Kamis, 11 Juli 2013

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku Lumpuh

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku LumpuhOleh: Usep M

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang. Namun akibat yang ditimbulkan sungguh membuatku teriksa. Bahkan aku nyaris lumpuh dan kehilangan segala-galanya.

• • • • • • • • • • • • • • •


Aku ingat betul, bulan itu adalah awal bulan suci Ramadhan waktu, awal bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan puasa dan menahan hawa nafsu, amarah, juga menahan rasa lapar dan dahaga selama satu bulan penuh. Di mana kebetulan juga malam itu jatuh pada malam Jumat Kliwon.

Seperti hari-hari biasanya, pada setiap pukul 02.30 WIB kebiasaanku adalah bangun dari tidurku untuk melaksanakan shalat malam, sunnah tahajjud juga shalat hajat. malam-malam yang tak pernah aku lewatkan untuk selalu berkomunikasi dengan Gusti Allah melalui shalat malam. Malam itu sebelum aku terbangun dari tidurku yang sangat lelap, aku bermimpi didatangi sesosok makhluk seperti seekor kelelawar besar dari atap kamarku.

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang, yang kulihat sepertinya makhluk itu akan menyerang tubuhku yang dalam keadaan sedang berbaring di tempat tdurku. Seketika aku tersentak dan terbangun, setelah aku sadari bahwa ternyata yang baru saja aku alami tadi hanyalah mimpi belaka, aku pun segera saja beranjak dari pembaringanku, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Sesampainya aku di kamar mandi aku mengalami kejadian yang sangat aneh. Secara tak terduga tiba-tiba saja tangan kananku bergerak dengan sendirinya dan secara reflek ingin memukul wajahku sendiri. Dengan reflek pula aku segera menahan ayunan tangan kananku yang mengarah ke wajahku sendiri dengan tangan kiriku.

Aku segera keluar dari kamar mandi. Sesaat aku tak dapat berkata dan berpkir apa-apa, aku hanya diam tertegun dan dan ucapan Istighfar terus kulantunkan tanpa henti, sambil tak lupa juga aku memohon dalam hati kepada Allah SWT, agar aku dilepaskan dari kejadian aneh yang kurasakan saat itu.

Apa salah dan dosak, pikirku. Kubatalkan niat shalat tahajjud dan hajatku malam itu, karena terus terang aku saat itu jadi merasa benar-benar takut dan terguncang dengan kejadian yang baru saja kualami dan tidak masuk akal pikiranku. Bagaimana mungkin salah satu anggota tubuhku ingin menyakiti anggota tubuhku yang lain, sungguh sangat musykil hal itu dilakukan oleh orang yang dalam kesadaran penuh, tidak gila.

Kejadian terus berlanjut, bukan tanganku yang ingin memukul wajahku, tetapi, dimana keesokan harinya tubuhku tiba-tiba saja terasa sangat lemas, nyaris seperti tak bertulang. Namun demikian ku coba paksakan diriku untuk tetap bekerja pada hari itu. Aku tetap berjalan untuk bekerja ke kantor seperti kegiatan rutin setiap harinya.

Namun setibanya d kantor, kurasakan seluruh tubuhku semakin bertambah lemas saja dan seolah tiada daya sama sekali. Atasanku yang mengetahui dan melihat keadaanku saat itu, memberi saran kepadaku untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dia memberi ijin padaku untuk pulang saja guna berobat ke dokter, dab beristirahat beberapa hari sampai kondisiku sudah memungkinkan untuk kembali ke kantor dan bekerja seperti biasanya.

Tanpa buang waktu dan banyak pikir lagi, aku pun langsung kembali pulang ke rumah untuk kemudian pergi ke dokter praktek guna memeriksakan kondisiku yang semakin terasa lemas. Akhirnya hasil dari pemerksaan dokter itu, aku memang diharuskan istirahat total selama beberapa hari. Beruntung pimpananku di kantor sudah memberi ijin, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mendatangi kantor hanya sekedar untuk meminta ijin atasanku.

Aku pun mengambil kesepatan itu untuk pulang ke rumah orang tuaku agar dapat beristirahat dengan total sesuai yang dianjurkan dokter yang meemeriksaku. Setibanya di rumah orang tuaku, aku disambut dengan tidak kemengertian orang tuaku, kenapa aku kembali ke rumah mereka. Setelah kujelaskan semua keadaanku, dan mereka mengerti, aku langsung beranjak ke kamar tidur, dan langsung aku rebahkan tubuhku yang terasa lemas hingga aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, sampai beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja aku terbangun, kejadian malam di rumahku terjadi kembali di rumah orang tuaku. jiwaku semakin terguncang, istriku yang kuberitahu keadaanku yang berada di rumah orang tuaku segera datang menjemputku, untuk kembali pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan juga untuk mampir mengunjungi rumah orang tua istriku. Sore harinya aku pulang dengan berjalan kaki bersama istriku dan ditemani oleh adik iparku.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba di ujubg kakiku terasa seperti ada sesuatu yang masuk, entah itu apa, tak sempat aku lihat. Benda itu seperti berjalan terus menjalar sampai ke ujung kepalaku. Sampai akhirnya kurasakan mulutku tertarik ke kanan, mataku terbuka lebar dan tubuhku kejang-kejang.

Istri an adik iparku yang melihat semua itu haya bisa menangis, mereka tak tega melihat kondisi badanku seperti itu. Aku masih bisa mendengar biskan adik ipar di telingaku agar aku tetap membaca istighfar. Sedangkan istrku segera mencari kendaraan taksi, untuk membawaku ke Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon.

Sesampainya di rumah sakit itu, aku langsung dimasukan ke UGD dan dengan cepat ditangani oleh seorang dokter perempuan. Saat itu telingaku masih mendengar suara tangisan istri dan adik iparku, dokter yang menanganiku membisikkan kalimat di telingaku untuk tetap mengucapkan istighfar. Alhamdulillah keajaiban terjadi, seketika itu mulutku kembali seperti semula, dokter yang menanganiku sangat senang dan tiada hentinya mengucapkan Alhamdulillah.

