Sabtu, 26 Juli 2014

Istriku Dikuasai Jin Betina

Istriku Dikuasai Jin Betina

Oleh: Bagaskara Shanta



Kisah tragis ini dialami oleh Pak Toto (50) asal Kota Cirebon, Jawa Barat. Mahligai rumah tangganya dengan sang istri tercinta yang telah dirajut selama 25 tahun hancur berantakan. Biang keroknya adalah sesosok jin betina yang bersemayam dalam tubuh wanita yang telah memberinya dua orang anak. Bagaimana cerita lengkap yang dialami Pak Toto? Berikut penuturannya untuk pembaca Misteri budiman....!

______________________________



Desember kelabu ternyata bukan hanya judul sebuah lagu. Sebab, bagiku bulan Desember tahun 2013 lalu benar-benar menjadi bulan kelabu. Bulan penuh duka yang nyaris membuat aku terhempas dan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Betapa tidak di penghujung tahun itu mahligai rumah tangga yang telah kurajut selama 25 tahun lebih bersama Eliana (sebut saja begitu), nama istriku tercinta, hancur berantakan. Badai dahsyat telah mengguncang rumah tanggaku, dan kini sudah masuk hitungan bulan kelima aku menunggu keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat.

Ya, eliana telah melayangkan surat gugatan cerai melalui atasannya di sebuah instansi pemerintahan. Dan konon proses cerai bagi mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), seperti kami ini, harus melalui birokrasi yang cukup berbelit. Jelas hal itu akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar.

Aku tidak tahu kapan akan menerima surat keputusan cerai dari Pengadilan Agama setempat. Tapi yang jelas bagiku adalah ketidakpahaman diri ini terhadap biang kerok yang menjadi penyebab datangnya badai yang meluluhlantakkan rumah tanggaku. Biang keladi yang diduga menjadi penyebab pecahnya mahligai rumah tanggaku bersama Eliana adalah sesosok siluman jahat yang bersemayam di dalam tubuh istriku.

Dari berdasarkan hasil penerawangan beberapa pelaku metafisika jin itu telah menguasai Eliana sekitar lima atau enam tahun lamanya! Entah benar atau tidak hasil deteksi mereka yang jelas aku memang mulai merasakan ada keganjilan pada istriku sejak lima atau enam tahun silam.

"Jujur saja, Mah, kamu ini sebenarnya ada apa?" Tanyaku pada Eliana di pekan terakhir bulan Desember 2013 silam.

Pertanyaan itu meluncur dari mulutku karena sudah tidak kuasa lagi menahan rasa kecewa terhadap Eliana yang selalu ogah-ogahan bila kuajak bersebadan. Terus terang saja, sebagai lelaki normal aku selalu berhasrat untuk bercinta dengan istri setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu.

Namun kenyataan yang kudapat bukannya "jatah malam" dari sang istri, tetapi penolakan demi penolakan dengan beragam alasan yang terkadang membuat aku kecewa dan harus menahan amarah.

"Maaf, Pah, aku kan capek. Tadi siang kerjaan di kantor banyak sekali. Aku mau tidur ya," jawab Eliana bukan sekali.

Dan ia akan segera memeluk guling lau dalam beberapa detik kemudian tertidur pulas. Sementara aku sama sekali tidak diacuhkan olehnya sedikit pun di belakang punggungnya. Padahal, hasratku untuk bercinta sudah sedemikian membara! Namun sebagai suami yang coba untuk selalu berbaik hati kepada istri, aku memilih pindah tempat tidur. Aku segera mengambil bantal dan tidur di atas karpet di ruang tengah.

Meski keinginanku untuk bercinta sudah sedemikian menggeledak, aku tetap masih bisa menahan diri untuk tidak marah kepada Eliana, mungkin benar, pikirku, Eliana kecapekan setelah seharian bekerja di kantornya. Jadi sungguh tidak berprikemanusiaan seandainya aku memaksa dia untuk melayaniku tidur. Selain beralasan capek Eliana juga kerap menolak dengan alasan ngantuk yang sangat.

Sekali dua kali aku bisa penolakan Eliana untuk bercinta denganku. Seminggu dua minggu aku mungkin masih bisa menahan hasrat bercintaku. Bahkan satu atau dua bulan bukan mustahil aku masih sanggup "berpuasa" tidak menyalurkan hasrat birahi dengan istri. Akan tetapi jika masuk hitungan hingga tahunan, suami atau laki-laki mana yang bisa bertahan?

Karena itulah pada suatu kesempatan aku sengaja mengajak Eliana berdialog dengan baik-baik. Aku ingin mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi pada istriku itu.

"Aku ingin tahu sesungguhnya ada apa denganmu, El? Terus terang saja, aku tidak habis berpikir dengan sikapmu yang banyak menolak jika kuajak tidur," ujarku membuka dialog dengan Eliana pada suatu kesempatan di pekan terakhir bulan Desembar 2013 silam itu.

"Aku tidak mengerti dan tidak bisa pula memahami mengapa kamu selalu menolak bila kuajak tidur. Kamu selalu beralasan capek, ngantuk, dan sebagainya. Kalau pun kamu mau melayaniku di atas tempat tidur, kamu bukan sekali menta berhenti di tengah jalan dengan alasan kemaluanmu terasa sakit," lanjutku seraya menatap wajah Eliana yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia eolah-olah tidak tidak sedang berbicara denganku.

"Dan yang lebih membuatku aneh lagi," sambungku kemudian.

"Bukan sekali kamu melayani aku di atas ranjang dalam keadaan tertidur pulas! Ini benar-benar tidak wajar, Mah. Aku tidak habis pikir kog bisa-bisanya kamu melayani aku dalam keadaan tertidur pulas seperti itu?"

Sungguh, tidak ada sepatah kata pun jawaban keluar dari mulut Eliana malam itu. Rona di wajah istrku tetap beku tanpa ekspresi. Ia memilih menyibukkan diri dengan menggigit-gigit ujung jari kuku tangannya. Tidak ada guratan rasa berdosa darinya yang telah melalaikan salah satu kewajiban sebagai seorang istri.

