Minggu, 30 Juni 2013

Ayodya

Ayodya Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah Anda bila kuceritakan bahwa beribu-ribu tahun yang lampau, Mojokerto, kota yang sekarang kutempati ini bernama Ayodya? Jauh sebelum Raden Wijaya membuka hutan Tarik dan membangun Kerajaan Majapahit di sini. Dan itu berarti, jauh pula sebelum candi-candi dari batu bata merah seperti Bajang Ratu atau Wringin Lawang dibangun dan Negarakertagama ditulis dan banyak digunakan oleh ahli sejarah untuk menguak mempelajari kejayaan kerajaan yang konon sar di Nusantara itu. Ribuan tahun yang cukup untuk menenggelamkan sejarah atau mengubah yang kenyataan menjadi dongeng atau legenda.

Barangkali, mendengar nama kota itu, ingatan kita akan langsung terbawa pada cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. Sebuah negeri darimana pahlawan besar dari epik itu, Rama Wijaya, berasal dan kelak di ujung cerita itu, menjadi rajanya. Tapi percayalah Ayodya di epik Ramayana tidaklah sama dengan dengan Ayodya dalam cerita yang hendak kukisahkan ini. Ayodya di epik ini terletak di tepi Sungai Brantas. Dan tidak ada Rama dalam ceritaku ini. Tidak pula ada Dasaratha, atau Laksmana, atau Sinta.

Aku tidak tahu kenapa Walmiki menamai negeri dalam ceritanya Ayodya. Ayodya dalam ceritaku ini memiliki arti kota perawan. Entah dalam cerita Walmiki. Namun aku bisa mengisahkan kepada Anda kenapa kota purba dalam ceritaku ini bernama Ayodya, kota perawan.

Aku mendengar riwayat ini dari seorang tua di daerah Trowulan, sebuah kecamatan di Mojokerto di mana banyak orang meyakini bahwa di kecamatan inilah Keraton Majapahit terpendam (beberapa orang juga teramat yakin bahwa keraton itu muksa setelah perang Paregrek usai), yang sdah tidak ingat lagi berapa usianya namun ngotot mengatakan bahwa dia sudah lahir ketika Sunan Ampel menginjakkan kaki pertama kali di Surabaya (bisakah Anda bayangkan berapa usianya? Bahkan, perihal sumber cerita ini saja sudah mragukan).

Di kota ini, tinggal seorang perempuan yang pandai meracik ramuan dan banyak membaca kitab-kitab mantra. Orang-orang menyebutnya dukun. Bertahun-tahun ia mempelajari segala ramuan dan mantra. Itu semua dikarenakan oleh seorang lelaki. Lelaki yang dicintainya namun menolaknya dengan cara yang tidak baik dan membuatnya merasa malu.

Lelaki itu berkata bahwa hidung si perempuan seperti hidung babi dan kulitnya kasar seperti kulit buaya. Dan si lelaki itu, yang juga seorang pembual, menceritakan di warung-warung, di pasar, di lapangan, di segala tempat keramaian bahwa ia telah menolak si perempuan karena rupa perempuan itu tidak seperti manusia.

"Bagaimana seseorang setampan aku bisa jatuh cinta dengan perempuan semacam itu?" si lelaki berkata. Dan Anda tak perlu heran bila pada waktu itu perempuan tidak merasa sungkan mengucapan cinta lebih dulu kepada laki-laki. Itu bukan hal yang tabu dn lazim dilakukan pada masa itu (dan entah karena kisah ini atau tdak, para perempuan di Mojokerto sekarang cenderung tidak mau mengungkapkan cintanya lebih dulu kpada lelaki dan memilih untuk menunggu. Barangkali ada sesuatu yang berada di bawah alam sadar mereka yang berasal dari cerita yang sudah diragukan dan banyak dilupakan ini yang menyebabkan mereka berlaku seperti itu. Sekali lagi, entahlah).

Si perempuan merasa begitu dilecehkan. Ia malu keluar rumah. Dan cinta di kedalaman dadanya, berubah menjadi dendam yang membara. Maka ia belajar mantra dan ramuan agar suatu hari bisa membalas sakit hatinya.

Tapi celakanya, ia tidak hanya ingin membalas dendam kepada lelaki yang mempermalukannya tersebut. Ia ingin membalas dendam kepada semua lelaki di kota tersebut. Ia berpikir bahwa semua lelaki memang brengsek dan suka melecehkan perempuan. Karena itulah, ketka ia telah menguasai sihir-sihir kegelapan, ia mengutuk semua lelaki di kota itu menjadi babi dan buaya.

Inilah yang kemudian keluar dari mulut para perempuan itu; "kalau tidak ada lagi lelaki di kota ini, bagaimana kami bsa hamil dan meneruskan keturunan?"

Si perempuan mengeluarkan sebotol ramuan. Ia tuangkan ramuan itu di sebuah sendang dan berkata; "Siapa pun yang minum air di sendang ini akan hamil. Anaknya sudah pasti berjenis kelamin perempuan sebab semua lelaki brengsek. Aku tdak ingin lagi ada kebrengsekan di kota ini. Aku tidak ingin lagi ada perempuan yang dipermalukan di kota ini."

Dan nama kota itu kemudian berganti menjadi Ayodya, kota perawan, karena penghuninya para perempuan. Dan setelah bertahun-tahun, setelah semua perempuan yang sebelumnya pernah bersuami meninggal, kota itu memang hanya dihuni para perempuan.

Veri yang lain yang lebih kupercaya mengatakan bahwa kota itu adalah kota para petarung. Namun para dewa berkehendak lain. Para dewa mengirim wabah demam yang mematikan seluruh lelaki dari Ayodya.

Bukan hanya para lelaki Ayodya yang terlibat dalam perjalanan itu yang ditimpa wabah, melainkan juga para lelaki yang masih tinggal di Ayodya: lelaki-lelaki jompo dan anak-anak kecil. Para perempuan di Ayodya menangis mengetahui hal itu. Mereka meratap mengharap belas kasihan para dewa. Meratap dengan sepilu-pilunya ratap.