Namun selang beberapa saat aku kembali kejang, seperti sesuatu yang terus masuk ke dalam tubuhku terus saja berjalan, suntikan pun diberikan dokter. Terasa obat di tanganku mengalir, sepertinya suntikan itu adalah obat untuk meringankan kejang, lalu aku dibawa ke ruang perawatan.

Setiba di penbaringan kurasakan kepalaku terasa berat seperti terdapat batu yang besar menindih kepalaku, tangan kanan dan kaki kananku terasa lemas seperti tidak dapat digerakan. Keesokan harinya pengobatan dilanjutkan, aku dibawa ke ruang scan untuk dilihat apa penyebab sakit di kepalaku.

Saat itu aku ditangani oleh seorang dokter ahli saraf, hasil dari scan didapat, ternyata di kepalaku terdapat darah menggumpal yang menutupi otakku, sehingga otakku tak dapat berfungsi sepenuhnya. Teman-teman, saudara-saudaraku, semuanya hanya bisa melihatku dengan rasa iba dan sembunyi-sembunyi menangis melihat penderitaan yang ku alami.

Selama 11 hari aku merasakan sakit, tiba-tiba tingkah lakuku pun sepertnya menjadi aneh. Bicaraku sering ngelantur ketika ibuku menanyakan nomor telepon kantorku, aku lupa. Anehnya lagi pada setiap orang yang datang, ibuku selalu bertanya kepadaku "Siapakah ini yang bersama ibu, kamu masih kenal kan?" Aku tidak bisa langsung mengingatnya dan mengenali orang yang bersama ibuku itu. Aku selalu tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan itu. Memori di otakku sepertinya telah sangat lambat bekerja. Dokter ahi saraf pun akhirnya menyarankan kepadaku untuk melakukan scan kembali.

Dari hasil scan ke-2 aku disarankan dokter untk operasi, karena pembuluh darah yang menggumpal dan menutupi otakku harus dibuang, keluargaku pun segera mengadakan musyawarah mengambil keputusan tentang operasi yang ddsarankan dokter. Dari hasil musyawarah, ternyata keluargaku menolak dilakukan operasi atas dirkiu, karena walaupun berhasil dalam operasi, tetap saja akan ada efek samping dari hasil operasi itu, yaitu aku bsa saja lumpuh. Apalagi dokter pun tidak bisa bertanggung jawab penuh atas hasil operasi hidup atau matku.

Tiba-tiba aku teringat akan uwakku di Desa Cikeleng, Kabupaten Kuningan. Aku minta kepada ibuku agar uwakku didatangkan ke rumah sakit, ibuku pun segera mengabulkan permintaanku dengan menelpon uwakku untuk dapat segera datang ke rumah sakit menemaniku. Tidak memakan waktu sampai sehari, hari itu juga uwakku datang dan melihat diriku.

Melihat kondisiku, uwakku lalu menyarankan agar aku segera dibawa pulang saja, karena menurutnya kondisi penyakit yang kuderita bukanlah penyakit medis, tetapi penyakit non medis. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan peralatan dokter secanggih apapun. Tapi saat itu kelargaku tidak begitu saja percaya dengan ucapan uwakku, dan mereka tidak mengijinkannya. Mereka mash tetap bertahan dengan penyembuhan dari dokter rumah sakit itu. Maka uwakku pulang kembali ke Cikeleng.

Malam berikutnya di rumah sakit, aku bermimpi bertemu dengan seorang kuncen, kuncen itu adalah kuncen Nabi Musa AS, beliau meminta kepadaku agar aku menemui Nabi Musa , aku berkata kepada kuncen bahwa aku tidak bisa berjalan, kuncen itu naik ke atas untuk memberitahukan kepada Nabi Musa.

Nabi Musa turun dari atas, beliau berkata kepadaku "Wahai kaumku ikutlah denganku."

"Aku menjawab, "Wahai Nabi aku tak bisa berjalan, tubuhku gemuk. Bagaimana aku bisa mencapai e atas sana?" Kemudian Nabi Musa mengangkatku seolah aku ini tidak mempunyai beban berat, lalu aku dibawanya ke atas. Di sana aku diperlihatkan sebuah mushala yang sangat indah, di sana kulihat ada empat orang yang sedang berdzikir dengan memakai sorban putih. Aku pun bertanya kepada Nabi "Wahai Nabi apa yang dlakukan orang-orang itu?"

Nabi lalu menjawab "Itulah kaumku yang kin menempati mushala ini. Apabila kamu mau, akan kujadikan kau kaumku juga." Aku membalas, "Wahai Nabi, jangan kau ambil diriku dulu, karena diriku belum sepenuhnya membahagiakan orang tuaku dan istri, di mana anakku juga masih berusia 9 bulan, masih sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Aku mohon kepadamu ya Nabi."

"Baiklah kalau itu maumu hanya satu yang kuminta darimu, bisakah kau mempertahankan ibadahmu, agar engkau tidak terjerumus menjadi orang-orang yang tersesat. Kalau engkau masih bisa mempertahankan semua itu, kau akan tetap menjadi kaumku," kata Nabi.
,br ?"Insya Allah ya Nabi, aku akan mencoba mempertahankan ibadahku ini," jawabku. Lalu aku dibawanya berkeliling mushala. Betapa megahnya mushala ini. Tetapi aneh, mengapa di pojok mushala masih ada kayun yang keropos. Aku pun bertanya kepada Nabi.

"Ya Nabi mengapa mushala yang begitu megahnya, masih ada kayu yang keropos?"

"Itulah satu tugasmu untuk di dunia." jawab Nabi.

Aku kemudian dibawa kembali ke bawah, dan aku diturunkan, dan sekitak itu aku terbangun dari tidur lelapku.Anehnya aku merasa kondisi badanku saat itu terasa lebih fit. Lalu aku meminta kepada keluargaku untuk memintakan ijin agar aku bisa segera pulang. Keesokan harinya dari pihak keluargaku pun menghadap ke dokter yang selama ini menanganiku.

