacar tercinta Aji Wisana. Alias sudah resmi menjadi pacarku.

Setibaku di sekolah, aku segara ke kelas sahabatku itu. Tapi sedikitpun tak nampak batang hidungnya. “Rin, Dedi mana?” tanyaku pada Rini, teman sekelasnya, yang sedang berdiri di pintu kelas.

“Hari ini dia tidak sekolah,” jawab Rini.

“Kok kamu tahu?”

“Kemarin malam dia menelponku. Ngasih tahu kalau hari ini dia nggak masuk. Sekalian mau pinjam catatanan matematika hari ini.”

“Kenapa dia? Sakit?”

“Nggak tahu. Dia nggak bilang kenapa. Mungkin juga dia sakit. Soalnya, waktu menelponku itu, ngomongnya kelihatan lesu sekali. Nggak bercanda-canda seperti biasanya.”

Aku hanya manggut-manggut mendengar pemberitahuan ini. Setelah bilang terima kasih, aku beranjak pergi ke kelasku.

Sambil berjalan, aku jadi terus memikirkan Dedi yang kurasa bersikap aneh, bagiku, sejak beberapa hari yang lalu. Lebih-lebih di hari Sabtu dan Minggu kemarin. Dia selalu tak ada setiap kali kutelepon. Tapi ternyata dia menelepon Rini. Kenapa dia tidak meneleponku? Padahal, biasanya, dia selalu menelepon dan mengajakk jika mau bolos sekolah. Tapi kali ini, dia sama sekali tidak meneleponku. Aneh. Ada apa dengan dia, ya? Lebih baik, sepulang sekolah nanti, aku ke rumahnya saja. Siapa tahu dia benar-benar sakit. Siapa tahu….

“Selamat siang, Mbak Tika. Dedi ada?” Mbak Tika, kakak Dedi yang membuka pintu, tersenyum ketika melihatku.

“Oh, Aji. Baru pulang sekolah?”

“Iya, Mbak. Kenapa hari ini Dedi nggak sekolah, Mbak? Sakit?”

“nggak. Nggak tahu kenapa. Tadi pagi dia bilang kepalanya agak pusing. Tapi sekitar jam sebelas tadi, dia malah pergi. Pakai mobil. Nggak tahu kemana. Mungkin sebentar lagi dia pulang. Mau ditunggu?”

Aku mengangguk.

“Kalau gitu, tunggu di kamarnya aja. Terus kalo kamu lapar, mau makan, minta saja sama Bik Nah di dapur. Kamu pasti belum makan siang ‘kan?”

“Waduh, jadi merepotkan nih, Mbak.”

“Nggak apa-apa. Sekalian kamu bantu jaga rumah sampai Dedi pulang. Soalnya sebentar lagi Mbak mau berangkat kuliah. Jadi rumah kosong.

“Tante dan Budi mana, Mbak?”

“Mama sedang menjemput Budi di sekolahnya. Tapi, nggak tahu kenapa sampai sekarang belum pulang juga. Mungkin mereka belanja dulu. Sudah, ya? Mbak pergi dulu.”

Aku menganggukkan kepala. Dan setelah Mbak Tika pergi, aku beranjak ke kamar Dedi. Sesampainya di sana, aku duduk dimeja belajarnya. Wah, makin banyak saja koleksi novel sahabatku ini. Kuambil beberapa novel yang seingatku, belum pernah aku baca, dari rak meja. Namun perhatianku segera beralih ke sebuah buku bersampul biru tebal dibalik tumpukan novel-novel yang kuambil tadi. Dan ketika buku itu kuambil dan kubuka… ternyata buku harian Dedi.

Aku tersenyum dalam hati. Selama ini aku tak tahu, dan tak menyangka, kalau orang secuek sahabatku itu punya buku harian.

Sesaat hatiku bimbang. Baca… jangan… baca… jangan…. Aku tahu bahwa aku tidak boleh membaca buku harian orang lain. Walaupun itu milik sahabatku sendiri. Tapi kupikir… tak apa-apa kalau buku itu kubaca. Toh selama ini tak ada rahasia di antara kami berdua. Dedi selalu menceritakan semua rahasianya kepadaku, dan begitu pula sebaliknya denganku. Paling-paling isi buku itu semua hal yang sudah aku ketahui. Kecuali… sikap aneh Dedi yang kurasakan selama hari belakangan ini. Jadi….

Minggu, 8 Desember 1991:
“Mila ulang tahun. Gue pergi ke pestanya sama-sama Aji, Makki, Branco, Taufik, Joko dan….”