Tak tega mendengar ratapan mereka, para dewa turn ke Ayodya dan berkata, "kalian akan tetap berketurunan. Setiap perempuan yang membatin ingin memiliki anak, maka ia akan mendapatkannya. Namun karena dalam darah para lelaki kalian mengalir darah para petarung, maka setiap anak yang lahir di kota ini akan berjenis kelamin perempuan."

Konon, arwah para lelaki Ayodya menitis pada sekelompok prajurit Majapahit. Dan si penguasa Ayodya menjelma menjadi salah satu penguasa Majapahit. Para arwah itu merasa tidak tenang sebelum apa yang mereka cita-citakan tercapai: menguasai dunia. Sekali pun pada akhirnya kita tahu dari buku-buku sejarah bahwa Majapahit pun tidak sanggup menguasai dunia. Mereka hanya mampu menguasai apa yang sekarang kita sebut Nusantara. Limapuluh tahun lamanya setelah kejadian tersebut kota itu masih bisa bertahan. Hanya ada perempuan di sana.

Yang jelas, tidak ada sisa-sisa dari kota tersebut yang tertinggal. Dan hal itu membuat siapa saja sulit mempercayai bahwa kota itu pernah benar-benar ada di Mojokerto. Dan hal itu membuat siapa saja yang mendengar nama Ayodya akan berkata: "Bukankah itu nama negeri asal Rama Wijaya dalam cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Juni 2013

Jumat, 28 Juni 2013

Misteri Mimpi Melihat Kematian Diri Sendiri

Misteri Mimpi Melihat Kematian Diri Sendiri

Setiap orang pasti mengalami banyak mimpi sepanjang hidupnya, dan bagi sebagian orang, mimpi tersebut ternyata merupakan kejadian yang akan terjadi di kemudian hari, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, kerabat atau pun orang-orang yang dikenalnya.

Mimpi seperti ini disebut “mimpi ramalan”. Dalam sejarah, tokoh terkenal yang mengalami mimpi ramalan seperti ini tidak sedikit, di antaranya yang paling dikenal adalah mimpi ramalan yang dialami oleh mantan presiden AS, Abraham Lincoln.

4 April 1865, Presiden AS ke-16 Abraham Lincoln tewas terbunuh. Dua-tiga hari sebelum terbunuh, Lincoln sempat bercerita kepada orang dekatnya mengenai mimpi yang dialaminya, “Di sekitar sini sangat sepi, di dalam mimpi saya mendengar suara banyak orang menangis dengan begitu sedihnya. Saya berpikir, ada apa gerangan? Jadi saya pun berjalan keluar kamar, melewati satu kamar ke kamar lain, hingga akhirnya saya tiba di suatu ruangan. Di tengah ruangan itu ada sebuah tandu, di atas tandu ada sebuah mayat, dikelilingi sekumpulan orang yang sedang menangis. ‘Siapa yang meninggal di Gedung Putih?’ Tanya saya kepada seorang prajurit. ‘Presiden terbunuh’. Jawab sang prajurit.”

Tak lama kemudian mimpi buruk itu menjadi kenyataan, Lincoln ditembak mati di sebuah gedung opera. Mengapa Lincoln dapat melihat kematiannya sendiri lewat mimpi? Mengapa ia tidak dapat menghindar dari tragedi tersebut? Pertanyaan seperti ini terus mengusik pikiran orang selama seratus tahun lebih.

Jika dikatakan mimpi ramalan Lincoln tersebut ada hubungannya dengan dirinya sendiri, maka penulis terkenal AS, Mark Twain, justru mengalami mimpi yang ada hubungannya dengan kerabatnya. Tahun 1858, Mark dan adiknya Henry bersama-sama bekerja sebagai ABK di kapal Pennsylvania di Sungai Mississippi. Di suatu malam bulan Mei, Mark Twain mengalami suatu mimpi yang sangat buruk: “Saya melihat jasad adik saya diletakkan di dalam sebuah peti mati yang terbuat dari timah, dengan mengenakan jas milikku, di dadanya terdapat seikat buket kecil dari bunga mawar putih, di tengah buket bunga itu ada sekuntum mawar merah.”

Saat terbangun Mark merasa sangat tidak tenang, namun melihat adiknya sehat walafiat, ia pun merasa lega. Namun dua minggu setelah itu, terjadi ledakan pada tungku uap kapal Pennsylvania. Henry yang sedang bertugas saat itu menderita luka bakar serius di bagian paru-parunya akibat menghirup terlalu banyak uap panas, dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani 6 hari perawatan medis.

Setelah Henry meninggal, peti mati yang seharusnya menggunakan kayu pinus, digantikan dengan sebuah peti mati dari bahan timah yang disumbangkan oleh seorang kaya setempat. Jasad Henry yang terbaring di peti mati mengenakan jas milik Mark. Dan saat seorang wanita datang melayat, ia meletakkan seikat bunga ros putih di dada Henry dan sekuntum mawar merah terletak di tengah buket bunga itu. Pemandangan yang persis seperti yang dilihat di mimpi ramalannya itu membuat Mark Twain tercengang. Kekuatan apakah yang membuat Mark Twain mengalami mimpi akan kematian adiknya dan membuktikan kebenaran dari mimpi tersebut? Mimpi yang mirip dengan mimpi ramalan Lincoln itu selain mengejutkan orang lain, hanya menyisakan lebih banyak misteri.

Mimpi ramalan dapat menerawang kematian diri sendiri dan orang lain, juga dapat melihat kehancuran suatu negara. Dalam catatan Tiongkok kuno, tidak sedikit catatan mengenai mimpi ramalan seperti ini. Dalam kitab ke-29 Zuo Shi Chun Qiu Ji Jie – Ai Gong, pernah tercatat sebuah cerita demikian: Pada zaman Zhanguo masa Chunqiu ada sebuah negara kecil yang disebut Negara Cao (Cao Guo). Suatu hari seorang rakyat Cao Guo bermimpi, para bangsawan berkumpul di aula istana, sedang berencana untuk membinasakan Cao Guo. Lalu pendiri negara tersebut yakni Cao Shizu berkata, “Tunggu Gongsun Qiang.”