Tetapi dokter yang menanganiku, tidak mengizinkanku pulang karena mengingat kondisi fisikku, selain belum benar-benar pulih. Dokter spesialis saraf juga tidak mau bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu keadaku, jika aku melaksanakan kehendak untuk pulang ke rumah. Ditambah lagi karena mata sebelah kananku pun tidak bisa melihat, tapi aku dan keluargaku meyaknkan dokter, bahwa Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, karena aku begitu yakin kalau uwakku dapat membantu untuk proses penyembuhan selanjutnya.

Sebelumnya aku memang telah disarankan oleh uwakku untuk dirawat di rumahnya. Setelah memperoleh ijin doter dan aku bisa pulang, aku dan keluarga pun segera berangkat e rumah uwakku di Cikeleng. Di rumah uwaku akupun mulai menjalani pengobatan lanjutan, dimana pada setiap malam, setiap pukul 01.00 WIB aku dibawa oleh uwaku ke makam buyut, makam keramat di Desa Cikeleng. Lokasi makamnya di tengah-tengah hutan, aku di sana berdzikir dengan uwaku dari pukul 01.00-03.00 WIB.

9 hari kemudian, malam itu malam Jumat Kliwon, aku disuruh untuk beristirahat oleh uwaku dari kegiatan melaksanakan dzikir dari pukul 01.00-03.00 WIB. Malam itu, tepatnya pukul 23.00 WIB, aku mendengar suara kroncongan kuda yang sedang berlari memutari rumah uwaku. Aku penasaran dengan suara itu, lalu beranjak ke tepi jendela, kulihat dari balik gorden jendela yang kusingkap, tapi tak tampak apapun di luar sana.

Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku pun keluar, ternyata kulihat uwa perempuan ku sedang melakukan semedi, dan uwaku yang laki-laki, seperti sedang melakukan sesuatu. Uwaku terkejut melihatku, aku disarankan untuk masuk kembali. Sepertinya mereka sedang melakukan ritual yang sangat serius. Tepat jam 24.00 WIB pada jam dndingku di kamar, aku mendengar seperti ada orang yang sedang berkelahi, aku hanya mendengarkan saja dari kamarku, tidak berani untuk melihatnya, sampai akhirnya tanpa aku sadari, aku tertidur.

Keesokan harinya jam 10.00 pagi, ketika aku ingin mandi dan aku membuka bajuku, istriku melihat dipundakku seperti ada bekas telapak tangan. Ketika istriku menanyakan kenapa, aku pun tidak tahu dan tidak dapat menjelaskan ada apa sebenarnya pada pundakku.

Lalu aku pun keluar kamar dan menanyakan kepada uwakku. Uwakku hanya diam tidak memberi jawaban, dia hanya meminta aku berbalik membelakanginya, dan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan kemudian ditiupnya bekas telapak tangan yang ada dipundakku. Seketka bekas telapak tangan dipundakku itu hilang dengan sendirinya. Aku meraba keningku, karena terasa seperti ada yang mengganjal, kutarik, ternyata di keningku ada kain kafan, kemudian kuraba pipiku yang seperti ada sesuatu juga, lalu kutarik dan ternyata ada sebuah jarum. Uwakku yang melihat itu semua hanya tersenyum, dan ia berkata bahwa hal itu semua pertanda ada kemajuan dalam pengobatan sakitku, dan uwakku bilang, tidak sia-sia selama 9 hari dia melaksankan ritual.

Kini mata sebelah kananku mulai membaik dan bisa melihat, kakiku pun yang terasa lemas beberapa hari lalu sudah mulai ada kekuatan dan aku sudah bisa berjalan kembali walau kulakukan masih perlahan-lahan. Tak kepalang betapa bahagianya keluargaku melihat kemajuan yang kudapat, maka sre itu pun kami mengadakan syukuran, dengan mengundang tetangga dekat, bersyukur bahwa diriku bisa terlepas dari pengaruh mistik yang entah siapa yang sudah berbuat setega itu padaku.

Kini tinggal sisa-sisa penyakit yang ada pada dirku, aku sudah berangsur pulih seperti sedikala. Lalu aku pun di anjurkan uwakku melakukan kontrol setiap minggu. Pada kesempatan lain aku yang merasa penasaran dengan penyakitku, dan ingin sekedar tahu saja siapakah yang dengan tega berbuat hal itu pada diriku, aku tanyakan hal itu kepada uwakku.

Jawabnya sungguh sangat mengherankan, menurut uwakku, aku terkena serangan santet yang sangat ganas, di mana menurut uwakku lagi semua itu adalah karena perbuatan teman sekantorku yang merasa iri karena aku dekat dengan atasanku. Mengetahui hal itu aku hanya mengucap sykur kepada Gusti Allah, bahwa aku masih dberi kesempatan untk sembuh. Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menaruh dendam pada teman kantorku itu, sesuai yang dsarankan uwakku juga. Dendam adalah perbuatan yang sangat menyakitkan di hati. Semua hanya kepasrahan kepada Gusti Allah. Semoga teman kantorku itu dberi kesadaran Gusti Allah untuk tidak berbuat hal yang sama pada orang lain. (*)

Sumber: Mistri Edisi 561 Tahun 2013

Minggu, 07 Juli 2013

Kamboja di Awal Ramadhan

Parade Cerpen Ramadhan 1443 H



Kamboja di Awal RamadhanCerpen: Dian Eka Sari

"Aku ingin cerai. Ceraikan aku Mas," tegas Dewi kepada Usman suaminya.

"Kalau terus-terusan begini aku tidak sanggup lagi hidup denganmu Mas," Dewi terus berbicara sembari tangannya sibuk memberskan pakaian yang dimasukkannya ke kantong berukuran besar berawna hitam.

"Aku akan pulang kerumah orangtuaku. Zaki akan kubawa. Terserah Mas mau menyusul atau tidak. Aku sudah siap kalau Mas sudah siap dengan perceraian kita," ucap Dewi dengan nada tinggi seolah melampiaskan puncak kekesalannya terus berkata dengan Usman yang tetap duduk di tempat tidur tanpa ekspresi apa pun.

