Sabtu, 21 Februari 2015

Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida


Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida
Potensi sektor perikanan Sumatera Selatan harus terus dilakukan. Salah satunya mengoptimalkan produksi tambak yang tersebar di 17 kabupaten/kota

Ikan belida (notopterus chitala) yang menjadi icon Kota Palembang sudah sulit ditemukan. Terpicu kelangkahan tersebut, Penkot Palembang melalui Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan akan melakukan penangkaran pada tahun depan dengan mencari induk ikan tersebut.

________________________________________

Keberadaan ikan belida banyak dijumpai hanya sebagai ikan hias. Ini karena terbilang jenis ikan langkah. Sebelumnya, ikan tersebut sebagai bahan baku pembuatan pempek, tapi lambat laun makin habis. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal sehingga tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Ir H Harrey Hadi Ms selaku Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kota Palembang pada 2016 akan mencari indukan belida dan ikan gabus yang menjadi bahan dasar pembuatan pempek yang ditemukan. “Dicarinya indukan belida dan gabus, sebagai riset pengembangan budidaya ikan belida yang dilakukan dengan asumsi teknologi memija (kembang biak),” ujarnya.

Ia mengatakan, bila program budidaya ikan belida ini berhasil, pihaknya akan melibatkan masyarakat untuk turut serta guna meningkatkan taraf hidup. “Tahap awal melakukan penangkaran induk,” terang Harrey didampingi Kabid Perikanan Ir M Yusuf dan Kasi Bina Usaha Perikanan Rani.

Ikan belida, kata Harrey, bersifat endemik (hanya bisa hidup di habitatnya). Apakah tidak ada teknologi, ia menegaskan, ada, tapi saat ini hanya sebatas eksperimen dengan skala kecil, untuk skala besar sangat sulit. “Bayangkan saja satu induk jantan dan satu induk betina ikan belida, untuk satu kali produksi paling banyak menghasilkan 50 telur yang belum tentu bisa menetas menjadi benih,” terangnya.

Ikan yang hidup di air tawar ini jika diambil dari hasil tangkapan habitatnya paling lama hanya bertahan enam. “Tergantung perlakuan dan penanganan. Hanya, dari tempat tangkapan bisa bertahan enam jam dengan menggunakan oksigen. Jika sudah enam jam oksigen harus diganti,” ulasnya.

Lanjutnya, pada 2014 produksi ikan di Palembang naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Untuk budidaya 13.205,47 ton, tangkapan 1.366,04 ton. “Target produksi ikan pada 2014-2018 mencapai 13.227,77 ton untuk seluruh ikan budidaya,” terangnya.

Nah, untuk tangkapan perairan umum jenis ikan gabus yang produksinya mencapai 1.96,24 ton. Sedangkan budidaya terdiri dari kan patin sebesar 6.420,75 ton, lele 3.374 ton, nila 634,07 ton, gurami 765,70 ton.

“Dinas Perikanan untuk meningkatkan produksi ikan di Palembang melakukan pembinaan di setiap kecamatan. Hanya untuk binapolitan (kawasan pengembangan produksi ikan, red) terhadap ikan belida. Hanya, setiap enam jam oksigen haru dig anti,” katanya.

Lihat saja, setiap ikan belida yang dijumpai di pasar pasti sudah mati, kalaupun ada yang hidup pastinya dijadikan ikan hias. “Penangkaran ikan belida saat ini belum ada, sebab jenis ikan ini termasuk ikan yang hidup di perairan umum,” katanya.

Ikan belida, ikan ini memiliki ciri punggung seperti pisau yang meninggi sehingga bagian tampak perut melebar dan pipih. Biasanya ikan ini hidup di sungai yang tenang airnya. Ikan ini juga biasanya memiliki corak bulat-bulat hitam di bagian tubuhnya. “Ikan ini dikenal karena rasanya yang khas,” terangnya. Untuk pengawasan, DP2K melakukan tindakan preventif agar tidakk ada ilegal fishing, penangkapan ikan dengan menggunakan racun atau penyetruman.

