Sabtu, 26 Januari 2013

Cinta Membawanya Kembali

Cinta Membawanya Kembali


Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk menantimu kembali....


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Hujan tak lagi deras. Hanya gerimis. Tirainya yang tipis jatuh di halaman. menebar di atas kebun mawar. Menahan desahan angin yang samar. Senja yang susut dalam gerimis seakan memberi kesuraman pada bumi yang dipijak Linda. gadis itu menarik napas panjang dan lelah. Pandangannya menembus jendela. Jauh dan lepas. Dalam benaknya terlukis wajah Eki. Lelaki yang tak pernah lepas dari hatinya pun setelah dua tahun melarikan diri ke negara Mitterand.

betapa sia-sia usaha yang dirintisnya. Betapa naif. seharusnya dia tidak menyeberang ke negeri yang dingin itu. Karena sosok lelaki itu terlalu kuat terpatri di dinding hatinya. Di belahan bumi manapun dia berada, banyangannya tetap saja mengikuti. Dan kini dia kembali. Membawa kekalahan. Bias-bias cinta masa lalu masih tersisa. Tetapi lelaki itu tak bisa dimilikinya. Sekali lagi dia menarik napas. Masih seperti tadi panjang dan lelah. Sepi yang melintas perlahan membawanya dalam lamunan. Menyusuri lorong-lorong hari di mana dia pernah begitu dekat dengan Eki.

Menebak isi hati Eki sama saja dengan menebak luas langit dan dalam laut. Susah. Setidaknya itu yang dirasakan Linda. Dia bak membaca tulisan tulisan di atas kertas basah. Sudah buram, lengket pula satu sama lain. Sikapnya membingungkan. Kadang sarat perhatian manis, kadang pula biasa-biasa saja. Padahal Linda menyukainya. Amat menyukainya. Dan itu sudah lama berlangsung. Sejak mereka masih di kelas 1 SMU. Eki memang jempolan. Pintar, tampan dan bintang lapangan. Meski sudah begitu, dia tetap tenang. Tidak sombong karenanya. Tidak memakai kelebihannya untuk menjerat gaadis-gadis. Pribadinya menarik. Sopan dan bertutur bahasa lembut.

Linda memujanya. Mendambakannya. Berharap bisa mendampingi sang pangeran. Betapa bahagiannya jika itu bisa menjadi kenyataan. Tapi tidak. Nasib baik belum berpihak padanya. Realita yang harus ditelannya justru melahirkan bingung. Tak ada kepastian. Hari ini Eki berikap manis padanya, esok dia kembali biasa-biasa saja. Dia sebuah misteri.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Suatu siang, hujan turun deras. Mereka baru saja mengikuti rapat OSIS. Dan terjebak hujan hingga tak bisa pulang. Mereka berteduh. Menyender ke tembok kelas. Saat itu maag Linda kambuh. Perutnya melilit. Beberapa kali dia meringis menahan sakit. Tersiksa sekali. "Dingin Lin?" tanya Eki penuh perhatian begitu dilihatnya getar kecil di bahu gadis itu.

Linda cuma mengangguk. "Hei... kau kenapa?" Nada Eki tersentuh kaget. "Bibirmu pucat. Kau sakit?" tambahnya dalam siratan cemas.

"Maagku..."

"Ya Tuhan!" tersentak Eki dengan sorot mata berlumur kuatir. "Kenapa tak bilang dari tadi? Maag tidak bisa disepelehkan. Bisa pingsan jika perutmu tak secepatnya diisi. Ayo kita ke kantin!" diraihnya tangan gadis itu dalam gerakan tergesa.

"Masih sakit?" tanya Eki setelah Linda menghabiskan semangkuk bakso.

"Tidak begitu perih lagi," jawabnya sambil mengusap bibir dengan tissue.

Lelaki itu melepaskan sebentuk senyum lega. "Syukurlah. Lain kali jangan biasakan perut kosong. Aku khawatir jika kau sakit..."

Linda menunduk. Meresapi kalimat itu. Meresapi perhatian yang menggumpal di sana. Kembali mengelus hati. Mengantar Linda ke alam mimpi penuh madu. Akan tetapi, esoknya, saat mereka kembali bertemu. Eki kembali biasa-biasa saja. Padahal Linda sudah membayangkan lelaki itu akan menunggunya di pintu kelas. Kemudian mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatannya.

Tapi.... bukan cuma sekali itu saja, sering. Bahkan sudah teramat sering. Sedihnya, hari ini Eki bersikap manis, esoknya dia kembali biasa-biasa saja. Sudah tentu ini menjadi tanya besar bagi Linda. Apa sebenarnya yang diinginkan Eki? Seperti apa sebenarnya Linda dalam hatinya?