Melihat sikap Eliana yang selalu tak acuh seperti itu, tentu saja emosiku terpancing. Amarahku mulai naik ke permukaan.

"Baiklah, kalau kamu tidak juga mau menjawab pertanyaanku, tidak jadi masalah," kataku lagi.

"Tetapi, tolong kamu jangan sampai marah atau kecewa jika suatu saat aku mencari kompensasi di luar sana. Aku ini laki-laki yang masih normal, Mah. Kalau istri di rumah sudah tidak mau menjalankan kewajibannya di atas tempat tidur, bisa saja suami mencari pelampiasan di luar rumah!"

Belum lagi aku menyelesaikan kalimat, sekonyong-konyong Eliana melompat dari tempat duduk. Tiba-tiba menghambur ke arahku seraya memeluk erat-erat. Di dadaku Eliana menghamburkan air mata yang sedemikian hebat.

Papah jangan ngomong begitu! Papah tidak boleh bicara seperti itu! Papah tidak boleh selingkuh dengan wanita lain," ujar Eliana di tengah isak tangisnya yang kencang dan hampir membuat kedua anak kami terbangun dari tidur.

"Tapi aku sangat heran, Mah. Aku tidak habis pikir kenapa kamu selalu menolak jika kuajak tidur. Tolong beri aku jawaban, Mah! Aku tidak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini olehmu," kataku seraya mendorong perlahan tubuh Eliana dan membimbingnya duduk di sofa.

"Aku benar-benar capek, Pah. Aku mengantuk. Sumpah aku tidak bohong," sahut Eliana dengan tangis yang belum berhenti.

"Ya..ya.. aku paham.. aku aku paham, Mah. Tetapi bukan sekali kamu menolak, bukan? Kataku seraya mengangkat wajah Eliana. Aku ingin melihat dengan kejujuran di balik matanya yang bulat.

"Pokoknya Papah tidak boleh tidur dengan perempuan lain! Mamah tidak rela kalau sampai Papah selingkuh dengan wanita lain," tangis Eliana semakin kencang.

Dan sungguh di luar dugaaanku, tiba-tiba Eliana menyeret lenganku masuk ke dalam kamar. Di sana sekonyong-konyong dia menanggakan semua pakaian yang dikenakannya hingga telanjang bulat. Ya, kini Eliana berdiri di depan mataku tanpa sehelai benang pun!

"Kalau Papah mau "begituan", ayo sekarang! Mama akan melayani Papah sampai puas. Yang penting Papah tidak selingkuh dengan perempuan lain di luar sana!" Ujar Eliana penuh dengan sangat atraktif mengajakku hubungan suami istri.

Dan tidak perlu aku ceritakan secara lengkap, malam itu aku benar-benar bergumul dengan Eliana penuh dengan nafsu birahi. Malam itu istriku benar-benar menjamuku dengan pelayanan yang sangat prima. Pelayanan ranjang seperti itu baru aku temukan dan rasakan kembali setelah bertahun lamanya hilang entah kemana.

Namun belum genap sepekan Eliana memberiku service luar biasa di atas ranjang, aku terjebak permainan asmara dengan seorang perempuan. Ia adalah orangtua salah satu mahasiswa semester kedua di perguruan tinggi tempatku bekerja.

sebut saja nama perempuan itu Arhiena, 40-an, mantan pelatih tari tradisional Cirebon. Sungguh, aku tak ingat sejak kapan dan bagaimana bisa dekat dengan perempuan yang tinggal di kawasan elite itu. Yang bisa kuingat hanya saat kedatangan Arhiena ke kampus untuk berkonsultasi perihal mata kuliah yang aku ajarkan kepada anak laki-lakinya.

"Aku minta tolong pada bapak untuk berkenan memberi bimbingan kepada Koko," ujar Arhiena, sambil menyebut nama anaknya, ketika bertemu denganku di depan kampus seusai aku memberikan kuliah.

"Anakku sepertinya kurang begitu menguasai mata kuliah yang bapak berikan."

"Hm, boleh... boleh, Bu. Tetapi aku harus melihat jadwalnya dulu ya. Soalnya, selain di kampus ini aku juga mengajar di kampus lain," jawabku entah mengapa saat itu merasa menaruh hati kepada perempuan berkulit putih bersih itu. Rambutnya sebahu Arhiena yang dibiarkan tergerai kerap menggoda hasrat laki-lakiku.

Rupanya gayung pun bersambut! Dan iblis mulai merasuk ke dalam jiwaku saat Arhiena pada beberapa kesempatan curhat kepadaku tentang perjalanan rumah tangganya yang rapuh. Iblis pun kian kuat menggodaku manakala Arhiena menelepon atau mengirimkan pesan singkat (SMS) ke nomor telepon seluler pribadiku.

Namun sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tersebar juga bau busuknya. Demikian pula hubunganku dengan Arhiena. Meski aku berusaha untuk "rapi jali", tetapi tak urung ketahuan juga oleh Eliana! Entah bagaimana ceritanya, Eliana menginterogasiku habis-habisan sepulang aku memberi privat mata kuliah di rumah Arhiena.

"Pokonya kamu jangan bohong, Pah! Mamah tahu kalau Papah tadi berkencan dengan dengan perempuan lain. Mamah tahu apa saja yang dibicarakan dengan perempuan itu!" kata Eliana dengan nada seperti orang kesurupan.

Sabar, Mah... sabar...! Aku jelaskan dulu permasalahannya," potongku mencoba meredakan emosi Eliana yang mulai tidak terkendali.

Sabar...sabar apaan? Apa Papah mau munkir? Pokonya Papah jangan macam-macam di belakang Mamah. Karena Mamah tahu apa pun yang Papah lakukan di luar sana," hardik Eliana dengan wajah tegang karena amarah yang meledak-ledak.

"Asal Papah tahu ya kalau Mamah ini punya pendamping gaib. Pendamping gaib ini yang ngomong semua tentang Papah bersama perempuan itu!"

Sungguh, aku benar-benar terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Eliana. Istriku punya "pendamping gaib"? Sejak kapankah itu? Rasa terkejutku kian menjadi-jadi saat Eliana benar-benar kesurupan sambil blak-blakan mengaku dirinya mempunyai jin pendamping yang selalu mamantau aktifitasku di luar rumah.

