Sabtu, 06 Juli 2013

Menelaah Harta-Harta Iblis Penggoda Manusia

Menelaah Harta-Harta Iblis Penggoda ManusiaOleh: Sri Suparti

Segudang harta iblis irtu berbentuk batangan, koin emas, barang-barang antik yang nilainya milyaran rupiah dan sebagainya. Tapi pengorbanan untuk harta benda itu tentu saja sangat berat. Bahkan tak sebanding dengan risiko yang akan ditanggung oleh manusia dikemudian hari.

• • • • • • • • • • • • • • •



Berita mengenai uang balik, bank gaib hingga ritual sebuah pesugihan rasanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Masyarakat kita meyakini adanya campur tangan bangsa gaib untuk membuktikan apa yang sebelumnya mustahil menjadi sebuah kenyataan. Berita mengenai hal ini tentu saja menjadi berita hangat di masyarakat kita yang kebanyakan dari mereka diterpa kesulitan ekonomi.

Beberapa waktu lalu masyarakat Tuban juga dihebohkan adanya penemuan benda-benda kuno berupa logam mulia (emas), barang antik dari perunggu serta keramik peninggalan masa lalu. Bahkan belakangan ini tersiar kabar di daerah Magelang, tepatnya di area Candi Borobudur, ditemukan uang yang begitu banyak jumlahnya tercecer di sekitar candi. Anehnya uang-uang itu tidak ada yang merasa memiliki, walaupun aparat serta pihak pengelola candi berusaha mensosialisasikan penemuan tersebut.

Beberapa paranormal dan orang pintar meyakini kalau barang serta uang yang banyak bermunculan belakangan ini yang tanpa diketahui asal-muasulnya merupakan milik bangsa gaib (makhluk halus). berbagai dugaan dan perkiraan silih berganti hanya meninggalkan sebuah tanda tanya. Dugaan demi dugaan terus bergulir membuat polemik ini semakin panjang tak berujung.

Mungkin, keberadaan benda-benda itu merupakan pembuktian eksistensi makhluk halus di tengah kehidupan kita. Bahwa alam gaib pun memiliki peradaban yang tak kalah serupa dengan manusia, bahkan cenderung lebih maju dari bangsa manusia. Mereka memiliki penguasa, birokrasi, pengusaha serta rakyat jelata. Ini terbukti adanya logam mulia, alat tukar uang bahkan perbankan atau yang sering disebut dengan bang gaib. Kabarnya, mereka juga memiliki sebuah gudang harta karun, yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga miliknya.

Terlepas dari perdebatan benar atau tidaknya hal ini, beberapa pekan lalu Misteri berusaha melakukan pembuktian adanya kebenaran gudang harta karun yang sering menjadi polemik di tengah kehidupan kita. Kami menuju sebuah tempat yang sering menjadi incaran kauum supranatural. Tempat itu merupakan sebuah goa yang terletak di Pantai Selatan Pacitan. Dari serangkaian fakta dan data yang ditrma Misteri, tempat ini dulunya merupakan petilasan tokoh utama diera kekuasaan Mataram. Kemudian dengan berjalannya waktu, lokasi ini dijadikan tempat wisata religi yang ramai dikunjungi masyaraat dari dari berbagai daerah. Mereka beranggapan kalau di tempat tersebut bisa memperoleh apa yang dibutuhkan, terutama harta benda. Karenaa mereka berkeyakinan bahwa di goa ini merupakan gudangnya harta karun milik bangsa gaib.

Saat tiba di lokasi, kami pun membnarkan adanya hal itu. Ini terbukti setelah mengadakan kontak batin serta penerawangan di area goa.

Perjalanan kami ditemani oleh Pak Sarjono, paranormal setempat. Saat kaki kami mulai menapaki mulut goa, aura mistis dengan santer menyambut kedatangan kami. Ombak Pantai Selatan sayup-sayup masih terdengar jelas di telinga saat kami memasuki goa yang nampak angker itu. Tak ada pemandangan lain di sudut-sudut ruangan dan dinding, kecuali kotoran burung walet yang berserakan memenuhi lantai. Tepat di salah satu sudut ruangan yang cukup luas, Pak Sarjono menghentikan langkahnya.

"Kita tak bisa meneruskan perjalanan menuju ke dalam dengan keadaan seperti ini," potongnya sembari mencolek bahuku. Aku cukup paham dengan maksudnya.

"Kau bisa meraga sukma," sambungnya lagi.

"Aku pernah mempelajarnya, mudah-mudahan masih bisa kugunakan," jawabku seketika. Mungkin dengan cara ini kami bisa melanjutkan perjalanan menuju ke dalam.

"Kalau begitu tak ada masalah. Tolong kau jaga diri kami, kami akan masuk alam lain dengan meninggalkan raga ini. Karena sesuatu yang berfisik tak akan mampu menembus tabir yang menyelimuti tempat ini. Jangan sampai kau bangunkan dengan menyentuh tubuh kami. Jika ada sesuatu yang membahayakan, kau cukukp membisikannya saja pada telinga kita!" pesan Pak Sarjono kepada Tikno, penduduk setempat yang memandu kami menuju lokasi. Kemudian dijawabnya dengan anggukan kepala.

Tak membuang waktu, kami langsung mengadakan ritual kecil. Mengosongkan raga, melihat dan menapaki lokasi dengan sukma tanpa dibebani raga atau fisik sejati. Mungkin bagi Tikno hal ini hanya terdengar aneh, tapi tidak bagi kami berdua. Aku melihat dua sosok terduduk bersebelahan dan di depannya Tikno sedang sedang menatapnya penuh tidak kemengertian. Lalu kami berjalan meninggalkan raga-raga kosong yang kosong itu, melangkah menuju ke dalam goa.