"Aku pergi Mas," Dewi langsung meninggalkan Usman sembari menggendong Zaki yang baru berusia tiga tahun buah hati pernikahannya dengan Usman.

Dengan membanting pintu kamar, Dewi tidak peduli lagi dengan pandangan dari mertuanya yang sedang duduk di depan televisi. Tanpa pamit lagi, Dewi langsung keluar rumah dan menyetop becak yang melintas untuk kembali ke rumah ibunya.

Sementara, Usman masih mematung di tempat tidurnya. Usman tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Usman menyadari, sudah 6 bulan ini ia tidak mampu memberikan nafkah lahir untuk istrinya. Pekerjaannya yang serabutan membuat Usman tidak mampu mencegah kepergian Dewi yang membawa serta Zaki.

Debu-debu berterbangan ditiup angin menjelang musim kemarau. Udara yang panas membuat hati Dewi kian panas. Turun dari becak, ia langsung menerobos masuk ke rumah orang tuanya tanpa mengucap salam.

Setelah menitipkan Zaki kepada ibunya, Dewi langsung masuk ke kamarnya menghempaskan kekesalan di tempat tidurnya. Dewi tidak mampu lagi mencari jalan keluar dari permasalahan yang membelit rumah tangganya. Kekesalan yang disimpannya dirasakan telah mencapai titik didih.

Jika hanya tidak mencari nafkah, masih bisa dimaafkan. Namun dewi merasa kesal dengan ulah suaminya yang setiap hari bergadang tanpa jelas arah tujuan. Apalagi, Dewi pernah memergoki Usman tengah berjudi.

Sudah beberapa kali Dewi mengingatkan Usman. Namun permintaan Dewi seolah hanya angin lalu di telinga Usman. Di benak Dewi, Usman seolah tidak perduli kalau ada buah hati yang harus mereka hidupi.

Semua harta simpanan termasuk mas kawin yang dimiliki Dewi sudah ludes terjual untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Terkadang Dewi merasa malu ketika saudara-saudara iparnya berkunjung kemudian memberi bantuan atau sekedar uang jajan untuk Zaki. Demikian dengan saudara kandungnya ketika Dewi sedang menjenguk ibunya. Dewi tidak ingin menjadi orang yang dikasihani.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Tujuh hari menjelang Ramadhan, Usman diingatkan ibunya untuk menjemput Dewi di kediaman orang tuanya. "Seminggu lagi kita puasa. Tidak baik menyambut bulan yang penuh berkah ini, kalian masih belum akur. Cobalah temui Dewi. Bicarakan baik-baik, bujuk dia untuk kembali ke sini. Pikirkan Zaki, jangan pikirkan keegoisan kalian saja," urai ibu kepada Usman di sela-sela makan siang.

"Nanti kalau Dewi tetap tidak mau. Biar ibu yang langsung bicara dengannya," tegas ibu yang melihat roman enggan dimuka Usman ketika mendapat nasihat.

Meski dengan perasaan enggan. Usman pun menuruti nasihat ibunya. Ia memang tak menampik terselip kerinduan kepada Dewi, terutama tingkah lucu Zaki serta celoteh jagoannya itu yang hampir dua pekan tidak bertemu. Dipacunya motor bebek butut kesayangannya, Usman pun ke rumah mertuannya.

Tidak sampai seperempat jam, Usman tiba di kediaman mertuanya. Ibu mertuanya terlihat tengah menjemur kerupuk memanfaatkan cuaca panas menjelang Ramadhan.

"Assalamu'alaikum. Apa kabar BU? Dewi dan Zaki ada?" tanya Usman kepada ibu mertuanya seraya menyalami.

"Ada. Kamu ingin menjemputnya?"

"Iya Bu. Sebentar lagi Ramadhan, aku tak ingin mengawali bulan suci ini dengan hal-hal yang tidak baik."

"Syukurlah kalau begitu. Masuklah. Dewi sekarang ada di kamarnya menemani Zaki bermain. Bicaralah baik-baik. Ibu tidak ingin kalian terus-terusan seperti ini."

"Maafkan Usaman Bu," ucap Usman dengan nada penyesalan seraya masuk menemui Dewi.

Di ruang tamu berukuran 6x4 metr dengan lantai papan, Dewi terlihat asyik menemani Zaki menyusun puzzle bergambar dinosaurus. Ketika mengetahui kedatangan Usman, Zaki yang mulai bosan bermain langsung menghambur ke pelukan ayahnya. "Ayah. Ayah kok baru datang sekarang? Ayah akan menjemput Zaki kan?" berondong Zaki dengan cadelnya di pelukan Usman.

"Iya. Ayah akan menjeput Zaki sama Ibu. Ayo sekarang beres-beresin mainannya, kita segera kembali ke tempat nenek lagi."

Zaki pun langsung mematuhi perintah ayahnya. Sementara Usman mencoba merayu Dewi agar bisa ikut serta dengannya.

"Maafkan Mas, Wi. Selama ini mas belum mampu menjadi suami yang baik. Namun menjelang bulan baik ini Mas berjanji akan memperbaiki semuanya. Tolong berikan kesempatan lagi. Jika nanti memang Mas tidak mampu, Mas akan menuruti semua kemauan Dewi," ujar Usman pelan dengan nada penyesalan.

Melihat ketulusan yang ditunjukkan oleh Usman, Dewi pun tidak membantah. Lagi pula ia tidak mau melihat Zaki kecewa. Segera dibereskannya pakaian untuk kembali ke rumah mertuanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Setelah dua malam merenda kembali benang-benang rumah tangganya, Usman membuktikan janjinya. Ia tidak lagi keluar malam serta dari pagi hingga petang Usman pun mencoba mencari nafkah dengan cara berdagang ponsel di kawasan Beringin Janggut dengan bantuan modal dari kakak iparnya. Hanya saja Dewi masih belum membuka hatinya dengan ikhlas atas perubahan itu.

Sore kedua setelah kebersamaan, Usman dengan baju koko putih usai shalat Ashar mengajak Zaki berjalan sore dengan motornya sembari membeli tekwan, makanan kegemaran Zaki di kawasan Pasar 7 Ulu.