Diungkap Harrey, saat ini ada Balai Benih Ikan di Soak Bujang, Gandus. Namun, yang dibudidayakan jenis lele, patin, nila, dan gurami. Untuk pempek atau kemplang berbahan baku ikan belida, diakuinya, sudah sangat jarang ditemui. Karena pertumbuhannya sangat minim, pihaknya tidak punya data produksi ikan belida di Palembang. “Kalau untuk produksi terbesar Palembang adalah iikan patin,” tandasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir Permana MMA, mengatakan, saat ini produksi ikan hanya cukup digunakan untuk konumsi lokal. “Ekspor unggulan masih pada sektor pertambangan dan perikanan, batu bara, CPO, karet, kayu, serta gas,” katanya.

Katanya, sektor perikanan untuk ekspor masih mendominasi udang dan kodok yang kebanyakan negara Jepang dan Korea. “Tidak begitu besar untuk ekspornya, Sumsel masih surplus. Artinya, masih besar impor dari ekspor,” terang Permana. Saat ditanya untuk ikan belida yang saat ini cenderung langka ditemukan di pasaran. Dirinya mengaku, belum ada budidaya hingga saat ini. Katanya, ikan belida dulunya makanan para sultan yang banyak berada di pperairan Sumsel. Untuk realisasi ekspor non-migas menurut jenis komoditas Provinsi Sumsel ikan segar pada 2014 sebanyak 582 ton untuk periode Januari hingga Juli 2014. “Tergantung permintaan, tidak setiap saat ekspor,” tukas Permana. (nni/asa/ce1)


Anggota DPRD Kota Palembang M Aidil Adhari, mengatakan, wacana Pemkot Palembang melalui Dinas Perikanan yang bakal membudidayakan indukan ikan belida dan gabus – guna menjaga populasi ikan belida yang saat ini cenderung langka – merupakan program yang dilakukan.

“Kita sambut baik wacana Dinas Perikanan untuk membudidayakan indukan ikan belida, sebab saat ini diakui sudah sulit dijumpai. Kalaupun ada hanya temat-tempat tertentu dan harganya cenderung mahal,” ujar M Aidil Adhari.

Potensi ikan air tawar di Palembang, lanjut M Aidil, sangat bagus jika populasinya tetap dijaga dengan baik. Misalnya, menjaga Sungai Musi tetap baik, terhindar dari limbah industri dan rumah tangga.

“Jangan biarkan Sungai Musi tercemar, pemerintah harus tegas jika ada masyarakat atau industri yang melakukan pencemaran,” ucapnya.

Katanya, rencana budidaya indukan ikan belida jika sudah berjalan harus seriau dijalankan, jangan hanya semangat di awal, tapi kenyataan di tengah jalan hilang begitu saja.

“Semua harus ada keseriusan, jangan hanya semarak di awal, kemudian melempem di tengah jalan,” ucap M Aidil.

“Ancaman kelangkan ikan belida saat ini sangat bagus sekali jika ada program budidaya. Selain sebagai icon Palembang, juga untuk konsumsi juga baik bahkan besar kemungkinan nantinya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat di Palembang,” tukasnya. (nni/ce1)
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Sri Dewi, mengatakan, permintaan ikan di Sumsel rata-rata ikan air tawar, bukan ikan laut. “Masyarakat tidak perlu khawatir, kami pastikan pasokan ikan aman,” terangnya, belum lama ini.

Ia mengatakan, permintaan ikan di Sumsel terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, itu dipicu oleh pertumbuhan jumlah penduduk Sumsel. “Kami optimis bisa mencukupi permintaan karena kami juga harus berusaha meningkatan produksi sendiri seperti pembudidayaan ikan yang benar,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk meningkatkan produksi ikan, pihaknya terus berupaya dengan cara mengedukasi para pengelola tambak dalam hal pembudidayaan ikan dan para nelayan cara menangkap ikan yang benar.

“Nelayan terus kita imbau agar tidak menggunakan alat-alat penangkap ikan yang berbahaya. Seperti racun maupun bom. Karena selain menjaga kesehatan konsumen juga untuk menjaga spesies agar tetap ada,” imbuhnya.