Dan ketika itu pula benakku berpikir keganjilan-keganjilan yang selama ini terjadi pada diri istriku. Jangan-jangan, pikirku, selama ini Eliana kerap menolak diajak tidur olehku karena dipengaruhi oleh jin yang bersemayam di dalam dirinya. Aku berusaha mencari tahu tentang hal itu.

Beberapa teman memiliki kemampuan supranatural segera dihubungi dan dimintai tolong untuk mendeteksi Eliana. Tak lupa teman-teman dari kalangan ustadz maupun kiyai aku datangi untuk maksud yang sama. Ada sekitar empat orang teman praktisi metafisika dan tiga orang ustadz/kiyai yang ternyata memberikan prediksi hampir sama, yakni Eliana berada dalam pengaruh siluman jahat. Jin keparat itu sudah bersemayam dalam dirinya sejak lima ata enam tahun silam.

"Sudah selama itukah?" Tanyaku kepada tiga orang yang memiliki kemampuan spiritual lumayan tinggi.

"Perkiraan kami memang begitu, Mas. Repotnya siluman tersebut sudah menyatu dengan badan wadag istri Mas, sehingga agak sulit untuk mengatasinya," ujar mereka sambil menyebutkan kemungkinan buruk bisa menimpa Eliana apabila siluman jahat itu dipaksa dikeluarkan dari tubuhnya yakni istriku bisa menjadi gila atau meninggal dunia.

"Sekarang jelas sudah penyebab istri Mas selalu menolak bila diajak bersebadan. Soalnya siluman yang ada di badan istri Mas itu jenis kelaminnya perempuan dan punya suami dari bangsa dedemit juga. Jadi tidak heran kalau Mas minta dilayani tidur akan ditolak istri Mas. Sebab yang menolak itu sebenarnya bukan istri Mas melainkan si siluman tersebut," lanjut mereka membuat aku nyaris pingsan. Siluman betina itu jelas tidak mau melayaniku karena bukan suaminya sesama siluman.

Pembaca budiman, hingga sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membebaskan Eliana dari belenggu siluman betina jahanam. Salah seorang spiritualis memprediksi bahwa tidak ada makhluk halus di dalam tubuh Eliana, tetapi yang bersemayam di sana adalah "pegangan" atau "pelindung gaib" istriku yang konon tidak mudah diterawang.

"Hasil deteksi saya ttidak ada makhluk halus dalam diri istri Mas. Yang ada adalah pegangan atau pelindung gaib yang ketika saya deteksi seperti tertutup kabut," ujar spiritualis yang mau berbaik hati membantu mendeteksi istriku.

Bila benar demikian adanya, mengapa Eliana, istrku, harus meminta perlindungan dan mencari pegangan hidup kepada bangsa jin? Mengapa tidak langsung saja memohon perlindungan segalanya kepada Allah SWT, Sang Maha Pemilik Segala di muka jagat raya ini? Dan semenjak kapan pula Eliana berkenalan dengan bangsa jin seperti itu?

Entah berapa ribu pertanyaan berkecamuk dalam benakku hingga sekarang. Kini aku hanya bisa pasrah menerima cobaan hidup yang sesungguhnya teramat berat ini. Lepas dari benar atau tidaknya hasil deteksi gaib teman-teman tadi, kini dari hari ke hari aku tak pernah berhenti berdoa kepada-Nya semoga Eliana bisa segera menghindari kekhilafannya telah bersekutu dengan dengan jin. Terus terang saja, aku takut dan khawatir istrku itu meninggal dalam keadaan sesat sebelum sempat bertobat. (*)

Tanggapan Pengasuh
Oleh: Eka Supriatna

Dikendalikan Kekuatan Gaib
Dalam beberapa kasus, kekuatan gaib dalam bentuk jin, khodam atau yang lainnya memang bisa mengendalikan manusia. Biasanya manusia itu sebelumnya telah memiliki kesepakatan atau perjanjian dengan makhluk halus yang mengendalikan dirinya itu.

Dalam kasus istri Anda, ia telah meminta pertolongan gaib untuk memata-matai di mana pun Anda berada. Bersama siapa saja Anda berada dan apa yang Anda lakukan selama Anda jauh dari istri Anda. Maka tak heran bila istri Anda bisa mengetahui dengan tepat apa saja yang Anda lakukan.

Tapi kesalahan yang dilakukan istri Anda adalah terlalu tunduk pada perjanjian yang dibuatnya dengan makhluk halus itu. Atau mungkin juga istri Anda tidak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi atas dirinya. Mungkin ketika ia meminta barang, pegangan atau ajimat itu ia tidak panjang lebar bertanya apa yang sebenarnya bersemayam dalam benda itu. Mungkin pula istri Anda tidak mengetahui kalau sebenarnya ia telah melakukan perjanjian gaib dengan makhluk halus.

sesungguhnya itu bisa diselesaikan dengan mengembalikan barang, ajimat atau benda apa pun yang dimiliki istri Anda ke tempat asalnya. Anda harus bertanya pada istri Anda apa yang ia miliki dan dari mana asalnya. Mungkin ia mendapatkan kekuatan gaib itudari seseorang spiritualis, dukun, atrau paranormal yang dulu pernah ditemui istri anda. Maka kepada dialah minta bantuan untuk mengembalikan kekuatan gaib yang ada dalam diri istri Anda itu. Ini adalah cara paling mudah untuk menyembuhkan istri Anda. Sebab orang yang dimintai bantuan oleh istri Anda itu pasti tahu apa yang pernah ia lakukan pada istri Anda.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan istri Anda adalah melakukan ruweta, atau pembersihan diri lahir batin. Bisa dilakukan dengan melarung benda-benda mistik, piranti mistik yang dimiliki istri Anda. Buang benda-benda mistik pegangan istri Anda ke sungai, muara, atau ke laut. Ini dilakukan agar benda-benda itu dan kekuatan gaibnya bisa kembali ke alam asalnya.

Mudah-mudahan makhluk gaib yang mersemayam dalam diri istri Anda itu pun akan ikut pergi bersama benda-benda pusaka yang dilarung itu. Kemudian bisa juga istri Anda melakukan taubatan nasuha, taubat dengan sebenar-benarnya taubat.