Aku tersentak kaget, sempat mata kami berpandangan dengan Pak Sarjono, saat melihat keadaan di sekitar. ternyata apa yang aku lihat sebelumnya, begitu jauh berbeda. Sebuah struktur goa yang nampak kumuh penuh kotoran walet dengan bau tak sedap, kenyataannya merupakan sebuah gudang yang megah dan indah. Bahkan aku terkejut, ternyata kami sudah berada di salah satu ruangan yang menyerupai tempat tunggu.

Di setiap sudut ruangan nampak berdiri sesosok laki-laki dengan tubuh tinggi, hitam dan besar. Wajah mereka nampak seram dan tak ada keramahan pada dirinya. Beberapa penjaga dengan pandangan sinis menatap tajam, seolah dia mencurigai kedatangan kami.

"Hai....! Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa kau bisa masuk gudang harta kami?" bentak mereka dengan keras.

Jujur aku sedikit takut, padahal entah untuk berapa kalinya au memasuki alam gaib, tapi baru kali ini rasanya diriku merasa gemetar. Akhirnya aku sadari, kalau para gaib penjaga gudang harta bukanlah sosok makhluk halus dari glongan rendah, tapi mereka benar-benar pilihan, ini terbukti dari aura serta wibawanya yang membuat cut nyali kami.

"Maafkan kami, kedatanganku tak ada maksud untuk merampas atau mencuri harta milik kaummu. Kami hanya pengelana yang tersesat di tempat ini."
Mbr />"Banyak bangsamu yang suka mencuri dan merebut paksa harta milik kaum kami. Oleh karenanya aku harus mewaspadaimu, apa lagi kau nampaknya bukan manusia biasa. Terbukti dirmu bisa menembus pagar pembatas alam gaib yang kami buat," lanjutnya. Dengan berbagai alasan, kami berusaha meyakinkan makhluk gaib tersebut, yang nampaknya merupakan pemimpin penjaga gudang harta mereka.

"Percayalah, kami tidak akan mengingkarinya. Kami berjanji tidak akan berbuat macam-macam di daerahmu, apa lagi mencuri harta bendamu," sosok itu terdiam, dan akhirnya mengijinkan kami untuk melihat area gudang megah tersebut dengan pengawalannya.

"Ternyata memang benar, bangunan itu merupakan gudang harta milik bangsanya. Pantas saja penjagaan begitu ketat, ucapku dalam hati. Kami terus melangkah menyusuri jalan di antara sekatan-sekatan ruangan yang menyerupai kantor. Dan menurutnya, di setiap ruangan ada penjaga serta bagian administrasnya.

"Tempat ini merupakan penyimpan harta benda kami. Bagi kaum kami yang kaya, dia suka menitipkan hartanya di tempat ini, agar lebih aman dari pencurian dan jarahan bangsamu. Karena bangsamu suka nekad mengambil paksa atau mencuri harta kaum kami jika lengah. Oleh karena itu, mereka suka jengkel lalu merusak bangsamu dengan berbagai cara," ungkapnya sambil terus berjalan di antara ruangan-ruangan yang dijaga ketat oleh sosok-sosok yang menyeramkan.

"Lalu dari mana kaummu memperoleh harta sebenyak ini?" Tanya kami menyelidik.

"Kaum kami pekerja keras, dia banyak mendapatkannya dari dasar laut, terutama Laut Selatan ini. Di dasar laut banyak harta terpendam yang sudah tak bertuan dari kapal-kapal yang tenggelam beberapa ratus tahun lalu, dan pemiliknya pun telah tiada. Lalu oleh kaumku diambil dan disimpannya di tempat ini. Sebagian lagi menggali dari dasar perut bumi," timpalnya kemudian.

"Apakah dari perut bumi yang mereka dapatkan sudah berupa lempengan logam mulia atau uang yang bernominal sama dengan bangsaku?"

"O, tidak. Semua didapat dari perut bumi, susah dan menunggu hingga puluhan tahun lamanya. Kerena kebanyakan adalah peninggalan penguasa jaman dulu. Kerana suatu sebab, kemudian ia menympannya di dalam perut bumi. Lalu bangsaku menunggu hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Jika hal itu lama tak diambil, maka akan dibawa oleh kaumku ke tempat ini agar lebih aman. Oleh karena itu di tempat ini menumpuk harta benda aneka rupa dengan jumlah banyak. Tapi belakangan banyak bangsamu yang mencuri dan memaksa kaumku untuk memberikan harta itu dengan menukar seorang pembantu atau budak," jelasnya lagi.

"Bagaiman caranya bangsaku meminta atau menukar harta dengan kaummu di tempat ini?" Tanya kami penasaran.

"Sebagian bangsamu bisa mengambil paksa harta di sini, dengan jalan mengelabui kaumku dengan imbalan tertentu. Sebagian lagi bangsamu berani menukarnya dengan nyawa kerabat, teman bahkan dirinya sendiri untuk dijadikan budak demi sebuah harta. Hingga kaumku mengambil harta yang dititipkan disini untuk membayarnya."

Mungkin inilah yang dsebut dengan laku pesugihan, batinku. Lalu kepada Misteri, sosok itu menunjuk salah satu ruangan yang cukup besar. "Kalian lihat, di tempat itulah gudang penyimpanan berbagai harta milik kami. Bangsamu banyak yang mengundang dan transaksi dengan kaumku di depan pintu sana."

Dalam perbincangan dengan Misteri ia menuturkan, manusia yang nekad dan tak beriman akan menjual atau menggadaikan nyawa dengan bangsanya di sana. Pada umumnya mereka yang gelap mata dan mengetahui dengan persis kalau di tempat itu merupakan gudang harta bangsa iblis, sehingga dengan mudah ia tergoda untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Berbagai laku ritual dengan persyaratan beraneka ragam mereka gunakan, termasuk mengadakan perjanjian yang berbuntut pengorbanan.

Lebih lanjut sosok tinggi besar yang mendampingi perjalanan kami menuturkan, pada umumnya bangsa manusia ingin hidup enak dengan harta melimpah, tapi tidak mau berusaha dan bekerja keras, tidak seperti kaumnya yang bekerja dengan gigih siang dan malam.