Dikatakannya, ada dua jenis ikan yang memenuhi permintaan masyarakat, yakni hasil tangkapan nelayan baik di laut maupun perairan umum seperti sawah, keramba, keramba jaring apung (KJA) maupun pen sistem dan hasil budidaya. “Memang saat ini kita masih tergantung dari nelayan karena pasokan terbesar masih dari hasil tangkapan di perairang Sungsang,” katanya.

Sementara hasil budidaya saat ini belum begitu maksimal karena masih banyak daerah kabupaten/kota yang membuat tambak ikan. “Saat ini baru beberapa kabupaten yang memiliki tambak ikan dalam jumlah besar yakni Pagaralam dan Musi Rawas,” imbuhnya.

Sedangkan untuk kabupaten/kota lain belum memiliki. Nah, lokasi inilah rencananya akan kita sosialisasikan untuk melakukan penambakan ikan. Dikatakan, luas budidaya perikanan di Sumsel hingga akhir 2013 tercatat sebanyak, tambak 29.838 hektare, kolam air deras (KAD) 1.559 unit, kolam air tenang (KAT) 12.955 hektare, sawah 17.609 hektare, keramba 15.407 unit, KJA 1.886 unit dan pen sistem 2.075 unit. “Dari total penangkaran tersebut produksi ikan di Sumsel mencapai 435.001 ton per tahun,” ungkapnya.

Saat ini konsumsi masyarakat Sumsel rata-rata mencapai 35,8 kilogram per harikapita per tahun. Artinya, jika dikalkulasikan dengan total masyarakat Sumsel yang berkisar 8 juta jiwa. Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel harus menyiapkan pasokan ikan berkisar 286 ribu ton per tahun. “Artinya, dengan jumlah budidaya saat ini Sumsel sudah bisa mengekspor ikan ke provinsi lain,” tandasnya. (nni/asa/ce1)


Penggunaan bahan peledak dan bahan kimia berbahaya memang dilarang dalam penggunaannya di dunia perikanan, baik di perairan umum berupa laut maupun sungai dan danau.

Penggunaan bahan peledak berbahaya dapat mengakibatkan rusaknya dan pencemaran bagi lingkungan perairan, sampai dapat merusak renik dan ikan yang masih kecil mupun bibit ikan. Sehingga akan memusnahkan jenis-jenis ikan tertentu. Demikian diungkap Kabid Perikanan Dinas Perikanan Kota Palembang Ir M Yusuf.

Katanya, meski diketahui semua orang bahwa menangkap ikan di laut memang menggunakan bermacam alat tangkap, sehingga hasil tangkapanya juga bervariasi. Apalagi nelayan yang pekerjaan sehari-harinya memang mencari ikan di laut, sehingga wajar jika menggunakan alat tangkap yang cepat dan banyak hasilnya. “Nelayan sekarang sudah semakin pintar seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Penangkapan ikan bersifat merusak (destructive fishing) merupakan bentuk upaya penangkapan ikan yang membawa dampak negatif bagi populasi biota dan ekosistem. Jenis penangkapannya dengan menggunakan racun sianida, potassium, dan racun tumbuhan. Selain itu, menangkap ikan dengan mengunakan bahan peledak (bom), serta menggunakan alat jaring bermata kecil (nonselektif) dan menghancurkan struktur bentuk (pukat dasar dan modifikasinya). “Apapun bentuknya, tangkapan yang bersifat merusak dilarang oleh pemerintah,” tandasnya. (nni/asa/ce1)

Senin, 24 November 2014

Investigasi Gaib Sosok Kanjeng Ratu Kidul

Investigasi Gaib Sosok Kanjeng Ratu KidulOleh: Goenawan WE

Kisah keberadaan legenda tentang ada tidaknya sosok penguasa Laut Selatan yang akrab disebut Kanjeng Ratu Kidul memang masih terbungkus satu misteri yang tidak sembarangan orang mampu mengupasnya secara akurat kebenarannya.