Mendekatkan diri pada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk hal ini, Anda bisa menghubungi kiyai, ustadz atau pondok pesantren terdekat di rumah Anda. Mungkin ada solusi yang terbaik yang bisa dilakukan di pondok pesantren untuk mengembalikan kesadaran istri Anda. (*)>

Sumber: Misteri, Edisi 585, Tahun 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Tenggelam dalam Kubangan Wadal

Oleh: Dawam

Truk yang dikemudikan Hadiono menabrak pembatas jalan, tak jauh dari keramat Jimbe. Sekujur tubuhnya remuk hingga untuk mengambil jasadnya dari bagian depan truk perlu waktu yang lama.

____________________________________________________________



Truk kupacu dengan lumayan kencang manakala hujan turun sangat deras. Sepanjang jalan raya Tulungagung--Trenggalek penuh dengan genangan air karena gelontor hujan dari langit. Malam nanti barang yang kubawa dalam truk harus tiba di Malang, praktis aku harus berpacu dengan waktu yang demikian mepet.

Kalau bisa, sebelum jam sembilan malam nanti barang harus diterima oleh Pak Handoko," ujar Pak Rahmat, bosku, memaparkan kehendak hatinya.

"Akan kuusahakan, Pak."

"Sungguh. Kamu pacu kendaraanmu dengan cepat."

"Ya, Pak."

Jawaban demikian musti kusorongkan pada majikan berambut botak itu, kalau aku tidak ingin kena marahnya. Pengusaha yang temperamental ini memang sering tak bisa kompromi dengan orang lain, apalagi bawahan kelas teri asin mirip aku ini. Semua kemauannya harus dituruti. Apakah di tengah jalan kendaraan kuhela dengan santai, itu urusan nanti saja. Yang penting hanya jawaban ya... ya... ya.. saja yang paling disukai Pak Pak Rahmat, setiap kali dia punya keinginan.

Demi menghargai bos, walau pada dasarnya mengemudi kendaraan dalam suasana hujan dan jalan beraspal lumayan licin mengandung resiko tinggi, truk kupacu juga dengan kecepatan di atas rata-rata. Senja yang temaram, membuat pandangan mata tidak bisa maksimal mengarah pandangan depan. Pada sebuah pertigaan dekat perbatasan Trenggalek--Tulungagung, kendaraan kurem dengan mendadak.

"Busyet," aku menggerutu sambil detak jantung berdegup amat kencang.

"Kamu punya mata untuk melihat nggak?!" Sambnungku dengan mata melotot.

Di depan ban trukku berdiri mematung seorang perempuan dengan sekujur tubuh basah kuyup. Kusorongkan berbagai macam pertanyaan, tak begitu banyak keterangan kudapat tentang identitasnya. Untuk menghindari masalah lebih jauh, wanita umur kurang lebih tiga puluh tahun ini kuminta masuk pada bagian sopir berdampingan denganku.

Sesampainya di rumah orang tuaku, Desa Tanjungsari, Boyolangu, Tulungagung baru kuketahui siapa wanita yang hampir mendatangkan petaka bagiku itu. Dia bernama Ana, warga Kiping, Gondang, masih satu wilayah kabupaten denganku. Ana mengalami goncangan jiwa lantaran Misnan, suaminya, serong dengan wanita lain, sementara dia sendiri demikian cinta pada suaminya ini.

Beberapa hari lamanya Ana hidup seadanya dengan keluargaku. Makan dan minum juga teramat 'apa adanya', mengingat penopang utama keluargaku adalah diriku yang hanya seorang sopir suruhan majikan. Syukurlah, Ana juga tak menolak apa saja yang kami suguhkan padanya.

Kurang lebih satu bulan, Ana pamit mau pulang. Dia kuantar dengan sepeda motor bututku, sementara Narti, istriku, menemani juga dengan sepeda motor milik Kang Rahmat, kakak nomor duaku.

Lima bulan berikutnya, aku diundang supaya datang ke rumah keluarga Ana, karena setelah diceraikan secara resmi oleh suaminya, Ana menikah dengan Gunawan, lak-laki dari Plosokandang, Kedungwaru, yang hanya terpaut ratusan meter dari tempat tinggalku.

Beberapa bulan hidup berumah tangga dengan Gunawan, seorang anak lahir dari rahim Ana. Bayi laki-laki ini pada hari-hari berikutnya diberi nama Wasis. Seperti nama yang disandangnya, bocah berkulit sedikit legam ini memang memiliki kecerdasan lumayan, lincah, periang serta gampang diiajak bersanda-gurau, walau anak itu sendiri masih baru mengenal orang yang berada di hadapannya.

Rupanya Ana memang seakan wanita yang terlahir dengan kegagalan demi kegagalan perkawinan terbeban dipundaknya. Terbukti, mengarah pada hitungan tahun ke tiga pernikahannya dengan Gunawan, pahitnya pil perceraian untuk kesekian kalinya musti tertelan tenggorokan Ana.

Kurang jelas bagaimana ceritanya, dua tahun berikutnya Ana diambil istri oleh Hadiono, lelaki yang usianya lebih mudah darinya. Saat Ana dinikahi Hadiono inilah barangkali awal petaka yang menimpa dirinya, dalam rentetan waktu yang merangkak ke depan. Ceritanya, Ana diberi sebuah keris kecil oleh Bu Minah (bukan nama asli), mertuanya.

"Keris ini sangat sangat baik untuk berdagang, An. Mungkin sangat cocok dengan pekerjaan suamimu yang suatu ketika nanti menggantikan posisi oorang tuanya sebagai pedagang besar," ujar Bu Minah pada suatu senja diwarnai gerimis pada Ana.

Mertua wanitanya wanti-wanti pada Ana agar menyimpan baik-baik keris yang katanya bertuah tersebut. Ana tak banyak bertanya lebih jauh tentang keris keramat tadi. Keris itu lantas dia taruh pada lemari kayu, berbaur dengan tumpukan pakaian miliknya.