"Karena itu sebagian kaumku yang kaya dan sombong juga sering menggoda dengan harta bendanya kepada manusia, agar mereka iri dan masuk ke dalam perangkapnya, sehingga manusia yang lupa diri itu suatu saat akan menjadi budaknya di alam ini."

Pantas di tempat ini sering dilakukan ritual pencarian berkah, bahkan tak jarang digunakan sebagai laku pencarian kekayaan atau pesugihan. Karena mereka benar-benar telah tergoda dengan harta benda iblis yang memang banyak tersimpan di tempat ini. Banyak hal yang serupa antara kehidupan manusia dengan alam mereka, mungkin yang membedakan hanya soal istilah serta pengertian bahasanya. Sembari melangkah kembali ke ruang depan, kami masih sempat bertanya, untuk apa harta yang melimpah itu baginya.

"Harta atau benda yang berupa logam mulia atau mata uang serta benda antik juga dibutuhkan kaumku. Dalam keseharian mereka membutuhkan barang-barang itu. Bahkan beberapa pemimpin kami, rumahnya berdinding emas den berhiaskan benda antik. Karena itu aku pesan kepadamu dan sampaikan pula dengan yang lain, jangan pernah tergoda dengan harta-harta milik bangsa kami. Karena reskonya akan berat di kemudian hari. Semoga hal ini bsa disadari bangsamu , bahwa kami hidup sejajar hanya menempati ruang serta dimensi yang berbeda. Dan semoga bisa terjalin persahabatan yang baik." Tandasnya menutup perbincangan, karena saat itu kami sudah berada di ruang semula, tempat dimana aku dan Pak Sarjono meninggalkan raga yang dijaga oleh Tikno.

SEketika itu pula, kembali kami memasuki fisik kosong yang cukup lama ditinggalkan. Kami kaget, lelah dan capek menyelimuti tubuh ini. Begitu terkesan rasa menjelajahi alam gaib, dimana kami bisa melihat sendiri dengan jelas harta-harta iblis yang melimpah dan sering menggoda kehidupan manusia itu. Semoga catatan ini bisa membuka mata hati kita terhadap dunia gaib yang memang terkadang tak bisa dilogika dengan akal biasa. (*)

Sumber: Misteri, Edisi 561 Tahun 2013

Jumat, 05 Juli 2013

Efek Bahaya Mengkonsumsi Makanan Pedas

Efek Bahaya Mengkonsumsi Makanan Pedas

Selain menantang, aneka keripik pedas atau ramen yang menyediakan level-level tertentu untuk menunjukkan tingkat kepedasannya juga membuat seseorang merasa bangga jika ia sukses melahap Si Keripik Pedas. ­­Memang, sih, cabai yang menjadi sumber pedas mempunyai banyak manfaat.

Sebut saja kandungan vitamin C yang tinggi, kandungan capsaicin yang dapat membunuh sel kanker, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan mengendalikan pencemaran mikroba pada makanan. Namun, seperti kata pepatah lama, segala yang berlebihan tidak akan menimbulkan kebaikan. Begitu juga ketika Anda memakan terlalu banyak makanan pedas.

Diare
Makanan pedas dapat mempercepat gerakan di usus yang mempermudah terjadinya diare. Ketika makanan pedas sudah sampai di usus besar, efek iritasi dari makanan pedas ini akan langsung terasa. Kemudian tubuh akan mengirim lebih banyak air ke usus untuk meredakan gejala iritasi. Perlu disadari, setiap orang memiliki kepekaan usus yang berbeda sehingga daya tahan terhadap makanan pedas akan berbeda pula. Jika Anda termasuk sensitif pada makanan pedas, sebaiknya batasi konsumsi makanan pedas.

Gastritis
Konsumsi makanan pedas yang terlalu sering dapat menyebabkan permukaan lambung menjadi rapuh dan mudah mengalami luka. Penyakit itu disebut gastritis alias mag, yang terjadi karena adanya peradangan pada lapisan lambung. Pasalnya, lambung yang sering ditimpa makanan pedas mengakibatkan lapisan-lapisannya menipis dan rentan terkena infeksi.

Alergi
Pernah merasa lidah Anda terbagi menjadi pola-pola tertentu yang mengakibatkan makanan jadi terasa hambar? Hal tersebut dipercaya sebagai akibat dari alergi pada lidah. Sama halnya dengan makanan atau minuman yang terlalu panas, makanan pedas pun dapat mengakibatkan beberapa bagian lidah alergi sehingga nafsu makan Anda berkurang karena ketidaknyamanan.

Sensitivitas lidah berkurang
Pengonsumsian makanan pedas yang berlebihan dapat mengurangi sensasi rasa secara permanen sehingga lidah tidak lagi responsif dalam mengecap rasa. Jika Anda merasa semakin lama semakin kuat mengonsumsi makanan pedas, sebaiknya berhati-hati. Bukan berarti Anda semakin terbiasa, bisa jadi sensitivitas indera pengecap berangsur aus. Paling fatal, lidah tidak lagi berfungsi maksimal untuk menentukan porsi makanan pedas yang dapat kita tolerir.

Insomnia
Makanan pedas pun dapat mengganggu pola tidur. Sejatinya, tubuh Anda perlu rileks ketika Anda hendak tidur, terutama pada siklus pertama menuju saat terlelap karena makanan pedas juga dapat meningkatkan temperatur tubuh dan memicu detak jantung lebih cepat. Maka hindari makanan pedas sebelum Anda pergi tidur, ya!

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Sriwijaya Post, Minggu, 27 November 2011

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Makanan pedas merupakan makanan yang unik. Menusuk lidah dengan sensasi panasnya, namun rasanya tetap disukai oleh banyak orang. Bahkan ada pula yang berprinsip, tidak bisa makan tanpa makanan pedas.