______________________________



Banyak beredar beragam versi cerita rakyat. Namun sebetulnya untuk bisa mengetahui ada tidaknya keraton lelembut di Laut Selatan, ada satu Pustaka kuno yakni Babad Tanah Jawi. Dari pustaka ini orang akan bisa menelaah tentang keberadaan ratu jelita Kangjeng Ratu Kidul tersebut. Keakuratannya pun dapat dipertanggung jawabkan, mengingat kitab babad tersebut hingga kini masih “dipakai” kalangan masyarakat Jawa khususnya Kawulo Mataram dan Keraton Kesunanan Surokerto Hadiningrat.

1. Atur Pembagya
Dalam tulisan ini, bahkan dilengkapi dengan hasil investigasi mistik yang akan menambah akurasinya. Seorang abdi-dalem Keraton Surokerto Hadiningrat yang membidangi masalah spiritual kejawen yang juga Paran Poro atau Penasehat Spiritual Alm. PB XII, ki KRMHT . Djoko Pandjihamidjoyo, BA akan membahas tuntas permasalahannya yang berlandaskan pada Pustaka Kuno Babad Tanah Jawi dan hasil investegasi selama ini, sehingga bisa merupakan sumber pengetahuan gaib khususnya mengenai kebaradaan, sejarah sert relevansinya meyakini tentang keberadaan Kangjeng Ratu Kidul.

2. Konfirmasi Hasil Investigasi Gaib Oleh Nara Sumber
Terlepas dari dogma: percaya dan tidak percaya, sebagai peraga spiritual, narasumber yang juga abdi-dalem Keraton Surokarto Hadiningrat Ki KRMHT. Djoko Pandjihamidjoyo, setiap agenda Keraton melaksanakan ritual-ritualnya, terutama ritual pokok seperti Wiyosan Tingalan Jumenengan, Gerebeg Besar, Gerebeg Maulud, Kirab Pusaka malam 1 Suro, dan lain-lain. Yang setiap acara keraton tersebut selalu dihadiri oleh Kangjeng Ratu Kenconosari yang dalam kehadirannya selalu didahului dengan pertanda hujan deras dan embalinya wun (panggilan akrab Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhan Pakoe Boewono yang ke XII) di panggung Songgobuwono, menara tinggi di halaman Keraton. Untuk keperluan itu Ki Djoko (panggilan akrab Ki KRMHT. Pandjihamidjoyo) selalu punya tugas dan peran dalam menerima kehadiran beliau.

Dengan “mata batin” dan indera supra, Ki djoko mampu “melihat” sosok wanita belia nan jelita penuh wibawa, beliaulah yang sering disapa Ibu Ratu atau Kangjeng Ratu Kenconosari, penguasa Laut Selatan tersebut. Jadi fenomena tentang kebaradaan Ratu Laut Selatan itu secara pasti dan diyakini ada dan masih eksis hingga abad modern ini, meski kehidupan beliau hingga abad 21 ini telah mencapai usia 1300 tahun lebih untuk Kangjeng Ratu Kenconosari, atau 4000 tahun bagi Kangjeng Ratu Kidul.

Secara kebetulan juga Ki Djoko memiliki “sarana” dan telah diakui beliau, yakni adanya “sahabat” Ki Djoko yang konon adalah titisan Kangjeng Ratu Kidul dengan Brawijaya saat pergolakan para Wali menjatuhkan Majapahit, Raja dan para selir melarikan diri ke arah timur. Di Desa Ketonggo, kaki Gunung Lawu salah seorang istri selir yang konon wadagnya sering “diagem” Kangjeng Ratu Kidul untuk berhubungan dengan Sang Prabu Brawijaya, disitu “keguguran.”

Janin keterek tersebut kemudian menjadi sahabat dengan Almarhum Nenek Ki Djoko dan menurun sampai sekarang sebagai Ki Djoko yang memiliki nama Kyai Paser, sosok makhluk halus dari ras, Kamadadi (istilah kejawean bagi arwah yang memiliki jasad dan gagal mensenyawainya). Dari persahabatan itulah Ki Djoko menjadi orang yang di “kenali” Kngjeng Ratu Kencorosari, dan mempunyai kewajiban Pisowanan Rutine setiap purnama bulan Suro, dengan melalui pintu gerbang Keraton Kidul di bagian tengah, yakni Parangkusumo Yogya Selatan Ki Djoko selalu hadir dalam Pisowanan Suro tersebut di Siti Hinggil Keraton Kidul.