Waktu terus berganti, pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung terjawab. Tragisnya, pada saat Linda berada dipuncak penantian dan harapan, lelaki itu lelaki itu malah memilih gadis lain! Linda dililit kecewa. Seribu batang ujung jarum laksana berlomba menusuk hatinya. Sakit nian. Perasaannya hampa. Jiwanya gersang, ternyata Eki tak mencintainya. Baginya, Linda hanya seorang teman biasa. Ada gadis lain yang telah merampas hatinya. Sungguh nelangsa.

Dan keputusan itu lahir begitu saja. Melarikan diri sejauh mungkin. Meninggalkan tanah airnya. Juga Eki. Dia berharap suasana baru di belahan bumi sana bisa mengobati lukanya. Meraibkan kekecewaannya. Dan melupakan lelaki itu. Tetapi ternyata dia keliru. Jarak dan waktu tak banyak menolongnya. Matahari di bumi seberang sana tak bisa mengeringkan sakit hatinya. Kasih sayang Om Ulla justru malah memporak-porandakan sisa ketegarannya. Selalu mengingatkannya pada Eki.

Dua tahun lamanya Linda mencoba membenahi hati. Dua tahun lamanya dia jatuh bangun melupakan masa lalunya. Sampai akhirnya dia sadar: usaha yang dirintisnya sia-sia belaka! Pesona lelaki itu mengikutinya. Putaran roda waktu tak punya power guna memusnahkan tunas cinta di dadanya. Dan pertemuan mereka kembali di Bandara Hasanuddin, sebulan yang lalu, kian mengukuhkan realita itu. Dia nyaris meneteskan air mata saat dilihatnya Eki berada di tengah keluarga yang menjemput kepulangannya ke tanah air...

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Eki yang sekarang bukan lagi Eki yang dulu. Dia jauh berubah. Tubuhnya yang kekar. Atletis. Tatapannya tajam bagai elang. Bibirnya ditumbuhi sebaris kumis tipis yang membiaskan sebentuk kejantanan tersendiri. Dia jauh lebih menarik dari yang dulu. Dan malam ini Linda berdua dengan lelaki itu. Dia tidak sampai hati menolak permintaannya terus menerus. Sejak kepulangannya sebulan yang lalu, Linda menolak untuk bertemu. Pun setelah Mayang, kakaknya, mengabarkan bahwa kini dia telah sendiri. Kentucky malam ini tak banyak pengunjung. Mungkin karena malam Minggu.

"Kita perlu bicara, Linda," ucap Eki membuka percakapan.

"Tentang apa?"

"Tentang kita tentu saja."

"Kita?" ulang Linda dingin.

"Ya, kau dan aku."

"Tak ada yang perlu dibicarakan. Kita toh tak ada masalah."

"Aku mencintaimu!"

Hanya dua potong kata. Terucap tegas. Tapi pengaruhnya luar biasa sekali. Tubuh Linda mengaku. Jantungnya berdebar. Lalu perih merajalela. Mengapa bukan dulu? Mengapa baru sekarang kau mengatakannya setelah jalinan kasihmu dengan gadis itu usai? Linda mengeluh sakit.

"Aku kecewa ketika kau tiba-tiba pergi meninggalkan kami. Dua tahun bukanlah waktu yang pendek menantimu kembali. Tapi begitu kamu pulang, aku merasa dihempaskan ke tempat gelap. Kau tak peduli padaku. Bahkan menghindariku. Kau tak mau tahu bagaimana aku merindukanmu selama kurun waktu dua tahun ini!" tutur Eki saat menemukan Linda hanya larut dalam kebisuan.

"Maukah kau menerima dan memulai segala sesuatunya meski meski terlambat?" lanjutnya dengan getar harap yang membuncah.

Tak ada jawaban. Linda tetap diam. Menerawang ke bawah, pada lalu lintas yang memadati jalan protokol Sudirman. "Dulu, seorang gadis menyerahkan cintanya pada seorang lelaki. Namun betapa tololnya di. Lelaki itu tak membutuhkan cintanya. Bertahun dia tetap menunggu dengan sabar. Berharap suatu saat, laki-laki itu mau berpaling padanya. Tetapi harapannya sia-sia, laki-laki itu lebih suka memilih wanita lain," ujar Linda menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mengambang di matanya. "Dia kalah. Dia memilih mundur dan membuang dirinya ke sebuah negeri yang dingin. Kau mengerti maksudku, bukan?"