Satu teori yang mungkin menjelaskan hal ini adalah manusia menyukai sensasi. Manusia secara aneh menemukan kenikmatan dari hal-hal yang seharusnya menakutkan dan menyakitkan, seperti menaiki roller coaster atau berlari maraton. Ini adalah pertarungan antara pikiran dan tubuh, dan dimenangkan oleh pikiran.

Di samping itu, di balik sensasi pedas yang menusuk lidah, makanan pedas juga memiliki segudang manfaat kesehatan bagi tubuh. Simaklah 6 manfaat makanan pedas berikut.

1. Menurunkan berat badan
Makanan pedas dapat meningkatkan metabolisme yang berdampak pada penurunan berat badan. Penelitian menunjukkan senyawa utama dalam cabai yang disebut capsaicin memiliki efek termogenik dan membantu tubuh untuk membakar lebih banyak kalori setelah makanan dimakan.

2. Menyehatkan jantung
Penelitian menunjukkan, orang yang terbiasa memakan makanan pedas memiliki jumlah insiden serangan jantung dan stroke yang lebih kecil. Alsannya karena cabai dapat mengurangi efek merusak dari kolesterol "jahat" atau Low Density Lipoprotein (LDL) dan capsaicin memiliki efek antiinflamasi. Inflamasi merupakan faktor risiko dari penyakit jantung.

3. Mencegah kanker
Menurut American Association for Cancer Research, capsaicin memiliki kemampuan untuk membunuh sel kanker dan leukemik. Rempah-rempah tertentu seperti kunyit yang ditemukan dalam bubuk kari dan mustard dapat memperlambat penyebaran kanker dan pertumbuhan tumor. Kombinasi kunyit dengan lada hitam akan membuat efeknya berlipat ganda.

4. Menurunkan tekanan darah
Vitamin A dan C dapat memperkuat dinding otot jantung, dan panas dari lada akan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Sehingga dengan mengonsumsi makanan mengandung lada secara keseluruhan dapat memperbaiki sistem kardiovaskular.

5. Memperbaiki mood
Makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon yang membuat perasaan menjadi bahagia, seperti serotonin. Maka makanan pedas dapat membantu meringankan depresi dan stres.

6. Mencegah Parkinson
Sebuah penelitian baru yang dipublikasi dalam jurnal Annals of Neurology menemukan bahwa mengonsumsi lada dua kali seminggu dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan penyakit Parkinson hingga lebih dari sepertiganya. Hal ini berhubungan dengan kandungan nikotin dalam lada yang dapat mencegah kerusakan saraf.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Sriwijaya Post, Sabtu, 11 Mei 2013

Rabu, 03 Juli 2013

Bercumbu dengan Arwah di Atas Sungai Musi

Bercumbu dengan Arwah di Atas Sungai MusiOleh: Siti Henny Nawani

Dengan manja Bulan merebahkan dirinya dipangkuanku. Semilir angin Sungai Musi menebarkan alunan kidung cinta asmara. Desiran puisi cinta mendayu-dayu menambah keindahan malam Jumat Kliwon yang keramat. Bulan membeikan kehangatan ranjang rumah panggungku yang sudah sepuluh tahun ditinggal Yulianti Murtopo, istriku yang terkena serangan penyakit kanker rahim yang ganas. Kuburan Yulianti sudah lama kering dan aku dikiriminya Bulan, gadis cantik, seksi dan anggun, yang ternyata bukan wanita bangsa gaib biasa, tetapi Yulianti Murdopo yang cantik. Arwah almarhumah istrku yang berubah nama menjadi.... Bulan!

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Hari setelah sepuluh tahun hidup bersama dengan Yulianti Mirdopo tanpa anak, akhirnya penyakit kanker ganas dirahimnya, terpaksa merenggut nyawanya juga. Kematian Yilianti menorehkan luka yang dalam dibatinku, utuk itu aku bertekad tidak akan menikah lagi, dan aku tetap setia sampai mati kepada istriku yang aku sangat cintai itu.

Setiap minggu, aku ziarah ke makam Yulianti di Tebing Ginting, Ogan Ilir 40 kilometer dari Kota Palembang. Di pemakaman umum itu, aku mengganti kembang, bunga mawar kesukaan Yulianti ketika hidup, mawar warna merah yang sangat wangi, yang kubeli di tukang kembang Kertapati.

Semua keluarga, termasuk keluarga Yulianti Murdopo, Pak Mudopo, mertuaku, menyarankan agar aku menikah lagi, berpacaran dan melupakan Yulianti yang sudah tiada. Tetapin aku tidak bisa, karena cintaku yang berkarat kepada strku itu, maka aku tidak bisa melupakannya. Bahkan, pihak keluargaku menganggap aku sudah gila, mencintai istri yang sudah terkubur dan tiap minggu mendatangi makamnya dan berbicara.

"Yulianti sudah menjadi tulang belulang di tanah perkuburannya, bila kau hendak mengirim Al-Fatihah, tahlil untuknya, tdak harus ke makamnya, cukup kau lakukan di rumah Insya Allah akan sampai dan meringankan kehidupannya di alam baka," desis Haji Marwan Manaf, ayahku, yang bolak balik meminta aku untuk tidak ke makam Yulianti lagi, karena menempuh jarak yang jauh dan berisiko berat.

"Dari hari Jumat hingga Minggu kau mendatangi makam dan menginap di pemakaman, kau sudah tidak normal lagi, kau sudah gila ya?" bentak ayahku, meminta agar aku memberhentikan usaha itu, usaha yang dianggapnya sangat tidak masuk di akal sehat manusia. Berulang kali aku berkata kepada ayah, bahwa aku yang menjalani ini, wilayah pribadiku dan aku tidak berat melakukannya untuk Yulianti Murdopo.