Ana sendiri sudah tidak begitu memikirkan tentang keris itu sendiri, hingga suatu hari dia mendapatkan kiriman ayam ingkung dari mertuanya. Sang mertua bilang bahwa ayam ini harus dinikmati bersama suaminya, sebagai rasa syukur kemajuan usaha yang dialami Pak Gondo (bukan nama asli), mertua laki-lakinya.

Ayam ingkung itu dbawa Ana ke rumah orang tuanya di Kiping. Kurang paham apa sebabnya, wanita yang melahirkan dirinya ini melarang Ana untuk tdak memakannya.

"Memang ada apa kok tidak boleh disantap, Mbok?" Tanya Ana tak mengerti tentang makna yang terkandung di balik larangan tersebut.

"Sementara tidak bisa kujelaskan, An. Ikuti perintah Simbokmu untuk tidak memakan ayam panggang tadi. Itu saja," pesan Simbok dengan wajah sungguh-sungguh.

Demi menghormati orangtua wanitanya, walau masih tetap membawa perasaan dongkol, Ana manggut-manggut saja menerima permintaan itu.

Tak lama setelah itu, Hadiono datang. Tanpa bertanya dari mana datangnya, lelaki itu langsung menyikat ayam ingkung yang tersaji di atas meja, lantaran di dekat ayam itu teronggok sebakul kecil nasi yang masih mengepulkan asap. Ana yang kala itu sedang berada di belakang rumah tak tahu sama sekali apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.

Sore harinya Hadiono pamit pada Ana untuk mengunjungi orangtuanya di Ngunut. Bagaimana kisah lengkapnya, Ana tak tahu. Datang kabar yang cukup mengejutkan dari mertuanya di Ngunut bahwa Hadiono mengalami kecelakaan tragis di perbatasan Blitar--Tulungagung. Truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, tak jauh dari tmpat keramat Jimbe. Sekujur tubuh Hadiono remuk hingga untuk mengambil jasadnya di bagian depan truk perlu waktu yang sangat lama.

Belakangan diketahui, walau lewat bisk-bisik, tentang kematian mengenaskan Hadiono itu disebabkan kena akibat buruk dari ayam ingkung yang disantapnya. Dari sebuah sumber diyakini bahwa yang hendak dijadikan wadal, tumbal untuk makhluk gaib lantaran pesugihan, adalah Ana sendiri. Dikarenakan Ana dipaksa Simboknya untuk tidak memakannya dan ganti Hadiono melahapnya, jadilah senjata makan tuan. Bukan Ana yang mati tapi Hadiono sendiri yang dimakan makhluk halus peliharaan seseorang.

Lewat seorang teman yang sedikit banyak tahu tentang dunia supranatural dipetik kabar bahwa keris kecil pemberian mertuanya tempo hari adalah keris yang di dalamnya bersemayam makhluk alam astral yang bisa membuat pemegangnya sangat mudah dikendalikan oleh makhluk gaib tadi. Ini dikandung maksud, cepat atau lambat, orang itu akhirnya akan mengalami nasib sama dengan Hadiono. Setidaknya, bila tubuh orang itu kuat maka hanya onyeng (pikirannya kacau) serta mengarah pada gila permanen. Sedangkan bia tak kuat berdampingan dengan khodam keris, orang itu akan meninggal dunia, tak beda dengan yang dialami Hadiono beberapa waktu silam.

Tentang diri Ana sendiri memang semakin hari kelihatan semakin aneh tingkah lakunya. Kadang bicara sendiri, kadang menangis histeris, sekali tempo malah mengamuk dengan kekuatan melebihi tenaga tiga orang dalam keadaan normal. Aku yang berusaha untuk meredam amukannya bersama Dani, Agus, Lukman, dan Manaf malah jadi bulan-bulanan kemarahan Ana. Kekuatan fisik kami berlima masih kalah dibanding Ana. Dia yang secara kasat mata ringkih, nyatanya memiliki tenaga yang minta ampun kuatnya.

Untuk membuang gaib yang bersarang pada tubuh Ana, beberapa orang pintar pernah kami mintai tolong, namun hingga kini tak ada hasil maksimalnya. Ana sembuh sesaat, dua tiga hari berikutnya kambuh lagi. Berbuat, bertingkah laku mirip orang tak waras.

Pernah oleh Mas Turkan, kawanku yang juru sembuh akibat pengaruh gaib. Ana dimandiikan pada sebuah sumur tua dengan ritual tertentu, pada suatu tengah malam. Mulai ujung rambut hingga pangkal kaki diguyur air, sambil dimanterai berulangkali. Di samping itu, dua kali dimandikan dimandikan pada aliran sungai di pinggir sawah sebelah rumah, dengan tubuh terasa membeku karena dinginnya air, toh seminggu kemudian Ana kumat lagi.

"Nampaknya makhluk gaib yang ngendon di tubuh Ana terlalu kuat untuk kita tundukkan. Musti kita temukan orang yang bisa menundukkan kekuatan gaibdi dalam keris tersebut," aku Mas Turkan, mengamini penuturan Mbah Ngadimin, orang sepuh yang juga ikut membantu menghalau pengaruh gaib dalam tubuh Ana.

Apa yang dialami Ana ini musti kutulis di majalah ini, dengan harapan barangkali ada pembaca yang bisa ikut membuka tabir misteri yang sungguh terasa sangat pelik ini.

Sebagai seorang tetangga sekaligus sahabat, rasanya kurang pas kalau aku hanya tinggal diam di sini saja. Walau sebenarnya berbagai macam upaya telah melelahkan kami semua, membikin tubuh kurus, pikiran terombang-ambing antara realita dan mimpi buruk tiada bertepi. (*)

Misteri Edisi 581, Tahun 2014

Senin, 21 April 2014

Mengungkap Rahasia Alam Jin

Mengungkap Rahasia Alam Jin

Oleh: M. Yusup



Pernahkah terbersit dalam pikiran Anda untuk mengungkap tabir yang menyelimuti alam jin/gaib. Ada apa di balik dunia sana yang penuh tanda tanya. Misteri alam gaib selalu saja terselimuti kabut yang tebal dan tak ada satu ilmu pengetahuan yang bisa mengungkap keberadaan alam gaib
_____________________


Banyak di antara kita, terutama orang yang menganut filsafat barat tentang eksistensialisme menolak keberadaan alam gaib. Mereka selalu berpikiran dunia tanpa materi itu tidak ada. Materialisme adalah hakikat semua kehidupan di alam dunia ini dan tak ada kehidupan lain selain kehidupan yang kasat mata.