Semua orang pun setuju. Setelah terbangun, orang itu mencari seseorang yang bernama Gongsun Qiang di kalangan pejabat istana, tapi tidak menemukannya. Ia pun memberitahu putra-putranya, “Setelah aku meninggal nanti, jika kalian mendengar ada seseorang yang bernama Gongsun Qiang akan menjabat, tinggalkanlah negara ini. Jika tidak akan sangat tidak baik!”

Beberapa tahun kemudian, Cao Boyang naik tahta pada tahun 501 SM, ia sangat suka berburu. Di negeri Cao ada seorang pemuda desa bernama Gongsun Qiang, sangat mahir memanah, lambat laun ia pun mendapat kepercayaan Cao Boyang, dan diberi gelar pengawas kota, dan ikut dalam pemerintahan. Putra dari orang yang meng-alami mimpi tersebut mendengar, ada seseorang bernama Gongsun Qiang menjadi pejabat, ia teringat akan peringatan orang tuanya, dan ia pun pergi meninggalkan Cao Guo. Ternyata benar, Cao Boyang yang terlalu mempercayai hasutan Gongsun Qiang, ia melanggar perjanjian dan hendak berkuasa seorang diri, sehingga menyebabkan para sekutunya meninggalkannya dan pemberontakan terjadi dimana-mana, akhirnya ia dibinasakan pada tahun 487 SM.

Peristiwa yang terjadi di masa mendatang, mengapa bisa muncul di dalam mimpi diri sendiri atau orang lain? Darimanakah mimpi itu berasal? Bagaimana menjelaskannya? Ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa mimpi adalah sejenis aktivitas saraf pada lapisan kulit luar otak di saat tidur, namun sama sekali tidak dapat menjelaskan eksistensi mimpi yang bersifat ramalan ini. Sebenarnya di dunia kultivasi (pertapaan), ada mimpi yang merupakan pengalaman jiwa primer seseorang yang meninggalkan tubuh fisiknya dan memasuki alam dimensi lain, atau merupakan pemandangan yang direfleksikan oleh makhluk dari dimensi lain kepada si pemimpi.

Seperti mimpi ramalan, adalah jiwa primer diri sendiri yang lebih dulu melihat kejadian di masa mendatang dan merefleksikannya ke otak besar. Saya pernah membaca tentang sebuah mimpi ramalan tentang masa depan Tiongkok, masih kuat sekali dalam ingatan, dan saya sangat senang berbagi cerita ini dengan pembaca yang budiman. Pada 2 Januari 2009 di situs minghui.net dimuat mimpi seorang praktisi Falun Gong: Suatu hari dengan menggunakan teknologi mutakhir manusia mendeteksi akan terjadi suatu bencana besar, menyebabkan jumlah korban tewas tak terhitung banyaknya, sehingga manusia pun mulai panik dan berlarian sambil memberitahu yang lainnya… semua orang berkumpul menyanyikan lagu perpisahan, namun tak disangka semua datang begitu tiba-tiba… bencana raksasa itu pun datang begitu saja, saat itulah baru terlihat betapa kerdilnya manusia, semua perjuangan sia-sia belaka, jangankan tempat bersembunyi, air bah yang turun dari langit itu dalam sekejap mata menenggelamkan semua bangunan, bahkan serpihannya pun tak tersisa, disusul dengan api, bahkan bisa dikatakan ledakan… saat semuanya berhenti, mayat bergelimpangan dimana-mana… lalu di permukaan bumi terjadi perubahan besar, puing kehancuran dan mayat yang bertebaran menghilang, di muka bumi mulai tumbuh tunas rumput hijau, segala sesuatu di atas dunia dengan speed tercepat diperbaharui, langit seketika menjadi biru. Dunia pun memasuki suatu era baru.”

Apakah di masa mendatang akan terjadi seperti itu, tidak ada salahnya kita merenungkannya, mungkin dapat ditemukan jawaban dari mimpi ramalan yang dialami oleh Lincoln, Mark Twain, dan rakyat Cao Guo

Sumber: Forum.viva.co.id

Sabtu, 22 Juni 2013

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman Papua

Bertarung Dengan Kawanan Tikus Siluman di Pedalaman PapuaOleh : Hady Sumiyanto


Sebuah pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan oleh si pelaku peristiwa. Kawan-kawannya habis dimangsa oleh segerombolan tikus raksasa. Sementara dia sendiri harus menderita cacat seumur hidupnya....

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



MASIH kuingat, waktu itu sekitar enam bulan lagi aku akan segera menikah dengan Tari, seorang gadis cantik desa tetangga. Sebenarnya, aku telah meminta agar pernikahan ini diundur satu atau dua tahun lagi, sebab secara lahir maupun batin aku memang belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Bukan berarti aku tidak mencintai Tari. Aku sangat cinta dan sayang kepadanya.

Aku memang tidak bisa berbuat banyak, ketika pihak keluarga Tari terus mendesakku. Padahal, sejak awal kujelaskan kepada mereka bahwa pernikahan itu bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk sepanjang hidupku. Apalagi ketika itu aku masih belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga penghasilanku pun sering tak menentu. Lantas bagaimana aku akan membahagiakan istriku nanti?

Tapi, oranng tua Tari berkata, "Masalah pekerjaan, kita pikirkan sambil jalan, Insya Allah pasti ada jalan keluarnya," tegas Ayahnya Tari mantap. Kata-kata inilah yang pada akhirnya memaksaku untuk menyerah.

Sambil menunggu hari saat akan bersanding sebagai pengantin, aku berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan yang layak. Di samping untuk menambah dana pernikahan nanti, aku juga berharap, kelak pekerjaan ini akan bisa menopang rumah tanggaku.

Nah, ditengah kebingunganku mencari pekerjaan, tiba-tiba aku kedatangan seorang tam. Namunya Yajid. Dia teman karibku sewaktu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. Lima tahun kammi berpisah, dan selama lima tahun itu pula kami tidak pernah saling berkomunikasi. Jadi wajar, jika kedatangannya yangg mendadak membuatku jadi sedikit terkejut.