Hubungan percintaan aku dengan Yulianti Murdopo, berlangsung sejak kami duduk di bangku SMA Negeri 1, Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto, Bukit Besar, Palembang. Saat itu kami sama-sama satu kelas dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama karena kami sama-sama aktif di kesenian.

Kami berada dalam satu kelompok Pop Song, grup musik sekolah yang sering tampil di panggung luar sekolah. Saya bermain gitar sedangkan Yulianti, bersama Rika, Ita dan Hilmie, menyanyi. Sedangkan aku bersama empat teman pria lain, bermain gitar,flute, dan keyboard.

Ketika grup kami diadu dalam festival Pop Song se-SLTA Sumatera Selatan, di luaar dugaan, karena rajinnya kami berlatih, kami keluar sebagai juara satu. Karena kami berjibaku utuk menang, kekentalan kami dalam satu grup, begitu dekat dan tak ayal aku dan Yulianti saling jatuh hati.

Percintaan akami semakin kuat hingga kami sampai d perguruan tinggi Universitas Sriwijaya di Fakultas Hukum. Setalah sarana, Yulianti mendalami ilmu notaris sedangkan aku menjadi pengacara LBH di Palembang. Setelah menjalani beberapa proses pendidikan, di antaranya magang sidang membantu advokat, aku pun akhirnya menjadi lawyer profesional.

Setelah kami sama-sama menghasilkan uang, kami pun mensucikan percintaan kami dengan menikah. Ijab Kabul dilakukan di Masjid Agung Sultam Mahmud Badaruddin dan resepsi dilakukan di Hotel Swarna Dwipa di Talang Semut, Palembang.

Setelah resepsi yang agung itu, kami kembali ke rumah panggung yang aku beli dari pamanku di tepi Sungai Musi daerah 7 Ulu Laut, Palembang Lamo. Rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu onglen, ulin itu, menghadap lalu lintas air sungai yang terbentang luas nan panjang. Aku membeli sebuah skoci, speedboat 80 PK untuk kendaraan air aku dan Yulianti ke mana mau pergi.

Jika kami berlibur hari Sabtu dan Minggu, dengan skoci itu kami berjalan selama 4 jam menyusri 80 mil laut menuju Sungsang, Musi Banyuasin. Kami menghabiskan liburan itu di hotel terapung milik Pak Lurah Sarketing, dan disitu pula kami menikmati hidup dengan kesederhanaan.

Cinta kami semakin kuat. Rasa ketergantungan hidup terhadap Yulianti semakin besar dari hari ke hari. Begitu juga dengan Yulianti, yang semakin jauh semakin ketergantungan kepadaku. Bila aku mendapatkan uang besar dari prfesiku sebagai lawyer dan Yulianti dapat bonus dari pekerjaannya sebagai notaris, kami gunakan pula uang kami bersama itu untuk jalan-jalan ke luar negeri. Kami sudah menginap di Rio Jeneiro Brazil, Pulau Bermuda di Puerto Rico dan kaki gunng Mount Cook di Selandia Baru.

Mungkin, karena tidak punya anak, maka usaha untuk berwisata mancanegara itu lebih mudah ketimbang orang yang punya anak. Yulianti sering memanjakan aku seperti anak kecil, aku dianggapnya sebagai anak yang dielus-elus dan dimanjakannya, setelah bergantian aku yang menadikannya sebagai anak, memanjkannya bahkan sering sekali aku menggendongnya sampai jauh. Untunglah tubuh Yulianti agak langsing, beratnya hanya 52 kg tinggi 166 cm sedangkan aku berberat 88 kg bertinggi 178 cm, maka itu aku sangat kuat menggendongnya sampai ratusan meter di kaki gunung.

Perjalanan kehidupan perkawinan kami penuh semarak. Keluarga Murdopo dan keluargaku, sangat mendukung apa yang kami lakukan, menikmati jerih payah kami sebagai pencari uang dengan keras. Namun begitu, kami menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk keluarga Yulianti yang kurang mampu dan keluargaku juga yang kurang mampu.

Karena lama tidak hamil, kami memeriksakan keadaan kesubran kami ke para ahli. Beberapa dokter kami datangi beberapa ahli alternatif kami sambangi, kepingin mendapatkan anak. Namun terakhir, setelah melakukan general check up, termasuk melakukan foto MRI (magnetic resonance imaging) di Jakarta, kami terperanjat dan shock. Arkian, ternyata dalam dinding rahim Yulianti ada kanker, tumor ganas yang positif dan sangat berbahaya. Kanker itu, selain tidak akan membuatnya mampu hamil, tapi juga akan mengancam jiwanya.

Karena penyakit mengerikan itu, maka setiap malam aku sulit tidur. Pada saat Yulianti terlelap, aku memandangi wajahnya dan menangis. Namun, di dalam pandanganku juga, aku menyertakan doa yang khusyuk meminta agar Allah Azza Wajalla menurunkan kasih sayang Nya kepada Yulianti, membebaskan istrku itu dari penyakit berbahaya itu. Aku meminta dengan sangat kepada Allah agar Allah melindungi istriku, mnarik penyakit itu dan menyembuhkannya.

Sayang, doaku ini ternyata belum diijabah oleh Allah, karena setelah dilakukan operasi, operasi itu gagal dan Yulianti menghembuskan napasnya yang terahir. Tubuhku oleng dan aku tidak kuat lagi berdiri. Aku terus menerus mencuim jasad istriku yang malang itu. Yulianti Murdopo yang sangat aku cintai, sangat aku sayangi dan hampir sepenuh jiwaku kugantungkan kepadanya. Namun begitu, pada sisi yang lain, aku menerima keputusan Alla SWT yang buru-buru mengambil nyawa istrku ini setelah sepuluh tahun kami hidup berdua. Sudah menjadi skenario, jalan cerita hidup yang sudah tergaris dan aku harus bisa menerimanya.