Aku membaca catatan selanjutnya.

Kamis, 19 Desember 1991:
“Hari ini Mama ulang tahun. Gue nggak ngasih apa-apa. Cuma ucapan selamat aja. Yang penting khan….”

Ulang tahun mulu, gerutuku dalam hati. Kubaca catatan-catatan Dedi di halaman-halaman selanjutnya. Dan ternyata perkiraanku tadi memang benar. Hampir semua yang Dedi dalam buku hariannya itu sudah aku ketahui. Payah. Namun kubalik halaman berikutnya, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Yaitu… nama Dessy.

Selasa, 7 Januari 1992:
“Ada anak baru di kelas gue. Pindahan dari SMA Bandung. Namanya Dessy Riana. Cantik juga, lho. Dan, menurut gosip yang beredar diantara teman-teman gue, dia nggak punya cowok. Gue mau melihat reaksi Aji kalo udah melihat Dess. Pasti dia bakal ‘shock’ berat… ha… ha… ha….”

Rabu, 8 Januari 1992:
“Ternyata dugaan gue kemarin memang benar. Aji sama sekali nggak berkedip waktu melihat Dessy. Dia benar-benar terkesima. Kayaknya dia suka sama Dessy, tuh. Tapi tahu sendiri dong, Aji khan playboy (he… he… ). Paling-paling dua atau tiga hari lagi dia udah suka sama cewek lain. So, don’t worry be hap….”

Sialan!, umpatku dalam hati sambil tersenyum.

Minggu, 12 Januari 1992:
“Dua hari yang lalu, gue kenalkan Aji sama Dessy (itupun setelah dia memaksa gue dengan segala cara, mulai dari mengancam, memohon, menyembah, sampai mentraktir)….”

Dipaksa mentraktir, betulku.

“… tapi sejak saat itu, mereka berdua jadi akrab, bahkan melebihi keakraban gue dengan Dessy. Gue jadi menyesal memperkenalkan mereka berdua (he… he… ).”

Biar mampus, batinku. Kenapa mau….

Kamis, 16 Januari 1992:
“Aji semakin akrab dengan Dessy. Sahabat gue itu jadi kian sering ke kelas gue. Tapi bukan niat ketemu gue, melainkan Dessy! Ternyata gue salah duga. Kali ini dia nggak main-main. Dia benar-benar suka sama Dessy. Gila! Gila! Gila!”

Lho, kok gila? Hebat dong, protesku dalam hati.

Selasa, 21 Januari 1992:
“Sekarang, dimana ada Dessy, pasti di sana ada Aji. Kemana-mana mereka selalu berdua-duaan. Jujur, gue jadi sedih. Bukan karena gue jadi nggak bisa main lagi, seperti dulu, dengan sahabat gue itu. Toh, gue masih bisa main dengan teman-teman lainnya. Tapi karena sikap Dessy, yang gue rasakan jauh berubah terhadap gue, sekarang ini. Dia udah nggak seperti dulu, sewaktu belum akrab dengan Aji. Sepertinya, dia berusaha menarik jarak diantara kita berdua. Sepertinya, dia nggak mau kalo kita berdua lebih akrab lagi bukan hanya sebagai teman atau sahabat biasa. Padahal… gue suka dia. Jujur, gue sayang dia dan ingin dia jadi cewek gue. Tapi Aji….”

Aku kaget. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca. Dedi suka Dessy? Kenapa dia tidak… tidak…

Kamis, 23 Januari 1992:
“Setiap bertemu gue, Aji selalu membicarakan tentang Dessy. Tentang acara-acara kencan mereka, tentang respon-respon positif Dessy terhadapnya, tentang… pokoknya semua tentang mereka berdua, yang terdengar selalu menyenangkan. Sebagai sahabat yang baik, gue selalu berusaha menanggapi semua omongan Aji itu. Padahal sebenarnya… hati gue sakit. Asli sakit!”

Rabu, 29 Januari 1992:
“Sudah beberapa hari terakhir ini gue selalu menghindari Aji. Soalnya tiap kali ketemu, dia selalu membicarakan Dessy. Dan tiap kali pula perasaan perasaan jadi tambah sakit. Mungkin Aji merasa kalo gue menghindar dari dia, ya? Tapi gue rasa cuma itu jalan terbaik bagi gue untuk ngaak sampai merusak kebahagiaan sahabat gue itu.”