Apalagi, penampilan Yajid di mataku benar-benar berubah. Pakaian yang dipakainya bermerk dan sangat necis. Wajahnya yang tampan, semakinn gagah dibalut busananya yang kelihatan elegan. Padahal, sewaktu duduk di SMA dulu, Yajid kelihatan culun sekali. Tubuhnya kurus, tapi sekarang kelihatan lebih lebih berotot dan tegap. Mungkin karena pengalaman telah mengajarkan dia, bagaimana harus menjaga penampilan.

Setelah ngobrol kesana-kemari, akhirnya kuceritakan tentang masalah yang tengah kuhadapi saat itu. Syukurlah, dengan tangan terbuka, Yajid mau membantuku untuk melamar pekerjaan di perusahaan tempat bekerjaan. Atas rekomondasinya, kemungkinan besar aku pasti diterima. Apalagi aku sudah berpengalaman naik turun gunung sebagai pecinta alam.

Singkat cerita, seminggu setelah mengajukan surat lamaran ke Surabaya, Yajid datang lagi sambil membawa surat panggilan bekerja untukku. Dan besok harinya aku harus berangkat bersama Yajid dan Tim Ekspedisi dari perusahaan itu ke suatu tempat di pedalaman yang sebut Yajid sebagai sebuah lembah bercadas. Pikirku tak masalah, sebab aku sangat menyukai petualangan.

Setelah mendapatkan kepastian bekerja, hari itu juga, aku datang ke rumah calon mertuaku. Kuutarakan niatku untuk memenuhi pannggilan pekerjaan tersebut. Tari dan kedua orang tuanya terang-terangan tidak setuju. Sebab, kepergianku ini sangat jauh, ke pedalaman Irian Jaya. Apalagi ketika itu hari pernikahan kami tinggal enam bulan lagi.

Dengan berbagai alasan, akhirnya aku dan Yajid berhasil menyakinkan mereka, kalau di hari pernikahan nanti aku pasti akan pulang dengan selamat. Apalagi pihak perusahaan telah memberiku uang trasport dan akomodasi. Sayang, kalau dibatalkan. Ditambah lagi, mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak sulitnya minta ampun.

Kalau ayah dan ibuku, memang sudah biasa kutinggalkan jauh berlama-lama. Mereka memang tidak ingin membatasi kreativiitasku. Meski begitu, aku tahu, sebagai orang tua, sebenarnya mereka juga khawatir sebab sekali ini aku pergi ke tempat yang benar-benar jauh dan sangat asing. Memang mereka tidak memperlihatkan kekhawatirannya itu.

Aku pun mencoba untuk tidak memperdulikan kecemasan kedua orang tuaku. Lagi pula, aku sudah terlalu sering meningglkan rumah untuk menaklukkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Toh akhirnya aku selalu pulang juga dengan selamat. Jadi, tak ada alasan bagi kedua orang tua dan adik-adikku untuk khawatir yang berlebihan. Sebab, mereka percaya kalau aku bisa menjaga dan membawa diri.

Hari itu, tepat pukul 5 pagi, aku dan Yajid berangkat meninggalkan kota kecilku menuju kantor di Surabaya. Karena jarak rumah kami sangat jauh, sembilan jam kemudian kami baru sampai di kantor untuk mengurus administrasi, mengambil tiket pesawat yang sudah disiapkan oleh perusahaan dan segala keperluan akomodasi lainnya.

Pukul 5 sore, kami terbang ke provinsi Papua Timur, yaintu Jayapura, lewat Bandara Juanda. Sekitar pukul 18.20 WIT, kami sudah mendarat di Bandar Udara Sentani. Ternyata di ruang tunggu kehadiran kami sudah dinanti oleh seorang yang kemudian kukenal seebagai Pak Amat. Dia adalah sopir perusahaaan yang diutus menjemput kami. Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai di kantor pusat perusahaan di Sentani. Setelah mengisi laporan, kami pun diantar ke sebuah hotel untuk istirahat.

Saking lelahnya dalam perjalanan, aku dan Yajid bangun pukul 10 pagi. Setelah mandi dan sarapan, semua karyawan berkumpu di aula untuk mendengarkan pengarahan dan jalur yang akan dilewati besok. Yang memberi pengarahan adala pemimpin ekspedisi, Pak Lutfi, dari TNI.

Rencananya, kami akan melewati kecamatan Sawesuma dan menyeberanngi sungai Sermowai.Sungai itu sangai lebar dan merupakan sarang binatang yang sangat menyeramkan, buaya. Letek sasaran yang dituju adalah di sekitar sungai tersebut. Sesuai dengan pengarahan, di daerah itu ada sebuah lembah tak bertuan yang mereka beri namasebagai Lembah Cadas.

Aku sama sekali tak menduga. Ternyata, pekerjaan yang akan kami lakukan adalah berburu sarang burung walet. Dan pekerjaan ini legal, karena disponsori oleh negara. Liur burung walet yang bernilai tinggi tersebut, nantinya akan diolah menjadi berbagai obat-obatan dan makanan yang bergizi tinggi, atau juga diekspor ke sejumlah negara. Waktu itu, seporsi sub burung walet berukuran mangkuk sedang, bisa dihargai antara 35-50 ribu rupiah. Saking mahalnya, sub buurung walet hanya ada di hotel kelas satu atau hotel bintang lima.

Waktu yang ditentukan telah tiba. Jumlah rombongan ada 50 orang di tambah 5 orang dari TNI AD dan 3 orang dari Kepolisian. Tugas mereka untuk mengawal pekerjaan kami. Jadi jumlah rombongan totalnya 58 orang. Menurut Pak Lutfi, kalau tidak dikawal pihak keamanan, bisa-bisa hasil pekerjaan kami yang berat itu akan dijarah oleh para perampok.

Setelah menempuh perjaalanan darat sejauh 35 Km dari Sentani ke kecamatan Sawesuma, kami turun dari mobil dan berjalan sejauh 10 Km. Setelah itu, barulah kami sampai di pinggir sungai Sermowai. Meski sungai tersebut penuh dengan buaya, akhirnya kami berhasil juga melewatinya. Sebab, kami juga melibatkan penduduk sekitar yang bisa menjadi pawang buaya. Namanya Alex Warobay. Di tangannya, masalah binatang reptil yang ganas tersebut bisa teratasi.