Pulang dari jalan-jalan, Zaki terlihat benar-benar bahagia. Dengan pedang mainan yang dibelikan Usman, Zaki dengan bangga memamerkan mainan barunya kepada nenek dan kakeknya yang bersiap ke masjid untuk shalat Maghrib.

Usai shalat Maghrib, Usman duduk di meja makan mengajak Zaki menikmati tekwan yang telah mereka beli. Baru satu suap menelan makanan khas Palembang itu, tiba-tiba Usman merasakan dadanya sesak dan kemudian tersungkur ke lantai. Zaki langsung menjerit memanggil ibunya tatkala melihat ayahnya sudah terkapar di lantai.

Dewi yang tengah menyiapkan makan malam langsung memeluk Usman yang sudah tidak bergerak. Beberapa kali dipanggilnya Usman, tetap tidak ada respons, namun detak jantung Usman masih terdengar. Segera saja Dewi menyetop becak depan rumahnya menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 1 km dari rumahnya. Sedangkan Zaki dititipkan Dewi ke tetangga depan rumahnya yang memang telah menganggap Zaki seperti anak mereka sendiri.

Sesampai di rumah sakit, Usman langsung dibawa ke UGD. Melihat tidak ada respons, dokter langsung memasang oksigen serta infus di tangannya. Sekitar 3 menit melakukan tindakan, dokter meminta Dewi menebus obat ke apotik rumah sakit yang jaraknya 500 m dari UGD. Karena memang tidak ada yang menemani segera saja Dewi menebus obatnya.

Betapa terkejutnya Dewi, ketika kembali ke UGD ia tdak bisa lagi bertemu suami. Dokter mengatakan Usman terkena serangan jantung yang menyebabkan dia meninggal.

Seumur hidupnya, perjalanan di ambulance dari rumah sakit ke rumah mertuanya merupakan perjalanan paling jauh. Dewi tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Ia ingin menangis, tapi air mata seolah tak ingin menjadi saksi kesedihan Dewi.

Begitu jasad Usman diturunkan, ibu dan ayah Usman angsung menghabur menangisi kepergian anaknya. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa sebelum mereka ke masjid sore tadi adalah saat terakhir kebersamaan bersama puteranya.

Kesedihan begitu terasa pada malam itu. Namun Dewi tak mampu merasakannya. Kesedihan itu tertutup penyesalan mendalam sehingga air mata pun tak mampu a titikkan. Sehingga setiap pelayat yang datang kagum dengan ketegaran Dewi menghadapi musibah yang menimpanya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Angin musim kemarau berhembus pelan di area pemakaman Kebun Bunga. Banyak pelayat yang mendatangi makam-makam keluarga mereka menjelang Ramadhan. Demikian juga dengan Dewi. Di atas gundukan tanah merah yang masih baru, Dewi bersimpuh di sebelah makam Usman.

"Tuhan mendengarkan doaku Mas. Tuhan mengabukan doaku Mas," lirih Dewi perlahan.

"Tuhan benar-benar mengijabah doaku Mas. Kita akhirnya bercerai. Tapi bukan dengan cara seperti ini yang aku inginkan Mas. Aku belum siap kehilanganmu Mas. Aku belum sempat meminta maafmu. Bahkan kau tidak izinkan aku menemai saat detik-detk kepergianmu Mas. Mengapa Mas. Aku tidak mau bercerai denganmu Mas," tangis Dewi pun pecah. Tangisan yang diselimuti penyesalan mendalam pecah di kala senja menjelang.

Rona merah di ufuk barat membuat para pelayat berangsur meninggalkan pemakaman. Sedangkan Dewi dengan penyesalan seolah enggan beranjak. Ditemani sekuntum kamboja yang gugur di atas makam Usman di awal malam Ramadhan. (*)

Citra Budaya

Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Juli 2013

Sabtu, 06 Juli 2013

Menelaah Harta-Harta Iblis Penggoda Manusia

Menelaah Harta-Harta Iblis Penggoda ManusiaOleh: Sri Suparti

Segudang harta iblis irtu berbentuk batangan, koin emas, barang-barang antik yang nilainya milyaran rupiah dan sebagainya. Tapi pengorbanan untuk harta benda itu tentu saja sangat berat. Bahkan tak sebanding dengan risiko yang akan ditanggung oleh manusia dikemudian hari.

• • • • • • • • • • • • • • •



Berita mengenai uang balik, bank gaib hingga ritual sebuah pesugihan rasanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Masyarakat kita meyakini adanya campur tangan bangsa gaib untuk membuktikan apa yang sebelumnya mustahil menjadi sebuah kenyataan. Berita mengenai hal ini tentu saja menjadi berita hangat di masyarakat kita yang kebanyakan dari mereka diterpa kesulitan ekonomi.

Beberapa waktu lalu masyarakat Tuban juga dihebohkan adanya penemuan benda-benda kuno berupa logam mulia (emas), barang antik dari perunggu serta keramik peninggalan masa lalu. Bahkan belakangan ini tersiar kabar di daerah Magelang, tepatnya di area Candi Borobudur, ditemukan uang yang begitu banyak jumlahnya tercecer di sekitar candi. Anehnya uang-uang itu tidak ada yang merasa memiliki, walaupun aparat serta pihak pengelola candi berusaha mensosialisasikan penemuan tersebut.

Beberapa paranormal dan orang pintar meyakini kalau barang serta uang yang banyak bermunculan belakangan ini yang tanpa diketahui asal-muasulnya merupakan milik bangsa gaib (makhluk halus). berbagai dugaan dan perkiraan silih berganti hanya meninggalkan sebuah tanda tanya. Dugaan demi dugaan terus bergulir membuat polemik ini semakin panjang tak berujung.