Perlu diketahui bahwa pintu gerbang Keraton Kidul ada tiga, bagian timur di Blitar Selatan yakni Pantai Ngliyep. Bagian tengah di Parangkusumo, Yogya Selatan, dan bagian barat di Pelabuhan Ratu. Adapun posisi Keraton Kidul adalah di sebelah selatan Gunung Merapi, belahan laut bagian selatan tepat di Desa Pamantingan

Figur Kangjeng Ratu Kencorosari tidak ubahnya Kangjeng Ratu Kidul atau Dewi Nawangwulan yakni, sosok jelita, wajah bersinar penuh charisma, dengan rambut diurai hingga pinggul, bersumpingkan bunga semboja, bermahkotakan susun tiga (tiara), mengendarai kereta kencana yang ditarik delapan kuda jin, berpakaian serba hijau (biru kehijau-hijauan) bertahtakan emas berlian dan mutu manikin merah delima. Tangan kanan selalu memegang cambuk dan tangan kiri sambil memegang tali sais, menggenggam tongkat komando bermotif trisula atas bawah. Itulah gambaran sosok beliau

3. Siapa Sosok Kangjeng Ratu Kidul itu?
Dalam dunia maya yang tidak kasat mata, banyak orang yang meyakini keyakinan tersebut suda ada sejak kuno makuno bahwa di Laut Selatan belahan dunia ini terdapat satu sentra pengendalian aktivitas makhluk-makhluk halus (baca: lelembut) yang hidup di alam supranatural, yakni Keraton Kidul. Sebagai orang nomor satu yang notabene selaku Ratu-nya yakni sosok makhluk halus ber ras iblis yang konon moyang-moyangnya berasal dari Segitiga Bermuda Amerika, yang bernama Roro Kidul.

Kurang lebih 4000 tahun yang lalu Roro Kidul dinobatkan sebagai Ratu Laut Selatandan bergelar Kangjeng Ratu Kidul. Hasil investegasi narasumber mengatakan bahwa keberadaan makhluk-makhluk halus di Laut Selatan memiliki populasi yang sulit dihitung dengan angka, jumlahnya ber-milyar-milyar, terdiri dari berbagai ras yang merupakan persilangan persilangan, seperti genderuwo, ilu ilu banaspati, wewe, sundel bolong, peri, dan lain-lainnya. Laut Selatan merupakan satu kerajaan yang langsung dibawahi penguasa utama (baca: kekaisaran lelembut) di Segitiga Bermuda Benua Amerika.

Kekuasaan absolutnya yang menjadikan sang ratu terlalu sewenang-wenang terhadap umat Ciptaan Tuhan terakhir yakni manusia, menjadikan sosok Kangjeng Ratu Kidul sangat ditakuti, sehingga banyak ekali orang-orang yang kemudian “memalinkan” imannya, menyembah sang ratu. Itu terjadi sebelum abad VIII Masehi. Pelanggaran-pelanggaran hak yang diberkan Tuhan kepadanya (boleh menggoda manusia keturunan Adam asal tidak dipaksa) telah dilanggar; Kangjeng Ratu Kidul secara periodik telah merenggut nyawa-nyawa manusia yang tidak percaya dengan menebar berbagai penyakit (pageblug) yang setelah mati nyawanya disandera ebagai pengikutnya. Inilah realita yang terjadi kala itu.

4. Sosok Manusia Linuwih Kangjeng Ratu Kidul
Melihat keadaan seperti itu, sepertinya Tuhan tidak berkenan, dan memunculkan figur manusia linuwih untuk meredam dan mematahkan kesewenang-wenangan dan keangkaramurkaan Ratu Laut Selatan tersebut. Siapa figur manusia sakti yang akhirnya mampu membawa misinya menaklukan kesaktian Kangjeng Ratu Kidul?