Akhirnya, kami sampai juga di Lembah Cadas. Batu-batu cadas tersebut berdiri dengan kokoh dan tinggi menjulang. Batu-batu itu berdiri seperti barisan tentara di tengah sungai. Nah, di tebing yang curam dan licin itulah, bergelantungan beribu-ribu burung walet, dan tuggas kami adalah mengambil sarang-sarang burung walet itu dengan hati-hati. Sebab, kalau tidak hati-hati, burung walet itu akan terbang pergi dan tidak akan kembali lagi.

Dengan peralatan panjat tebing berupa sling dan tambang yang kuat, kami pun bergelantungan bahkan tengkurep dan merayap untuk mengambil sarang burung walet. Sementara, di bawah air sungai yang kecoklatan dipenuhi dengan buaya yang sewaktu-waktu siap menerkam dan melumat tubuh kami bila tali tambang khusus yang kami pegangi putus dan kkami terjatuh ke dlam sungai.

Pekerjaan ini memang pekerjaan berat dan membutuhkan keberanian serta kesiapan mental. Lengah sedikit saja, maka, nyawa taruhannya. Namun syukur Alhamdulillah! Setelah 10 jam, kami berhasil menyelesaikan pekerjaan ini dengan selamat. Dan kami berhasil mengumpullkan sarang burung walet seberat 125 Kg.

Sarang burung walet yang telah kami berhasil kami kumpulkan, kemudian dibawa oleh petugas dan beberapa karyawan untuk dikirim ke kantor. Sementara, beberapa karyawan yang lain istirahaat di dalam tenda yang telah disiapkan sebelumnya.

Aku, Yajid dan beberapa karyawan lain duduk di depan tenda sambil makan roti bakar dan ubi bakar. Api ungun selalu menyala sebagai penghangat tubuh. Sambil mengelilingi api ungun, kami berdendang riang dengan diiringi gitar, mirip anak-anak SMA yag tengah berkemah dan baru belajar mengenal hutan.

Ketika aku sedang asyik berdendang, entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seekor tikus besar lewat di sekitar api ungun. Tanpa dikomando, teman-teman berlomba menangkapnya. Di mataku, ukuran tikus itu benar-benar besar, sehingga mirip dengan kelinci.

Karena dikepung ramai-ramai, tikus itu berhasil mereka tangkap. Entah bagaimana, aku merasa iba melihat hewan tak berdaya itu. Aku pun berusaha merayu teman-teman agar melepaskan binatang tersebut. Tapi, teman-teman tidak memperdulikan permintaanku.

"Kau tahu, daging tikus jenis ini enak sekalli kalau dibakar!" Kata salah seorang dari mereka. Yang lain tertawa-tawa menyambutnya.

Aku menyerah. Dalam waktu yang singkat, tikus tersebut dibakar, dipotong, dan segera dikuliti, lalu dipanggang mirip babi guling. Kemudian dalam sekejap, sudah ludes jadi santapan mereka. Aku yang tak kuasa mencegah kekejaman mereka hanya diam menyaksikan pesta kecil itu.

Anehnya, ketika teman-teman baru menyelesaikan santapan daging tikus itu, mendadak ada seekor tikus lagi melintas. Kali ini lebih besar dan montok. Teman-teman berusaha menangkapnya. Tapi tikus ini rupanya jauh lebih cerdik dan gesit. Dia berlari masuk ke dalam gua kecil dekat perkemahan kami. Yohanes, salah seorang anggota tim, nekad berlari mengejar sambil membawa kayu yang sudah membara. Begitu juga dengan beberapa teman yang lainnya.

Akibatnya, lubang gua yang tidak terlalu besar itu dipenuhi oleh bara api. Dan Yohanes bersiap-siap menangkap tikus yang bersembunyi di dalam gua tersebut. Namun, apa yang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah tempat kami berpijak. Dan dalam hitunngan detik, dari dalam guakeluar tikus-tikus besar banyak sekali jumlahnya.

Tikus-tikus tersebut menyerang siapa saja yang ada didekatnya. Kulihat Yohanes terjatuh ketika menghindari tikus-tikus yang menyerang. Dia terjerembab ke tanah dan tubuhnya yang tegap itu segera menjadi santapan tikus-tikus tersebut.

Tak hanya itu, tenda tempat kami perkemahan kami juga hancur digigit gerombolan tikus-tikus itu. Sementara, Aku dan Yajid berusaha berlari sekencangnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran para tikus yang kesetanan itu. Tapi rupanya terlambat. Entah bagaimana, bumi tempat kami berpijak tiba-tiba runtuh. Dan kami pun ikut amblas ke dalam bumi.

Di dalam tanah yang kedalamanya sekitar sepuluh meter dari permukaan, aku dan Yajid melihat tikus-tikus besar dengan taringnya yang kuat dan tajam. Mereka sepertinya telah bersiap mencabik-cabik tubuh kami. Kulihat pula teman-teman pada teriak histeris menahan sakit. Bahkan, beberapa di antara mereka, dalam waktu sekejam saja tubuhnya hanya tinggal tulang-belulang.

Aku berusaha menyelamatkan diri. Ya, aku berusaha untuk selamat dari pertarungan yang aneh ini. Aku segera menarik Yajid dan kami berusaha untuk naik ke atas. Sialnya, tikus-tikus itu begitu gesit dan lincah. Hingga wajahku, kaki kananku, juga pundakku berhasil digigit hewan pengerat tersebut.

Aku dan Yajid berusaha sekuat tenaga untuk melawandan sebisa mungkin menghindari mereka. Darah segar muncrat dari sekujur tubuh kami. Tapi kami tidak menyerah. Kami berusaha untuk naik ke permukaan. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil.

Selanjutnya, kami terus berlari sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat guna menjauh dari tempat aneh itu. Celakanya, tikus-tikus itu seperti telah dirasuki naluri untuk membunuh. Mereka tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja. Kami terus berlari, dengan tikus-tikus yang terus mengejar!