Minggu, 2 Februari 1992:
“Nanti malam, aji mau bilang terus terang kalo dia suka sama Dessy. Setiap bertemu gue, dia selalu membahas rncana itu. Gue berusaha untk mendengarkan dan menanggapinya. Sekedar untuk menyenangkan hatinya.”

Senin, 3 Februari 1992:
“Kemarin malam, dua kali Aji menelepon gue. Sekitar jam sebelas dan duabelas malam. Pasti dia mau menyampaikan berita tentang keberhasilan dia mendapatkan Dessy sebagai ceweknya. Karena itu gue jadi males buat nerima teleponnya itu. Gue suruh aja Bik Nah supaya bilang kalo gue belum pulang dari jalan-jalan dengan teman-teman basket gue. Dan hari ini, sudah tiga kali dia menelepon. Yang terakhir jam sembilan malam. Tapi gue masih merasa belum siap untuk berbicara dengannya, dan mendengar berita gembira buat dia itu. Gue tahu sikap gue ini salah. Mungkin dua atau tiga hari lagi, gue baru bisa. Dan pada saat itu….”

Aku buka halaman berikutnya.

“…. Gue nggak akan menipu Aji dan diri, serta perasaan gue lebih lama lagi dengan bersikap seakan-akan gue ikut senang dia jadi cowoknya Dessy. Gue akan berterus terang kepada sahabat gue itu tentang perasaan gue yang sebenarnya terhadap Dessy, dan gue akan meminta dia untuk melupakan persahabatan kita berdua selama ini. Kita hanya akan jadi sekedar temen biasa aja. Seperti halnya gue dengan Taufik, Joko, Makki, Branco, atau teman-teman gue lainnya. Memang kelihatnya gue egois, ya? Tapi tolonglah untuk mencoba mengerti gimana, sulitnya posisi gue sekarang ini. Gue nggak bisa tetap bersahabat dengan seseorang yang gue lihat setiap saat, setiap hari dan setiap waktu bermesraan dengan cewek yang juga gue benar-benar suka dihadapan gue….”

Aku menghela napas. Kenapa jadi begini, Di? Kenapa…. Kututup harian Dedi, dan kutaruh kembali ke tempat semula dengan hati-hati agar sahabatku itu tak curiga bahwa aku telah membacanya.

Jadi, itu sebabnya sikap Dedi terhadapku menjadi terasa aneh belakangan ini. Kenapa dia tak pernah mau membicarakan hal ini sejak dulu, saat aku aku mulai suka Dessy? Disaat segalanya masih belum terlambat untuk diubah? Andai saja dulu dia mau berterus terang kepadaku tentang hal ini, mungkin kita berdua bisa mencari pemecahan dari masalah ini.

Misalnya… kita berdua bisa perjanjian bahwa tak satupun diantara kita berdua yang akan jadi pacar Dessy. Aku yakin akan bisa mematuhi perjanjian semacam itu. Walaupun awalnya, mungkin, terasa berat bagiku. Tapi itu dulu. Sudah tak mungkin bagiku untuk membuat perjanjian semacam itu sekarang. Karena Dessy sudah menjadi pacarku. Dan aku benar-benar sayang padanya.

Tak akan mungkin bagiku untuk memutuskan hubungan kami sekarang dengan begitu saja. Aku yakin aku tak akan bisa, dan tak akan mau, melakukannya. Tapi bagaimana persahabatanku dengan Dedi yang sudah terjalin sejak kami di SD? Persahabatan yang tak akan mungkin, tak akan bisa dan tak akan mau juga kuputuskan dengan begitu saja?

Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Oh Tuhan, tolonglah aku. Pilihanku hanya ada dua. Pacar atau sahabat. Dan aku tak tahu harus memilih yang mana. Karena aku tak mau kehilangan salah satu dari mereka berdua. Karena keduanya sangat berarti bagiku.

Aku tak tahu apa yang akan kukatakan jika bertemu Dedi nanti. Aku tak mau membohonginya, tapi aku juga merasa berat untuk mengatakan yang sebenarnya. Tiba-tiba aku merasakan kehadiran sosok lain dalam kamar Dedi. Dan saat aku menengok ke arah pintu…. “Ngapain loe bengong aja di kamar gue? Gue punya novel baru, tuh. Ceritanya tentang persahabatan yang putus karena kehadiran seorang cewek….”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IWAN LEMABANG

http://iwanlemabang.blogspot.com

www.facebook.com/iwan.lemabang

www.facebook.com/lemabang.2008