Konon dikisahkan dalam babad yang diawali dengan adanya Kerajaan Pajajaran abad delapan dengan rajanya Kangjeng Prabu Mundingwangi yang terpaksa mengusir putra-putrinya Dewi Kilisuci pergi dari istana karena tidak mau dinikahkan dengan raja muda Segaluh Raden Banyak Wide. Kepergian Dewi Kilisuci mengarah ke timur dan berhenti di Gunung Kombang (perbatasan Jabar – Jateng sekarang).

Di situ Dewi Kilisuci menjadi pertapa dank arena kesaktiannya untuk mengelabuhi pengembaraannya, Dewi Kilisuci merubah wujud menjadi seorang pertapa lak-laki tua bergelar Ki Hajar Cemorotunggal. Nama Cemorotunggal mungkin diambil karena adanya pohon cemara satu-satunya di puncak Gunung Kombang yang merupakan padepokannya. Kemasyhuran Sang Hajar dalam kurun waktu tiga generasi terus berkembang, semakin tersohor akan kesaktiannya. Konon, keadaan kerajaan Pajajaran yang akhirnya ditumpas oleh kerajaan Segaluh oleh Rajanya Kangjeng Prabu Banyak Wide mengakibatkan putra mahkota Pajajaran Raden Joko Susuruh melarikan diri keluar dari wewengkon kerajaannya.

Kepergiannya juga diikuti adiknya (lain ibu) Aryo Bangah. Kepergian keduan ksatria Pajajaran tersebut dengan maksud mencari seorang guru untuk menyerap ilmu-ilmu kanuragan dengan harapan pada suatu saat mampu merebut kembali Kerajaan Pajajaran dari tangan Segaluh. Akhirnya Joko Susuruh sampai di puncak Gunung Kombang dan berguru pada Sang Hajar. Dalam kurun wakktu diperguruannya, akhirnya Raden Joko Susuruh mengetahui siapa jatidiri Hajar Cemorotunggal yang tak lain adalah figur wanita jelita yang sakti dan tak bisa tua, yakni saat Sang Hajar bersemedi merubah wujud yang kebetulan diintip oleh Raden Joko Susuruh.

Karena tak kuasa menahan gejolak asmaranya, maka Joko Susuruh ingin mengawininya. Sang Hajar akhirnya juga menceritakan tentang dirinya yang masih termasuk trah Pajajaran, kakak dari nenek Joko Susuruh yang bernama asli Dewi Kilisuci. Menanggapi ppermintaan Joko Susuruh untuk memperistrkannya, Dewi Kilisuci menyanggupi tetapi bukan waktu itu, melainkan besok kalau Joko Susuruh telah menjadi raja di Tanah Jawa dan Dewi Kilisuci juga akan menjadi raja yang akan merajai kaum lelembut dan bertahta di Laut Selatan yang masih wewengkon kekuasaan raja keturunan Joko Susuruh di selatan Gunung Merapi.

Dewi bahkan menyarankan agar Joko susuruh meneruskan perjalanannya mengarah ke timur, dengan pesan jangan sekali-kali berhenti dan bermukim kalau menemukan sebuah pohon maja yang hanya berbuah satu dan pahit rasanya. Di sutilah “wangsit” mengatakan akan timbul kerajaan besar di Tanah Jawa dwipa dan Joko Susuruh lah rajanya.

Singkat cerita, Joko Susuruh dan adiknya Aryo Bangah telah bermukim di satu tempat seperti arahan Dewi Kilisuci yakni dilembah sungai (sekarang Kota Mojokerto) dan desa itu dinamakan Desa Majapahit. Semakin banyak orang bermukim jadilah kota besar, dan niat Joko Susuruh untuk merebut kembali tahtanya dilaksanakan. Akhirnya Kerajaan Pajajaran dipindahkan ke Desa Majapahit sehingga menjadi kerajaan yang bernama Majapahit. Itu terjadi abad 8 pertengahan.