Untunglah, ada sepasang suami istriyang menolong kami. Aneh sekali, tikus-tikus besar itu berhasil mereka halau hanya dengan melempar garam. Selanjutnya, aku dan Yajid dibawa ke rumah para penolong kami tersebut. Setelah luka-luka kami dibersihkan, kami pun diobati dengan ramuan berupa dedaunan. Meski awalnya terasa sangat perih, namun ramuan itu terbukti dapat menghilangkan rasa sakit, bahkan kemudian kami tertidur pulas.

Menjelang Subuh, aku mendengar suara orang perempuan merintih, menahan sakit di dalam kamarnya. Segera kubangunkan Yajid. Kami kemudian berusaha mengintip dari balik daun pintu. Ternyata, istri si penolong tadi mau melahirkan. Aku dan Yajid keheranan, sebab, waktu wanita itu menolong kami jelas sekali tidak dalam keadaan hamil. Perutnya juga biasa, tidak besar, bahkan terkesan langsing.

Tapi, aneh! Kok bisa tiba-tiba perutnya membesar seperti orang yang hamil 9 bulan. Belum sempat kami berpikir lebih jauh, tiba-tiba kami melihat terjadi sesuatu keanehan. Dari dalam perut wanita itu yang keluar bukannya si jabang bayi manusia, tapi tikus-tikus sebesar lengan yang masih berwarna merah. Sontak kami pun bergidik ketakutan.

Segera saja kami keluar dari tempat itu, dan selanjutnya kami berlari sekuat tenaga hingga kahirnya kami jatuh dan pingsan. Ketika aku membuka mata, tahu-tahu sudah ada di rumah sakit. Dan disampingku juga terbujur tubuh Yajid. Kaki kirinya diamputasi dan kedua dau telinganya juga lenyap. Aku terkesiap. Tak terasa air mataku mengalir deras.

Kuraba tubuhku. Subhanallah! Ternyata aku telah kehilangan lengan kiriku, dan pipiku yang sebelah kanan growak cukup dalam. Aku berteriak histeris, tapi tetap saja teriakkan itu tidak akan mengembalikan wajahku dan lenganku seperti semula, sebab aku telah menjadi orang cacat sepanjang hidupku.

Dan aku tidak tahu, apakah Tari masih menerimaku atau tidak. Apakah kelakk ada wanita yang siap menjadi calon istriku, karena aku tidak lagi gagah dan tampan?

Kini, diusia yang sudah menjelang kepala 5 aku masih tetap hidup sendiri. Dengan harapanuntuk meringankan beban hidupku, maka sengaja kuceritakan kisah pahitku ini kepada Misteri. Semoga para pembaca menjadi percaya dengan keberadaan bentuk-bentuk kehidupan lain di jagad raya yang penuh dengan misteri ini.

http://iwanlovers.wordpress.com/2011/11/12/bertarung-dengan-kawanan-tikus-siluman-di-pedalaman-papua/

SUMBER : Misteri, Edisi 452, Tahun 2008

Selasa, 11 Juni 2013

Jejak Darah Lintah

Jejak Darah LintahCerpen : Tova Zen

Setelah semua sidik, gerak-gerik dan olah data di tempat kejadian perkara, lantas apa lagi? Rasanya semua bukti raib dan menguap entah ke mana.Kejadian dalam perkara ini benar-benar mengacaukan pikiranku, membesut integratisku sebagai kepala polisi dan siap mengolok-olok kredibilitasku sebagai aparat publik yang cukup disegani. Malam ini pun aku resah dalam tidur, pikiranku selalu melayang pada peristiwa perampokan yang dialami seorang nenek tua yang hidup menyendiri di pinggiran hutan Tasmania. Wanita yang berumur tujuh puluh satu tahun itu benar-benar wanita kaya, aku bisa melihat dari gaya arsiterktur rumahnya dan perabotan dalam rumah elitnya itu. Padahal aku sempat berpikir nenek ini mungkin sudah uzur, sehingga daya ingatnya kabur dan menjalar pada ucapan dan lisannya yang serba ngawur.

Tidak! Wanita itu jelas-jelas tak pikun, aku bisa menangkap dari emosi psikoogisnya dan daya serap kata-katanya dalam pikiranku. Teratur, teliti dan penuh emosi saat mengungkapkan kisahnya padaku bahwa dirinya dirampok oleh dua orang pria bersenjata. Kami selaku tim penanganan kasus kriminalitas telah mendatangkan dua ekor anjing pelacak guna mengendus jejak pelaku, tapi hasilnya sia-sia belaka. Anjing-anjing yang terlatih itu tak menemukan bau penjahat yang terembus angin menuju keluar kawasan pedalaman itu. Semua mentok di area genangan sungai kecil yang melingkupi rumahnya. Sangat mungkin penjahat-penjahat itu masuk dan kabur menyeberangi sungai yang dihuni ribuan lintah.

Dari titik itulah kami kehilangan jejak sang perampok dan anehnya anjing kami selalu mengendus si nenek, seolah barang-brang yanng ada di rumahnya hanya tercium bau nenek tua itu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa nenek ini mangalami halusinasi akut. Intinya kami kehabisan akal, kehilangan bukti, dan tak punya saksi. Penyelidikan yang berat dan mungkin akann memakan waktu lama. Sampai sore tadi pun si nenek terus bersibaku memojokkanku untuk segera menangkap pelaku. Padahal dia sendiri gagu dan rabun saat ditanya seperti apa kiranya wajah-wajah perampok yang menguras harta itu? Nenek itu terus berkelit dan ia tak bisa menyebutkan seperti apa kilasan wajah pelaku perampokan, bahkan ia tak bisa memperkirakan tinggi badan dan postur tubuh si penjahat itu. Intinya kami kalah, tapi nenek tetap bersikeras bahwa dirinya mengalami perampokan.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi sahabatku, Bill Pitzer. Dia seorang ahli kimia dan biologi dan telah lama bekerja di Willington, New Zealand. Kuminta waktu liburnya untuk datanng ke Tasmania. Dia sangat girang saat mendengar kasus yang tak becus kupecahkan, bahkan seringainya dalam telepon membuatku menggulung muka karena tak kuat menahan malu. Aku tak peduli ia mau berpikir apa tentang ketidakbecusanku mengurus kasus ini, yang penting diamau datang dan segera menolongku. Biarlah malu di muka kawan, tapi jangan menanggung malu di muka anak buahku, bahkan aku tak mau dikatakan tak becus di muka si nenek itu.