"Aku bukannya tak mencintaimu, Linda!" potong Eki.

"Yang jelas ada gadis lain di sisimu saat itu."

"Aku tidak pernah mencintai Ngai Rawi!"

"Jangan begitu, Eki. Kalian memang sudah putus. Tapi kau jangan berbohong dengan mengatakan tak pernah mencintainya!" ucap Linda.

"Linda aku...."

"dua tahun aku melupakanmu. Dan berhasil. Tidak ada artinya kita memperpanjang pembicaraan ini. Aku sudah mengubur bagian hidupku itu. Tak ada cinta masa lalu lagi!" sambil berkata begitu. Linda melengos ke arah lain, menyembunyikan segurat dusta di matanya. Dia tak ingin menjadi dermaga tempat melabuhkan sisa cinta yang karam. Mereka meninggalkan Kentucky pada saat bulan meredup tertutup awan. Seredup hati Linda dan Eki yang mengikutinya dari belakang dengan langkah gontai.

Ya, Linda memang berhasil mengelabuhi Eki. Tak memberi kesempatan pada lelaki itu untuk memaknai matanya. Untuk membaca suasana hatinya. Namun tidak untuk Mayang. Kakaknya itu terlalu pintar untuk dibohongi. Dia terlalu mengenal diri adiknya. "Tolong, May, jangan ungkit-ungkit lagi. Bantu aku untuk melupakannya," keluh Linda memelas, sepekan setelah pertemuannya dengan Eki di Kentucky.

"Aku tak ingin kau membohongi diri sendiri. Kau masih cinta dia. Aku bisa melihat itu dari matamu," ujar Mayang sabar.

"Kau tidak kasihan padaku, May?"

"Justru karena aku mengasihanimu maka aku tak ingin kau menyiksa diri sendiri."

Mendengar kata-kata kakaknya, Linda terisak-isak. Dia tak tahu harus berbuat apa.

"Semua yang dikatakan eki benar. Dia tidak pernah mencintai Ngai Rawi. Sejak dulu dia hanya suka padamu. Sayang, kalian sama-sama pendiam. Saling melempar sinyal cinta tanpa berani memulai lebih dulu. Lalu Ngai Rawi mengacaukan semuanya. Celakanya, kau malah lari meninggalkannya. Padahal saat itu mereka belum pacaran. Kepergianmulah yang memaksanya menerima Ngai Rawi yang sudah lama menaruh hati padanya. Dia mengira kau tak mencintainya. Dia tak bisa melupakanmu," kaya Mayang. Diamatinya sosok adiknya yang kuyuh. Lalu, dengan penuh kasih sayang, diangkatnya wajah penuh air mata itu.

"Eki menceritakan semuanya. Dia juga menitipkan ini. Untukmu. Semula ingin diberikannya langsung pada hari ultahmu dua tahun lalu. Tapi kamu keburu pergi sebelum hari jadimu itu tiba. Jangan berpikir kau hanya sebuah pelarian baginya. Sejak dulu hingga kini hatinya hanya dihuni dirimu. Dia hanya kecewa dengan kepergianmu. Jadi jangan salahkan dia. Kalau kau memilih menerima cinta Eki, temuilah esok di rumahnya sebelum berangkat ke bandara. Dia akan menetap di Surabaya. Dan hanya kau yang bisa membatalkan kepergiannya."

Setelah itu Mayang meletakkan sebuah kotak mungil berwarna lembut di pangkuan Linda. Lantas keluar kamar. Linda menyentuhnya dengan perasaan mengharubiru. Hati-hati dia membukanya. Ada seuntai kalung emas dengan liontin berbentuk hati. Linda meraihnya. Menyentuhnya dengan hidung. Hari-hari lalu ketika dia pernah begitu dekat dengan Eki terlukis kembali. Berlomba di benaknya. Lalu, saat matanya kembali memanas, dan keriduan mendadak menderu di hatinya, saat itu dia sudah tahu pilihan yang terbaik untuknya. Tak akan dibiarkannya bunga mimpinya terbang begitu saja. Dia akan meraupnya. Hingga tak akan ada lagi yang terbuang sia-sia. Dan Linda tak perlu lagi menunggu hari esok. Detik itu juga dia sudah menghambur ke meja telpon.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih kunjungannya sahabatku. saya harap sudilah kiranya rekan dan sahabat meninggalkan sepatah atau dua patah kata di kolom komentar ini.

Harap berkomentar dengan sopan, dan juga mohon tidak promo. tidak mencantumkan kode-kode togel atau isi komentar yang berbau togel. jika melanggar dengan terpaksa komentar saya hapus...!! terima kasih