Alkisah Dewi Kilisuci setelah Raden Joko Susuruh pergi, juga terus mengikuti kepergiannya tetapi arahnya ke Pantai Laut Selatan yang sesuai wangsit terletak di sebelah selatan Gunung Merapi. Di situ Dewi Kilisuci berhasil memerangi Ratu Laut Selatan yang maha sakti itu. Keberhasilan Dewi Kilisuci juga tak luput dari bantuan seorang bibadari Dewi Nawangwulan yang konon ditloka kepulangannya ke khayangan karena kehidupannya telah tercemar karena mengawini manusia (Joko Tarub). Akhirnya peperangan, dengan tunduknya Kangjeng Ratu Kidul, terjadi satu keajaiban alam, tiga karakter sukma yakni suma manusia yang bisa moksa; Dewi Kilisuci, serta sukma dengan jasad Dewi Nawangwulan, serta sukma dan jasad “ether” Kangjeng Ratu Kidul “menyatu” dalam satu figur.

Figur tersebut kemudian bergelar Kangjeng Ratu Kenconosari, yang merupakan Ratu Laut Selatan pasca abad VIII. Dalam kurun perjalan hidupnya sang ratu tetap mewujudkan cita-citanya, yakni menjadi raja-raja Tanah Jawa sebagai suaminya dan tetap melindungi dan membantu bot-repot (kesulitan) raja kalau diminta.

Ini terjadi sejak Joko Susuruh menjadi raja pertama di Majapahit dengan Patihnya Arya Bangah. Perjalanan waktu secara turun temurun raja-raja keturunan Majapahit, hingga runtuh dan berlanjut ke Kerajaan Matarm yang diawali dengan Panembahan Senopati. Pertemuan Panembahan Senopati dengan Kangjeng Ratu Kenconosari dikisahkan dalam Babad yakni saat akan membangun Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati bertapa di Pantai Selatan (Parang Tritis – Parang Kesumo, sekarang Yogya Selatan) dan secara gaib adalah gerbang menuju ke Kerajaan Laut Kidul.

Pertemuannya dilanjutan dengan berbagai bantuan hingga terwujudnya Keraton Mataram. Hubungan sumai istri antara raja-raja Mataram dengan Kangjeng Ratu Kenconosari berlanjut hingga Mataram dipecah menjadi dua yakni Kartasura dan Yogyakarta, dimana selanjutnya Kartasura dipindahkan ke Desa Sala yang selanjutnya menjadi Keraton Surokerto Hadiningrat.

Hanya sampai Raja Mataram Surokerto yang ke IX tetap berjalannya hubungan dengan Kangjeng Ratu Kenconosari dalam kapasitas sebagai suami istri. Karena sejak penguasa dipegang Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono ke X, status Kangjeng Ratu Kenconosari bukan sebagai istri raja melainkan sebagai “ibu”. Ini terjadi saat itu PB X sedang bercengkrama bersama Kangjeng Ratu Kenconosari, mendadak PB X terpeleset, dan terucaplah secara spontan kata-kata dari mulut Kangjeng Ratu: . . .anakku ngger. . . (anakku sayang). Sabdo pandito ratu tan keno wola-wali (sabda raja tidak bisa berubah-ubah) maka sejak saat itu, atas kehendak hyang widhi, PB X bukan lagi suami Kangjeng Ratu Kidul melainkah telah berubah menjadi “anak”, dan sejak itu PB X hingga turun temurun trah Mataram untuk memanggil Kangjeng Ratu Kidul Seperti : ibu ratu. Ini berlangsung hingga pemerintahan PB ke XI, PB k XII, dan PB XIII yang sekarang berkuasa sebagai penerus generasi Mataram.

Dalam Babad disebutkan silsilsah raja-raja Majapahit yang diawali Raden Joko Susuruh setelah meninggal digantikan putranya aang Prabu Anom. Sang Prabu Anom meninggal digantikan putranya Sang Adinigkung, selanjutnya dengan meninggalnya Sang Adiningkung digantikan putranya Yakni Prabu Hayam Wuruk. Dan menurun ke putra Hayam Wuruk yakni Prabu Lembu Amisani, dan putra Prabu Lembu Amisani menggantikan ayahnya bergelar Arya Bratanjung. Meninggalnya Arya Bratanjung digantikan putranya Raden Alit yang selanjutnya bergelar Prabu Brawijaya I, yang dibantu Maha Pati Gajah Mada.