Aku menjemputnya langsung di bandara dan segera kami mmennuju kediaman rumah si nenek yang masih sangat ngotot menelpon kantorku bahwa dirinya benar-benar dirampok dua pria persenjata. Aku membawa dua orang anak buahku, naanya Micoz yang menangani observasi kasus di lapangan dan satu lagi anak buahku yang menjabat kasus di bagian forensik bernama Carbagoz.

"Kau lihat kan Bill, rumah ini benar-benar terisolasi oleh sungai yang di dalamnya diternak ribuan lintah. Kurasa tak ada yang nekat menceburkan diri ke sungai kecil itu."

"Kalau dia memang nekat, apa pun bisa ia lakukan, Richard. Misalnya saja dia membawa pelampung karet atau papan yang di susun menjadi rakit. Bukankah itu mungkin saja terjadi dalam nalar yang perlu kita pikirkan?" ucapnya sambil memicingkan mata ke arahku.

Bodoh! Kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ ya? Hardikku kesal pada diriku sendiri. Segera aku memerintahkan Carbagoz dan Micoz untuk menemukan bukti-bukti berupa remahan-remahan kayu, jejak rumput yang tergesek oleh pelampung atau rakit kayu. Aku hanya mengharapkan ada bukti dan sidik jari.

"Hey, kawan. Jangan sentimentil begitu dalam menganalisis perkara. Tenanglah! Tak perlu kau repot-repot mencari jarum dalam sekam. Semua yang aku ungkapkan barusan hanya praaduga. Celoteh kawan." Bill terkekeh, puas sepertinya dia telah mempermainkan tiga orang polisi.

Nenek itu keluar saat kami menekan bel di pagar angkernya itu. Benar-benar tajam pendengaran nenek itu, sekali menekan bel langsung kepalanya menjulur melewati daun pintu rumahnya. Kami pun melangkah menghampirinya.

"Selamat pagi nyonya cantik, apa kabar anda hari ini?" pola tingkah dan gaya bicaranya sok bangsawan, sambil menundukkan tangan ia mencium punggung tangan si nenek renta itu.

Tak lama Bill menghampiriku dan merangkulku, ia membisikkan sesuatu ditelingaku. "Kawanku, tolong perintahkan dua anak buahmu itu untuk masuk ke dalam rumah nenek Gloria. Suruh mereka memeriksa benda-bendaapa saja yang kiranya mencurigakan. Aku sudah meminta izin pada nenek Gloria agar anak buahmu itu bisa melakukan penyelidikkan.

Tanpa pikir panjang aku pun menyuruh dua anak buahku masuk ke dalam rumah guna melakukan pemeriksaan. "Lalu apa yang kita lakukan Bill?"

"Kita cukup duduk di depan sungai itu sambil menunggu tugas anak buahmu selesai." Bill melangkah mendekati sungai penuh lintah itu, sementara aku hanya bisa terbengong menyaksikan polah tingkahnya yang makin aneh. Gila! "Bill! Kurasa kita harus ikut melakukan investigasi. Duduk bersantai seperti ini tak akan memecahkan masalah, kawan. O! aku tahu! Kau pasti sedang mencari inspirasi. Ku rasa berpikir untuk memecahkan masalah sambil memandang sungai berlintah merupakan ide buruk, Bill." Dia mengacuhkan perkataanku. Matanya dengan tajam menyisir area di sekitar kami duduk.

"Richard! Kau katakan padaku bahwa anjing yang kau bawa kala itu mengendus hinggaarea ini, bukan?" Aku mengangguk. Nada suaranya terdengar serius. "anjingmu melacak jejaknya, kawan. Tapi annjingmu tak mungkin berani menyeberangi sungai ini. Siapa yang menuntun tali anjing pelacakmu itu, kawan?"

"Micoz yang memegang tali kekang anjing-anjing palcak itu." Aku terdiam sesaat, lalu melanjutkann perkataanku. "Apakah kau menemukan jejaknya, Bill." Bill mengangguk ringan.

"Kurasa aku telah menemukan salah seorang perampok itu, tapi aku belum,tapi aku belum menemukan bukti untuk meneratnya. Maukah kau membantuku untuk menemukan bukti itu kawan?" Aku menatapnya sejenak. Entah mengapa dadaku yang tadinya seperti tertindih batu akibat beban kasus ini, kini jadi terasa ringan saat Bill menyingkirkan beban batu itu dengan perkataannya bahwa ia telah mengetahui sosok penjahat itu.

Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pinggir sungai berlintah it. Pandangannya mencari sesuatu entah apa yang ia cari. "Bill kawanku. Apakah kiranya yang sedang kau cari?"

"Lintah," jawabnya singkat."Lintah? Kenapa kau mencari lintah kawan?"

"Aku sangat yakin berdasarkan dengus anjingmu itu. Meyakini bahwa dua perampok itu menyeberangi sungai ini saat masuk maupun keluar. Sungai ini dangkal dan kedalamannya tak lebih dari pinggang kita, hanya saja banyak sekali lintah di dalam lumpur sungai ini. Aku yakin banyak sekali lintah yang melekat pada kaki-kaki mereka saat menyeberangi sungai ini." Aku masih bingung dengan rentetan penjelasannya. Tiba-tiba ia berteriak girang. "Aha! Akhirnya aku menemukan lintah." Ia mencapit lintah dengan dua batang ranting kering dan meyodorkan ke mukaku. "Gemuk sekali kan, Richard?"

"Singkirkan hewan jelek itu dari depan mukaku Bill." Kataku tegang bercampur jijik.

"Inilah bukti otentik yang keakuratannya nyaris sempurna untuk menjerat penjahat itu, kawan."