Sebenarnya, terkadang aku kepingin mati bersama Yulianti dengan meminum racun atau menembak jantungku sendiri akan aku mati pula bersamanya. Namun, ajaran agamaku, mengharamkan orang mati bunuh diri dan Allah sangat murka, maka au membatalkan niat itu. Aku tidak mau masuk neraka karena sesuatu tindakan yang yang dibenci Allah, Tuhanku Yang Maha Agung.

"Bunuh diri adalah dosa yang tiada ampunan dari Allah. Tanpa ditimbang-timbang, orang yang mati karena bunuh diri, akan dimasukkan ke dalam neraka yang panas," ujar Kiyai Abdullah Rofiq, guru spiritualku di Lubuksakti, Ogan Komering Ilir, pada saat aku mempertanyakan hal itu kepadanya.

Tapi, pikirku, hal dosa itu hanya pendapat kiyai yang belum tentu ada di kitab suci maupun hadits. Yang berhak atas dosa, pahala, neraka dan surga itu hanya Allah. Kenyataan hidup mati itu, termasuk pernik dalam kehidupan, merupakan kekuasaan juga kekuatan Allah SWT dan hanya Dia-lah yang tahu. "Tahu apa manusia soal apa yang ada di keputusan Allah? Tidak ada yang tahu, kecuali Allah Yang Maha Besar," batinku.

Secara logika aku menghitung-hitung, bahwa lahir, hidup dan mati itu wewenang Allah dan hanya Dia-lah yang berkuasa atas manusia, alam raya, jagat semesta, dan dunia arwah.

Bunuh diri, mungkin artinya, sama saja dengan menyangkal keputusan Allah walau cara bunuh diri itu sendiri, bisa dicegat oleh Allah jika Allah mau. Takdir bunuh diri itu sendiri karena Allah, dalam hukum sebab akibat. Akibat menembak jantung, maka jantung terhenti lalu mati. Tetapi, jika Allah tidak tidak memutuskan hal itu, maka jantung yang ditembak, meleset ke daging dan tidak jadi mati. Atau peluru melenceng mengenai kerbau dan kerbaulah yang mati, bukan si penembak.

Namun bgitu, pikirku, dunia ini bukanlah matematika. Tidak bisa dinalar dengan hitung menghitung. Apalagi menyangkut mati, gaib, kelahiran dan penyakit. Allah menurunkan penyakit, memberi penyakit kepada ummatnya, tetapi Allah pula yang mngambil penyakit itu, jika Dia mau. Maka itu, banak dukun berkata, setiap penyakit pasti ada obatnya. Sebab Allah yang menurunkan penyakit, Allah pula yag menurunkan obat. Cuma terkadang keterbatasan manusia, maka manusia tidak tahu mana obat untuk penyakit yang sama-sama diturunkan oleh Allah itu.

Setelah sepuluh tahun Yulianti Murdopo meniggal dan aku rutin ke makamnya setiap minggu, suatu malam Jumat Kliwon yang wingit, aku tertidur di pusara Yulianti. Dalam mimpiku, Yulianti keluar dari kuburnya dan menunjkkan wajah yang cantik, anggun dan mempesona persis semasa kami baru menikah.

Dalam mimpiku itu, Yulianti memakai gaun warna putih sutra dengan gambar mawar merah di bagian krahnya.

"Aku akan hidup lagi dan akan bersamamu di rumah dengan nama Bulan, Bang. Abang rahasiakan hal ini kepada siapapun dan semutpun, tidak boleh tahu, dinding rumah kita pun, tidak boleh tahu. Apalagi keluarga besar kita. Rahasiakan pertemuan ini dan aku akan tetap hidup bersama Abang di Sungai Musi, rumah kita yang damai," kata Yulianti Murdopo, dalam impian itu. Setelah sepuluh tahun wafat, baru itulah aku mimpi didatangi Yulianti dan mimpi itu eperti kenyataan.

"Kesetian Abang kepadaku begitu besar, cinta dan kasih sayang Abang kepadaku begitu agung, walau sudah sepuluh tahun aku terkubur, sehingga gaib memerintahkanku untuk turun lagi ke bumi, maujud untuk mendampingi Abang yang kesepian," bisiknya, merdu, persis suara Yulianti Murdopo semasa hidup.

Ketika aku terbangun, hari sudah menjelang pagi. Aku buru-buru ke teluk, sumur dekat makam untuk mengambil air wudhu dan shalat Subuh d makam Yulianti. Sementara itu, Yulianti raib karena kenyataan itu hanya fatamorgana, mimpi belaka, mimpi yang seakan menjadi kenyataan. Fatamorgana yang seakan-akan nyata di depan mataku.

Setelah hari pagi, aku kembali ke Palembang, meninggalkan pemakaman Tebing Ginting, kuburan Yulianti bersama ribuan kuburan lain. Aku pacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi karena aku ingin segera masuk ke rumahku di Sungai Musi, tempat di mana Yulianti menggambarkan ada kembang mawar merah kesukaannya di kamar. Dalam mimpiku, Yulianti berkata tentang bukti kehadirannya di rumah, yaitu kembang mawar merah di ranjang kami, yang speinya ditata oleh Yulianti 10 tahun lalu tanpa aku ganti, kecuali dibersihkan dari debu.

Begitu memarkirkan mobil di perparkiran 7 Ulu Laut, aku berjalan menuju rumah dengan cepat. Setelah membuka kunci pintu, aku buru-buru menghambur ke kamar tidur yang sudah lama tidak aku tempati itu. Aku terus terusan menangis melihat melihat tempat tidur kami berdua itu dan kenangan sprei serta ranjang yang begitu agung bagiku. Ibu dan ayahku marah besar mengetahui sprei itu tidak pernah aku ganti lantaran, kataku, karena demi cinta kepada almarhumah.