Mungkin, keberadaan benda-benda itu merupakan pembuktian eksistensi makhluk halus di tengah kehidupan kita. Bahwa alam gaib pun memiliki peradaban yang tak kalah serupa dengan manusia, bahkan cenderung lebih maju dari bangsa manusia. Mereka memiliki penguasa, birokrasi, pengusaha serta rakyat jelata. Ini terbukti adanya logam mulia, alat tukar uang bahkan perbankan atau yang sering disebut dengan bang gaib. Kabarnya, mereka juga memiliki sebuah gudang harta karun, yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga miliknya.

Terlepas dari perdebatan benar atau tidaknya hal ini, beberapa pekan lalu Misteri berusaha melakukan pembuktian adanya kebenaran gudang harta karun yang sering menjadi polemik di tengah kehidupan kita. Kami menuju sebuah tempat yang sering menjadi incaran kauum supranatural. Tempat itu merupakan sebuah goa yang terletak di Pantai Selatan Pacitan. Dari serangkaian fakta dan data yang ditrma Misteri, tempat ini dulunya merupakan petilasan tokoh utama diera kekuasaan Mataram. Kemudian dengan berjalannya waktu, lokasi ini dijadikan tempat wisata religi yang ramai dikunjungi masyaraat dari dari berbagai daerah. Mereka beranggapan kalau di tempat tersebut bisa memperoleh apa yang dibutuhkan, terutama harta benda. Karenaa mereka berkeyakinan bahwa di goa ini merupakan gudangnya harta karun milik bangsa gaib.

Saat tiba di lokasi, kami pun membnarkan adanya hal itu. Ini terbukti setelah mengadakan kontak batin serta penerawangan di area goa.

Perjalanan kami ditemani oleh Pak Sarjono, paranormal setempat. Saat kaki kami mulai menapaki mulut goa, aura mistis dengan santer menyambut kedatangan kami. Ombak Pantai Selatan sayup-sayup masih terdengar jelas di telinga saat kami memasuki goa yang nampak angker itu. Tak ada pemandangan lain di sudut-sudut ruangan dan dinding, kecuali kotoran burung walet yang berserakan memenuhi lantai. Tepat di salah satu sudut ruangan yang cukup luas, Pak Sarjono menghentikan langkahnya.

"Kita tak bisa meneruskan perjalanan menuju ke dalam dengan keadaan seperti ini," potongnya sembari mencolek bahuku. Aku cukup paham dengan maksudnya.

"Kau bisa meraga sukma," sambungnya lagi.

"Aku pernah mempelajarnya, mudah-mudahan masih bisa kugunakan," jawabku seketika. Mungkin dengan cara ini kami bisa melanjutkan perjalanan menuju ke dalam.

"Kalau begitu tak ada masalah. Tolong kau jaga diri kami, kami akan masuk alam lain dengan meninggalkan raga ini. Karena sesuatu yang berfisik tak akan mampu menembus tabir yang menyelimuti tempat ini. Jangan sampai kau bangunkan dengan menyentuh tubuh kami. Jika ada sesuatu yang membahayakan, kau cukukp membisikannya saja pada telinga kita!" pesan Pak Sarjono kepada Tikno, penduduk setempat yang memandu kami menuju lokasi. Kemudian dijawabnya dengan anggukan kepala.

Tak membuang waktu, kami langsung mengadakan ritual kecil. Mengosongkan raga, melihat dan menapaki lokasi dengan sukma tanpa dibebani raga atau fisik sejati. Mungkin bagi Tikno hal ini hanya terdengar aneh, tapi tidak bagi kami berdua. Aku melihat dua sosok terduduk bersebelahan dan di depannya Tikno sedang sedang menatapnya penuh tidak kemengertian. Lalu kami berjalan meninggalkan raga-raga kosong yang kosong itu, melangkah menuju ke dalam goa.

Aku tersentak kaget, sempat mata kami berpandangan dengan Pak Sarjono, saat melihat keadaan di sekitar. ternyata apa yang aku lihat sebelumnya, begitu jauh berbeda. Sebuah struktur goa yang nampak kumuh penuh kotoran walet dengan bau tak sedap, kenyataannya merupakan sebuah gudang yang megah dan indah. Bahkan aku terkejut, ternyata kami sudah berada di salah satu ruangan yang menyerupai tempat tunggu.

Di setiap sudut ruangan nampak berdiri sesosok laki-laki dengan tubuh tinggi, hitam dan besar. Wajah mereka nampak seram dan tak ada keramahan pada dirinya. Beberapa penjaga dengan pandangan sinis menatap tajam, seolah dia mencurigai kedatangan kami.

"Hai....! Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa kau bisa masuk gudang harta kami?" bentak mereka dengan keras.

Jujur aku sedikit takut, padahal entah untuk berapa kalinya au memasuki alam gaib, tapi baru kali ini rasanya diriku merasa gemetar. Akhirnya aku sadari, kalau para gaib penjaga gudang harta bukanlah sosok makhluk halus dari glongan rendah, tapi mereka benar-benar pilihan, ini terbukti dari aura serta wibawanya yang membuat cut nyali kami.

"Maafkan kami, kedatanganku tak ada maksud untuk merampas atau mencuri harta milik kaummu. Kami hanya pengelana yang tersesat di tempat ini."
Mbr />"Banyak bangsamu yang suka mencuri dan merebut paksa harta milik kaum kami. Oleh karenanya aku harus mewaspadaimu, apa lagi kau nampaknya bukan manusia biasa. Terbukti dirmu bisa menembus pagar pembatas alam gaib yang kami buat," lanjutnya. Dengan berbagai alasan, kami berusaha meyakinkan makhluk gaib tersebut, yang nampaknya merupakan pemimpin penjaga gudang harta mereka.

"Percayalah, kami tidak akan mengingkarinya. Kami berjanji tidak akan berbuat macam-macam di daerahmu, apa lagi mencuri harta bendamu," sosok itu terdiam, dan akhirnya mengijinkan kami untuk melihat area gudang megah tersebut dengan pengawalannya.

"Ternyata memang benar, bangunan itu merupakan gudang harta milik bangsanya. Pantas saja penjagaan begitu ketat, ucapku dalam hati. Kami terus melangkah menyusuri jalan di antara sekatan-sekatan ruangan yang menyerupai kantor. Dan menurutnya, di setiap ruangan ada penjaga serta bagian administrasnya.