"Apa maksudmu, Bill. Aku tak mengerti? Tolong jelaskan padaku." Aku benar-benar tak mengerti, tapi samar-samar aku bisa menarik benang merah bahwa lintah inilah yang menempel kaki seseorang yang menyeberangi sungai itu tiga hari yang lalu."

"Inilah sampel darah lintah yang dapat kau jadikan bukti untuk menjerat pelaku. Jejak darah lintah ini sama saja jejak darah si pelaku. Ambil DNA-nya segera kawan! Untuk memperkuat bukti di persidangan. Aku akan menunjuk hidung si pelaku di depan hidungmu."

Tak lama Carbagoz dan Micoz keluar dan melaporkan hasil investigasinya. Laporan mereka klasik : tak ditemukan sidik jari yang tertinggal. Bill melangkah menghampiri Micoz lalu merangkulnya. Sambil menghadap ke arahku, Bill menunjuk hidung Micoz dengan telunjuk kanannya. "Inilah hidung si pelaku kawanku, Richard."

Aku terbengong. Benar-benar terkejut bukan kepalang. Carbagoz juga bingung melihat keterkejutanku. Jadi selama ini anjing-anjing pelacak mengendus jejak pelaku yang tak lain adalah si pawang anjing itu sendiri. Aku pun membawa sampel darah lintah itu ke laboratorium dan mencocokkan kode genetik darahlintah dan darah Micoz. Ternyata "match" dengan DNA Micoz.

Kasus terpecahkan dan Micoz mengakui perbuatannya yang dilakukannya bersama kawannya yang tak lain keponakan dari nenek Gloria. Kami pun meringkus keponakan nenek Gloria itu. Namanya Mr Robbit dan ia melakkukan perampokan hanya ingin mengambil haknya sebagai ahli waris dari ibunya yang diambil oleh nenek Gloria. Perkara keluarga yang menggemparkan daratan Tasmania. Aku patut mengucapkan terima kasih pada Bill. Tapi bagaimana ia bisa tahu kalau Micoz pelakunya? Biarlah itu enjadi teka-teki yang layak aku pecahkan sendiri. (*)

Sumatera Ekspres, Minggu, 24 Juli 2011

Senin, 10 Juni 2013

Misteri Gua Puteri Baturaja

Misteri Gua Puteri BaturajaLokasihnya memang agak tersembunyi, namun pendatang baru sekalipun dengan mudah bisa menemukannya. Sebab, warga sekitar gua akan dengan senang hati mengantar. Apalagi, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu sudah membangun jalan beton yang mengarah ke mulut gua. Jalan selebar 1-2 meter itu cukup lapang untuk dilalui.

Memasuki gua tersebut tidak perlu memiliki keahlian khusus layaknya penelusur gua. Pintu gua cukup lebar dan tinggi sehingga pengunjung tidak perlu menunduk, apalagi merangkak untuk memasukinya. Begitu juga ruangan di dalam gua tersebut. Lebar gua yang bervariasi, 8-20 meter, cukup lapang untuk berjalan-jalan. Jarak antara lantai gua dan langit-langitnya pun lebar, berkisar 2,7-4 meter.

Hanya, meski kondisinya lapang, pengunjung harus berhati-hati saat menapaki lantai gua dan menyusuri rute dari pintu masuk sampai ke pintu keluar. Meski sudah ada lampu penerangan di rute sepanjang 500 meter tersebut, dinding gua yang kelam tidak cukup membantu untuk menerangi isi gua. Selain pencahayaan yang tidak terlalu terang, pengunjung harus berhati-hati. Sebab, di beberapa bagian, jalanan menanjak dengan lantai yang licin.

Misteri Gua Puteri BaturajaBegitu memasuki gua tersebut, bau khas kotoran kelelawar langsung menyambut. Tidak perlu kaget jika tiba-tiba beberapa ekor binatang malam itu melintas. Pada langit-langit, ratusan kelelawar bergelantungan dengan kepala di bawah. Semua tantangan perjalanan dan sambutan itu terbayar ketika memasuki bagian tengah gua. Beragam bentuk batuan, termasuk stalagtit dan stalagmit seakan menembus lantai dan langit-langit gua. Belum hilang kekaguman menyaksikan benda-benda bentukan alam tersebut, telinga sudah terbuai dengan suara gemericik air dari bagian tengah gua. Suara itu berasal dari sungai bawah tanah di gua tersebut.

Sungai tersebut merupakan aliran anak Sungai Semuhun yang selanjutnya bertemu dengan Sungai Ogan. Meski berada di dalam gua, sungai itu cukup besar. Lebar badan sungai tersebut bervariasi, 8-12 meter. Konon, warga sekitar meyakini bahwa sungai di dalam gua itu dulu adalah pemandian bagi para putri kerajaan. Ada juga yang mempercayai bahwa air sungai tersebut mengandung khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Hanya dengan membasuh muka dengan air sungai tersebut, warga sekitar yakin bisa awet muda. Remaja yang belum mendapatkan jodoh juga bisa mencoba khasiat air sungai itu yang disebut-sebut bisa mengentengkan jodoh. Dugaan bahwa Gua Puteri pernah menjadi hunian manusia prasejarah didasari penelitian pada 2005. Balai Arkeologi Palembang menemukan jejak-jejak budaya prasejarah pada kedalaman tertentu.

Beberapa diantaranya pecahan gerabah, tulang binatang, bahkan tulang manusia. Juga ditemukan beberapa perkakas kuno, seperti batu pukul, batu pahat dan kapak batu. Temuan-temuan itulah yang mengarah pada dugaan bahwa gua tersebut pernah dihuni manusia. Dugaan tersebut diperkuat hasil penelitian tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) yang dipimpin Prof Truman Simanjuntak pada awal 2009. Penelitian tersebut dilakukan di Gua Harimau yang lokasinya berdekatan dengan Gua Putri. Di Gua Harimau, tim itu menemukan empat kerangka manusia yang berdasar ciri-cirinya berasal dari zaman neolitikum. (net)

Sumber: Palembang Pos