Konon saat runtuhnya Kerajaan Majapahit saat diserang para wali, salah satu putra Brawijaya terakhir yakni Brawijaya V yang bernama Raden Lembu Peteng dalam pelariannya sampai ke Desa Tarub yang akhirnya diambil menantu oleh Kyai Tarub dijodohkan dengan dengan Dewi Nawangsih, putra Dewi Nawangsih. Dari Ki Ageng Tarub inilah selanjutnya menurunkan raja-raja Mataram yang diawali oleh Danang Senapati pendiri Mataram.

Selain sebagai “ibu” kawulo Mataram, Kangjeng Ratu Kenconosari juga bertindak sebagai pelindung kawulo Mataram yang bermikum di bagaian Selatan. Kemudian sebagai pelindung yang ada di bagian utara, adalah masih bagian dari Kerajaan Laut Selatan yakni rekan Kangjeng Ratu kenconosari yang menjadi raja berhala, dari ras dewa yang kena kutuk dan bermukim di Alas Krendhowahono sebagai pusat kerajaannya; benama Kangjeng Ratu Dewi Kalayuwati (Bethari Durga) sebagai pelindung yang berada di bagian timur yakni Kangjeng Sunan Lawu atau Brawijaya VII. Dan yang berada di bagian barat sebagai pelindung yakni Kangjeng Ratu Mas (Ratu Kencono) yang bermukim di Gunung Merapi.

5. Kesimpulan dan Relevansinya
Berdasarkan Pustaka Babad Tanah Jawi yang diperkuat dengan hasil investigasi peraga spiritual Keraton (narasumber), maka keberadaan kerajaan lelembut di Laut Selatan dengan ratiu wanita, Kangjeng Ratu Kenconosari atau secara latah disebut Kangjeng Ratu Kidul, atau Kangjeng Ratu Angin Angin, adalah merupakan realita yang benar-benar ada dan masih eksis hingga sekarang.

Apakah masih relevan di abad modern ini orang masih mempercayai adanya sosok Ratu Laut Selatan tersebut. Bahkan perlunya “menyegani” sampai-sampai ada orang yang rela memberikan berbagai sesaji untuknya.

Meyakini, masih perlu dan tetap relevan, karena adanya makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan dari api yang disebut bangsa makhluk halus, oleh agama pun yang tertui di kitab suci, mengajarkan untuk diyakini keberadaannya. Tida terkecuali keberadaan Kangjeng Ratu Kencorosari atau Kangjeng Ratu Kidul. Ritual-ritual yang dilaksanakan hingga sekarang, termasuk pemberian (mempersembahkan) seaji, karena itu secara lahiriyah adalah meneruskan tradisi yang telah turun temurun dilakukan, maka tetap saja relevan dalam koridor pelestarian budaya leluhur.

Secara spiritual, apapun pemberian manusia kepada penguasa Laut Selatan bagi yang tau menghargai jasa, beliau telah mengendalikan keganasan makhluk-makhluk halus bawahannya yang selalu mengincar dan mengganggu manusia, langkah baik dan biijak perlu dihargai dan kalau toh kita memberkan sesaji sebagai visualisasi “tali asih” atau ucapan terima kasih, sepertinya itu hal yang biasa kita lakukan kepada siapa saja. Karena bisa kita bayangkan kalau para lelembut tidak dikendalikan, maka kesewenang-wenangan dan keganasannya terhadap manusia akan berlebihan, sebagaimana telah terjadi saat Kangjeng Ratu Kidul belum menjadi Kangjeng Ratu Kenconosari yang merupakan tiga karakter sukma tersebut.

Kecuali kalau kita “menyembah” beliau dengan kapasitas menduakan Tuhan Yang Maha Kuasa, itu baru namanya bertentangan dengan iman dan agama, tetapi sepanjang hubungan manusia dengan beliau sebagai umat yang disegani, sepertinya mungkin tidak apa-apa dilakukan. Demikian semoga bermanfaat. Sumonggo. . . . (*)

Sumber: Misteri Edisi 580 Tahun 2014

Rabu, 19 November 2014