"Tempat ini merupakan penyimpan harta benda kami. Bagi kaum kami yang kaya, dia suka menitipkan hartanya di tempat ini, agar lebih aman dari pencurian dan jarahan bangsamu. Karena bangsamu suka nekad mengambil paksa atau mencuri harta kaum kami jika lengah. Oleh karena itu, mereka suka jengkel lalu merusak bangsamu dengan berbagai cara," ungkapnya sambil terus berjalan di antara ruangan-ruangan yang dijaga ketat oleh sosok-sosok yang menyeramkan.

"Lalu dari mana kaummu memperoleh harta sebenyak ini?" Tanya kami menyelidik.

"Kaum kami pekerja keras, dia banyak mendapatkannya dari dasar laut, terutama Laut Selatan ini. Di dasar laut banyak harta terpendam yang sudah tak bertuan dari kapal-kapal yang tenggelam beberapa ratus tahun lalu, dan pemiliknya pun telah tiada. Lalu oleh kaumku diambil dan disimpannya di tempat ini. Sebagian lagi menggali dari dasar perut bumi," timpalnya kemudian.

"Apakah dari perut bumi yang mereka dapatkan sudah berupa lempengan logam mulia atau uang yang bernominal sama dengan bangsaku?"

"O, tidak. Semua didapat dari perut bumi, susah dan menunggu hingga puluhan tahun lamanya. Kerena kebanyakan adalah peninggalan penguasa jaman dulu. Kerana suatu sebab, kemudian ia menympannya di dalam perut bumi. Lalu bangsaku menunggu hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Jika hal itu lama tak diambil, maka akan dibawa oleh kaumku ke tempat ini agar lebih aman. Oleh karena itu di tempat ini menumpuk harta benda aneka rupa dengan jumlah banyak. Tapi belakangan banyak bangsamu yang mencuri dan memaksa kaumku untuk memberikan harta itu dengan menukar seorang pembantu atau budak," jelasnya lagi.

"Bagaiman caranya bangsaku meminta atau menukar harta dengan kaummu di tempat ini?" Tanya kami penasaran.

"Sebagian bangsamu bisa mengambil paksa harta di sini, dengan jalan mengelabui kaumku dengan imbalan tertentu. Sebagian lagi bangsamu berani menukarnya dengan nyawa kerabat, teman bahkan dirinya sendiri untuk dijadikan budak demi sebuah harta. Hingga kaumku mengambil harta yang dititipkan disini untuk membayarnya."

Mungkin inilah yang dsebut dengan laku pesugihan, batinku. Lalu kepada Misteri, sosok itu menunjuk salah satu ruangan yang cukup besar. "Kalian lihat, di tempat itulah gudang penyimpanan berbagai harta milik kami. Bangsamu banyak yang mengundang dan transaksi dengan kaumku di depan pintu sana."

Dalam perbincangan dengan Misteri ia menuturkan, manusia yang nekad dan tak beriman akan menjual atau menggadaikan nyawa dengan bangsanya di sana. Pada umumnya mereka yang gelap mata dan mengetahui dengan persis kalau di tempat itu merupakan gudang harta bangsa iblis, sehingga dengan mudah ia tergoda untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Berbagai laku ritual dengan persyaratan beraneka ragam mereka gunakan, termasuk mengadakan perjanjian yang berbuntut pengorbanan.

Lebih lanjut sosok tinggi besar yang mendampingi perjalanan kami menuturkan, pada umumnya bangsa manusia ingin hidup enak dengan harta melimpah, tapi tidak mau berusaha dan bekerja keras, tidak seperti kaumnya yang bekerja dengan gigih siang dan malam.

"Karena itu sebagian kaumku yang kaya dan sombong juga sering menggoda dengan harta bendanya kepada manusia, agar mereka iri dan masuk ke dalam perangkapnya, sehingga manusia yang lupa diri itu suatu saat akan menjadi budaknya di alam ini."

Pantas di tempat ini sering dilakukan ritual pencarian berkah, bahkan tak jarang digunakan sebagai laku pencarian kekayaan atau pesugihan. Karena mereka benar-benar telah tergoda dengan harta benda iblis yang memang banyak tersimpan di tempat ini. Banyak hal yang serupa antara kehidupan manusia dengan alam mereka, mungkin yang membedakan hanya soal istilah serta pengertian bahasanya. Sembari melangkah kembali ke ruang depan, kami masih sempat bertanya, untuk apa harta yang melimpah itu baginya.

"Harta atau benda yang berupa logam mulia atau mata uang serta benda antik juga dibutuhkan kaumku. Dalam keseharian mereka membutuhkan barang-barang itu. Bahkan beberapa pemimpin kami, rumahnya berdinding emas den berhiaskan benda antik. Karena itu aku pesan kepadamu dan sampaikan pula dengan yang lain, jangan pernah tergoda dengan harta-harta milik bangsa kami. Karena reskonya akan berat di kemudian hari. Semoga hal ini bsa disadari bangsamu , bahwa kami hidup sejajar hanya menempati ruang serta dimensi yang berbeda. Dan semoga bisa terjalin persahabatan yang baik." Tandasnya menutup perbincangan, karena saat itu kami sudah berada di ruang semula, tempat dimana aku dan Pak Sarjono meninggalkan raga yang dijaga oleh Tikno.

SEketika itu pula, kembali kami memasuki fisik kosong yang cukup lama ditinggalkan. Kami kaget, lelah dan capek menyelimuti tubuh ini. Begitu terkesan rasa menjelajahi alam gaib, dimana kami bisa melihat sendiri dengan jelas harta-harta iblis yang melimpah dan sering menggoda kehidupan manusia itu. Semoga catatan ini bisa membuka mata hati kita terhadap dunia gaib yang memang terkadang tak bisa dilogika dengan akal biasa. (*)

Sumber: Misteri, Edisi 561 Tahun 2013

Jumat, 05 Juli 2013

Efek Bahaya Mengkonsumsi Makanan Pedas

Efek Bahaya Mengkonsumsi Makanan Pedas

Selain menantang, aneka keripik pedas atau ramen yang menyediakan level-level tertentu untuk menunjukkan tingkat kepedasannya juga membuat seseorang merasa bangga jika ia sukses melahap Si Keripik Pedas. ­­Memang, sih, cabai yang menjadi sumber pedas mempunyai banyak manfaat.