Padahal beberapa ilmuan fisika berpendapat tentang hakekat sesuatu benda itu sebenarnya tak berwujud. Satuan terkecil dari suatu benda adalah atom, atom terdiri dari atas inti atom dan elektron. Nah, yang namanya elektron itu terus bergerak mengitari atom.

Dan tak ada alat yang bisa melihat elektron secanggih apa pun mikrosof tersebut. Dengan sinar gamma pun tak mampu melihat elektron yang menjadi hakikat suatu benda. Dan elektron itu terus bergerak.

Hal itu menyimpulkan bahwa tak ada benda yang benar-benar diam dalam kehidupan ini. Batu, meja, kursi, tiang, pohon, sesungguhnya yang menjadi inti benda-benda tersebut terus bergerak berputar seperti bumi yang mengelilingi matahari.

Memang semua ilmu pengetahuan alam tidak bisa mengungkap semua rahasia alam. Alam mempunyai caranya tersendiri dalam menunjukkan jati diri kepada manusia. Seperti halnya misteri alam gaib.

Pernah Anda bertanya di mana sebenarnya misteri alam gaib. Apakah alam gaib itu masih berada di dalam dunia sehingga kita bergesekan tiap saat dengan mereka. Ataukah alam gaib itu mempunyai dimensi lain yang mempunyai dimensi ruang dan waktu yang brbeda dengan dunia kita.

Namun, jika dimensi mreka berbeda kenapa ada beberapa orang yang mengaku bisa melihat alam gaib atau menyingkap kabut yang menghalangi kehidupan kita.

Saya akan mengatakan bahwa orang bisa melihat alam gaib itu adalah bohong belaka karena alam gaib dan alam nyata itu terpisah dengan kematian.

Jika mereka yang sudah mati mereka barulah memasuki alam gaib, yang disebut dengan alam kubur atau alam barzah, kemudian mereka akan memasuki alam gaib yang disebut alam hisap atau hari kebangkitan di mana manusia dibangkitkan dari kematiannya.

Dan yang terakhir adalah alam akhirat, alam akhir dari segalanya yaitu surga dan neraka. Inilah yang dinamakan alam keabadian. Jika dia orang yang baik dia akan memasuki alam surga dan abadi dalam kebahagiaan, sedangkan orang yang berdosa akan masuk neraka yang abadi dalam kesengsaraan.

Mungkin yang mereka sebut dengan alam gaib, itu adalah alam jin. Sedangkan yang namanya jin itu hidup di alam dunia. Mereka bukanlah makhluk gaib mereka adalah makhluk kasat mata, hanya saja materi yang membentuk mereka bukanlah dzat padat tapi merupakan gas, sama seperti halnya api.

Karena jin tercipta dari api, jadi unsur pembentuk mereka adalah gas panas yang sangat halus. Karena wujud mereka sangat halus jadi indera kita tidak dapat melacaka keberadaannya. Kecuai dengan kepekaan indera tingkat tinggi, yaitu indera keenam, yang sering disebut oleh para spiritual dengan mata batin.

Memang benar jin itu dapat dilihat dengan kasat mata, asalkan kita mau percaya. Mereka juga makhluk Tuhan yang hidup di alam dunia bukan di alam gaib. Mereka juga mempunyai kebudayaan dan peradaban seperti kita. Hanya saja unsur-unsur yang membentuk mereka berbeda dengan unsur-unsur yang membentk manusia.

Sehingga kita bisa hidup berdampingan dengan mereka tanpa harus berebut kekuasaan lahan. Coba saja Anda bayangkan jika jin dan manusia mempunyai unsur pembentuk materi yang sama. Mungkin peperangan akan semakin menjadi-jadi. Manusia dengan manusia saja sering cekcok, ditambah lagi dengan jin.

Maka dunia ini akan semakin sempit dan kacau. oleh karena itu, Tuhan menciptakan jin itu berbeda dengan manusia, agar kita tak bisa saling sapa atau saling berebut kekuasaan. Tuhan Maha Adil dan Tahu apa yang terbaik untuk semua makhluk-Nya.

Kadang jin sering membuat manusia tersesat dan masuk ke daam jurang kemusyrikan. Namun tida semua jin itu jahat, ada juga yang baik, yang beragama, jin Islam dan mau menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Bakan, ada salah satu pesantren di Jombang yang khusus memnuka kelas jin. Percaya atau tidak santri di pesantren tersebut satu kelas semuanya jin. Jadi bagi orang awam yang melihatnya, seorang ustadz mengajar kelas yang kosong.

Mungkin bagi orang-orang eksisrensialisme tidak percaya dengan hal ini. Karena jin tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Mereka adalah makhluk halus yang berupa kumpulan gas.

Entah unsur pembentuknya hidrogen, atau helium, atau oksigen, belum ada yang bisa mengungkap materi pembentukan jin. Mungkin suatu saat akan ada seorang ilmuan yang akan meneliti tentang materi pembentukan jin.

Semoga saja, sehingga misteri alam gaib yang selama ini kita curigai sebagai alam jin bisa terungkap. Tapi, jangan pernah berharap dapat mengungkap misteri alam gaib yang sebenarnya, yaitu alam setelah kematian. Hal itu akan tetap menjadi rahasia Tuhan.

update: Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan . Maksudnya tada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya....

Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba'u Usulul Hikmah Bimualif, karangan imam Ali Albury, diterangkan sebagai berikut:

Bahwa setiap manusia menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.

Disamping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah jin muslim-peri) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melainkan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu akan kita terima.

Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama suda menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat Imam Bujeremi, dalam itabnya "IQNA". Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, diulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama', Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.

Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untk menembusnya.

Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab "Manba'u Usulul Himkah," dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam di bawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.

Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan dengan istilah "bangsa lelembut" yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syeit yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar itu adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.