"Kamu itu seorang advokat, pengacara tangguh, lawyer yang pintar dan tangkas di persidangan, semua teman seprofesi kamu mengakui kehebatanmu. Akan tetapi sikap hidupmu sesungguhnya, terutama mensiasati kematian istrimu, tidak pernah sama sekali menunjukkan bahwa kamu itu seorang pengacara yang logis, matematis dan rasional. Kamu seorang yang tidak rasional dan cenderung menjadi gila kepada istrimu yang sudah menjadi tulang belulang," teriak ayahku, saat mengetahui sprei milik Yulianti masih terpasang utuh.

Karena kesal, ayahku lalu menarik sprei itu dan melemparkannya ke Sungai Musi. Secara reflek, aku terjun dari jendela ke aliran sungai yang deras untuk mendapatkan kembali sprei Yulianti itu. Untunglah nyawaku selamat dan sprei itu kembali aku dapatkan, aku keringkan dan kupasang lagi di ranjangku.

Sejak itu ayah dan ibuku tidak berani lagi menggangu harta peninggalan Yulianti, barang peninggalan Yulianti istri terkasih. Sebenarnya ada dua pengacara wanita canti yang menaksirku dengan mendekati ibu dan ayahku. Mereka ingin aku pacari bahkan ingin aku nikahi. Keduanya berebut untuk mendapatkan cintaku, namun hatiku hanya untuk Yulianti sampai aku mati.

Pada saat aku membuka pintu kamar, aku benar-benar kaget, tersentak melihat setangkai mawar merah dengan tangkainya yang masih segar bugar berseri. Yang artinya baru saja dipetik dari sebuah taman di daerah Palembang.

Bila Abang masuk kamar dan melihat setangkai mawar merah kesukaanku, itu berarti aku akan datang di malam harinya dan Abang bersiaplah dengan busana tidur dan tubuh yang bersih setelah shalat Isya'," kata Yulianti, di dalam impianku di makam itu. Mawar itu segera aku ambil dan aku cium. Baunya semerbak dan sangat mewangi. Di tangkai kembang itu, aku menemukan tulisan di kertas kecil dan tulisan tangan itu sangat aku kenal betul, adalah goresan jari Yulianti Murdopo.

"Abang, aku Bulan, istrimu Yulianti Murdopo, dan sebutlah namaku Bulan, jangan dengan nama asliku, karena aku sudah menjadi bulan," tulisan Yulanti Murdopo, dengan rapi dan tertata artistik di kertas putih yang wangi.

Malam Jumat Kliwon, 7 Januari 2011, pukul 23.00 menjelang tengah malam, Yulianti Murdopo yang berganti nama Bulan, datang dari pintu depan, terbang di atas Sungai Musi yang damai. Dia masuk di jendela kamar dan mengenakan baju tidur putih bergambar mawar merah di krahn busananya. Sama persis dengan impianku, di makamnya itu. Malam itu kami bercerita banyak hal, persis sebagai mana kami dulu masih bersama dalam pernikahan. Suara, desah napas dan kemanjaannya, tidak ada yang berbeda dengan sepuluh tahun lalu saat dia menjadi istriku.

Bulan datang dan memberikan kebahagiaan Bulan datang dengan desiran nyanyian yang merdu, suara gemuruh gelombang Sungai Musi yang damai. Puisi cinta yang mendayu-dayu, mendatangiku, berbelitkan cinta malam Jumat Kliwon yang wingit.

"Abang, fajar telah menyingsing di timur kota dan aku akan segera pergi ke alamku, dan aku akan datang Jumat Kliwon yang indah di bulan Februari nanti. Selamat tinggal Abang dan berjanjilah akan tetap mencintaiku selamanya, karena aku mencintai Abang walau kita sudah berbeda dunia, di mana aku telah berganti dunia nyata dengan dunia alam tersendiri yang aku sendiri tak tahu namanya," desis Bulan sambil memeluk tubuhku dengan erat.

Lalu aku membalas memeluknya erat. Setelah itu, aku memeluk angin, karena Bulan menjadi angin lalu terbang ke Sungai Musi dan terbang jauh ke alamnya, alam Dilin, dimensi lain yang aku sendiri tidak tahu di mana adanya. Selamat jalan sayang dan jangan lupa datang di bulan depan, malam Jumat Kliwon, 11 Februari 2011 pukul 23.00 Waktu Palembang di mana aku menunggumu untuk bercerita semalam di kamar kita yang romatis. (*)

Sumber: Misteri Edisi 561 Tahun 2013

Minggu, 30 Juni 2013

Ayodya

Ayodya Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah Anda bila kuceritakan bahwa beribu-ribu tahun yang lampau, Mojokerto, kota yang sekarang kutempati ini bernama Ayodya? Jauh sebelum Raden Wijaya membuka hutan Tarik dan membangun Kerajaan Majapahit di sini. Dan itu berarti, jauh pula sebelum candi-candi dari batu bata merah seperti Bajang Ratu atau Wringin Lawang dibangun dan Negarakertagama ditulis dan banyak digunakan oleh ahli sejarah untuk menguak mempelajari kejayaan kerajaan yang konon sar di Nusantara itu. Ribuan tahun yang cukup untuk menenggelamkan sejarah atau mengubah yang kenyataan menjadi dongeng atau legenda.

Barangkali, mendengar nama kota itu, ingatan kita akan langsung terbawa pada cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. Sebuah negeri darimana pahlawan besar dari epik itu, Rama Wijaya, berasal dan kelak di ujung cerita itu, menjadi rajanya. Tapi percayalah Ayodya di epik Ramayana tidaklah sama dengan dengan Ayodya dalam cerita yang hendak kukisahkan ini. Ayodya di epik ini terletak di tepi Sungai Brantas. Dan tidak ada Rama dalam ceritaku ini. Tidak pula ada Dasaratha, atau Laksmana, atau Sinta.

Aku tidak tahu kenapa Walmiki menamai negeri dalam ceritanya Ayodya. Ayodya dalam ceritaku ini memiliki arti kota perawan. Entah dalam cerita Walmiki. Namun aku bisa mengisahkan kepada Anda kenapa kota purba dalam ceritaku ini bernama Ayodya, kota perawan.