Sebut saja kandungan vitamin C yang tinggi, kandungan capsaicin yang dapat membunuh sel kanker, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan mengendalikan pencemaran mikroba pada makanan. Namun, seperti kata pepatah lama, segala yang berlebihan tidak akan menimbulkan kebaikan. Begitu juga ketika Anda memakan terlalu banyak makanan pedas.

Diare
Makanan pedas dapat mempercepat gerakan di usus yang mempermudah terjadinya diare. Ketika makanan pedas sudah sampai di usus besar, efek iritasi dari makanan pedas ini akan langsung terasa. Kemudian tubuh akan mengirim lebih banyak air ke usus untuk meredakan gejala iritasi. Perlu disadari, setiap orang memiliki kepekaan usus yang berbeda sehingga daya tahan terhadap makanan pedas akan berbeda pula. Jika Anda termasuk sensitif pada makanan pedas, sebaiknya batasi konsumsi makanan pedas.

Gastritis
Konsumsi makanan pedas yang terlalu sering dapat menyebabkan permukaan lambung menjadi rapuh dan mudah mengalami luka. Penyakit itu disebut gastritis alias mag, yang terjadi karena adanya peradangan pada lapisan lambung. Pasalnya, lambung yang sering ditimpa makanan pedas mengakibatkan lapisan-lapisannya menipis dan rentan terkena infeksi.

Alergi
Pernah merasa lidah Anda terbagi menjadi pola-pola tertentu yang mengakibatkan makanan jadi terasa hambar? Hal tersebut dipercaya sebagai akibat dari alergi pada lidah. Sama halnya dengan makanan atau minuman yang terlalu panas, makanan pedas pun dapat mengakibatkan beberapa bagian lidah alergi sehingga nafsu makan Anda berkurang karena ketidaknyamanan.

Sensitivitas lidah berkurang
Pengonsumsian makanan pedas yang berlebihan dapat mengurangi sensasi rasa secara permanen sehingga lidah tidak lagi responsif dalam mengecap rasa. Jika Anda merasa semakin lama semakin kuat mengonsumsi makanan pedas, sebaiknya berhati-hati. Bukan berarti Anda semakin terbiasa, bisa jadi sensitivitas indera pengecap berangsur aus. Paling fatal, lidah tidak lagi berfungsi maksimal untuk menentukan porsi makanan pedas yang dapat kita tolerir.

Insomnia
Makanan pedas pun dapat mengganggu pola tidur. Sejatinya, tubuh Anda perlu rileks ketika Anda hendak tidur, terutama pada siklus pertama menuju saat terlelap karena makanan pedas juga dapat meningkatkan temperatur tubuh dan memicu detak jantung lebih cepat. Maka hindari makanan pedas sebelum Anda pergi tidur, ya!

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Sriwijaya Post, Minggu, 27 November 2011

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Segudang Manfaat Makanan Pedas

Makanan pedas merupakan makanan yang unik. Menusuk lidah dengan sensasi panasnya, namun rasanya tetap disukai oleh banyak orang. Bahkan ada pula yang berprinsip, tidak bisa makan tanpa makanan pedas.

Satu teori yang mungkin menjelaskan hal ini adalah manusia menyukai sensasi. Manusia secara aneh menemukan kenikmatan dari hal-hal yang seharusnya menakutkan dan menyakitkan, seperti menaiki roller coaster atau berlari maraton. Ini adalah pertarungan antara pikiran dan tubuh, dan dimenangkan oleh pikiran.

Di samping itu, di balik sensasi pedas yang menusuk lidah, makanan pedas juga memiliki segudang manfaat kesehatan bagi tubuh. Simaklah 6 manfaat makanan pedas berikut.

1. Menurunkan berat badan
Makanan pedas dapat meningkatkan metabolisme yang berdampak pada penurunan berat badan. Penelitian menunjukkan senyawa utama dalam cabai yang disebut capsaicin memiliki efek termogenik dan membantu tubuh untuk membakar lebih banyak kalori setelah makanan dimakan.

2. Menyehatkan jantung
Penelitian menunjukkan, orang yang terbiasa memakan makanan pedas memiliki jumlah insiden serangan jantung dan stroke yang lebih kecil. Alsannya karena cabai dapat mengurangi efek merusak dari kolesterol "jahat" atau Low Density Lipoprotein (LDL) dan capsaicin memiliki efek antiinflamasi. Inflamasi merupakan faktor risiko dari penyakit jantung.

3. Mencegah kanker
Menurut American Association for Cancer Research, capsaicin memiliki kemampuan untuk membunuh sel kanker dan leukemik. Rempah-rempah tertentu seperti kunyit yang ditemukan dalam bubuk kari dan mustard dapat memperlambat penyebaran kanker dan pertumbuhan tumor. Kombinasi kunyit dengan lada hitam akan membuat efeknya berlipat ganda.

4. Menurunkan tekanan darah
Vitamin A dan C dapat memperkuat dinding otot jantung, dan panas dari lada akan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Sehingga dengan mengonsumsi makanan mengandung lada secara keseluruhan dapat memperbaiki sistem kardiovaskular.

5. Memperbaiki mood
Makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon yang membuat perasaan menjadi bahagia, seperti serotonin. Maka makanan pedas dapat membantu meringankan depresi dan stres.

6. Mencegah Parkinson
Sebuah penelitian baru yang dipublikasi dalam jurnal Annals of Neurology menemukan bahwa mengonsumsi lada dua kali seminggu dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan penyakit Parkinson hingga lebih dari sepertiganya. Hal ini berhubungan dengan kandungan nikotin dalam lada yang dapat mencegah kerusakan saraf.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Sriwijaya Post, Sabtu, 11 Mei 2013