Abdul Jumud: sebuah alam yang dhuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu, dan pepohonan. Abdul Jumud di sini disebut juga dengan istilah "dedemit." Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: kuntilanak, memedi, perkayang dan lain sejenisnya.

Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya. Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak akan mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.

Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu ritualnya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus-menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.

Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dan sifat mereka.

Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin di sini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (jin putih/muslim dan jin hitam/kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa). Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.

Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa jin hitam atau jin kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diiming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.

Intinya, pikiran kita akan terus cekcoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima nasehat apapun dari orang lain.

Bukan itu saja, golongan jin hitam atau jin kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam).

Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, sering kali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka jganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal dari golongan bangsa jin hitam atau jin kafir.

Kitab Manba'u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya; "Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas."

Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant di muka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.

Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat, ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin/peri) yang akan kita temui kelak.

Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Thoithobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam ketegori huruf Alif.

Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menujukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma' Ahmar dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim... dan seterusnya. (*)

Misteri Edisi 579 (05 April-19 April) Tahun 2014

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Kendi Pesugihan Pemberian Mbah Wali

Edi suka sekali mendatangi tempat-tempat keramat untuk lelaku. Kata guru spiritualnya, ia tidak boleh menghentikan kegiatannya itu sebelum mendapatkan wisik. Sampai akhirnya ia mendapatkan kendi yang ternyata bisa membuatnya menjadi orang kaya.

_______________________________


Sudah beberapa malam Edi berada di makam keramat yang ada di daerah Trowulan, Mojokerto. Ia menunggu wisik atau pesan gaib yang sekiranya akan membuat dirinya mengakhiri lelakunya. Ia tidak boleh pergi sebelum mendapatkan sesuatu dari makam itu, begitu kira-kira pesan dari gurunya.

Makam yang ekarang dijadikan Edi lelaku adalah dipercaya sebagai makamnya orang sakti. Namun, sampai 7 hari di tempat itu, lelaki itu tidak juga mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ia mulai putus asa, sampai-sampai ia tidak percaya dengan semua yang telah dilakukannya.

Puncak kemarahannya adalah ia lalu dengan gerakan seperti orang kesetanan merobohkan batu nisan makam yang tidak disemen tersebut hingga ambrol dengan kakinya. Tak berhenti sampai di situ, Edi juga mengangkat sebuah kendi yang kebetulan berada di atas pusara makam tersebut. Dengan kedua tangannya, kendi itu diangkatnya tinggi-tinggi dan dibantingnya.

Sungguh di luar dugaan, kendi atau kuali itu tidak pecah atau retak barang sedikit pun. Padahal secara nalar, kendi yang terbuat dari tanah liat itu akan pecah belah menjadi potongan-potongan kecil saat membentur laintai yang keras. Edi mengambil kendi itu kembali dan hendak membenturkannya ke lantai lagi.

Tapi, tiba-tiba ia mendengar salah seorang penziarah yang kebetulan berada di belakangnya menggelepar-gelepar seperti orang yang sedang kerasukan dan mengeluarkan suara yang membuat Edi terkesima sebab mengaum seperti suara harimau. Setelah itu terdengar sebuah suara yang sangat berwibawa keluar dari mulut si penziarah yang kerasukan tersebut.

Orang yang kerasukan itu mengatakan kepada Edi untuk membawa plang kendi itu. Edi disuruh menyimpan kendi itu baik-baik, dan katanya dengan kendi itu mudah-mudahan apa yang menjadi tujuan Edi bisa terkabulkan. Namun, ada syaratnya, yaitu Edi tidak boleh menolak setiap permintaan orang yang membutuhkan pertolongannya.

Setelah berucap begitu, terdengar kembali aungan harimau sebanyak tiga kali. Lalu, kemudian menjadi senyap kembali. Seorang penziarah yang tadi kerasukan itu kembali tersadar dan seperti tidak mengerti dengan apa yang telah trjadi. Mbah Bejo, juru kunci tempat tersebut dan seorang penziarah lain mencoba menolongnya. Mbah Bejo memberinya minum segelas air putih yang baru saja diambilnya dari gentong keramat yang jaraknya hanya beberapa langkah saja.

Suasana kembali senyap untuk beberapa lama. Tanpa diminta oleh siapa pun, Edi lalu merapikan kembali nisan yang sempat dijejaknya hingga roboh dan berantakan. Setelah itu, ia mendekati Mbah Bejo dan meminta maaf atas prilakunya.

"Sudahlah, tidak apa-apa! Mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya! Dan, mudah-mudahan saja dengan cara ini, apa yang menjadi keinginan Saudara bisa terkabulkan!" Ucap orang tua itu.

Mbah Bejo sendiri sebenarnya tidak percaya dengan keberadaan kendi berwarna hitam kecoklatan itu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya darimana asalnya kendi itu. Apakah kendi itu bawaan orang-orang yang berziarah atau kendi itu muncul dengan sendirinya secara gaib? Sebab, sepengetahuannya, tidak ada kendi di atas pusara keramat tersebut sebelumnya.

Sejak mendapatkan kendi itu, sedikit demi sedikit hidup Edi dan keluarganya mulai membaik. Usaha apa saja yang dilakukan selalu sukses luar biasa. Bahkan, beberapa tahun kemudian Edi dikenal sebagai orang yang kaya raya di daerahnya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang dermawan kepada siapa saja. Setiap orang yang membuthkan pertolongannya selalu dibantunya tanpa pandang bulu, baik yang sudah dikenal atau tidak dikenalnya.

Tidak jelas, apakah sifatnya itu benar-benar karena niat ingin membantu sesama atau hanya karena itu hanya sebuah syarat agar kekayaannya tidak habis seperti yang pernah dipesankan gaibnya?

Suatu saat, lelaki ini sudah benar-benar menjadi orang yang paling kaya, datanglaj seorang laki-laki ke rumahnya. Laki-laki itu boleh dibilang cukup aneh. Sebab, ketika ditanya oleh para pembantunya tentang tujuannya, ia hanya mengatakan ingin bertemu dengan Pak Edi. Ketika diitawarkan apa yang perlu dibantu, lak-laki itu hanya menggeleng dan mengucapkan bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Pak Edi.