Aku mendengar riwayat ini dari seorang tua di daerah Trowulan, sebuah kecamatan di Mojokerto di mana banyak orang meyakini bahwa di kecamatan inilah Keraton Majapahit terpendam (beberapa orang juga teramat yakin bahwa keraton itu muksa setelah perang Paregrek usai), yang sdah tidak ingat lagi berapa usianya namun ngotot mengatakan bahwa dia sudah lahir ketika Sunan Ampel menginjakkan kaki pertama kali di Surabaya (bisakah Anda bayangkan berapa usianya? Bahkan, perihal sumber cerita ini saja sudah mragukan).

Di kota ini, tinggal seorang perempuan yang pandai meracik ramuan dan banyak membaca kitab-kitab mantra. Orang-orang menyebutnya dukun. Bertahun-tahun ia mempelajari segala ramuan dan mantra. Itu semua dikarenakan oleh seorang lelaki. Lelaki yang dicintainya namun menolaknya dengan cara yang tidak baik dan membuatnya merasa malu.

Lelaki itu berkata bahwa hidung si perempuan seperti hidung babi dan kulitnya kasar seperti kulit buaya. Dan si lelaki itu, yang juga seorang pembual, menceritakan di warung-warung, di pasar, di lapangan, di segala tempat keramaian bahwa ia telah menolak si perempuan karena rupa perempuan itu tidak seperti manusia.

"Bagaimana seseorang setampan aku bisa jatuh cinta dengan perempuan semacam itu?" si lelaki berkata. Dan Anda tak perlu heran bila pada waktu itu perempuan tidak merasa sungkan mengucapan cinta lebih dulu kepada laki-laki. Itu bukan hal yang tabu dn lazim dilakukan pada masa itu (dan entah karena kisah ini atau tdak, para perempuan di Mojokerto sekarang cenderung tidak mau mengungkapkan cintanya lebih dulu kpada lelaki dan memilih untuk menunggu. Barangkali ada sesuatu yang berada di bawah alam sadar mereka yang berasal dari cerita yang sudah diragukan dan banyak dilupakan ini yang menyebabkan mereka berlaku seperti itu. Sekali lagi, entahlah).

Si perempuan merasa begitu dilecehkan. Ia malu keluar rumah. Dan cinta di kedalaman dadanya, berubah menjadi dendam yang membara. Maka ia belajar mantra dan ramuan agar suatu hari bisa membalas sakit hatinya.

Tapi celakanya, ia tidak hanya ingin membalas dendam kepada lelaki yang mempermalukannya tersebut. Ia ingin membalas dendam kepada semua lelaki di kota tersebut. Ia berpikir bahwa semua lelaki memang brengsek dan suka melecehkan perempuan. Karena itulah, ketka ia telah menguasai sihir-sihir kegelapan, ia mengutuk semua lelaki di kota itu menjadi babi dan buaya.

Inilah yang kemudian keluar dari mulut para perempuan itu; "kalau tidak ada lagi lelaki di kota ini, bagaimana kami bsa hamil dan meneruskan keturunan?"

Si perempuan mengeluarkan sebotol ramuan. Ia tuangkan ramuan itu di sebuah sendang dan berkata; "Siapa pun yang minum air di sendang ini akan hamil. Anaknya sudah pasti berjenis kelamin perempuan sebab semua lelaki brengsek. Aku tdak ingin lagi ada kebrengsekan di kota ini. Aku tidak ingin lagi ada perempuan yang dipermalukan di kota ini."

Dan nama kota itu kemudian berganti menjadi Ayodya, kota perawan, karena penghuninya para perempuan. Dan setelah bertahun-tahun, setelah semua perempuan yang sebelumnya pernah bersuami meninggal, kota itu memang hanya dihuni para perempuan.

Veri yang lain yang lebih kupercaya mengatakan bahwa kota itu adalah kota para petarung. Namun para dewa berkehendak lain. Para dewa mengirim wabah demam yang mematikan seluruh lelaki dari Ayodya.

Bukan hanya para lelaki Ayodya yang terlibat dalam perjalanan itu yang ditimpa wabah, melainkan juga para lelaki yang masih tinggal di Ayodya: lelaki-lelaki jompo dan anak-anak kecil. Para perempuan di Ayodya menangis mengetahui hal itu. Mereka meratap mengharap belas kasihan para dewa. Meratap dengan sepilu-pilunya ratap.

Tak tega mendengar ratapan mereka, para dewa turn ke Ayodya dan berkata, "kalian akan tetap berketurunan. Setiap perempuan yang membatin ingin memiliki anak, maka ia akan mendapatkannya. Namun karena dalam darah para lelaki kalian mengalir darah para petarung, maka setiap anak yang lahir di kota ini akan berjenis kelamin perempuan."

Konon, arwah para lelaki Ayodya menitis pada sekelompok prajurit Majapahit. Dan si penguasa Ayodya menjelma menjadi salah satu penguasa Majapahit. Para arwah itu merasa tidak tenang sebelum apa yang mereka cita-citakan tercapai: menguasai dunia. Sekali pun pada akhirnya kita tahu dari buku-buku sejarah bahwa Majapahit pun tidak sanggup menguasai dunia. Mereka hanya mampu menguasai apa yang sekarang kita sebut Nusantara. Limapuluh tahun lamanya setelah kejadian tersebut kota itu masih bisa bertahan. Hanya ada perempuan di sana.

Yang jelas, tidak ada sisa-sisa dari kota tersebut yang tertinggal. Dan hal itu membuat siapa saja sulit mempercayai bahwa kota itu pernah benar-benar ada di Mojokerto. Dan hal itu membuat siapa saja yang mendengar nama Ayodya akan berkata: "Bukankah itu nama negeri asal Rama Wijaya dalam cerita Ramayana yang ditulis Walmiki. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Juni 2013