Ketika para pembantu mengatakan bahwa Pak Edi sangat sibuk dan tidak bisa ditemui, lelaki itu tidak menyerah. Ia mengatakan akan tetap menunggunya sampai Pak Edi ada waktu dan mau menemui dirinya.

"Saya hanya bisa mengungkapkan tujuan saya pada Pak Edi. Jadi tolonglah, izinkanlah saya bertemu dengannya," ucap lelaki misterius itu.

"Pak Edi sedang ada di luar kota dan baru pulang beberapa hari lagi. Kalau Bapak memang ingin bertemu langsung dengan Pak Edi, Bapak bisa kembali lagi nanti. itupun kami tidak tahu pasti kapan pulangnya," ucap asisten pribadi Pak Edi dengan ramah, meski lelaki yang ingin bertemu dengan Pak Edi itu sikapnya seperti orang yang menjengkelkan.

Ia akhirnya memilih menunggu di mushala yang ada di rumah milik orang kaya tersebut. Para pembantu, termasuk asisten Pak Edi tak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan saja.

Setelah menunggu sampai sehari-semalam, akhirnya pulang juga Pak Edi dari kepergiannya. Setelah berada di rumah, ia pun masih disibukkan dengan segala aktivitasnya. Dan, rupanya tidak hanya orang itu yang ingin bertemu. Tamu-tamu yang lain juga banyak yang ingin bertemu dengan laki-laki sukses itu. Sejak menjadi orang yang penting di daerahnya; Edi memang susah ditemui, lebih-lebih jika tamunya bukan orang penting. Tapi, berkat keuletan dan kesabarannya, akhirnya bisa juga laki-laki itu bertemu langsung dengannya.

"Apakah Pak Edi masih ingat kepada saya?" Tanya orang itu saat sudah berhadap-hadapan dengan Edi.

Ditanya begitu, Edi hanya mengernyitkan dahinya. Ia seperti pernah bertemu dengan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Tapi, siapa dia dan pernah bertemu dengannya dimana, Edi tidak ingat betul. Meski mencoba mengingat-ingat, tapi Edi tdak juga kunjung ingat siapa sebenarnya jati diri lki-laki misterius tersebut.

"Saya adalah orang yang pernah bersama-sama Bapak melakukan ziarah di makam Mbah Wali," ucapnya.

Meski sudah mendengar ucapan itu, Edi belum juga ingat. Laki-laki itu tidak juga segera mengungkapkan jati dirinya. Ia bahkan ganti topik pembicaraan dengan memuji keberhasilan Edi hingga membuta tuan rumah menjadi bosan. Dan, setelah dirasa Edi benar-benar tidak tahu dengan siapa dirinya, barulah laki-laki itu mengungkapkan siapa dirinya.

"Saya adalah orang yang pernah melihat Bapak waktu mendapatkan kendi dari makam keramat dulu!

Edi sedikit kaget! Tapi, ia lalu mencoba menanyakan apa yang menjadi tujuan laki-laki itu. Ditanya begitu, elaki itu malah mengatakan tidak membutuhkan uang atau materi seperti yang lain. Yang ia butuhkan katanya hanyalah sebuah kendi!

Deg!!! Tiba-tiba jantung Edi seperti berhenti berdetak. Ia tidak pernah menduga laki-laki di hadapannya itu akan seberani dan senekad itu hendak mengambil sesuatu yang dianggapnya sangat penting. Buru-buru Edi menarik napas dalam-dalam dan mencoba menguasai perasaannya. Ia lantas teringat akan pesan gaib yang pernah terucap lewat mulut laki-laki yang ada di hadapannya dulu.

"Bagaimana, Pak Edi, apakah saya diijinkan membawa pulang kendi pemberian Mbah Wali itu?!"

Edi tidak juga segera menjawab. Ia seperti berpikir dengan keras untuk mengambil keputusan yang tepat. Sesuai dengan pesan gaib yang perna diterimanya, ia memangg tidak boleh menolak setiap permintaan pertolongan dari orang yang membutuhkan bantuannya.

Setelah cukup lama berpikir dengan keras, akhirnya keputusan itu diambil. "Baiklah, Bapak boleh membawa pulang kendi itu," ucapnya lirih.

Ia pun lalu masuk ke dalam rumahnya yang besar dan kembali lagi sambil membawa serta sebuah kendi yang dibungkus kain warna putih. "Bwalah Bapak pulang kendi ini, dan semoga apa yang menjadi keinginan Bapak bisa terkabulkan."

Selepas kepergian laki-laki aneh itu, Jafaril masih terteun di tempatnya. Beberapa orang yang ingin bertemu dengannya untuk sementera waktu ditolaknya. Para pembantu juga tidak ada yang berani bertanya macam-macam. Ia tahu bosnya sedang tidak bleh diganggu.

Dalam hatinya, Edi berkata bahwa ia sudah melaksanakan pesan gaib ituu dengan sebaik-baiknya. Dan, kalau memang segala apa yang telah diperolehnya akan diambil oleh Tuhan gara-gara ia memberikan kendi itu kepada orang lain, ia sudah pasrah untuk menerimanya. Di tengah perenungannya, tiba-tiba di depan pintu gerbang rumahnya terdengar orang ramai. Edi bergegas ingin tahu dengan apa yang terjadi. Di situ rupanya telah terjadi kecelakaan, yaitu sepeda motor menabrak seorang pejalan kaki.

"Itu tamu yang tadi sempat bertemu dengan Bapak!" Ucap salah seorang pembantunya.

Edi kaget sekaligus tertegun saat menyaksikan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu terlihat tergeletak bersimbah darah dan tak jauh dari situ ada benda terbungkus kain putih yang tak lain adalah sebuah kendi. Edi bergegas menyuruh anak buahnya membawa laki-laki itu ke rumah sakit agar nyawanya terselamatkan.

Saat Edi mengambil bungkusan kain putih itu, kendi itu dirasakan masih dalam keadaan utuh tidak pecah sedikit pun. Sementara itu, orang yang berniat mengambil kendi pemberian Mbah Wali dari tangan Edi, sampai di rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. (*)

Misteri Edisi 579 (05 April-19 April) Tahun 2014